Segala bentuk disclaimer dan macam-macam kurasa bisa dilihat semua di chapter pertama. #simpleminded Sori, aku suka menulis dengan cara begini, untuk fanfic ini.
Pair emang nggak ada (almost). Hanya tertulis tokoh utamanya adalah dua orang itu. Tapi, karena fokus utama bukanlah romens, aku ngga merasa perlu untuk menerangkan hal tersebut. :)
I don't own Google and whatever things that being typed here. Just the plot.
Enjoy this craziness!
.
.
Profesinya adalah sebuah profesi yang sangat tak lazim dimiliki oleh seseorang. Di saat orang lain lebih memilih untuk menjadi akuntan, karyawan perusahaan, diplomat, bahkan impian sebagai salah satu pekerja di kantor Google sekalipun, Arthur malah menjalani bidang pekerjaan yang lain dari biasanya. Pekerjaan yang sangat unik, jika kata menyeramkan bisa dikesampingkan terlebih dahulu.
Menyempurnakan bentuk rupa saja terkadang tidak cukup hanya dengan pelbagai jenis kosmetik maupun brush, bukan? Tentu saja begitu, karena yang dihadapinya bukanlah manusia yang masih memiliki nyawa dan permukaan kulit berwarna normal seakan darah masih mengalir di bawah lapisan epidermis mereka. Bukan pula manusia dengan bentuk yang masih sempurna― siapa yang akan tahu jika mereka masih memiliki bekas goresan, tebasan, lebam, patah tulang, bahkan anggota tubuh yang tercerai-berai? Belum lagi soal aroma formalin yang menyebar seakan substansi radioaktif.
Profesinya bukanlah profesi biasa.
Malam demi malam dihabiskan demi menjahit bagian-bagian tubuh yang terbuka; perut, lutut, pangkal paha– leher. Mengerjakan tiap jahitan dengan presisi sempurna agar luka menganga tersebut kembali tertutup rapi. Melapisi mereka dengan wax, juga membubuhkan bedak yang serupa warna kulit― pelengkap prosesi kerja. Yang jika kesemua bagian telah nyaman dipandang mata (terutama bagian muka), maka Arthur akan beralih pada pekerjaan terakhir: merias wajah para jenazah tak bernyawa.
Namun, jika kepala si klien memang tidak ada... apa boleh buat. Kepala boneka berbentuk manusia pun samasekali bukan pilihan yang buruk untuk diambil. Lebih baik seperti itu, daripada mendengar jeritan seseorang dan melihat para pelayat masing-masing saling berjatuhan seperti laron saat menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka, ke lantai.
Profesinya bukanlah profesi yang biasa, dan bukan pula profesi yang mudah dijalani. Terkadang ia memerlukan pengalaman psikologi untuk menangani kejadian yang akan dihadapi.
Halusinasinya pun, mungkin hanyalah bagian dari semua proses ini.
Arthur bukanlah pekerja profesi yang beruntung.
.
"Kau tak apa-apa? Arth,"
"Arthur..."
Tarikan napasnya mendesis, berbunyi statis menyerupai dengung alat cukur listrik, tak bertambah menarik jika terus diikuti debum jantung yang semakin hebat menghantam rongga rusuk. Tiba-tiba saja ketakutan terkena serangan jantung menggerayangi otak, walau bodoh saja dirinya jika memakan mentah-mentah hasutan dangkal semacam itu.
"Yeah, I'm okay... kurasa." Mendadak kepalanya berdenyut. Agak pusing. Arthur memegangi dahi sembari memijat bagian dimana urat nadi terus naik-turun memompa darah yang tak begitu membantu kepalanya untuk terasa lebih ringan, sedikit pun. Alasdair memegang lengan kanan atasnya lalu perlahan menariknya agar dapat berdiri, dan saat ia goyah dan hampir terjatuh, Francis membantu pada bagian lengan yang lain.
"Watch it, cher."
Ia tidak menemukan sedikit bagian pun dalam hatinya untuk membalas ucapan tadi dengan hardikan, walau ini Francis. Ia hanya tidak punya.
Hatinya terlalu sibuk tertekan untuk alasan yang begitu jenaka hingga membentuk ironi.
