A/N : Annyeong Chingudeul~~
author kembali membawa chapter terbaru dari "ICE PRINCE LOVE STORY" apa ada yang menantikan FF ini? jika tidak, aku rapopo. jujur agak stuck pas awal-awal dari chapter kedua ini, bingung adegan awal nya mau gimana, tapi syukurlah ada reader yang membuka pikiran author dengan masukan nya. muhihihihi :p
oke sipp, terlebih dahulu author mau bales review dari beberapa reader.
Dea Puspa : wahhh, makasih banyak ide nya. gara-gara kamu author bisa lanjutin chapter 2 ini. narufufufufu XD
Onozuka Mikado : wahhhh... maaf ya, kayak nya author nggak bisa ngabulin permintaan kamu dehhhh... TT_TT
99 : ini lanjutan nya :D
oke sip, review udah dibales dan saat nya masuk kecerita !
Warning : AU, NO SUPER POWER, NO ALIEN, OOC, TYPO DIMANA MANA DAN BAHASA YANG CAMPUR ADUK!
Disclaimer : Boboiboy dan kawan2 punya animonsta dan author cuman minjem, penokohan minjem punya author "Dark Calamity of Princess" sama beberapa scan.
ICE PRINCE LOVE STORY
CHAPTER 2
"Rasakan kuasa akuuu, SEMBURAN AIR ESSSSSS! HYAAAAA!"
#BYURR
.
.
.
Bukan-bukan, kalian tidak salah ff kok atau author tiba-tiba mengganti Genre fanfic ini menjadi Canon, yang ngomong juga bukan boboiboy air maupun boboiboy es. Itu hanyalah Taufan yang sedang menyiram Halilintar dengan seember air dingin.
"KAUUUUU."
Taufan hanya cengengesan sambil garuk-garuk pipi, melihat kakak tertuanya yang kini telah sukses ia buat basah kuyub.
"Sorry Kak Hali." Taufan mundur selangkah demi selangkah, mencoba kabur dari Halilintar saat ini benar benar mengerikan dengan aura membunuh yang telah menguar disekeliling tubuh nya.
"KAU TIDAK AKAN SELAMAT KALI INI"
Taufan langsung berbalik dan bersiap untuk membuka pintu tapi, ia terlamabat. Lengan nya sekarang sudah di pegang oleh Halilintar.
Taufan menatap Halilintar dengan tatapan horor, ia pikir Kakak nya itu sekarang telah siap untuk membunuh nya.
'Tuhan... tolong selamatkan aku' mohon Taufan dalam hati namun, sayang. Doa nya itu tidak terkabulkan.
"HUWAAAA TIDAKKKKKKKKKKKKK"
#BAAM
"AAAAAAAAAAAAAA PINGGANG KUUUUUUUUUUUUU"
Halilintar keluar dari kamar, membiarkan Taufan yang kini telah ambruk dilantai berguling sana–sini menahan rasa sakit di bagian pinggang karena jurus membanting lawan yang telah dipraktekkan Halilintar langsung kepadanya.
"MAMAAAAA." Sungguh teriakan yang memilukan dari seorang boboiboy Taufan, berharap saja jika kali ini ia kapok untuk menjahili Halilintar lagi.
88
Disisi lain, Gempa yang mendengar suara dentuman besar dari kamar Halilintar hanya menghembuskan nafas kasar, pasal nya ia tau kenapa Halilintar berteriak seperti itu dan ia juga tau bagaimana nasip Taufan kali ini.
Di banting oleh saudara nya sendiri, owwww itu pasti menyakitkan dan bisa membuat nya langsung patah tulang di bagian pinggang.
Gempa kali ini memutuskan untuk tidak ikut campur dan memilih menyiapakan sarapan untuk mereka bertiga.
88
"Kak Taufan juga sihhh... masa nyiram Kak Halilintar pakai air, dingin pula." Gempa hanya menatap Taufan dengan pandangan datar yang dibalas cengiran lebar oleh kakak keduanya itu.
"Heheheh...kamu tau lahh, menjahili Kak Hali itu adalah salah satu kesenangan tersendiri buat ku. Hahahahha."
'Dan disiksa juga termasuk salah satu kesanangan tersendiri buatmu begitu?' batin Gempa sarkastik.
