Pasangan (Jadi) Jadian

Judul : Pasangan (Jadi) Jadian Part 3

Genre : Romance, Comedy

Rate : M

Casts : KaiHun, TaoHun, KaiStal

ETC. CAST LAIN MENYUSUL SESUAI KEBUTUHAN CERITA

Warning : GS FOR SOME CHARACTER , typo(s), crack!pair, jangan lihat hanya dari pairnya saja.

STORY DON'T BELONG TO ME

REMAKE DARI NOVEL LUSI WULAN DENGAN JUDUL YANG SAMA

Dibuat dingin, pagi-pagi

Memang nggak gampang "menyelundupkan" cowok di rumah, apalagi dalam hitungan bulan. Antipasi beberapa titik yang memiliki potensi bikin runyam karena salah paham telah dilakukan. Misalnya nih, mewanti-wanti keluarga Sehun dan teman-teman untuk tidak datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sehun berdalih kalau sekarang ia jarang di rumah, banyak kerjaan, banyak urusan,dsb. Dan dia jadi lebih sering setor muka ke rumah orangtuanya, jadi mereka nggak perlu datang ke rumahnya. Mereka sih heran karena Sehun jadi mendadak perhatian gini, namun Sehun berlagak merasa nggak ada yang berbeda. Sok nggak sensitif!

Lantaran mereka semua hidup di alam, maka berlakulah hukum alam, salah satunya adalah manusia boleh berencana, tetap Tuhan-lah yang menentukan. Jadi, selalu ada satu-dua hal meleset di luar rencana. Pasangan yang pakai kontrasepsi aja bisa kebobolan, apabila yang bukan pasangan. Lho, kok gini analoginya?! Maksudnya, meski kita melakukan tindakan preventif, kadang tetap kecolongan juga.

"Annyeong…." Sehun melambaikan tangan lunglai, selunglai badannya, melepas kepergian Xiumin di halaman rumah.

Pagi ini mereka janjian untuk jogging bareng, tapi berhubungan gerimis, mereka sepakat membatalkannya. Xiumin mengajaknya ke PAO gym, tempat gym yang lagi ngehits di Seoul sebagai alternatif olahraga pagi itu.

"Ke Tao? Ngapain pagi-pagi ke tempat Tao?!" Sehun telmi*, otaknya masih beku kena hawa pagi.

"Dudul! PAO, pi, ei, o!" Xiumin mengeja huruf p, a, dan o dengan perhafalan bahasa Inggris.

Sehun menolak ikut. Buaian udara dingin diiringi rintik air hujan menghanyutkan Sehun untuk ogah bergerak ke mana-mana. Hanya ada satu keinginan di benaknya:tidur di balik selimut, aah...

Balik ke dalam rumah, Sehun baru menyadari bahwa Kai tidur di sofa.

" Ya ampun, posenya jelek amat sih," gumam Sehun iseng sembari menyeret langkah ke kamar.

*telmi = telat mikir

Sehun sempat terlelap sampai suara berisik di halaman sedikit membangunkan. Sedikit, masih kalah sama buaian dua alam yang sedang indah-indahnya, alam semesta dan alam mimpi. Dan barulah suara ketiga yang mampu merenggut paksa Sehun untuk tersadar dan terbangun.

Bukan hanya melek, tapi mendelik. Karena pertama, suara itu berupa lengkingan.

Kedua, lengkingan itu keluar dari pita suara mamanya.

Ketiga, mamanya melengking di... ruang tengah!

HUNIIIEEEE! Kai gerapan terbangun, liar biasa kaget. Remote control jatuh ke lantai. Selimutnya melorot. Ia sampai tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot. Sehun menghambur keluar.

"MAMA! Kok bisa masuk?!"

Hanya mamanya dan beberapa tetua keluarga Sehun yang menyebut nama panggilannya dengan penekanan "i" di belakang, sepertinya kalau si "i" itu tidak ikut terucap, maka akan menjadi semacam ganjalan di tenggorokan mereka yang berpotensi kian buruk dengan menjelma jadi semacam gondong.

"Pintunya nggak dikunci, udah Mama ketok-ketok sampai jari bengkak!" jawab Chanyeol kemudian nggak mengunci kembali pintu tadi.

"Ini siapa, Hunie?!"

"Biasa aja dong Ma suaranya...," celetuk Sehun lirih.

"Gimana mau biasa, pagi-pagi ada laki-laki tidur di rumah anak perempuanku!"

"Anu, Ahjumma..." Kai bingung mau berkata apa. Blank. Blocking.

Sehun segera menyahut. " Ini Kai. Emm... Saudaranya Xiumin..."

Mata Sehun dan Kai bertemu. Oke, terserah, kupasrahkan hidupku padamu, Hun. Kata Kai dalam hati.

"Kok ada di sini?"Selidik Chanyeol, matanya masih belum bisa mengecil.

"Mm... keluarganya Xiumin lagi ada kumpul keluarga besar empat generasi. Terus... Itu... Rumahnya nggak muat untuk mereka bermalam."

Kai memandang Sehun tak berkedip. Takjub temannya itu bisa merimprovisasi cerita bak pendongeng. Kumpul keluarga empat generasi? Ide brilian!

