Hi minna ! Rai datang kembali XD /oy
makasih udah mau ngereview XD
nanti rai balesnya lewat pm yaahh :D
disini Rai bikin scene romance yang gaje bgt ;;;
tapi rai harap itu sedikit menarik walaupun terlalu cepat :D
yoshh! ganbatte!
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke U., Sakura H.
Alur : Typo, OOC *maybe , Alur kecepetan walaupun sudah di bikin lambat sekalipun, aneh maybe, dll.
RaihanSofyan
Mempersembahkan
Letter's
.
.
.
.
Happy reading ^^
Normal POV
Paman Teuchi memandang kedua Uchiha di depannya, Mikoto dan Sasuke sedikit terkejut mengetahui apa yang baru dikatakan paman Teuchi.
"Apa? Bukankah dia seperti itu karena ibunya meninggal? Kizashi tak bercerita padaku-" ucapan Mikoto terhenti dengan sendirinya karena tidak percaya.
Sasuke hanya bisa terdiam, merasa ini bukan urusannya dia berniat keluar ruangan. Tapi ada hal yang menghentikan gerakannya, Sasuke melihat Kizashi yang masih lengkap dengan tuxedonya dan tas kerjanya sedang terdiam.
Merasa ini memang masalah, Sasuke lebih memilih diam ditempatnya. Sasuke sendiri masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi terhadap gadis pinky itu.
"Sakura, sudah tidak memiliki cita-cita yang dulu ingin dicapainya." Ucap paman Teuchi yang membuat Sasuke langsung menoleh ke arah paman Teuchi.
"Cita-cita?" tanya Mikoto yang bingung.
"Hn, iya. Cita-cita yang membuat-" ucapan paman Teuchi terpotong.
"Teuchi," panggil Kizashi yang menganggetkan Mikoto dan Teuchi.
"Tuan,"
"Kizashi?!" ucap Mikoto dan paman Teuchi berbarengan.
"Jangan lanjutkan lagi bicaramu itu," ucap Kizashi mulai berjalan ke arah mereka.
"Tapi Kizashi-" ucap Mikoto terpotong.
"Sudahlah Mikoto, semua ada waktunya. Sasuke, kau kembali ke kamarmu saja, biar Miya-san yang mengantarkanmu ke kamar barumu." Ucap Kizashi melihat ke arah Sasuke.
"Hn," ucap Sasuke langsung mengikuti arahan dari Miya yang berada tak jauh dari ruangan.
"Mikoto, kau juga ke kamarmu saja. Paman Teuchi, antarkan dia. Aku-"
"-akan menemui Sakura di kamarnya." Ucap Kizashi dengan melepaskan dasinya dan menghempaskan tasnya ke salah satu kursi makan.
"Baik, tuan Kizashi." Ucap paman Teuchi membungkukkan tubuhnya.
Mikoto mengikuti Teuchi, sedangkan Kizashi masih merenung di ruang makan. Satu bangku dia tarik untuk bisa duduk di bangku tersebut, kedua tangannya menyentuh dahinya seperti orang yang frustasi. Kizashi tahu kalau Sakura tidak bisa di tolong lagi, dia sudah berubah. Sakura tidak akan langsung menurut seperti dulu, Sakura hanya bisa menurut jika paman Teuchi yang mengatakan sesuatu kepadanya.
Di sisi Sakura, kini Sakura sedang duduk di depan meja riasnya. Dia menyentuh luka di bibirnya, perlahan tangan lembut itu perpindah posisi kearah pipi yang di tampar Mikoto barusan.
"Hm, seperti ini kah tamparan yang ibu rasakan dulu?" ucapnya dengan memandang dirinya sendiri di kaca cermin, lalu menundukkan wajahnya.
"Sakit ya," lanjutnya lagi. Sakura mengangkat tubuhnya berjalan menuju pintu.
"Apa ini juga yang di rasakan ibu sebelum pergi dari rumah?" desahnya kecil yang sudah memegang kenop pintu.