Gempa lagi lagi sweatdropped melihat pola pikir Taufan yang menurut nya ajaib, dia berpikir. Mereka waktu kecil diperlakukan sama dan diberi makan yang sama oleh kedua orang tua mereka lalu, kenapa Taufan seperti ini?
"Kalau begitu, bagaimana jika Kak Taufan saja yang memberikan bekal buat kak Halilintar? Aku khawatir, sudah 2 hari Kak Halilintar tidak sarapan di rumah, sepertinya kak Halilintar juga tidak sarapan di sekolah." kata Gempa kepada Taufan. Kakak tertua mereka lagi lagi tidak sarapan dirumah. Turun tangga, ia sudah dalam mode siap membunuh orang.
"Hmm.. baiklah" Taufan mengangguk, ia sadar kalau ini adalah kesalahan nya yang membuat Halilintar tidak sarapan lagi dirumah, kalau dibiarkan terus menerus seperti ini nanti kakak nya bisa terkena penyakit mag. Membayangkan nya saja sudah membuat Taufan bergidik takut.
'Hiiii... pasti itu sakit sekali" pikir nya.
88
Halilintar keluar rumah dengan wajah kusut, aura hitam keluar dari tubuh nya membuat orang-orang jaga jarak dengan nya sejauh mungkin.
"PAGI HALILINTAR"
'lagi-lagi suara itu' batin Halilintar kesal, ia menatap tajam seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah rumah yang berada di sebelah rumahnya.
Sekedar informasi, bahwa Yaya bertetangga dengan boboiboy bersaudara, bukankah di animasi nya juga begitu? Kan? Kan?Kan?
"Wahhh aku tidak menyangka kita bisa berangkat dalam waktu yang bersamaan, mau berangkat bersama?" Yaya menghampiri Halilintar dengan senyum terkembang di bibir nya.
Halilintar hanya bergeming dan melanjutkan perjalanan nya menuju sekolah, menghiraukan sapaan Yaya maupun ajakan gadis tersebut.
Yaya tersadar jika Halilintar berada di mood yang buruk pagi ini jadi, ia mengerti dan memutuskan untuk tutup mulut karena, mengajak berbica Halilintar saat ia dalam mood yang buruk sama saja dengan kita berbicara dengan patung.
Yaya tetap berjalan di samping Halilintar walaupun, laki laki itu tidak menerima ajakan nya untuk berangkat bersama. Saat Halilintar dalam mood yang buruk harus ada seseorang yang menjaga nya karena, salah sedikit saja Halilintar bisa langsung mengeluarkan amarah nya.
Jadi, Yaya merasa ia perlu memastikan Halilintar selamat sampai di sekolah tanpa ada yang terluka ataupun lebam sedikit pun.
88
Yaya terus melirik Halilintar yang berjalan di samping nya, selama perjalanan mereka tidak berbicara sama sekali, kondisi ini membuat Yaya sedikit murung pasalnya, walaupun ia sering mengajak Halilintar berbicara, setidak nya laki-laki itu akan menanggapinya.
Namun, kali ini berbeda. Halilintar sama sekali tidak bisa diajak untuk berbicara, laki-laki itu masih menampakkan wajah kusut dan aura hitam masih menguar keluar dari tubuh nya.
Oke, sebenarnya tidak ada aura hitam keluar dari tubuh Halilintar cuman atmosfer di sekeliling Halilintar benar-benar mencekam membuat Yaya sendiri merasa tidak nyaman.
"Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa pergi duluan dan tinggal kan aku sendiri." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Halilintar setelah cukup lama mereka berdua saling terdiam.
Yaya sedikit terkejut karena Halilintar mau membuka mulut untuk berbicara, membuat gadis berhijab pink ini berpikir apa secara tidak sengaja ia menyuarakan keluhan nya?
"Aku tidak mungkin meninggal kan mu sendiri, kau bisa saja melampiaskan amarah mu kepada orang yang tidak bersalah." Yaya berbicara dengan tetap menghadap ke depan, tidak memandang Halilintar yang berada di samping nya.
"Cih.. kau berpikir seperti itu?" tanya Halilintar sarkastik.
"Seperti itulah yang sering aku lihat" jawab Yaya sekedar nya, gadis itu lalu tertawa kecil melihat Halilintar yang tidak bisa membalas.
