Menyambut uluran tangan teman-temannya, sekali lagi Miku meraihnya dan melangkah bersama mereka memulai perjalanan panjang yang dulu selalu dinantikannya.

.

.

.

-Blessed Messiah and The Tower of AI-

Hitoshizuku-P x YamaΔ

Vocaloid © Yamaha Corporation

Cerita versi saya sendiri…

.

.

.

Hutan…sejauh mata memandang hanya ada hutan dengan pohon kayu tua berdaun kuning kecoklatan serta tanah gersang dengan sedikit rerumputan hijau.

Miku menatap sekitarnya dengan khawatir.

Berbeda dengan desa yang dia tinggalkan, hutan yang berada jauh dari desanya tampak seperti akan hancur dalam waktu dekat. Dia tidak pernah tahu itu.

Selama ini dia hanya memikirkan kehidupannya sendiri, jauh di dalam desa yang nyaman. Tetapi dia tidak pernah memperhatikan apa yang terjadi diluarnya.

Menepuk pundak Miku pelan, senyum hangat Len melukiskan senyuman kecil pada wajah Miku. Mereka berjalan berdampingan sementara teman mereka yang lain telah berada jauh di depan mereka.

"Mereka akan selamat. Mereka memilikimu, kami memilikimu." Ucap Len lembut.

Wajah Miku sedikit memerah mendengar kata-kata Len.

"Aku hanya merasa khawatir menghadapi apa yang terjadi setelahnya." Miku menundukkan kepalanya, Len terdiam sejenak.

Dia menatap langit cerah di angkasa kemudian menghentikan langkahnya.

"Miku.." Miku menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Len. Tanpa menatap Miku, Len melanjutkan kalimatnya. "Kau percaya pada kami, kan?"

"Eh?" Miku terkejut mendengar pertanyaan Len sementara Len menatapnya serius.

"Apapun yang terjadi, kau tetap akan percaya pada kami, kan?"

Memegang pundak Miku, tangan Len terasa bergetar di bahu gadis itu. Miku dapat merasakannya, mungkin Len juga merasakan ketakutan yang sama sepertinya.

"Hmm.." Gadis itu kembali tersenyum. Tanpa perlu berpikir, gadis itu sudah tau jawabannya. "Tentu saja." Dia tidak mungkin meragukan mereka, karena sejak awal dia sudah memutuskan untuk percaya pada mereka.

Mendengarnya langsung dari Miku membuat Len merasa sedikit tenang, setidaknya dia sudah mengatakannya. Sisanya, dia hanya bisa menyerahkannya pada Miku.

Len menghela nafas lega kemudian melepaskan genggamannya pada pundak Miku. Gadis itu menatapnya khawatir tapi seringai Len menghilangkan perasaan cemasnya.

Tak jauh dari tempat mereka berada, pemuda bersurai biru meneriakkan nama mereka untuk kesekian kalinya.

Menoleh ke arah sumber suara, mereka kemudian tertawa.

"Pantas saja aku seperti mendengar sesuatu." Len sengaja menyaringkan suaranya.

Kaito mendengus kesal, dia beranjak menjauh dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Ayo kita kembali." Len melangkah terlebih dahulu kemudian berbalik mengulurkan tangannya pada Miku.

Dengan senyum lebar, Miku menyambut uluran tangan Len. Mereka berdua berlari menghampiri teman-teman mereka yang sedang beristirahat.

Kaito masih menatap Len kesal tetapi pemuda bersurai kuning itu segera menghampirinya kemudian mengaitkan lengannya pada leher Kaito, pemuda bersurai biru itu menyeringai sebelum mengacak-acak rambut Len dengan tangan kirinya. Len pun melakukan hal yang sama, dia mengacak-acak rambut Kaito dengan tangan kanannya.

Meiko tertawa terbahak melihat dua pemuda itu, dia kemudian melirik Gakupo. Pria bersurai ungu itu bergidik ngeri melihat seringai di wajah si ksatria wanita.

"Jangan berpikir untuk mencobanya."

"Tidak akan." Jawab Meiko dengan senyum di wajah. Gakupo menghela nafas lega, tiba-tiba dia merasakan sesuatu melingkari lehernya. Menengok ke kanan, dia mendapati ksatria wanita yang sejak tadi duduk disampingnya tiba-tiba sudah mengaitkan lengan pada lehernya dengan senyum lebar di wajah.

Gakupo menghela nafas sekali lagi.

