:
:
Keterangan :
Naruto, Menma, dan Ino : 17 tahun (3 SMA)
Sasuke : 37 tahun (Dokter umum)
.
...
"Sasuke." Dengan pelan Naruto membangunkan Sasuke yang masih bergelung dengan selimut.
"Sasuke." Masih setia dengan nada pelannya Naruto menggoyangkan bahu Sasuke.
"TEME BANGUN!" kesal karena tak dapat reaksi akhirnya Naruto berteriak dan mendorong Sasuke.
"Bocah!" geram dibangkunkan dengan cara tak elit Sasuke mendeath glare Naruto.
"APA!? Mau marah? Silahkan! Tapi tak ada jatah untukmu kalau begitu!" balas Naruto lebih sadis. "Mandi lalu sarapan, kau lupa kalau kita akan pulang hari ini?" tanya Naruto diambang pintu, sebelum kembali keadapur.
"Shit!" umpat Sasuke. Ia lupa kalau bulan madunya yang hanya tiga hari itu telah berakhir. Dan kini mereka harus kembali kerumahnya dan bersiap melihat reaksi sang anak bahwa 'ibu' barunya adalah Naruto. Hah ya sudah sebaiknya ia mandi dahulu, pikirnya sambil berjalan ke arah kamar mandi yang ada didalam kamarnya.
.
"Semoga kau bisa menerimaku, Menma." Lirih Naruto.
.
:
Naruto © Masashi Kishimoto
Mama wa Doukyuusei © Azuma Yuki
'Mama' wa Doukyuusei : SasuNaru version © Heiwajima Shizaya
Pair : SasuNaru
Warning : AU, YAOI/BL/Shonen-Ai, Pedo!Sasu, OOC, Gaje, Miss/Typo(s) and all stuff
Don't Like Don't Read
RnR?
:
Chapter 3 : Meeting
...
"Menma-chaaaaaaan." Teriakan nyaring itu begitu menggema dikoridor sekolah yang masih sepi. Membuat siapa saja yang baru sampai disekolah dapat mendengar teriakan tersebut.
"Ck! Ino bisa kau hentikan memanggilku begitu." Suaranya datar namun begitu menguarkan aura permusuhan. 'Glek, mati aku.' Batin Ino.
"Hehe gomen~ habis kau itu..."
Death glare!
"Hehe keren yah keren maksudku Menma-kun~" lanjut Ino saat mendapat death glare gratis dari uchiha muda tersebut. Menyeramkan!
"Hn."
"Aih kau ini benar-benar... ouch." Lagi-lagi kata Ino terpotong, kini karena ia menabrak seseorang yang sedang membawa setumpuk buku-buku, terbukti dengan terjatuhnya mereka berdua dengan buku-buku disekitar.
"Go-gomen." Lirih sang penabrak sambil memunguti buku-bukunya kembali dan dibantu Ino. Dalam hati ia menggerutu akibat ulah karena ulah Asuma sensei yang pagi-pagi menyuruhnya membawa buku setumpuk seorang diri.
"Ah~ doijobu eum..." Ino melirik pemuda didepannya, menatap dengan bingung. "Uzumaki-kun." Lanjutnya ketika berhasil membaca nama tagnya.
"Ka-kalau begitu saya permisi." Uzumaki, atau biasa dipanggil Naruto itu pamit untuk melanjutkan jalannya. Tapi...
Grep!
"Uzuma...ki?" tanya ambigu Menma, yang menahan Naruto. Mata biru Naruto yang berbingkai kaca mata bulat itu melirik kearah tanggannya dan membalas Menma dengan cukup lirih, "Ha'i."
Sadar akan tingkah anehnya Menma pun mengusir pemikiran konyolnya, tidak mungkin dia, pikirnya.
"Ah maaf aku salah orang." Kata Menma sambil melepas tangan tersebut, menggaruk tungkuknya yang tidak gatal, meski wajahnya tetap datar dan tak menunjukkan rasa bersalah. Meski jujur saja ia jarang meminta maaf.
Tersenyum manis Naruto melihat tingkah Menma, "Tak apa Menma-kun." Balas Naruto spontan sambil melanjutkan jalannya membawa setumpukkan buku tersebut ke perpustakaan, tak sadar ia telah membuat Menma mematung dan Ino yang bingung.
