SEARCHING FOR HER PRINCE CHAPTER 3

Cast : KaiHun

Warning : Untuk penyesuaian karakter Sehun, ff ini aku bikin GS

Ini remake dari novel karya Karen Rose Smith dengan judul yang sama, aku hanya mengubah nama sesuai cast.

Killa8894

.

.

.

.

.

Saat Jongin dan Sehun membawa Monggu jalan-jalan, Jongin tidak dapat membayangkan sore yang lebih menyenangkan dari pada sekarang. Monggu sudah mulai terbiasa dengan tali kekangnya, walaupun terkadang ia ingin jalan lebih dahulu. Mereka bergantian memegang tali Monggu, tangan Jongin dan Sehun bersentuhan saat menyerahkan pegangan tali. Kegairahan Jongin yang mulai tumbuh membuat sore itu terasa menyenangkan sekaligus membingungkan. Ia ingin mengajak Sehun bercinta, tetapi banyak hal membuatnya menahan diri, terutama melihat kepolosan disorot mata gadis itu.

Melihat selembar kertas perak yang tertiup angin di tepi jalan membuat Monggu melompat, menyalak, dan mengejar benda itu. sehun ikut berlari dengan Monggu, dan Jongin memanjangkan langkahnya untuk mengikuti. Mereka berdua tertawa melihat Monggu mengendus kertas perak itu lalu mendorongnya.

Setelah kembali melangkah dengan santai, siku Jongin bersentuhan dengan lengan Sehun, dan ia tidak berusaha menjauh. "Aku takut, jangan-jangan Monggu milik seseorang."

"Dia memang kelihatan sudah terbiasa dengan tali kekang. Dan sepertinya mengerti setiap kali mendapat perintah 'duduk'."

"Pemiliknya pasti akan merasa kehilangan. Mungkin aku harus mengambil fotonya dan membuat selebaran. Fritz bisa membagikannya dan menempelnya di papan-papan pengumuman. Tempat penampungan binatang juga sudah diberitahu, seandainya ada orang yang mencari Monggu. Aku juga bisa memberitahu dokter-dokter hewan yang lain."

Sehun memandangnya dengan sorot mata kagum. "Kau orang yang sangat baik, Kim Kai."

Jongin sudah berpesan kepada Flora dan Fritz untuk memanggilnya dengan nama Kim Kai. Mereka sudah terbiasa menuruti apa pun yang diminta oleh Jongin tanpa bertanya. Jongin percaya, ia punya alasan yang kuat untuk meneruskan sandiwara ini. Ia tidak berterus terang pada Sehun karena gadis itu tidak akan pernah bertemu dengan Wu Jongin. Ia akan memastikan hal itu, karena ia tidak ingin terlibat dalam urusan yang diceritakan oleh Sehun waktu itu.

Ketika Monggu menarik mereka ke sebuah pohon, Jongin bertanya kepada Sehun. "Apa saja tugasmu sebagai anggota kerajaan? Maksudku, apakah kau cuma menghabiskan waktu mondar mandir di dalam istana? Apa kau menyusun rencana untuk acara kenegaraan?"

"Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak banyak artinya. Memang aku tinggal di dalam istana, tapi hidupku biasa-biasa saja. Aku membantu ratu kalau diperlukan. Berkat kebaikannya, aku bisa belajar di sebuah akademi swasta dan mendapat gelar sarjana aristektur pertamanan. Aku butuh pekerjaan yang berarti juga, Kai, seperti semua orang di dunia ini. Tak lama lagi aku ingin keluar dari sana dan tinggal sendiri."

"Dan bagaimana pendapat ratu tentang ini?"

"Aku tidak tahu. Aku belum pernah membicarakannya dengan beliau. Tapi aku perlu memiliki kehidupanku sendiri. Aku ingin seperti gadis kebanyakan, tanpa pengawal, tanpa pendamping, tanpa istana. Aku ingin bisa pergi dan pulang semauku, tanpa harus bertanggung jawab kepada siapapun kecuali diriku sendiri."

"Apakah kau tidak ingin menjadi seorang ratu kelak?" tanya Jongin.