Tanpa menghiraukan teman-temannya, Luka berusaha memejamkan mata sejenak.

Gumi dan IA yang sejak tadi sedang bercanda hanya cekikikan melihat tingkah teman-temannya. Sementara Miku mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

Memeriksa bungkusan kain berwarna cokelat, Rin dan Mayu tampak kesusahan untuk membukanya.

Miku tersenyum kecil kemudian melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua,

"Perlu bantuan?" Alis Rin melengkung kebawah sementara satu sisi bibirnya tertarik ke atas, tawaran Miku sepertinya sudah terjawab dari ekspresi Rin.

"Begitulah." Mayu menyahut dengan ekspresi serupa. Rin dan Mayu kemudian bertukar pandang.

"Baiklah, aku akan membantu. Rin tolong beritahu semuanya." Miku mengepalkan tangan kanan ke udara sementara tangan kiri menepuk otot bisepnya. Melihat Miku membuat Mayu dan Rin tersenyum lebar.

"Hmm.." Rin mengangguk kemudian berdiri menghadap teman-temannya.

"Makan malam akan siap beberapa menit lagi." Serunya dari jauh diikuti dengan sorakan. Luka dan Meiko kemudian menghampiri mereka untuk membantu menyiapkan makan malam.

Setelah mengumpulkan beberapa ranting untuk menyalakan api unggun, mereka duduk membentuk lingkaran. Meiko dan Luka mengambil beberapa potong roti dari bungkusan kain yang mereka bawa kemudian menyerahkannya pada Miku, Mayu dan Rin untuk dibagikan kemudian mereka ikut bergabung bersama yang lainnya.

Roti yang dibawa oleh Mayu dan IA memang tidak lagi hangat seperti saat Miku membelinya kemarin lusa tetapi memakannya bersama teman-teman yang dicintainya membuatnya menikmati setiap rasa dan kehangatan yang tercipta.

Mereka sedang asik bercanda saat Len tanpa sengaja melihat sebuah kalung yang tergantung di leher Miku, dia segera berseru.

"Miku..apa itu?" Menunjuk kalung itu, Miku mengikuti arah yang ditunjuk Len kemudian tersenyum.

"Ah benar juga, aku lupa memberikan ini pada kalian." Dengan tampang kebingungan, mereka melihat Miku mencari sesuatu dalam tas kecil miliknya yang diletakkan tak jauh dari situ.

Menjawab rasa penasaran mereka, Miku menyodorkan beberapa kalung yang dibuatnya menggunakan batu permata merah dan wol yang dia temukan di meja kerjanya.

Dia memberikan satu pada Len, tampak ekspresi puas di wajah Len.

"Waah kerenn." Meiko kemudian mengambilnya dari tangan Miku. Tak lama kemudian, masing-masing dari mereka mengambil satu kalung dari tangan Miku dan Miku tentu saja menyerahkannya dengan senang hati.

Mengagumi warna merah yang memancar dari batu itu, mereka langsung memakainya di tempat yang berbeda.

Len dan Rin memasangnya di pakaian mereka, Meiko mengunakannya untuk mengikat rambut, Gakupo melilitkannya di kepala, Luka mengikatnya di pinggang, Gumi melepaskan wol pada batu itu kemudian memasang batu itu pada kalung di lehernya, Kaito melilitkan talinya di pergelangan tangan sementara IA dan Mayu melilitkannya di pergelangan kaki.

"Sekarang tidak bisa disebut kalung lagi. Tidak apa-apa kan?" Kaito mengamati teman-temannya kemudian melemparkan senyuman pada Miku.

"Kami punya style sendiri." Sahut Gumi sambil memegang batu yang diberikan Miku.

"Tapi warnanya sangat bagus, aku tidak pernah melihatnya dimanapun. Dimana kau mendapatkannya?" Meiko baru selesai membantu Rin memasangkan batu itu pada pakaiannya, kemudian dia menatap Miku dengan penasaran.

"Anggap saja itu adalah hadiah spesial dari Tuhan." Mereka semua saling bertukar pandang. Senyuman mereka mengembang mendengar kata-kata Miku.

"Kalau begitu ini adalah batu persahabatan dari Tuhan." Len mendeklarasikan sambil berdiri mengundang gelak tawa dari teman-temannya.

Matahari sudah lama terbenam, lolongan panjang terdengar jauh di tengah kegelapan. Walau api unggun tidak dapat sepenuhnya mengusir hawa dingin yang menusuk, setidaknya mereka dapat merasakan sedikit kehangatan.

