To Understand One Another
Rated: T – M
Cast:
Kim Jongin
Do Kyungsoo
EXO member
Main Pairing: KaiSoo
Warning!
GS fanfiction.
Tidak suka dengan cerita GS? Tidak suka dengan pairingnya? Mohon untuk segera meninggalkan halaman ini.
Terimakasih,
Happy Reading^^
.
.
.
"Saya akan cek ke ruangannya sebentar lagi. Presdir baru selesai menghadiri rapat dengan koleganya." Chanyeol tampak sibuk melayani telpon dari seseorang, matanya tidak berhenti mengoreksi beberapa dokumen sedangkan tangan kanannya memegang ponsel. "Ne, secepatnya anda akan saya telpon kembali. Ne, kamsahamnida." Dan sambungan telpon itu terputus, sesaat Chanyeol menatap arlojinya. Oh, tidak. Sebentar lagi dia harus pergi kerestoran dimana ia dan ayahnya janji bertemu untuk makan siang.
Tok tok tok.
Pintu ruangannya diketuk dan kemudian kepala Jongin muncul dibaliknya.
"Yeol, apa pekerjaanmu sudah selesai?"
Chanyeol menatap heran Jongin yang seolah mengintipnya dibalik pintu. "Wae? Biasanya kau menghubungiku lewat interkom. Butuh sesuatu?"
"A-anni. Um, apa kau lapar? Kau tidak makan siang diluar?" Tanya Jongin sedikit gugup.
"Huh?" Chanyeol memutar kursinya menghadap jendela, melihat cuaca yang siang ini yang cerah tanpa adanya awan hitam atau sambaran petir. 'Tunggu, apa Jongin baru saja mengajakku keluar untuk makan siang?'
"Yoda Yeol." Chanyeol kembali menatap jongin yang masih setia berdiri dibalik pintu.
"Apa sekretarismu memasukkan banyak gula ke kopimu pagi ini?"
"Huh?" balas Jongin yang tidak mengerti pertanyaan Chanyeol.
"Kau mau mengajakku makan siang, bukan? Oh tuhan! Daebak! Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya kkamjong!" Tawa Chanyeol mengisi seluruh ruangan, pemuda itu membereskan lembaran kertas diatas mejanya. "Kebetulan, aku akan makan siang dengan ayahku. Kau mau ikut?"
Tiba-tiba Chanyeol menyadari raut muka Jongin yang berubah, ada tatapan kecewa disana. Chanyeol yang sedang memasang jasnya menghampiri Jongin dan membuka pintu itu lebih lebar.
"What's wrong? Kenapa tiba-tiba wajahmu begitu? Ah!" Dan entah bagaimana Chanyeol tiba-tiba menyadari satu hal, alasan kenapa Jongin mengajaknya makan siang kali ini. "Kau pasti ingin mengajakku makan siang ditempat gadis pemberani itu kan? Kau ingin bertemu lagi dengannya kan?" Tanyanya beruntun pada Jongin. Jongin hanya menatap Chanyeol gugup kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Siapa bilang? Kau asal tebak saja Yeol! Aku memang mau mengajakmu makan siang kok!"
"Lalu dimana?"
"Terserah, biasanya kau yang membawaku makan ketempat-tempat yang tidak pernah aku kunjungi!" Jawab Jongin dengan nada sedikit tinggi untuk menutupi gugupnya.
"Kalau begitu ikut saja makan siang dengan ayahku sekarang, kenapa repot-repot mencari tempat segala. Aku sudah reservasi direstoran."
"Apa direstoran itu ada ramyun?"
"Ne?"
"Aku mau makan ramyun sekarang." Jawab Jongin sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba Chanyeol berjalan meninggalkan Jongin, kemudian menekan layar ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Appa, eodiseo?"
"Yak Park Chanyeol! Kenapa kau meninggalkanku?!" Jongin berteriak saat menyadari Chanyeol yang tidak ada dihadapannya. Chanyeol berbalik menatap Jongin sambil menutupi layar ponselnya dengan telapak tangan.
"Kau bisa makan ditempat gadis pemberani itu! Aku makan siang di 'Osteria La Gonsela', mereka menyediakan fettucini dan spaghetti tapi disana tidak ada ramyun!" Ucap Chanyeol sedikit berteriak kemudian meninggalkan Jongin yang masih berdiri ditempatnya.