Halusinasi dapat membunuh? Oh, apa ia mulai teracuni film-film horor dari Amerika? Ini bukan tentang penggergaji gila; atau malah lelaki psycho dengan tangan pisaunya. Ini bukan pula mimpi― ia sepenuhnya terbangun, ia tidak sedang berada di alam tidur. Walau ya, akhir-akhir ini ia sering terkena insomnia tapi tidak, ia baik-baik saja. Ia masih mampu beraktivitas layaknya manusia dengan jam tidur cukup, karena ia adalah pengendali stres yang baik. Karena ini tubuhnya, dan hanya ia yang mengerti cara berhadapan dengan dirinya sendiri.
Setidaknya itulah yang selalu ia pikirkan.
Karena halusinasi adalah bagian yang diciptakan oleh tubuh, iya kan? Oleh suatu bagian dalam dirinya yang... yang... entahlah apa namanya. Alam bawah sadar? Yang dipicu oleh serangkaian faktor-faktor tertentu, entah itu pengaruh dari keadaan sekitar atau malah masalah psikis dari dalam. Dan Arthur tak dapat menemukan apa kiranya faktor-faktor tersebut yang mungkin memengaruhi terciptanya hal yang ia alami sekarang, tidak peduli seberapa pun ia telah berpikir keras untuk itu.
"Arthur... Arthur? Hei,"
Ia ingin menggeleng. Menggeleng dan terus menggelengkan kepala hingga lehernya putus, jika perlu. Dan mungkin dengan begitu, vertigonya dapat hilang, dan ia tidak perlu lagi berurusan dengan dunia yang membingungkan ini.
Ia lelah sekali.
"Sudahlah, Als." Ia dapat mendengar Francis mengatakan sesuatu pada Alasdair, walau ia tak dapat menangkapnya dengan jelas; tidak dengan dengung jutaan lebah dalam kepalanya. Tidak dengan milyaran lingkaran-lingkaran hitam mengisi indera penglihatan hingga pemandangan malah jadi terlalu buram untuk diperhatikan.
Tidak dengan likuid yang bersiap-siap untuk tumpah keluar. God, betapa dekat ia dengan lubang hitam itu, hingga ia tak mampu menguasai diri dan yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menjadi lemah dan meminta bantuan, pada siapapun.
Karena ia benar-benar tak mampu menghadapi ini sendiri.
"Chamomile tea, Arthur?"
Ia tidak bisa menemukan satu keinginan pun dalam hatinya, untuk berkata tidak. Please help.
Bau yang menguar dari cairan berwarna tembaga dalam cangkir porselen menyuplai akal sehat pada indera, membuatnya menghela napas lega dan kembali mengesap sedikit tehnya. Ada bau kayu manis samar terhirup, dan ia pun tersenyum kecil. Menyadari bahwa ini adalah satu dari resep andalannya, resep yang biasanya ia nikmati bersama sang sepupu di ruang santai, sembari memperbincangkan hal-hal remeh seperti tarif listrik dan hubungannya dengan jatah dana untuk pasokan cerutu seseorang, walau itu semua dilakukan secara sporadis dan selalu berhasil dialihkan topiknya oleh seseorang tersebut.
Anyway.
"...Thank you, Francis."
"Tidak masalah."
Ia terdiam. Memikirkan sesuatu. Mungkin... (hanya kemungkinan. Sulit baginya untuk mengakui bahwa ia juga dapat salah― semua orang begitu,) ia memang keliru menilai Francis. Keliru menilai hanya dari sifat luar yang ditonjolkan oleh lelaki Francophonie ini, yang menurutnya tak senonoh dan selalu memantik amarah; karena siapa yang tidak akan kesal saat ada seseorang mencoba meraba-raba dengan niatan seksual pada salah satu bagian tubuh mereka? Ia beralasan. Selalu dan selalu.
Walau alasan terbesar Arthur sangat memandang rendah Francis bukanlah hal seperti itu.
Ini hanya karena ia berbicara pada yang mati.
...Damn, betapa menyedihkannya ia.
"A- aku minta maaf, Francis."
Ia tak mampu bertatapan muka. Menundukkan kepala dengan secangkir teh di kedua tangannya, menatap ke dalam isi cangkir itu. Rasa malu lalu menggerogoti hati. Melewatkan bagian dimana Als memutar telunjuk di dekat dahi dan mengeja 'psycho' pada Francis, yang malah disambut kikik halus. Ia juga melewatkan saat dimana Francis tersenyum tulus padanya, karena otaknya berlari pada ingatan seorang wanita berambut pirang- dengan suara pelan namun lantang berkata, 'suamiku pecundang, pecundang. Tak mampu mempertanggungjawabkan kesalahannya sendiri.' Dan bagaimana kalimat tersebut tajam menusuk sumsum tulang― bagaimana itu membuat Arthur mendapat pengalaman pertama yang mengerikan.
