Yato membawa Hiyori ke gang kelinci. Dilepaskan tarikan pada syal Hiyori hingga gadis itu terbatuk-batuk tidak elit.

"Apa sih Yato-sen―"

Hiyori ditahan. Skak mat. Lengan Yato memerangkapnya di antara tembok bata. Seekor kucing lewat dengan senang hati menjadi saksi pose legendaris yang dijuluki kabe-don itu. Dikibaskan ekor, menanti apa yang terjadi selanjutnya.

"Iki-san, mari kita buat kesepakatan." Yato menatapnya intens, biar keliatan keurenth.

Hiyori tergagap, "K-ke-ke..kesepakatan apa?"

Yato malah terlihat bingung.

"Hm..bagaimana mengatakannya, ya..." Laki-laki itu menahan dagu. Ia berusaha memikirkan kata yang tepat. Setelah dirasa ketemu, ia mengucapkannya ;sebait kalimat ambigu.

"Maukah kau menjadi ibu dari bayiku?"

Ilustrasi petir menggelegar hebat di belakang Hiyori.

(Yato bingung harus bilang Yukine itu siapanya. Namanya juga nemu di kali.)

Bodo amat mau guru atau apa. Hiyori tahu Yato itu humoris, tapi bercandanya sangat keterlaluan dan dapat dikategorikan pelecehan. Daripada menampar klise seperti adegan sinetron negeri tetangga yang ramai selfie di tempat teroris beraksi, ―Hiyori langsung mengeluarkan jurus andalannya,

"Jungle Savate!"

.

.

.

.

.

Yato Cari Jodoh

Hak cipta : Adachitoka

Yang nulis cerita : Panda Dayo

Genre dan rated sudah tercantum

Warn : ooc, au. Slight Yatori (#yha) semua ini diperlukan demi komedi .o.

Tidak suka jangan baca. Buat yang suka,

~Happy Reading!~

.

.

.

.

.

.

.

Yato terbangun dari tidurnya dengan malas. Kelopaknya masih terasa berat, apalagi dengan linu sendi di sekujur tubuhnya akibat menerima serangan maut ―secara literal― dari salah satu murid didiknya semalam. Kalau saja ia tak ingat harus mencari uang walau berprofesi sebagai guru honorer ―terlebih saat ada bayi yang datang pada hidupnya.

Hng? Bayi?

Yato menoleh, mendapati bayi itu tampak tertidur pulas setelah ia belikan susu semalam. Yato tidak tahu cara membuat susu bayi yang benar, jadi ia kira-kira saja. Untung bayi itu tidu―

"Oeeekkk..." Saat bayi itu membuka mata, ia langsung menangis. Yato langsung membekap wajah si bayi dengan bantal terdekat.

"Berisik!" Gerutunya. Ayolah pagi-pagi telinganya harus ternodai. Kami-sama, kuatkanlah hati hamba-Mu ini.

Tunggu kalau bayi ini mampus karena kehabisan nafas gimana? Ia malah akan dicurigai sebagai sindikat perdagangan bayi yang marak akhir-akhir ini.

Perdagangan?

Yato menjentikkan jari. Fantastic!

"Aku akan menjual bayi ini!" Dimanapun dan kapanpun, pikiran Yato tak akan jauh-jauh dari uang.

Tolong, jangan dicontoh karena ini hanya fiksi belaka.

Yato melepaskan bantal dari Yukine. Saat bayi itu bersiap menangis kembali, Yato keburu menjejalinya dengan botol sisa susu semalam.

"Hm...kira-kira kujual berapa ya.." Yato sibuk mengkhayal total pendapatan apabila menjual bayi yang lucu nan sehat seperti Yukine. Apalagi, Yukine itu laki-laki, pasti harganya tinggi di pasar gelap.

"Akh! Tapi bagaimana aku menjualnya?!" Selama ini Yato hidup di jalan yang lurus dan benar, tidak punya kenalan yang berhubungan dengan hal semacam itu. Yato kan anak soleh, rajin beribadah, dan gemar menabung. Ah, masa.

