"Your Regret Mean Nothing"

Sequel from "Un-requited Love"

By : Amanda Lactis

.

.

.

Jimin belum melupakan kepergian Yoongi tujuh tahun yang lalu. Dia merasa begitu bodoh dan kejam terhadap lelaki yang lebih tua setahun darinya itu. Yoongi tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hanya berperan sebagai kakak Yoonji, wanita yang disukai Jimin. Yoongi itu manis, senyumnya jarang ditampakkan tapi Jimin yakin apabila Yoongi mau tersenyum pastinya wajah pucat itu akan semakin menggemaskan. Selama dua bulan berinteraksi dengan Yoongi, sedikit demi sedikit membuat Jimin hafal kebiasaannya. Kapan Yoongi akan bermain piano di ruang Klub Musik, kapan dia mulai membolos mata kuliah yang tidak dia sukai, atau saat Yoongi bosan dan berjalan-jalan mengitari taman kampus. Jimin terlampau hafal, dan dia tidak kunjung menyadari rasa sukanya pada Yoonji perlahan terhapus. Jimin baru menyadari itu ketika Yoongi dikabarkan hilang tanpa kabar. Chanyeol juga memberitahunya jika Yoongi menerima tawaran beasiswa di Swiss. Taehyung sudah tidak mau berteman dengan Jimin, beralasan jika Jimin tidak pantas untuk Yoongi-sunbaenya. Taehyung tidak menyapanya lagi, sahabatnya berhenti melakukan kontak fisik dengannya, dan juga mengurus kepindahannya setahun setelahnya. Jimin tahu ini tidak masuk akal, kenapa Taehyung begitu peduli dengan Yoongi, sungguh Jimin tidak paham.

Dan lihatlah sekarang, sosok itu kembali dan menjelma menjadi sesuatu yang lain. sosok yang pernah dia sakiti kini menjadi orang sukses, mendapat penghargaan dan apresiasi dari banyak kalangan. Bagaimana dengannya? Dia hanya seorang dosen yang kebetulan terkenal karena wajahnya yang tampan. Jimin tidak punya apa-apa lagi.

"Yoongi-sunbae…"

Dia tetap diam, duduk di depan piano kesayangannya tanpa membalas sapaan Jimin. Suga menahan diri untuk tidak menampar Jimin atau minimal memakinya. Suga menahan semuanya, karena ia merasa percuma.

"Hei, Jim."

Suaranya masih sama, berat dan terdengar seksi. Jimin akui, seniornya itu jauh lebih tampan dan jauh berbeda. Kemana Yoongi yang terlihat malas ketika berinteraksi dengan orang baru? Mana Yoongi yang selalu menunduk ketika ada yang mengajaknya ngobrol? Semua tergantikan oleh sosok Suga. Yang begitu berani menampakkan emosinya, yang bebas menumpahkan kekesalannya lewat musik yang dia garap. Jimin bingung, apa ia harus senang atas keberhasilan Suga, atau sedih karena perasaannya yang belum juga berubah.

"Bagaimana kabarmu, sunbae?" tanya Jimin dengan nada aneh. Suga terkekeh geli.

"Seperti yang kau lihat."

Hening.

"Apa kau membenciku?"

Suga menghela nafas panjang, ia bangkit dan merapatkan jaket kulitnya seraya berjalan mendekati Jimin. "Aku sangat membencimu sampai membuat tato dengan inisial namamu. Apa kau merasa tersanjung sekarang?" balas Suga congkak. Senyumnya tidak pernah tulus. Selalu ada perasaan lain yang terselip. Dan untuk kasus kali ini, perasaan itu adalah rasa benci terhadap Jimin. Suga membenci Jimin dan bersumpah dia tidak akan pernah memaafkan mantan juniornya itu, sampai kapanpun.

Jimin tersenyum, dia tak menyangka sesakit ini rasanya dibenci seseorang.

"Yoongi-sunbae-"

"Suga-ssi, untukmu, Park Jimin. Kita anggap Yoongi-sunbae yang kau cari memang benar-benar hilang dan tidak akan kembali."

