Naruto © Masashi Kishimoto

LIFE

Warning : Typo, EYD yang tidak tepat, tidak jelas, belibet, gak nyambung dan sebagainya.

Dibutuhkan kritik dan saran dalam bentuk apapun, akan diterima dengan senang hati :)


balas review.. makasih ya udah me review fict ini :)

hanazono yuri : Lanjuuut ( ini sudah dilanjut :) )

Luca Marvell : huaa...jangan sampek itachi dibenci. dia terlalu keren untuk dibenci...
paati sasuke dapet balasan dari sasori! ( hahaha, enggak kok. Persahabatan mereka terlalu kuat untuk saling membenci. Mereka kan friend forever :) )

.gee : Wahhhh cerita.a seru, ikut larut setiap scene.a,,,,dan ini ItaSaku kan :), aku suka. ( wah, terima kasih banyak udah suka. Benar sekali, pairnya memang ItaSaku. Baca terus yaa :) )


Uchiha itachi memasuki apartementnya. Melangkahkan kakinya menuju sofa diruang tengah. Hari ini entah mengapa ia merasa begitu lelah, fikirannya tak hanya tertuju pada pekerjaannya tapi sebagian dari fikirannya juga tertuju akan kehadiran dari gadis merah mudah itu. Dapat sedikit mengalihkan atensinya, tentang Uchiha dan hubungan dengan gadis itu apa?. jika dilihat-lihat dari sosok gadis itu usianya kemungkinan masih dalam hitungan belasan. Didalam keluarga Uchiha kakeknya hanya memiliki dua anak laki-laki. Uchiha Fugaku dan Uchiha Yamada yang merupakan kakak dari ayahnya. Ayahnya Uchiha Fugaku menikah dengan Uchiha Mikoto memiliki dua anak ia dan adiknya. Sementara pamannya memiliki anak yang lebih tua tiga tahun dari Itachi yaitu Uchiha Obito atau Tobi.

Dirinya kini berusia 23 tahun berarti Tobi berusia 26 tahun dan mereka berdua tidak pernah bertemu Sakura, ini yang pertama. Kalau begitu apa semua ini ada hubungannya dengan adiknya, Uchiha Sasuke. Dia sekarang berusia 18 tahun. Sakura dan Sasuke, apakah.. Itachi mengusap wajahnya kasar akan kemungkinan yang dia fikirkan sendiri. Dari raut ketakutan gadis itu saat mendengar nama Uchiha.. sudah cukup membuktikan jika ada keterkaitan. Tapi apa? apa yang Sasuke lakukan pada Sakura sampai membuat gadis itu serapuh itu.

"Sasuke" gumam Itachi

.

.

Sasori masih setia menunggui Sakura yang belum juga sadar. Hingga tak sadar jika ia mulai tertidur. Dengan meletakkan kepalanya disamping ranjang Sakura dan masih dengan menggenggam tangan adiknya.

"ku m-mo-hon jangan" Sakura gelisah dalam tidurnya "le-pas-kan a-ak-u" ia berkali-kali mengigau dan menggerakkan-gerakkan tubuhnya hingga membuat Sasori terbangun. Melihat keadaan adiknya, membuatnya panic lalu ia mencoba menepu-nepuk pelan pipi Sakura agar Sakura bangun.

"Saki..Saki..bangun" berulang kali Sasori mencoba akhirnya Sakura bangun dengan sedikit tersentak. "ada apa? kau mimpi buruk hmm" pelukan erat dari adiknya membuat Sasori berfikir jika adiknya mengalami mimpi buruk. Ia pun mengelus surai panjang Sakura sesekali bergumam kata 'tenang, semua akan baik-baik saja. Niichan bersamamu' melihat Sakura mulai tenang dan nafasnya juga mulai teratur kembali, Sasori melepaskan pelukannya kemudian meminta Sakura untuk kembali tidur karena memang hari masih sangat malam untuk bangun. Adiknya itu pun menuruti perintahnya dalam diam.

