Terima kasih untuk yang sudah review ya..

Seneng bgt.. ^0^

Sakura Haruno 1995

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet

Kamikaze Ayy

Dina Yoon

Kazuma B'tomat

Liska-chan Uchiha Yuka

Anggie Uchiha

Pinkypinky Sweet

Akemy Yamato

Karikazuka

Dyaatina

Cherrysakusasu

Iya Risaskey

Ok, tanpa basa-basi lagi langsung aja ya..

Naruto: Masashi Kishimoto.

Bangau: Phouthrye Mitarashi15.

Pairing: Sakura-Sasuke.

Warning: Gaje, Abal, Typo bertebaran, Alur kecepetan, susah dimengerti, EYD berantakan, Ga bagus, Tema pasaran, dll.

.

.

.

-BANGAU-

.

Matahari pagi mulai merangkak menuju peraduannya, mengintip celah jendela sebuah kamar yang nampak enggan untuk diberi sinar karena tirainya masih tertutup.

Disudut ternyamannya (baca: ranjang) Sakura nampak meringkuk menenggelamkan wajah cantiknya ke dalam dua belah lututnya.

Menangis? Tidak.

Tak ada setetes pun muara bening yang tumpah dari emeraldnya, walau tak bisa dipungkiri sebagian besar hatinya remuk mengingat kejadian 3 hari yang lalu.

Ia tak berhasil menghentikan mobil Sasuke, walau sudah berusaha sekuat tenaga –untuk mengejar- sampai nafasnya terdengar memekik, namun ia tetap tak bisa menghentikan mobil tersebut.

Seharian setelah kejadian itu ia memang menangis, tapi tidak untuk hari ini, karena ia sudah menetapkan dalam hati bahwa ia akan berusaha untuk melupakan Sasuke, karena ia berpikir bahwa hal yang sangat percuma jika terus berharap sementara Sasuke sudah pergi dan entah kapan akan kembali –atau mungkin tak akan kembali-.

Perlahan ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju cermin besar yang tertempel di lemari pakaiannya.

Lingkaran hitam di sekitar matanya yang sayu nampak jelas terlihat, rambut acak-acakan dan bibir yang pucat pasi.

Keseluruhan ia nampak-

-menyedihkan.

Dia terkikik kecil menatap dirinya yang nampak menyedihkan di cermin tersebut.

Semenjak kejadian itu ia memang lebih memilih untuk mendekam dalam kamar.

Para pelayan dirumahnya pun dibuat bingung dengan sikapnya yang mendadak tertutup, ralat menjadi sangat tertutup.

Mereka juga terpaksa setiap hari harus mengantarkan makan pagi, siang dan malamnya ke kamar Sakura karena ia tidak mau beranjak keluar dari kamar, walaupun setelahnya mereka mendapati makanan tersebut masih utuh tak tersentuh.

Beruntung kedua orang tuanya sekarang sedang bertugas diluar kota, tak bisa beruntung juga karena jujur di saat-saat seperti ini Sakura sangat butuh perhatian dari orang tuanya.

Setelah mengambil pakaian dilemari ia beranjak pergi ke kamar mandi.

Masih dengan gaun tidur warna pink kesukaannya ia masuk kedalam bath up, shower dinyalakan dan ia berbaring didalam bath up tersebut.

Pandangan matanya nampak sangat kosong, tak Nampak raut sedih, patah hati apa lagi seringai, semua nampak datar.

Guyuran air shower terus mengalir memenuhi bath up hingga menenggelamkan sebagian tubuhnya.

Ia masih nampak datar, pandangan matanya makin kosong seolah terhipnotis dan bibirnya nampak membiru walaupun –sedikit terlihat- ia berusaha mati-matian menahan tubuhnya agar tidak menggigil.

Tak berapa lama air didalam bath up pun menenggelamkan dirinya..

30 detik..

.

1 menit..

.

1 menit 30 detik..

.

2 menit..

.

BYUUUUURR.. air dalam bath up tumpah saat Sakura bangkit dari sana.