.
.
.
Kyungsoo tampak sibuk dengan salah satu pegawai di depan kafenya. Mengatur sebuah papan yang memuat menu spesial untuk seminggu kedepan. Papan itu hendak digantung di teras kafe agar dapat menarik perhatian pengunjung.
"Pake sarung tangan mu Taeyong-ah, pinggiran papan itu cukup tajam karena besinya." Ucap Kyungsoo sambil menahan tangga yang Taeyong naiki untuk menggantung papan tersebut.
"Ne noona." Jawab Taeyong yang langsung memasang sarung tangan yang tadi ia letakkan di sakunya. Kyungsoo kemudian mengangkat papan menu tersebut dan menyerahkannya ke Taeyeong.
"Hyung, bisa bantu aku sebentar? Aku tidak tahu cara memasang gas ke oven, Luhan noona menunggu di dapur." Panggil pegawai lain dibalik pintu masuk.
"Eoh? Changkaman. Noona, tunggu sebentar. Aku akan memasangkan gasnya dulu."
"Arraseo, cepat bantu Luhan eonni sebelum dia berteriak di dapur." Mereka tertawa kecil lalu Taeyong segera menuju ke dapur. Kyungsoo yang tidak ingin menambah kerjaan Taeyong pun berinisiatif untuk memasang papan itu sendiri. Gadis itu mulai menaiki tangga dengan satu tangan memegang papan tadi. Kyungsoo menahan tubuhnya kemudian menggantungkan papan tersebut disebuah paku. Saat menggantungkan papan tersebut Kyungsoo tidak menyadari bahwa salah satu paku yang dipasang Taeyong ternyata masih longgar. Tiba-tiba papan tersebut miring dan hampir jatuh tapi Kyungsoo dengan cepat menahannya. Tapi karena gerakan mendadak tersebut keseimbangan tubuh Kyungsoo hilang dan terjatuh kebawah.
"Kyaaa!" Teriak Kyungsoo memejamkan mata tapi dengan cepat sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan papan yang tadi iya pegang kini sudah di pegang oleh seseorang. Kyungsoo segera menoleh dan mendapati Kim Jongin menyelamatkannya.
"Tu-tuan Kim!" Kyungsoo terkejut apalagi menyadari posisi Jongin yang seperti memeluknya.
"Jongin, Kyungsoo-shi. How many times I have to tell you?" Jongin menatap gadis didepannya, mengagumi mata bulat Kyungsoo yang seakan menghipnotisnya untuk terjatuh lebih dalam. Gadis itu tidak menggunakan kacamata maupun softlens, hanya mata bening yang mulai saat ini masuk ke daftar 'hal menarik untuk dipandang' bagi Jongin.
Kyungsoo yang terkesiap segera melepas 'pelukan' lelaki tersebut. Merapikan pakaiannya yang tidak terlihat berantakan dan meletakkan helaian rambutnya kebelakang telinga. Jongin sendiri menyandarkan papan yang tadi ia pegang kesalah satu meja. Tapi papan tersebut terlihat basah oleh cairan berwarna merah di bagian yang tadi Jongin pegang.
"Astaga Kim Jongin! Tanganmu terluka!" Kyungsoo segera menarik tangan Jongin yang dihadiahi ringisan namja itu. Sebuah garis melintang terlihat di telapak tangan Jongin, mengeluarkan darah segar yang mulai menetes akibat tangannya yang tadi memegang erat papan tersebut saat menolong Kyungsoo.
"Gwenchana, ini hanya luka kec-"
"Luka kecil?! Kau gila?! Astaga ayo masuk kedalam, luka mu harus diobati!" Kyungsoo segera menarik tangan Jongin dan membawanya masuk kedalam kafe. Menyuruh namja itu duduk disalah satu meja yang terdapat disudut ruangan yang menghadap ke jendela luar sedangkan Kyungsoo mengambil P3K yang ia simpan dibawah meja kasir lalu menghampiri Jongin lagi.
"Taeyong-ah tolong ambilkan baskom air dan handuk kecil bersih sekarang!" Yeoja itu sedikit berteriak sambil membuka kotak P3K.
"Wae noona? Oh tuhan! Tuan anda tidak apa-apa?!" Taeyong yang membawa handuk serta baskom terkejut melihat tangan pelanggannya yang terluka. "Noona, apa yang terjadi?!"