Bulan telah tergantikan oleh matahari. Udara sejuk terasa di kota Paris pagi ini, kota yang terkenal sebagai kota mode dunia selain terkenal karena menara Eiffel nya. Tidur Sasori sedikit terusik akibat cahaya matahari yang tanpa permisi melewati celah jendela mengenai wajah tampan nan imut miliknya. Sedikit mengerjabkan matanya agar mampu menerima cahaya masuk, secara perlahan . Sasori pun merenggangkan tubuh lalu bangkit dari duduknya. Tidur dengan posisi duduk memanglah tidak baik, semua tubuhnya seakan mati rasa. Tapi apapun demi Sakura akan ia lakukan. menundukkan tubuhnya guna mengecup kening adiknya yang masih terbuai dalam mimpinya. Sasori keluar dari kamar sakura, menuju kamarnya dan mandi setelah itu membuat sarapan.

Satu jam kemudian Sasori kembali ke kamar Sakura, membawa segelas air putih dan semangkuk bubur. Terlihat oleh netra cokaltnya Sakura sudah bangun, gadis itu sedang mendudukan tubuhnya dengan bersandar di kepala ranjang. Senyum tulus Sasori berikan untuk adiknya meski tak berbalas. "nii-chan membuatkanmu bubur. Makan ya. Nii-chan suapin" ujar Sasori seraya menyendokan bubur lalu mengarahkan pada mulut Sakura yang sedikit terbuka. Sasori tahu keadaan ini tak lagi sama namun Sasori bertekad pada dirinya membuat keadaan kembali sama seperti dulu dan ia akan mendapatkan kembali adiknya juga.

"kau tahu Saki, kau adalah satu-satunya harta berharga yang nii-chan punya. Apapun yang terjadi padamu sekarang ini.." Sasori menatap adiknya, acara makan Sakura sudah selesai meski tak sepenuhnya habis hanya setengah saja tapi Sasori tak keberatan yang penting perut adiknya terisi makanan "..nii-chan merasa bersalah padamu. Nii-chan merasa telah gagal menjadi kakak yang baik untukmu, tidak bisa menjagamu. Maafkan nii-chan Saki"

"apa yang kau katakan nii-chan. Saki baik-baik saja. Beri Saki waktu" lirih Sakura dengan menundukkan wajahnya.

"tatap nii-chan Saki" Sakura mendongak menatap Sasori "jika kau rasa sudah tepat waktunya, bicaralah padaku. Katakan semua masalahmu. Jangan diam seperti ini. kembalilah seperti Sakura yang dulu. Bagi bebanmu pada nii-chan Sakura" Sakura menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis. Ia tak sanggup menatap kakaknya seperti ini tapi ia juga butuh waktu untuk mengembalikan semuanya. Menormalkan kembali hantinya. Memulihkan kembali jiwanya. Ia Cuma butuh waktu. Dekapan hangat Sakura rasakan, Sasori memeluknya penuh kasih sayang. Sunggh Sakura tak tega pada kakaknya.. 'maafkan Saki nii-chan' batin Sakura.

.

.

Hari beranjak sore, Sakura masih berada didalam kamarnya. Sasori sudah pergi bekerja karena meeting penting yang mengharuskan dia sendiri yang datang bukan lagi perwakilannya Yamato. Sakura termenung memikirkan kejadian sebelum ia pingsan. Pemuda itu bermarga Uchiha, Sakura meyakinkan dirinya sendiri jika pemuda itu bukan Uchiha yang sama. Setiap orang pasti memiliki sikap dan sifat yang berbeda.

Apapun itu, ia harus bangkit dari keterpurukan ini demi kakaknya. Ia tidak bisa terus larut dalam kesedihan dan membuat kakaknya khawatir akan dirinya. Kakaknya memiliki tanggung jawab yang besar pada perusahaan bukan hanya mengurusi dirinya saja. Ia harus mengerti. Perlahan bangkit, mencoba kuat dan tegar bukanlah hal buruk. Sakura harus melakukannya, ya harus. Secara perlahan ia harus, memang semua butuh proses. Untuk sekarang menyelesaikan pendidikan juga penting, tak boleh ketinggalan. Langkah awal Membuat kakaknya bangga dengan kelulusan dirinya.