"HAAAHHH.." wajahnya agak panik karena kehabisan nafas, bibirnya membiru, dadanya naik turun karena ia berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

"Haahh..haahh."

Setelah agak mulai tenang ia kembali diam.

'Bodoh,' itu yang ada dipikirannya, ia pun kembali terkikik menertawakan kelakuannya yang hampir bunuh diri.

Keluar dari bath up dia pun mulai mandi.

.

"Nona Sakura.." pekik salah satu pelayan rumahnya saat melihat Sakura turun dari tangga.

Sakura tersenyum, wajahnya sudah terlihat segar karena ia sedikit berdandan.

"Syukurlah Nona sudah mau keluar kamar, kami khawatir Nona." ujar pelayan yang lain.

"Aku tak apa-apa, kalian tak perlu khawatir." Sakura tersenyum dan menghampiri ruang makan, dengan cekatan sang pelayan menarik kursi yang akan di duduki oleh Sakura.

"Aku lapar sekali, boleh buatkan aku makanan?" ia tersenyum kecil kepada kedua pelayannya.

"Oh tentu saja boleh Nona, kami justru bersyukur Nona sudah mau makan, kami akan segera menyiapkannya." si pelayan nampak bersemangat dan langsung lari kedapur membuat Sakura tersenyum melihatnya.

Yah, mulai saat ini ia sudah bertekad tak akan terpuruk lagi dengan perasaannya, ia rela perasaannya menguap seiring berjalannya waktu dari pada membuat semua orang didekatnya khawatir, buka lembaran baru, itu yang sekarang ia inginkan.

oo0oo

"FOREHEAD, astaga kau membuatku khawatir tahu!" Ino berteriak dan langsung menerjang Sakura.

Ino, Hinata dan Tenten datang kerumah Sakura karena Sakura menghubungi mereka.

"Astaga pig, pelankan suaramu dan lepaskan pelukanmu yang mematikan ini!" Sakura misuh-misuh melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu –Ino-.

"Maaf, habisnya kau membuat kami khawatir, 3 hari kau tak mengangkat telepon dan membalas pesan kami, bahkan dari para pelayan yang aku dengar kau juga tidak makan selama itu, astaga forehead jangan bilang kau seperti itu karena…" Ino menghentikan perkataannya dan memandang tajam Sakura.

"Aku sudah tak apa-apa, kalian terlalu berlebihan."

"Kau yang terlalu berlebihan forehead, segitunya kau merasa kehilangan,"

Sakura tersenyum senang karena teman-temannya masih mengkhawatirkannya, Tenten dan Hinata menggeleng-geleng maklum melihat sikap Ino.

"Lebih baik kita mengobrol di kamarku, ayo.." ajak Sakura.

"Jadi kau benar-benar akan bertekad melupakannya?" Ino bertanya dengan wajah syok.

"Iya Ino, aku tak ingin terus dikuasai oleh perasaan ini." Sakura tersenyum sambil memandang burung-burung bangau origami buatannya yang ia gantungkan di balkon kamarnya.

"Terserah padamu forehead, aku akan mendukung setiap keputusanmu." Ino tersenyum dan diangguki (?) Hinata dan Tenten.

"Eh, ngomong-ngomong burung bangau yang keseribu itu mana? kau buat itu paling besarkan?" tanya Tenten saat melihat kumpulan burung bangau tersebut.

"Aku sudah berikan pada seseorang." jawabnya sambil menyeringai.

"Siapa?" tanya Hinata penasaran.

"RA-HA-SI-A." ujar Sakura lamat-lamat disertai kedipan membuat Tenten dan Ino melempar bantal dan guling ke arahnya.

Seketika itu juga dikamar Sakura terjadi perang bantal guling.

oo0oo

Kirigakure

"Pagi Sasuke-sama," sapa seorang pelayan pada seorang pemuda yang berjalan menghampiri meja makan.

"Hn.." jawab pemuda yang bernama Sasuke itu sekenanya.

Dimeja makan sudah nampak Itachi beserta ayahnya Fugaku dan sang ibu Mikoto –sedang berada didapur- yang kemarin menyusul dirinya kesini.