"Emang nggak diinapin di hotel?" Chanyeol yang tahu kondisi Xiumin termasuk dalam kategori kaya. Sambil mencoba mencari jawaban yang masuk akal sekaligus menenangkan diri,

Sehun beranjak ke pantry membuat minuman. " Sebagian. Kai datang bermalaman, terus numpang di sini bareng Xiumin, cuma tadi Xiumin ke gym. Kopi atau teh, Ma?"

"Kopi, pake krimer." Sekali lagi Chanyeol melirik Kai.

Segera Kai melemparkan senyum, kaku, kemudian segera membereskan sofa supaya si Mama bisa duduk. Tapi beliau memilih duduk di bangku pantry. Kai permisi ke belakang.

"Ada apa pagi-pagi kemari, Ma?"

"Mama ada jadwal syuting di jalan dekat sini, tapi diundur, nunggu hujan berhenti. Jadi daripada bengong di sana, Mama mampir kemari."

"Joy mana?" Joy adalah asisten mamanya.

"Stand by disana. Adegan Mama sih dikit, tapi soal molor dan ditunda begini yang bisa bikin seharian."

Setahun terkhir ini Chanyeol, mama Sehun menjadi pemain serial k-drama. Sebelumnya, ia ibu rumah tangga dan desainer tas tangan. Sebelumnya lagi, maksudnya semasa masih lajang, beliau bekerja menjadi desainer tas tangan untuk satu merek terkenal di Indonesia kala itu. Tapi semenjak menikah dan memiliki anak, ia berhenti bekerja lalu hanya mendesain dan membuat untuk perorangan. Karena bersifat eksklusif, tentu harga yang dipatok juga eksklusif.

Lantas ibunya nyasar ke dunia serial k-drama karena diajak oleh pelanggannya, seorang produser yang lantas menjadi teman baik. Peran pertamanya sih cuma figuran. "Mereka butuh pemain ahjumma yang karakter wajahnya elegan, glamor, tapi nggak arogan," itu kata Chanyeol. Percaya deh, Ma!

Nah, semenjak merambah dunia baru, meskipun nggak pernah menjadi pemeran utama_nggak ada tempat luas untuk tokoh tua di sinetron, kan?_ beliau tidak lagi mendesain tas.

Chanyeol kemudian ke kamar kecil. Buru-buru Sehun menuju kamar Kai. Di pojok belakang, ia melihat jemuran pakaian Kai. Wah, bahaya! Disambarnya semua jemuran dan di bawa ke kamar Kai.

"Nih, jemurannya disembunyiin dulu. Basah lagi, kena hujan. Eh, sandal dan sepatumu, umpetin dulu," intruksi Sehun kepada Kai dengan suara berbisik.

"Kai, kamu taruh apa aja di kamar mandi?" tanya Sehun kepada Kai. Kai menggeleng pertanda dia engga nyimpen barangnya di kamar mandi.

Sehun mengembuskan napas lega. "Sampai jam berapa mamamu di sini, Hun?" suara Kai ikut berbisik. "Sampai dia dipanggil ke lokasi, dan itu nggak tahu jam berapa. Yang jelas aku telepon Xiumin dulu. Kamu mendingan ngacir hari ini."

Kai mengangguk, "Sorry Hun, jadi kucing-kucingan gini."

Sehun mengibaskan tangan. "Masih mending, daripada anjing-anjingan."

Kai nyengir mendengar jawaban iseng Sehun.

"Hunieee..." suara Chanyeol keras memanggil. Jantung Sehun kembali dag-dig-dug. Ia bergegad keluar kamar.

Bersamaan dengan Sehun menutup pintu kamar dari luar, mamanya nongol.

"Lagi ngapain?"

"Eengg... angkat jemuran. Yuk, ke depan aja, Ma." Sehun menarik tangan mamanya menjauhi kamar Kai.

"Serial apa sih, Ma? Berapa episode? Pemeran utamanya siapa?" Sehun menghujani mamanya pertanyaan dengan maksud membelokkan perhatian mamanya.

"Biasanya strategi itu selalu berhasil. Mamanya menggebu-gebu bercerita tentang drama tv yang dibintanginya. Bukan. Chanyeol nggak pernah jadi bintang di sinetron-sinetron. Yang benar itu cuma main aja!


Sejam kemudian, di kamar

Xiumin cekikikan sementara Sehun terkapar telentang di atas kasur,

"Untung banget Mama keburu di telepon suruh balik. Kamunya nggak datang-datang, huh!"

Xiumin menyeringai, "Iyalah, ada cowok cakep di gym. Bodinya mengagumkan." "Kenalan?" tebak Sehun

Xiumin mengangguk dengan mata mengerjap-ngerjap.

Sehun menggoda Xiumin, "Bagusan mana sama bodynya Luhan?"

"Ih.. apaan sih…. ya tetep bagusan Luhan lah." Xiumin menyikut Sehun ringan. Sehun terkekeh geli dengan jawaban Xiumin.

"Mana Kai sekarang?" tanya Xiumin, melepas jaket dan ikut rebahan.

"Ada, dia tadi mau cabut, eh Mama ditelepon..., ya udah nggak jadi. Tahu nggak, saking ingin menghindari perhatian Mama, Kai jalannya berjingkat-jingkat dan di kamar mandi itu nggak kedengaran suara air. Cuci muka doang kali."

"Jangan-jangan mo kentut aja ditahan," celetuk Xiumin. Keduanya nyengir.

