Who Am I?

Sakura tidak melepaskan pengawasannya pada kedua gadis yang sama sekali tidak berhenti mengigau. Dari wajahnya, kelihatan kalau mereka sangat ketakutan. Sakura terpaksa harus menenangkan kedua gadis yang kadang berteriak histeris. Setelah Sakura menenangkan barulah kembali tenang. Tapi itu hanya sesaat, kedua gadis itu, kembali menunjukan raut ketakutan.

"Engh!"

Akhirnya Sakura senang setelah mengetahui kalau kedua gadis belia itu telah sadar.

"Jangan banyak bergerak, tubuh kalian masih belum baikan" Suara Sakura lembut menahan tubuh yang hendak bangun.

Gadis yang berambut kuning pucat berusia sekitar 16 tahun melihat Sakura sesaat, ia juga tahu kalau Sakuralah yang menolongnya. Ia kembali menatap sekujur tubuhnya, yang masih memakai kemeja yang kebesaran.

Merasakan seluruh tubuhnya kesakitan, kembali ia menangis, ia ingat peristiwa yang telah menghancurkan masa depan mereka.

Sakura mendengar erangan dari gadis yang satunya, ia juga cantik dengan rambut berwarna biru muda. Sakura pun menoleh. Ia melihat gadis yang bertubuh sedikit lebih kecil dari gadis berambut kuning pucat, juga sudah bangun sambil menangis.

Sakura beringssut dari tempatnya, tapi, mendadak..

"Heh!" Sakura sedikit tersentak, ia merasakan pedang pendek yang ia selipkan di pinggang terasa ada yang mencabut.

Tangan Sakura bergerak secepat yang ia bisa.

Tap!

"Apa yang kau ingin lakukan, kau ingin melakukan tindakan bodoh" beruntung Sakura masih sempat menahan tangan yang hendak menikamkan pedang pendek kedada.

"Lepaskan!" sentak gadis itu. Ia masih berusaha membebaskan tangannya dari cengkraman Sakura.

"Kubilang jangan bertindak bodoh!" bentak Sakura, "Kau ingin mengakhiri hidumu? Kau pikir masalah akan selesai? Tidak. Para bangsat itu tetap bebas berkeliaran"

"Dan apa kau pikir ada yang sanggup menanggung malu, huh!" balas gadis itu. Ia tidak lagi memberontak tapi ia menangis keras. Sementara yang satunya yang kemungkinan adalah adik, juga turut merasakan apa yang di rasakan oleh sang kakak. Ia pun mulai bergerak, merampas pisau yang di pegang Sakura dan hendak melakukan tindakan mengakhiri hidupnya.

Plak!

Lagi-lagi Sakura menghentikan tindakan si biru muda tadi, bahkan dengan tamparan.

"Ku bilang berhenti bertingkah bodoh. Masa depan kalian masih panjang. Kalian pikir orang tua kalian akan senang mengetahui anaknya bertingkah bodoh. Orang tua kalian menyambut kelahiran dengan tangis bahagia. Tapi kalian malah berpisah dengan tindakan bodoh"

"Orang tua kami,ayah kami, di bunuh para pemerkosa kami" merasa tidak mungkin meneruskan tindakannnya, si rambut kuning pucat itu mulai menanggapi di sela tangisannya.

"Kami tidak punya siapa-siapa lagi, karena itu biarkan aku dan kakakku mengakhiri penderitaan kami" sahut si biru muda menambahkan.

Keduanya makin mengeraskan suara tangisan, membuat Sakura makin kebingungan.

Sets!

Sebuah pedang tiba-tiba melintang di hadapan kedua kakak beradik itu. Keduanya termasuk Sakura kaget. Ternyata yang berbuat demikian adalah Sasuke.

"Pedangku sudah banyak meminum darah. Tua-muda bahkan sampai orang baik-baik atau penjahat pun sudah menjadi korban di mata pedangku. Tapi seingatku, pedangku belum pernah meminum darah gadis bodoh seperti kalian" nada dingin dari Sasuke malah membuat kedua gadis itu menggigil ketakutan.

"Sasu, Hentikan!" Sakura merangkul kedua gadis itu.

"Siapa nama kalian" tanya Sasuke masih dengan nada datarnya.

Kedua gadis itu masih diam ketakutan.

"Jawab!" Sasuke pelan tapi menekankan suaranya.

"Na...Namaku Sen" jawaban terbata-bata dari wanita berambut kuning pucat, "Di...dia a..adikku, Fuu" ia dan adiknya yang di perkenalkan bernama Fu, sudah berhenti menangis karena lebih di dominasi oleh rasa takut.

"Namaku Sakura, dan dia kekasihku, namanya Sasuke" Sakura yang menanggapi sambil memberikan senyum hangat.

"Tadi kau bilang orang tua kalian di bunuh. Katakan siapa nama orang tua kalian" kembali Sasuke bertanya tanpa merubah posisis, ia tetap mengarahkan pedangnya seakan ingin di berikan pada kedua gadis itu.

