19 September 20XX
Suasana mendadak remang-remang. Suara sang pembawa berita terdengar mencicit seperti tikus yang ketakutan.
"Pemirsa, saya mendapat kabar dari salah seorang wartawan bahwa gunung merah kembali memuntahkan cairan panas, atau yang biasa disebut dengan lava. Akibatnya, semua pengunjung di sana tewas dengan keadaan mengenaskan."
Sunyi. Sang rembulan malam mulai menduduki singgasananya.
Chapter 3 : Pintu
Disclaimer : Vocaloid bukan milik Yuki
Warning : typo, tidak sesuai EYD.
Summary :
kertas yang kosong mulai di isi. Tulisan-tulisan yang telah terukir dengan tinta sudah tidak dapat dihapus. Karena itu, bisakah kau menebak apa yang salah?
21 September 20XX
Rintik-rintik hujan masih beradu dengan atap. Suhu udara menurun secara perlahan. Aku menghembuskan napas dengan keras. Udara putih mengepul dari mulutku. Tanganku membenarkan syal di leher. Ah... ruangan kos ini semakin lama terasa seperti kutub, dan aku beruang kutubnya yang sekarat karena kedinginan. Bercanda. Aku tidak segendut beruang itu, hanya perumpamaan.
Ngomong-omong, teman satu kosku itu belum sampai juga di sini. Padahal ia sudah berjanji bakal pulang hari ini dari perjalanannya dari gunung merah lima hari yang lalu. Puh. Tetapi, mana anak itu? Lama sekali... Padahal pagi-pagi seperti ini bagus untuk olahraga. Tetapi malah hujan. Membosankan.
Aku mengaduk secangkir kopi di atas meja. Wangi semerbak khas kopi langsung memenuhi rongga paru-paru. Kalau boleh jujur, aku lebih suka wangi kopinya daripada cairan kopinya. Tetapi, kalau teman satu kosku itu tahu aku tidak menghabiskan kopi yang telah kuseduh, maka bersiap-siaplah dibantai habis-habisan olehnya. Dia sangat menghargai makanan dan minuman. Sampai-sampai ia tidak akan memaafkan orang yang menyia-nyiakan makanan.
Teman satu kosku itu sangat suka mendaki. Entah sudah berapa kali ia meninggalkanku sendiri di dalam ruangan kos yang suram ini hanya untuk pergi mendaki. Benar-benar pendaki sejati.
TOK! TOK! TOK!
Sebuah ketukan pintu yang berirama terdengar dari pintu depan. Sudut mataku hanya memandangnya malas. "Siapa?"
"Aku Iroha! Ayo cepat buka pintunya, Akiko! Bukalah sebelum aku akan menghancurkan pintu ini!"
Wah, sepertinya teman satu kosku itu sudah pulang dari perjalanan panjangnya.
Aku melipat tangan di depan dada. "Oh, benarkah? Tolong hancurkan pintu itu, Iroha."
"Ayolah! Buka pintunyaa! Aku kehujanan, nih..." nada suaranya terdengar gemas.
"Lalu?" Aku menimpali. Iroha mendengus pelan. Mulutnya bergerutu. Baiklah, sepertinya sudah cukup menggodanya.
CKLEK!
"Cepat, keringkan badanmu. Jangan sampai kau mengotori lantai yang sudah kubersihkan ini."
Iroha memandangku dengan wajah kusut. "Oke, oke."
"Makanya, jangan sering membuat orang lain menunggu." Bibirku tersenyum menahan tawa. Iroha mendelik kearahku.