"Jadi..." Xiumin menyenggol lengan Sehun " Udah bisa berbagi ruang nih?"

"Ih, bukan berarti yee!" Sehun langsung bangun dari rebahannya.

"Nggak! Well, memang sih ada enaknya juga, tapi jauh lebih enak tinggal sendiri. Bebaaass..."

"Meski yang serumah denganmu itu aku?" Xiumin mendadak pose sok imut.

"Uuh.. Apalagi kamu! Kamu kan malas mandi, menjijikkan!" Sumpah, meskipun Xiumin termasuk orang yang paling rajin bersih-bersih rumah dan seisinya, tapi soal mandi.. hmm… magernya bukan main!.

"Sialan." Xiumin melempar bantal ke Sehun. "Eh omong-omong soal menjijikkan..." Priyayi memelankan suaranya.

"Kemarin di kamar mandi, itunya Kai ketinggalan."

"Itunya?" Xiumin ikut bangun." Apanya?"

"Itu...celana dalamnya." Kali ini suara Sehun berbisik. Xiumin menyeringai.

"Di depannya ada tulisan Buddy. Padahal dia kan sering ku panggil Buddy..." Sehun geleng-geleng kepala. Xiumin ngakak keras.

"Sempat-sempatnya baca tulisannya. Kamu pegang-pegang, ya?" ejek Xiumin.

Sehun bergidik." Ih, amit-amit. Yang belum dipakai aja ogah megang, apalagi yang udah di pakai... Hiih..."

"Hahaha... Kok tahu yang itu udah dipakai?" pancing Xiumin tertawa lebar.

Muka Sehun memerah. Bukannya menjawab, Sehun memukul Xiumin dengan guling,

"Ukurannya apa? L atau XL? Huahahaha..." Xiumin makin terpingkal.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar.

"Aku buat nasi goreng omelet!" seru Kai. "Let's have breakfast, buddies!"

Sehun dan Xiumin kompak tergelak keras.


Belakang meja kerja, tengah hari

"Hun, ayo makan siang sama-sama." ajak kakek Sehun. Hari ini beliau datang ke kantor untuk meeting dengan divisi keuangan.

Sehun yang berkonsentrasi pada setumpuk lembaran, mendongakkan kepala." Aduh jeosonghamnida. Aku udah bikin janji ama teman."

"Ya sudah, aku langsung pulang saja kalau begitu." "

Oke. Hati-hati ya, salam buat orang-orang rumah," sahut Sehun.

Sang kakek tinggal bersama orangtua Sehun. Istrinya alias nenek Sehun sudah wafat empat tahun silam. Kakek Sehun ini adalah ayah dari Baba Sehun, seorang keturunan China-Korea. Belasan tahun beliau abdikan sebagai aparat pemerintahan khusus bidang olahraga dan kepemudaan. Sekitar tiga tahun menjelang pensiun, beliau mendirikan Area Olahraga ini. Dulu fasilitas pertama yang dibangun adalah kolam renang dan lapangan basket_masing-masing dilengkapi peralatan_dan kantin untuk pengunjung. Sehun bergabung saat menginjak akhir tahun kedua di bangku kuliah. Mama-babanya semula nggak setuju, takut kuliahnya terganggu, tapi dia berkeras membuktikan kalau dia sanggup. Sebenarnya dia hanya ikut teman-temannya untuk mengisi libur panjang tengah tahun dengan bekerja lepas. Banyak teman ceweknya menjadi sales promotion girl (SPG) atau model. Nah, dia berpikir daripada ikut-ikut mereka, mending "bantu-bantu" di tempat kakeknya, toh ke depannya dia juga akan berkarier di sana.

Sehun banyak memberi ide segar. Sekarang sudah ada jogging track dan kantin berubah menjadi kafeteria dengan konsep yang lebih bagus. Lebih cozy, lebih gaul. Selain itu ditambah juga alat permainan untuk anak-anak macam perosotan, ayunan, dan balok-balok. Misinya untuk melatih anak menggerkan otot tubuh mereka sejak dini. Selain itu, ia juga melemparkan ide untuk menerapkan sistem tiket masuk dihitung per jam dan menawarkan paket hemat untuk keluarga atau rombongan atau pada hati tertentu. Nggak terasa jarum jam bergerak di angka 12 dan 6. Alias setengah satu.

Sehun hendak menelepon Tao, ternyata ponselnya sudah berbunyi lebih dulu.

Tao calling.

"Hun, sori, baru bisa menelepon sekarang. Masih meeting nih, kayaknya bakalan lama, jadi nggak bisa makan siang bareng. I'm sorry."

Sehun mendesah, sebal. Kenapa nggak dari tadi telepon. Kalau begini, teman-teman kantor pada cabut, mana lagi nggak bawa mobil pula! Ujung-ujungnya makan di kafeteria... Uugh... Padahal lagi ogah makan di sana! "Hun..."

"Hmm... Ya udah, mau kujawab apa lagi," jawab Sehun pasrah. "Tao, tapi nanti pulang bisa jemput aku, kan?"

"Hm... Sebenarnya... Aku ada janji dengan klien jam lima, nggak tahu sampai jam berapa..."

Sehun cemberut berat." udah dua minggu lebih kayak begini, kamu benar-benar nggak ada waktu." suara Sehun merajuk.