Luka dan Gakupo menyandarkan tubuh mereka pada pohon. Rin sudah lama tertidur di pangkuan Luka sementara IA tampak beristirahat disampingnya. Miku menyandarkan kepalanya pada pundak Luka dan perlahan terlelap.

Meiko duduk di dekat api unggun menghangatkan diri, Kaito berdiri di sampingnya. Mayu tampak mondar mandir membawa beberapa potong roti, tampaknya Len dan Gumi tidak akan berhenti makan dalam waktu dekat.

"Hei jangan makan terlalu banyak." Seru Gakupo tanpa beranjak dari tempatnya.

"Eh~ Kak Gaku, biarkan kami menikmatinya selagi masih bisa." Sahut Gumi kemudian menggigit roti yang dipegangnya.

"Tapi jangan dihabiskan. Kita masih memerlukannya untuk nanti." Seru Gakupo lagi.

Gumi dan Len tidak menyahut, mereka masih sibuk melahap makanan mereka.

Malam semakin larut. Bulan purnama di puncak langit bersinar terang menggantikan api unggun yang sudah mulai redup.

Tidak lama setelah menghabiskan makanan mereka, Gumi dan Len tidur bersebelahan di samping Gakupo sementara Mayu bersandar pada bahu kakaknya.

Di dekat api unggun, Kaito duduk sendirian tenggelam dalam pikirannya. Gakupo pun tak jauh beda.

"Agak mengganggu, kan? Perasaan ini." Kaito menatap pria bersurai ungu yang sedang memandang langit kosong tanpa bintang dengan ekspresi kosong,

"Sedikit." Terdapat raut kesedihan di wajah Kaito.

"Sementara ini, bisakah kau mengabaikannya? Perasaan itu. Perjalanan kita tinggal sedikit lagi." Kaito memandangi langit, menyahut dalam diam berharap takdir memihak mereka.

.

.

.

Mereka kembali melanjutkan perjalaan saat fajar dan sudah keluar dari hutan sebelum tengah hari, berjalan di sepanjang bebatuan dan tanah yang gersang hingga mereka tiba di kaki bukit.

Miku menatap bukit terjal di atas sana dengan tatapan khawatir.

Len menepuk pundak Miku, membuatnya menoleh. Pria pirang itu memberikan senyum yang menenangkan,

"Dapatkan kemenangan, lakukan yang terbaik." Serunya menyemangati.

Meiko kemudian memegang kedua tangan Miku.

"Kau hanya perlu meraih tangan kami dan percaya pada kami." Seru Meiko sambil mengusap tangan Miku.

"Maka tidak ada yang perlu kau takutkan." IA menyahut diikuti oleh yang lainnya. Miku mengangguk kemudian tersenyum.

.

.

.

"Menara itu ada di puncak bukit terjal ini." Gakupo mengingatkan. Mereka memandang puncak bukit.

Melihat Rin gemetar, Len menggenggam tangannya dengan erat. Rin menoleh pada Len.

"Jangan tunjukkan kelemahanmu." Bisik Len, Rin mengangguk kemudian menyeka air matanya.

"Kita bisa melakukannya!" Seru Gumi lantang.

"Mulailah dengan berpijak pada batu di sebelah sana" Seru Kaito mengarahkan. Mereka menurut, berpijak pada batu paling rendah untuk mencapai tempat yang lebih tinggi.

Gumi bergerak sangat cepat hingga tanpa dia sadari, dia sudah mencapai puncak bukit terjal itu. Dia menatap teman-temannya dan berteriak dari atas.

"Apa kalian baik-baik saja?"

Kaito mengulurkan tangannya, Luka menyambutnya sambil melangkahkan kaki menaiki batu dihadapannya.

"Disini baik-baik saja." Sahut Kaito setelah berhasil mencapai tempat yang sama dengan Gumi. Gumi mengangguk kemudian memeriksa yang lainnya.

Mayu membantu Miku mendaki ke tempatnya berpijak. Meiko menepuk-nepuk pundak IA yang tampak kewalahan. Sementara Gakupo memandu si kembar Kagamine mencari tempat yang lebih nyaman untuk dipijak.

Beberapa puluh menit kemudian, IA terbaring di tanah mencoba mengatur nafasnya.

"Apa kau sudah menyerah." Canda Meiko, IA menggelengkan kepalanya.