"Aku tadi ingin membantumu memasang papan itu, salah satu paku ternyata longgar dan membuatku terjatuh tapi namja ini tepat waktu menolongku. Dan sialnya papan bodoh itu malah melukai tangannya." Jongin masih diam memerhatikan Kyungsoo yang memegang pergelangan tangannya dan mengelap darah tersebut dengan handuk basah.
"Akkh!"
"Mianhae." Kyungsoo masih mengobati tangan Jongin, rasa bersalah tampak jelas diwajahnya.
"Tu-tuan apa kau butuh sesuatu? Aku bisa mengambilkannya untukmu." Tanya Taeyong ke Jongin.
"Hot americanno akan sangat membantu." Sesekali Jogin meringis menahan perih saat Kyungsoo memberikan obat merah di lukanya.
"Kurangi takaran gulanya sedikit Taeyong-ah." Ucap Kyungsoo yang fokus membalutkan perban ditangan namja itu. Jongin terkejut tapi dengan cepat ia menutupinya. Sebuah senyuman tampak di sudut bibir namja tan tersebut.
"Kau membaca note itu." Kata Jongin memulai pembicaraan.
"Choco caramel."
"Huh?"
"Minuman favoritku choco caramel, bukan choco cream." Jawab Kyungsoo kemudian menggunting sisa perban dan membereskan peralatan P3K. "Thanks."
"For what?"
"Menolongku tadi dan maaf karena itu tanganmu jadi terluka."Kyungsoo menatap Jongin, memberi tatapan menyesal yang malah membuat Jongin gemas.
"Gwenchana, setidaknya tangan cantikmu itu tidak perlu memiliki bekas luka." Jongin mengelus puncak kepala Kyungsoo dengan tangan satunya yang hanya ditanggapi ekspresi diam gadis tersebut. "Ngomong-ngomong aku lapar, bisa tolong pesankan aku ramyun?" Kyungsoo yang tersadar kemudian mengangguk lalu menuju ke arah dapur.
Jongin menatap nanar tangannya yang terbalut perban. 'Jika dengan luka ini bisa membuatku dekat dengannya, kurasa tidak masalah' batin Jongin lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan.
To: Chanyeollie
Sepertinya aku tidak balik ke kantor setelah makan siang, ada yang ingin kulakukan. Tolong bereskan beberapa dokumen diatas mejaku, saranghae yoda!
Sent!
.
.
.
Kyungsoo kembali dengan membawa nampan berisi ramyun dan hot americanno pesanan Jongin, lalu memberi sepasang sumpit padanya.
"Cha, makanlah." Kyungsoo yang hendak berbalik menuju dapur tertahan saat tangan Jongin menarik pergelangan tangannya.
"Kau mau kemana?"
"Kembali ke dapur, wae?"
"Aku tidak suka makan sendiri."
"Lalu?"
Jongin mendengus pelan lalu melepas genggamannya. "Temani aku makan." Jawab lelaki itu menunjuk Kyungsoo dengan sumpit, mengarahkannya untuk duduk di hadapannya.
"Tapi aku sedang sibuk di-"
"Kau berhutang padaku Kyungsoo-shi." Kyungsoo yang tidak bisa melawan karena mengingat Jongin sudah menolongnya pun akhirnya menuruti kemauan lelaki tersebut.
"Tidak makan?" Sahut Jongin yang kemudian mengaduk ramyun, Kyungsoo menggeleng. "Diet?"
"Anniya." Dan kemudian hening, yang terdengar hanya suara yang timbul saat Jongin menyesap ramyun yang ia sumpit. Kyungsoo memandang keluar jendela, mengetukkan jari-jarinya dimeja.
"Kau gadis aneh." Jongin kembali membuka pembicaraan.
"Maksudmu?"
"Kemarin saat aku kesini ketika kafe hampir tutup sikapmu dingin denganku. Saat tadi aku menolongmu dan mengakibatkan tanganku terluka sikapmu mulai lembut padaku, tapi sekarang kau bersikap dingin lagi. Apa kau punya dua kepribadian?" Ucap Jongin yang masih setia menikmati ramyun sambil menatap lawan bicaranya.
"Eoh? Apa benar seperti itu?"
"Sudah pasti kau tidak akan menyadarinya."
"Pantas saja tidak ada yang mau berteman denganku."