"Yayi... Aku kan udah bilang..." suara Sehun berbisik, takut ada yang mendengar.

"Ya, ya, ya!" Sehun dengan gemas mematikan ponsel. Jidatnya berkerut-kerut,bibirnya maju-mundur-maju. Kesebalannya berlipat ganda. Kali ini nada SMS masuk. Dari Tao.

Sekali lagi maafkan. Demi order besar. Janji setelah ini, aku akan ganti semua. Xoxo

Sehun mengabaikan SMS yang baru dibacanya itu. Tao memang sudah bercerita sedang menangani klien yang membeli dua unit penthouse sekaligus. Fasilitas yang ditawarkan dari pihak manajemen adalah memberi pelayanan menyeluruh, mulai dari konsultasi hingga menyediakan semua detail interior yang telah dipilih. Dan ini adalah bagian tugas Tao sebagai marketing executive. Sehun semula ikut antusias. Kekasih hati dapat order gede, komisi pastilah bakalan gede, dia juga pasti kecipratan. Tapi kemudian antusiasnya menyurut kala tahu siapa yang menjadi klien besar itu. Nada SMS masuk. Masih dari Tao.

Selama jadwal penuh, mobil jangan sering dipinjamkan temanmu itu, bikin repot sendiri. Talk 2U soon xoxo .

Sehun mendengus. Yang dimaksud "temanmu" adalah Kai. Dia mau membalas SMS Tao bahwa Kai tetap mengantar jemput kalau di minta, namun di urungkan. Malas berseteru lewat SMS, nggak seru. Lho, kok nggak seru?! Lebih enak berhadapan langsung, lebih jelas apa maunya. Jelas-jelas langsung mau dihabisi, hehe.


Dalam mobil pinjaman, interogasi

Ups. Kai menepuk jidat, hampir aja lupa belum titipan Sehun. Dalam perjalanan pulang dengan mobil Sehun karena motornya lagi dipinjem Johnny, sobat kentalnya, Kai menerima SMS dari di empunya mobil untuk mampir ke minimarket dalam perjalanan pulang. Siap, Bos, laksanakan!. Drrrt... Ponsel Kai bergetar dalam saku celana.

My Krystal calling.

"Oppa, lagi di mana?"

"Di minimarket. Kamu di mana?" jawab Kai sambil celingak celinguk liat isi rak minimarket.

"Masih di kampus. Dari sana, langsung jemput aku ya. Nanti sekalian makan malam ya, aku pengin bulgogi nih. Oya, nggak usah bawa helm, aku udah bawa." Krystal, pacar Kai, mengira Kai membawa motor.

Kai menimbang sejenak. Sehun, ak pakai mobilnya lagi nggak, ya? Ah, mungkin nanti bisa membujuk Krystal untuk langsung pulang. "Ehm... Nde. Tapi agak lama, soalnya putar balik."

"Oke, kutunggu. Gomawo oppa." Ketika Kai sampai di depan kampus, Krystal sudah berdiri di sana, celingukan tidak menyadari mobil yang di depan mata disopiri oleh Kai.

Tin, tin. Kai mengklakson lalu membuka pintu mobil. "Hai, Krys, ayo!"

Krystal mengerutkan kening. "Ini mobilnya temanmu, kan?" tanya Krystal saat mobil mulai jalan. Kai mengangguk.

"Motorku dipinjam untuk survei ke daerah beberapa hari."

"Siapa namanya?" tanya Krystal

"Yang pinjam motor?" ujar Kai yang malah balik nanya

"Bukan, yang punya mobil ini."

"Oh..., ehm..., HunHun. Sehun."

"Ah, ya. Aku jadi inget wajahnya." Krystal pernah bertemu dengan Sehun sekali di pesta ulang tahun teman Kai dan Sehun. Krystal masih inget.

Di sana. Kai, Sehun, dan dua teman berkasak-kusuk tentang kado kejutan yang mereka rencanakan. Krystal lumayan merasa terabaikan waktu itu.

Kai melirik Krystal, mencoba membaca gelagat. "Hanya dia yang kendaraanya fleksibel, yang lain sama sekali nggak bisa. Rumah yang kutumpangi sekarang jauh dari sekolah, takut telat kalau naik bus. Maklum, tiap hari dapat jatah ngajar jam pertama." Kai bertutur panjang...

Mencegah munculnya kecurigaan dari Krystal. Oya, dia hanya memberitahu kalau dirinya tinggal sementara di rumah teman. Dan pacarnya nggak repot-repot menari detail siapa teman itu. Thank god. Asumsi Krystal bahwa si teman itu pastilah seorang cowok.

Krystal hanya manggut-manggut sambil iseng menoleh ke belakang. Ada tas plastik transparan tipis banget, mungkin tas plastik ekonomis keluaran minimarket, kelihatan jelas berisi roti tawar dan... Apa itu? Krystal menyipitkan mata menajamkan pandangan. Itu kayak... "Pembalut? Tadi kamu beli pembalut wanita di minimarket?" tanya Krystal heran.

Kai menelan ludah. Ia mengangguk. "Buat... Itu...eee... Istrinya teman, tempatnya aku nyewa kamar sementara itu, tadi SMS nitip beliin itu.

" Ooo... Mereka suami-istri...! Kirain masih single."