Sehun tertawa lepas. "Ya ampun, tidak. Menjadi putri saja aku tidak ingin. Menjadi keluarga bangsawan tidak semudah yang kau bayangkan. Terlalu banyak rahasia negara dan tanggung jawab serta kesetiaan pada Penwyck yang harus selalu didahulukan. Kalau aku menikah nanti, aku ingin pernikahanku menjadi hal terpenting dalam hidupku, tidak dikalahkan oleh kewajiban pada negara."

Itulah alasan utama mengapa Sehun ingin menjauh dari kehidupan kerajaan, Jongin menyimpulkan. Tetapi ketika Sehun menyebut topik pernikahan dan mengatakan betapa pentingnya hal itu untuknya, Jongin menjadi risau. Ia belum pernah melihat perkawinan yang berhasil. Ia belum pernah menyaksikan dua orang yang benar-benar menjadi satu. Memang, ia mengerti semua yang Sehun sampaikan , dan kagum pada apa yang dilakukan dan tidak dilakukannya. Sejak remaja, studinya, investasi-investasinya, dan pekerjaannyalah yang terpenting untuk Jongin. Tetapi kematian Kyungsoo membuatnya tersadar bahwa kesibukan bekerja dapat membutakan seorang pria dari hal-hal yang seharusnya dilihatnya. Kemaren dan hari ini bersama Sehun, ternyata membuat Jongin melupakan pekerjaannya... sesuatu yang belum pernah terjadi.

Monggu berhenti berjalan, mendekati Jongin, menengadah ke arahnya, kemudian berdiri dengan kedua kaki belakang sambil meletakkan kaki depannya dilutut Jongin. "Apa ini berarti kau minta kugendong?" tanya Jongin.

Anjing itu menyalak dua kali.

"itu artinya ya." Sehun menerjemahkan, dengan senyuman tersungging di sudut bibirnya.

Jongin tertawa waktu mengangkat anjing itu karena Monggu menjilati wajahnya. Karena Monggu minta digendong, Jongin dan Sehun terpaksa menghentikan acara jalan-jalan mereka. ketika mereka sampai di gedung tempat tinggal Jongin, Charlie mengangkat pinggiran topinya, menyambut Sehun, dan mengedipkan sebelah mata kepada Jongin. Jongin juga sudah meminta pria penjaga itu untuk memanggilnya dengan nama barunya. Charlie hanya menjawab. "Apa pun kata anda, Sir."

Terkadang Jongin berharap bawahannya bisa lebih berani bertanya kepadanya, memberi komentar, atau membantah perkataannya. Tapi dalam umur yang relatif muda, Jongin sudah tahu bahwa uang telah memberinya kekuasaan.

Mereka naik lift ke penhouse, dan flora menyambut kedatangan mereka begitu keduanya melangkah masuk. Pengurus rumah tangganya itu berumur sekitar lima puluh tahun, seorang wanita tegap dengan senyum ramah yang menyentuh siapapun yang bertemu dengannya. Flora langsung memberikan empat lembar kertas nota berwarna pink kepada Jongin. "Tiffany bilang ini harus dijawab secepatnya, Sir."

Jongin cepat-cepat melirik pada Sehun. Apakah Sehun tahu nama sekeretaris Jongin ketika dulu duduk di ruang resepsionisnya? Sepertinya tidak. Sehun sedang melepas tali kekang Monggu, tidak sadar dengan apa yang dikatakan Flora pada Jongin.

Flora meneruskan. "Tiffany bilang sebetulnya tidak ingin menganggumu, tetapi hal ini sangat penting."

Saat menerima kertas-kertas itu, Jongin terheran-heran dengan keengganannya mengurusi pekerjaannya, biasanya ia menangani tanggung jawabnya dengan bersemangat, ia sadar ia tidak bisa melupakan identitasnya sebagai Wu Jongin.

Sehun rupanya mendnegar sebagian percakapan itu karena kemudian ia berdiri dan berjalan mendkeati Jongin. "kalau kau memang harus mengurusi pekerjaan kantormu, sebaiknya aku pulang saja."

Jongin tidak menginginkan Sehun pergi, itulah masalahnya. Ia tak bisa menolak adanya kemungkinan mereka akan makan malam dengan intim, kemudian melanjutkannya ke tempat tidur, mengajarinya segala hal tentang gairah cinta, perlahan-lahan menciumi dan mengelus tubuhnya sampai hasratnya terpuaskan. Mungkin dnegan begitu Jongin akan mampu mengenyahkan Sehun dari pikirannya.