Bagaimana ia berteriak di malam terakhir sebelum wanita itu dipersiapkan untuk upacara dan ditempatkan dalam peti mati.
"Aku tak tahu kau sedang meminta maaf soal apa, Arthur. Tapi kurasa kau salah orang jika mengucapkannya padaku." Ia masih terbawa suasana yang ada dalam pikirannya, terpikirkan tentang Madam Bonnefoy; jadi otak dan telinganya terlalu lamban menangkap perkataan Francis, walau hanya beberapa sekon.
"Eh?" Kata ini keluar begitu saja; Arthur masih cukup kebingungan menyergap ucapan seseorang.
"Kautahu," Francis terkikik lagi. Walau begitu, dia tetap berhasil membuat suara tawa kecilnya tetap terdengar manly. French. "Kekacauan di bawah? Als berkata bahwa itu tanggung jawabmu. Titik."
...Oh. Ia melupakannya.
"T-a-n-g-g-u-n-g-j-a-w-a-b-m-u," terlantun begitu riang, dan yang bisa Arthur pikirkan sekarang hanyalah bagaimana cara untuk segera pergi dari sini. Ia bahkan tak mau repot-repot menolehkan kepala melihat wajah sang sepupu―yang mungkin―menatap jenaka sekaligus seram padanya.
Well, damn.
.
.
"Begini, Arthur-san. Kita sama-sama tahu manusia yang berada di hadapan kita ini memang tak lagi bernyawa, tapi itu bukan sebuah alasan untuk tidak menghormati mereka. Karena bagaimanapun, tanpa pemikiran bahwa mereka dulunya― akan lebih bagus lagi jika Arthur-san berpikir bukan hanya dulu, tapi sekarang juga, mereka tetap manusia. Tidak ada yang berbeda."
Senyum lembut, tangan putih bersih yang berlapis karet sintesis. Menjahit kulit bagaikan seni di tangannya; mereka meliuk bukan dalam aliran yang tak beraturan, namun sebuah pergerakan dengan momentum menakjubkan. Tak menyebabkan kulit yang dijahit berkerut maupun benang jahitan menjadi kusut.
"Karena ada orang yang menyayangi mereka, yang merindukan mereka. Yang bagi orang-orang tersebut, orang yang telah meninggal ini mungkin saja akan tetap mati dan hanya perlu dikubur atau bahkan dikremasi. Namun, memori tetap berjalan, 'kan? Memori tetap mencitrakan sesuatu yang lampau dan tak dapat dicapai lagi. Memori yang melihat jenazah ini masih eksis.
"Memori yang meminta―bukan, memohon―agar kondisi jenazah ini dapat terlihat seperti saat ia masih hidup. Seperti saat masih dapat melihat mereka di meja makan bersama saat pagi menjelang. Seperti saat masih bisa memeluk mereka kala malam.
"Jiwa boleh saja pergi, Arthur-san. Boleh saja melanglang buana ke manapun atau bahkan menuju 'surga' yang telah dijanjikan bagi mereka. Tapi..." gerakan orang itu berhenti, demi menoleh pelan padanya. "Tapi, itu bukan berarti mereka mati."
Arthur tak mampu menghentikan apa yang tertahan di mulutnya. "Kiku, jika begitu, maka hal tersebut sama dengan halusinasi. Hasil proyeksi alam bawah sadar. Itu samasekali tak nyata."
Salahkah jika ia berpikir kalau senyuman Kiku kini terlihat sedikit... 'salah' di matanya?
"Ini memang tak nyata, Arthur-san. Takkan bisa menjadi nyata. Benar.
"Namun, apa salah jika hal tersebut tergambar berbeda dalam pandangan beberapa orang? Apakah menjadi sesuatu yang ilegal jika orang-orang 'istimewa' tersebut melihat apa yang menjadi harapan para kerabat jenazah, sekalipun mereka tak mengharapkannya? Mendapatkan keistimewaan terakhir dari yang tiada, sementara orang-orang yang sangat mengharapkan tak bisa merasakan hal yang sama.