Benar. Yoongi sudah mati. Dia mati tujuh tahun yang lalu, dan pelaku pembunuhnya adalah Suga sendiri.

"Apa kau bahagia, Suga-ssi?" Jimin bertanya sedih, matanya menyorot sendu. Ia tahu, di balik ketegaran Suga, pasti ada yang disembunyikannya. Jimin tahu, karena dia terlalu bodoh sampai melepaskan sosok yang berharga dalam hidupnya.

"Aku bahagia atau tidak, apa pedulimu, Park Jimin?"

Kalimat itu mengakhiri kunjungan Suga di Universitas Seoul setelah ponselnya berdering dan suara Sejin yang berteriak menanyakan posisinya. Suga tertawa kecil saat mengatakan dimana dia sekarang, setengah lagi memang senang karena reaksi manajernya tak pernah membuatnya bosan. Dan Jimin melihat tawa itu. Jimin iri. Jimin juga ingin membuat Suga tertawa. Siapa? Siapa yang berhasil membuat Suga tertawa sebebas itu? Apa dia tidak bisa melakukannya? Apa Jimin perlu bersujud meminta pengampunan pada Suga terlebih dahulu? Pintu ruang Klub Musik tertutup perlahan, meninggalkan derit tak nyaman untuk pendengaran Jimin. Sosok Suga menghilang dari pandangannya.

.

.

.

Sejin adalah manajer Suga, yang membuat banyak staff bersimpatik padanya karena sikap Suga jauh lebih buruk dari artis agensi yang lain. Bukan dalam artian Suga sering membuat skandal atau dikabarkan berkencan dengan seseorang, bukan begitu. Suga bahkan sering membelikannya kopi atau hanya sekadar mengobrol ringan bersama manajernya itu. Jadi, sikap buruk apa yang dimaksud staff-staff agensinya? Sikap Suga yang sering seenaknya, seperti keluar tanpa kawalan dan pemberitahuan. Sikap Suga yang tak bosan mengurung diri di studio selama seharian dan membuat Sejin mati khawatir karena Suga belum memakan sesuap nasi sejak pagi. Sejin sabar dan mencoba pengertian terhadap Suga. Dan ketika Jihoon, si penyanyi berwajah sedikit mirip dengan Suga bertanya pada Sejin mengenai sikap musisi jenius itu, maka Sejin akan menjawab,

"Masa lalunya tidak secerah orang lain, Jihoon. Ku harap kau mengerti."

Dan kalau Suga mulai meminta hal-hal aneh pada agensi, ya contohnya beberapa bulan lalu saat Direktur agensi tengah dinas ke Jepang bersama beberapa staff yang lain, Suga meminta dibawakan boneka beruang berwajah idiot bernama Kumamon, dan bila tidak dibelikan maka Suga akan melancarkan aksi mogok kerja, dan itu artinya Sejin harus membujuk Suga selama dua hari agar dia mau bersikap lebih dewasa. Tapi sungguh, Sejin tidak tahan melihat Suga sedih dalam waktu yang lama. Sejin lebih betah menghadapi sikap egois dan ucapan kasar Suga ketimbang dihadapkan oleh Suga yang pendiam dan berwajah murung. Kurang baik apa Sejin sebagai manajer?

"Kau pergi dan aku harus menerima omelan Bang PD-nim karena ia mengira aku menelantarkanmu, Suga!" Sejin memijit keningnya dan menyambut Suga yang kini malah terlihat santai. Dia bahkan tidak mempedulikan tatapan banyak orang! Apa Suga secuek itu sampai tidak mau tahu tanggapan orang lain? Pasti tidak sedikit yang menanyakan tujuannya di Universitas Seoul. Dan oh tentu saja Suga tidak merasa keberatan akan kesimpulan yang dipikirkan orang lain. Mana mau dia menghabiskan waktu secara sia-sia begitu.