"Rasanya sangat perih." Lanjutnya lagi, ini lah kebiasaan Sakura. Tak ada yang bisa dia lakukan di rumahnya, tepatnya di kamarnya yang sepi.
Saat membuka pintu kamarnya, dia berjalan menuju pagar tangga yang membatasi lantai bawah dan atas, memegang pagar tangganya dan melihat sosok pria seumurannya sedang menaiki tangga.
Mereka saling bertatapan, hingga Sakura yang duluan memutuskan untuk berpaling melihat Mikoto yang ada di belakang Sasuke. Tangan Sakura mulai memegang erat pagar tangga itu saat melihat Mikoto, melihatnya dengan tatapan tidak suka.
Sasuke yang sedari tadi melihat Sakura, berhenti di depan tangga. Melihat gadis yang membuatnya selalu ingin menatapnya, Sasuke teringat apa yang di ucapkan paman Teuchi tadi. Dia penasaran dengan kisah lalu Sakura yang membuat dia berubah dan membuat semua orang yang ada di rumah ini tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
"Sasuke-san, kamarmu ke arah sini." Ucap Miya sang pembantu pribadi ayah si pinky Sakura yang membuat Sasuke berbalik arah menjauhi gadis itu.
"Hn," balas Sasuke seperti biasa dengan mengikuti Miya.
Sampai di kamar, Sasuke tidak terlihat terkejut dengan isi kamar ini. Ya dia pernah merasakan kamar seperti ini, jadi menurut Sasuke sendiri ini bukan apa-apanya yang membuat dia terkagum-kagum.
Dinding kamar di lapisi kertas dinding berwarna biru laut, dengan kasur king size berwarna biru dongker dan tataan meja belajar yang membuat kamar ini terlihat indah, di tambah lagi sofa panjang yang sedikit melengkung membuat kesempurnaan kamar ini semakin terlihat.
Sasuke mulai melangkahkan kakinya kearah kasur king size yang nyaman.
"Saya taruh disini koper anda, Sasuke-san." Ucap Miya-san yang langsung menaruh kopernya dan pergi keluar kamar setelah menutup pintu kamar tersebut.
Sasuke hanya diam, detik berikutnya dia membuka kemejanya dan melemparnya ke arah kasur. Sasuke masih menggunakan kaos putih lengan pendeknya dan melangkahkan kakinya keluar untuk melihat sosok gadis pinky itu, saat dia membuka kenop pintunya, sosok gadis pinky itu berdiri tepat di hadapannya dengan menundukkan wajahnya.
"Ha!" teriak pelan Sasuke yang terkejut melihat gadis yang ingin dia temui berada di depan hadapannya.
"Sedang apa kau disini?!" lanjut Sasuke.
"Menemuimu." Ucap Sakura singkat dengan wajah flatnya.
"Apa?! U-untuk apa?" tanya Sasuke lagi yang melihat aneh kearah Sakura.
'Kenapa moodnya selalu berubah dengan cepat? Bukankah tadi dia mengejekku? Sekarang dia menemuiku?' batin Sasuke.
"Untuk memastikan kamar baru adikku," ucap Sakura yang langsung masuk ke kamar Sasuke tanpa seizinin pemilik barunya itu.
"Hei! Kau! Tunggu," ucap Sasuke mengikuti Sakura.
"Kamar yang bagus untuk seorang adik laki-laki, ayah memang pintar memilih." Ucap Sakura melihat sekitar kamar Sasuke.
"Hei kau, bisakah tidak untuk memanggilku dengan kata 'adik'mu itu." Ucap Sasuke berdecak pinggang.
"Dan jaga kesopananmu di kamarku ini." Lanjut Sasuke yang behenti di belakang Sakura, Sakura menoleh kepalanya sedikit.
"Hm, dulu ini juga kamarku kau tahu? Dan sekarang jadi kamar barumu." Ucap Sakura yang mulai membalikkan tubuhnya.
"Apa perduliku?" Sasuke mulai mengejek, Sasuke melihat wajah Sakura yang di plester perban untuk menutupi luka dan bibirnya yang terluka sedikit. Walaupun seperti itu Sakura masih terlihat cantik.