"Na... namanya Hiruzen Sarutobi" Fu memberanikan diri menjawab, juga dengan nada gemetaran.

"Bagus! Sekarang, tambahkan dalam ingatanku..."

"Sasuke.. hentikan" potong Sakura. "Tolong jangan akhiri hidup kalian dengan cara seperti ini. Ku yakin ayah kalian juga tidak ingin kalian mengakhiri hidup kalian. Kalian harus tahu bahwa keberadaan kalian adalah bukti kalau keluarga Sarutobi masih ada" Sahut Sakura sambil menatap sayu pada kakak beradik itu.

"Seperti yang di katakan kekasihku, kalian berhentilah bertingkah bodoh. Atau kalian ingin menambah daftar, kalau pedangku ini telah mengakhiri sejarah keluarga Sarutobi, karena alasan bodoh yang tidak bisa menanggung malu. Di luar sana masih ada banyak orang yang mengalami kepahitan sama seperti kalian, tapi mereka masih mau melanjutkan hidup, karena mereka tahu, hidup bukanlah untuk disia-siakan karena sebuah pengalaman pahit. Mereka merasa kalau mereka adalah pejuang" Sasuke berpindah tempat dan duduk di samping Sakura sambil mengahadap pada Sen dan Fuu.

"Lalu bagaimana dengan kehormatan kami? Kami tidak bisa menanggung malu" kembali Sen menangis perlahan, Fuu tidak menangis tapi menatap dengan tatapan kosong.

"Suatu saat, kalian akan mendapat ke hormatan sekali lagi, dan pada saat itu tiba, belajarlah untuk mempertahankan" Sasuke mulai menanggapi dengan senyumnya. Ia sudah yakin kalau kedua gadis itu sudah mulai ragu untuk mengakhiri hidup mereka.

"Kelak kalian akan memiliki kehormatan sebagai isteri, sebagai ibu, dan sebagai penerus sejarah Sarutobi"

Sen dan fuu menatap Sasuke hampir bersamaan.

"Adakah?" sahut Sen nyaris bergumam.

"Aku jatuh cinta pada Sakura tanpa mempedulikan dia seperti apa" Sasuke mengimbuhkan. Ia tetap meyakinkan kedua gadis itu.

Sen menatap sekilas pada Sakura, "Dia kan cantik"

Sakura tersenyum menatap kedua gadis yang ada di depannya, "Kalian fikir kalian jelek"

Sen dan Fuu memilih diam, sesaat keduanya merona.

"Sekarang katakan bagaimana ciri-ciri pelakunya" kali ini Sasuke bernada lembut saat melihat kedua gadis itu sudah tampak tenang.

Sen dan Fu menatap Sasuke. Kalau tadi keduanya sepeti ketakutan, kini perlahan mereka mulai berani menatap Sasuke lebih lama.

"Kalian ingin mereka jadi apa? Memaksa bertanggung jawab, atau mengganti darah kalian jadi minuman pedangku" tambah Sasuke makin memperhebat ucapannya.

Sen yang lebih tua terlebih dahulu memulihkan keadaan, menjawab, "Terima kasih, aku benci mereka. Mereka berbadan besar berambut kuning emas dan putih perak, mereka kembar"

"Ganti pakaian kalian, yang kalian pakai itu adalah milikku. Istrahatlah dan kita akan mencari mereka" Sasuke menyodorkan bungkusan yang tadi ia bawah ketika datang.

Sen dan Fu mengamati tubuh mereka. Sen yang memakai pakain Sasuke yang kebesaran. Sementara Fuu di balut tubuhnya dengan selembar kain tanpa jahitan, yang menutupi bagian dada sampai lutut.

"Asal kalian dari mana?" tanya Sasuke setelah memakai kembali pakaiannya.

"Eumm.. tadi Kak Sasuke mengambil pakaian untuk kami dari mana?" Sen justeru balik bertanya. Dari nadanya ia sudah sedikit tenang.

"Dari desa yang berada sebelah barat"

"Itu asal kami" Fu yang berbicara dengan raut yang meringis, menahan rasa sakit.

"Kalian ingin kami antar kembali kesana?" giliran Sakura yang bertanya.

Sen dan Fuu menjawab dengan menggeleng secara bersamaan.

"Kita akan berjalan ke arah utara, mudah-mudahan kalian bisa menemukan tempat dan kehidupan baru kalian di sana" Sasuke memutuskan, "Nah, sekarang kalian istrahatlah. Aku yang akan menjaga kalian"

Sen sesaat melihat pada Sasuke. Setelah memperhatikan wajah Sasuke, sebagai gadis remaja, ia juga merasakan getaran rasa suka pada Sasuke.

Sakura membulatkan mata, ia tahu Sen sudah mulai tertarik pada Sasuke. Dan pada akhirnya ia menghela nafas panjang. Ia juga mengerti, jika banyak gadis yang tertarik pada kekasihnya.