"Kurasa aku tidak suka memanjat tebing."

Mayu menghampiri Meiko dan IA membawakan botol air untuk mereka, IA segera mengambilnya dari tangan Mayu dan meminum beberapa teguk.

"Terima kasih." Meiko membelai rambut Mayu, senyum kecil terbentuk di wajahnya.

"Terima kasih Mayu." IA menyeringai seraya menyerahkan botol berisi air itu pada Meiko.

"Bagaimana keadaan yang lainnya?" Tanya Meiko setelah menenggak beberapa kali.

Mayu mengalihkan pandangan pada teman-temannya, Meiko mengikuti arah pandang Mayu.

Di depan mereka, sebuah menara berdiri dengan tegak menjulang ke langit. IA menatapnya takjub, Meiko membelalakan matanya.

Miku berdiri dihadapan mereka semua tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari menara itu. Kaito dan Gakupo bertukar pandang kemudian tersenyum puas.

Gumi menyeringai lebar. Sementara Rin dan Len menatapnya dengan kagum.

Senyum lebar terbentuk di wajah Miku, gadis itu membalikkan badannya sambil berseru.

"Saatnya mengambil 'blessing' itu." Satu persatu teman-temannya tersenyum lebar. Mereka berjalan beriringan memasuki pintu menara.

.

.

.

Dinding, lantai, serta langit-langit menara itu terbuat dari batu, Miku memeriksa isi menara sesaat setelah kakinya melangkah memasukinya. Setelah memasuki menara, pintu masuk akan tertutup dengan sendirinya, sebuah ruangan lebar dengan dua buah pintu menanti mereka di dalamnya. Pintu pertama adalah tempat diletakkannya 'blessing' sedangkan pintu kedua adalah jalan menuju lantai berikutnya.

Untuk dapat membuka pintu kedua, maka sang 'Messiah' harus mengambil 'blessing' di pintu pertama.

Miku berdiri di depan pintu pertama, menarik nafas panjang saat pintu batu itu terbuka perlahan menampakan sebuah 'blessing' dengan cahaya putih biru yang mengelilinginya.

Setelah pintu itu terbuka lebar, Miku berjalan mendekati 'blessing' pertama yaitu 'Blooming Wave' yang terletak di atas meja batu. Miku mengulurkan tangannya. Jantungnya berdegup cepat seiring menipisnya jarak antara tangannya dengan 'blessing' itu. Tapi…

Tanpa diduga, seorang pemuda meletakkan tangannya di atas tangan gadis itu, memegang tangannya erat. Kemudian pemuda itu—Kaito menatap Miku. Gadis itu membelalakan mata saat pemuda itu mengatakan,

"Kita berbagi kebahagiaan dan rasa sakit" Dengan senyum licik di wajah, Kaito mendorong Miku keluar dari ruangan.

Suara tawanya menggema bersamaan dengan suara benturan pintu yang tertutup dengan keras.

Miku terpaku sambil memandangi pintu yang tertutup. Sang 'Messiah' yang seharusnya mengambil 'blessing' itu didorong keluar dan 'blessing' pertama telah dicuri oleh temannya sendiri.

Tanpa dia sadari, teman-teman yang berdiri di belakangnya mengubah ekspresi mereka. Senyum hangat yang selalu mereka tunjukkan berubah menjadi seringai licik dan tatapan mereka berubah menjadi kebencian.

Mereka saling memandang dengan pandangan tidak bersahabat seolah mereka adalah musuh yang saling membenci satu sama lain.

.

.

Di sisi lain ruangan, pintu kedua telah terbuka menampakkan sebuah tangga menuju lantai atas.

Miku masih merasa tertekan atas kejadian tadi, dia berjalan perlahan menuju puncak tangga diikuti oleh teman-temannya.

Saat mencapai puncak tangga, pintu menuju 'blessing' kedua yaitu 'Fire Banquet' terbuka menampakkan sebuah 'blessing' dengan nyala kemerahan seperti api.

Miku menghampiri ruangan itu dengan ragu-ragu, sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki bergerak cepat. Lalu dia melihat salah satu temannya, si ksatria wanita bermata merah berlari melewatinya, melemparkan dirinya ke dalam ruangan kemudian menodongkan mata pedang ke arahnya.

Ketakutan menjalari tubuh Miku, gadis itu menatap si ksatria dengan ketakutan saat si ksatria melemparkan tatapan ganasnya. Miku melangkah mundur, pintu itu kemudian menutup bersamaan dengan terbukanya pintu menuju lantai atas.