"Tidak ada." Balas Sakura, terjadi keheningan di antara mereka sebelum Sakura membuka suara kembali.
"Apa ibumu sering menamparmu?" tanya Sakura yang membuat Sasuke tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Sasuke melihat Sakura yang perlahan menaikkan tangan mungilnya itu kearah pipi bekas tamparan ibu Sasuke, Mikoto.
"Tidak." Jawab Sasuke yang membuat keadaan di kamarnya menjadi hening kembali, sekarang giliran Sasuke yang membuka suara.
"Apa itu pertama kalinya untukmu?" tanya Sasuke yang membuat Sakura tersentak kaget, detik berikutnya Sakura menundukkan wajahnya kembali.
"Hn," ucap Sakura sambil menganggukkan kepalanya sedikit. Sasuke tahu perasaan Sakura yang di besarkan di keluarga kaya raya seperti ini, tidak cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang selalu bekerja lembur, dan sendirian tanpa saudara yang menemani.
Apa Sakura senang jika Sasuke hadir menjadi saudara tirinya atau memang dia tidak suka dengan Sasuke dari awal dia bertemu?
Sasuke mulai melangkahkan kakinya kearah Sakura, Sakura melebarkan matanya saat Sasuke mulai mengelus kepalanya dengan lembut.
"Sudahlah, ibuku tidak akan melakukan itu lagi. Mungkin saat itu dia sedang banyak pikiran dan tidak tahu harus berbuat apa." Ucap Sasuke yang membuat Sakura kaget, kenapa pria tampan yang menjadi adik tirinya saat ini begitu baik kepadanya? Bukankah saat di ruang makan mereka bertengkar?
Perasaan apa yang mereka rasakan saat ini hingga membuat kenyamanan satu sama lain? Sasuke sendiri tak mengerti sekarang, bukankah saat di ruang makan dia merasa benci karena ejekkan Sakura kepadanya?
Mereka masih dalam keadaan hening sebelum Sasuke menghentikan gerakannya yang mengelus lembut kepala Sakura.
"Tidurlah, besok kita akan sekolah. Gunakan waktumu untuk istirahat," ucap Sasuke melangkahkan kakinya menjauh dari Sakura.
"Sasuke-" ucap Sakura terhenti yang membuat Sasuke juga ikut berhenti. Sakura tak melanjutkan bicaranya, hanya diam dalam posisinya berdiri. Sasuke yang merasa heran dengan Sakura mulai menjawab.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang melihat ke arah Sakura. Tapi tetap saja Sakura tidak menjawab, Sasuke berniat untuk menghampiri Sakura sebelum Sakura mulai berjalan kearah pintu.
"Tidak, Tidak apa-apa." Ucap Sakura sambil berjalan menjauhi Sasuke yang terpaku di posisinya. Sasuke hanya melihat punggung Sakura yang menjauh dan mulai membuka pintu,
'Di luar dia terhilat begitu kuat, tapi sesungguhnya dia sangat rapuh.' Batin Sasuke yang melihat Sakura sudah menghilang dari kamarnya, sungguh Sasuke masih bingung apa yang dipikirkan gadis itu.
Bahkan perasaan Sasuke tertarik untuk melindunginya, perasaan benci yang Sasuke rasakan beberapa menit yang lalu kenapa dengan cepat berubah dengan perasaan kasihan dan perasaan yang Sasuke sendiri tak mengerti.
'Pertama kalinya aku menemui seorang gadis yang rumit.' Ucap Sasuke dalam hatinya, detik berikutnya dia mulai tersenyum dan merebahkan diri di kasurnya yang nyaman.
"Sudahlah, waktunya tidur." Ucap Sasuke yang masih dengan keadaan seperti itu, jarang sekali Sasuke menampakan senyum untuk seorang gadis yang baru dia kenal, tepatnya saudara baru yang dia kenal.
Sakura berjalan kearah kamarnya, dia masih tidak percaya apa yang dilakukan Sasuke kepadanya, dia merasa senang sekaligus sedih. Apa iya dia harus menerima keluarga baru itu dalam kehidupannya?