Sakura perlahan beranjak dari tempat tidur, tubuhnya masih lemah. Dengan bantuan tongkat infus ia mampu berjalan menuju meja belajarnya yang sudah ada semenjak ia datang. Membawa benda berbentuk persegi panjang untuk ikut bersamanya diatas ranjang. Ia ingin mencari informasi sekolah yang baik lalu membicarakannya dengan kakaknya saat kakaknya itu datang.

.

.

Terdengar bunyi pintu terbuka, Sakura mendengar beberapa langkah kaki mulai memasuki apartement kakaknya dan kemungkinan mereka adalah teman-teman kakaknya. Kakaknya memasuki kamarnya dengan senyuman tulus terukir diwajah sang kakak.

"bagaimana keadaanmu Saki?" Tanya Sasori.

"baik nii-chan"

"apa Yamato menjagamu dengan baik?" kali Sakura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Sasori. "Sakura, teman-temanku ingin menjengukmu. Dan emm.."

"apa yang ingin kau katakan nii-chan?"

"pemuda yang berkenalan denganmu waku itu, ia juga ingin bertemu denganmu. Ia hanya ingin meminta maaf. Bolehkah?" Sakura terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu sebelum menyetujui permintaan Sasori. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri, jika semua orang tidak sama. Ya tidak sama lagi pula ia tidak ingin mengecewakan kakaknya dan juga teman-temannya yang meluangkan waktunya ditengah kesibukan mereka untuk menjenguk dirinya. "arigatou Saki"

Sasori pun keluar dari kamar Sakura untuk memanggil teman-temannya yang menunggu diruang tengah. "kalian masuklah"

"ngg senpai, T-tobi juga boleh m-ma-suk?" Sasori mengangguk meng iyakan pertanyaan Tobi dan membalikkan tubuhnya kembali menuju kamar adik kesayangannya diikuti yang lainnya. "yyeaayyy" teriak girang Tobi.

Mereka semua memasuki kamar Sakura, wangi cherry berpadu dengan bunga sakura menyapa hidung mereka. Wewangian yang menenangkan. Mereka tersenyum pada Sakura dan dibalas senyum tipis oleh Sakura lalu berjajar berdiri mengelilingi ranjang Sakura, Sasori sendiri duduk ditempat yang sama saat ia menjaga adiknya.

"hai, Sakura-chan namaku Konan. Salam kenal" seorang perempuan bersurai ungu pendek memperkenalkan diri pada Sakura, senyum tak luput diwajah perempuan itu. "jika kau butuh sesuatu bilang saja padaku. Apartementku berada dilantai enam datang kapan saja kesana. Pintuku terbuka lebar untukmu. Aku membelikan ini untukmu, cepat sembuh ya.." cerocos Konan tanpa henti membuat para pria maklum.

"a-arigatou Konan nee. Ini indah" senyum terukir diwajah Sakura, ditangannya terdapat jepit rambut berbentuk bunga sakura sedang berwarna pink tentunya dan warna gold untuk penjepitnya.

"kau cantik sekali, jika tersenyum seperti itu. Teruslah tersenyum"

"berhentilah berbicara Konan un, biarkan aku memperkenalkan diri huu" Konan mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam sang pengganggu tapi tidak diperdulikan "ehem, namaku Deidara. Aku penyuka rakitan, datanglah ke apartementku dilantai empat jika kau ingin lihat berbagai macam rakitan buatanku"

"arigatou Dei-nii. Salam kenal"

"aku Pein, salam kenal"

"salam kenal Pein-nii"

"aku Zetsu, aku penyuka tanaman. Jika kau ingin menghirup udara sejuk katakan padaku. Aku akan mengantarmu kekebunku. Kau pasti suka"

"aa arigatou Zetsu-nii"

"aku Kisame,salam kenal"

"salam kenal Kisame-nii"

"aku Hidan, berdoalah bersamaku dikuil jika kau ingin"

"iya, salam kenal Hidan-nii"

"hai, namaku Kakuzu. Salam kenal semoga kau betah di Paris yang serba mahal ini"

"salam kenal Kakuzu-nii"