Uhuk!
Tiba-tiba Jongin tersedak mendengar ucapan Kyungsoo, astaga pasti gadis ini tersinggung dengan perkataannya barusan. Jongin segera meraih botol air mineral yang ada di meja itu lalu membuka dan meneguknya cepat. Setelah merasa tenggorokannya baik-baik saja, Jongin langsung meminta maaf pada Kyungsoo.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak apa, kenyataannya aku memang tidak punya banyak teman selain pegawai disini."
Namja tan itu tampak merasa bersalah atas perkataannya, menatap Kyungsoo dengan tatapan menyesal tapi kemudian Kyungsoo malah tertawa. Mata bulatnya dengan cepat menyipit karena tawanya, membuat Jongin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Wajah Jongin yang menyesal ditambah tatapan bingungnya malah membuat Kyungsoo semakin tertawa.
"Oh god, you're so funny Kim Jongin! Aku hanya bercanda tadi hahaha!"Kyungsoo mengambil selembar tissue dan mengarahkannya ke sudut bibir Jongin yang terdapat sisa kuah ramyun saat dia tersedak tadi, gadis itu mengelapnya sambil tertawa kecil. "Bahkan kau tidak sadar ada kuah disudut bibirmu."
Jongin terperangah dengan sikap Kyungsoo, gadis ini benar-benar berbeda dari gadis lain yang prenah ia kenal. 'Sudah kubilang dia punya kepribadian ganda, she's such a transformer!' batin Jongin.
"Wow, kau benar-benar aneh Kyung-kyung."
"Sorry?"
"Kau aneh." Jawab Jongin.
"Bukan itu, tadi kau memanggilku apa?"
"Mereka memanggilmu seperti itu bukan? Kyung-kyung, panggilan itu cocok denganmu." Alis Kyungsoo bertaut, mencoba mengingat ulang panggilan tersebut dan tak lama kemudian sebuah senyum kecewa terbentuk dibibirnya.
"Kenapa? Kau tidak suka dipanggil begitu?" Tanya Jongin penasaran.
"Anniya, mereka memanggilku 'Kyung' tapi tidak dengan 'Kyung-kyung'. Panggilan itu mengingatkan ku dengan...seseorang?" Jawab Kyungsoo dengan tatapan kosong.
"Siapa? Keluargamu? Teman kecilmu? Ah aku tau, pacarmu?" Kyungsoo menatap Jongin, cukup lama mata mereka bertemu hingga akhirnya Kyungsoo lebih memilih untuk mengambil mangkuk ramyun tadi dan membersihkan meja tersebut. Meninggalkan cangkir Jongin dan beranjak dari sana.
"Kau ingin tambah kopimu?"
"Kau mau kemana Kyungsoo-shi?"
"Maaf tapi kau sudah siap makan jadi tugas ku sudah selesai, kita impas Jongin-shi. Aku ke ruanganku dulu."
.
.
.
Kyungsoo duduk di kursi kerjanya, membolak-balikkan jam pasir diatas meja sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ruang kerja itu terletak di pojok dalam kafe, tidak jauh dari meja kasir. Dinding berwarna abu-abu dengan corak kuning di ruangan tersebut di hiasi dengan foto-foto saat kafe ini pertama kali dibuka. Satu set sofa berwana hitam dan meja kecil di tengahnya tampak sesuai dengan konsep ruangan tersebut, simpel dan nyaman. Adapula beberapa pot bunga yang di letak diatas rak buku serta lemari pendingin kecil yang terletak di sudut ruangan.
Ruangan itu terasa sejuk karena air conditioner yang Kyungsoo nyalakan tapi keheningan mengisi ruangan tersebut. Kyungsoo sedari tadi berkutat dengan pikirannya di masa lalu, teringat dengan seseorang yang dulu pernah menempati sudut hatinya. Gadis itu kemudian membuka screen lock ponselnya dan membuka galeri foto, menggeser-geser jarinya hingga ia sampai di gambar terakhir. Seorang pria yang tengah mencium pipi kanannya saat salju sedang turun.
Pria yang pernah ia suka.
Pria yang pernah mengisi hari-harinya.
Pria yang bahkan tahu semua hal yang tentang dirinya.