Saat di depan kamar Sakura, suara berat memanggil namanya sebelum Sakura menghentikan gerakannya.
"Sakura," panggil Kizashi yang berjalan kearah Sakura. Sakura hanya menolehkan kepalanya ke asal suara.
"Ayah ingin berbicara padamu." Lanjut Kizashi.
"Di dalam kamarku saja." Ucap Sakura yang langsung masuk ke kamarnya diikuti sang ayah.
"Kenapa dengan wajahmu ini Sakura?" tanya Kizashi yang ingin menyentuh wajah luka Sakura, tetapi di tangkis oleh Sakura.
"Apa yang ingin ayah tanyakan?" tanya Sakura yang duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Sakura, bukankah sudah ayah katakan untuk berlaku sopan kepada mereka? Mereka itu tidak tahu apa-apa dengan keadaan kita, kau juga tahu kan kalau ayah menikah dengan Mikoto karena dia istri dari teman baik ayah?" ucap Kizashi yang duduk di samping Sakura.
"Teman baik kata ayah? Bukankah yang ayah anggap sebagai teman baik itu korban kecelakaan dengan ibu?" balas Sakura yang membuat Kizashi tak percaya.
"Sakura! Bagaimana kau-" ucapan Kizashi terpotong oleh Sakura.
"Benarkan yang ku katakan barusan? Ayah berusaha menutupi apa yang ayah perbuat, dan ayah berusaha menutupi kebenaran yang akan ku tahu cepat atau lambatnya ayah!" ucap Sakura sambil berdiri menghadap Kizashi.
"Sakura! Ayah melakukannya hanya untukmu, untuk kebaikanmu." Ucap Kizashi yang ikut berdiri.
"Untuk kebaikanku? Kebaikan apa yang ayah anggap itu? Kebaikan karena telah membunuh ibu dan memecat nenek Chiyo?!" geram Sakura yang mulai menangis, Kizashi mulai iba melihat Sakura menangis, ini kedua kalinya dia melihat Sakura menangis, saat terakhir kejadian 6 tahun yang lalu.
"Sakura, dengarkan ayah dulu. Ini bukan seperti yang kau pikirkan, ayah memecat nenek Chiyo karena sudah waktunya dia untuk merasakan masa pensiunnya, dan ayah-" ucap Kizashi terpotong lagi karena Sakura.
"Kenapa ayah tak menyuruhnya tetap tinggal disini bersama kita? Ayah tahu kan kalau nenek Chiyo itu sudah tak memiliki keluarga?!" ucap Sakura yang membuat Kizashi sedikit geram.
"Sakura! Ayah lebih tahu tentang nenek Chiyo! Dia masih memiliki cucu, jadi dia harus merawatnya! Kau itu hanya mengikuti emosimu saja Sakura." Ucap Kizashi memegang pundak Sakura yang mulai terisak akan tangisannya.
"Ayah tidak tahu jika ibumu akan meninggal saat meninggalkan rumah, dulu ayah dalam kondisi mabuk. Saat itu ayah frustasi karena kerjaan ayah yang terus menerus menurun." Lanjut Kizashi memandang Sakura dengan sedih.
"Ayah bingung harus melakukan apa lagi, teman-teman ayah mengajak ayah untuk makan-makan dan minum-minum. Saat itu ayah hanya menganggapnya sebagai melepas penat saja." Ucap Kizashi lagi, Sakura masih terisak dengan tangisannya.
"Dan ayah tidak pernah memikirkan apa yang akan selanjutnya terjadi," ucap Kizashi mulai melepaskan tangannya dari bahu mungil Sakura.
"Tapi kenapa ayah memarahi ibu dan hampir membunuhnya dengan tangan ayah sendiri?! Dan kenapa ayah saat itu ingin menamparku? Itu bukan namanya frustasi ayah! Itu karena memang dari awal ayah membenci keluarga ini!" ucap Sakura sedikit melangkahkan satu kakinya kebelakang.