"Waduh, aku jadi makin ngelantur" ujar Kai dalam hati. Ia melajukan mobil secepat mungkin dan menolak makan malam dengan dalih si " istri" membutuhkan pembalut tersebut segera.

Sampai di depan rumahnya, Krystal mengucapkan terima kasih, dan... Masih belum selesai. "Oppa, ajak aku dong ke rumah temanmu itu. Sekadar silaturahmi, gitu."

Waduh...! Kai bingung harus ngeles apalagi supaya Krystal gak curiga.


Sudut restoran, dalam penantian

Malam ini Sehun mengajak Tao makan malam romantis. Setelah yang kemarin-kemarin mereka sulit keluar bareng, akhirnya malam ini mereka ketemu juga jadwalnya. Sejam sudah Sehun duduk di sudut restoran. Hanya memesan ice lemon tea, memandang keluar jendela, mengirim SMS, melepon Tao, Nggak tersambung juga sampai sejam berikutnya.

Dia memutuskan untuk mengakhiri penantian. Dicarinya nama dalam daftar phonebook ponselnya. Kai. "Kai, bisa jemput aku sekarang?"

Kai bingung. "Tao nggak bisa nganterin?"

"Boro-boro nganterin, datang aja enggak."

"Dinner-nya nggak jadi?"

"Nggak ada dinner-dinner-an. Bener-bener nyebelin, nggak ada kabar sama sekali. Tahu nggak sanggup, asal ya-ya aja..." suara Sehun bergetar menahan marah.

"Aku kecewa banget. Aku cuma minta waktu sebentar untuk membagi perasaan senang, bukan berita buruk, kenapa dia masih enggan juga sih!" ucapan Sehun mulai diselingi isakan.

"Oke, aku berangkat sekarang," sela Kai sebelum Sehun menangis keras.

Kai sudah hafal kalau Sehun ingin menangis keras, maka nggak peduli seramai apa pun disekelilingnya dan malu apa pun efek sehabis nangis dilihatin orang-orang, dia pasti tetap menangis keras saat itu juga.

"Thanks."

"Uljima, oke?" Kai berusaha menenangkan sahabatnya itu.

"Iya!" Ketika Sehun menuju pintu keluar restoran dengan langkah lunglai dan wajah super kesal, seorang greeter cowok menyodorkannya sekuntum bunga mawar.

"Anda secantik mawar ini. Saya menunggu kedatangan anda berikutnya."

"Yeah, I will. You're so sweet. Makasih, Anda membuat hati saya senang." Sehun membalas senyuman hangat si greeter.


Agak lama Kai baru datang. Di jok sebelah kemudi, Sehun diam membuang pandangan ke luar jendela mobil. Dia menonaktifkan ponselnya sebagai wujud rasa jengkelnya terhadap Tao. Tahu-tahu mobil sudah berhenti. Tapi... Ini bukan depan rumah.

"Ngapain ke sini?" tanya Sehun heran. Mereka ada di parkiran depan Area Olahraga dan bermain.

"Untung ada yang berenang sampai malam, jadi belum tutup," ujar Kai nggak menjawab pertanyaan Sehun.

"Kok tahu?" Lagi-lagi Kai nggak menjawab dan bergegas mengeluarkan perbekalan lengkap dengan terpal alas duduk. Sehun terheran-heran mengikuti cowok itu. Kai lalu menghampiri gardu operator untuk menyalakan lampu sorot lapangan basket, lantas menggelar alas di lapangan basket.

"Ayo, makan," ajak Kai duduk bersila dan membongkar kotak makanan.

Sehun tercengang. "Astaga... Kamu..." Kai menarik tangan Sehun untuk ikut duduk. Diberikannya jaket Sehun yang ia bawa dari rumah.

"Sori, tadi masuk kamarmu untuk ambil jaket, soalnya kamu pasti kedinginan. Bentar lagi kan musim gugur" Dengan lahap Kai makan ramen seafood. Sehun ikut makan juga dengan mata tak lepas dari Kai, masih terheran-heran.

"Nggak ada bintang di langit, kamu ngelihatin aku melulu," gurau Kai. Sehun berlagak tersedak dan mencibir.

"Kalau sesuai rencanamu, besok lapangan basket ini mulai dirombak, dilengkapi dengan bangku penonton, papan skor digital, dan akan ada street competition yang aku yakin bakal jadi event tahunan yang digemari. Jadi, malam ini kamu mengingat lapangan ini untuk terakhir kali. Besok akan kadi lapangan baru dengan temanku Sehun sebagai project officer. Proyek pertama dan harus sukses!" tutur Kai panjang lebar.

Napasnya hanya sekali tarik. Hebat. Sehun merasa terharu, ini yang tadi hendak dibagi kepada Tao. Bahwa kakeknya memberinya wewenang pertama kali sebagai project officer, bukan hanya konseptor seperti yang sudah-sudah. Ini hal yang berarti bagi Sehun.

"Aku tahu setiap malam kamu berkutat mengerjakan ini, bikin lay out, budget, materi, proposal, bolak-balik diubah sampai bikin kamu naik darah..." imbuh Kai.