"Ne, kau kenal dia Menma?" tanya Ino masih sambil mentap punggung Naruto yang sudah tidak kelihatan. "Iie." Balas singkat Menma sambil melanjutkan jalannya, tak ingin ia kembali berfikiran dan bertingkah konyol.
"CK! Tunggu Menma!" teriak Ino lagi yang sadar bahwa ia ditinggal.
.
.
Naruto yang masih bisa mendengar suara teriakkan Ino tersenyum samar, "Menma-kun ternyata kau imut." Kata Naruto sambil tertawa pelan.
Ia kembali mengingat wajah Menma tadi yang meski terlihat tegas namun disisi lain begitu imut dengan mata birunya tersebut. Kembali ia tersenyum dibuatnya, tanpa sadar akan badannya yang setiap jalan akan oleng sedikit, bibirnya mengerucut, "Ugh berat sekali buku-buku ini." grutunya sambil melanjutkan jalannya ke perpustakaan. Ingatkan Naruto untuk menghindari Asuma, guru itu tidak ada rasa kasihan sedkitpun padanya ukh!
.
...
"Tadaima." Meski ia tahu ayahnya masih di rumah sakit walau sudah pulang dari bulan madunya –ayahnya tidak pulang ke rumah dulu tadi pagi– dan rumah kosong ia tetap mengucapkannya, kebiasaan memang sukar untuk hilang.
Eh tunggu? Kenapa rumahnya lebih rapi dari biasanya? Dan... snif snif... harum masakan? Tumben pembantunya memasak untuk makan siang sebelum pulang.
Oh atau jangan-jangan ayahnya sudah pulang dan membawa makanan mungkin? Atau... ibu barunya? Ah ia mungkin saja, tapi kenapa ia tak membalas ucapannya dan menyambutnya yah? Dari pada semakin bingung akan keadaan rumah yang malah membuatnya pusing, akhirnya Menma memilih berjalan kearah dapur.
Ia ingin tahu harum masakan apa itu dan siapa tahu ada orang yang melakukan semua ini sehingga ia tak bingung lagi. Ah~ ngomong-ngomong ia sudah sangat lapar, salahkan ia yang lebih memilih bermain basket disekolah bersama teman-temannya setelah pulang tadi bukannya langsung pulang.
Zreeeessss
Suara khas air shower membuat Menma membatu. Ayahnya atau Ibu barunya kah? Tanya Menma dalam hati. Ia berjalan dengan pelan kearah kamar mandi, membatalkan niatnya yang ingin menuju dapur yang memang tak jauh dari kamar mandi.
Grekkk
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka membuatnya sepontan mumdur kebelakang dengan rona wajah yang ketara sekali sedang terkejut. Tentu Menma akan terkejut saat melihat seseorang yang jelas bukan ayahnya (apa lagi ibu barunya, begitu pikirnya) keluar dari kamar mandi.
Si-siapa pemuda pirang ini? batinnya bertanya horor.
.
...
'Haa~h segarnya~ mandi disiang hari memang menyenangkan.' batin seorang pemuda manis berambut pirang yang telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia ambil handuk yang tersampir didekatnya dan ia pakai dipinggul. 'Menma kemana yah? Kok dari tadi belum pulang?' Tapi kini batinnya bertanya sendiri memikirkan sang 'anak' yang belum pulang pulang.
Yah pemuda manis tersebut adalah Naruto Uzumaki. sehabis pulang dari sekolahnya tadi ia langsung sedikit berberes, menyiapkan makan siang dan setelahnya mandi. Menunggu untuk makan bersama 'suami'nya pun tak mungkin, karena ia pulang malam. Sedangkan 'anak'nya Menama pun belum pulang-pulang, padahal mereka keluar dari sekolah pada jam yang sama. Kemana anak itu yah?
Greekk
Terkejut. Tentu Naruto terkejut saat ia baru saja keluar dari kamar mandi ternyata Menma telah berdiri didepan pintu kamar mandi tersebut dengan wajah yang errr sedikit horor?. 'Apa yang anak ini lakukan? Dan kapan ia pulang? Aku tak mendengarnya.' batinnya lagi bingung akan adanya Menma tiba-tiba dihadapannya.
"Ah okaeri Menma-kun." Ucapnya akhirnya meski canggung sambil tersenyum manis.
"..." dan Menma masih mematung, syok mungkin?
