Part 3

"Byee mom..."

Aku mendengar suara Nico saat mengakhiri percakapan telepon dari rumahnya. Ngomongin tentang Nico, bisa dikatakan bahwa agensi ini bisa eksis hingga saat ini adalah semata-mata karena keinginan terdalam Nico. Pada awalnya keadaan agensi ini baik-baik saja, kami bersembilan bisa mengambil peran masing-masing sebagai seorang aktris. Semuanya mulai berubah setelah Honoka mengundurkan diri dari grup, kemudian Rin yang sebelumnya telah ditetapkan menjadi leader naik untuk menggantikan posisinya. Namun, keadaan tidak berjalan dengan baik karena banyak orang yang menganggap grup kami sudah kehilangan charm-nya.

Setelah itu satu demi satu member ยต's mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dan fokus dalam bidang profesi mereka masing-masing. Keputusan berikutnya berlangsung dengan cepat setelah Nico mengajukan diri untuk tampil sebagai face grup kami. setidaknya, semuanya dapat berlangsung dengan baik. Nico yang saat ini telah berperan menjadi leader dan face grup kami. setelah itu...

"Ah, kalian ada disini, toh?!" sang produser melambaikan tangan saat menyapa para idolanya. Rin pada saat itu datang bersama dengan Hanayo yang menyertainya ketika menemui kepala studio pemotretan karena suatu insiden yang menghalangi mereka.

"Nah, tunggu apalagi?! Ayo, lekas... pemotretan akan dilakukan sesuai jadwal, tahu!" Rin menepuk tangannya meminta para idolanya untuk bergegas namun itu menimbulkan kebingungan diantara mereka, khususnya Nico yang sempat trauma karena tidak diperbolehkan memasuki ruang ganti.

"Ehh, bagaimana bisa?! Bukankah katanya jadwal pemotretan kita akan di atur ulang karena hari ini akan dipakai oleh Agensi sebelah?!" pinta Nico namun Rin menanggapi itu dengan nada riang. "Nyaa, tentang itu tenang saja, yah! Rin tadi sudah selesai berbicara dengan Produser agensi sebelah dan beliau telah mengijinkan kita karena beberapa anggota mereka juga belum tiba karena terjebak macet sehingga belum bisa melakukan pemotretan grup."

"J-Jadi?!" sang gadis bertubuh paling kecil di sana hanya bisa terperangah menanti jawaban sang wanita muda itu.

"Iya, kita melaksanakan jadwal pemotretan sesuai jadwal, nyaa!" seruan bahagia mewarnai tempat itu setelah mendengar ucapan produser mereka yang menggembirakan. "Namun..." Tiba-tiba suara jeritan itu terhenti sejenak. "Karena terbatasnya waktu maka kita tidak bisa terlalu banyak meminta re-take shoot. Jadi, aku mohon agar kalian menggunakan kemampuan terbaik kalian dalam pemotretan kali ini, yah!" wanita muda itu membungkukan kepala layaknya seorang profesional melakukan pekerjaannya. Sesuatu yang aneh sebenarnya untuk dilihat bagi sesama teman yang pernah tinggal satu sekolah.

"Rin-P, kenapa jadi canggung gini sih?! Tentu saja, kita akan mengeluarkan kemampuan kita, tahu?! Lagipula, kita tidak akan menyia-nyiakan usaha yang sudah kamu lakukan ini." tegas Eli diamini oleh 3 idola lainnya.

"Nah, kalau begitu, minna, ayo kita lekas untuk ganti baju." Dengan komando Umi, mereka berempat meninggalkan tempat tersebut. Sembari meninggalkan mereka, sang produser melambaikan tangan melepaskan kepergian mereka.

Hanayo menoleh ke belakang dan memperhatikan Rin yang saat ini telah dihampiri beberapa staff studio itu untuk sebuah keperluan. Gadis itu melayani para staff itu dengan muka tersenyum yang terus dia pasang. Namun, Hanayo melihat sisi lain yang menembus maksud dari senyuman tersebut.

"Rin.." katanya pelan. "Bukankah dia itu seperti... kesepian?!"