"Itu adalah beban terakhir yang akan kita pangku, Arthur-san. Dan mungkin, jika kau salah pijak, beban ini akan memangsamu hingga kau tak mampu lagi melangkah menuju proses selanjutnya."
"You've got to be kidding me..."
Dalam perjalanannya kembali ke ruang bawah tanah, ingatannya bagai ditarik ke masa lampau. Lagi. Teringat seorang lelaki muda―atau terlihat muda. Orang itu lima tahun lebih tua darinya, bagaimanapun―bermata cokelat buram, hampir sama seperti warna mata klien wanita yang kini menjadi mimpi buruknya. Isi otaknya serasa diaduk dengan pengayak, berputar tanpa objek orbit, hingga langkahnya sempoyongan dan tak menentu.
Hal apa yang membuat kalimat serapah meluncur dari bibirnya adalah sesuatu yang rasanya tak perlu lagi dipertanyakan. Seorang wanita yang bangkit; yang di beberapa bagian kulitnya ada jahitan dan lebam yang tersamar, yang menyisakan benang putih tebal menyatukan dua sisi leher yang sebelumnya terbuka. Seorang wanita keras kepala bernama Kartika.
"Arthur...!"
Dan tiba-tiba ia ingin menarik diri. Pergi sejauh-jauhnya dari sini. Bau kayu manis yang masih terbayang mendadak memualkan, hingga wajahnya pucat, dan sebelah tangan melayang memegangi lambung.
Antara bau formalin yang kental dan nyata serta bau chamomile tea yang hanya tersisa dalam benaknya, Arthur terlempar dalam distorsi indera yang overload. Kelebihan daya. Kepalanya berat dan berat dan berat dan―
"Arthur?"
Tolong berhentilah.
"Kenapa kau tidak mau pergi?"
Kalimatnya menyemburkan kebencian; karena hanya itulah yang tersisa dalam dirinya kini dan hal tersebut tidak mau beranjak. Tentu ini hanya halusinasi... tidak ada yang nyata, yang benar. Hanya jasad yang mengisi ruang dingin di bawah tanah ini, tidak ada lagi jiwa dalam raga-raga itu. Mereka matimatimati. Mereka hilanghilanghilang.
Hanya―
"...Aku tidak bisa pergi sekarang, Arthur."
Sepasang kaki mungil yang kuning pucat, tak terliputi selimut putih dan menyamping. Surai-surai kecokelatan menutup bahu dan sebagian lengan, warnanya bagai cokelat hitam yang lumer. Mata yang menatapnya begitu tenang, begitu tegas; hingga Arthur merasa ia dapat menembus ke dalam mata tersebut, mencari apakah ada sisi angkuh seperti sebelumnya di sana, walau ia tak menemukan apapun. Ia tak menemukan sisi wanita yang ingin menembus batok kepalanya dengan pisau bedah.
Namun Kartika seperti tidak peduli dengan kebingungan yang ia punya, dan malah mulai bercerita.
"This will be a very funny story, I think." Kartika terkekeh pelan sebelum melanjutkan. "Sudah lama aku tidak pernah bermimpi―maksud mimpi disini adalah soal bunga tidur, ngomong-ngomong―karena aku terlalu lelah untuk ini dan biasanya aku akan langsung tertidur pulas setelah pulang kerja, sehingga aku jarang mendapat mimpi.
"Namun, barusan aku mendapatkannya lagi. Dan yang membuatku kaget adalah isi mimpi itu. Karena... yah, topik yang sensitif, sebenarnya, namun karena aku perlu mengatakannya pada seseorang dan hanya kau yang tersedia, jadi ya sudahlah."
Wanita itu menghela napas, dan Arthur sedikit takut untuk menyela. Ia baru saja mengalami peristiwa buruk yang berhubungan dengan wanita ini, bagaimanapun. Itu masih menyisakan ngeri.
"Aku bermimpi soal Ibuku.
"Dan sedikit pergulatan batin dan lain sebagainya. Tetapi, hal lucunya adalah..." Ada yang berkilat dalam sepasang garnet itu; rasa benci atau menyesal, Arthur tidak tahu.
"Ibuku telah meninggal seminggu yang lalu."
.