"Aku lapar, nanti mampir beli kue. Sekalian aku traktir kau Americano, kita impas?" Suga memasuki mobil dan menyamankan posisi duduknya. Sejin menghembuskan nafasnya dan memutuskan untuk mengantar Suga ke tempat tujuan. Lelaki itu takkan puas sampai mulutnya dipenuhi kue manis kesukaannya. Kadang aneh juga, Suga menampilkan kesan badboy tetapi sangat menyukai kue manis dari café pinggir jalan.

"Apa yang kau lakukan di Universitas Seoul, Suga?"

"Menemui kekasihku."

Hening.

"Aku bercanda, Sejin-ssi. Kenapa wajahmu aneh begitu." Suga meraih ponselnya dan membuka browser, dia tidak terkejut ketika ada berita yang menunjukkan dirinya tengah memasuki Universitas Seoul sendirian, dan lebih tidak terkejut ketika ada yang berkomentar seolah Suga kurang kerjaan dan memutuskan untuk berjalan-jalan.

"Lelaki bernama Kim Taehyung menanyakan kabarmu untuk yang keseratus kali sejak kedatanganmu ke Korea."

Suga menghentikan kegiatannya. "Bilang saja aku sibuk." Sahutnya enteng. Menemui Taehyung sama saja membongkar kembali luka lamanya.

'Berhenti menggangguku, Taehyung.'

.

.

.

Ketika hari menjelang sore, Suga meminta ijin dari manajernya untuk pergi ke suatu tempat. Dan Suga menolak memberitahunya dimana persis tempat yang dia maksud. Nyatanya, Suga sedang ingin mengunjungi rumah kedua orang tuanya. Ia sengaja menghubungi Seokjin untuk memberitahu kakaknya itu.

To : Seokjin-Hyung

From : Suga

Aku akan berkunjung ke rumah. Mau membuat kekacauan bersamaku?

Suga menikmati waktunya. Ia berjalan sendirian seolah ia hanyalah manusia tanpa popularitas. Maskernya menjadi barang wajib setiap dia keluar gedung agensi atau kemanapun ia pergi. Suga beberapa kali berhenti untuk melihat bangunan yang terasa asing dalam ingatannya. Ia juga bertemu fans nya yang diluar dugaan begitu perhatian padanya.

"Suga-ssi, ini untukmu." Seorang fans memberinya sebuah syal berwarna hitam. Suga menerimanya dengan senang hati, dia bersyukur fans nya tidak menuntut agar Suga menunjukkan wajahnya.

"Ini juga, Suga-ssi, oh dan aku dengar kau suka kue." Satu fans lainnya mengulurkan cheesecake kesukaannya yang tersimpan di dalam kotak berukuran sedang. Suga tersenyum di balik maskernya.

"Terima kasih." Ucapnya tulus.

Itu adalah keberuntungan baginya. Karena dalam dunia hiburan, tak jarang para artis atau idola lainnya memiliki sesaeng fans. Dalam kamus Suga, sesaeng fans bisa membahayakan hidupnya. Suga tak sengaja mendengar pembicaraan Sejin bersama beberapa anggota grup band jika ada seorang sesaeng fans memasuki dorm mereka tanpa ijin! Bukankah itu mengerikan? Suga sampai paranoid dan mengunci ganda ruang studionya. Dia bukan takut menghadapi sesaeng fans tapi dia takut bila ada yang mengambil merchandise Kumamon kesayangannya. Bukan tak mungkin Suga akan bertindak nekat dan menuntut sesaeng fans itu ke pengadilan. Obsesinya terhadap Kumamon sering merepotkan Sejin selaku manajernya.

Dan tak terasa langkahnya terhenti di depan rumah sederhana bergaya minimalis dengan plang nama "Keluarga Min" di bagian gerbang depan. Rumahnya dulu. Tempat Suga pernah merasakan masa lalunya yang kelam.

"Suga."