Sehun nyengir, ingat saat kakeknya mematahkan teori dan hitungan yang dikerjakan berminggu-minggu dengan sekali kedip, semangatnya pun langsung anjlok. Walhasil, di rumah sikap Sehun nggak ada baik-baiknya sama sekali. Orang yang nggak punya andil apa-apa ikut terkena nggak enaknya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kai. Waktu itu Kai serasa mengalami horror nights yang entah sampai kapan. Makanya, malam ini dia berbaik hati bikin beginian untuk Sehun sebagai wujud rasa syukur penderitaan telah berakhir, hehe. -

"Jadi, Hun, kamu nggak patut sedih malam ini, kerja kerasmu sudah dihargai setimpal, oke?" Kai menepuk bahu Sehun.

Sehun mengembangkan senyum. Dia nggak nyangka penghargaan Kai setinggi ini. Sehun menghela napas dalam-dalam. Kenapa bukan Tao yang mengatakan ini? Kenapa bukan dia yang memberi sekuntum mawar? Kenapa harus orang lain yang membuatku merasa dihargai?.


Aahh... Depan rumah, penantian

"Hun, lihat." Lamunan Sehun buyar dalam perjalanan pulang dan mengikuti pandangan Kai. Tao berdiri bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan rumah Sehun.

"Kamu keluar saja, biar kumasukkan mobilmu," cetus Kai.

Dengan amat enggan Sehun keluar dari mobil, melangkah mendekati Tao. Ada beberapa putung rokok teronggok di dekat sepatunya, dan di jemarinya sekarang terselip rokok. Mereka tidak langsung bicara. Tao melepaskan tatapan tajamnya dari Kai sampai menghilang ke dalam rumah.

"Aku nggak bisa menghubungi HP-mu," kata Kai ketus.

"Aku biarin menyala selama dua jam di restoran dan aku nggak menerima telepon atau SMS-mu. Apa nggak ada sinyal ya di sana?" sindir Sehun dengan nada dingin.

"Kamu matikan HP-mu selama bersama temanmu itu, agar kalian nggak terganggu dengan teleponku, hah? Aku udah nunggu sejam disini, di jalan." Nada Tao meninggi.

"Keterlaluan kamu, Tao, kenapa kamu yang nyalahin aku" desis Sehun. " Kamu yang ingkar janji, kamu nggak ada kabar sama sekali, kamu yang menelantarkan aku kayak orang bego! Kamu selalu minta dimaklumi, kamu yang seenaknya!" Sehun lepas kontrol, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kamu, Tao?" suara Sehun berubah lirih. Matanya menatap mata Tao. "Kamu dulu nggak begini..."

Tao memalingkan muka. Ia kembali bersandar pada mobil. Sehun juga mengikutinya, kepalanya menunduk, lelah. Sudah hampir jam 12 malam.

"Mianhae," tukas Tao pelan. "Aku terlalu fokus pada proyek ini, sampai kadang melewatkan sesuatu yang lain. Yang sebenarnya penting bagiku..." Tao meraih telapak tangan Sehun. "Aku yakin kita punya masa depan bersama. Untuk itu aku bekerja keras, aku akan melakukan apa aja untuk mewujudkan itu menjadi hal terbaik dalam hidup kita, Hun." Dinding hati Sehun tersentuh kala Tao mengucapkan "masa depan bersama". Tao sudah berpikir sejauh itu. Sehun membalas erat genggaman tangan lelaki itu.


Minggu pagi, Baekhyun.

Acara Sehun hari Minggu ini adalah bertemu Baekhyun, Sahabat lamanya yang baru saja tiba di Seoul. Karena sudah lama nggak saling cerita, pastilah mereka bakalan menghabiskan waktu bareng seharian. Itu baru untuk saling cerita. Belum belanja-belanjinya.

"Jadi penasaran kayak apa wujud Kai sampai bisa membuat Tao ketar-ketir." Baekhyun menyeringai penuh arti.

"Tao ketar-ketir karena kami serumah, tahuu...," elak Sehun, mengartikan cengiran Baekhyun.

"Hei, aku kenal Tao sejak masih kecil. Yang kelihatan dari dia adalah pedenya. Bisa jadi waktu emaknya hamil dia, pedenya lahir duluan, baru kemudian oroknya, hehehe...," seloroh Baekhyun. Ia lalu melanjutkan, "Kalau temanmu serumah itu nggak cukup oke dibandingkan dirinya, Tao-mu itu kupastikan tenang-tenang aja. Lagian kamu ama Kai kayak pasangan beneran, gantian pakai mobil, barangku adalah barangmu, gitu ya...?!"

"Ih, nggaklah!" bantah Sehun. " Hari ini mobilku dia pakai karena kamu bawa mobil. Mobilmu kan lebih keren, hehehe..."

Dulu Baekhyun mengenalkan Tao kepada Sehun tanpa ada intensi apa-apa. Waktu itu mereka ngumpul dipesta senang-senang yang diadakan Baekhyun. Sekadar info aja, Baekhyun ini banyak mendapat julukan dari teman-temannya. Ratu Pesta, Ratu Gaul, Miss Adventure, The Player, Miss Having Fu** (Pelesetan dari having fun!), semacam itu. Eh, ternyata Tao dan Sehun saling tertarik dan lantas jadian.

"Jadi..." Baekhyun memelintir ujung rambut kriwil seksinya. "Kayak apa wujudnya?" Matanya mengerling.