Halilintar tidak berbicara lagi, memilih diam dan terus berjalan.
"Kenapa mood mu menjadi buruk pagi ini?" Yaya memulai kembali perbincangan mereka yang sempat berhenti.
"Bukan urusan mu."
Sekarang Yaya menatap Halilintar, "Aku hanya bertanya, tidak salah kan?" ucapnya lagi.
"Hah..Baiklah,Taufan menyiram ku dengan air pagi ini." jawab Halilintar pada akhirnya setelah menghembuskan nafas kasar.
"Lalu, setelah itu apa yang kau perbuat dengan nya?" tanya Yaya lagi.
"Membanting nya, tentu saja. Adik macam itu harus di beri sedikit pelajaran." Halilintar mengucapkan kalimat itu sambil mengepalkan tangan nya kuat–kuat, ohhh sepertinya pangeran es ini masih kesal.
Yaya jadi tahu kenapa pagi ini Taufan berteriak keras sekali, dari rumah nya saja ia bisa mendengar teriakan Taufan dan Yaya berpikir bahwa Halilintar tidak memberi sedikit pelajaran tetapi banyak pelajaran.
"Apa Taufan baik-baik saja setelah kau membanting nya?" Yaya bertanya sambil mengedarkan pandangan nya kesekeliling seakan tengah mencari sesuatu. Lalu pandangan nya tertuju pada sebuah stand yang terletak di seberang jalan.
"Aku tidak tau dan tidak p-" sebelum Halilintar sempat melengkapi kalimat nya, terlebih dahulu tangan nya sudah di tarik oleh Yaya dan membawanya menyebrangi jalan.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku bukan anak kecil yang perlu dituntun untuk menyebrang" Halilintar tidak suka ini, ia tidak suka dipegang oleh orang lain dan gadis ini beraninya memegang tangan nya begitu saja. Jika saja Yaya bukan seorang perempuan mungkin tangan gadis itu sudah patah sekarang.
"Diam dan turuti saja kemana aku membawa mu, kita harus melakukan sesuatu terhadap amarah mu ini." Yaya makin mengeratkan genggaman tangan nya kepada tangan Halilintar agar laki-laki itu tidak kabur.
Setelah sampai di stand tersebut, Yaya lalu melepaskan genggaman nya di tangan Halilintar tanpa menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
"Paman! Es krim nya dua, yang satu rasa coklat dan yang satu lagi rasa strawberry" ucap Yaya kepada seorang laki-laki keturunan india yang ternyata adalah seorang penjual es krim.
"Oke Yaya, tunggu sekejab" penjual es krim, yang dipanggil Yaya dengan sebutan paman langsung dengan cekatan membuat kan es krim kepada pelanggan nya kali ini.
"Nah dah siap, ini adalah es krim special buatan paman kepada kalian berdua." Paman itu lalu memberikan kedua es krim nya kepada Yaya dan disambut ucapan terima kasih oleh gadis berhijab pink tersebut.
"Bisa kau pegang ini Halilintar, aku tidak bisa membayar jika kedua tangan ku penuh." Yaya lalu memberikan es krim coklat kepada Halilintar dan segera meronggoh dompet nya untuk membayar.
"Apa kau pikir aku adalah anak kecil yang bisa berhenti merajuk jika di beri es krim? Dan aku juga bisa membayar es krim ini sendiri" protes Halilintar lagi, merasa tidak suka dengan sifat seenaknya gadis ini.
Setelah membayar dan memberikan salam perpisahan, Yaya kembali melanjut kan perjalanan nya menuju sekolah tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Halilintar.
"Aku tidak menganggap mu anak kecil, hanya saja. Menurutku kepalamu itu harus segera didinginkan agar sewaktu-waktu tidak meledak dan kau bisa mengganti es krim ini kapan-kapan. Adil kan?" Yaya menanggapi pertanyaan Halilintar sambil menjilat es krim nya.
Halilintar tidak menyangkal jawabaan Yaya tadi dan memilih untuk mulai menjilat es krim nya.
'mm..enak. sepertinya Yaya benar, es krim ini sedikit membuatku tenang' batin Halilintar.
