One Day With Papa-Mama.

.

Balas Review chap 1 & 2 sekaligus penjelasan. Lewat aja kalau nggak mau baca :D

Emang Si shin kaya bawang? Alasan aku berpikir Shin kaya bawang karena pernah melihat sebuah karya, ada orang yang membuat wajah Shin dari bawang Bombai. XD tapi sekilas mirip kok. Hehehehe. Para Shin heboh banget. Hahahahaha emang tuh anak-anak bawang heboh. XD di chapter ini aku munculkan lagi mereka.

Kabuto di panggil Kakek? Gak ke tuaan itu? Sebenernya tua untuk umur Kabuto yang termasuk masih muda. Tapi aku sengaja seperti itu. Soalnya melihat dari penampilan Kabuto di mata Boruto dan Hima. Yang menurut mereka Tua, di sini BoruHima nggak tahu umur Kabuto yang sebenarnya.

Kabuto bisa jutsu waktu? Keren! Uhm! Ciptaan sendiri itu.. Btw, tuh Kabuto kok mau si dipaksa ma Boruhima? Apa nggak takut BH mengubah masa depan? Kabuto nggak bisa nolak setelah mendengarkan cerita panjang kali lebar kali luas dari dua anak unyu itu. Kabuto atau (author) juga memikirkan itu, makannya untuk tidak memperburuk di chapter ini diantisipasi dengan perkataan Boruto.

Boruto dan Hima sampai dijaman mana? Mereka datang di masa Naruto dan Hinata masih genin. Tepatnya sebelum Naruto latihan dengan Jiraya.

Ini waktunya habis the last? Bukan sayang :* . Naruhina umurnya berapa ya? Nah tentang umur nih, sepertinya masih banyak yang bingung ya? Salahku juga kemarin di chapter dua nggak ngasih penjelasan. Biar nggak pusing. Naruhina dan Boruto disini berumur 13 tahun (Aku ubah sedikit dari A/n di chapter satu. Berkat Yuka –Arigatou sebelumnya- yang sudah memberi pencerahan dan setelah baca-baca di internet juga. Jadi kuputuskan di ubah, biar sama kaya canonnya.) sedangkan Hima tetap berumur 6 tahun, sengaja biar makin unyu.

Perasaan waktu Naruhina genin patung Hokage masih 4? Aduhhh tolong Maafkan daku, ini kesalahan. Aku benar-benar tidak tahu patung Tsunade belum di buat saat Naruhina masih genin. Sekali lagi Maaf ya, udah sekarang anggap aja itu patung Tsunade baru jadi. XD. Apa Naruto bakal tahu anaknya pergi kemasa depan? Uhm ... kita lihat saja nanti, di chapter ini ada tanda-tandanya. Ketika dimasa lalu apa Naruhina tahu kalau Boruto dan Hima anak mereka? Hampir menyadari XD Tapi ... baca saja di chapter ini, hehehehe :D Fic Time Travel. Heheheheh iya, ini fic time travel pertamaku. Masih belum menguasai, tapi aku menyukai alur ini.

Lanjut, Bagus, Keren, Suka, chapter depan di tunggu, update kilat, Bahasa enak, minim typo. Pasti dilanjut, Arigatou Gozaimasu, cie yang menunggu XD , aduhh nggak bisa pakai kilat nihh, maaf ya . Alhamdulilah sudah ada peningkatan dalam bercerita. Akhirnya hampir sembuh dari typo. T.T Banyakin chapternya. Uhm sepertinya hanya satu.

Ada kalimat yang agak ganjil, di perbaiki lagi ya?Sip Kakak ;)Satu chap lagi, jadi seneng dan sedih dalam satu waktu. U-uhm aku juga sama ngerasa kaya gitu. Dapat ide dari mana? Pertama dari gambar fanart yang unyu banget terus nggak sengaja baca doujin :D

Himawari imut sekali, unyu, gemesin, Lucu sangat, Hima Poloss sekali. Hahahahah nih anak memang pintar bikin orang diabetes. Boruto perhatian banget sama Hima, Apa dia nggak pernah ngaca, kalau mukanya mirip Naruto Iya dong kan kakak yang baik, kayanya Kaca Boruto pecah dah XD jadi nih anak nggak sadar.

Boruto manggil Hinata Mama, kok Hinata nggak sadar ya? Sadar kok dia, Cuma telat. Naruto peka ya Hima mirip sama dia. Lagi bener dia otaknya. Hima hebat udah bisa bunshin. Anak ajaib namanya juga, apalagi setelah baca oneshot MK kemarin yang ternyata Hima bisa Byakugan. Author makin ngefanssss sama nih anak.

Apa di chapter akhir Boruto akan cerita bahwa dia dari masa depan dan anak Naruhina? Uhmm gimana ya? Nggak akan kayanya. Nanti masa depan berubah lagi. Tapi kita lihat saja nanti. XD Entar apa yang terjadi kalau Hima yang polos itu berkata Boruhima anak Naruhina dimasa depan Yang pasti Naruhina akan syok. Terutama Hinata. Apa Naruhina dimasa lalu makin dekat? Uhm... sepertinya. Hinata nggak pingsan ya? Apa yang akan terjadi dirumah Naruto? Hmmm... kita lihat saja nanti.

Dilanjutin fic yang lainnya juga, A-aaa... etoo... akan aku lanjutkan tapi –entah kapan -Bikin yang kentel Boruhimanya. Sip ;) kentel kaya dodol. Semangat terus Kakak/Author-san. Iya dedek #plak# terimakasi ya ;) seneng deh.

.

Sekian, maaf jika ada yang nggak kejawab XD

.

.


#HAPPY READING#

"H-hai Hinata, mereka baik-baik saja kan?" Naruto tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, ia dengan bercucuran keringat dingin mendekatkan diri di sampaing wajah Hinata guna melihat lebih jelas wajah Boruto dan Himawari yang pingsan.

Entah karena sebab apa Naruto begitu khawatir pada dua sosok itu, ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya. Seakan ada sebuah ikatan yang tidak bisa dia jelaskan.

Hinata yang tengah menyalurkan cakranya menoleh, "Mere-" dan seketika membatu kala menyadari jarak wajahnya dengan wajah Naruto yang sangat dekat! bahkan beberapa inchi lagi bibir Hinata dapat mengenai pipi kiri Naruto, atau yang lebih buruk saat Naruto ikut menoleh juga?!