Malam semakin bertambah larut, Sasuke memperbaiki letak kayu bakar yang di pakai sebegai penerang. Ia tersenyum menatap ketiga sosok yang teridur di depannya.

Ia menatap kekasihnya tidur dengan tenang, sangat berbeda dengan dua sosok lainnya. Nampak sekali kalau mereka tidur dengan tidak tenang.

Hal ini mengingatkan saat pertama kali ia mengajak Sakura mengembara bersama-sama. Hampir tiap malam Sakura mengeluh kedinginan dan gangguan nyamuk. Tapi kini Sakura sudah terbiasa.

...

-SSS-

...

Karena hari masih terbilang sore, Tsunade lebih memilih bersantai di beranda rumahnya. Ia masih sama seperti sebelumnya, ia menunggu laporan dari Sasori dan rekan-rekannya.

Matanya menyipit, ketika di depan gerbang rumahnya, ia melihat sesorang yang sedang berjalan. Wanita cantik itu bisa memperkirakan kalau orang yang tak dia kenal itu adalah pria.

Mata Tsunade membulat. Orang yang baru masuk itu adalah pria tampan, berkemeja putih lengan panjang. Iris hitam kelam. Berambut hitam dengan poni belah dua menutupi kedua pipi kiri dan kanan. Dia mengenakan celana panjang biru tua dengan kain biru tergantung dari perutnya hingga ke lutut. Sebuah pedang ia sisipkan di pinggang belakang.

"Siapa pemuda itu Tsunade?" suara Jiraiya terdengar dari belakang. Tsunade menoleh. Kali ini Jiraiya muncul bersama Sasori dan Chouji. Mereka memang baru tiba dari tugas mereka.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja ia muncul dari depan gerbang" jawab Tsunade yang masih seperti terpaku menatap pemuda yang baru datang itu.

Sasori dan Chouji langsung berlompatan dan berdiri di depan pemuda yang baru datang tadi.

"Siapa dan mau apa kau ke sini" tanya Sasori sambil menatap tajam.

Sementara chouji, meski tampak tidak peduli dan masih seenaknya menikmati makanannya, tapi sebenarnya ia waspada.

"Aku tidak tahu siapa aku. Tapi aku mendengar kalau disini banyak orang yang di pekerjakan" jawab pemuda yang baru datang tadi.

Sasori dan Chouji mengernyitkan dahi. Apa maksud dari pemuda itu yang mengatakan kalau ia tidak tahu tentang dirinya.

"Kau pantas di curigai" giliran chouji yang berbicara, tapi terdengar kurang jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.

Pemuda pendatang itu masih diam. Ia juga menatap tajam pada kedua orang yang ada di depannya.

Chouji mulai tidak sabar gara-gara melihat tatapan mata tajam dari pemuda itu, bagi chouji, tatapan tajam itu mengindikasikan kalau pemuda itu meremehkan dirinya.

"Gendut, kau pemilik rumah ini?" pemuda itu bertanya.

"Kau bilang apa?... heeaaht!" Chouji makin tersinggung karena kata 'tabu' di katakan padanya.

Chouji langsung menggebrak dengan menyabetkan goloknya.

Wuts, wut

Trang!

Sungguh tak di sangka oleh chouji, padahal jaraknya yang dekat dan ia lebih dahulu menyabet dengan cepat, ternyata pemuda itu masih cukup gesit dan sempat untuk menghalau serangan kilatnya.

Sasori juga kagum dengan kecepatan reaksi pemuda itu.

"Berhenti!" teriak Tsunade saat melihat pemuda tampan itu di serang oleh anak buahnya.

"Apa yang ingin dia lakukan sehingga kalian ingin menyerangnya?" tanya Tsunade lagi.

"Dia mengataiku gendut dan aku tidak suka" sahut Chouji masih marah.

Tsunade menatap Pemuda yang baru diserang chouji, masih diam, tatapan matanya tetap tajam.

"Mau apa kau kesini?" tanya Tusnade pada pemuda yang ada di depannya kini.

"Aku kesini mencari pekerjaan" jawab pemuda itu singkat.

"Siapa namamu"

"Aku tidak tahu, bahkan siapa diriku yang sebenarnya, aku juga tidak tahu" jawabnya kelihatan jujur.

Tsunade dan yang lainnya menatap mata pemuda itu lekat-lekat, hendak mencari tahu kebenaran yang dia ucapkan.

Namun demikian, semuanya seperti sepakat kalau pemuda itu memang tidak menyimpan suatu kebohongan.

Tsunade tertegun, "Amnesia?" kembali menatap Pemuda itu.

"Siapa dia Nona Tsunade" Nagato datang dan menghampiri mereka.

"Cari kerjaan" jawab Sasori ketus, ia kesal pada Tsunade karena dari tadi Tsunade tak melepaskan pandangan dari pemuda pendatang, bagi Sasori itu adalah tatapan rasa suka dari Tsunade. Tatapan yang tidak ia dapatkan selama ini.