Ia melirik gadis disamping nya yang saat ini terlihat bersemangat sekali menjilati es krim nya.
"Kau tidak pernah makan es krim ya?" tanya Halilintar dengan nada mengejek.
"Kau salah, malah aku sering makan es krim, jika kau berpikir aku seperti orang yang tidak pernah makan es krim maka itu tidak benar, aku hanya terlalu menyukai rasa es krim ini " Yaya kembali menjilati es krim nya.
"Apa kau lebih suka dengan es krim rasa strawberry?" tanya Halilintar lagi, ia merasa kali ini ia terlalu banyak bertanya tapi, ia terlalu penasaran dengan gadis ini.
Yaya hanya membalas pertanyaan Halilintar dengan anggukan dan kembali menjilati es krim nya lagi. Namun sebelum itu, sebuah tangan terlebih dulu menggenggam tangan nya.
Halilintar lalu mengarah kan tangan Yaya mendekat kearah nya dan menjilat sedikit es krim rasa strawberry itu.
"Emm.. cukup enak" Halilintar lalu melepas tangan Yaya dan kembali menjilati es krim milik nya sendiri. Tidak melihat jika seorang gadis yang memperhatikan tingkah nya tadi hanya melongo dengan wajah bersemu merah.
Tersadar dari keterkejutan nya, Yaya langsung mengeluarkan protes.
"Ya! Apa yang baru saja kau lakukan? Dan siapa yang mengizinkan mu untuk menjilat es krim ku?" Yaya memarahi halilintar dengan wajah bersemu merah.
"Ng? Aku hanya ingin mencoba rasanya karena kau terlihat begitu lahap menjilati es krim itu, bukankah waktu kecil ini adalah hal yang biasa kita lakukan? Apa aku salah?" Halilintar menjawab dengan wajah polos tanpa dosa yang tidak pernah ia perlihat kan membuat Yaya hanya menggeram sebal.
'apa dia tidak sadar kalau itu sama saja dengan ciuman tidak langsung?' batin Yaya sambil menetralkan detak jantung nya yang saat ini tengah berdetak dengan kencang.
"KAU SALAH DAN KITA BUKAN ANAK KECIL LAGI" lalu Yaya mulai berjalan cepat meninggalkan Halilintar yang saat ini memiringkan sedikit kepalanya dengan wajah kebingungan.
'Dia kenapa?' batin Halilintar.
Oh ya ampun, ingatkan Yaya untuk meyuruh Taufan merecoki film drama romantis kepada Halilintar, kalau bisa drama Korea.
88
Tanpa kedua insan(?) itu sadari, ada seseorang yang telah melihat adegan barusan.
Orang itu yang berniat untuk menyapa langsung mengurungkan niat nya karena melihat pemandangan yang ajaib di depan mata nya.
'apa yang baru saja aku lihat?'
88
Halilintar memegang perut nya, perutnya saat ini terasa sakit dan sedikit nyut-nyutan(?)
'mungkin karena aku tidak sarapan dan malah makan es krim ya?' batin Halilintar.
Ia tidak menyalahkan Yaya, ia tau niat gadis itu baik dan terbukti berhasil meredam amarah nya. Mungkin ini adalah salah nya sendiri karena tidak sarapan terlebih dahulu dirumah.
"KAK HALI!" sebuah suara memanggil nama nya cukup keras membuat berpasang-pasang mata yang ada di kelas menatap orang tersebut.
Taufan yang merasa dirinya jadi pusat perhatian hanya cengengesan sambil garuk garuk pipi.
"Hehehhe, sorry"
Merasa semua orang tidak memandang nya lagi, Taufan lalu berjalan menuju meja Halilintar dan meletakkan kotak bekal makanan di meja kakak nya itu.
"Nih, bekal buat sarapan. Tadi Kak Hali nggak sempat sarapan kan? Makanya aku bawain bekal supaya Kak Hali nggak terkena penyakit mag" Taufan menjelaskan sambil berharap harap cemas dalam hati, ia takut kakak nya ini masih dendam kepadanya dan melakukan reka ulang kejadian tadi pagi.
"Mmm..pas sekali, perutku sedang sakit. Mungkin karena belum makan" diluar dugaan, Halilintar tidak marah sedikitpun. Kembaran Taufan itu malah langsung membuka penutup bekalnya dan langsung melahap makanan yang ada didalam nya.