Naruto menarik nafas akan ketidak adanya reaksi dari Naruto, dan dengan masih tersenyum Naruto pun berkata kembali, "Sebaiknya kau mandi dulu, makan siangnya akan ku siapkan segera." Namun melihat Menma belum juga membalas dan bergerak membuat Naruto khawatir juga, 'Apa aku menyeramkan? Atau jangan-jangan ia kerasukan setan lagi? Aduh kau dari mana saja nak?' Batinnya ngaco.
"Si-siapa?" tanya Menma akhirnya. Yokatta ia tak kesurupan, pikirnya lega sambil menghel nafas.
"Ah maaf aku belum memperkenalkan diri." Kata Naruto akhirnya sadar akan kecerobohannya (dan pikiran ngaconya).
"Aku–"
"Tadaima."
Baru saja ia akan berkata namun sebuah suara seseorang dari arah pintu memotong perkataan Naruto. Ah tapi tak mengapa karena ia hapal suara itu maka dengan cepat Naruto menuju kearah sumber suara tersebut, meninggalkan Menma yang masih mematung ditempat.
"Okaeri anata." Naruto tersenyum lembut menyambut orang tersebut, ia mengambil tas kerja Sasuke, suaminya dan membiarkannya mematung didepan pintu.
"Kau mau menggoda Naru?" bisik Sasuke sambil memeluk dari belakang punggung polos Naruto. Astaga ia lupa memakai bajunya. Muka Naruto memerah dengan sempurna. "Etto, tumben kau pulang cepat? Tidak ada dinas malam?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan, dari pada ia dirape ditempate? Lagian Menma juga masih di depan kamar mandi, bagaimana jika ia melihat? Naruto merinding.
Sedangkan bagi Sasuke tak masalah Naruto mengalihkan godaannya tadi, toh nanti ia bisa menggoda kembali pemuda manis miliknya ini.
"Aku hanya ingin menjelaskan Menma dengan cepat, kurasa anak itu akan mengerti jika aku yang menjelaskan." Ah kini Naruto mengerti, ia pun membawa tas Sasuke ke kamar mereka sekaligus untuk berganti baju. "Kau mandilah, nanti baru kita bicarakan." Seru Naruto dari dalam kamar.
.
...
"Ja-jadi, dia yang menjadi ibu baruku?" tanya Menma horor setelah diberi tahu oleh sang ayah tak lama dari makan siang mereka, kini mereka berkumpul di ruang tengah. Naruto hanya menunduk, takut reaksi negatif lah yang ia terima. Dan sepertinya firasatnya benar.
"Ba-bagaimana bisa? Hell! Dia bahkan seumuran denganku Tou-san!" Protes Menma tak habis pikir akan maksud ayahnya. "Kau anak yang tadi siang bertabrakkan dengan Ino kan?! Aku yakin itu meski kau tak memakai kaca mata bulatmu sekarang!" Lanjut Menma sambil menunjuk kasar Naruto. Benar-benar geram, pantas ia merasa tak asing dengan marga Uzumaki itu.
"Menma jaga sikapmu! Sekarang ia adalah 'ibu'mu."
"Dia pria tou-san! Damn,apa yang dipikiranmu itu? Kau menikahi seorang pria, aku tak masalah sebenarnya dan sudah setuju, tapi oh God ia seumuran dengan anakmu?! Kau gila!" Menma semakin panas, apa yang dipikirkan ayahnya itu sih?!
"Bukankah kau sudah menyetujuinya Menma?" balas sang ayah dengan dingin.
"Iya karena ku kira kau akan menikah dengan seorang lelaki dewasa! Setidaknya jangan dengan anak dibawah umur Tou-san, God!" frustasi, yah menma begitu frustasi mengetahui kabar ini.
Memang ia sudah setuju akan pernikahan ayahnya ini, tapi ia baru tahu marga 'pria' yang dinikahi ayahnya ini bukan umur dan segal macam, menyesal ia tak menanyakan lebih lanjut bahkan tidak menghadiri pernikahan mereka –yang ini karena ia lebih memilih liburan bersama teman-temannya. Ia benar-benar tak menduga dan ia frustasi sekarang mengetahui ayahnya menikah dengan anak SMA.