"Sakura, ayah tahu mungkin ayah memang gila mencintai harta daripada keluarga, tapi kau tahu Sakura? Ini ayah lakukan demi menghidupi keluarga ini, walaupun memang ayah salah mengambil keputusan." Ucap Kizashi.
"Sudahlah aku ingin beristirahat, ayah kembalilah tidur." Ucap Sakura yang mulai melangkahkan kakinya kebelakang Kizashi.
"Ayah harap kau mengerti posisi ayah saat itu. Dan ayah berpesan, untukmu agar-" ucap Kizashi terhenti.
"Agar apa?" tanya Sakura melihat punggung Kizashi.
"Agar tak memberitahukan masalah korban keluarga Uchiha itu kepada mereka," ucap Kizashi yang mulai berjalan menuju pintu Sakura, bunyi pintu tertutup pun terdengar. Sakura hanya melihat ke arah lantai kamarnya.
"Aku mengerti ayah." Ucapnya kecil yang langsung berbaring di tempat tidurnya, mungkin ini memang hari yang sial bagi Sakura, pertama di sekolah si kuning cerewet itu tahu tentang keadaan Sakura yang sudah bersaudara dengan Sasuke.
Kedua, di bis dia dibully oleh para fans dari Uchiha Sasuke yang menyebalkan itu, apa yang salah dia bersaudara dengan Sasuke? Toh yang menikah kan ibunya, bukan anaknya? Jadi mereka masih mempunyai kesempatan untuk berdekatan lebih lama dengan Sasuke, bukan?
Ketiga, dia di tampar oleh sang ibu dari Uchiha itu, yang membuatnya merasakan sakit sama seperti ibunya dahulu.
Dan keempat, ayahnya yang membuatnya pusing karena keadaan keluarga yang tak jelas ini. Apa dia sanggup menerima beban seberat ini? Sakura hanya ingin dicintai seseorang yang tulus kepadanya seperti ibunya dulu, dan menemani Sakura di saat dia kesepian seperti nenek Chiyo yang menemaninya dulu, dan membuatnya tertawa dan tersenyum seperti paman Teuchi dulu.
Ya, walaupun paman Teuchi masih ada di sisi Sakura, itu tidak membuatnya lengkap karena Sakura masih merasakan kesepian dan kebencian di sekitarnya.
Sakura bingung harus melakukan apa, dia juga tak tahu harus menjalani hidup serumit ini bagaimana? Tidak ada yang membimbingnya untuk memberitahukan kemana arah hidupnya tertuju.
Sakura hanya mengikuti apa yang ayahnya katakan walaupun dia melakukannya dengan berat sekalipun.
Tapi kenapa dia tidak kabur saja seperti yang dilakukan ibunya saat itu karena tidak tahan dengan keadaan rumahnya? Kenapa dia masih bertahan? Hanya takdir dan waktu yang bisa menjawabnya.
Sakura sudah bersiap untuk berangkat sekolah, Sakura melangkahkan kakinya keluar kamar. Membawa tas sekolahnya menuruni anak tangga yang jumlahnya belasan dan mungkin lebih, mendengar suara berisik yang berasal dari ruang makannya itu, memastikan apa yang terjadi Sakura melangkahkan kakinya ke arah ruang makan dan melihatnya.
Mikoto dan anaknya sedang makan sedangkan ayahnya sedang bercanda ria dengan mereka, disana juga banyak pelayan ada Miya-san juga yang selalu ada di samping ayahnya itu.
Melihat keadaan ini wajah Sakura tidak menggambarkan sedih maupun senang, wajahnya selalu datar tak jelas. Sakura mulai melangkahkan kakinya ke arah meja makan di samping Sasuke, karena kursi yang biasa di tempati dia di samping Kizashi sedang di duduki sang ibu barunya, Mikoto.
Sasuke melihat Sakura datang ke arahnya sedikit kaget, dia mengingat kejadian semalam. Pertama kalinya dia bersikap baik kepada gadis di hadapannya ini, dia bahkan melakukannya dengan refleks tanpa ada paksaan atau apa yang membuatnya mengelus lembut rambut milik gadis yang sekarang sudah berada di sampingnya untuk makan bersama keluarga yang baru terbentuk itu.