"Mengapa kau tidak membiarkan Flora membuatkanmu secangkir teh? Aku akan menyelesaikan panggilan ini secepatnya.

Flora memandang mereka berdua, bergantian. "Saya baru saja memanggang kue blueberry scones."

Sehun tersenyum hangat pada Flora. "Anda pandai merayu gadis muda. Aku suka sekali kue-kue scone."

"Sudah teratasi kalau begitu." Ucap Jongin. "Aku akan menyalakan perapian dan kau bisa menikmati kue dan tehmu di sini."

Monggu lari ke arah sofa, melompat, dan bergelung di sudut.

Flora melirik khawatir pada Jongin. "Apakah anda menginginkan anjing itu di situ?"

"Monggu bebas mau kemana saja." Kenyamanan anjing itu lebih penting dari pada bulu-bulunya yang rontok dan menempel di kursi.

"Akan saya ingat itu." kata Flora sambil tersenyum pada Jongin dan langsung beranjak ke dapur. "Aku akan menyiapkan teh sekarang."

Jongin melangkah ke perapian, mengambil korek api yang panjang dan mulai menyalakannya. Api langsung naik ke cerobong asap dan kemudian Jongin menoleh pada Sehun yang sudah bergelung di sebelah Monggu. Jongin tidak percaya dengan besarnya keinginan pada dirinya untuk menggendong gadis bangsawan ini ke kamar tidurnya.

Setelah menatapnya agak lama, Jongin akhirnya berkata. "Aku akan kembali secepatnya." Kemudian ia berjalan ke ruang kerjanya.

Dua jam kemudian, Jongin keluar dari ruang kerjanya setelah conference callnya yang kedua selesai. Dua jam dikebut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin Sehun sudah pulang, itu lebih baik. Kyungsoo biasanya tidak betah menunggu Jongin dan langsung pergi untuk melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Mereka bersama tapi terpisah, berjanji untuk berbagi hidup bersama tetapi tak pernah memulainya.

Sebagian dari dirinya mengetahui bahwa jika Sehun sudah pergi, itu hal yang paling baik. Tapi saat Jongin masuk ke ruang duduk dan melihat Sehun tertidur bersama Monggu di pangkuan, ia merasakan kedamaian dan keceriaan yang dibawa gadis itu muncul kembali. Perlahan-lahan Jongin berjalan ke sofa dan berdiri di dekat Sehun, melihat bulu matanya yang lentik menghiasi pipinya, menatap hidung mancung Sehun serta kulitnya yang terlihat begitu lembut. Gadis itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Ia wanita yang sangat cantik. Kecantikannya lebih dari sebatas fisik. Ada semacam kualitas dalam dirinya yang sangat unik dan menarik. Mungkin itu adalah kebaikannya... atau mungkin ketulusannya. Apapun itu, hal itu telah menarik Jongin, membuatnya lupa mengendalikan diri, lupa membentengi diri dari keterlibatan dengan perempuan. Jongin membungkun ke arah Sehun dan membangunkannya dengan sebuah ciuman sensual.

Mata gadis itu bergerak, terbuka, dan ia tersenyum pada Jongin. "Seperti dalam dongeng." Katanya dengan suara masih mengantuk.

Jongin tahu Sehun menganalogikan dirinya dengan kisah putri tidur yang dibangunkan oleh pangerannya. Sambil menegakkan tubuhnya, Jongin bergumam. "Aku bukan pangeran."

Jongin sudah membuktikan hal itu. kalau dia tidak terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tentu saja hari ini Kyungsoo masih hidup. Dia tidak mau lagi bertanggung jawab atas hidup seseorang lagi dan sudah pasti ia juga tidak ingin tanggung jawab sebuah kerajaan. Conference call yang ia lakukan tadi telah mengingatkannya akan jati dirinya, pekerjaannya, dan kehidupan seperti apa yang ia jalankan. Jelas bukan kehidupan pangeran, kerajaan dalam dongeng, atau wanita-wanita yang berharap pada pria-pria berkuda putih yang akan mengubah hidupnya.