Wajah Sasuke mengeras melihat tingkah anaknya, "Dia pilihanku Menma! Dan ia sudah berumur 17 tahun." Sasuke berkata dengan nada yang dingin kepada anaknya. Tak menyangka anaknya akan menolak habis-habisan setelah mereka memberitahu akan siapa Naruto.
Naruto yang dari tadi hanya bisa duduk diam disebelah Sasuke merasa khawatir juga akan keadaan yang memanas ini, ia pun mengelus tangan Sasuke dengan lembut untuk menengkan suaminya itu.
"Sudahlah 'Suke, mungkin ia hanya masih syok." Ucap Naruto dengan berharap suaminya ini dapat tenang. "Gomen Menma-kun, aku tahu berita ini membuatmu syok, gomen karena aku tiba-tiba masuk kedalam kehidupan kalian." Lirihnya pelan tak berani menatap Menma. Jujur saja ia takut akan reaksi Menma yang seperti ini.
"Naru–" ucap Sasuke pelan namun tak jadi karena tangan Naruto yang awalnya mengelus kini mencengkam tangan Sasuke cukup kencang.
"Hah terserah kalian! Kau sudah dewasa Outo-san, dan kau Uzumaki-san ku harap kau menikahi ayahku bukan karena ada maksud!" ucapan tajam Menma akhirnya yang seakan menusuk Naruto, ia pun pergi meninggalkan Naruto dan Sasuke yang masih mematung. Sepertinya ia butuh udara segar.
Sasuke kesal akan tingkah anaknya, apa sulitnya sih tinggal menerima? Bukannya Menma sudah menetujui pernikahan mereka? Toh Naruto itu sangat manis tak kalah akan wanita berdada besar nan genit diluaran sana. Ia memijit pangkal hidungnya pelan.
"Sebaiknya kau istirahat saja, aku takut nanti kau sakit." Ucapan pelan Naruto membuyarkannya. Dan sepertinya ia akan menuruti permintaan 'istri' barunya ini. ia benar-benar pusing.
"Hn."
TBC (Tabok Bokong Cacuke XD)
...
Ne minna gomen kalau kemarin pendek dan yang sekarang (apa) juga pendek :'
harap maklum #bungkuk.
Tapi Shi harap yang kali ini kalian suka, oh ya tentang Mpreg mungkin ada di akhir nanti, sebagai epilog mungkin hehe ^^a belum Shi tulis untuk endingnya, jadi masih mikirinnya XD
Oh ya untuk yang tanya kenapa Menma belum tahu kalau Naru yang jadi ibunya, disini udah kejawab kan? Menma emang udah setuju tapi dia juga cuek akan siapa Uzumaki yang dimaksud Sasuke dan ia juga gak dateng dipernikahan mereka jadi gitu dah XD scane yang ini adaptasi dari komik aslinya sih, si anak cuma setuju tapi gak tau apa-apa tentang si ibu barunya. Dan tentang Menma anak siapa hihi tunggu di chap berikutnya (lupa ditaruh dichap berapa XD)
Dan Shi ucapkan big thanks untuk yang sudah review :
Hanazawa kay, Vianycka Hime, Kkhukhukhukhudattebayo, Viviadra phantom, Himawari Wia, ila hunter, haruna aoi, manize83, megajewels2312, Mushi kara-chan, gici love sasunaru, tsunayoshi yuzuru, fatayahn, aurantii13, RaraRyanFujoshiSN, Dinda Clyne, Blacknightskyeye Yue-Hime, Chic White, Nauchi Kirika-chan, shikakukouki777.
Big thanks juga untuk yang udah Follow and Favo + silent reader(s).
Tanpa kalian FF ini tak akan hidup (?)
So mind to review again Minna?
Jaa mata ne~
...
Chapter 4 : Accepting or Refusing?
"Bagaimana pendapatmu akan Ibu baru?"
"Asal ia baik dan menyayangi keluarga sudah cukup, bukankah kau tak membenci hubungan sejenis Menma?"
'Ah benar juga, baru sehari saja rumah sudah seperti itu'
'Seakan Kaa-chan ada lagi.'
"Menma kau dari mana saja? Ayahmu mengkhawatirkanmu dari tadi, kau sudah makan?"
"Ne, Menma kau masih marah padaku?"
"Gomen, tapi aku menikah dengan ayahmu bukan karena ada maksud maupun paksaan, ini murni akan rasa cinta yang telah ada sejak lama."