"Oh Sakura, maaf soal semalam aku tidak bermaksud untuk menamparmu," ucap Mikoto yang melihat Sakura sudah hadir.
"Tidak apa-apa, bu." Ucap Sakura mengambil roti dan mengolekannya.
"Kau ingin susu? Biar aku yang ambilkan?" tawar Mikoto berusaha baik kepada Sakura. Sakura hanya melihatnya sekilas dan langsung melanjutkan mengoles rotinya.
"Hn," ucap Sakura.
'Kenapa dia hanya baik jika ada ayah? Apa takdirku ini sama dengan Cinderella yang mempunyai ibu yang hanya berlaku baik jika di depan ayahnya? Apa jika ayah tak ada, aku akan di jadikan babu?' batin Sakura yang mulai berpikir.
"Maaf," suara baritone itu menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Eh?" suara Sakura keluar bersamaan dengan wajahnya yang menoleh ke arah sampingnya, tepat Sasuke berada.
"Maaf untuk tadi malam," lanjut Sasuke sambil meminum jus tomat favoritenya.
"Oh, tak apa." Ucap Sakura memakan rotinya, mereka kembali terhening sebelum Kizashi membuka suaranya.
"Sakura, Sasuke. Mulai sekarang, kalian ke sekolah akan di antarkan oleh paman Teuchi. Dan akan di jemput sepulang sekolah." Ucap Kizashi.
"Eh? Tapi paman, aku akan kerumah lama sepulang sekolah nanti untuk mengambil motorku." Ucap Sasuke yang selesai meminum jusnya.
"Kalau begitu biar pak Yamato yang mengambilnya untukmu." Ucap singkat Kizashi, sedangkan Sakura hanya diam menikmati rotinya itu.
"Dan Sakura, jangan coba-coba untuk pulang menggunakan bis lagi." Lanjut Kizashi yang membuat Sakura menghentikan kunyahannya.
"Aku akan mengontrolmu." Lanjut Kizashi yang bangun dari duduknya.
"Aku sudah selesai makan, aku berangkat. Miya-san, ayo." Ucap Kizashi keluar dari ruang makan.
"Baik, tuan." Balas Miya-san yang mengikuti Kizashi di belakangnya.
Sakura hanya terdiam, jadi selama ini ayahnya mengetahui kalau Sakura selalu pulang menggunakan bis? Apa paman Teuchi yang mengatakannya?
Sasuke melihat ke arah Sakura dengan heran, dia tidak mengerti apa yang terjadi di antara ayah dan anak ini. Tapi dia tidak terlalu memperdulikan, hanya fokus kepada rotinya lagi.
"Baiklah, Sakura. Ini susumu, ingat pesan ayahmu itu." Ucap Mikoto sambil tersenyum lembut ke arah Sakura.
'Makhluk apa yang merasuki tubuhnya hingga seperti ini?' batin Sakura mengambil susu dari tangan Mikoto sambil melihatnya sekilas.
"Terima Kasih, bu." Ucap Sakura pelan. Disampingnya, Sasuke yang tengah menyeriangai sambil memposisikan tangannya di dadanya. Apa yang di pikirkannya sekarang?
Sasuke memasuki ruang kelasnya, dia sengaja turun dari mobil bukan di depan sekolahnya, alasan yang dia gunakan hanya untuk mengelabuhi paman Teuchi dan Sakura. Sasuke sendiri tidak mengerti dengan sikap Sakura di mobil tadi, Sakura hanya memainkan jepitan panjang yang dia sendiri tidak terlihat pernah memakainya.
Saat Sasuke sudah memasuki kelasnya, terlihat 3 gadis yang merupakan bagian dari fans Sasuke itu langsung menerjangnya.
"Kyaaa, Sasuke-kun kau selalu terlihat tampan." Ucap salah satu gadis itu dengan menggeliat di lengan Sasuke.
