A/N : Happy reading ajalah. Aku berusaha bikin ini fluffy, semoga aja responnya bagus ya

.

.

.

.

.

"Chanyeol!"

Chanyeol mengorek kupingnya menggunakan kelingking begitu suara itu mampir ke gendang telinganya. Bukannya berhenti, laki-laki itu tetap meneruskan langkahnya menyusuri koridor tanpa menunggu atau bahkan menoleh ke seseorang yang memanggilnya.

Suara terengah-engah terdengar di sampingnya beberapa saat kemudian. Laki-laki tinggi itu menoleh sekilas dan menemukan rambut dikuncir ponytail tampak bergoyang, lalu kembali membuang pandangannya.

Tanpa harus menundukkan wajahnya lebih jauh untuk melihat wajah sosok itu pun Chanyeol sudah tau. Gadis yang hanya setinggi dadanya itu sudah pasti Byun Baekhyun. Gadis yang sudah hampir satu bulan ini terang-terangan mendekatinya yang sudah pasti hanya direspon angin lalu olehnya.

"Kau hari ini berangkat sendirian ya?" Baekhyun mendongakkan kepalanya seraya terus menjajari langkah panjang laki-laki di sebelahnya itu dengan susah payah. Postur tubuh mereka yang sangat mencolok membuat Baekhyun harus bersusah payah mendongak agar mampu menatap wajah laki-laki di hadapannya ini.

Lagi-lagi Baekhyun tak mendapati jawaban apapun dari Chanyeol.

"Hari ini Kai tidak ikut denganmu, eoh? " Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari Kai, tapi sahabat Chanyeol itu tak terlihat sama sekali.

"Ah, itu artinya aku benar. Hari ini aku boleh pulang bersamamu, kan? "

Chanyeol menghentikan langkahnya. Untuk pertama kalinya hari ini dia menoleh menatap gadis yang sedari tadi dia abaikan.

"Berisik."

Satu kata itu dan Chanyeol mempercepat langkahnya meninggalkan gadis berisik yang tak henti-hentinya terus mengganggu walau sudah diusir berkali-kali pun.

"Nanti jam istirahat kita bertemu lagi, yaaaa!"

Dalam hati Chanyeol benar-benar jengkel pada Baekhyun yang sepertinya tak akan pernah menyerah. Ia sudah lelah dan memilih untuk membiarkannya toh nanti juga gadis itu akan capek dengan sendirinya.

.

.

.

Chanyeol mempunyai seseorang yang selalu menempelinya. Kemanapun dia pergi, rasanya Baekhyun akan terus mengikutinya. Di sekolah bahkan Chanyeol sudah terlalu lelah untuk menghindari Baekhyun. Gadis itu, mau seberapa kalipun Chanyeol membentaknya, menghukumnya, atau bahkan mengabaikannya, dia tidak akan pernah menyerah.

Chanyeol sangat risih tentu saja. Dia lebih suka mengejar daripada dikejar oleh perempuan.

Baekhyun memang tergolong sebagai gadis yang agresif, tetapi dia juga lugu dan polos. Seperti tidak pernah membuka mata bahwa Chanyeol sama sekali tidak tertarik padanya yang terus saja menempel seperti benalu. Baekhyun terlalu naif. Poin yang tidak disukainya semakin banyak.

.

Chanyeol sendiri adalah tipe laki-laki pendiam yang tak banyak bicara. Kalau kata Kai sih, Chanyeol itu tipe yang lebih suka bertindak daripada berbicara. Wajah Chanyeol itu tampan. Rahangnya yang tegas dan lancip serta alis matanya yang tebal dan menukik. Kulitnya pun putih bersih yang nyaris bisa dibilang pucat juga. Pembawaannya yang dingin menjadi daya tarik tersendiri bagi lawan jenis di sekitarnya. Maka tak heran jika laki-laki itu termasuk jajaran siswa populer di sekolahnya.