Mata Sakura beralih pada laki-laki disebelah Kakuzu. Laki-laki bersurai hitam panjang, diwajah laki-laki itu terdapat kerutan di kedua sisi hidungnya dengan Mata hitam oniks.. deg. Tubuh Sakura seketika menegang, dia mirip dengan orang itu bedanya hanya di kerutan, garis rahang, surai dan tatapan tidak setajam orang itu malah terlihat lebih lembut. Sakura mencoba mengendalikan dirinya untuk bersikap biasa didepan pria itu. Apalagi mata itu sedari tadi selama perkenalan menatapnya intens, Sakura tahu tapi tidak ingin mencari tahu siapa pelakunya kini ia tahu dan tatapan mata mereka pun sempat terkunci beberapa detik membuat Sakura merasa tidak tenang sendiri. "hn, Itachi salam kenal"

Sakura mengalihkan pandangannya. Tak ingin menatap sosok Itachi terlalu lama. Ada rasa takut menyelimuti hatinya. "s-salam kenal"

"ngg Sakura-chan sebelumnya maafkan aku,kemarin..kemarin itu.." pembicaraan Tobi terputus-putus ia bingung bagaimana mengungkapkannya. Ia juga takut Sakura pingsan lagi setelah melihatnya. Bisa bahaya jika berurusan dengan Sasori nantinya.

"tak apa, Tobi-nii tidak salah. Salam kenal Tobi-nii"

Mata Tobi berkaca-kaca layaknya anak kecil yang usai mendapatkan apa yang dia mau sesudah lama menangis "huaaa Sakura-chan sangat baik. Arigatou Sakura-chan" pembicaraan antara mereka pun tak terelakkan. Meski lebih dominan Konan, Tobi dan Deidara yang membuat suasana hidup. Sakura hanya sesekali menanggapi obrolan mereka saat ditanya. Sisanya mengobrol dengan Sasori disofa kamar Sakura. Lagi Sakura merasakannya lagi, tatapan tajam intens itu terus saja menatapnya. Jantungnya terasa bekerja dua kali lebih cepat. Ingin sekali ia segera pergi dari sini menjauh dari pemuda itu. Tapi ia tak bisa.

"nii-chan" ingat sesuatu yang ingin dibicarakan dengan kakaknya, Sakura pun memanggil kakaknya. Salah satu cara untuk tidak peduli akan tatapan itu. Ia sendiri tak peduli juga semua memandangnya. Sasori melangkah menghampiri adiknya, berdiri disamping ranjang Sakura.

"ada apa?" semua atensi teralih pada kakak beradik itu sehingga membuat keadaan hening seketika.

"aku ingin kembali bersekolah"

.

.

.

Mereka semua memutuska untuk berpesta kecil untuk kedatangan Sakura di Paris. Memesan bebrapa makan delivery sebagai pelengkapnya. Ada yang sedang asyik bermain game melalui playstation Sasori dan adapula yang mengobrol dengan Sakura, meski hanya ditanggapi tak terlalu berarti. Sasori hanya berharap agar adiknya bisa membaur dengan teman-temannya, melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Dan kembali menjadi Sakura yang dulu.

Sedangkan seorang pemuda bermata hitam oniks sekelam malam tengah asyik dengan dunianya sendiri memandang perempuan berambut merah muda yang sedang mendengarkan obrolan bersama teman-temannya sesekali menanggapi dengan senyuman atau hanya gumaman. Ada satu hal yang difikirkannya tentang perbedaan sikap, pandangan mata gadis itu kearahnya sungguh berbeda dari memandang teman-temannya yang lainnya. Apalagi saat perkenalan tadi begitu terlihat jelas, mata emerald itu takut menatapnya bahkan saat tidak sengaja mata mereka bertemu Sakura langsung memalingkan wajahnya seperti enggan untuk melihatnya. Sungguh ia tak tahu apa salahnya kenapa Sakura terlihat begitu err membencinya. Padahal mereka baru bertemu hari ini. Sungguh Itachi tak suka ini, ia tak suka diacuhkan.

Itachi memijat pangkal hidungnya, lama-lama memikirkan itu membuatnya pusing. Ia gelengkan kepala mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang banyak menghampirinya. Penasaran adalah hal yang dirasanya untuk saat ini membuat rasa keingintahuaan semakin kuat menghampiri. Jika ada waktu berdua dengan Sakura entah itu kapan Itachi harus mencari tahu berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin apalagi jika itu berkaitan dengan adiknya. Bagaimana mungkin hanya melihat mata emaerald gadis itu saja menggetarkan hatinya, degub jantungnya menjadi begitu cepat tidak seperti biasanya.