"Hmm..kau sudah menantikan ini, kan."

"Kalau begitu pergilah. Mungkin mereka juga akan senang mendengarnya."

Miku teringat kata-kata yang pernah diucapkan Meiko. Kata-kata itu begitu menenangkan, dia merasa sangat senang saat Meiko memberinya semangat. Tapi kenapa….

"Kau hanya perlu meraih tangan kami dan percaya pada kami."

Apakah ini arti dari senyum aneh yang mereka tunjukan saat dia pertama kali memberitahu mereka mengenai dirinya yang terpilih sebagai 'Messiah'?

Miku mengepalkan tangannya, giginya bergemeletuk. Dia segera berlari menaiki tangga menuju lantai selanjutnya. Di belakangnya, dia mendengar derap langkah kaki melangkah dengan cepat.

Saat dia mendekati pintu menuju 'blessing' selanjutnya, seorang gadis bersurai pirang terang melangkah melewatinya.

"Tidak! Mayu!" Miku memegang tangan Mayu, menghentikannya melangkah lebih jauh. Tapi tanpa dia duga, sang kakak-IA menepuk kepala adiknya saat melangkah melewatinya memasuki ruangan berisi 'Grace of the Sunlight' dengan cahaya kuning cerah.

Seolah baru saja memenangkan perlombaan, IA tersenyum puas sebelum pintu dihadapannya tertutup.

Miku terpaku. Dia tidak menyangka IA akan melakukan hal semacam itu.

"Miku! Kau harus berhasil!"

Suara lembut IA kembali terngiang dalam benaknya, dia memegang kepalanya yang mulai terasa sakit.

….Kenapa IA? Kenapa kau harus melakukan itu.

Dia tak henti-hentinya menyerukan itu dalam kepalanya, dia tidak bisa menerima fakta bahwa orang yang sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri telah mengkhianatinya.

Pintu menuju lantai selanjutnya telah terbuka, Miku menolehkan kepalanya ke arah pintu. Menepis tangan Miku dari tangannya, sang adik segera berlari dengan frustasi menuju lantai atas. Miku segera mengerjarnya.

Dia melihat pintu menuju 'blessing' berikutnya telah terbuka, menampakkan ''Peaceful Darkness' dengan cahaya ungu putih yang mengelilinginya. Langkah Miku semakin cepat, tapi dia masih terlalu lambat. Mayu sudah berada di dalam ruangan, berjalan menuju 'blessing' dihadapannya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Saat Miku sudah berada cukup dekat dengan ruangan itu, pintu telah tertutup.

"Akulah yang seharusnya mendapatkannya. Akulah yang terpilih." Miku terpaku, menatap pintu itu tak percaya. Dia berseru dengan frustasi kemudian membalikkan badannya, terkejut melihat teman-temannya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi

"Kau tidak bisa mengambilnya sendiri, kami tidak akan membiarkanmu." Teman-temannya berlari mendahuluinya, menaiki tangga menuju lantai selanjutnya.

Miku berlari dengan cepat, berusaha menghalau siapapun yang berusaha mencuri 'blessing' selanjutnya.

…Ada apa ini? Apakah kerakusan dapat mengubah seseorang?

Dia berseru dalam hati. Nafasnya memburu sementara jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya tercekat saat melihat sosok bersurai ungu berlari mendekati pintu.

"Jangaannn! Jangan lakukan itu!" Miku berteriak dari jauh.

Pintu yang berada jauh di depannya perlahan terbuka menampakkan 'blessing' dengan sinar berwarna jingga disekelilingnya. Si pendeta bersurai ungu segera memasuki ruangan 'Trembling Ground' sambil merentangkan kedua tangannya seraya memanjatkan doa.

"Semoga Tuhan akan memberi jalan, ampunan, juga memberi bantuan agar dapat keluar dari pedihnya rasa penghianatan." kemudian tertawa licik sebelum pintu tertutup.

Miku terpaku, langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup.

"Benarkah? Itu berita yang sangat bagus."

Miku masih dapat mengingat senyum lebar di wajah Gakupo saat dia mengatakan kalimat itu.

"Yang aku tau, tempat itu penuh dengan penderitaan. Hanya orang terpilih dan rekannya yang dapat pergi kesana."

Rekannya? Apa sejak awal Gakupo memang berencana untuk mengambil 'blessing' itu?