Tapi sekarang ia tak tahu pria itu dimana, bagaimana kabarnya dan... ah, Kyungsoo kembali menundukkan kepalanya di meja. Berusaha agar tidak mengingat pria itu lagi.
Tok tok tok!
Pintu ruangan itu terbuka menampakkan Luhan yang memegang sebuah buku.
"Kyungie, ini buku pengeluaran bulan ini, semua sudah kucatat dan aku juga membuat catatan tentang stok bahan didapur. Semuanya aman!" Luhan yang antusias tiba-tiba menjadi bingung dengan sikap dongsaengnya itu, Kyungsoo terlihat muram. "Hey girl, ada masalah?"
Kyungsoo mendongakkan wajah menatap Luhan, menggeleng pelan lalu kembali menundukkan wajahnya.
"Ada apa? Apa namja yang tadi menolongmu marah karena kau membuat tangannya luka?"
Gadis itu kembali menatap Luhan, menggeleng lagi dan menundukkan wajahnya lagi.
"Kau sakit? Kau bisa pulang, lagi pula ini sudah sore."
Kyungsoo menggeleng lagi.
"Ah aku lupa! Namja yang tadi menolongmu sedari tadi menunggu diluar kafe."
Kyungsoo langsung menatap Luhan. "Maksud eonni?"
"Dia sepertinya menunggumu, bahkan dia sudah dua kali membeli hot americanno dan meminumnya di teras depan. Kau tahu, cuaca diluar mulai dingin dan-"
"Eonni kau bisa tutup kafe kan? Aku pergi dulu, annyeong!" Kyungsoo langsung menyambar ponsel serta mantelnya dan beranjak keluar ruangan. Saat sampai didepan pintu kafe Kyungsoo melihat Jongin yang duduk di bangku sambil memegang minumannya erat.
'Kau yang aneh Kim Jongin, bukan aku.' Batin Kyungsoo dan melangkah keluar.
.
.
.
Jongin masih menunggu gadis itu keluar, sesekali menyesap kopinya yang ketiga –pertama saat dia makan ramyun dan dua lagi ia minum sambil menunggu Kyungsoo keluar- dan menatap ke arah jalan. Jongin tahu Kyungsoo tidak membawa mobil karena daritadi ia tidak melihat mobil Kyungsoo terparkir disekitar kafe maka dari itu ia berencana untuk mengantar gadis itu pulang.
"Sedang menunggu seseorang?" Jongin berbalik dan mendapati Kyungsoo berdiri dibelakangnya, wajahnya terlihat datar sedangkan jongin terlihat senang karena orang yang daritadi ia tunggu akhirnya muncul juga.
"Aku menunggumu." Jongin segera bangkit berdiri.
"Kenapa?"
"Kau tidak bawa mobil kan? Aku bisa mengantarmu."
"Aku bisa pulang dengan bus."
"Kita pergi sekarang?"
"Aku pulang naik bus saja, Jongin-shi."
"Saat itu kau boleh menolak ketika aku menawarimu tumpangan karena itu kali pertama kita bertemu, tapi kali ini aku tidak ingin mendengar penolakan Kyungsoo-shi." Jongin menarik tangan Kyungsoo, membawanya kemobil dan membukakan pintu. "Masuklah."
"Kau tidak menculikku kan?" Tanya Kyungsoo waspada.
"Aku memaksa untuk mengantarmu pulang, apa itu termasuk penculikan?" Kyungsoo mendesah pelan dan akhirnya memasuki mobil Jongin. Namja itu berlari ke kursi kemudi dan menyalakan mobilnya, lalu berjalan menembus angin sore yang dingin.
"Kau tahu apartemenku?"
"Tahu, aku bertanya ke salah satu pelayan tadi. Kita searah."
"Kau bertanya ke pegawaiku? Wow, niat sekali."
"Aku hanya ingin mengobrol denganmu, tadi selesai makan kau langsung menghindar saat kupanggil Kyung-kyung"
"Oh itu, maaf." Kyungsoo memandang keluar jendela, mencoba menyembunyikan raut wajahnya.
"Ada apa? Kenapa kau tidak suka dipanggil seperti itu?"
"Sudah kubilang kau mengingatkan ku dengan seseorang."
"Siapa?" Tanya Jongin penasaran.
"Seseorang dari masa lalu."
"Mantan pacarmu?"