Ada apa dengannya sakitkah ia, atau ada satu hal yang lain. Atau Rasa yang selama ini belum pernah ia rasakan, hati yang selama ini belum pernah tersentuh siapapun meski banyak wanita yang mendekatinya ia tak tertarik namun ia tak pernah merasakan hal seperti ini selama hidupnya ia tak mengenal cinta. Dan kini terasa berbeda. Memikirkannya pun membuat perutnya melilit seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan.

"hn, kau kenapa ?" Sasori bingung melihat salah satu temannya yang duduk disampingnya termenung sambil menatap sang adik yang tengah bercanda dengan teman teman lainnya.

"hn" mendapat jawaban tak berarti dari lawan bicaranya, Sasori pun mencoba untuk tidak memperdulikannya. Acuh sajalah. Tidak sadarkah Sasori bahwa orang disekitar dirinya juga merasakan begitu karena gumamannya juga. Tidak enakkan diacuhkan.

Itachi Uchiha, kakak dari Sasuke yang telah menghancurkan Sakura. Sasori tidak menyadari kalau orang terdekatnya adalah kunci untuk mengetahui siapa yang telah menghancurkan adiknya. Itachi lama diparis bersama Sasori dan yang lainnya. Ia jarang pulang ke kota kelahirannya, sehingga ia tidak tahu bagaimana kelakuan adik semata wayangnya disana.

Itachi hanya menghubungi ibunya lewat e-mail atau terkadang menelfonnya untuk menanyakan keadaannya serta adik dan touchannya. cukup tahu saja hubungan Itachi dengan adiknya tidak begitu dekat. Entah karena apa, meski begitu Itachi tetap menyayangi adiknya itu meski setiap bertemu selalu diberi tatapan kebencian dan rasa tidak suka. Sakurapun juga tidak mengetahui hal ini, setidaknya belum tahu tapi untuk sekarang itu lebih baik bukan.

.

.

.

Seorang pemuda bersurai hitam panjang dikuncir rendah melangkah memasuki kamarnya, setelah seharian waktunya ia habiskan waktunya dikantor dan berpesta kecil diapartement Sasori yang berada tepat didepan apartementnya. Merebahkan diri diranjangnya setelah melepas jas serta dasi yang ia pakai seharian ini.

Menatap langit – langit kamarnya mengingat lelah yang menderanya sepintas terlibat bayangan seorang perempuan pemilik rambut berwarna merah mudah layaknya kelopak bunga sakura, mata hijau jernih seperti daun bisa dibilang perempuan itu layaknya pohon sakura ditambah dengan segala kemysteriusan yang tercipta didalam diri perempuan itu. Awal pertemuan setelah insiden Obito jujur senyuman yang dimiliki perempuan itu manis, menenangkan tapi ia akui senyum itu senyum palsu yang dipaksakan sedangkan mata itu terlihat kosong, hancur, kecewa dan tertera kesedihan yang mendalam. Ada apa dengannya? Membuatnya sungguh penasaran.

Sadar akan pemikirannya tentang adik salah satu sahabatnya itu, Itachi menggelengkan kepala hendak mengusir pikiran pikiran aneh yang berkelibat dalam pikirannya. Bangkit dari tidurannya Itachi berjalan menuju kamar mandi yang memang ada didalam kamarnya. Mandi mungkin dapat menghilangkan penat dan berbagai macam pemikiran diotaknya. Begitu pikirnya.

.

.

.

Bersamaan dengan itu ditempat berbeda dan diwaktu yang sama, seorang perempuan pemilik rambut merah mudah mata jernih sehijau daun memikirkan sesuatu yang membuat hatinya gelisah, sembari berbaring diatas tempat tidurnya. Mengingat sosok pemuda yang merupakan teman kakaknya, begitu mengingatkannya tentang pemuda yang telah menghancurkan dirinya. Mata itu sama namun memiliki arti berbeda. Meski sama sama memiliki mata oniks hitam sekelam malam bedanya, mata yang ia lihat hari ini menyiratkan akan keramahan dan kekaguman ketika menatapnya sedangkan mata pemuda yang ia benci menyiratkan akan keangkuhan terlihat sungguh berbeda.