"Kau tahu, anak muda" Jiraiya angkat bicara, "Ada persyaratan yang akan kau penuhi, kau harus bertarung dan mengalahkan salah satu dari kami"

"Hn, siapa lawanku"

"Dan kau harus tahu, ketika kau bekerja padaku, kau harus mematuhi semua permintaanku" imbuh Tsunade.

"Aku bekerja padamu, berarti aku adalah bawahanmu. Sebagai bawahan, aku memang harus mematuhimu bukan?"

Tsunade tersenyum mendengar pernyataan pemuda itu, "Baiklah, kau di terima, kau tidak perlu bertarung"

"Tidak bisa" teriak Chouji, ia masih kesal karena di katai gendut tadi.

"Aku setuju" jawab Sasori, "Dia juga harus di uji"

"Disini, siapa yang jadi atasan?" sahut Nagato menyindir.

"Kau.."

"Katakan siapa lawanku" pemuda itu memotong ucapan Sasori.

"Aku" kali ini Chouji yang berkata.

"Tidak perlu" seru Tsunade.

"Maaf Nona, tapi kalau hanya si gendut ini, aku bisa kalahkan, bahkan jika masih ada gendut lain yang membantunya"

"Kurang ajar!" seru Chouji sambil menyodokan goloknya.

Pemuda yang baru datang tadi melompat mundur kebelakang dan menyiapkan kuda-kuda.

"Heeeh"

Chouji kembali berteriak menyerang sambil mengayunkan pedangnya.

Wut!

Slatchs!

Pemuda itu tiba-tiba muncul di belakang dan mengunci pergerakan Chouji, selain itu, ia juga sudah menempelkan pedangnya di leher Chouji. "Apa ini sudah cukup?" katanya perlahan.

Bawahan Tsunade membulatkan mata mereka melihat gerakan yang sangat cepat dan susah diikuti oleh mata, seperti yang di peragakan oleh pemuda lawan Chouji.

Lain lagi dengan Tsunade, ia sangat girang, begitu melihat kehebatan Si Pemuda. Ia bisa menilai kalau Si Pemuda itulah yang terkuat di antara bawahannya.

Jiraiya juga sudah tahu, kalau Tsunade mulai jatuh cinta pada Si Pemuda. Karena tidak ingin ada saingan baru lagi, tanpa memberi aba-aba ia langsung menyerang.

Wust!

Merasa adanya angin serangan dari belakang, Si Pemuda segera bergerak cepat dan memapaki serangan.

Plakk!

"Akh...!"

Jiraiya sedikit kaget, setelah mengetahui bagaimana si pemuda memapaki serangannya. Tapi itu hanya sebentar, Jiraiya menotok ujung kakinya di tanah, sehingga ia melenting. Berikutnya Jiraiya memutar tubuh sambil melayangkan tendangannya.

Si Pemuda beraksi lebih cepat lagi, ia memiringkan tubuh sambil kakinya diputar ke kanan sehingga serangan Jiraiya nyaris mengenai Chouji.

Dan secepat kilat tubuhnya berputar sambil melontarkan tendangan kilat ke dagu Jiraiya. Sedangkan, tangannya siap melakukan serangan susulan.

"Heaaah...!"

Dugkh...!

"Aaakh...!"

Kepala Jiraiya terdongak ketika tendangan kaki Si Pemuda menghantam dagunya. Tubuh lelaki tua tapi masih tegap itu terjengkang ke belakang diiringi teriakannya.

"Kurang ajar!"

"Kagutsuchi" gumam Si Pemuda.

Wusss!

Serangkum api hitam membentuk mata pedang lewat di atas kepala. Gerakan Jiraiya yang tadi hendak berdiri jadi terhenti.

"Sayangnya kita cuma latihan, kalau saja di izinkan untuk membunuh, kau sudah mati"Ujar Si Pemuda.

Rupanya ia sengaja melesetkan serangannya pada Jiraiya.

"Sudah cukup Jiraiya, Chouji"teriak Tsunade

Jiraiya yang hampir saja terpenggal, memilih diam dan menurut. Chouji juga sama, dengan perlahan ia menyimpan goloknya.

"Tadi kau tidak tahu namamu kan, bagaimana kalau aku yang memberimu nama"Imbuh Tsunade kemudian.

"Hn" gumaman tidak jelas dari si pemuda. Tapi tatapan matanya menunjukan kalau ia setuju jika di beri nama oleh Tsunade.

"Apa kau suka jika aku memberimu nama, Hino Hikari"Tsunade menatap Si Pemuda.

"Nama yang bagus, terima kasih, Nona..."

"Tsunade, panggil aku Tsunade" jawab Tsunade dengan mata berbinar.

"Ayo, ikut aku" Tsunade segera menarik pemuda yang kini ia beri nama Hino Hikari.

Pemuda berambut model pantat ayam itu hanya menurut.