Sehun bergidik melihat gaya temannya itu. "Diharap untuk mengendalikan libido erotis yang bukan pada waktu dan tempatnya," ejek Sehun disusul dengan cengiran Baekhyun.

"Baiklah, Nona Yang Tidak Ingin Cinta Ternoda oleh Erotisme, ingatkan aku akan hal itu setiap berbincang denganmu," balas Baekhyun. -*

Sehun mencibirkan bibir, memaklumi prinsip yang dianut Baekhyun. Selain berpetualang dari satu tempat ke tempat lain, nona satu itu juga berpetualang dari satu cowok ke cowok satunya lagi, atau yang satunya lagi, mungkin mengikuti tempat ia berada. Tapi dia memang layak untuk itu. Bukan hanya karena dia seksi, eksotis dengan kulitnya yang…. tanning ala Hyorin Sistar, dan rambut ikal, tapi dia juga kaya raya. Well… tanningnya itu emang bukan tanning asli sih, secara kulit asli Baekhyun itu sebenernya putih susu ala Korea, Cuma karena kebanyakan bergaul sama bule jadilah dia menganggap bahwa kulit tan itu seksi. Plus, yang penting adalah menguasai "medan dan teknik". She is the expert, hehe.

. "Yang jelas, Baek, aku yang sekarang nggak tenang. Klien yang digembor-gemborkan, yang dilayaninya habis-habisan sekarang adalah Victoria!"

"Si Nyonya Besar itu...?" Seloroh Baekhyun.

"Koreksi, dia bukan nyonya lagi, makanya dia melenggang kangkung mendekati Baekhyun lagi. Masa malam kapan lalu itu ponselnya benar-benar nggak bisa dihubungi, katanya sih ada urusan bisnis yang nggak bisa diganggu..., aku kan jadi berpikir yang terlalu jauh...

Baekhyun nggak bisa melontarkan kalimat macam "Tao mencintai kamu, dia nggak bakalan berpaling" kepada teman dihadapannya ini, karena antara Victoria dan Tao pernah ada hubungan serius sebelum kemudian Victoria memilih kawin dengan pengusaha sex-appeal besar dan matang (Sebagai kata ganti lebih halus untuk istilah lebih tua).

"Lusa Tao minta ditemenin ke pesta kantor, mengundang klien besar mereka, makanya hari ini aku harus cari gaun. Gaunnya harus seksi... bukan cuma elegan, anggun, apalagi klasik, tapi yang seksiihh..." tutur Sehun dengan menyipitkan mata. Dia bertekad tidak mau kalah dengan klien besar Tao, The Big Lady yang pasti hadir.


Malam, terendus

Gaun yang diinginkan Sehun sudah ditemukan di butik langganan Baekhyun. Yang awalnya niat belanja sih Sehun, tapi yang belanja-belanji justru Baekhyun. Teteeep...

"Wah, sial," celetuk Baekhyun seraya menutup flip ponselnya. Ponsel yang menurut Sehun ketinggalan jaman tapi sama Baekhyun tetep aja dipake. Maklum, HP banyak kenangan ..

"Aku sudah ditunggu teman, aku janji ngajak dia ke bar nanti malam. Gimana ya, kamu nggak apa-apa pulang naik taksi? Atau ikut kami aja yuk," ujar Baekhyun.

"Nah taksi aja deh, besok aku harus bangun pagi, ada meeting," jawab Sehun, kemudian menyeletuk iseng, "New arrival, ha?"

Baekhyun nyengir." Yeah. Kenalan di Bangkok, terus ngikut ke sini. Katanya pengin tahu Seoul.

"Dan kita tahu itu bullshit. He wants you," seloroh Sehun tertawa.

Pucuk dicita ulam pun tiba, Kai menelepon apakah perlu dijemput pas Sehun hendak memanggil taksi. Akhirnya mereka balik ke dalam butik untuk menunggu sang penjemput. Bagi Baekhyun, ini kesempatan untuk melihat penampakan cowok bernama Kai. "Ah, itu dia datang." Sehun menunjuk kepada Kai yang baru masuk.

Baekhyun menyeringai lebat. "Oh, please! No wonder Tao is so jealous..."

Sehun mendelik menyuruh Baekhyun tutup mulut. Mereka berkenalan kekat ke arah Kai. Oke, nggak bermaksud berlebihan, Kai memang punya modal fisik lumayan, tapi payah di modal keuangan, hehe.

"Baek, jangan macam-macam," desis Sehun.

"Hei, relax, girl! Aku nggak ngapa-ngapain," Baekhyun berkelit seraya mengangkat kedua tangannya. Isengnya masih berlanjut,

"Nyimpen kayak gini di rumah dan nggak diapa-apain? Ckckck..."

"Sialan. Aku pemilik rumah, dia penyewa, titik." Sehun menangkup muka Baekhyun dengan telapak tangannya dan segera berlari masuk mobil. Tak lupa idahnya menjulur ke arah Baekhyun.

Di mobil, Sehun mengamati diam-diam sosok di jok sebelahnya. Apa sih yang dilihat Baekhyun dari cowok ini? Ada SMS masuk. Sehun merogoh tas meraih ponsel. Dari Baekhyun.

From : Baekkie

Sopir di sebelahmu menyadarkanku, cowok Korea nggak kalah dari import.

Sehun terkikik. Dibalasnya SMS Kumala.