Perasaan Jongin terhadap Sehun sudah terlalu dalam dan membahayakan baginya. Sudah waktunya untuk mengakhirinya sekarang. "Ada masalah pekerjaan dan harus cepat-cepat diselesaikan, bodoh sekali aku karena telah melalaikan tanggung jawabku dua hari kemarin. Kuharap kau mengerti." Nada bicaranya datar, bersungguh-sungguh, dan jauh dari kesan akrab.

Sehun terlihat bingung dengan sikap Jongin dan nada bicaranya, dan Jongin merasa menyesal. Ia menyesal telah menciumnya lagi tadi, karena setiap ciuman mereka terpatri dengan kuat dalam benaknya. Jongin perlu membuat jarak dengan gadis itu sekarang. Apabila mereka berjauhan, ia bisa melihat betapa tidak pentingnya kejadian dua hari yang lalu bagi dirinya.

"Baiklah." Kata Sehun lembut, sambil memindahkan anak anjing yang sedang tidur dari pangkuannya ke sofa. "Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja."

Ketika Jongin tidak menahannya atau berkata apapun padanya, Sehun berdiri, dan Jongin bisa melihat gadis itu berusaha mempertahankan harga dirinya. "Aku menyisihkan satu scone untukmu." Sehun mengangguk ke arah piring di atas meja. "Tapi mingkin sekarang sudah basi. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada Flora ya."

"Akan kusampaikan." Membiarkan Sehun pergi tanpa mencium atau menyentuhnya terasa sangat berat bagi Jongin. Tapi Jongin tahu apabila ia mencium atau menyentuhnya lagi, ia pasti akan meminta gadis itu untuk tidak pergi. Dan itu tidak baik bagi mereka berdua.

Sambil merapikan rambutnya, Sehun berkata "Kurasa penjaga pintu di bawah bisa mencarikan taksi untukku."

"Itu tidak perlu. Aku akan menyuruh sopirku untuk mengantarmu kembali ke hote."

"Kau tidak perlu..."

"Aku memaksa. Aku akan memberitahu Fritz sekarang, dan dia akan menunggumu di lobi lima menit lagi."

Ada banyak pertanyaan terlihat di sorot mata Sehun, dan Jongin tidak ingin menjawabnya. Ada kebingungan yang tak dapat Jongin selesaikan.

Lama mereka berada dalam keheningan sampai Sehun melontarkan senyum sedih. "Aku sangat menikmati kebersamaan kita kemarin dan hari ini. Terima kasih."

"Sama-sama." Jonhin ingin sekali menyampaikan perasaan dan pikirannya selama dua hari ini, namun ia tidak bisa. Ia tak biasa mengungkapkan isi hatinya pada siapapun dan mengatakannya pada Sehun juga tidak akan mengubah apapun. Ia tidak tahu bagaimana mengakhiri hal ini, bagaimana cara menyampaikan kepada Sehun bahwa ia tidak bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

"Senang berkenalan denganmu, Sehun. Mudah-mudahan perjalanan pulangmu ke Penwyck menyenangkan."

Agaknya maksud yang tersirat dalam kata-kata itu langsung dipahami Sehun karena pipinya langsung merah padam. "Perjalanan pulangku pasti menyenangkan." Lalu ia berjalan menuju serambi, mengambil tas dan jaketnya, kemudian membuka pintu penthouse.

Setelah Sehun pergi, Jongin merasa telah kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.

.

.

.

Setelah Sehun pulang, Jongin mencoba untuk kembali bekerja, tapi ia sulit untuk berkonsentrasi. Ketika Flora mengetuk pintu dan bertanya ingin dubuatkan apa untuk makan malam, Jongin hanya minta dibuatkan sandwich. Flora kembali beberapa menit kemudian membawa sandwich daging kalkun, secangkir kopi, serta sup jagung lada istimewa buatannya. Tetapi makanan itu seperti halnya urusan pekerjaannya, tak menarik minat Jongin. Monggu yang akhirnya lebih banyak memakan roti itu dari pada Jongin, akhirnya ia memutuskan bahwa mengajak Monggu jalan-jalan mungkin bisa menjernihkan pikirannya.