"Bagaimana hari ke 3 mu di sini Sasuke?" tanya Itachi –kakak Sasuke- yang memang sudah 3 tahun tinggal –sendiri- di Kirigakure untuk berkuliah.

"Biasa saja."

Itachi menghela nafas mendengar jawaban dingin Sasuke, sifat adik tersayangnya itu memang tak pernah berubah.

"Sasuke, bulan depan kau sudah bisa masuk kuliah." sang ayah membuka suara.

"Hn.."

Suasana hening sejenak sampai Uchiha Mikoto tiba dari dapur ditemani 2 orang pelayan yang membawa menu sarapan pagi mereka.

Setelah pelayan beranjak pergi mereka mulai sarapan.

"Oh iya Sasuke-chan-" Mikoto membuka suara ditengah-tengah acara sarapan mereka.

"Ibu.." Sasuke memotong perkataan sang ibu karena merasa sebal dipanggil seperti itu, sementara sang ibu dan kakaknya hanya terkikik melihat wajah cemberut si bungsu.

"Baiklah Sasuke~"

"-chan." Itachi menyambung perkataan ibunya, membuat Sasuke kembali memasang wajah kesal.

"Sudah-sudah.." Fugaku sang ayah bersuara.

"Iya sudah Itachi, jangan terus menggoda adikmu," Mikoto tersenyum.

"Begini Sasuke-ch..err-kun.." Itachi kembali terkikik mendengar ibunya hampir salah berbicara, maklum kebiasaan.

"Sewaktu ibu membereskan barang-barangmu, ibu menemukan sebuah origami cantik berbentuk burung bangau di dalam saku bajumu." si ibu tesenyum sementara Itachi nampak tersedak.

"Sejak kapan kau membuat benda seperti itu Otouto.." Itachi menyenggol lengan Sasuke dengan memasang tampang meledek.

"Cih! Itu bukan milikku, itu dari temanku." jawabnya dingin.

"Pasti dari seorang gadis ya? Kenangan perpisahan begitu.." tebak ibunya tak meleset, Sasuke sampai heran kenapa ibunya bisa tahu hal itu.

"Hn, buang saja bu, tak penting."

"Huss, jangan begitu Sasuke, walaupun hanya benda sederhana tapi siapa tahu ada makna tersirat didalamnya."

"Maksud ibu?" Sasuke mengernyitkan keningnya heran dengan kata-kata sang ibu.

"Ibu juga tak tahu, mungkin perasaan ibu saja, dan burung bangau itu sudah ibu taruh ke dalam frame kaca untuk dipajang dikamarmu, hargai pemberian orang Sasuke." Mikoto tersenyum lembut sambil mengusap-usap punggung tangan Sasuke yang duduk diseberangnya.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan.

'Dasar tidak peka, pasti bukan tanpa alasan seorang gadis tiba-tiba memberikanmu sebuah origami burung bangau, mungkin harapannya ada padamu Sasu-chan..' batin Mikoto.

.

Sasuke berdiri dengan memasang wajah datar dan dingin seperti biasa, matanya terfokus pada satu obyek yang tertempel di dinding kamarnya.

Sejenak ia menghela nafas, memutar bola matanya bosan dan kembali fokus pada obyek tadi.

Sebuah frame foto yang terbuat dari kaca, didalamnya terdapat burung bangau origami pemberian Sakura dengan setangkai bunga Sakura disebelahnya, memperindah frame tersebut, pasti bunga Sakura tersebut tambahan aksesoris dari sang ibu.

Sasuke sampai berfikir, apa ibunya mempunyai indera ke enam karena bunga Sakura yang ia letakkan disamping burung bangau tersebut sangat cocok, apa ibunya tahu bahwa nama gadis yang memberi burung bangau origami tersebut memiliki nama yang sama dengan bunga tersebut.

"Cih!"

.

.

.

TBC

Segala kekurangan yang terdapat di fic ini mohon para readers memaklumi ya..

Akhir kata, terima kasih banyak dan jangan lupa..

R

E

V

I

E

W

06-12-2011