Penuh penderitaan…

Miku merasakan emosinya meluap.

.

.

.

Pintu menuju lantai selanjutnya terbuka, Miku berjalan perlahan. Dia melirik ke kanan, mendapati Gumi berjalan di sampingnya sambil terus menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Dia ingin melihat Gumi yang biasanya, dia ingin melihat Gumi yang ceria. Tapi gadis bersurai hijau itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

Langkah Miku menjadi semakin cepat saat melihat pintu berisi 'blessing' selanjutnya terbuka, menampakkan 'Rumble of Thunder' dengan cahaya putih hijau mengelilinginya.

Gumi sang penyair mulai bersenandung sambil memejamkan mata,

"Siang dan malam dalam renungan

Mentari dan rembulan senantiasa bergandengan

Saat kebersamaan menjadi kenangan

Melepas persahabatan menjadi pengorbanan…"

Langkah Miku terhenti mendengar syair yang disenandungkan Gumi. Miku menoleh ke arah Gumi, sementara gadis penyair itu membuka matanya perlahan kemudian berjalan melewati Miku.

"…dalam sebuah pengkhianatan."

.

.

Gumi menyelesaikan syairnya dengan sengiran licik di wajah. Miku baru menyadari sosok Gumi telah berada di dalam ruangan itu, dia mulai berlari menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti saat pintu itu tertutup dengan cepat.

"Wahh hebat, Miku-chan hebat. Kau akan menjadi penyelamat dunia."

Wajah ceria Gumi yang selalu dilihatnya kini berubah menjadi sengiran licik yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

"Kemana perginya teman-temanku..apa semuanya menentangku?" Miku bergumam, tubuhnya gemetar ketakutan.

Mereka mencuri semua 'blessing' itu satu persatu, berlomba mendapatkannya secepat mungkin.

Menghilangkan cinta yang sudah melewati batas.

Manaiki tangga menuju lantai selanjutnya. Pintu berisi 'blessing' berwarna hijau dikelilingi cahaya putih telah terbuka. Miku masih merasa frustasi setelah Gumi mencuri 'blessing' sebelumnya. Memanfaatkan keadaan tersebut, sang penari segera memasuki ruangan 'Rondo of Whirlwind' dengan tariannya.

Miku mendengar suara hentakan kaki sang penari saat langkahnya terdengar menjauh dari sisinya. Dia melihat Luka berputar beberapa kali setelah berada di dalam ruangan sambil tersenyum penuh kemenangan. Miku terpaku, juga merasa tertekan.

Luka?

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dadanya terasa sakit, nafasnya terasa sesak.

Dia terus bergumam hingga suara pintu yang tertutup menyadarkannya. Dia melirik ke arah Rin dan Len yang berdiri di belakangnya. Rin menatap pintu yang tertutup dengan tubuh gemetar, dia menggigit bibir bawahnya kemudian mengepalkan tangannya. Sementara Len tampak memalingkan wajahnya ke arah lain.

Apa yang mereka pikirkan?

Kini hanya tersisa mereka bertiga, Miku tidak ingin Rin dan Len melakukan hal yang sama. Dia tidak bisa lagi menanggung rasa sakit di hatinya ketika melihat teman yang dia percaya berbalik menentangnya. Padahal mereka awalnya sangat mendukungnya.

Miku kembali menatap pintu di hadapannya.

"Kau tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja, bahkan semua akan menjadi lebih baik. Pikirkanlah itu, Miku. Kau akan menyelamatkan dunia, kau akan menyelamatkan semua orang. Bukankah itu bagus?"

Air mata menetes di sudut mata gadis bersurai teal itu.

"Hanya, jangan berhenti percaya. Jika kau dalam masalah, kami akan membantumu. Kami selalu melakukannya, benarkan?"

…Jangan. Jangan kau juga… Luka-nee…

Hatinya terasa sakit. Luka sudah seperti seorang kakak bagi Miku, dia selalu merawat Miku dan menaruh perhatian padanya. Luka tidak pernah meninggalkannya.

Luka… adalah kakak yang sangat berharga baginya.

Miku menyeka air matanya.

Tatapannya berubah kosong. Semangat yang tinggi serta keceriaan di wajahnya kini telah lenyap, menyisakan kekosongan di hatinya.

Miku terus berjalan menaiki tangga menuju lantai selanjutnya dengan langkah yang berat, pintu menuju 'Garden of Silver Snow' telah terbuka. Miku melangkah mendekati ruangan itu tetapi Len segera memegang pundaknya, membuat gadis itu menoleh.