Sebenarnya bukan hanya Baekhyun saja yang memasukkan Chanyeol dalam daftar incaran mereka. Ada banyak lagi yang memujanya tapi mereka tidak sefrontal Baekhyun. Ada yang hanya sekedar menyapa, mendekati perlahan, ada juga yang hanya memilih untuk menatap dari jauh.

Chanyeol mempunyai banyak hobi, terutama di bidang olahraga. Favoritnya adalah bermain sepak bola. Laki-laki berumur tujuh belas tahun itu suka berada di tengah lapangan, berlari mengejar bola, mengelak, menendang, menjadi satu dengan keringatnya. Dia suka sensasi saat tubuhnya berlari dengan cepat saat mengejar bola, rasanya seperti melayang. Apalagi sensasi saat dengan kakinya sendiri dia mencetak gol. Itu adalah dunia kecil yang membahagiakannya.

Gadis itu menatap ke arah luar jendela kelasnya. Menumpu dagunya dengan tangan kanan sembari meniup-niup poninya bosan. Di luar sana tepatnya di lapangan tengah, ada Chanyeol dan teman-temannya tengah bermain futsal. Itu sebenarnya lapangan basket yang sekarang disulap oleh anak laki-laki di kelas Chanyeol menjadi lapangan futsal. Dengan batu yang menjadi tanda letak gawangnya.

Rasanya ingin sekali Baekhyun keluar dari kelasnya yang membosankan ini dan berlari keluar. Bergabung dengan kelas Chanyeol dan menjadi salah satu dari gadis-gadis yang berkumpul di pinggir lapangan sambil meneriakkan semangat pada jagoannya.

Ugh dia ingin sekali menyemangati Chanyeol!

Pasti Chanyeol terlihat sangat tampan dengan rambut lepek penuh keringat yang menempel di keningnya. Senyum puasnya ketika dia berhasil mencetak gol. Apalagi ketika dia kadang melakukan selebrasi dengan mengirimkan ciuman jauh pada supporter-nya.

'Rasanya gemas ingin menangkapnyaaa!' jeritnya dalam hati.

Baekhyun tersenyum. Pemandangan Chanyeol yang sedang berada di lapangan adalah salah satu favoritnya. Yah sebenarnya apapun yang laki-laki itu lakukan semua adalah favoritnya. Tapi melihat Chanyeol di lapangan adalah salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta pada laki-laki itu. Mungkin hanya ketika dia berlari mengejar bola dia bisa melihat laki-laki tampan yang tersenyum lepas. Chanyeol yang terlihat bahagia dan menikmati. Bukan Chanyeol yang memasang tampang datarnya dan irit sekali bicara padanya itu. Mengingatnya saja membuatnya kesal. Kapan dia bisa melihat Chanyeol tersenyum dan itu karena dirinya?

Rasanya sulit. Mendekati Chanyeol terkadang terasa melelahkan. Tapi mau bagaimana lagi dia sudah terlanjur cinta dan rasanya bahagia sekali ketika dia bangun dari tidurnya, ia punya tujuan yang nyata untuk dilakukannya hari ini. Perasaan ketika jatuh cinta itu membuatnya terasa bersemangat. Dan Baekhyun menikmatinya. Sampai detik ini pun Chanyeol belum pernah menolaknya. Hanya menghindar dan mengabaikannya. Laki-laki itu belum pernah memintanya untuk berhenti. Eh tapi disuruh pun rasanya dia tidak akan berhenti. Yah, faktanya memang Chanyeol secara lisan belum menolak perasaannya. Lagipula dia tidak pernah melihat laki-laki bertelinga lebar itu dekat dengan perempuan lain.

Tiba-tiba pipi Baekhyun terasa menghangat. Bukankah dia satu-satunya gadis yang sering berkeliaran di sekitar Chanyeol. Kenapa rasanya begitu hangat ketika dia menyadari fakta yang satu ini.

Jadi tidak salah kan kalau dia masih akan terus berjuang untuk memenangkan hati Chanyeol? Peluang untuknya masih sangat terbuka lebar. Dia yakin sekali laki-laki itu pasti akan jatuh cinta padanya suatu hari nanti dan kisah cintanya ini akan berakhir bahagia seperti sebuah kisah dongeng putri dan pangeran yang dulu dibacanya ketika kecil.

