Yuuma-nanny

Chapter 3

Disclamer: Ansatsu Kyoushitsu milik Yuusei Matsui, dan cerita absurd ini milik saya~

Cast: Asano Gakushuu, Asano Gakuhou, Akabane Karma, Isogai Yuuma.

Sibling!Gakushuu & Karma.

Warning: aneh, ooc, ooc, ooc, ooc, bahasa non baku, tidak sesuai EYD, lebay, miss typo, dll.

Tertarik? Silahkan review :D

Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'

Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD

Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX

Reader and Silent Reader, welcome :D

Enjoy Reading Minna :D

.

.

.

.

.

.

Sudah tiga bulan Yuuma mengabdi pada keluarga Asano. Tidak semuanya berjalan mulus, tidak semua pula yang berjalan tidak mulus. Yuuma menghadapinya dengan dada lapang. Pikirannya diusahakan dan diwajibkan untuk tetap berpikir dan bersikap positif pada dewa. Bagaimanapun absurdnya kumpulan Asano yang dia asuh. Yuuma selalu berpikir bahwa semua ini akan ada hikmahnya.

"Yuuma pekan depan Karma ada Tamasya di Tknya, kau jaga dia ya."

Si raven mengangguk, Karma sudah berulangkali memberitahunya. Bocah merah itu sangat berisik dengan meminta Yuuma untuk menyediakan satu lusin susu srawberry. Yuuma rasa ini bukan ide buruk, mengingat di Tknya dulu tamasya hanya ke kebun binatang. Siapa tahu tamasya Tknya Karma ke Taman bermain yang mahal gitu.

"Baik, Asa_"

Perkataannya dipotong seenaknya."Bukan Asano, Yuuma. Kau tidak ingat disini ada tiga Asano? Kau bisa memanggilku Gakuhou saja, bukankah kita sudah saling kenal."

Uhuk

"Ba-baik."

.

.

.

Kehendak Tuhan adalah mutlak, Yuuma percaya akan hal itu. Hari tamasya yang Karma -dirinya nanti ternyata harus kandas karena Karma jatuh sakit. Padahal bocah itu sudah sangat menantikannya dengan penuh minat.

"Yuuma, panas."

Yap bocah merah itu terkena demam, kalian ingin tahu kenapa?

Jadi ceritanya Karma sedang sibuk menyiapkan guritanya untuk diajak tamasya di Tknya. Si kecil memutar otak tentang bagaimana cara membawa si tako tanpa ember dan akuarium. Dan Yuuma sudah memberinya saran untuk menggunakan plastik. Saran diterima namun itu membawa masalah lain. Karma sibuk mengisi banyak kantung plastik dengan dalih dia tak mau guritanya kehabisan air. Bermain air sampai malam dan paginya demam, sudah Yuuma duga.

"Iya, iya." Si pengasuh dengan telaten mengganti kompres Karma."Sekarang tidurlah." Diusapnya kepala Karma sampai si bungsu tertidur.

Yuuma menoleh ke samping, Gakushuu berdiri didekatnya. Mata violet si sulung tak lepas dari sang adik. Apa ini pertama kalinya Karma sakit?

"Shuu."

Si sulung menoleh.

"Tidak sekolah?"

"Mau nungguin Karma." Dilemparnya tas sekolahnya dan si kakak merangkak ke ranjang.

"Hei, jangan terlalu dekat dengan Karma nanti kau demam juga." Gakushuu tidak jadi membaringkan badannya. Kasihan sekali adiknya, padahal biasanya mereka betah berendam di kolam renang.

"Nanti siang Karma pasti sudah sembuh. Mending Gakushuu pergi ke sekolah, ne?"

Menarik nafas kecil.

"Baiklah."

Yuuma tersenyum kecil. Bangkit dari duduknya dan mengikuti Gakushuu keluar kamar. Dia sampai lupa menyiapkan sarapan.

Ah ngomong-ngomong dia ini pengasuh anak atau ibu rumah tangga ya? Kok tugasnya rangkap?