Pemuda itu cukup tampan dengan guratan memanjang dibawah kedua matanya, memiliki rambut panjang yang dikuncir rendah sekilas mereka berdua mirip. Apa mungkin…?, tidak. Sakura menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran yang menurutnya aneh. Tidak mungkin. Mereka sungguh berbeda.

Jujur ia tak ingin menatap pemuda itu, melihatnya pun Sakura enggan. Mungkin pemuda itu merasakan tingkah aneh Sakura ketika melihatnya saat perkenalan waktu itu. Bahkan pemuda itu pun terus memperhatikannya. Mata hitam oniks sekelam malam mengingatkan segalanya yang ingin ia lupakan segera. Sungguh ia tak ingin menatap mata itu, mata yang sama tapi berbeda pemilik.

Melihatnya akan membuatnya mengingat apa yang tak ingin diingatnya. Berharap ia tidak bertemu pemuda itu lagi meski kemungkinannya kecil karena mereka tinggal dibangunan yang sama, setidaknya tidak untuk sekarang sebelum ia bisa menenangkan dirinya. Menghentikan pemikirannya, Sakura bangkit dari tidurnya melangkah menuju kamar mandi. Guna membersihkan diri, menghilangkan lelah dan penat yang dideranya juga tentang pemuda itu untuk sementara.

Tahukah kalian berdua. Ditempat yang berbeda kalian berdua saling memikirkan seperti terhubung, melakukan hal yang sama tanpa disengaja. Apakah ini awal dari segalanya. Awal dari hidup baru atau cinta baru bahkan bisa saja kedua duanya. Entahlah. Lebih baik kita ikuti saja alur dari cerita abal-abal ini.

.

.

.

Pagi menjemput, setiap orang mulai melakukan aktifitasnya. Kesibukan di kota Paris tak pernah terhenti. Semua mengejar uang, uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang kan? Saat dimana kau hanya berdiam diri tanpa bertindak, disaat itu pula kau merasa dunia tak pantas untukmu. Disaat itu pula segala harapan yang selama ini ingin kau wujudkan terasa tak berarti lagi. Musnah. Jadi bangkit dan mulailah hari baru, lupakan segala apa yang terjadi dimasa lalu. Tatap masa depan, hadapi dunia. Tutup telinga, jika kau merasa ucapan mereka akan menghancurkanmu. Masa depanmu ada di tanganmu bukan mereka yang menghina dan merendahkanmu. Bangkit..bangkit..bangkit.. kau bisa.

Hari ini Sakura bertransformasi sebagai sosok baru yang akan kembali menuntut ilmu agar dapat mengejar mimpi-mimpinya dan membanggakan kakaknya. Kemarin malam, usai pesta kecil ia dan kakaknya melanjutkan pembicaraan mengenai keinginannya untuk bersekolah. Kakaknya pun menyetujuinya dan esoknya Yamato atas perintah kakaknya mencarikan sekolah untuknya. Sekarang tibalah hari ini ia akan bersekolah kembali. Dengan baju rajut berlengan panjang hingga menutupi separuh telapak tangannya berwarna hijau tua dipadu padankan bersama celana jeans juga syal hijau muda melilit dileher jenjangnya dan surai merah mudahnya digerai. Keluar dari kamarnya, netra hijau cerah miliknya bertemu pandang dengan hazel nut kakaknya. Senyum tipis pun terukir diwajah mereka berdua.

"ohayou Saki"

"ohayou nii-chan" ucap Sakura yang kini duduk berhadapan dengan Sasori, mereka menikmati sarapan pagi dalam diam. Menu ala kadar yang dibuat Sasori cukup untuk mengenyangkan perut mereka. Sandwich bersama segelas susu untuk Sakura dan kopi hitam untuk dirinya sendiri.

"hari pertamamu bersekolah, biarkan aku mengantarmu" Sakura mengangguk, meng iyakan keinginan kakaknya.

Kakak beradik melangkah keluar dari apartement, mereka berpapasan dengan Itachi yang juga keluar dari apartementnya. Kebetulan apartement Itachi dan Sasori berada dalam satu lantai, berhadapan.