Rasanya dia sangat tidak sabar menunggu hari itu.

Ttak!

Sebuah spidol baru saja mengenai kepalanya. Gadis mungil itu mengusap bagian kepalanya yang terkena sambil menggerutu pelan. "Siapa yang…"

Gerutuan itu terhenti ketika dia mendapati Kim saem, guru Sejarah yang tengah mengajar di kelasnya melotot ke arahnya. Gadis itu langsung mengeluarkan cengiran tanpa dosa.

"Byun Baekhyun! Dilarang melamun di kelasku!" teriaknya menggelegar.

Dan Baekhyun hanya bisa tersenyum lebar dengan terpaksa untuk menyembunyikan rasa malunya. Lagi-lagi dia berbuat hal bodoh. Heish!

.

.

.

.

"Chanyeol-ah!"

Suara menyebalkan itu lagi.

Dalam hati Chanyeol menggerutu. Laki-laki itu terus melanjutkan langkahnya tanpa mau menoleh sedikit pun. Tapi sepertinya gadis itu sama sekali tidak menyerah. Baekhyun mempercepat langkahnya mendahului Chanyeol lalu berbalik. Kini dia berjalan mundur sambil menatap laki-laki yang disukainya itu.

"Hari ini kau ada acara tidak?"

"Ada."

"Kalau besoook?"

Benar-benar gadis yang pantang menyerah. Untung saja kelasnya sudah di depan mata.

"Aku sibuk." Ucapnya sambil berbelok masuk ke dalam kelasnya dan meninggalkan Baekhyun yang tentu saja sudah melewati kelasnya.

"Kalau begitu lihat Minggu depan yaaaaa?" teriak gadis itu tanpa tahu malu sebelum pergi dari sana. Chanyeol hanya mendengus kesal. Memilih untuk memasang earphone di telinganya dan memutar lagu melalui ponselnya. Tak mengindahkan anak-anak kelasnya yang mulai heboh menyoraki dirinya. Kan sudah diberitahu bahwa Chanyeol dan Baekhyun itu seperti sudah jadi rahasia umum.

.

.

.

.

.

Chanyeol berjalan masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terkena peluh dan juga debu-debu yang tak sengaja menempel saat dia main tadi. Sore ini adalah jadwalnya mengikuti ekstrakulikuler sekolah. Dan ekskul yang dia pilih tentu saja futsal.

Chanyeol melanjutkan sekolah disini bukan hanya karena Seoul High School mempunyai standard pendidikan yang berkualitas, tapi juga karena sekolah ini memiliki koneksi dengan beberapa cabang olahraga bertaraf Nasional. Jika seorang murid memiliki prestasi yang baik di bidang olahraga, pihak sekolah bisa mengajukan beasiswa untuk masuk ke pelatihan tingkat lanjut. Dan tidak menutup kemungkinan juga jika mereka memiliki bakat dan prestasi yang cemerlang, mereka bisa ikut bertanding di kejuaraan-kejuaraan bergengsi lainnya. Bahkan yang bertaraf Internasional.

Chanyeol tentu saja ingin sekali mendapatkan beasiswa di bidang sepak bola. Impiannya sejak sekolah dasar adalah menjadi salah satu anggota Tim Nasional Korea. Berlarian mengejar bola di lapangan berumput, bertanding dengan lawan yang akan membuatnya lebih kuat. Maka dari itu, ia sangat serius dalam ekstrakulikuler yang diikutinya sekarang. Meskipun posisinya bukan kapten, tapi dia sudah menempati posisi yang diinginkannya dari dulu. Gelandang tengah. Posisi yang di dapatnya setelah berlatih mati-matian.

Laki-laki itu membuka keran di wastafel dan menangkupkan kedua telapak tangannya, menampung air di tangannya kemudian membasuh wajahnya sambil sesekali menggosoknya pelan. Setelah dirasanya bersih, dia mengusap wajahnya untuk yang terakhir kali memastikan tidak banyak air yang menetes lagi dari wajahnya. Chanyeol menatap cermin sambil mengusap poni yang menempel di sekitar dahinya ke belakang. Wajahnya jadi jauh lebih segar daripada tadi.