"Hyung…"

Seokjin tersenyum, ia menepuk bahu Suga dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. "Tidak perlu takut. Aku jamin eomma tidak akan melakukan hal buruk padamu." Ucapnya mencoba menghilangkan rasa takut dalam diri adikknya. Seokjin tahu, tidaklah mudah bagi Suga untuk menjejakkan kaki ke rumahnya. Semua trauma berasal dari sini, tentu saja Suga enggan kembali, bukan?

CEKLEK

Pintu terbuka perlahan. Menampilan Yoonji yang terbelalak kaget melihat sosok asing di samping Seokjin. Itu Suga. Musisi terkenal yang membuatnya iri bukan main atas karirnya yang gemilang. Itu Suga, yang begitu misterius dan menarik bagi setiap orang. Untuk apa Suga datang ke rumahnya? Bersama Seokjin pula?

"Aku pulang." Suara Seokjin menarik perhatian ibu dan ayahnya yang begitu bahagia menyambut putra sulungnya selama tujuh tahun melancarkan aksi perang dingin. Dan oh siapa pria asing di sebelahnya? Apa itu teman Seokjin?

"Masuklah nak, ajak juga temanmu itu. Apa kau sudah makan, nak?" tanya ayah Seokjin begitu lembut, nyaris menghancurkan hati Suga yang sejak tadi menahan diri untuk tidak melepas masker hitamnya. Sikap ayahnya begitu baik, ramah dan berbanding terbalik terhadap dirinya tujuh tahun lalu. Dari mana kelembutan itu berasal?

"Kenalkan pada kami temanmu itu, Seokjin-a." Balas ibu nya turut mempersilahkan Suga memasuki ruang tamu. Dan Suga tidak kuat lagi. Dia menurunkan maskernya dan menatap pedih kedua orang tuanya yang kini terkejut.

"A-apa yang kau lakukan di sini?!"

"Yoongi-a….?" Yoonji menelan kering salivanya. Itu kakaknya. Suga adalah kakaknya yang meninggalkan rumah tujuh tahun lalu. Jadi Suga, adalah Min Yoongi?

Tatapan mereka berubah, tak lagi ramah dan penuh kasih sayang. Ibu nya bahkan melotot seakan melihat iblis. Suga merasakan hatinya kembali teriris.

"Orang-orang datang dan pergi. Ada yang tulus. Ada yang munafik. Ada yang menolak keberadaanku, ada pula yang selalu menungguku pulang." Suga menatap ibunya dan Seokjin secara bergantian, mengartikan ucapannya sebagai bukti nyata sikap dua orang itu yang sangat berkebalikan. Yoonji tercekat, dia bungkam dan tidak berani melontarkan sepatah kata pun. Kakaknya telah berubah. Suga membuatnya iri akan sebuah kesuksesan mutlak yang diraih kakaknya itu. Yoonji merasa menyesal sekarang. Menyesal karena dulu memaki Suga dan menyesal karena tidak bisa berpikir jernih.

"Aku bisa saja datang hari ini, tapi tidak ada yang tahu kapan aku akan pergi, eomma." Lanjut Suga mendapat tatapan lega dari Seokjin. Dia bangga karena adiknya berhenti bersikap pengecut. Menjadi pihak netral sedikit menguntungkan Seokjin yang memang tidak mau membela siapapun.

"Aku bisa terima semua perlakuan kalian, tapi sekarang? Maaf, nama Min Yoongi sudah ku hapus dari diriku. Mulai detik ini, kalian akan mengenalku sebagai Suga."

Hening.

Ayah Suga tak habis pikir. Sebesar apa dendam dalam hati putranya itu. Kenapa Suga tidak bisa melupakan kejadian yang telah lama berlalu? Bukankah itu kekanakkan sekali? Lagipula, Suga sudah kaya raya, harusnya dia bersyukur lahir dari keluarga ini. Apa anak jaman sekarang memang tidak tahu diuntung?