Naruto yang merasa tidak ada respon menoleh ke Hinata, tepat beberapa detik setelah Hinata memalingkan wajahnya.

'Ha-hampir saja.'

"Hinata?"

"A-ah iya! me-mereka baik-baik saja. A-aku tadi salah, me-mereka hanya kehilangan sebagian cakra da-dan juga kelelahan." Susah payah Hinata menjelaskan dan sambil berbicara tubuhnya sedikit-demi sedikit menjauh. Mencari jarak aman dari Naruto.

Naruto malah terlihat heran akan tingkah Hinata yang aneh dimatanya, sebelah alisnya terangkat. 'Dia kenapa?' dan berguman dalam hati.

"Hinata?"

Ini bernar-benar cobaan berat bagi Hinata. Berada dalam satu ruangan dengan orang yang sudah dia kagumi serta cintai sejak lama. Di tambah dirinya saat ini tengah berada di kamar sosok yang dia sukai itu?!

Ia tengah berhadapan dengan Uzumaki Naruto!

Sedang di ajak bicara!

Berdua saja! Kepala Hinata mulai pusing. Tekanan darahnya naik.

Plus tindakan Naruto yang tak pernah bisa ditebaknya, Hinata takut Naruto melakukan hal yang 'tak terduga lagi' –seperti tadi. Dan Jika memang itu terjadi Hinata tidak bisa menjamin kesadarannya dapat bertahan.

Hinata menarik nafas panjang, "Mu-mungkin perjalanan yang mereka laluilah penyebabnya." Tambah gadis manis yang merona hebat itu tanpa mau menatap sang-ehm! Pujaan hati.

Naruto manggut-manggut mengerti, "Begitu, syukurlah." Dan bernafas Lega. Hatinya merasa lebih tenang sekarang, kendati perasaan cemas masih menguasai.

"Semoga mereka cepat sadar. Oh! Tadi yang kau kasih pil apa-" Naruto menaikan sebelah alisnya,"Hina ... ta?" Saat melihat jarak Hinata.

'Apa ini hanya perasaanku saja, atau jarak kita memang semakin jauh?'

Saat ini Hinata sudah berada –hampir- menyentuh dinding kamarnya, beberapa meter dari Naruto. Entah sejak kapan dia pindah. Iris lavender yang tak henti melirik kekanan dan kiri serta kedua telunjuk yang tak hentinya dia mainkan. Oh, Naruto juga dapat melihat tubuh itu sedikit bergetar dengan wajah yang sangat merah.

"I-itu adalah Pil pe-pemulih dari Kiba, kebetulan aku membawanya. Itu bisa memulihkan cakra me-mereka."

Dalam diam Naruto mengangguk, terlalu bingung untuk merespon terlebih saat melihat gelagat Hinata. Pemuda berumur 13 tahun itu kemudian berdiri dari sisi tempat tidur dan duduk menyelender di dinding, tepat di samping Hinata. Dia ingin mengobrol dengan gadis itu, mengisi keheningan dan sekalian mengakrabkan diri. Tapi?

Kenapa Hinata malah menjauh lagi!?

'Apa dia takut padaku?' Tidak mau mengakui sebenarnya, tapi melihat sikap Hinata yang mencerminkan memang seperti itu membuat Naruto sedikit merasa sakit di hati.

Naruto berusaha memakluminya, menyembunyikan perasaan di hati dengan wajah tenang. Kepalanya menyelender diatas kedua tangannya. "Tenang kau tak perlu takut. Aku tidak akan menggigitmu." ucapnya santai. Naruto sudah biasa berhadapan dengan situasi seperti ini.

"Mendekatlah. Kau tahu? Sikapmu membuatku tersinggung. Apa kau takut pada Monster Kyuubi ini, heh?" Nada sarkastis keluar. Naruto tak heran Hinata takut padanya, Hanya –mereka sudah lama berteman, sudah sering menjalani misi bersama- tapi kenapa gadis itu masih merasa takut?

Padahal Naruto sudah menganggapnya teman dan menganggap Hinata istimewa dalam artian Hinata selalu ada dan bisa membuatnya tenang saat dalam kondisi terburuk. Seperti sebelum ujian chunin babak terakhir di mulai, gadis itu berhasil membangkitkan kepercayaan dirinya.

Ini benar-benar menyakitkan.

Hinata tersentak mendengar penuturan Naruto, dia tidak menyangka tindakannya di salah artikan oleh Naruto apalagi disaat dirinya menoleh, melihat wajah bertopeng itu. Bibir Naruto memang menyunggingkan senyuman tapi mata itu, Hinata tahu Naruto sakit hati padanya.

Hinata tidak takut pada Naruto atau pada sosok monster di dalam diri Naruto. Tidak, bukan itu! ini masalahnya berbeda!

Wajah Naruto berubah datar dan kemudian, "Hahahaha-" tawa yang terselip kekecewaan itu terdengar.

Hinata tidak mau melihat Naruto yang seperti ini. Dia harus memperjelas!

"Hahahaha... apa yang kukatakan. Tentu saja ka-" Naruto berhenti saat merasakan sentuhan ditangan kanannya.

"A-aku tidak takut pada dirimu, Naruto-kun!" Tak terduga Hinata langsung duduk disampingnya, sangat dekat malah. Dia berucap menatap langsung safir Naruto.

"Ma-maaf atas tindakanku ta-tadi." sesalnya, "Aku tidak takut." Tambah Hinata mempertegas dan memberikan senyuman –semampunya- pada Naruto.

Naruto terpaku melihat senyuman Hinata dan mendengarnya perkataan gadis itu berhasil membuat hatinya menghangat dengan perasaan lega. Dia menyukai jawaban Hinata.

Jawaban yang berhasil membakar khawatiran di hatinya.

Seraya menunjukan senyuman mentari yang membuat Hinata blushing, dia berucap. "Arigatou, aku sangat senang mendengarnya."

Hinata mendidih melihatnya, 'Kami-sama, kuatkan diriku!' batin Hinata terus berdoa.

"U-uhm!"

...