Terdengar bunyi-bunyi serpihan kaca yang dikumpulkan satu per satu. Melenting di atas nampan perak dan bergetar, sebelum akhirnya terdiam atau bergeser. Ada suara halus khas suara wanita menemani bunyi lenting itu, yang semakin lama semakin jelas terdengar. Perhatian Arthur beralih― terkadang ia lebih memilih untuk mendengarkan bunyi serpih kaca yang ia ambil namun terkadang suara wanita itu masuk tanpa permisi ke dalam telinganya, menyikut kesadarannya untuk memberi sikap, entah sebuah rasa prihatin atau gerakan bahu yang kaku. Sesuatu. Apapun.
"Karena aku ingin sekali berkata maaf. Ingin sekali." Suara Kartika melayang-layang seperti bulu sebelum jatuh dan pecah memencar di permukaan lantai. "Namun, ia sudah mati. Mati akibat penyakit tuanya yang tidak bisa dihindari."
Ia berusaha untuk tidak menggeritkan geraham dan meraung. Rahangnya mengeras seperti granit, gigi-geriginya bagaikan pasak peluru dalam mekanisme lubang kunci yang telah lengkap dan saling mengait.
"Dan ia muncul dalam mimpiku. Telat seminggu, sebenarnya. Namun siapa yang peduli? Orang yang telah mati tidak akan bisa hidup lagi 'kan? Hm? Dia ada di Indonesia sana dan aku masih di Eropa, tiada mungkin aku bisa ke sana dan menemuinya seperti saat kami terakhir bertemu. Because she's fucking dead."
And so are you― Dan begitu pun kamu.
"Kalau begitu," Arthur melepas kunci yang mengait kedua bibirnya, berucap dengan suara bergetar. Memaksakan diri untuk ikut bermain walau ia cukup muak hanya dengan memikirkannya. "Kalau begitu, jika Anda diberi kesempatan; Ibu Anda diberi kesempatan, akankah―"
Kartika tertawa. Mereka adalah balon-balon gelak penuh kekosongan juga rasa geli. "Tidak akan."
Jawaban yang berlawanan sekali.
"Kenapa–"
"Karena dia menginginkan aku untuk mati, Arthur. Apa yang bisa kauharapkan dari pertemuan kami nantinya, jika itu memang bisa terjadi? Another fights? Aku tidak bisa menanggung lebih banyak, aku benar-benar tidak bisa." Kedua tangan wanita itu menutupi matanya, cukup lama, sebelum salah satu tangan terangkat sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengah. "Dan itu adalah cerita lucu kedua," ujarnya.
Namun, orangtua mana yang menginginkan anaknya sendiri mati? Tapi Arthur menyimpan ini, tidak mencoba untuk mengatakannya. Karena ada sesuatu dari gestur Kartika yang seperti memberi suatu petunjuk untuk tidak 'melewati batasan'. Rahangnya kembali mengeras dan ia menggeleng, melawan setiap pernyataan kontradiktif―aksi kontradiktif―yang wanita ini punya. Hingga kalimat yang tersisa dalam kepalanya hanyalah:
"Kenapa Anda sangat keras kepala?"
Kartika membalas, ucapannya disertai dengus. "Gampang. Karena aku tidak mau menyesal untuk kesekian kalinya."
Dan anehnya, dia tahu Arthur menujukan kalimat tersebut untuk dua topik berbeda.
.
Bagaimana menyakinkan seseorang bahwa kerabat mereka telah tiada? Menghapus halusinasi yang mereka ciptakan dalam kepala mereka, soal kemungkinan menyapa sang kerabat nanti saat berada di ruang keluarga, saling melempar canda seperti yang biasanya dilakukan― atau hanya sebuah imajinasi kecil bertemu dan bertatapan mata dengan yang mati, setelah sebuah peristiwa yang merebut nyawa itu pergi?
Jawabannya simpel.
Cukup perlihatkan jasad yang meninggal. Dan biarkan mereka menangis hingga suara tangis itu pecah-pecah dan bertambah serak sebelum akhirnya sunyi.
Namun, bagaimana jika yang diyakinkan itu adalah yang telah mati itu sendiri?
Oleh karena ini, Arthur yakin ia memang sedang berhalusinasi. Sebab― mana mungkin, bukan? Kematian adalah hal yang haq; hakiki. Sebuah fakta yang tak mampu diganggu gugat. Sebab begitu jantung berhenti berdetak dan otak tak lagi mampu mengirimkan sinyal pada tiap cabang syaraf, maka kesimpulan yang diambil dan diberikan adalah pasti. Mereka tak lagi dapat bergerak maupun berbicara, because they're fucking dead.