Ketika membawa Monggu keluar, angin malam yang sejuk membuat Jongin merasa segar, pemandangan serta kebisingan kota masih tetap seperti biasanya. Namun saat berjalan, Jongin terus membayangkan Sehun saat bermain dengan Monggu, saat gadis itu menghadiahi Monggu biskuit, saat ia memeluk anjing kecil itu erat-erat.

Jalan-jalan bersama Monggu itu berlangsung sangat singkat, dua puluh menit kemudian Jongin sudah kembali ke penthousenya lagi, tetap merasa gelisah tak menentu. Bahkan Monggu pun meninggalkannya dan berlari ke arah kamar Flora di belakang dapur.

Jongin kembali duduk di depan komputernya untuk menjawab surat-surat yang masuk. Ada satu dari saudara kembarnya, Taemin, dan ia memutuskan bahwa berbincang dengannya di telepon rasanya lebih enak. Ia mencoba menghubungi nomor rumah Taemin di California, tapi tak ada yang menjawab. Kehidupan Taemin benar-benar berbeda dengan kehidupan Jongin. Taemin menyukai kehidupan yang sederhana dan bersahaja. Bisnisnya sebagai kontraktor membuatnya sibuk, dan ia lebih senang menghabiskan malamnya dengan teman-temannya di bar daripada bersama rekan bisnis di restoran mahal. Hidup mereka berdua begitu berbeda, tetapi ada ikatan kuat di antara mereka yang tak mungkin terputus.

Ketika Taemin tidak menjawab teleponnya, Jongin merasa itu sudah dapat diperkirakan. Berkas-berkas yang ada di tas meja kerjanya memerlukan perhatiannya, tapi setelah membolak-baliknya selama setengah jam, Jongin memutuskan belum bisa menandatanganinya. Ia belum membaca semuanya dengan teliti.

Apa yang telah Sehun lakukan kepadanya? Apa ia telah diguna-guna?

Tak mungkin, gadis itu hanya telah merasuki jiwanya dan Jongin harus melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Joging mungkin dapat menenangkan pikirannya.

Ketika ia melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. kalau ia berlari cukup kencang dan cukup lama, mungkin ia bisa menyelesaikan pekerjaannya nanti.

Jongin meninggalkan gedung apartemennya dalam kegundahan. Memikirkan kekacauan selama dua hari ini, kekacauan selama dua tahun terakhir ini. Sejak Kyungsoo meninggal, yang Jongin lakukan hanyalah bekerja dan bekerja, dan hal itu membuahkan hasil yang besar, pada umur dua puluh tiga tahun, Jongin sudah di anggap sebagai salah seorang konglomerat ternama di negara ini.

Tapi apa makna semua itu?

Jongin bisa melakukan tawar menawar, membuat transaksi bisnis yang menguntungkan dirinya, berinvestasi di bursa saham dan menyaksikan uang itu berlipat ganda. Empat puluh delapan jam terakhir yang bari ia lewatkan bersama Sehun, membayangkannya, dan berkhayal tentangnya, telah membuat semua itu menjadi tidak penting. Sialnya. Sehun bangsawan yang tinggal di pulau di seberang Samudera Antlantik! Dan untuk lebih memperburuk permasalahannya, gadis itu sedang mencari dirinya, untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang pangeran. Gila jika ia pikir bisa berhubungan dengan Sehun tanpa menimbulkan masalah.

Namun saat membayangkan kemungkinan tidak bisa bertemu dengan Sehun lagi...

Jongin berlari. Sepatunya menjejak aspal dengan keras saat ia melintasi jalanan. Ia bahkan tidak merasakan sejuknya udara malam. Berkonsentrasi pada pijakan sepatu olahraganya di jalan aspal. Jongin mencoba untuk menghapus semua pikiran dalam benaknya, semua rasa berdosa dari jiwanya, dan semua perasaan dari hatinya.

Namun saat berlari, wajah Sehun muncul di depan matanya. Jongin tidak bisa mengenyahkannya, dan memperlambat kecepatannya karena menyadari bahwa ia tidak bisa melarikan diri dari bayangan gadis itu. Yang bisa dilakukannya hanya bekerja dan membiarkan waktu berlalu, maka ia bisa melupakannya.