Sasori dan Jiraiya menatap benci pada pemuda yang baru saja di panggil Hino Hikari oleh Tsunade. Sudah jelas, kalau mereka kemungkinan tidak akan mendapat jatah lagi dari Tsunade dengan hadirnya pemuda itu.

Nagato menatap Hino Hikari dengan tatapan yang tidak biasa, dan hanya Nagato yang tahu arti tatapan itu. Setelah itu ia mengalihkan tatapannya pada Tsunade.

"Sudahlah Sasori, kita masih punya kesempatan mendapatkan Tsunade, jika kita menemukan gadis Sakura dan membunuhnya, bukankah ia bilang kalau dia akan menuhi permintaan kita. Jika berhasil, kita tinggal meminta Tsunade untuk menyingkirkan Hino Hikari" Hibur Jiraiya sambil menepuk bahu Sasori dan menatap punggung Hino Hikari.

...

-SSS-

...

Nampak tak jauh di depan Sasuke dan Sakura yang di temani dua gadis belia, terdapat desa yang terbilang cukup ramai.

Keempatnya merasa heran dengan tatapan dari para penduduk desa yang mereka masuki. Para penduduk itu nampak ketakutan melihat mereka sebagai orang asing.

"Kak Sasuke, menurutmu, apa tidak ada yang aneh dengan tatapan orang-orang pada kita" Sen sedikit berbisik pada Sasuke.

"Aa" jawaban ambigu dari Sasuke.

Sakura makin jengkel dengan ulah Sen yang selalu ingin dekat-dekat dengan Sasuke. Beberapa hari terakhir sejak menolong dua bersaudara itu, Sen selalu mencari-cari perhatian pada Sasuke, tidak hanya itu, Sen juga sering ingin berdekatan dengan Sasuke. Seperti sekarang ini. Meski Sasuke mengabaikan tingkah Sen, tapi rasa jengkel Sakura tetap ada.

Sedikit berbeda dengan Fu, mungkin karena gadis itu masih bisa di katakan terlalu muda, sehingga ia tidak bertingkah seperti kakaknya.

"Menurut kak Sasuke, kenapa?"

Sebelum Sasuke mejawab,"Kita cari tahu saja di kedai depan" Sakuralah yang menanggapi dengan agak ketus.

Sasuke menoleh pada Sakura, ia tersenyum, "Itu hanya anggapanmu saja Sen, tatapan orang pada pendatang seperti kita, adalah hal wajar. Sudahlah kita segera istrahat, kalian juga sudah lelah", sahut Sasuke yang sudah tiba di depan kedai yang cukup ramai pengunjung.

Sasuke kembali menoleh pada Sakura. Ia sedikit kaget, ketika ia mencoba menggandeng tangan Sakura tapi malah di tampik. Sasuke menarik nafas panjang.

Sasuke dan yang lainnya memilih tempat kosong yang ada di sudut ruangan. Mereka memanggil salah seorang pelayan dan memesan makanan mereka masing-masing.

Sakura duduk di samping Sasuke, sementara Sen dan Fu duduk di depan mereka berdua.

"Sakura, sikapmu beberapa hari ini makin aneh, Kau kenapa Sakura" ucap Sasuke setengah berbisik. Karena suasana kedai itu cukup ramai, bisikan Sasuke pada Sakura sepertinya tidak di dengar oleh Sen dan Fu.

"Sakura!" panggil Sasuke lagi, karena Sakura tidak menanggapi ucapannya.

Wajah sakura tetap kelihatan masam.

Sasuke menarik nafas panjang, ia membatalkan ucapannya karena pesanannya sudah berada di depan.

"Maaf, ada yang aneh dengan kekasihku?" Sasuke bertanya pada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Sasuke merasa heran karena pelayan itu selalu mengamati Sakura sejak mereka memasuki kedai.

"Ti...tidak ada, Tuan" Sahut si pelayan kelabakan karena ketahuan.

"Jangan berbohong!" Sasuke menekankan suaranya.

Si pelayan tadi ketakutan mendapat tatapan tajam dari Sasuke.

Melihat pelayan itu nampak ketakutan, Sasuke kembali menunjukan senyumnya, "Maaf, aku hanya ingin tahu" ucap Sasuke perlahan.

"A...anu.. Tu..Tuan. Tadi pagi ada dua orang yang datang dan menanyakan seorang gadis berambut merah muda. Mereka juga memperlihatkan sketsa gambarnya dan sangat sesuai dengan kekasih Tuan" jawab si pelayan tadi gemetaran.

"Tenanglah, aku bukan pembunuh" sahut Sasuke melihat tangan pelayan itu gemetaran.

"Aku mengerti Tuan. Tapi... aku takut pada mereka. Mereka sangat jahat Tuan. Mereka menculik dua orang gadis yang mungkin seusia dengan kekasih Tuan"

"Seperti apa ciri-ciri mereka?"