Satu jam terlewatkan tanpa ada sedikit pun percakapan lagi oleh keduanya. Naruto hanya diam sambil menutup mata, bukan tidur. Dia hanya sedang menikmati keberadaan orang lain dirumahnya ini. Hai! Ini jarang terjadi dan Naruto merasa rumahnya jadi lebih hidup.

Tak jauh berbeda dengan Naruto, Hinata yang sudah terbiasa dan bisa mengontrol dirinya. Terlihat mulai rileks, bahkan wajah ayu itu tampak mengantuk. Misi yang banyak akhir-akhir ini di tambah jadwal latihan yang padat membuatnya susah untuk istirahat. Mungkin setelah ini Hinata akan hibernasi di tembat tidur. Dia benar-benar lelah.

Naruto melirik saat Hinata menguap, dia tersenyum lembut dan kemudian-

EH! Hinata tersentak saat Naruto merubah posisinya jadi tiduran di atas paha pemuda itu.

"Tidurlah Hinata. Aku tidak keberatan. Kau mengantuk, kan?" Naruto dengan polosnya berucap, tidak peka sama sekali pada Hinata yang sudah kembali mendidih. Bahkan Naruto malah mengelus surai indigo Hinata. Berniat membuat Hinata nyaman dan yang malah tidak tersampaikan.

Oh tidak! Hinata sudah mencapai batasnya, dia tidak bisa mempertahankan kesadarannya lagi dan pada akhirnya Hinata tidur –pingsan- di pangkuan Naruto, tanpa Naruto ketahui.

"Dia langsung tidur? Kau sangat lelah rupanya."

.

.

.

STORY BY

CHESS SAKURA

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Family, Romance

Main Pair : Boruto, Himawari, Naruto dan Hinata

Warning : (Semi) Canon ,OOC, Typo(s), No EYD.

Don't Like Don't Read.


#Di Panti Asuhan Kabuto

"Ayah, kapan putri Hokage kembali?" Shinichi dengan setangkai bunga Matahari berjalan mendekat ke meja Kabuto, rona merah dengan tatapan malu-malu tertangkap jelas dimata Kabuto.

Kabuto menghela nafas panjang, guna meredam rasa kesalnya akan pertanyaan yang ITU LAGI!

Mengusap wajahnya dan mencoba untuk tenang, "Ayah tidak tahu."

Perlu di ketahui, pertanyaan yang di ucapkan Shinichi adalah pertanyaan yang ke lima belas yang diajukan pada Kabuto. Para Shin terus bergantian masuk keruangannya hanya dalam selang waktu satu menit. Kabuto bahkan sampai tidak bisa minum Jus apel kesukaannya karena terus di halangi.

"Uhm ... begitu." Shinichi tampak terdiam beberapa saat, matanya tertuju pada bunga Matahari.

"Apa kau tidak bertanya dengan Shinhachi? Dia baru mengajukan pertanyaan yang sama denganmu juga." ucap Kabuto seraya memijit keningnya. Kepalanya sakit karena menghadapi anak-anaknya yang bersikap aneh hari ini.

"Jadi Shinhachi juga menanyakan?!" Kabuto mendengar ada nada tidak suka dari Shinichi,raut wajah anak asuhnya juga berubah dan dapat dirasakan aura persaingan keluar dari tubuh Shinichi.

Uhm ... ada apa gerangan?

"Dia juga mengincar putri Hokage rupanya. Sial! sainganku semakin banyak. Aku harus bergegas." guman Shinichi yang dapat didengar dengan jelas oleh Kabuto.

Dengan mengeratkan genggaman pada tangkai bunga mataharinya, "Siapa saja yang sudah menanyakan hal ini pada Ayah?" Shinichi bertanya, menatap serius pada Kabuto.

Kabuto menaikan sebelah alisnya, sebiji keringat mengalir. "Eto ... lima belas termasuk kamu."

'Dan sepertinya akan bertambah.' Lanjutnya dalam hati.

"Tch!" Bercedak kesal, Ia tak menyangka sebanyak itu. Shinichi yakin jumlah pesainnya akan terus bertambah. Dia harus bertindak cepat! Harus segera mendapatkan hati Putri Hokage sebelum yang lain.

"Ayah!" Shinichi menggebrak meja dengan keras, "Langsung beritahukan padaku jika Putri Hokage ketujuh sudah kembali, jangan sampai yang lain tahu. HANYA AKU!" ucapnya dengan penekanan di belakang dan setelahnya keluar dari ruangan Kabuto.

Kabuto kembali menghela nafas panjang, "Kalimat itu untuk yang kelima belas kalinya. Hah... apa mereka sudah jatuh cinta pada putri Hokage? Ck, pesonamu memang luar biasa Hima-hime."


#Masa lalu

Safir Boruto terbuka saat merasakan tubuhnya di goyang-goyangkan. Hendak bangun namun rasa pusing di kepala membuat tubuhnya kembali keposisi semua, pandangan yang sempat buram sesaat tampak melihat sekeliling. Ruangan yang tidak terlalu besar, sedikit berantakan dan sangat asing baginya.

Dia dimana?

Dan pertanyaan itu langsung terjawab saat dia melihat sebuah photo yang berada di atas meja disamping tempat tidur. Ah, Boruto mengingat anak lelaki berambut pirang yang berdiri disamping kanannya. Yang tadi sempat dia pukul karena mengira telah melukai Himawari.

Dia Uzumaki Naruto dengan tim tujuh, Papanya dimasa ini.

Boruto memperhatikan kembali ruangan yang dia tempati, jadi ini rumah Papanya? Ck, ia tidak mengangka. Boruto baru akan mengambil photo yang berdiri dalam jangkauannya itu, namun Himawari mencubit dan menarik pipinya dengan kuat.

"I-itai...! Hima lepaskan! Apa yang kau laku-"

"-nii-chan lihat-lihat!" Himawari tidak perdulikan Kakanya tengah kesakitan akan cubitannya, Mata safirnya terus tertuju ke bawah, menunjuk apa yang menjadi perhatiannya dengan tangan yang lain. Begitu antusias dan sangat ingin Boruto menuruti.

Dengan paksa Boruto melepaskan cubitan Himawari. Boruto mengusap pipinya yang sangat merah. Benar-benar sakit!

"Ada apa?!" tanyanya sedikit kesal.