"Yoongi-a, eomma tidak berharap kau mau kembali ke rumah ini, tapi setidaknya bisakah kau menolong Yoonji?" Ibunya memohon darinya. Ibu yang membenci dan mengutuk kehadirannya kini memohon demi anaknya yang lain. Ibunya menurunkan harga dirinya untuk meminta bantuannya? Suga tertawa, sekaligus merendahkan martabatnya jika ia menuruti keinginan ibunya.

"Kau ingin masuk ke agensiku, begitu kan?" Suga melirik sinis sosok Yoonji yang menegang selama beberapa detik. Itu keinginannya sejak dulu. Mimpinya. Benarkah Suga bisa membantunya? Yoonji mengangguk penuh harap.

"Maka kau harus berusaha lebih giat, Yoonji-a." Tandas Suga tak sedikitpun mempedulikan perasaan adik bungsunya. Ia meminta ijin pada Seokjin untuk segera kembali ke studionya lantaran muak berlama-lama di rumah lamanya dan untungnya kakaknya mengangguk seakan mengijinkannya. Namun ayah dan ibunya menghadang jalannya. Apa-apaan? Batin Suga kesal.

"Yoongi-a, eomma mohon…."

"Kan sudah kubilang, Min Yoongi sudah mati."

"Min Yoongi! Jaga sikapmu! Kau berubah menjadi anak tidak tahu sopan santun sekarang." Bentak ayahnya. Kalau yang dibentak adalah Suga tujuh tahun yang lalu, mungkin dia akan mengurung diri di kamar, menulis lagu semalaman dan menangis tiada henti. Tapi, tidak. Suga justru menaikkan alisnya dan tetap mengumbar senyum merendahkan.

"Oh, maafkan aku, Tuan Min. Tolong maklumi aku, karena sejak lahir aku tak punya orang tua-"

PLAK!

Tamparan datang dari Yoonji, entah mendapat keberanian dari mana dia menampar Suga untuk yang pertama kalinya sejak lelaki itu kembali ke Korea.

"Jadi kau beralih profesi sebagai tukang tampar orang, Min Yoonji?" Suga bertanya dengan nada sing a song. Suaranya menjadi berkali lipat menyebalkan. Yoonji tersentak dan mundur selangkah. Suga memiliki aura yang berbeda. Kini lelaki itu berjalan mendekatinya, penuh tatapan intimidasi seolah Yoonji patut mendapatkan hukuman paling menyakitkan.

"Hei, Tuan Min. Ajari anak gadismu, dia juga berubah menjadi gadis tak tahu diri. Berani sekali menampar orang penting sepertiku."

Tidak ada yang menyahuti. Atau memang ayah nya begitu takut? Ya, lihat pria tua itu, yang memandang Suga dengan penuh perasaan takut. Ayah yang dulu sering mencaci makinya, yang tak segan memukul tubuhnya kini seolah tak berdaya di hadapannya? Lucu, bukan?

KRINGGGG!

To : Suga

From : Manajer Sejin

Ya! Kau dimana? Ada banyak paparazzi di dekat posisimu saat ini! Aku tidak bisa menerobos karena ada begitu banyak reporter yang ingin menyorot dirimu, Suga. Kau bisa meminta bantuan seseorang untuk kembali ke gedung agensi?

Sial. Sial. Sial!

Suga menaikkan maskernya dan berbalik menuju pintu keluar.

"Satu hal lagi, jangan beberkan kedatanganku pada publik, atau ucapkan selamat tinggal pada rumah ini, Tuan dan Nyonya Min. Hyung, aku pergi dulu." Seokjin melambaikan tangannya pada Suga yang dibalas anggukan singkat. Kini yang menjadi masalah, siapa yang mau menjemputnya?! Tunggu. Ada satu orang. Ya, satu orang yang dibenci Suga melebihi siapapun. Hanya dia yang bisa membantunya lolos.

'Turunkan egomu atau kau harus menunggu reporter pergi? Pilihan ada di tanganmu, Suga.' Ia menekan ponsel touchscreennya saat merasa tidak ada pilihan lain selain menghubungi orang itu.

To : PJM

From : SG

Jemput aku, sekarang atau tidak selamanya.