Yato bangkit dari ranjangnya. Ia sedikit melirik ke arah Yukine yang memejamkan mata menikmati susunya. Kekhawatiran terbesar Yato bukan masalah membesarkannya atau apa, namun bagaimana ia akan mendaftarkan Yukine jika bayi itu sudah saatnya menempuh pendidikan usia dini? Untuk mendaftar sekolah, diperlukan akta kelahiran dari pernikahan yang sah secara hukum ―kalau Yato sih bikinnya massal sama anak-anak panti tempat tinggalnya dulu. Nama pun adalah sepenuhnya karangan mbah Iwami sang pemilik panti. Itu sebabnya ia tidak mempunyai marga. Yato teringat kisah pilunya saat berangkat sekolah, jangan sampai Yukine mengalami nasib yang sama seperti dirinya.

Tunggu, bukannya Yato mau menjual Yukine, ya?

Ah, sudahlah! Ia harus berangkat kerja! Tapi, bagaimana ini? Ia harus meninggalkan Yukine sendirian di flatnya? Apa ia harus meminta bantuan seseorang untuk mengasuhnya?

Geleng-geleng! Bahkan tidak ada yang tahu ia membawa bayi ini ―hampir kepergok sih iya sama Daikoku.

Kira-kira, siapa yang mau merawat Yukine tanpa mengharap imbalan apapun demi mengurangi defisit keuangannya makin menjadi dan tidak membocorkan informasi?

Yato tersentak. Ia lalu terbahak. Benar juga! Ia akan menghubungi mantan teman satu pantinya, Hiiro. Dengan cepat ia meraih ponsel di atas meja nakas dan menelpon kontak temannya. Temannya itu bekerja sebagai akuntan publik dan terkadang mengunjunginya di akhir bulan membawa persediaan makanan untuk Yato. Ah, mempunyai teman rasanya begitu indah~

Temen apa temen.

"Halo, Yato-san? Ada apa? Kau kekurangan makanan?" Si penerima panggilan mendahuluinya berbicara.

Yato menangis imajiner. Semenyedihkan itukah kehidupannya di mata Hiiro? Tapi, bener juga sih.

"Begini, Hiiro. Aku memerlukan bantuanmu. Aku menemukan seorang anak ―maksudku bayi. Aku bingung bagaimana merawatnya karena aku juga harus bekerja." Jelas Yato jujur ―yah dengan pengurangan ia sempat berpikir untuk menjualnya.

"Kenapa tidak kau jual saja? Kau akan kerepotan, kan?"

Yato menganga. Ini Hiiro bisa membaca pikirannya atau apa? Bagaimana kalau Hiiro sekarang jadi cenayang dan bisa mengetahui segala kegiatannya termasuk aktivitas nyabunnya? Oke, lupakan yang terakhir tadi.

"Hi-Hiiro, maksudku―" Yato belum sempat berkomentar saat Hiiro menjedanya.

"Aku punya teman yang bekerja di pasar gelap. Kirimkan fotonya lewat e-mailku dan aku akan mengusahakan harga tertinggi. Semua uangnya untukmu saja."

Hiiro, is that you?

Yato terdiam beberapa saat.

Benar juga. Mengapa ia harus mengurus bayi yang tak diketahui asalnya dan repot-repot memikirkan masa depannya? Bayi itu toh bukan siapa-siapanya.

"B-baiklah. Akan kukirim nanti fotonya."

"Dua minggu lagi." Ujar Hiiro sebelum memutus panggilan.

Dua minggu. Yato harus bisa mempertahankan bayi itu hanya dalam dua minggu bagaimanapun caranya. Lagipula, ia juga butuh uang untuk ditabung.

Yato menatap bayi itu yang tertidur pulas di atas kasurnya. Dua minggu lagi, dan ia akan kembali pada kehidupan normalnya.