Ah biarlah. Yuuma tak tega jika Asano bersaudara harus makan makanan kaleng. Karena dia sangat yakin sang kepala keluarga tidak bisa mema_

"Ohayou Yuuma."

_sak...

"Aku pikir kau akan sibuk mengurus Karma jadi biarkan aku yang menyiapkan sarapannya."

K-kok...

Yuuma mematung ditempat saat mendapati sang pemilik rumah sibuk dengan teflon dan panci.

"Ah, jadi seperti ini rasanya memasak dikala istriehem sedang merawat anak yang sakit?"

Uhuk!

"Gakuhou-san, bi-biar aku yang lanjutkan."

Gakuhou memberi tanda agar Yuuma tetap diam ditempat.

"Nanti anda bisa terlambat. Silahkan anda sarapan bersama Gakushuu biar saya yang menyiapkan bekal untuk makan siang."

"Bagaimana kalau kita memasak bersama. Aku ke kantor masih nanti siang."

Yuuma tak kehabisan akal."Bagaimana jika anda mengantar Gakushuu ke sekolah?" si raven melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan.

"Kau memerintahku?"

Glup

Yuuma baru sadar posisi.

"Ma-ma_

"Jangan meminta maaf, aku akan mengantar Gakushuu ke sekolah setelah kita sarapan bersama."

.

.

.

Yuuma menghela nafas. Pekerjaan rumah sudah selesai, Karma sudah agak mendingan, tinggal membuat makan malam. Kenapa dia benar-benar seperti ibu rumah tangga ya?

"Haah, mau bagaimana lagi." Si raven menghela nafas berat.

Ting tong

Ting tong

Ah tamu, tumben?

"Aku datang." Teriak Yuuma, sembari berjalan cepat menuju pintu depan.

Saat membuka pintu, sosok wanita cantik dengan surai merah bergelombang diatas bahu menyambut penglihatannya.

"Selamat siang." Ujar wanita cantik itu sembari tersenyum. Sekilas Yuuma melihat senyum Karma pada wanita ini, jangan-jangan...

"Se-selamat siang, ada yang dapat saya bantu?"

"Aku ingin bertemu Karma" jawab wanita itu cepat."Kudengar dari Gakuhou dia sedang demam."

"Emm, Anda...siapa?" Yuuma agak ragu saat ingin menanyakan hal itu. Tapi dia harus bertanya, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, penculikan mungkin.

"Kenalkan, aku ibu dari Gakushuu dan Karma. Apa Gakuhou belum menceritakannya padamu? Ah kau pasti istri muda Gakuhou ya? Seleranya tak pernah buruk."

Tunggu dulu! Apa maksud dari Istri-muda-Gakuhou!

"A-anda salahpaham nyonya, sa-saya bukan emm saya hanya pengasuh disini." Jawab Yuuma penuh kegugupan. Oh bayangkan jika wanita didepanmu ini tengah tersenyum ramah namun auranya mengintimidasi. Yuuma tidak ingin dijadikan kambing hitam sebagai pihak ketiga, jika kesalahpahaman ini tidak diluruskan.

"Oooh, lantas kenapa Gakuhou bilang Karma sedang dirawat istri mudanya?" wanita awal kepala 3 itu menelengkan kepalanya."Aku pikir Gakuhou sudah menikah lagi."

Ja-jadi majikannya yang mengaku-ngaku, oh Tuhan.

"Boleh aku masuk dan melihat putraku?"

"A-ah tentu."

.

.

.

"Apa Gakushuu dan Karma makan dengan teratur?" Yuuma mengangguk pelan. Matanya terlalu fokus pada pemandangan yang didepannya. Dua rupa nyaris identik, berbeda umur dan gender, yang lebih muda tengah tertidur pulas, yang sudah berumur tengah mengusap sayang surai merah bocah itu.

"Tak kusangka, kau betah juga bekerja disini, Isogai-kun." Wanita itu tersenyum kearahnya, Yuuma balas tersenyum.

Gakuhou tak pernah sekalipun membahas tentang istrinya. Yuuma kira nyonya Asano sudah meninggal makanya Yuuma tak pernah ingin mengungkitnya. Tapi ternyata beliau masih terlihat sehat dan cantik. Jangan-jangan mereka bercerai? Uurgh kasihan sekali Karma dan Gakushuu.