.

.

.

Jimin baru menyelesaikan pekerjaannya ketika jam menunjukkan pukul lima sore. Tubuhnya pegal dan ia ingin segera pulang. Pertemuannya dengan Suga tadi siang sungguh membuatnya tak bisa berkata-kata. Di sisi lain ingin mengejar namun hatinya menyuruhnya untuk tetap diam. Hahh, Jimin bingung. Jimin itu jagonya membuat orang-orang terpesona, tapi menarik perhatian Suga saja susahnya setengah mati. Mana tadi dia seperti orang bodoh yang serba salah di mata sunbaenya.

KRINGG!

To : Park Jimin

From : Yoongi-sunbae

Jemput aku, sekarang atau tidak selamanya.

Tunggu dulu.

Apakah ini mimpi? Benarkah Suga ingin dijemput? Tapi dimana? Oh sial, Jimin jadi terlalu bahagia sampai dia tidak tahu kemana harus menjemput Suga! Apa di rumahnya? Ya, mungkin saja, mencoba tidak ada salahnya, kan? Jimin meraih kunci motornya di atas meja kantor dan melesat menuju parkiran, masa bodoh dengan jeritan mahasiswi yang kebetulan lewat. Prioritasnya kali ini adalah, Suga. Urusan dendam atau tidaknya dipikirkan nanti saja, batin Jimin kelewat semangat dan tanpa dia sadari, mengebut di jalanan, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Park Jimin mengingat ia mencoba menjadi warga Negara yang taat.

.

.

.

'Sialan, kemana kau Park?!' Suga mengintip dari baik gerbang berkali-kali, mencoba mencari sosok penolongnya. Reporter semakin ganas ketika tak sengaja melihat dirinya yang ketahuan nyaris keluar gerbang. Untung saja dia masih berstatus hidup.

KRINGGGGG!

To : Yoongi-sunbae

From : Park Jimin

Sunbae! Apa kau bisa keluar lewat belakang rumahmu? Aku menunggu di taman dekat rumahmu.

Bagus. Suga melihat para reporter tak mengarah pada gerbang belakang rumah. Seokjin, ajaibnya muncul di saat yang tepat dan sejak kapan kakaknya itu memakai pakaian sepertinya? Tunggu, Seokjin pasti ingin membantunya! Meski tinggi mereka tidak sama, hell yeah satu-satunya hal yang tidak berubah dalam diri Suga adalah tinggi badannya. Selama tujuh tahun hanya bertambah dua senti. Suga juga rajin berolahraga, catat olah raga dalam artian berlari selama sepuluh menit dan terkapar secara menyedihkan. Bagus, reporter belum melihat wajahnya, Seokjin sudah memakai masker dan topi untuk mengelabui mereka. Suga mengangguk singkat, pertanda dia siap bertukar posisi. Seokjin berlari keluar gerbang diikuti teriakan heboh reporter yang meneriakkinya.

To : PJM

From : SG

Tunggu aku.

Suga berlari, untuk yang pertama kalinya sekuat tenaga tanpa memikirkan stock tenaganya. Ia berlari hingga matanya menemukan sosok Jimin tengah duduk manis di atas motor sport berwarna merah. Nafasnya tersengal-sengal dan membuat Jimin hampir saja tertawa geli. Suga melotot tajam, menerima uluran helm hitam dari Jimin dan menaikkan tubuhnya ke atas motor.

"Cepat, Park. Aku tidak mau lama-lama di sini." Suga mendesis lirih mendapat tawa kecil dari Jimin yang langsung tancap gas dan pergi dari sana. Sungguh. Kalau ini mimpi, Jimin rasanya enggan bangun. Suga juga tidak mengucapkan apapun karena dia malas mengobrol, begitu saja Jimin sudah senang. Setidaknya, Suga mau meminta bantuannya. Hei, jalan mu mendapatkan Suga masih panjang, Jim.

"Sunbae? Sunbae kangen aku tidak?"