Taufan melongo, ia tidak menyangka Halilintar akan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kau masih disini? Sebentar lagi bel berbunyi." Halilintar menyadarkan Taufan dari keterkejutan nya.
"oh..ya..baiklah, bye Kak Hali" Taufan lalu pergi dari kelas Halilintar dengan wajah kebingungan, ia berniat bertanya kepada kakak nya itu tapi langsung diurungkan nya.
'Apa jangan-jangan'
88
Yaya saat ini merasa tidak nyaman, ia terus diperhatikan dengan tatapan penuh menyelidik oleh seseorang yang berada di depan nya.
Ying terus menatap Yaya, menyipitkan sedikit matanya yang sudah sipit dari sananya.
"Eng.. Ying? Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah ku?" Yaya yang sudah risih mulai bertanya kepada sahabat nya itu.
"Ada," jawab Ying "Kamu punya jerawat ya Yaya?" tanya Ying kepada Yaya.
"APA? Itu tidak mungkin?" Yaya mulai meraba-raba wajah nya dan mendapati sedikit benjolan di dekat hidung.
Ying menyeringai jahil kearah Yaya membuat gadis berhijab pink itu merasakan firasat buruk.
"Kau menyukai seseorang yaaaaa?"
Demi topi Boboiboy, Yaya membulatkan matanya mendengar perkataan Ying barusan.
"Kau bercanda! Apa hubungan nya memiliki jerawat dengan menyukai seseorang?" Yaya sedikit mengebrak meja membuat pengunjung kantin menatap kearah nya.
Ying menggerakkan sendok nya kekiri dan kekanan,"Kau tidak tau? Ada mitos yang mengatakan jika jerawat tumbuh di usia remaja sering diasosikan dengan 'cinta kepada sesorang' dan sekarang kau sudah remaja dan kau juga memiliki jerawat, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kau Yaya!" Ying menunjuk Yaya dengan sendok nya, ia kemudian melanjutkan "kau sedang jatuh cinta kepada sesorang"
"ITU TIDAK BENAR!" Yaya bangkit dari duduknya, membuat kursi yang diduduki nya bergesekan dengan lantai hingga menimbulkan suara yang keras membuat orang-orang kembali menatap kearah nya.
Sadar kalau sudah membuat keributan Yaya kembali duduk dengan tenang, sedikit memperbaiki posisi duduk nya dan menatap Ying tajam.
"Itu hanya mitos, okay! Jerawat merupakan kelainan kulit karena kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak yang menyebabkan penyumbatan saluran folekul rambut dan pori-pori kulit," Yaya membantah mitos Ying dengan teori panjang nya tentang jerawat.
"Dan menurut buku yang ku baca, tidak ada faktor jatuh cinta yang menyebabkan timbulnya jerawat." Yaya menambahkan.
Ying memutar bola matanya malas, merasa jika gadis didepan nya itu terlalu kaku dan tidak bisa diajak bercanda tentang cinta.
"Kau tidak asyik Yaya." Ying cemberut dan memutuskan untuk fokus dengan makanan yang belum ia habiskan.
Sebelum Yaya sempat menanggapi perkataan Ying, terlebih dahulu perhatian nya tertuju pada dua orang laki-laki berwajah sama yang tiba-tiba menghampiri meja mereka
"Hey Ladies, Can we join with you Guys?" Taufan bertanya dengan seringai jahil nya.
Melihat siapa yang datang tiba-tiba Yaya tersedak minuman nya sendiri, sehingga membuatnya dirinya batuk-batuk tidak karuan, wajahnya pun sukses menjadi begitu merah, serta terdapat air mata yang mulai membendung dari bagian sudut matanya.
"Kau tidak apa-apa Yaya?" tanya Ying panik.
Yaya hanya mengangguk dan mengusap tenggorokan nya.
"Aku tau kalau aku ini tampan tapi, aku tidak tau jika ketampanan ku ini terlalu sempurna hingga bisa membuat seorang gadis tersedak minuman nya sendiri." Ucap Taufan narsis dan duduk disamping Ying diikuti Halilintar yang duduk disamping Yaya.
Yaya yang mendengar itu menatap Taufan tajam.
