Disclaimer: Square Enix only. I just own this story
WARNING: everything that bad (if you can find one)
Chapter 3: Unexpected
.
.
Hari kedua minggu ini. Bel makan siang berbunyi, dan Roxas justru terselamatkan dari kelas Miss Lockhart; mengingat ia mendapatkan dua kelasnya selama dua hari ini. Dengan perasaan malas, Roxas melangkahkan kakinya keluar kelas, berjalan menuju kantin.
Para siswa-siswi Twilight sudah membentuk barisan layaknya tentara, siap-siap mendapatkan makan siang mereka dimana Roxas mencium aroma sedap dari kantin. Tempat ini—bukannya membuat Roxas penuh dengan kemungkinan tak terbatas untuk mengambil setidaknya sesendok makanan dari kantin justru ia merasa bosan melihatnya. Tidak hanya kantin ini, sekolah ini.
Bangunan sekolah persegi empat berbata warna kuning mustard itu mulai penuh coret-coretan, sedemikian meja kantin ini. Sambil menunggu barisan tersebut bubar, Roxas duduk di salah satu bangku dimana ia langsung bertemu tatap muka dengan sepupunya. "Halo, sobat."
"..Hai," balas Roxas. Roxas sebenarnya tidak punya tenaga untuk menjawab sepupunya. Ia merasa bak pengungsi—lelah,lapar, dan kecewa. Ia ingin sekali untuk mengambil burger salmon yang disediakan kantin namun ia malas untuk mengantri. Tenaganya terkuras habis akibat Miss Lockhart. Wanita itu telah mengincar Roxas tanpa pandang bulu, mengetahui Roxas sangat benci mata pelajaran itu.
"Untung kita dapat kelas yang sama hari ini," Sora menyengir sambil melahap burgernya yang jauh lebih besar dari mulutnya. Namun selama mengunyah, ia sekaligus menyeruput sodanya, dan menelannya sekaligus. "Karena aku bisa mengawasimu."
"Kau tidak perlu mengawasiku, kau tahu?" Roxas berkata lemah sambil mengacak rambutnya. "Dari mana kau dapatkan itu?"
"Aku mengantri cukup lama tadi," jelas Sora seraya mengangkat nampannya dimana burgernya tergeletak di sana, cukup membuat Roxas jauh lebih lapar. "Lomba lari dengan Riku membuat kakiku melangkah lebih cepat."
"..Mungkin yang kau maksud melangkah lebih cepat adalah berlari, Sora."
"Seperti itulah."
Roxas menghela napas frustasi, karena ia tidak bisa menahan suara gemuruh di perutnya. Tambah lagi terjebak dengan sepupunya yang mempunyai kebiasaan makan seperti itu, mengunyah keenakan; membiarkan Roxas kelaparan.
"Kau tidak bersama Kairi hari ini?" tanya Roxas.
"Tidak. Kairi sedang mengurus Komite September Semi—apapun itu."
Yeah, Kairi harus bersabar mempunyai pacar macam ini. Ngomong-ngomong soal gadis, Roxas tidak melihat Namine sejak tadi pagi. Setelah pertemuan terakhir mereka di ruang seni musik, Roxas tidak bisa menahan perasaannya untuk bertemu kembali dengannya. Roxas sendiri heran, mengapa ia merasakan hal ini.
"Hei, kemana matamu membawamu.." Sora berkata di sela-sela kunyahannya, membawa Roxas kembali dari dunianya. Dapat Roxas lihat noda saus tomat di sekitar mulut dan bajunya. Eww, apa dia tidak takut oleh Miss Gainsborough apabila guru tersebut melihatnya acak-acakan seperti itu?
"Bukan urusanmu," jawab Roxas singkat sambil kembali menatap seluruh ruangan. Paling tidak, ia di sekitar sini, batin Roxas. Roxas bangkit dari bangkunya, tepat dimana Riku duduk di sebelahnya.
"Ada apa, Rox?" tanya Riku lalu ia menolehkan wajahnya ke Sora sambil berbisik, "ada apa dengan dia?". Dan yang ia peroleh adalah jawaban "tidak tahu" dari Sora.
Menghiraukan kedua laki-laki tersebut, Roxas berjalan keluar dari kantin menuju taman dimana matanya menelusuri setiap bangku yang ada di situ. Lalu ia bertemu dengannya.