"Cepatlah bangun, Jim. Berhenti bermimpi."

Jimin tersenyum.

"Sunbae sudah punya pacar? Siapa namanya?"

"Bukan urusanmu."

Hening lagi.

Suga terlampau malas membalas ucapan Jimin karena ya, tentu saja kebencian dalam hatinya masih ada dan akan terus ada sampai kapanpun. Tapi susah. Rasanya sangat susah apalagi melihat senyum Jimin yang bisa melelehkan hati beku siapapun. Suga munafik kalau bilang Jimin itu jelek. Orang setampan dia harusnya hidup lebih baik, tidak perlu melibatkan diri dengan dirinya yang notabene orang terkenal. Tunggu, kan kau sendiri yang meminta bantuan padanya, Suga.

"Suga-sunbae, boleh tidak aku PDKT denganmu?"

"Katakan sekali lagi, bocah. Maka ku antar kau ke Neraka."

Semakin galak semakin Jimin betah mengerjai Suga. Itu prinsip hidupnya. Pantang menyerah.

"Mau dong bulan madu bersama Suga-sunbae di Neraka."

"Kita mampir ke Psikiater, periksakan kejiwaanmu, Jim."

Percakapan itu terhenti ketika motor Jimin berhenti di depan gedung agensi. Sejin menghampirinya dengan tergopoh-gopoh, mengecek tubuh Suga takut-takut ada reporter yang melukainya. Setelah dirasa aman, Sejin mengucapkan terima kasih pada Jimin, tak lupa melayangkan tatapan curiga pada pria itu.

"Ini kekasih yang kau maksud, Suga?"

UHUK!

Suga tersedak salivanya sendiri dan menatap tajam manajernya. Jimin salah tingkah, mukanya perlahan memerah. Dia tidak menyangka diakui sebagai kekasih oleh Suga. Dalam mimpi saja tidak pernah.

"Aku tidak bilang begitu! Sejin-ssi, kita selesaikan ini di studioku nanti!" Suga melenggang dan menghentakkan kakinya seraya memasuki gedung. Kelihatan sekali dia kesal bukan main akibat ucapan Sejin. Tapi Sejin justru terheran. Dia sangat heran melihat tingkah laku Suga. Biasanya, jika ada yang membuat lelaki itu kesal maka ucapan kasar dan lemparan barang menjadi balasannya. Tapi ini? Dia malah melarikan diri dan terlihat malu.

"Aku juniornya semasa kuliah dulu."

Sejin menatap Jimin seksama. "Apa sejak dulu sikapnya begitu?" tanya nya.

Jimin menggeleng. "Dulu dia lebih tertutup dan tidak suka mengumpat. Mungkin ini ada sangkut pautnya denganku." Sahutnya setengah tertawa sedih.

"Siapa namamu?"

"Eh? Park Jimin. Kenapa?"

Sejin menepuk dahinya. Pantas saja! Dia masih ingat, tiga tahun yang lalu sebelum Suga direkrut agensi, Sejin memang pernah bertemu dengannya. Kalau tidak salah, Suga ngotot ingin diantarkan ke tukang tato untuk mengukir sebuah nama di bagian tubuhnya. Dan inisial nama itu adalah PJM ya Sejin ingat. Jadi itu adalah kepanjangan dari Park Jimin, ya?

"Ya ampun, bagaimana bisa Suga membencimu?" Sejin tertawa geli. Dia melangkah menjauhi Jimin sebelum Jimin berteriak,

"Manajer! Apa aku boleh PDKT dengan Suga?"

Sejin tak bisa menahan tawanya dan mengangguk. "Buat dia kembali menjadi Min Yoongi, kalau kau bisa, nak! Kau dapat restuku sebagai orang terdekatnya."

Lalu, bagaimana selanjutnya? Tidak. Semua belum berakhir. Ada satu kisah yang belum ku ceritakan pada kalian.

.

.

.

Satu tahun kemudian.

"Hei! Jangan dorong-dorong! Aku juga mau melihat wajah Suga!"