"Nii-chan lihatlah!" Himawari langsung menangkup kedua pipi Boruto yang salah satunya merah. Tidak perduli kakanya mengaduh kesakitan karena tindakannya itu. Ia memaksa Boruto untuk menurutinya.

"Itu yang di pangkuan Papa, Mama kan? Iya kan?!" Dia bertanya dan berharap dugaannya benar. Sejak bangun Hima terus menatap wajah gadis indigo di pangkuan Naruto, merasa tidak asing.

"Uhm," Boruto mengangguk dan membuat sebuah bintang berkilau muncul di mata Himawari.

"Huwaaa... Mama imut sekali!" Hima langsung melompat dari tempat tidur dan berdiri tepat di depan kedua orang tuanya yang tengah tertidur pulas. –ralat- yang satu pingsan.

"Kyaaa ...! mereka terlihat lucu, bukan?" Dirinya benar-benar gemas, Himawari sangat ingin mencubit pipi Mama dan Papanya itu dan selanjutnya memeluk dengan erat. Sungguh sangat ingin. Jika saja tindakannya itu tidak membangunkan keduanya, dia sudah melakukannya sejak tadi.

Boruto ikut turun dan berdiri disamping Himawari, melihat Papanya yang tengah memangku kepala indigo Mamanya. Wajah pulas dan sesekali terdengar dengkuran halus dari Naruto membuat Boruto melengkungkan senyuman. Ah dia juga dapat melihat lebam di pipi Papanya hasil perbuatannya tadi.

'Err... sepertinya aku harus minta maaf sekali lagi,' Ya, harus.

Himawari tiba-tiba berbalik dan kemudian menengadahkan tangannya, meminta sesuatu. "Ne nii-chan, boleh aku pinjam itu?"

Perkataan yang sangat ambigu, Boruto tidak paham, "Apa maksudmu-hmppt!"

Bibirnya langsung tertutup rapat dengan tangan Himawari, "Sshtt! Nii-chan pelankan suaramu." tegur Hima.

Himawari baru melepaskan bekapannya saat mendapat anggukan dari Boruto. "Apa maksudmu, Hima?" tanya Boruto lebih pelan.

"Benda itu, Handphone nii-chan. Handphone!"

Ah, Boruto mengerti. "Kau mau memphoto mereka?" Dan sebuah anggukan semangat dari Himawari didapat Boruto.

"Abis mereka sangat imut nii-chan!" Himawari berteriak kecil. Menurutnya ini moment langka dan belum tentu dirinya bisa melihat lagi, jadi harus diabadikan.

"Tidak!"

"EHHH!"

"Hi-hima pelankan suaramu!" Sekarang giliran Boruto yang menutup mulut Hima dan menegurnya.

Tak ada pilihan lain, Himawari harus melakukan itu. "Nii-chan ayolah~" Raut wajah mulai berubah, pandangan fokus ke sang Kakak. Uzumaki Himawari mengeluarkan jurus andalannya. Jurus yang membuat dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.

Boruto waspada melihat gelagat adik tercinta, buru-buru dia memalingkan wajah. Ia sudah berkali-kali terperangkap pada jurus itu, dan sudah berkali-kali juga ia gagal lepas dari jurus Hima yang satu ini.

"Untuk kali ini, maaf nii-chan tidak bisa." Tapi tidak untuk sekarang, Boruto harus bisa melaw-

"Nii-chan~"

SHIT! Himawari pindah posisi, berdiri di hadapannya dengan wajah imut super memelas dan tatapan mata bulat yang fokus ke safir Boruto, ditambah dengan linangan air mata itu?!

Boruto memalingka wajah, pertahanannya mulai retak.

Dan Himawari tentu tidak akan melepaskan kesempatan ini. Dia dengan rayuan dari suara lembutnya, "Hanya sekali saja, kumohon dengan seluruh mainanku!" Mulai membujuk, kedua tangan di gunakan untuk meremas jemari Boruto.

Boruto berkeringat dingin, dalam hatinya berperang antara menuruti atau tidak.

"Hisk ... Kumohon~"

Arrgg! Boruto tidak tahan!

Sungguh, Ia sangat benci dengan jurus itu, pasalnya ia pasti tidak akan menang melawan. Jika sudah seperti ini. Ya... mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas Boruto akan-

"Haaahh... baiklah." Menyerah. "Aku benar-benar tidak suka saat kau melakukan itu!" lanjutnya kesal.

Himawari tidak perduli, hatinya bersorak senang. 'Dan aku suka menggunakan jurus ini, nii-chan' serunya dalam hati.

Mungkin lain kali Boruto harus menghindar dengan pergi sejauh mungkin dari hadapan Himawari karena percuma melawan juga.

Walau hati masih ngedumel karena kalah, Boruto akhirnya mengeluarkan smartphonenya. Membuka aplikasi kamera dan menyerahkannya pada Himawari.

"Hanya sekali!" Pesannya.

Himawari mengangguk semangat, wajah sedihnya sudah hilang entah kemana. Dengan hati-hati dia mendekatkan kamera pada kedua orang tuanya, mencari posisi yang pas dan-

Clik! Dapat dengan hasil yang memuaskan.

"Kyaa...!" Ah, saking bahagianya Himawari sampai tidak bisa mengontrol diri untuk tidak berteriak.

"Hima!" Dia sampai mengacuhkan teguran keras Boruto. Dunianya sudah teralihkan pada photo kedua orang tuanya yang sangat manis.

"Sekali lagi-sekali lagi, aku ingin self-"

"Hima, ingat pesan nii-chan!" Ingat Boruto langsung mencabut sang handphone dari genggaman Himawari. Jika tidak di cegah dari sekarang Boruto yakin Hima akan terus minta photo. Entah selfi atau memotret kedua orang tuanya dan berakhir dengan memorinya yang full.

Himawari berbalik, menatap penuh pada safir Boruto dan tak lupa wajah memelasnya, "Nii-chan sekali lagi ya?" Dia mulai lagi dengan jurus peluluh hati.

Kali ini Boruto tidak akan membiarkan jurus itu mempengaruhinya. "Tidak akan!" Tolaknya tegas dan langsung beralih pada layar smartphone miliknya. Menyibukkan diri.

"Tapi lihat, mereka sangat imutkan ... ?!"