Dapatkah kaurasakan detak jantungmu? Dapatkah kaulihat dirimu, setidaknya kedua tangan dan kakimu? Jahitan yang kukerjakan di sana, tulang patah yang kautemui pada jemarimu. Rasakan leher dan dahimu, dapatkah kaupahami bahwa kau ini hanya sebuah disorientasi visual dari seorang pegawai moratorium yang mengalami paranoia tak terdeteksi, bahkan oleh pengidapnya sendiri?
Karena aku mungkin memang gila dan paranoid.
"Mana mungkin, bukan?"
Ia begitu ingin melihat wajah wanita itu runtuh. Berubah menjadi asap dan hanya menyisakan sepasang kelopak mata yang tertutup serta satu jasad utuh. Karena, hei, ia capek berpura-pura dengan dirinya sendiri jika benar ini hanyalah sebuah hasil proyeksi. Karena Arthur tidak ingin mengulang kesalahan yang sama berulang kali.
Ayolah, berhenti menangis. Rasa iba takkan ada lagi untukmu.
.
.
.
"Apa yang sedang kaukerjakan?"
Langkah kecil yang mendekat ke arahnya ketika ia sedang membasuh tangan dan memasang sepasang sarung tangan karet terdengar seperti sapuan gaun velvet pada lantai marmer. Ia berbalik, menatap wanita yang lebih kurang sekitar 54 inci menatapnya dengan pandangan penuh rasa ingin tahu; membuatnya mendengus pelan. Berjalan menuju bagian di mana jasad Ms. Zwingli terbaring dan mengangkat sehelai kain panjang yang menutup bagian atas jasad tersebut. Mengecek keadaan wanita muda yang mengalami nasib naas ini.
"Melakukan tugasku." Jawabnya enteng. Dan tak mengacuhkan dirimu.
Kartika menggumam, dan tangannya menyusuri permukaan kulit Ms. Zwingli dengan sepotong handuk basah. Dari dahi hingga bawah mulut, lalu belakang telinga hingga tulang belikat. Membersihkan sekenanya.
"Mesum."
Bibirnya tergeragap ingin mengucapkan sesuatu. Wajahnya memerah dan ingin sekali mengonfrontasi wanita di sebelahnya ini dengan kalimat balasan― walau apa yang ia temui bukan lagi seorang wanita, hanya sepotong gambar lukisan yang tersaput.
Pemandangan di sekitarnya luruh, luruh... Laksana cat minyak yang terpapar panas dan meleleh; menjadi kabur. Mereka menghilang, para kabut keruh yang perlahan lenyap dari pandangan. Kartika tak lagi berada di sampingnya dan menjenguk pada apa yang sedang ia kerjakan. Ia hanya sendirian, seperti sebelumnya dan seharusnya ada dalam penglihatannya. Tak ada yang lain.
Hingga sepasang mata berwarna hijau tumpul membuka.
. . .
H-3
. . .
"―Kau menangis?"
Ia tidak pernah berubah. Ia tak paham mengapa.
[ I lost myself. ]
.
Theme song:
Radiohead– Karma Police
.
Side characters:
Liechtenstein: Lili Zwingli
Switzerland: Vash Zwingli
.
God, how I hate write things lately... This suck. Suck suck suck.
Referensi kepala jenazah yang ngga ada itu merujuk pada pengalaman seorang perias jenazah di Jakarta; seorang wanita, jika aku ngga salah. Ada hubungannya dengan pengeboman hotel oleh teroris. ...That's so unnerving, I tell you.
Jika kalian mencari cerita-cerita tentang perias jenazah ini, mungkin nanti kalian akan ketemu satu film Jepang yang bercerita tentang profesi serupa. Dan, ya, itulah alasanku terus menyebut-nyebut nama Kiku pada chapter awal dan kini (Aku belum pernah nonton filmnya, ngomong-ngomong...), di samping fakta bahwa aku ngga berniat menampilkan Kiku samasekali, selain sekedar kilas balik.
Mage: WELL, I'M MORE INTO A THOUGHT TO STOLE YOUR TALENTS AWAY DARLIN', SO STOP BEING HUMBLE AND LET. MEH. STOLE. YOUR. TALENT. HOLY. SHIT. I. FUCKING. WANT. IT. BECAUSE I REAL SUCK U KNO
Thanks for reading! Cerita ini bakal lebih membingungkan but― Review?
[ SRI - 9.4.13 ]