Ia mengarahkan jemari pada fitur kamera di ponselnya. Dipotretnya Yukine yang sedang tertidur dan mengirimkannya pada e-mail Hiiro.

"Maaf, Yukine."

.

.

Hiyori celingukan begitu tiba di ambang pintu ruang guru. Susah payah ia bangun pagi demi menyelamatkan jatah nilai. Ia mendekap sekotak fullo untuk diletakkan di atas meja Yato-sensei. Meskipun ia menghajar guru itu semalam, Hiyori bukanlah pribadi yang tak tahu balas budi. Meski caranya salah, sih.

Hiyori berjingkat perlahan. Meja Yato ada di sudut kiri paling belakang. Ketika sudah sepenuhnya memasuki kantor, ia berjalan cepat menuju meja guru olahraganya itu dan meletakkan sekotak fullo di lacinya.

Mission completed!

"Hohoho, Kazuma kapan kamu nikah?"

Hiyori terkesiap mendengar sebuah suara. Dengan cepat ia menyembunyikan diri di bawah kolong meja Yato.

"Mayu-san! Sudah kukatakan aku belum memikirkannya!"

"Jangan lama-lama lho, nanti kamu dikira LGBT." Yang bernama Mayu terkekeh. Kazuma hanya melirik kesal, tapi tak membalasnya. Kalau begitu, tidak akan ada usainya percakapan ini.

Hiyori mengenali suara guru matematika ―Kazuma― dan guru Bahasa Jepang ―Mayu―nya. Tapi ia terlalu takut untuk melihat situasi. Ia tidak pernah tahu Kazuma-sensei berangkat sepagi ini. Apa yang harus dilakukannya?! Sial, harusnya ia tak sembunyi dan bilang saja sedang mengembalikan buku materi yang dipinjamkan Yato; alibi yang bagus dan baru ia pikirkan sekarang. Aaahh! Hiyori mengacak-acak rambutnya sendiri, frustrasi.

"Oh, Yato! Selamat pagi!" Mayu menyapa seseorang lagi. Hiyori berkeringat dingin. Apalagi sekarang? Yato-sensei sudah datang? Kalau ia ketahuan..

"Siapa anak kecil itu, Yato-san?" Kali ini suara Kazuma yang terdengar.

Yato terkekeh sembari menunjukkan Yukine, "Dia anak temanku. Aku dititipi selama dua minggu." Yato melompat girang dalam hati setelah memikirkan alasan yang tepat agar tidak meninggalkan Yukine di flatnya. Untung tadi Daikoku sedang tidak ada. Ibu-ibu lagi belanja ke pasar. Mpok Bishamon masih molor karena belum buka warungnya. Untuk sementara dia aman dari bisikan tetangga. Bisa berabe lah kalau ketahuan membawa bayi hasil temuan.

Lalu kenapa kau justru memicu gosip baru di tempat kerjamu?!

"Kukira dia anakmu." Kazuma membetulkan letak kacamatanya.

"Mana mungkin Yato punya anak? Jangankan istri, pacar aja gak punya." Timpal Mayu.

JLEB. JLEB. JLEB.

Itu sfx kokoro Yato yang tertusuk. Benar-benar si Mayu itu, mulutnya seperti tidak ada filter. Kalau dia bukan wanita, Yato pasti sudah menghajarnya tadi. Padahal dia sendiri juga jomblo tapi ngatain orang mulu kerjaannya.

A-anak?

Hiyori sedikit mengintip dengan menyembulkan kepala, hanya untuk melihat Yato menggendong seorang bayi dalam dekapannya dan sedang berbicara pada Kazuma-sensei dan Mayu-sensei yang sedikit jauh darinya. Begitu mungil dan pas dipeluk, apalagi helai pirangnya yang tampak lembut. Tidak berlama-lama, Hiyori menurunkan kepalanya kembali. Ingatannya tentang kejadian semalam otomatis terputar dengan sendiri. Jadi, waktu Yato meminta bantuannya membelikan susu bayi, itu untuk anak temannya? Lalu kenapa dia mengatakan 'bayiku' ?