Kyungsoo tertawa kecil, kembali teringat dengan pria itu. "Bahkan kami bukan pasangan kekasih, hampir...tapi kami belum sempat menjalin hubungan."
Jongin memelankan laju mobilnya, menatap gadis disampingnya yang masih setia memandang keluar jendela.
"Maaf, kalau tahu seperti itu aku tidak akan bertanya." Ucap Jongin dan kembali fokus menyetir.
"It's okay. Mungkin sikapku memang berlebihan."
"Apa...apa dia meninggalkanmu?" tanya Jongin lagi.
"Bukan aku tidak mau bercerita, tapi kau lebih baik tidak mendengarnya. Mungkin lain kali."
"Oh tenang saja, aku tidak penasaran dengan kisah percintaan orang lain."
"Kalau begitu kenapa daritadi kau bertanya?"
"Hanya mengisi keheningan." Jawab Jongin terkekeh kecil. "Jujur saja, aku bukan orang yang mudah mencari bahan obrolan."
"Kau teman mengobrol yang buruk." Sahut Kyungsoo.
"Oh, sekarang kita berteman?" Jongin terlihat senang mendengar perkataan gadis tadi.
"Hahaha sepertinya kau sangat senang bisa berteman denganku." Kyungsoo tertawa, 'berteman dengan Jongin sepertinya tidak masalah'.
"Aku malah berharap kita bisa lebih dari sekedar teman nantinya." Jongin mencoba bercanda tapi yang ada lengannya dipukul oleh Kyungsoo.
"Jangan menghancurkan mood ku yang mulai membaik, Jongin-shi." Kyungsoo menarik nafas panjang, menghirup aroma mobil itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mobil tersebut. "Kau memakai parfum di mobil?" Tanyanya melihat Jongin.
Jongin menggeleng, matanya terfokus ke jalan. "Wae? Kurasa yang kau cium itu adalah parfumku."
"Benarkah? Aku suka wanginya." Jawab Kyungsoo, moodnya kini benar-benar berubah lebih baik.
"Kukira kau menyukai wajah tampanku." Kekeh Jongin.
"Hanya dalam mimpimu, tuan Kim." Kyungsoo ikut tertawa dan kemudian obrolan kecil pun berlanjut hingga tanpa sadar kini mereka sudah sampai didepan gedung apartemen Kyungsoo. Gadis itu membuka safety belt-nya dan bersiap untuk turun.
"Terimakasih tumpangannya, maaf merepotkanmu." Kyungsoo hendak membuka pintu mobil tapi panggilan Jongin mencegatnya.
"Tunggu, boleh aku minta nomormu?"
"Untuk?"
"Menghubungimu tentu saja. Aku tidak hobi mengoleksi nomor orang yang tidak penting bagiku."
Kyungsoo menatap jongin bingung. "Penting? Jadi bagimu aku penting?"
Jongin terkejut mendapat pertanyaan itu, 'astaga mulut bodoh! Kenapa berkata seperti itu ha?!'
"Tentu, kupikir mulai sekarang kita berteman. Dan bagiku teman termasuk orang yang penting." Jawab Jongin menutupi rasa gugupnya, untung saja otaknya bisa bekerja dengan cepat.
"Oh, baiklah. 010-" Kyungsoo menyebutkan nomor teleponnya. Jongin kemudian menelponnya dan menyuruh Kyungsoo untuk menyimpan nomornya juga.
"Yasudah, sekali lagi terimakasih. Hati-hati dijalan dan selamat malam Jongin-shi." Kyungsoo lalu membuka pintu mobil.
"Selamat malam Kyung-kyung, semoga mimpimu indah."
Tiba-tiba Kyungsoo berbalik menatap Jongin, tatapan tidak suka muncul di matanya. "Kau memanggilku apa?" Tanya Kyungsoo tajam.
"Kyung-kyung." Dan beberapa saat kemudian Jongin baru sadar bahwa Kyungsoo tidak suka dipanggil seperti itu. "Astaga Kyungsoo aku lupa, sungguh aku tidak sengaja! Yak! Do Kyungsoo!"
Terlambat, Kyungsoo segera menutup pintu mobil itu dengan keras, memasuki gedung apartemennya dan tidak menghiraukan Jongin yang mulai gelisah. 'Mulut bodoh! Ya tuhan! Bagaimana bisa dia memiliki mood yang bisa berubah drastis seperti itu?!'
.
.
.