To : Baekkie

HBPKyee? Haus Belaian Pria Korea -**

Secara otomatis, Sehun kembali mengamati Kai yang tenang menyetir. Wajahnya manis khas Asia. Rambutnya hitam, potongannya acak, oke. Bandingkan dengan Tao yang lebih senang rambutnya dipangkas rapi. Dan... Perut Tao sedikiittt membuncit, sementara yang di sampingnya ini rata. Dan keras. Sehun pernah nggak sengaja menyenggol bagian itu. "Hun, jadi mampir ke supermarket?"

"Ah, nde.. " jawab Sehun gugup. Ia disergap rasa bersalah. Hah, kerasukan setan apa kok sampai membandingkan dia dengan Tao! No way, jangan pernah berpikir sekali pun...

"Berarti turun sekarang, Bos!" "Oh, udah sampai ya," celetuk Sehun baru nyadar.

Tepat saat mereka keluar dari mobil, ada mobil yang diparkiran si seberang hendak keluar.

"Oh My God. Lun, lihat." Krystal menjawil lengan temannya supaya melihat lebih saksama ke depan.

Dari balik kaca depan mobil, mereka melihat Kai dan seorang cewek masuk ke supermarket. Krystal megap-megap.

"Itu Kai sama siapa?" tanya Luna, teman Krystal di balik kemudi.

"Namanya Sehun. Udah beberapa hari ini Kai oppa bawa mobil cewek itu, motornya lagi dipinjam temannya," jelas Krystal

"Luna, kita ikuti mereka," pinta Krystal kemudian.

Luna membelalakkan mata. "Mereka berselingkuh?"

"Nggak tahu, makanya kita cari tahu." Berkali-kali Krystal melirik jam yang ada di dashboard. Lima belas menit serasa semalaman.

"Krys, coba telepon aja," usul Luna.

"Pulsaku habis."

"Nih, pake punyaku." Luna menyodorkan ponselnya. Krystal menggeleng.

"Ya sudah, labrak aja sekarang. Yuk!" desak Luna berkobar-kobar.

Akhirnya Krystal mengambil ponsel Luna. Dering ketiga, ponsel Kai diangkat.

"Yeoboseyo?" "Oppa, ini aku Krystal pake HP teman," sahut Krystal gugup.

"Oh, kamu Krys. Lagi belajar, ya? Udah makan belum?" Nada suaranya setenang biasanya.

"I, iya. Udah. Oppa Masih di rumah sakit?" "Nggak. Udah pulang kok." "Oh." Krystal terdiam.

"Halo? Krys?" "Oh, eh, ya sudah. Bye." Krystal linglung hingga nggak tahu mesti ngomong apa lagi. Krystal menyandarkan kepala lemas. "Dia bilang udah pulang..."

Begitu mobil Sehun keluar, Luna dengan saksama mengikuti, menjaga jarak nggak terlalu jauh tapi tapi juga nggak terlalu dekat. Pokoknya kayak penguntit di film-film itu lho! Mobil masuk kompleks permukiman dan berhenti di depan rumah berpagar hijau tua. Sehun keluar membuka pagar, mobil masuk carport. Sehun menutup pagar. Selanjutnya, dada Krystal seperti ditempel lempeng panas. Nyosss...

Kai membawa tas plastik, Sehun mencangklong paper bag besar dan keduanya masuk ke rumah. Wajah Krystal pias. Jantungnya berdegup kencang.

"Ya ampun, dia tinggal dengan perempuan itu..." "Haaa?" celetuk Luna.

"Dia sampai sekarang nggak mengiyakan ajakanku ke rumah uang ditumpanginya, yang katanya suami-istri iru. Suami-istri apaan?! Dia udah bohong ke aku!" Krystal mengomel kesal.

"Belum tentu begitu. Nih, telepon dia lagi." Luna menyodorkan ponselnya.

Krystal menolak. Ia menutup mata dan kuping dulu, setidaknya sampai ujian di kampus besok. Atau mungkin sampai ujian selesai karena ia ingin mengonsentrasikan diri sepenuhnya pada ujian terlebih dahulu, kendati sekarang konsentrasinya sudah sedikit terpecah..

TO BE CONTINUE

Hai… sebelumnya author ucapkan makasih buat yang udah follow dan favorite, juga buat yang udah review.

Selamat datang juga buat reader baru.

Ini balesan review chapter sebelumnya :

GaemGyu92 : wkwkwk… iya bener juga ya. Kalo ada apa2 kan Kai bisa jadi satpam dadakan (?) *plak

Daddy kai : Yup sesuai judulnya, bakal ada saat mereka pura2. Oh iya maaf ya, nanti setiap pergantian scene aku kasih garis lurus deh biar ga bingung. Hehe

Bubblechoco : iya dong. Cinta karena terbiasa hehe

Shixunren : wah. Ide yang bagus tuh (?) wkwkwk

Rly : Nah.. di chapter ini udah keliatan kan reaksinya Krystal gimana? Hehe

Monggyujanggu, blablabla, Guest, Guest : Ini udah lanjut ya. Makasih reviewnya. Hehe

BlackLavenders : wkwkwk iya, secara menurut mereka irit pangkal kaya.

Buat yang belum klik review, follow dan favorite, ditunggu ya. Hehe

Ok bye. See you next chapter ^^