"Sasuke-kun memang pangeran tampan di kelas kita," ucap temannya lagi.
"Kalian, lepaskan aku." Suara baritone itu muncul yang membuat ketiga gadis di depannya ini malah teriak kegirangan.
"Kyaaaa Sasuke-kun suaramu memang keren."
"Sasuke-kun selalu terlihat keren walaupun dia sedang tak keren." Ucapan itu langsung membuat Sasuke sweetdrop.
"Hei teme! Kau sudah datang?" panggil pria berambut kuning blonde dengan tampang yang kerennya.
"Oh, yo! Dobe." Ucap Sasuke yang membuat Naruto berdelik ngeri bukan karena Sasuke, tapi karena tatapan ketiga gadis itu.
"Lepaskan." Ucap Sasuke langsung terlepas dari ketiga gadis itu.
"Kyaaaa! Kerenn!" ucap ketiga gadis itu kompak.
"Teme, apa kau dan Sakura-chan mulai dekat?" tanya Naruto yang duduk di depan kursi Sasuke dengan memandangnya.
"Hn, tidak. Aku tidak mengerti dengan sikapnya dobe." Ucap Sasuke dengan menaruh tasnya di samping mejanya.
"Sikapnya? Bukannya dia pendiam walaupun sedikit terlihat cerewet." Ucap Naruto dengan tampang stoicnya.
"Bukan seperti itu maksudku dobe, tapi dia susah di mengerti. Aku juga susah memahami sikapnya jika di rumah," ucap Sasuke.
"Dirumah?!" teriak Naruto yang membuat 3 gadis itu melihat ke arah mereka yang sedang berbicang.
"Cih, berisik kau dobe. Tak perlu seheboh itu," ucap Sasuke menutup kedua kupingnya itu.
"Kau sudah tinggal dirumahnya?! Bagaimana rumahnya teme? Aku penasaran dengan rumahnya." Ucap Naruto dengan semangat 45nya itu.
"Aku heran dengannya, seharusnya dia bersikap layaknya bangsawan seperti pacarmu yang lugu itu. Tapi dia bahkan di sekolah tidak menunjukkan sikap bahwa dia adalah anak bangsawan." Ucap Sasuke.
"Bangsawan?" tanya Naruto terdiam dan melanjutkannya.
"Eh?! Bangsawan?! Sakura berasal dari keluarga bangsawan?!" teriak Naruto kembali membuat semua orang yang ada di kelasnya ini melihat ke arahnya.
"Cih, dobe kau membuat masalah!" ucap Sasuke melihat tajam ke arah Naruto mengisyaratkan bahwa orang di sekitarnya sedang melihat ke arahnya.
Naruto mulai melihat sekitar dengan aneh, kenapa? Memang dia melakukan kesalahan? Pikirnya dengan otak yang mulai rada-rada.
"Teme! Apa kau benar Sakura berasal dari keluarga bangsawan? Dia tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Naruto lagi.
"Buat apa dia bercerita kalau dia sendiri tak seperti menginginkannya dobe," ucap Sasuke mulai liat ke arah jendela.
"Eh? Apa maksudmu teme?" tanya Naruto lagi.
"Dia terlihat tertekan. Sudahlah dobe, kau tak perlu tahu banyak urusannya, aku bahkan tak ingin mencampuri urusannya." Ucap Sasuke mulai mengambil buku pelajarannya.
"T-tapi teme, dia tidak terlihat seperti itu." Ucap Naruto yang masih penasaran.
"Mana ku tahu." Ucap Sasuke yang masih fokus dengan bukunya itu.
Saat jam istirahat sedang berlangsung Sakura, Ino, dan Hinata sedang makan di kantin sekolahnya, padahal keadaan masih baik-baik saja sebelum para fans dari Sasuke itu merusak makan siang mereka.
"Haruno Sakura." Ucap si gadis berambut merah dengan kacamata yang senantiasa mendampinginya.
"Apa maumu, Karin?!" ucap Ino yang mulai berdiri dari tempatnya.