Adakah menyumpal telinga? Boruto mulai goyah mendengar suara memelas Himawari.

"Uhm, imut!" Tanggap Boruto seadanya.

"Aku sangat ingin-"

"Tidak-tidak-tidak!" Boruto memasukan handpnonenya dan berbalik dengan telunjuk di depan wajah Hima. "TIDAK!" Wajahnya serius melihat Himawari. Terlihat sekali perkataannya kali ini harus di turuti oleh sang adik.

Himawari tidak bisa berkutik melihat wajah Boruto. Ini sudah menandakan dia gagal. Ya ... sudahlah yang penting dia sudah mendapatkan satu yang terbaik.

"Dasar pelit!" Walau begitu hatinya masih tidak terima akan kekalahan pertamanya ini.

Terserah! Boruto tidak perduli dengan sebutan Hima. Yang terpenting dia sudah menghentikan keinginan anak itu. Dan yang paling membahagiakan, Boruto berhasil mengalahkan jurus Hima dan membuat adiknya yang super unyu kadang menyebalkan itu mengalah.

"Baiklah, aku tidak akan minta lagi. Tapi ingat nii-chan jangan di hapus! Jika tidak mau semua gamenya kuformat dan photo imut nii-chan yang memakai kostum panda saat Natal beredar di Media Sosial." Ancam Himawari sangat sadis di pendengaran Boruto. Di tambah senyuman jahat yang tercetak di bibir imut Hima-

Boruto meneguk ludah, keringat dingin mulai mengalir. Membayangkan semua koleksi game yang sudah di kumpulkan bahkan ada beberapa game yang sulit dia dapatnya hilang begitu saja, apalagi dengan beredarnya photo memalukan itu!?

Dirinya pasti langsung menjadi trending topik dunia shinobi. Semua orang akan menganggap dia tidak normal. Menjadi pembicaraan di desa sendiri dan di ejek teman-temannya. Hidupnya sebagai laki-laki sejati akan hancur!

TIDAK!

Boruto tidak mau itu terjadi. Himawari yang dia kenal selalu menepati perkataannya dan Boruto yakin adiknya ini serius.

"Ti-tidak akan, nii-chan juga menyukai photo ini." Mengeles untuk menutupi ketakutannya. Boruto menepuk-nepuk pundak Hima dengan tawa hambar dia berucap. "Photo imut seperti itu, te-tentu akan nii-chan jaga."

Himawari tersenyum lebih lebar. "Bagus!"dan membuat Boruto bernafas lega.

Adiknya ini kadang berubah jadi sosok yang menyeramkan.

...

Terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan Boruto dan Himawari, membuat Naruto bangun dari tidurnya. Mengerjapkan mata sebentar sebelum melihat dua sosok yang sedang berhadapan itu.

"Hoaaamm ... kalian sudah sadar rupanya." ucapnya seraya menguap lebar.

Terkejut mendengarnya, secara bersamaan keduanya menoleh pada Naruto. "Ah, maaf Papa, kami berisik ya?" sesal Himawari dan kemudian beralih ke Boruto.

"Tuh nii-chan Papa jadi bangun, nii-chan si berisik."

"Woi!" Kenapa jadi dirinya yang disalahin?

Sebenarnya yang salah disini siapa? Perasaan dari tadi yang teriak dan berisik itu Himawari. Adiknya ini benar-benar dah!

Naruto menggeleng pelan dan tersenyum lembut melihat keduanya. "Sejak kapan kalian sadar?"

"Baru beberapa menit, Papa." Himawari berjongkok dan kemudian mencolek pipi Hinata yang masih tertidur lelap –pingsan-

"Mama terlihat lelah sekali." ucapnya, "Mama ayo cepat bangun, Hima ingin meluk mama!" Himawari menekan-nekan pipi Hinata.

Boruto langsung bertindak, menghentikan kegiatan Himawari. "Apa yang kau lakukan Hima?! Kau bisa membuat Mama bangun!"

"Habisnya-" Himawari tidak meneruskan, dia hanya menatap Hinata dengan pandangan rindu.

Naruto diam menyaksikan keduanya yang terus memanggil Hinata dengan sebutan 'Mama'. Terlalu terkejut. Tak menyangka Hinata juga di panggil demikian.

Mungkinkan nama Hinata juga sama dengan nama ibu Himawari dan Boruto? Sama halnya dengan Naruto.

Apa tak hanya nama saja yang kebetulan sama tapi wajah mereka juga mirip dengan kedua orang tua Hima dan Boruto?

Uhm ... pasti begitu. Tapi ini kebetulan yang sangat aneh.

Ah! atau mungkin ... mereka berasal dari masa depan? Lalu Boruto dan Himawari benar anak mere-

'A-ahahaha... tidak mungkin! Tidak ada jutsu waktu di dunia ini.' Naruto menyangkal cepat pemikirannya yang satu ini.

Ok cukup! pemikiran Naruto mulai tidak beres. Jalan satu-satunya dia harus menanyakan hal ini.

Mengabaikan dugaan-dugaannya Naruto beralih melihat Hinata. Dia harus memindahkan Hinata, sudah terlalu lama gadis itu tidur dilantai dan kakinya juga mulai merasa keram. Naruto menyelipkan tangan kanan di leher Hinata dan tangan kiri di sela lututnya.

"Mau kubantu?" tawar Boruto yang melihat Naruto sedikit kesulitan saat mengangkat Hinata.

"Ti ... dak usah, aku bisa-Ah!"

"Biar aku saja." Tidak tega melihat Papanya yang kesulitan, Boruto langsung mengambil alih tubuh Hinata. "Kakimu keram, bukan?" tanyanya seraya melirik kedua kaki Naruto yang terlihat gemetar.

Naruto hanya diam melihat Hinata di gendong, tidak bisa menjawab dan akhirnya dia kembali duduk, meluruskan kakinya dan sedikit memijat guna memperlancar peredaran darah ke kaki. Himawari ikut membantu memijit kaki Naruto.

...

Merasa ada perbedaan suhu dan tubuhnya serasa diangkat. Hinata tersadar dan hal pertama yang dilihatnya. Rambut pirang dengan mata safir yang tengah menatapnya.

"Na-"

"-Mama sudah bangun rupanya." Boruto menyambut dengan senyuman.