Iki Hiyori, tujuh belas tahun, berjanji dalam hati akan mengusut masalah ini hingga ke akarnya; kalau tak ada akar rotanpun jadi. Hiyori akan membentuk tim penyelidik, melakukan pengintaian, dan investigasi.

"Yah, hari ini aku hanya mengajar kelas 1-C, jadi aku akan meninggalkannya di kursiku sebentar. Kalau dia menangis kasih saja susu, aku tadi membeli banyak botol untuknya sebelum kemari."

Mayu dan Kazuma memandang heran.

"Yato-san, kau―" Kazuma yang pertama, diteruskan oleh Mayu.

"―merelakan tabunganmu untuknya?"

AC berhembus kencang.

Emang aneh ya kalau Yato memakai uangnya demi bayi ini. Rekan kerja Yato mengenalinya sebagai orang paling hemat dan irit. Kata teman kerjanya, Yato kebanyakan nonton kartun yang ada kepiting kikirnya. Padahal aslinya mah begitu. Yato tidak akan menggunakan uangnya kecuali kepepet.

Tenang, Yato! Dalam dua minggu semua modal ini akan kembali padamu! Ini yang namanya air susu dibalas kolam uang! Huahahahahaha!

perumpamaan macam apa itu?

"Ah, sebentar. Aku akan meletakkan Yukine." Kata Yato sembari berjalan menuju meja kerjanya.

"Hee?! Namanya bagus." Mayu cemburu mengapa nama bayi itu bisa terdengar keren.

"Jika aku tidak mengajar, akan kuusahakan mengawasinya. Aku juga akan bilang pada kepala sekolah―" Kazuma belum selesai saat Yato menyela perkataannya.

"Tidak! Jangan katakan pada Tenjin bodoh itu!" Protes Yato.

Hiyori masih berdiam diri ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Gawat! Jangan-jangan Yato-sensei!

Ah, benar saja. Hiyori dapat melihat celana olahraga gurunya itu di hadapannya walau masih sedikit terhalang kaki meja.

"Kenapa tidak boleh, Yato-san?"

"Sudahlah! Aku tidak mau diceramahi si tua bangke it―"

Yukine yang sedari tadi digendong Yato dan hendak diletakkan di kursi mendadak menangis keras.

"Ooeekk―!"

"Isshh, diam! Akan aku ambilkan susu!" Yato meletakkannya sebentar di meja kerja. Tas selempangnya ia buka dan mengambil sebotol susu untuk meredakan tangisan Yukine.

"Yato-san! Lihat, kau tidak becus mengurusnya!" Mayu jadi geregetan sendiri. Setengah berlari ia menghampiri Yato untuk membantu menenangkan si bayi. Ia kan juga pengen peluk-peluk Yukine yang oenyoeh. Kazuma juga sedikit panik dan mengikuti Mayu di belakang.

Yato menyodorkan sebotol susu pada Yukine. Yukine terdiam sebentar dengan mata berkaca-kaca. Tapi, ia malah menepis botol susu yang diberikan Yato hingga jatuh menggelinding ke bawah meja.

"Tenanglah! Aku tidak tahu kau maunya apa!" Yato gagal paham. Semalam bayi ini baik-baik saja ketika diberi susu. Kenapa sekarang malah rewel, sih?!

Mayu mengambil alih dengan menggendongnya dan menepuk-nepuk pundaknya guna menenangkan, tapi Yukine masih menangis.

"Yu-ki-ne a-anak ba-ik~" Mayu sedikit sing a song. Namun hasilnya tetap sama.

"Aduh, Yato-san...mana mainan Yukine?"

"Hah, mainan?" Yato malah kedip-kedip gaje.