"Ya ampun dia manis sekali!"

"Benar, suaranya maskulin tapi wajahnya cantik dan menggemaskan!"

Benar. Satu tahun. Dua belas bulan. Suga mengakhiri masa pelarian dirinya dan mengungkap jati dirinya setelah Jimin menerornya. Lelaki itu tak berhenti mengganggunya, mencoba bersikap peduli dan rutin menanyakan kabarnya. Sialannya, Sejin ikut terlibat. Manajernya itu pengkhianat, bagaimana tidak? Sejin selalu mengabari Jimin mengenai jadwal Suga, memberi laporan kapan Suga rekaman atau bahkan ketika Suga sedang senggang dan tidak melakukan apapun. Satu tahun ya? Bang PD-nim sampai tak percaya saat Suga ingin mengadakan fanmeeting padahal sudah tak terhitung dia meminta hal itu secara khusus. Tebak apa? Fansnya semakin bertambah, dan para gadis begitu antusias menyambut lagu Suga. Mereka pikir, selama ini Suga memiliki cacat atau bekas luka yang tak bisa hilang di wajahnya. Tapi siapa sangka musisi jenius itu berwajah manis yang membuat Jimin diabetes.

Hubungan mereka? Rumit.

Sejin selalu mendengar Suga berteriak 'Pergi sialan!' atau 'Menjauh dariku, brengsek' dan dia tahu kalimat itu tak berasal dari hati Suga. Kenapa? Karena Sejin tidak sengaja menangkah basah Suga tengah berjalan sendirian ke café langganannya dan disambut Jimin yang tak berhenti tersenyum. Mereka duduk berhadapan dan mengobrol ringan, diiringi tangan nakal Jimin yang mengusap pipi Suga berkali-kali. Tanpa diberitahu pun Sejin tahu. Mereka tidak pernah mengaku ketika ditanya. Suga sendiri mementingkan karirnya dan Jimin bisa menerima hal itu. Kalau ditanya apakah mereka berpacaran maka jawaban yang akan kalian dapat adalah,

"Mana sudi aku pacaran dengan playboy sepertinya." Ini versi Suga.

"Tidak, kami ini cuman dekat saja, ya kan sunbae?" Ini versi Jimin sambil mengedip genit pada Suga.

Jadi kesimpulannya? Mereka bahagia. Keluarga Min? Seokjin sudah menerima permintaan maaf kedua orang tuanya dan tentu saja, Yoonji tapi Suga sudah kepalang sakit hati dan enggan membuka hatinya kembali. Namun Jimin ingin agar si musisi gula itu berhenti menjadi pendendam dan bagaimana Suga bisa menolak keinginan Jimin? Tidak. Jadi, Suga menerima kedatangan orang tuanya bersama Yoonji dan terjadi acara saling peluk yang mengharukan. Terlambat memang. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Ibu Suga juga bertanya kelangsungan hubungannya dengan Jimin. Dan Seokjin sebagaimana kakak, mengintrogasi Jimin dan terus memastikan kapan lelaki itu melamar adiknya.

Even though I hate you, I can't deny my feeling – Min Yoongi

From now on, please don't ever leave my side, Hyung – Park Jimin

Terkadang, ketika kau mencintai seseorang, maka kau harus siap menanggung rasa sakit yang diberikan. Tapi, bukan berarti kau harus menyerah. Bangkit dan lawan rasa sakit itu.

The End.

.

.

.


Note : Nah! Ini sequel yang saya janjikan. Duh maaf ya kalau endingnya gak sesuai ekspektasi. Saya sebenernya pengin ngebuat Suga dendam sampai mati sama Jimin, dan gak ada kata jadian cuman kok gak enak kan kesannya egois ya :") jadi saya otak-atik lagi dan dapet ending ini. Terinspirasi setelah denger lagu Awake - Jin dan kenak banget feelsnya. Hm, itu aja kali ya? Oke, sampai jumpa readers-tachi!

Regards,

Amanda Lactis