"hn" sapa Itachi dengan gumaman andalannya.

"hn" Sasori melakukan hal sama, Itachi mendecak. Sedangkan Sakura menundukkan kepalanya tak ingin melihat sosok yang berdiri dihadapannya dan kakaknya. Mata laki-laki itu sejenak menatap Sakura beberapa detik sebelum beralih ke Sasori. "aku akan mengantar Sakura bersekolah, ini hari pertamanya"

"aa, aku mengerti. Selamat untukmu" ucap Itachi yang untuk Sakura tapi perempuan itu tidak menjawab masih dalam posisi yang sama menundukkan kepalanya. "semoga kau betah disini"

Mereka pun memutuskan untuk berjalan bersama menuju lift, tepat didepan lift ponsel Sasori bergetar sebuah panggilan dari sekretarisnya membuat kening sasori berkerut. Ia pun memilih menjauh untuk mengangkat telpon meninggalkan Itachi dan Sakura yang saling diam. Beberapa menit Sasori kembali "ne Saki, nii-chan tak bisa mengantarmu. Yamato akan menuju kesini dan dia akan mengantarmu. Kolega meminta untuk meeting pagi ini karena nanti mereka harus lepas landas ke London untuk urusan mendadak. Tak apa?" ujar Sasori dengan wajah menyesal menatap Sakura disisi kanannya didalam lift.

"hn Sasori, biarkan aku yang mengantarnya. Kita satu arah, sepertinya jika harus menunggu Yamato, Sakura akan terlambat" Itachi berujar dengan menunjuk jam tangannya bermaksud memberi tahu waktu pada Sasori.

"ti-tidak per-perlu, aku menunggu Yamato-san saja niichan" tolak Sakura secara terbata-bata.

"benar kata Itachi Sakura, kau ikut dengannya. Tidak baik untukmu dihari pertama sekolah kau terlambat. Tidak ada " jemari Sasori terarah mengelus puncak kepala Sakura "nii-chan berangkat dulu. titip Sakura, Itachi" melihat Itachi mengangguk, Sasori pun beranjak pergi menuju mobilnya.

.

.

.

Selama lima menit perjalanan didalam mobil Itachi terjadi keheningan. Baik Sakura maupun Itachi merasa enggan untuk memulai sebuah percakapan. Enggan bukan berarti tidak mau hanya saja mereka berdua bingung ingin mengucapkan apa.

"kau tau, aku merasa kau takut melihatku" Itachi memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta dan Sakura menjengit kaget akan pertanyaan tak terduga dari Itachi pada dirinya. ia tetap diam. "entahlah, aku hanya merasakan itu. Tak apa jika kau tak ingin menjawabnya tapi.." sejenak mata oniks milik Itachi melirik Sakura yang masih dalam posisi sama menatap jalan melalui jendela samping , sebelum ia sendiri kembali focus melihat jalanan didepan sana. "…tidak semua orang sama" Sakura menoleh cepat menatap Itachi, matanya membola mendengar penuturan pemuda yang empat tahun lebih tua diatasnya. Fikirannya tak focus, pandangan kosong. Sungguh ia bingung darimana Itachi bisa menyimpulkan seperti itu seakan ia tahu semuanya.

"kau bicara seolah kau tahu segalanya" seringai kecil muncul dibibir Itachi, akhirnya Sakura buka mulut juga.

"aku memang tidak tahu, tapi aku akan tahu" jawab Itachi seolah menantang Sakura.

"tidak ada yang bisa kau lakukan jika kau tahu semuanya" lirih Sakura, matanya kembali focus menatap pemandangan disampingnya.

"kau tahu, dalam dunia ini ada beberapa karakter orang disekitar kita. Topeng pun tak lepas dari orang-orang itu. Sekarang tinggal bagaimana cara kita lebih pintar dan cermat menilai tapi ingat satu hal apa yang kau pikir sama dari segi fisik belum tentu sama dari segi sifat atau tingkah laku. Itu Berbeda karena cover tidak menjamin segalanya terlihat"

.

.

.

TBC


Maaf kalau chapter ini tidak nyambung.. semoga suka. See you next chapter yaa…