"Miku…aku…" Len sudah akan mengatakan sesuatu tapi kata-katanya langsung terhenti saat dia merasakan dorongan pada pundaknya. Kakak kembar Len—Rin mendorong Len menjauhi ruangan kemudian melangkah memasuki ruangan itu.

"Tidak! Rin!." Len mengulurkan tangannya untuk menghentikan Rin tapi terlambat. Miku menutupi mulutnya dengan tangan, pupilnya membesar menatap Rin tak percaya.

Dengan 'blessing' yang dikelilingi cahaya putih biru di hadapannya, Rin membalikkan badan dan tersenyum untuk terakhir kali, tersenyum bahagia dengan air mata yang menetes di sudut mata, kemudian senyuman itu menghilang di balik pintu.

Sekali lagi, jantungnya seolah berhenti berdetak, ketakutan menjalar di tubuhnya.

"Miku… kau hebat!"

"Kau... adalah seorang Messiah…."

Tangan Miku gemetar.

Tidak.

Rin tidak pernah tersenyum licik seperti itu. Rin adalah gadis yang sangat baik, dia tidak boleh melakukan itu.

Miku merasa putus asa tetapi masih ada sedikit dorongan di dalam dirinya yang memintanya untuk menyelesaikan semua ini.

.

.

Melihat pintu menuju lantai atas terbuka, Miku memaksakan dirinya untuk melangkah.

Mencapai 'blessing' yang terakhir, Miku berjalan perlahan bersama Len di sisinya. Pintu terbuka menampakkan 'Fetal Movement of Magma' dengan cahaya putih dan merah mengelilinginya.

Miku mendekati ruangan itu, tetapi Len menahannya. Dia memegang kedua pundak Miku dan menatapnya serius.

"Bukankah kau sudah mengatakan akan mempercayai kami apapun yang terjadi." Miku tampak terkejut mendengar kata-kata Len, matanya mulai berair.

"Tapi mereka—"

"Apa kau percaya pada kami, Miku? Apa kau percaya padaku?!" Len mengguncang tubuh Miku, Miku memandang mata azure Len kemudian mengangguk kecil.

"Baguslah. Karena aku juga percaya padamu-kami percaya padamu...kami tidak akan berhenti percaya." Senyum hangat kembali di wajah Len, Miku merasa sedikit senang tapi,

"Kalau begitu biarkan aku yang mengambilnya." Len memasuki ruangan itu kemudian membalikan badannya dan tersenyum dengan bangga.

Miku membelalak kaget saat melihat Len sudah berada di dalam ruangan, dia tertipu oleh kata-kata Len. Dia melihat mulut Len membuka mengatakan sesuatu sebelum pintu tertutup, tetapi dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.

Alis miku melengkung ke bawah sementara dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.

…Padahal selama ini dia sudah memendam perasaannya untuk pemuda itu. Padahal dia benar-benar percaya pada pemuda itu. Padahal dia merasa senang saat pemuda itu memintanya untuk percaya. Padahal…

"Aku menyukaimu…" Miku sempat menggumamkan kata-kata itu sebelum pintu tertutup. Entah Len dapat mendengarnya atau tidak. Tapi, dia ingin setidaknya Len mengetahui perasaanya yang sesungguhnya. Dia ingin Len bertahan di sisinya. Dia tidak ingin Len mengkhianatinya, jangan dia.

Miku terduduk, kedua tangannya menutupi wajah. Air mata langsung membanjiri wajahnya, dia berteriak.

Teman-temannya telah berkhianat, semua 'blessing' telah dicuri.

…Apa sebenarnya mereka sengaja menawarkan diri menemaninya dalam perjalanan agar mereka bisa mengambil semua 'blessing' itu..

…Apa kebahagiaan yang dia rasakan, kehangatan yang diberikan teman-temannya dalam perjalanan saat itu hanyalah sandiwara belaka agar dia mempercayai mereka..

Pintu menuju puncak menara telah terbuka.

Miku berdiri dengan perasaan hampa, memegang tongkat obor tanpa api dengan erat di tangan kanannya kemudian berjalan menaiki tangga menuju altar.

"Selamat datang wahai 'Messiah' terhormat" Sosok siluet menyambut Miku dari atas altar. Pupil Miku membesar menatap sosok itu.