"Hei, aku tidak berbicara denganmu, rambut ekor kuda. Aku berbicara dengannya!" ucap Karin dengan menunjuk kearah Sakura.
"Ka-Karin-san, Tolong jangan membuat masalah disini." Ucap Hinata meleraikan.
"Apa katamu?! Aku membuat masalah? Tanyakan pada temanmu siapa yang duluan membuat ulah?" ucap Karin dengan meremas kerah Hinata.
"Hei! Kau jangan coba-coba menaruh tanganmu di kerah temanku ya!" ucap Ino mulai menyingkirkan tangan Karin dari kerah Hinata.
"Diam kau rambut ekor kuda! Jangan bermain-main denganku!" ucap Karin yang mulai mendorong Ino, tidak tinggal diam. Sakura berdiri dengan memukul mejanya.
"Bisakah kalian diam?!" ucap Sakura yang mulai geram dengan aksi Karin.
"Oh, sudah berani rupanya anak kecil ini? Menantangku ha?!" ucap Karin dengan menarik rambut pink Sakura.
"Lepaskan!" ucap Sakura menahan tangan Karin yang menjambak rambut pinknya.
"Tidak akan!" ucap Karin, Ino dan Hinata mulai membantu tapi sayang teman Karin yang dari tadi diam ikut membantu.
Terjadi aksi tarik menarik dan dorong mendorong dalam perkenalahian antar gadis ini. Saling tak mau kalah dan berusaha untuk menang. Tak disangka, Sasuke dan Naruto yang berjalan ke arah kantin melihat aksi tersebut.
"Cih! Teme lihat itu! Sakura, Hinata dan Ino sedang berkelahi dengan para fansmu!" ucap Naruto yang terlebih dahulu lari menuju ke arah mereka.
"Apa yang dia lakukan?!" ucap Sasuke yang ikut berlari mengikuti Naruto.
"Hei! Lepaskan pacarku!" ucap Naruto melindungi Hinata dari Jambakan gadis yang tak dikenalnya.
"Naruto-kun?" tanya Hinata bingung melihat Naruto yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" tanya Naruto mengelus rambut Hinata yang membuat pemilik rambut tersebut merona sedikit.
"I-iya, aku baik-baik saja, Naruto-kun." Ucap Hinata.
"Kau harus rasakan ini, Sakura! Kau tak pantas dengan Sasuke!" ucap Karin yang ingin menampar Sakura, melihat itu Sakura menutup mata. Takut dengan tamparan itu. Tapi-
Plaakk!
Tidak sempat menangkis tangan itu, Sasuke terkena tamparan yang di tuju untuk Sakura itu. Sakura yang melihatnya terbelalak melebarkan matanya tak percaya.
"Karin! Hentikan aksimu itu!" ucap Sasuke yang merasa geram terhadap Karin.
"Sa-Sasuke-kun? Bu-bukan maksudku seperti itu, aku hanya-" ucapan karin terpotong oleh Sasuke sendiri.
"Sudah cukup. Aku sudah melihatnya!" ucap Sasuke.
"Kau, bukankah kau gadis yang kemarin?" ucap seorang pria yang membuat kerumuhan orang yang sedang bermasalah melihat kearahnya.
"Kau?" ucap Sakura kaget apa yang dilihatnya, sepertinya orang itu yang di tabrak Sakura kemarin.
"Ternyata benar, aku tak salah lihat. Kita memang satu sekolah." Ucap sang pria berambut merah itu dan tersenyum ke arah Sakura. Membuat semua orang yang disini bingung.
.
.
.
.
.
.
TBC
Yosh! Chapter 3 update XD
Kecepetan yah?;; soalnya lagi liburan bosen mau ngapain kepikiran main laptop sambil ngetik aja XD
ini ide udah mentok ;;;
Rai sih niatnya mau update satu chapter satu masalah terungkap.
tapi bingung juga jadinya pasti bakal panjang Q_Q
sekian dulu deh dari Rai XD
besok udah mulai sibuk lagi sekolah ;;;
RnR minna :D