"Biasanya bayi akan diam jika memainkan sesuatu ―menurut buku yang kubaca." Ujar Kazuma mencoba menjernihkan suasana. Kazuma, kamu ngapain baca buku begituan? Kebelet kawin, ya?

Yato mengingat-ingat lagi. Yang ada di kardus itu cuma surat wasiat, beberapa setel pakaian bayi, dan juga lilin ―btw itu lilin buat apaan ya?

"Gak ada."

"Kau ini bagaimana sih, hubungi temanmu itu!" Seru Mayu sembari berusaha menenangkan Yukine. Yato kelagapan. Gawat, jika kebohongannya terbongkar di sini, ia benar-benar akan dikira bagian dari sindikat perdagangan bayi. Hampir, sih.

"E-eh ano..itu...dia sibuk jadi tak bisa dihubungi."

Kazuma menyipit curiga.

"Yato-san...apakah dia benar-benar anak dari temanmu?"

Mengapa harus dua minggu lagi Hiiro baru bisa mengabarinya?! Sial! Hiiro, tolong aku, Yato tak tahu harus meminta tolong pada siapa. Ternyata keputusan membawa Yukine ke sekolah adalah sebuah kesalahan besar.

Kamunya sih bego kok diterusin.

"Be-benar, kok." Yato melirik ke samping, tidak berani menatap Kazuma yang tiba-tiba jadi mode investigasi. Hueee.

"A-akan kuambil botolnya, sebentar."

Yato menundukkan setengah badan. Tangan kiri menumpu pinggiran meja, dan pinggang ke atas mencari sesuatu di bawah sana.

Sementara Hiyori tidak tahu kapan dirinya akan keluar dari sini karena suasana semakin ramai. Ia hanya berdoa agar tak seorangpun menotis diriny―

"Hiyori?"

Doanya terputus di tengah jalan, sepertinya. Di saat netranya bertatapan dengan sepasang safir yang familiar. Guru olahraganya cuma masang tablo saat bertatapan muka dengannya di bawah kolong meja. Mendadak lagu Koimiligaya~koimiligaya~ terdengar entah darimana. Diiringi bunga-bunga bermekaran, cie yang lagi kepikiran.

"Yato-sen..sei?" Tanya sang remaja putri. Ia bahkan tak berkedip melihat Yato yang juga menatapnya intens.

"Kau...kenapa kau di sini?" Bisiknya.

Hiyori mendadak doki-doki ―gugup maksudnya. Mengapa ini harus terjadi padaku, batin Hiyori nelangsa.

"St...sti..k..." Hiyori makin memelankan suaranya. Membuat Yato terpaksa mendekat ke arahnya karena tidak dapat mendengar dengan jelas..

"Hah? Apa?"

"Yato! Keluarkan semua isi tasmu!"

Yukine dialihkan pada Kazuma. Mayu menarik tas selempang Yato sedikit kasar, mencari apa kiranya yang dapat menenangkan anak ini. Sayang, dia tak mendapat apapun kecuali lima botol susu dan...dompet Yato.

Mayu membuka dompet Yato. Tidak ada pilihan lain. Ia mengambil satu-satunya lembar uang bernilai sepuluh ribu yen dan menunjukannya pada Yukine.

"Yukine~ lihat sini~" Mayu mengayunkan helai nominal tersebut.

Yukine menoleh dan perlahan tangisannya terhenti. Matanya lalu berbinar. Tangannya hendak meraih uang itu.

"Aaa! Aaa!" Yukine masih berusaha mendapatkannya.

'Aku tidak yakin ini anak temannya.' Pikiran Kazuma dan Hiiro mendadak jadi satu. Jangan-jangan, dekat dengan Yato akan membuatmu jadi seorang mata duitan? Bayi ini sudah seperti Yato KW saja jika begini.

Mayu hendak bertanya pada Yato soal memakai uangnya sebentar untuk dipakai mainan, namun tanpa sadar ia membuat Yato yang tengah mencari botol di kolong meja jadi terjatuh karena posisinya yang setengah menungging begitu.