"Aku adalah perantara yang dikirim Tuhan untuk menyambutmu." Serunya lagi seolah dapat membaca pikiran Miku.

"Tapi, aku tidak mengambil satu 'blessing' pun." Berjalan mendekati Miku, sosok itu menunjuk ke tengah altar. Mengelilingi tumpuan batu, sembilan patung tersusun dalam lingkaran, memegang lilin merah yang tidak menyala di tangan mereka.

Miku tersenyum pahit. Sang perantara tersebut tertawa kecil.

"Itu bukanlah blessing, semua itu adalah hukuman Tuhan." Miku tersentak.

"Blooming Wave, tenggelam dalam lautan yang ganas. Fire Banquet, menari di dalam api neraka. Grace of the Sunlight, jatuh bertumpu lutut tak berdaya karena rasa haus yang tiada ampun. Peacefull Darkness, terjebak dalam kegelapan hingga kehilangan akal. Trembling Ground, ditelan bumi…"

Miku jatuh bertumpu pada lututnya, matanya menatap sang perantara dengan tatapan kosong, air matanya mengalir tanpa henti mendengar kenyataan yang telah dihadapi teman-temannya.

"Kau tidak bisa mengambilnya sendiri, kami tidak akan membiarkanmu."

"Rumble of Thunder, disambar oleh petir penghakiman. Rondo of Whirlwind, dicabik-cabik oleh topan. Garden of silver snow, membeku sampai ke tulang, sampai ke jiwa. Fetal Movement of Magma, merangkak melewati api."

"Kami tidak akan berhenti percaya."

"Dalam sakit dan sehat, kita berbagi kebahagiaan dan rasa sakit"

Menjadi selogan yang mereka pegang sejak pertama mereka bertemu hingga saat terakhir mereka berpisah.

Dia akhirnya mengerti kenapa teman-temannya mengambil semua 'blessing' itu. Mereka tidak ingin Miku menerima hukuman itu sendirian, mereka tidak ingin membiarkan Miku menderita sendirian. Karena itulah mereka melemparkan diri mereka sendiri, mengorbankan kehidupan mereka dan lebih memilih menerima penyiksaan yang menanti mereka di balik pintu itu.

Mereka semua sudah mengetahui arti dari 'blessing' itu, tetapi kenapa...

...mereka tidak perlu melakukannya sampai sejauh itu.

Miku merasa bersalah. Dia sudah berprasangka buruk dan menghilangkan kepercayaan pada teman-temannya. Dia merasa sangat bersalah.

Air mata menetes membasahi wajahnya.

Miku kemudian berdiri. Melanjutkan estafet itu setelah menyaksikan pengorbanan yang dilakukan oleh teman-temannya yang tak berdosa. Pengorbanan ini akan terus terulang tetapi mereka telah menghentikan pengulangan itu.

.

.

Memegang erat tongkat obor yang telah dia menangkan dengan bantuan teman-temannya, Miku menundukkan kepala.

Air matanya masih tak berhenti menetes. Lilin merah yang berada di tangan sembilan patung telah menyala kemudian meleleh. Lelehannya yang berwarna merah mengalir hingga ke tengah altar, menyalakan api kehidupan yang selama ini ingin diraihnya.

Miku menengadahkan kepala...

Seolah mendengar lonceng permulaan dibunyikan untuk menyerukan kemenangan, sosok perantara itu menghilang setelah mengatakan beberapa hal terakhir pada sang 'Messiah'.

Sang 'Messiah' yang telah menerima kehendak Tuhan diam-diam tersenyum sendiri.

Dia telah menciptakan Sembilan penderitaan.

Dia kemudian mengangkat tangannya ke atas altar, memunculkan secercah cahaya yang kemudian tersebar ke angkasa. Langit yang tampak kelam mulai mendapatkan kembali cahayanya.

Cahaya matahari bersinar terang, awan kelabu telah hilang, tidak ada lagi daratan yang gersang dan hutan tua dengan daun cokelat kuning telah berubah menjadi pepohonan hijau rindang. Dunia telah kembali tenang sehingga tidak perlu lagi ada pengorbanan.

Mereka telah berhasil menyelamatkan dunia, walau begitu mereka tidak berada disana bersamanya untuk melihat dunia yang mereka selamatkan. Dan Miku, entah bagaimana harus berusaha melanjutkan hidup sendirian tanpa kehadiran teman-temannya yang berharga.

Dia akan berusaha.

Demi teman-temannya yang telah berkorban untuknya.

.

.

.