Jongin telah berlari selama empat puluh lima menit. Sekarang ia memutuskan untuk mendinginkan suhu tubuhnya dengan berjalan. Masih terbayang olehnya ekspresi mata Sehun saat mendongak ke arah Sears Tower, saat ia pertama kali mencicipi pretzel lunak dan dagunya kotor terkena mustard. Jongin tidak menyadari kehadiran pria yang bersandar di dekat pintu masuk penthousenya. Ia begitu terhanyut dalam pikirannya, hingga tidak merasakannya bahaya yang mengancam saat laki-laki asing itu membuntutinya.

Tiba-tiba perampok itu sudah menyerangnya. Terlihat kelebat mata pisau yang dipegangnya. Satu saat Jongin masih berjalan santai, sesaat kemudian ia harus melawan serangan perampok, tangannya diangkat ke atas untuk mempertahankan diri dari serangan pisau itu. Pisaunya meleset dari leher Jongin, tetapi mengenai bahunya. Meskipun terkejut dengan rasa sakit yang muncul dibahunya, Jongin masih sempat menendang selangkangan perampok itu. Ia mendapat tusukan lagi, kali ini mengenai lengannya, dan membuatnya terjatuh dengan satu lutut ke aspal.

Kemudian muncul sebuah pekikan. Seseorang berteriak, "Tangkap dia!" Jongin tidak tahu apakah seruan itu ditujukan pada dirinya atau si perampok.

Lalu semua menjadi kabur gelap. Jongin terlentang di tanah. Seseorang menekan luka dibahunya. Tubuhnya terasa panas kemudian dingin. Akhirnya, ia mendengar suara mendengung ditelinganya yang berubah menjadi bunyi sirene mobil.

.

.

.

Ketika telepon kamar hotel Sehun berdering, ia melihat tombolnya yang menyala dalam kegelapan. Sehun belum bisa tidur. satu satunya hal yang ada dalam benaknya hanya Kai dan bagaimana dia mengusirnya pergi tadi. Kesalahan apa yang telah ia lakukan? Kai tiba tiba begitu menjaga jarak.

Telepon berdering lagi dan Sehun menebak-nebak siapa yang mencoba menghubunginya pada jam satu malam. Ia duduk ditempat tidur, menduga seseorang telah menelepon kamar yang salah. Tidak mungkin ratu menelepon, di Penwyck baru jam tujuh pagi. Kecuali, bagaimana jika kesehatan raja semakin memburuk? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada ibunya?

Sepenuhnya terjaga sekarnag, Sehun menyambut gagang telepon, dan menyalakan lampu meja yang ada di sebelahnya. "Halo?"

"Lady Sehun?"

Suranya terdengar tidak asing, tapi itu bukan ratu atau sekretaris pribadinya.

"Ini Flora. Pengurus rumah tangga Mr... . saya tahu ini sudah malam, tapi saya khawatir dengan Mr. Kim."

"Apa yang terjadi Flora?"

"Ia pergi joging malam ini dan diserang perampok. Perampok itu membawa pisau."

Untuk sesaat, Sehun teringat malam ketika ayahnya terbunuh, saat seorang anggota pengawal kerajaan memberitahukan ibunya apa yang telah terjadi. Sehun hampir tidak bisa mengeluarkan suara. "Apakah Kai baik-baik saja?"

"Itulah sebabnya saya meneleppon anda. Ia menelepon Fritz untuk menjemputnya di rumah sakit, sepuluh menit yang lalu ia baru datang. Dia terlihat benar benar buruk. Dokter menyuruhnya untuk dirawat di rumah sakit, tapi dia memaksa untuk pulang ke rumah. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan."

"Apa yang kau butuhkan Flora, apa yang dia butuhkan?"

"Itulah masalahnya tuan putri, saya tidak tahu. Dia menutup pintu kamar kerjanya dan mengatakan pada saya bahwa dia tidak mau diganggu. Tapi dia seharusnya berada di tempat tidur. dia tidak mempunyai siapa siapa disini. Ayahnya ada di Minneapolis. Karena dia tidak memperbolehkan saya dekat dekat, saya pikir mungkin dia bersedia kalau anda yang membantu. Saya pikir kalau anda kemari, barangkali anda bisa membujuknya."