Sangat tak sopan apabila Yuuma menanyakan hal seprivasi itu pada wanita ini. Yuuma mengubur pertanyaannya dalam-dalam. Mungkin dia harus bertanya pada Gakuhou saja.

"...Pantas mereka betah denganmu, karena sepertinya kau orang yang baik dan membuat mereka nyaman, Isogai-kun."

Blush

Pipi Yuuma memerah mendengar pujian itu.

"Sepertinya aku harus pulang, Isogai-kun. Terima kasih telah merawat mereka."

.

.

.

"Anoo, Gakuhou-san." Gakuhou yang tengah sibuk dengan pekerjaannya menoleh sekilas kearah Yuuma.

"Ada apa Yuuma?"

"Tadi siang, Seseorang yang mengaku ibu dari Karma dan Gakushuu berkunjung kemari."

Gakuhou menghentikan pekerjaannya, dan segera meletakkan laptopnya di meja. Dia memandang lurus pada pengasuh anak-anaknya."...?"

"Beliau kemari untuk melihat keadaan Karma. Aku juga mau protes kenapa Gakuhou-san tega bercerai tanpa memperdulikan nasib putra-putra Anda?" Yuuma nyaris menangis saat mengatakan itu, matanya berkaca-kaca.

Gakuhou terhenyak."Dia serius kemari?"

"Iya! Dia wanita yang sangat cantik dan anggun, sangat mirip dengan Karma." Suara Yuuma naik satu nada namun masih bergetar menahan tangis.

"Yuuma, kau harus tahu sesuatu."

"Eh? Apa itu Gakuhou-san?"

"Istriku sudah meninggal 4 tahun yang lalu." Raut Gakuhou menjadi serius.

Eh?

"Gyaaaaa! Lalu dengan siapa aku berbicara tadi!" si raven berteriak histeris, mendadak ia merinding sekujur tubuh.

"Bagaimana penampilan istriku apa dia masih cantik?" goda Gakuhou, pada pemuda raven itu.

"Be-beliau sangat cantik. Berarti anda tidak bercerai?"

Gakuhou menggelengkan kepalanya."Tidak, kami tidak bercerai, sama sekali tidak. Dia meninggal karena sakit. Kau pikir aku setega itu?"

Yuuma menghela nafas lega. Syukurlah. Tapi kenapa tadi siang...aaaaa dia tak ingin mengingatnya."Anoo, Gakuhou-san, ta-tadi kenapa istri Anda berkata kalau Anda sudah memiliki istri muda? Apa Anda sudah menikah secara diam-diam?"

Tawa Gakuhou meledak, tanpa sadar waktu kalau ini sudah malam dan anak-anaknya tengah tertidur pulas."Kau cemburu?"

"Te-entu tidak!" balas Yuuma cepat, sedikit memalingkan kepalanya.

"Haaah, kebetulan hari Senin kemarin setelah pulang bekerja, karena waktu masih sore aku menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Dan aku berkata aku sudah menemukan calon penggantinya. Jadi apa istriku setuju kalau aku menikah lagi?" Tawa maskulin sang pemilik rumah belum sepenuhnya berhenti.

"Sepertinya beliau tidak keberatan. Jadi Anda akan segera menikah lagi?"

"Hmmm, bagaimana menurutmu? Aku baru mengenalnya dua-tiga bulan yang lalu tapi aku sangat tertarik padanya. Apa kau berpikir dia akan menerimaku?"

"Saya rasa tidak ada salahnya mencoba, Tuan." Yuuma tanpa sadar tersenyum manis.

"Mungkin aku memerlukan waktu untuk lebih dekat dengannya."

.

.

.

To be Continue (maybe)

Lohalooo saya kembali membawa keluarga bahagia Asano /plak

Maaf baru nongol, saya kemarin sedang disadoin tugas /plak

Dan baru ini saya bisa update xD

Semoga suka, maaf belum bisa balas review :"

Silahkan berkunjung kembali~

Salam rindu,

Narin