Entah kenapa Roxas merasakan kebahagiaan di dalam dirinya dan berjalan menuju ke arah gadis mungil tersebut yang tengah memakan makan siangnya sambil menggambar. Namun, seorang preman kelas teri bernama Seifer Spitzer, bersama kawan-kawannya; Rai Banner dan Fuu Hanes. Mereka seperti mengatakan sesuatu kepada Namine, namun Namine tetap melahap makan siangnya dengan tenang—Oh, tidak.
"Hei! Apa kau tidak dengar?!" bentak Seifer. Barulah, Namine mendongakkan kepalanya, mendapati tatapan amarah dari Seifer yang terlihat jengkel. "Aku bilang, ini tempatku! Tidak ada yang boleh menduduki tempat ini selain aku, Rai, dan Fuu."
Namine mulai membetulkan posisi hearing aid miliknya lalu bertanya, "A-Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Muka Seifer mulai memanas seperti air mendidih, emosinya meluap karena ia merasa ditantang oleh seorang gadis yang baginya berpura-pura tidak bisa mendengarnya. "Tidak mengerti?! Apa kau tuli?!"
Mata Namine membulat. Sepertinya ia berhasil menangkap apa yang Seifer katakan. Ya, aku tuli, batin Namine.
"Seifer."
Seifer menoleh,dan ia melihat Roxas berjalan ke arahnya sambil mengepalkan kedua tangannya. "Mau apa, Rock-ass?"
Roxas menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil berkata, "Aku tidak ada urusan denganmu hari ini. Tapi kalau kau beraninya bertindak seperti itu terhadap seorang wanita, kau bisa saja diskors. Itu pun kalau kau tertangkap basah, bagaimana kalau aku yang melapor?"
Menyadari kehadiran Roxas, Namine membaca gerak bibir Roxas. Ia menangkap apa yang dibicarakan Roxas terhadap Seifer. Kenapa ia membantuku? Batinnya.
"Orang bodoh mana yang berani mengancam seperti itu padaku?" tantang Seifer sambil menyeringai. Uratnya terlihat di dahinya seakan-akan ia terpancing emosi akibat perkataan Roxas.
"Aku tidak sebodoh yang kau kira," Roxas berkata. Ia sudah sering mengatasi hal ini dengan Seifer sekian lama. Mereka seringkali menempati peringkat pertama kalau soal berdebat. "Hanya orang bodoh macam kau lah yang tidak mengerti peraturan sekolah i—"
DUAKK
Sebuah pukulan melayang mengenai pipi kanan Roxas, membuat Roxas jatuh ke tanah; memperoleh tatapan terkejut dari Namine. Seifer mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil berkata, "Awas kau, Ames!"
Suara langkah kaki terdengar dari belakang Seifer yang ternyata adalah Sora dan Riku, karena mereka mendengar terjadinya keributan RoSe Fight (Roxas and Seifer's Fight) dari mulut ke mulut. "Tunggu, Seifer!"
"Apa maumu, Kerns?!" teriak Seifer. "Kau juga, Harris! Karena kau ketua Struggle bukan berarti kau ikut campur urusan ini!"
"Dari awal aku memang tidak niat," jawab Riku dingin. "Aku hanya ingin melihat Roxas menyelesaikan masalahnya ini sendiri."
"Jangan begitu dong, Riku," Sora memelas pada Riku. Lalu ia berkata pada Seifer sambil menepuk pundaknya. "Ayolah, kawan. Cobalah baik sedikit. Kau tidak tahu kan apa dampaknya apabila guru melihat kekacauan di sini?" Seifer terdiam. "Bagus, kalau begitu mari kita selesaikan dengan kepala dingin. Kau setuju Rox—"
DUAKK
Kali ini Seifer tergeletak di tanah sambil menyentuh pipi kirinya yang memar akibat pukulan tersebut dan terkejutnya Sora, melihat siapa yang telah memukulnya.
"Apa kau sudah gila?!" teriak Sora. "Roxas, aku mencoba menyelamatkanmu!"
Dengan napas yang tersengal-sengal, ia menghiraukan perkataan Sora sambil mengusap keringatnya yang bercucuran di wajahnya. Tangannya sakit, sehabis meninju Seifer tadi. "Tidak kusangka bakal sesakit ini.."
"Tentu saja, bodoh!" Sora memprotes, "wajah Seifer itu seperti batu!"
"Ungh," suara Seifer mengejutkan mereka. Rai dan Fuu berusaha membangunkan Seifer yang tidak sadarkan diri. Nice job, Roxas..
