ansatsu kyoushitsu © yuusei matsui, no profit gained, no copyright law infringement intended

.

.

.

day 3

something she would do with her friends.

.

.

.

Sudah berapa lama sejak terakhir kali Rio menjejakkan kaki di Bandara Narita? Mungkin sekitar satu, atau satu setengah tahun yang lalu. Ia menarik napas, membiarkan paru-parunya terisi oleh udara yang tercampur dengan wangi parfum dari perempuan Kaukasia yang duduk di sampingnya, aroma kopi yang dibawa oleh anak muda di belakangnya, dan pewangi lantai yang wanginya samar-samar. Paduan aroma yang cukup membingungkan, kalau boleh jujur, namun Rio menyukai sensasinya. Meskipun parfum, pewangi lantai, dan kopi bisa ia temukan di berbagai tempat, kenyataan bahwa udara yang melingkupi dirinya sekarang adalah udara Jepang merupakan sesuatu yang cukup untuk membuatnya bahagia. Bahagia telah pulang, kembali dalam lingkungan familiar yang menjadi bagian dari sebagian besar waktu kehidupannya.

Rio melirik jam tangannya. Pesawatnya datang tepat waktu, namun orang yang akan menjemputnya berkata bahwa ia akan terlambat. Tidak apa-apa, toh Rio tidak keberatan duduk di sofa dan menunggu, sambil mengamati orang-orang yang hilir mudik atau membaca buku yang dibawanya dari London. Perempuan yang duduk di sebelahnya tampak tertarik dengan buku yang Rio baca—mungkin karena buku tersebut berbahasa Inggris dan merupakan sastra lama yang bahasanya cukup sulit—sehingga ia akhirnya memutuskan untuk menyapa Rio. Rio menjawab sapaan tersebut dengan riang, menjelaskan bahwa ia adalah orang Jepang asli yang kebetulan sedang studi di luar negeri. Pembicaraan tersebut berlanjut dengan topik yang bermacam-macam—perempuan tersebut ternyata berasal dari Amerika dan mengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus, dan hari ini ia akan menjemput kakaknya yang datang untuk menengok. Ia menceritakan pengalamannya yang menarik selama tinggal di Jepang, dan ia juga bercerita tentang bagaimana kehidupannya di Amerika. Rio mengikuti pembicaraan ini dengan antusias, berharap bahwa suatu hari nanti ia bisa bepergian ke Amerika juga.

Tanpa terasa, lima belas menit berlalu begitu saja hanya dengan mengobrol. Perempuan tersebut mengecek jam, lalu memutuskan untuk berpamitan karena kakaknya sudah datang. Rio menjabat tangannya dan berjanji suatu saat ia akan mengunjungi lembaga kursus tempatnya mengajar atau rumahnya di Amerika. Hari ini pun, ia dapat teman baru lagi.

Tidak lama setelah perempuan tersebut berlalu, Rio merasakan sebuah jari mencolek pundaknya dari belakang. Ia menoleh, dan matanya seketika berbinar melihat sang pemilik jari.

"Kirara-chan~! Aaa, lama tak jumpa, aku kangen!"

Kirara hanya tersenyum tipis begitu Rio melompat dari sofanya hanya untuk memberikan sebuah pelukan erat.

"Kirara-chan, rambutmu makin cantik, lho!" komentar Rio sambil melepaskan pelukannya.

"Terima kasih," gumam Kirara, tampak bingung harus merespon pujian Rio barusan dengan apa. "Tapi biasanya, kalau sudah lama tidak berjumpa, tanya kabar diri dulu, bukan kabar rambut."

Rio tertawa. Meskipun Kirara mengatakannya dengan intonasi datar, Rio bisa menebak kalau kalimat Kirara barusan itu setengah bercanda. "Baiklah, baiklah. Apa kabar, Kirara-chan!"

"Kalau tidak baik, tentu saja aku tidak akan datang untuk menjemputmu di sini," jawab Kirara, membuat Rio tertawa. "Kau sendiri terlihat baik, ya. Tampaknya lebih bersinar."

"Sayangnya aku bukan lampu senter, Kirara-chan," ujar Rio jahil. "Jadi, mau sampai kapan kita membuang waktu di sini? Ayo kita pergi!"

"Sabar, sabar, pesta reuninya tidak akan ke mana-mana. Sini, aku bantu bawa kopernya." Tangan Kirara meraih gagang koper Rio, kemudian dengan satu isyarat lirikan mata, Kirara mulai melangkah menuju pintu keluar. Rio berjalan menyebelahinya, dengan langkah-langkah yang ceria, setengah melompat-lompat.

"Kau yakin tidak akan pulang ke rumah dulu, Rio?" tanya Kirara begitu mereka melewati pintu keluar. "Betulan mau langsung ke tempat reuni?"

"Tidak apa-apa, kok! Aku sudah bicara dengan orangtuaku, dan mereka mengizinkanku untuk datang ke pestanya sebelum pulang ke rumah." Rio menggelengkan kepalanya mantap. "Hei, hei, siapa saja yang datang ke reuni ini? Kirara-chan mengurus RSVP, kan, pasti tahu!"

"Semuanya bilang akan datang, tapi Nagisa menyusul, ia masih ada jadwal mengajar tambahan," jelas Kirara. "Ah, tapi Karma masih meragukan. Dia bilang sih akan datang, tapi tergantung bosnya, ya doakan saja ia bisa sukses pura-pura sakit perut sehingga bosnya bisa mengizinkan ia pergi. Isogai datang paling pagi, membantu dekorasi dan makanan … oh, dan kau harus coba resep baru ramennya Muramatsu."

"Wah! Enak?"

"Enak sekali, dijamin di London tidak ada yang seperti itu."

"Ah, aku jadi lapar …" gumam Rio sambil menggembungkan pipinya. "Lalu, lalu? Ceritakan yang lainnya lagi, Kirara-chan!"

.

.

.

Reuni 3-E Kunugigaoka Academy

Saturday, 15 August 20xx – at our beloved classroom

Dress Code: Be Yourself!

RSVP Hazama Kirara 090-0001-xxxx / thedarkempress -at- yahud. co. jp