"Mereka seperti..." tanpa sadar si Pelayan tadi menoleh kepintu masuk, "I..itu mereka Tuan"

Dua pria besar kembar identik, sudah berdiri di depan pintu masuk. Keduanya susah di bedakan andai saja warna rambut keduanya tidak sama. Gaya dan sikap mereka begitu angkuh. Orang yang sudah mengenal mereka, langsung buru-buru membayar makanannya dan pergi.

"Kalian berdua kenapa?" tanya Sasuke pada kedua gadis didepannya.

Kedua gadis itu tidak langsung menjawab, tapi yang jelas, mereka berdua menggigil ketakutan.

"Apakah mereka yang..." Sasuke tidak melanjutkan ucapannya, ia bisa menebak, mengingat ucapan pelayan yang sebelumnya kalau kedua kembar itu pernah menculik gadis desa mereka.

"Jadi mereka yang memperkosa kalian!" kali ini Sakuralah yang menggeram. Ia mengerti bagaimana rasanya jika sudah menjadi korban pemerkosaan. Karena ia pernah mengalami hampir di perkosa. Tapi baru 'hampir' saja, rasanya sudah begitu menyakitkan, bagaiman jika sudah terjadi.

"Kenapa kau pergi hah! Kau jijik dengan kami!"terdengarlah hardikan dari pria yang berambut perak pada salah seorang pengunjung.

Sasuke dan Sakura kembali menoleh pada si kembar tadi.

Sasuke dan Sakura masih belum bergeming melihat ulah mereka.

"Ti.. tidak tuan, aku hanya..."

Prokk!

Ucapan orang itu terhenti seketika. Isi kepala pengunjung tadi langsung berhamburan ketika si pria berambut emas langsung menghantam kepalanya.

Pengunjung yang lain berhamburan saat menyaksikan kengerian di depan mereka. Mereka mulai kabur ada yang mendobrak dinding. Ada juga yang melompat melalui pentilasi.

"Keparat hina! Aku kan, yang kalian cari" Sakura tiba-tiba saja menghardik kedua kembar itu. Ia sudah tidak tahan melihat ulah kedua orang yang kurang ajar itu.

Si Kembar atau Gin dan Kin menoleh. Bukannya kaget, mata mereka malah berbinar.

"Lihat Kin, kita cari kemana-mana, akhirnya muncul sendiri. Itu artinya kita bisa merobek vagina dan anus Tsunade" teriak Gin sambil tertawa keras.

"Tsunade?" mata Sakura membulat, apa maksudnya dengan membawa-bawa nama mantan atasan wanitanya.

"Tapi, Kak Gin, ternyata dia lebih cantik dari pada... he..he...he.. kau mengerti kan?" balas si rambut perak Gin.

Ucapan kedua kembar itu membuat Sasuke malah meradang, ucapan kedua kembar itu jelas melecehkan kekasihnya. Tapi..

"Sakura" Sasuke terlambat mencegah tindakan Sakura.

Sakura memang sudah sangat jengkel dengan ucapan dan ulah Gin dan Kin. Sakura langsung menggebrak tanpa menghiraukan panggilan Sasuke.

"Hm, biar aku yang menangkapnya" sahut Gin sambil menyambut serangan cepat dari Sakura.

Bett!

Terdengar suara desingan pedang pendek milik Sakura yang hendak merobek leher Gin, tapi pria berambut warna emas itu sangat percaya diri, tangan kanannya bermaksud memapak serangan pedang pendek Sakura.

Sakura bukanlah orang ceroboh mau mengadu kekuatan, pedang pendeknya di putar sedemikian rupa dan menghujam menuju jantung Gin.

Plakk!

Cepat bukan main tangan Gin, tangan yang semula mengibas, kini berubah menjadi memapaki tusukan dari Sakura. akibatnya Sakura sedikit terjajal kebelakang. Sakura dengan sigap memasang kuda-kuda.

"Haat!"

Gin langsung menyerang, dengan kecepatan melebihi kecepatan serang Sakura tadi. Beruntung bagi Sakura, sejak bersama Sasuke, ia lebih sering latihan meningkatkan kecepatan reaksinya terhadap gerakan lawan. Semua berkat Sasuke yang memiliki Jutsu Gerak Kilat.

Meski belum sesempurna milik Sasuke, tapi cukup untuk membaca serangan cepat dari Gin.

Plakk!

"Akh"

Sakura kaget, ternyata kekuatannya masih berada di bawah Gin. Akibatnya Sakura terdorong jauh kebelakang.

"Sakura!"

Slatchs!

Sasuke menggunakan Gerak Kilatnya untuk menangkap tubuh Sakura yang melayang, jika tidak, Sakura akan membentur tiang penyanggah yang ada di belakangnya.

Gin juga cukup kagum dengan kekuatan yang di miliki Sakura. Dari benturan tadi, ia membenarkan ucapan Tsunade kalau Sakura adalah gadis yang cukup tangguh.

"Ternyata kau hebat juga cantik. Mungkin kau sama hebatnya di ranjang" ejekan kembali terlontar dari mulut Gin.

Sakura makin menggeram. Ia bersiap mengulangi serangannya.