BRUKK

Mayu menyadari suara yang cukup keras. Sedikit merasa bersalah pada guru honorer itu, "Yato, maaf! Aku tidak senga―"

Pemandangan yang dilihat Mayu; Yato menindih seorang murid perempuan di kolong meja. Diketahui dari seragam si murid.

Yato kebingungan sendiri mengapa ia terjatuh. Segera ia tersadar tengah menindih salah satu siswinya.

"M-maaf, Hiyori.." Gumamnya. Kepalanya rada pusing. Duh ini kenapa lagi. Siapa sih yang membuatnya terjatuh? Untunglah botol susu Yukine berhasil ditemukan.

"Ya-Yato-sen..sei?" Hiyori memerah.

"Yato, jelaskan padaku!" Suara Mayu di belakang Yato membuat lelaki itu bergidik ngeri. Yato menoleh dan mendapati Mayu menatapnya garang.

"Apa yang kalian lakukan di bawah sana?"

Gawat, ini benar-benar gawat!


Tsuzuku


A/N : aduh maaf lama apdet uhuhu kuliah baru mulai lagi dan mumpung dosen saya ada yang pergi ke Jepang jadi ada sedikit kosong cuma modal wifi kampus apdetnya hahahaha yang gak ngeship Yatori semoga gak gondokan ngebaca chappie ini~heuheuuu~kan udah ada di warning atas*nunjuk2*

Dan ini sengaja dipanjangin sebagai penebusan dosa #gitu

Jangan lupa notis saya dong #murahan

Akhir2 ini kurang asupan humor jadi mohon maaf apabila tidak memuaskan karena saya tidak cukup berpengalaman /melenceng/ dan mungkin akan lebih condong ke drama untuk chapter2 depan uvu #nangesh


Balasan review :

Marikka Kenullia : wah seneng deh ada yang menikmati fik gajelas ini makasih ya sudah menyempatkan baca dan meninggalkan jejak *senyum sejuta watt

Yamashita Aruka : berarti situ salah nyetel lagu #dicekek

Hahahaha gatau enak aja jadiin Bisha mpok-mpok (?) penjual nasi padang.

Oh suka KazuBisha? Saya juga hahahaha tapi entaran deh bikin fik baru lagi wwwww

(Entah kenapa panda merasa ngeri ada kalimat cuci otak ;;w;; saya ga merasa nyuci otak anda, sungguh/bersimpuh)

Tiramisu-chan30 : yosh ini sudah lanjut ya makasih sudah jejak ;;;;

Reycchi : iyasih soalnya kayanya humornya lebih pol kalo ooc sekalian #dipendem# semoga chappie ini juga cukup dosis humor...hueee /takud

Ryuki Ayanami : duuhh jangan ingatkan diriku pada Suzuha jadinya baper kann ;;;; hahaha padahal menurut saya komedinya keterlaluan #yha syukur bisa dinikmatin eaa jejak lagi dong kan uda lanjut /dikepret

Akaihime : semoga chappie ini juga bisa meredakan stresmu (lagi) #iyain

Frazka15: hahaha ga login juga gpp saya menerima dengan ikhlas ;;;; baca doang juga panda udah seneng kok ehehehe makasih ya masih mau baca T^T semoga masi ngakak ya...semoga..btw kok kesannya Kazu itu seleranya janda ya #OHOK #bukan

Iya aku juga setia menunggu Yato jadi kaya, tapi entah kapan. Pokonya kalo dia tajir aku minta persenan karena berkontribusi nyumbang kepopuleran di arsip Noragami Indo #maksa

Terima kasih sudah membaca. Jika sempat silahkan jejaknya eaaa #gelarredcarpet

(Btw di sini pada ngikutin manga-nya, kan? Itu gimana terusan kok gitu sih /nyanyi)

Thanks for read!

Tukang nyampah,

siluman panda