"Dia seperti itu karena mendengar bahasa inggris mu yang begitu hancur Taufan." Ying memutar bola matanya, merasa jika teman nya ini terlalu pede dan narsis.
"Oh, jangan menyangkal Ying, aku tau kalau kau juga terpesona dengan ketampanan ku." Taufan lalu membentuk tanda ceklis dengan tangan di bawah dagunya dan menatap Ying dengan seringai jahil.
"Oh, Ayolah. siapapun tau jika Halilintar terlihat lebih tampan darimu." Ying menatap malas Taufan.
Taufan menatap kakak nya itu sebentar dan kembali menatap Ying tajam.
"Menurutku akulah yang lebih tampan Ying."
Halilintar yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala.
88
"Kau baik-baik saja?" tanya Halilintar dengan suara pelan kepada Yaya.
Selagi Ying dan Taufan berdebat, Halilintar mengambil kesempatan ini untuk menanyai keadaan Yaya. Ia sedikit kasihan dengan kondisi gadis disamping nya ini, bagaimana wajah gadis itu telihat memerah, dan juga terdapat air mata yang sedikit membekas pada sudut matanya.
Yaya yang tiba-tiba ditanyai seperti itu sedikit terkejut dan mengangguk kaku. Wajah nya yang semula memerah bertamabah kadar kemerahan nya karena ditanyai seperti itu oleh Halilintar.
'kenapa disaat aku ingin menghindar darinya ia malah datang mendekat?'
Adegan tadi tidak lepas dari mata Taufan, walaupun sekarang ia tengah berbincang dengan Ying tapi mata tajam nya masih bisa melihat interaksi dua orang yang ada didepan nya itu.
'mereka terlihat mencurigakan'
88
"Bye Kak Hali! Bye Yaya!" Taufan melambaikan tangan nya dan diikuti Ying yang ikut melambai, keduanya langsung mesuk kedalam kelas mereka.
Sekarang hanya tinggal Yaya dan Halilintar yang berjalan kearah kelas mereka. Yaya sedikit gugup berjalan berduaan dengan Halilintar, kalau saja bukan karena kejadia tadi pagi mungkin ia tidak akan segugup ini berjalan di samping halilintar.
"Tunggu sebentar" Halilintar berhenti berjalan diikuti oleh Yaya yang menatap laki-laki itu heran.
"Ya! Kenapa?"
"Soal es krim tadi-" Halilintar berhenti sebentar seakan mencari kata-kata yang pas.
DEG
Jantung Yaya berdetak cepat, wajah nya kembali merona merah.
'apa jangan-jangan ia sudah tau?' Yaya berharap-harap cemas menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut Halilintar.
Halilintar sedikit berdehem sebelum meneruskan ucapan nya.
"Kau tau aku tidak suka berhutang kepada sesorang jadi, aku akan mengganti es krim tadi termasuk es krim mu yang sedikit aku makan" Halilintar menjelaskan sambil membuang muka, tidak mau melihat gadis di depan nya entah kenapa.
Heol
Yaya facepalm, merasa harapan nya runtuh begitu saja. Oke, sekarang tekad nya benar-benar bulat untuk mendatangi Taufan pulang sekolah nanti dan menyuruh laki-laki itu untuk merecoki Halilintar dengan drama Korea, kalau perlu ia juga akan menyuruh Gempa.
Eh, Tunggu dulu.
"Baiklah tapi, aku tidak ingin kau mengganti nya dengan es krim." Yaya melipat tangan nya di depan dada.
Halilintar terlihat sedikit berfikir lalu mengangguk, "tidak masalah, apa yang kau inginkan?"
Yaya menyeringai kecil.
"Kau harus mentraktirku nonton di bioskop"
"Apa?"
TBC
A/N lagi : wahhhhh... auhthor nggak nyangka chapter kali ini sampai 2k, tapi kayaknya masih pendek deh. chapter selanjutnya author usahain lebih panjang lagi tapi mungkin, update nya bakal lama. muhihihihi :D
maafkan jika chapter kali ini banyak memiliki kekurangan maklum, saya baru belajar.
Jangan lupa tetap dukung Fic ini dengan cara mereview nya. kalau bisa sih di follow atau favorite XD
Don't be a silent reader & leave your comment, please!