Setelah kejadian tadi sore, Sehun merasa Kai tidak akan mendengarkan perkataannya sama seperti pria itu tidak mendengarkan perkataan Flora, tapi mungkin ia bisa mencobanya. "Aku akan bersiap siap dan memanggil taksi."

"Tidak perlu mencari taksi, tuan putri."

"Panggil Sehun saja." Ucap Sehun dengan lembut.

Flora meneruskan lagi. "Saya sudah mengatakan pada Fritz apa yang akan saya lakukan, dia akan segera berangkat menjemput anda begitu saya menutup telepon. Anda pun tidak seharusnya bepergian dengan taksi sendirian pada malam hari."

"Terima kasih Flora, kalau itu memang yang terbaik."

"Memang Tu... maksudku Sehun. terima kasih sudah bersedia menolong. Mr. K-Kim sebaiknya tidak sendirian malam ini."

Kata-kata Flora bergema dikuping Sehun, jantungnya berdegup kencang, dan Sehun bergegas memakai celana panjang flanel hitam dan sweater pullover putihnya.

Ketika tiba di lobi hotel, dilihatnya penjaga pintu hotel sedang membukakan pintu untuk Fritz. Raut wajah sopir itu terlihat suram. "Saya senang Flora telah menghubungi anda, Miss."

"Aku juga senang Flora telah menelepon. Mari berangkat."

Penjaga pintu di gedung penthouse milik Kai mengenali Sehun dan menyapanya dengan mengangkat topi. Sepertinya orang orang di Chicago biasa pulang pergi setiap saat sepanjang malam.

Sehun masuk ke klift, merasa mulai ragu dengan keputusannya untuk datang ke tempat itu. bagaimana kalau Kai tidak mau berbicara dengannya? Bagaimana kalau Kai mengira Sehun terlalu ikut campur? Sehun memang sedang ikut campur, tapi ia menyayangi Kai lebih dari yang ia akui.

Flora sudah menunggu dirinya dan membuka pintu sebelum Sehun sempat mengetuk. Dahi Flora berkerut karena khawatir saat mempersilahkan Sehun untuk masuk. "Dia masih berada di kamar kerjanya. Saya sudah menawarkan untuk membuatkan teh atau sup, tapi katanya ia tidak ingin apa apa."

Sehun menjatuhkan tas dan sweaternya ke kursi serambi. "Akan ku lihat apa yang bisa ku lakukan." Kemudian Sehun melangkah masuk ke ruang duduk, terus ke koridor yang menuju kamar kerja Kai. Untuk beberapa saat ia berdiri di depan pintu untuk mendengarkan. Sehun tidak dapat mendengar apapun dari dalam.

Ia mengetuk pintu dengan perlahan.

Suara Kai yang kesal menjawab dari dalam. "Sudah ku katakan padamu Flora, aku tidak butuh apa apa." suaranya terdengar dipaksakan, seolah membutuhkan kekuatan untuk berbicara.

Sehun tidak menunggu untuk diizinkan masuk, karena Kai mungkin tidak akan memperbolehkan. Ia langsung membuka pintu dan melangkah masuk. "Ini bukan Flora, Kai. Ini aku."

Kai sedang duduk dikursinya, sambil memegang gelas di tangan. Gelas itu separuh penuh dengan cairan berwarna kuning keemasan. Pasti wiski, pikir Sehun. Kai tidak mengenakan kemeja, terlihat ada kasa dan plester yang menempel di bahu kirinya. Ada juga tempelan kasa di lengannya, rambutnya berantakan dan mukanya terlihat muram.

Sambil menatapnya, pria itu bertanya. "Sedang apa kau di sini?"

.

.

.

.

TBC

Sesungguhnya aku sudah agak malas meneruskan update ff ini, bukan karena apa apa sih, seseorang mengatakan padaku kalo sekarang ff kaihun jarang banget, dan aku juga jarang update di ffn, ga hanya di akun ini tapi di akun BearBunny. Oke, yang jadi pokok masalah mungkin hanya review sih, review itu semacam penyemangat bagi aku untuk ngetik ff, tapi melihat perbandingan yang baca ribuan n yang review kurang dari 10 orang. Aku mesti mikir ulang lagi deh untuk lanjut. So, kalau mau nih ff n juga ff yang lain tetap lanjut, please review ya...