To: Kyungsoo
Kyungsoo, kau marah?
Sent!
*15 menit kemudian
To: Kyungsoo
Aku sungguh tidak sengaja memanggilmu 'Kyung-kyung'!
Sent!
*1 menit kemudian
To: Kyungsoo
Astaga aku mengucapkannya lagi! Maaf maaf! T.T
Sent!
*5 menit kemudian
To: Kyungsoo
Kau sudah tidur? Kenapa tidak balas pesanku?
Sent!
*3 menit kemudian
To: Kyungsoo
Yak! Do Kyungsoo
Sent!
*2 menit kemudian
To: Kyungsoo
Kyungsoo... T.T
Sent!
*1 menit kemudian
Do Kyungsoo!
*30 detik kemudian
Beep beep!
From: Kyungsoo
SHUT UP KIM JONGIN! JUST GO TO SLEEP NOW!
.
.
.
You slow down, the you speed up
There's no anwser so I just blankly stared
A girl who lit up the path of my challenge
You're not easy, you're a mega girl
Whatever side of you it is, even if I get scared I want to have you
Tell me now, it's killing me baby!
I see you, I want you, then you transform
Can you feel me? Or are you gonna transform?
-Transformer by EXO-
.
.
.
TBC
a/n:
Annyeong! Maaf kalo chapter ini agak lama update soalnya aku baru selesai un, mianhae readers T.T Gimana chapter ini? Pendek ya? Banyak typo ya? Ngebosenin ya? Gak greget ya? Tolong sampaiin semua saran dan kritik kalian ke review yaaa, bakalan aku baca kok muehehe! Oh iya aku mau jawab beberapa pertanyaan dikolom review, cekidot~
Q: Thor gimana kalo nanti ada kisah baekyeol, dibuat kayak mv 'You Belong With Me'nya Taylor Swift? Rumah mereka sebelahan trus ntar mereka komunikasi pake surat.
A: Makasih buat masukkannya ya sayang, tapi kemungkinan di ff ini aku lebih fokusin ke kaisoo dibanding couple lain. Aku takut ntar konsentrasi aku pecah trus gak fokus nyelesaiin satu ff-_- tenaaang, buat yang ngarepin ff baekyeol, aku udah berencana buat ff baekyeol sesuai masukan. Jadi ntar aku bakal buat ff baekyeol yang terinspirasi dari mv 'You Belong With Me'. Ditunggu ya!
Q: Apa benar ff ini ngambil tema dari film 'Fifty Shades Of Grey'?
A: Sebenarnya saat awal pembuatan aku memang terinspirasi dari film tersebut, cuma makin kesini aku mikir gak bakalsepenuhnya buat Jongin semirip Mr. Grey atau Kyungsoo semirip Ms. Steel, tapi tetap akan ada beberapa adegan film yang aku masukin kesini walaupun mungkin melenceng sedikit muehehe. Penasaran? Tungguin aja ya kekeke.
Q: Thor penname-nya unik, aku harus panggil apa?
A: Hahaha ini yang bikin aku ngakak! Aku sendiri juga bingung kenapa bisa buat penname kek gitu. Aku terserah readersnya mau manggil apaan soalnya penname ini gak ada sangkut pautnya sama nama aku ._. tapi biar lebih mudah kalian bisa manggil aku 'Pi', soalnya itu panggilan aku dirumah hehe. Pipipipipipipipipipi~
Q: Thor NC-nya kapaaaaan?
A: Nah ini dia yang mau aku jelasin. Berhubung ff ini aku buat dari rate T-M, jadi aku gak bisa cepat-cepat masukin bagian NC kaisoo, maaf karena aku masih author baru jadi butuh imajinasi sama meras otak buat ngetiknya. Tapi tenang aja! NC PASTI ADA KOK! Yang sabar ya readers sayang~
Nah itu beberapa pertanyaan yang aku jawab, kalau ada pertanyaan atau kritik atau saran silahkan kirim ke kotak review oke? Tinggalin jejak kalian biar aku makin semangat lanjutin ffnya^^
Terakhir, aku masukin lagu "Transformer' karena ini bener-bener lagu favorit aku diantara semua lagu di album Exodus, gimana sama kalian? Hehe^^
Ppyong!
Nb: makasih buat kimikimjae yang udah ngingetin aku gimana cara publish ff kekeke!