Hampir saja Hinata salah sebut lagi, "Bo-boruto? k-kau sudah sadar?" Mendengar suara Mamanya Himawari segera mendekat, diikuti Naruto.

"Uhm! Hima juga." Boruto mengangguk, lalu menurunkan Hinata di atas tempat tidur.

Himawari memunculkan kepalanya dari balik punggung Boruto. "Mama?"

Dan tanpa aba-aba, "Mama!" Himawari langsung menerjang Hinata dengan pelukan yang mengakibatkan punggung Hinata menghantam tempat tidur dengan keras.

Kedua laki-laki yang melihat itu terkejut bukan main.

"Himawari!" Boruto memberi teguran keras.

"Hinata!" Dan Naruto terlihat cemas pada kondisi Hinata yang di tindih Himawari.

Dua pemuda dengan warna rambut sama itu berjalan mendekat. Boruto mengangkat Himawari dan Naruto membantu Hinata bangun.

"Mama tidak apa-apa?" "kau tidak apa-apa?" Keduanya berucap bersamaan.

Hinata hanya mengangguk, "U-uhm!" Masih terkejut akan serangan tiba-tiba Himawari.

"Hima jangan lakukan itu lagi!" omel Boruto seraya menurunkan Himawari. Gadis kecil berpipi caby itu mengembungkan kedua pipinya.

"Aku kan hanya rindu sama Mama, nii-chan." Belanya yang masih tidak terima.

"Tapi tidak dengan cara seperti itu, bisakan meluknya pelan-pelan!"

Himawari cemberut, wajahnya menunduk. Tidak berani melihat Kakaknya yang terlihat kesal.

"Tadi kelepasan nii-chan."

"Cepat minta maaf!" perintah Boruto.

Naruto dan Hinata hanya terdiam melihat interaksi Kakak dan adik itu, salut melihat Boruto yang tegas sama adiknya. Sebenarnya Boruto tak perlu sampai semarah itu, karena Hinata tidak terluka. Dia baik-baik saja. Ya mungkin hanya sedikit syok.

Melirik kakaknya sekilas yang masih memasang wajah marah, dan kemudian Himawari berbalik menghadap Hinata. Menunduk dalam, "Maafkan aku Mama. Aku janji tidak akan memeluk Mama seperti itu lagi."

Hinata jadi tidak tega, Boruto terlalu berlebihan. Himawari tidak salah. Dia juga senang di peluk. Tadi dia hanya belum siap.

Hinata sedikit bergeser mendekat ke Himawari, membentangkan kedua tangan,"Mau meluk?" tawarnya pada Himawari dan tentu langsung disambut dengan senang hati.

"Ha'i!"

Hinata mengelus surai lembut yang sama dengannya itu, "Tidak apa-apa, Hima-chan. Aku baik-baik saja." ucapnya lembut.

Dia benar-benar merindukan pelukan dan sentuhan lembut tangan ini, Himawari mengeratkan pelukannya. "Arigatou, Mama."

Dua sosok pemuda di belakang hanya terdiam melihat Himawari dan Hinata. Keduanya sama-sama tersenyum. Salah satunya tampak tengah menahan diri.

'Aku juga ingin memeluk Mama!' batin Boruto yang iri pada Himawari, dia berusaha sekuatnya agar tidak menerjang sang Mama.

sedangkan-

'Hinata sangat baik dan terlihat seperti ibunya. Akan sangat menyenangkan jika mempunyai istri seperti dia.' Naruto malah merasa terharu dan berpikiran jauh melihat itu.

"Mama." ulang Himawari.

Hinata terdiam, dia baru menyadari panggilannya sejak tadi. Kenapa gadis kecil ini juga memanggilnya Mama? Ini sangat aneh sekaligus membingungkan dan Hinata butuh penjelasan.

Hinata membuka mulut, "Kenapa kalian memanggil kita dengan sebutan Papa dan Mama?" Namun Naruto sudah mendahuluinya.

Merasa heran dengan pertanyaan sang Papa, Himawari melepaskan pelukan. Menatap kedua orang tuanya dan berucap dengan sangat polosnya, "Karena kalian Papa dan Mama, Hima."

Boruto menepuk dahi di belakang. Ya ampun adiknya ini, kenapa dia langsung jujur! Benar-benar tidak perduli efek yang ditimbulkan oleh perkataannya itu.

Naruto dan Hinata diam seribu bahasa, terkejut akan pernyataan Himawari.

"Pa-papa dan Mama Hi-hima?!" ulang Hinata tergagap. Wajahnya mulai merah.

Gawat! Boruto harus menutupi, bisa bahaya jika masa depan berubah karena perkataan Himawari. Berinteraksi dengan kedua orang tuanya saja pasti sudah merubah –sedikit- masa depan. Apalagi dengan mengatakan hal seperti itu?!

"A-aa ... ma-maksud adikku itu, kalian mirip dengan kedua orang tua kami saat masih seumuran kalian." Jelas Boruto cepat, tangannya menepuk pundak Himawari seraya menarik sang adik untuk mendekat.

Naruto dan Hinata diam beberapa saat, terlihat tengah memikirkan perkataan Boruto yang malah membuat pemuda berumur 13 tahun itu menatap Naruto dan Hinata serius. Hatinya sudah komat-kamit berucap, 'Percayalah-percayalah-percayalah!'

"Apa yang nii-chan kat-"

Boruto langsung membekap Himawari, "Iya kan, Hima-chan!" Dan menyuruh adiknya yang sangat polos itu untuk meng'iya'kan perkataannya lewat pandangan mata.

Himawari masih tidak memahami. Tapi jika dipikir, perkataan kakaknya tidak salah juga. Tentu saja Mama dan Papanya –dimasa ini- mirip, karena memang orangnya sama. Hanya wajahnya saja yang lebih muda.

Terkadang perkataan kakaknya berbelit-belit dan membuat dia bingung.

'Dasar nii-chan.'

Himawari mengangguk, "Iya kalian mirip, sangat mirip!" jawabnya yang membuat Boruto menghela nafas lega.

"Ah, begitu. Sudah kuduga," Hati mereka merasa lega. Pertanyaan dihati Naruto dan Hinata sudah terjawab semua.