Grep!

Sasuke menggenggam lengan Sakura.

"Serahkan mereka padaku, mundurlah dan jaga kedua gadis itu"

Sakura menatap ke arah Sen dan Fu, Sakura membenarkan ucapan kekasihnya. Kedua gadis itu harus ada yang meyakinkan kalau mereka berdua aman jika masih ada Sasuke dan dirinya.

Sakura menyingkir, ia juga tidak yakin kalau bisa mengimbangi kekuatan pria kembar itu.

"Ah! Rupanya ada pahlawan yang akan menjadi saingan kita, Kin" kembali nada mengejek dari Gin pada Sasuke.

"Dia kekasihku, dan kalau kalian ingin memilikinya, kalian harus mengalahkanku. Itu jika kalian bisa" balas Sasuke, bahkan dengan tatapan siinis meremehkan.

Kedua pria kembar itu sangat kesal karena merasa di remehkan. Keduaanya pun saling mengangguk untuk menyerang bersama, agar pekerjaan mereka cepat selesai.

Gin mengawali serangan.

Wuss!

Gin yang terlebih dahulu melesat dengan kecepatan melebihi kecepat Kin tadi. Sasuke dengan tenang sedikit menekuk lutut sambil memiringkan tubuh kebelakang, sehingga tubuh Gin melayang di atas tubuhnya. Kemudian menyodok ujung kakinya ke dada Kin.

Buk!

Posisi tubuh Gin yang tadi, melintang kini berubah posisi di udara akibat sodokan kaki Sasuke dari bawah barusan.

Belum cukup dengan satu kali serangan, Sasuke kembali bergerak jauh lebih cepat lagi, ia memutar tubuh sedemikian rupa sehingga posisi tubuh Gin yang tadi masih di udara kembali mendapat serangan telak.

Buagh!

Gin melayang dan membentur dinding kedai tadi hingga jebol. Dan tubuh Gin pun berada di luar.

"Brengsek!" Maki Gin yang kini sudah berada di luar kedai.

Tapi sebelum Gin bertindak, kembali dindingnya jebol. Kin juga sudah terlempar keluar dari dalam kedai akibat serangan Sasuke.

"Lamban sekali!" suara Sasuke sudah berdiri tidak jauh dari mereka.

Si kembar itu kesal karena mereka berdua bisa di singkirkan dalam waktu sangat cepat.

"Kurang ajar, Kak Gin, kita serang saja bersamaan" kembali Kin yang memaki.

"Siap!" sahut Gin.

Setchs!

Keduanya pun bergerak dan meningkatkan kecepatan mereka secepat mungkin sambil menyodorkan pukulannya.

Sasuke kembali dengan tenang menangkap tangan kedua pria itu dan dengan memanfaatkan kekuatan lesatan dan melemparnya kebelakang.

Kembar kembali melanjutkan serangan pada Sasuke yang masih dalam posisi membelakangi mereka. Sasuke cuma memutar tubuh dengan memajukan salah satu kakinya. Dan lagi-lagi serangan si kembar itu meleset.

"Haaah"

Gin yang lebih cepat memperbaiki keadaaan, ia langsung mengibas tangannya pada leher Sasuke.

Plak!

Sasuke menggunakan lengannya untuk menahan serangan Gin. Sedetik kemudian Kin menyusun serangan menyusul Gin.

Kali ini Sasuke Cuma menghindar dan beringsut kebelakang.

Sasuke terus mundur kebelakang, menghindari atau menahan serangan cepat Gin dan Kin yang datang silih berganti.

Memang dalam pertarungan menghadapai keroyokan seperti itu. Setiap kali memapaki atau menghindari serangan, maka akan ada ruang yang terbuka untuk menjadi sasaran serangan.

Seperti itulah Sasuke melawan si kembar ini, setiap kali ia mempakai serangan Gin, maka Kin yang melihat ada ruang serangan. Dan Sasuke harus buru-buru menutupi ruang serang yang lain.

Sangat tepat bagi Sasuke, kedua kembar itu memasukan serangan secara bersamaan.

Plakk!

Sasuke memapaki serangan Gin dan Kin yang datang secara bersamaan. Akibatnya Si Kembar terjajar kebelakang. Tidak hanya itu, keduanya harus bersalto agar tidak terjerembab.

Sakura yang dari tadi menyaksikan pertarungan makin khawatir, bagaimana tidak, ia melihat Sasuke di desak. Soal kecepatan Sasuke masih unggul, tapi serangan kedua kembar itu sangat cerdik saling menutupi pertahanan atau membantu serangan.

"Bedebah!" maki Si Kembar.

"Hanya seperti ini, yang ingin membunuh kekasihku" ucap Sasuke menyindir. Ia melangkah mendekati Gin dan Kin. "Majulah dan dapatkan kekasihku" Sasuke mengangkat tangan kanannya sambil menggoyangkan jari telunjuknya.