"Guys," bisik Sora pada Roxas dan Riku, "..Kurasa kita harus lari." Sora dan Riku saling bertatapan, lalu lari bersama-sama.
Roxas yang langsung menyadari bahwa Seifer akan sadar tak lama lagi, meraih tangan Namine lalu membawanya berlari bersamanya.
"Kita mau kemana?" tanya Namine lemah.
"Menjauh dari Seifer," jawab Roxas, berusaha membuat suaranya sedikit lebih keras agar Namine dapat mendengarnya. "Dan tempat bernama UKS."
.
.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu," kata Namine sambil mengoleskan salep pada pipi Roxas yang memar.
"Melakukan apa?"
"..Jangan berpura-pura tidak tahu," Namine menunduk. "Kenapa?"
Roxas menghela napas sambil mengacak rambutnya yang semakin berantakan. "Karena aku memang tidak suka dengan tindakannya yang memperlakukanmu seperti itu."
"..Terima kasih," Namine berkata sambil tersenyum terhadap Roxas. "Belum pernah ada yang melakukan hal itu padaku sebelumnya. Mengingat aku telah kehilangan pendengaranku."
"Kalau begitu, aku tersanjung," kata Roxas. "Menjadi orang pertama yang menyelamatkanmu dari Seifer dan kawan-kawannya yang mengganggu pemandangan itu."
Namine tertawa kecil, "Oh, jangan seperti itu," katanya sambil menggunakan bahasa isyaratnya.
"Hei, mungkin suatu hari kau bisa mengajariku," kata Roxas. "Bahasa isyarat itu."
"Kau mau belajar?" tanya Namine heran. "Untuk apa?"
"Untuk memahamimu."
Suara gemuruh mengalihkan perhatian mereka. Dan malunya Roxas, suara gemuruh itu datang darinya. Tepatnya dari perutnya. Namine menahan tawanya lalu mengeluarkan tupperware miliknya yang ia bawa untuk makan siang. "Kau lapar?"
Mau tak mau meskipun malu, Roxas mengangguk pelan. Namine membuka tupperware miliknya lalu mengeluarkan sandwichnya dan memberikannya pada Roxas. "Cobalah. Aku membuatnya sendiri."
Roxas menerima sandwich tersebut lalu melahapnya. Hmm, sebagai seorang yang pemula, masakannya terasa lezat. "Kau bisa masak?" tanya Roxas, memperoleh anggukan dari Namine.
"Aku bisa membuat pai coklat. Rencananya aku ingin membuatnya akhir minggu ini. Kau mau mencobanya?" tanya Namine.
Roxas tersenyum sambil melahap lagi sandwichnya, "Tentu. Kenapa tidak?"
.
.
-...-
Setelah perbincangannya dengan Namine, Roxas berniat melewati kelas Miss Gainsborough, mengingat ia tidak membawa salah satu buku fisikanya. Namun, entah kenapa alih-alih membawanya masuk ke dalam kelas guru itu, membuat Sora dan Riku terkejut.
"Hei, tumben sekali kau masuk." Kata Sora
"Bukan urusanmu."
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Baik."
"Siapa yang mengobatinya?"
Roxas terdiam. Ia tidak mau memberi tahu nama Namine padanya, karena ia khawatir mulut Sora yang tak bisa tutup mulut itu akan menyebarkannya pada publik.
"Ah, apa gadis tadi?" tanya Riku. "Yang dibully Seifer tadi. Bukankah dia anak baru di sini?"
"Bukan urusanmu," jawab Roxas.
Sora tersenyum lebar, memperlihatkan garis-garis di ekor matanya, sambil tertawa mengerikan. "Hohoho"
"Apa?" tanya Roxas heran.
"Kau membuatku takut, bung. Jangan tertawa seperti itu." Riku berkata pada Sora.
Sora menatap Roxas dengan tatapan mengerikan, "Hohohoho.. Roxas, sobat. Kau sudah mengembangkan rasa ketertarikanmu terhadap seseorang. Aku cukup tersanjung."
What the..?
.
A/N: okay, chap ini memang lebih mirip kyk piramid. Dari panjang ke pendek (?)
Saya rencananya memang pingin publis sekarang. Soalnya saya ulangan umum -_-
trims buat yeeah, :D atas reviewnya
buat Mistletoe juga. Roxas memang agak menyimpang-_-
dan KuroMaki RoXora, hehe, cinta lagi dong~ hahaha :D iya nih, chapter fic kali ini memang agak sedikit ga tau napa-_-
Review lagi yaaw ;)