Boruto hanya nyengir, bersyukur karena mereka menganggap seperti itu. Namun hatinya tetap merasa cemas pada Himawari. Semoga anak ini tidak menyalahartikan perkataannya.

Semoga...

"Kalian berasal dari mana dan untuk apa datang kedesa ini?" Bagaikan di dorong ke dalam jurang setelah berhasil mendaki, pertanyaan Hinata benar-benar menohok jantung Boruto.

Serangan yang sangat mengejutkan. Kenapa mesti pertanyaan itu yang keluar!? Boruto gugup, dia bingung untuk menjawab. Haruskah berbohong lagi, bisa saja itu dilakukan. Tapi bagaimana dengan Himawari?

Boruto menoleh pada adiknya, 'Apa hima bisa berbohong lagi?' Dan Hima malah senyum polos padanya.

'Sepertinya tidak bisa!' Boruto menangis dalam hati. Jika seperti ini dia harus mencari jawaban lain.

"E-etoo..."

Karena Boruto tidak bisa bohong mengatakan 'mereka dari luar desa' jika ada Himawari di sampingnya, anak itu bisa dengan mudah membongkarnya nanti. Dengan perkataan polos yang sudah bisa dia tebak.

Keringat dingin tak henti-hentinya mengucur, safir Boruto melirik kanan dan Kiri. Boruto harus mencari jawaban yang terbaik dan bisa memanipulasi Himawari.

Naruto dan Hinata menunggu, dua pasang mata yang berbeda warna itu terus fokus pada Boruto.

Boruto terdesak, otaknya berpikir keras, "Ka-kami ..."

"Kau kenapa Boruto?" tanya Naruto yang dipendengaran Boruto seperti mencurigai.

"A-ak..."

Sial! dia tidak bisa menemukan kalimat yang pas. Oh, kami-sama bantulah! batin Boruto menjerit.

Kriuuukkk! Kriuuukkk! Kriuuukkk!

Apakah itu suara dari surga? begitu merdu dan menenangkan jiwa serta raga. Boruto bersyukur dalam hati, 'Oh Kami-sama, arigatou gozaimasu.'

Ketiga orang yang paling dia sayangi itu benar-benar seperti malaikat.

"Ano... Hima lapar. Hehehehehe..."

"Aku juga," sambung Naruto seraya memegangi perutnya dan menunjukan senyuman lima jari yang sama seperti Himawari.

Sedangkan Hinata hanya diam seraya memegangi perutnya. Sudah jangan di tanya bagaimana wajahnya, merah merata.

Tiba-tiba sebuah lampu besar menyala di atas kepala pirang Boruto. "Bagaimana kalau kita makan dulu, kebetulan aku juga belum makan siang." usul Boruto. Sungguh dia senang bukan main, setidaknya ia bisa mengulur waktu.

Himawari, Naruto dan Hinata mengangguk setuju. "Ide bagus."

Naruto baru mau pergi ke dapur namun otaknya mengingat sesuatu. Persediaan ramennya sudah kosong! Ya ampun, bagaimana ini!

Yang tersisa hanya satu saja. Ramen edisi spesial yang niatnya akan dia nikmati sendiri. Lalu bagaimana dia memberi makan tamunya itu. Karena hanya mengandalkan ramen edisi spesialnya saja tidak cukup.

Jangan tanya bahan makanan di rumah ini, karena tidak ada.

Naruto berpikir keras. Dasar bodoh, dia kan tahu kedai ramen terenak di desa, "Baiklah, ayo ke ichiraku!" serunya dengan semangat.

Dan langsung mendapat persetujuan, kecuali Boruto yang tampak diam.

"Nii-chan katanya lapar? Ayo!" Himawari yang sudah berada di ambang pintu menoleh pada kakaknya yang tidak bergerak.

"Apa kau tidak suka ramen?" tanya Naruto.

Boruto hanya diam. Dia suka ramen, hanya saat ini Boruto sedang tidak nafsu makan ramen. Dia ingin makan masakan ibunya. Boruto melirik Hinata.

Benar juga, kenapa tidak minta saja.

"Ano ... kami dilarang Papa dan Mama untuk makan mie karena kemarin kami sudah makan. Jadi-" Boruto maju mendekati Hinata.

"Maukah kau masak untuk kami?" pintanya langsung.

"Nii-chan!" Himawari protes, pasalnya dia ingin makan ramen. Hanya sekaranglah kesempatannya bisa makan makanan kesukaannya itu. Karena di masa depan dia harus menunggu waktu seminggu baru bisa makan Ramen.

"Hima, Mamakan sudah memperingati kita agar tidak sering makan mie. Apa kau mau membantah Mama dan melanggar perintahnya?"

Himawari diam dengan wajah cemberut, tentu dia tidak mau jadi anak yang nakal karena membantah perintah ibunya. "Tidak mau..."serunya pelan.

Tapi ... Mamanya di sini terlihat tidak ingin protes, dia masih ada kesempatan. "Mama aku ing-"

"Yaaa... jika ibu kalian berkata seperti itu, maka kalian harus menuruti." Kenapa mesti kalimat itu yang keluar! Himawari tidak bisa berkutik.

"Benar kata Naruto-kun, kalian harus nurut pada Ibu kalian! Ya?" Hinata berucap menatap Himawari, secara tidak langsung menghentikan keinginan Himawari untuk membujuk Mamanya. Dan secara tidak langsung memperingati Himawari.

'Uh! Mama tidak di masa depan atau di sini. Masa saja!' batinnya kesal.

"Ne, Hinata apa kau mau masak untuk kami?" tanya Naruto. Walau sebenarnya ia ingin makan ramen, tapi sekali-kali makan masakan rumah juga tidak ada salahnya. Apalagi setahunya masakan Hinata itu enak.

Hinata untuk beberapa saat hanya terdiam. Dia jadi gugup. Masak untuk orang yang dia sukai? "Uhm bo-boleh. Aku mau."

Boruto menyembangkan senyuman lebar berbanding dengan Himawari yang hanya tersenyum kecil. Akhirnya Boruto bisa melepaskan rasa rindu akan masakan Mamanya.

"Kalau begitu kami belanja bahannya dulu." Tanpa peringatan Naruto langsung menggaet tangan Hinata dan berjalan kepintu keluar.