"Kau akan mendapatkan yang kau mau, brengsek!" maki Gin. Ia mencabut pedangnya di susul Kin.

Slatcsh!

Keduanya menyerang secepat kilat.

Wuss!

"Akh"

Gin dan Kin kaget. Sasuke sudah tidak berada di tempatnya lagi. Keduanya sangat heran. Masih ada orang yang melebihi kecepatan mereka.

Keduanya menengadahkan kepala, dan ternyata Sasuke sudah melayang di atas kepala menyiapkan jutsunya.

"Kagutsuchi"

Wussh!

"Sial" Gin juga harus bergerak secepat kilat menghindari jutsu itu.

Gin selamat dari serangan Sasuke, tapi Kin tidak. Begitu Sasuke melepaskan serangan Jutsu pada Gin, ia memutar tubuh sambil melayangkan tendangan pada Kin.

Akibatnya Kin melayang menuju Gin yang tadi sempat menghindar.

Pertarungan berlanjut makin seru, Gin dan Kin menyerang dari dua arah. Terkadang Gin dan Kin menyerang dari depan. Cepat bukan main kecepatan keduanya datng bertubi-tubu dan saling bergantian.

Sasuke masih dengan tenang menghindar sambil melangkah mundur, hanya sekedar menghindar atau memapaki serangan lawan.

Dan hingga pada saat berikut, Sasuke tidak menghindar tapi justeru menahan serangan dengan menggunakan lengannya.

Plakk!

Gin dan Kin kembali mengarahkan tendangan mereka ke arah perut dan Sasuke secara bersamaan.

Setchs!

Lagi-lagi serangan mereka mengenai tempat kosong. Sasuke sudah tidak ada di tempat. Gin melotot, Sasuke sudah berada di belakanng Kin bersiap menyabet pedangnya.

Crass!

"Aaakh!"

Tubuh Kin terbelah dari bahu kiri atas menuju pinggang bawah.

"Kin!" teriak Gin melihat adiknya telah tewas.

Gin menggeram menatap Sasuke, "Kau akan membayarnya!"

Keduanya pun mulai menggunakan kecepatan kilat untuk saling menyerang, sehingga keduanya menjadi tampak seperti dua bayangan yang saling menyambar.

Sesaat tampak kedua bayangan itu berpisah agak berjauhan, lalu kembali saling menyambar.

Crass!

Keduanya berdiri saling membelakangi. Sedetik kemudian Gin oleng kedepan sambil memegangi dadanya, yang sudah di aliri darahnya.

Rasa perih terasa berpendar di bagian depan tubuhnya, Gin lalu menatp kebawahnya. Matanya sedikit membelalak, tenyata tidak hanya satu luka. Tapi ada beberapa luka sabetan seperti ia baru saja di sayat-sayat oleh beberapa pedang pula.

Sasuke menoleh pada Gin, "Kalau soal kecepatan kau tidak akan menang dariku"

"Keparat!" geramnya Gin. Ia tidak peduli lagi, dengan rasa perih yang amat sangat di bagian depan tubuhnya

Gin kembali mengawali serangan dengan, ia mengarahkan pukulannya. Tapi kali ini Sasuke memapaki dengan mudah bahkan Gin menjadi terhuyung karenanya.

"Kena kau"

Gin dengan cepat memutar tubuh, ia langsung mengarahkan tinjunya ke dagu Sasuke.

Plakk!

Sasuke kembali memapaki tinju Gin. Bahkan sampai memegangi lengan Gin. Gin kaget. Selanjutnya Sasuke meletakan kakinya di atas lutut Gin untuk mengunci pergerakan Gin. Lalu Sasuke mencabut pedangnya. Dalam posisi yang terkunci sedemikian, Gin tidak sempat lagi menghindar.

Crass!

Pertarungan berakhir setelah kepala Gin turut menggelinding.

Sasuke menarik nafas panjang. Ia menoleh saat mendengar Sakura yang memanggil namanya.

Sakura segera memeluk Sasuke penuh kekhawatiran. Kalau Sasuke sering mengkhawatirkan Sakura. maka mungkin Sakura jauh lebih menghawatirkan Sasuke. Selama dalam perjalanan bersama, Sasuke lah yang lebih sering bertarung dari pada Sakura.

Sakura juga sudah tahu kemampuan Sasuke yang pilih tanding, tapi tetap saja sebagai seorang wanita sekaligus kekasih, Sakura pastilah khawatir.

"Sakura" Bisik Sasuke, "Banyak orang yang melihat kita"

Sakura menggeleng, "Aku tidak peduli" ia malah mempererat pelukannya.

Sasuke cuma bisa tersenyum dan membelai pucuk kepala Sakura. Seperti itulah Sakura jika selesai bertarung melawan lawan yang tangguh.

Sasuke kembali menatap sekeliling, orang-orang yang tadi bersembunyi, kini sudah mulai bermunculan. Dari tatapan mereka. Nampak sekali ungkapan terimakasih dari mereka.

...

...

...

TO BE CONTINUE