Hinata merona hebat.

Tepat hampir mendekati pintu Naruto berbalik melihat Boruto dan Himawari secara bergantian, "Kalian berdua tunggu saja di sini-"

"Kami ikut!" Namun Boruto sudah menyambar cepat ucapannya.

Percuma saja datang jauh-jauh kemasa lalu jika harus menunggu rumah lagi. Ingat tujuan awal mereka, menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Boruto juga yakin adiknya tidak setuju jika harus jadi penjaga rumah lagi.

"Papa, Mama kami boleh ikut ya?" Tuh kan benar dugaannya. Himawari ikut bantu membujuk dengan jurus andalannya.

"Ya?"

Naruto dan Hinata terdiam, tampak bertatapan sebelum. "Uhm! Ayo!" Menyetujui.

Dua anaknya (dimasa depan) mengembangkan senyuman lebar. Himawari terlihat berjalan lebih dulu keluar. Naruto dan Hinata baru akan menyusul namun Boruto segera menarik tangan mereka.

"Ada apa Boruto?" tanya Hinata heran.

Boruto terlihat ragu dan juga takut. "Boleh kah aku minta sesuatu pada kalian?"

"Ya, tentu! Apa?" raspon Naruto cepat.

Boruto melirik Himawari sekilas, adiknya masih belum sadar. Ini kesempatan. "Ijinkan adikku memanggil kalian Papa-Mama. Dia sangat merindukan orang tua kami, aku takut Hima merasa sedih-"

"Kami mengerti, aku juga tidak keberatan." Potong Naruto cepat, dia sudah paham maksud perkataan Boruto. Safirnya melirik Hinata meminta jawaban gadis itu.

"Bagaimana denganmu, Hinata?"

"A-aku juga tidak masalah. Jika itu bisa membuat adikmu senang." ucapnya dan tersenyum lembut pada Boruto.

Ahh... senyuman itu. Boruto sangat merindukannya.

"Arigatou gozaimasu. Aku benar-benar tertolong."

Hilang sudah semua keresahan Boruto. Sejak tadi dia terus di ganggu perasaan takut jika Papa-Mamanya di masa ini merasa terganggu dengan panggilan Himawari. Boruto juga tidak bisa memaksa Hima untuk tidak memanggil Papa-Mama pada Naruto dan Hinata. Tidak tega, adiknya terlihat sangat senang bertemu dengan Naruto dan Hinata. Jika dia melakukan itu, Hima pasti sedih.

"Sekali lagi Arigatou Hinata-san, Naruto-san." Ulangnya dengan menunduk dalam. Walau dalam hati yang terdalam Boruto ingin memanggil Papa dan Mama.

"Nii-chan, Papa, Mama! Kenapa kalian masih di sana. Ayo!" Teriak Hima seraya melambai-lambai.

"Ya," dan ketiganya segera berlari menyusul.

.

.


#Masa depan

"Anda sudah kembali Hinata-sama," Kotetsu Hagane yang tadi sempat hampir tidur, segera berdiri saat melihat kedatangan Hinata dengan timnya. Menunduk hormat pada nyonya Hokage.

"Konichiwa Kotetsu-san," sapa Hinata ramah.

"Lebih cepat dari perkiraan, heh?"

Kiba yang berada di samping Hinata menyambar cepat, "Tentu saja, kami adalah tim yang hebat." Serunya bersemangat, Akamaru di samping menggonggong untuk mengiyakan.

"Kami kira misi Rank-S yang di berikan Hokage-sama sangat sulit, bahkan sampai menyuruh kami turun tangan. Tapi ternyata tak seberapa. Benarkan Akamaru?" lanjutnya begitu bangga. Akamaru kembali menggonggong.

Hinata dan Shino hanya tersenyum maklum melihat Kiba.

"Kalian memang hebat," puji Kotetsu.

Kiba baru akan mengiyakan, namun "Tent-"

"Kami pergi dulu," perkataan Shino yang tiba-tiba menghentikannya. Dua teman setimnya itu tampak cuek dan berjalan begitu saja. Meninggalkan Kiba dengan kebanggaannya.

"W-woi, tunggu!" Kiba terlihat kesal, segera berlari menyusul dan tampak memukul bahu Kiri Shino. Kotetsu hanya geleng-geleng melihatnya.

"Hinata-sama!" Panggil Kotetsu, Hinata berhenti dan berbalik. "Boruto dan Himawari pasti senang melihat anda." ucapnya dengan senyuman.

Mendengarnya Hinata tersenyum, tak hanya mereka. Dirinya juga sangat senang. Hinata benar-benar merindukan kedua anaknya itu dan tentu suaminya juga.

"Uhm," responnya. "Kami permisi dulu, Kotetsu-san." Dan kembali berjalan namun dengan langkah yang lebih cepat.

'Boruto, Himawari kalian pasti akan terkejut.' Hinata tersenyum kecil.

.

.

.

.

TBC

Chapter 3 selesai, nggak sesuai perkiraan ternyata harus nambah satu chapter lagi. Niatnya mau ditambah ada konflik dikit gitu, eh ternyata nggak muat kalau harus di campur di sini. Terlalu banyak takut Bosen malah nanti. Ini aja yang udah di ringkas sudah mau 6k.

Entah mengapa jadi banyak gini, perasaan dikit #plak

Aku nggak akan bosen ngucapin, ARIGATOU GIZAIMASU Bagi reader yang sudah Review, Fav and Follow. Senang rasanya karya ini di hargai T.T

Sekali lagi arigatou

Ein Mikara, yudi arata, Byakugan no Hime, IreneReiko-chan, Surel, Aizen L sousuke, Megane Gals, widya21253, geminisayank sayank, Virgo Shaka Mia, himawaarii nara, radenmasbhockaenkzrandy, Valen risuka, Setya, IndigoRasengan23, Me Yuki Hina, ChacaSavika, NaruHina ajalah, NaYu Namikaze Uzumaki, HinataPrincess Byakugan, Murasaki Nabilah, Guest, NaruHina Lovers, yudi, ril-cha, Deka526, Bayangan semu, DarkCrowds, Guest, zlzkhrs, JOIDHanabiH.

Yo Wis Silahkan Review atau Fav/Follow

.

.

.

Salam Chess Sakura.