Chanyeol melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Dan betapa terkejutnya ketika dia selesai menutup pintu dan berbalik pergi, dia betemu dengan Baekhyun di sana. Gadis itu berdiri dengan kepala menunduk menekuri lantai. Ujung sepatunya dia gesek-gesekan membentuk pola yang abstrak.

Bahkan di tempat seperti ini pun gadis itu berani mengikutinya. Gadis gila.

Chanyeol mengabaikannya kembali. Bertingkah bahwa dia tak melihat sama sekali gadis itu disini dan terus melangkah. Bisa jadi gadis itu terlalu fokus dengan lantai dan tak menyadari dirinya sudah pergi.

Tapi tentu saja dugaan Chanyeol salah. Tingkat kepekaan Baekhyun terhadap keberadaannya itu mungkin saja sudah akut.

Baekhyun segera menghadang jalannya dengan senyum yang teramat lebar.

"Chanyeol-ah, ini handuk untukmu!" Gadis itu menyerahkan sebuah handuk kecil yang sudah terlipat rapi berwarna merah padanya.

"Tidak perlu."

"Tapi ini bisa membantu untuk mengelap keringatmu!" Baekhyun maju mendekati Chanyeol. Kemudian tanpa permisi gadis itu mengelap rahang Chanyeol yang masih basah menggunakan handuk yang dipegangnya. "Ini juga bisa dipakai untuk mengelap air seperti ini."

Chanyeol beringsut mundur begitu gadis itu hendak mengelap bagian lehernya.

"Tidak butuh."

Chanyeol menatap tajam Baekhyun ketika dilihatnya gadis itu akan mengucapkan sesuatu lagi. Dan Baekhyun tidak mau membuang waktunya lebih lama dengan gadis yang menurutnya aneh ini.

Baekhyun mengatupkan bibirnya kembali begitu laki-laki di depannya menatapnya seperti mata itu akan melompat keluar dan menggentayanginya ketika dia melanjutkan ucapannya lagi. Bibir Baekhyun mengerucut, sebal karena Chanyeol lagi-lagi tak memberikannya kesempatan untuk berbicara banyak padanya.

"Minggir."

Mendengar nada datar itu, gadis penyuka es krim mint itu segera beringsut menyingkir. Matanya tetap menatap Chanyeol, kali ini bibirnya melengkung ke bawah minta dikasihani. Kapan sih Chanyeol akan betah berlama-lama bicara dengannya. Baekhyun bisa kok mencari banyak topik untuk menjadi bahan obrolan. Agar jika mereka berdua berbicara tidak akan cepat berakhir. Sampai besok pun bisa saja. Tapi ya itu. Kapan Chanyeol tidak akan memotong pembicaraannya dengan kata-kata dingin. Kesempatan seperti itu kapan datangnya?

Baekhyun memandangi punggung Chanyeol yang semakin jauh dari pandangannya. Gadis itu mendesah pelan. Ditatapnya handuk kecil yang masih berada di genggamannya itu dengan sedih. Padahal semalam dia sudah bersusah payah membelinya. Karena terfikirkan untuk memberi handuk ini pun setelah gadis itu selesai mandi pukul tujuh malam. Mama-nya bahkan sempat melarangnya pergi dan menyuruhnya membeli esok hari saja. Toko yang didatanginya memang cukup jauh dari rumah, musim pembegalan pula. Sang Mama jelas tidak tega membiarkan anak gadis satu-satunya itu keluar malam sendirian begitu saja. Tapi ya dasar Baekhyun-nya yang nekat dan keras kepala sih. Setelah susah payah meyakinkan Mama-nya akhirnya terbeli juga.

Demi untuk diberikan hari ini. Moment yang tepat ketika Chanyeol mengikuti ekstrakulikuler, kan?

Tapi ya ternyata gagal lagi juga.

.

"Chanyeol-ah…" gumamnya pelan. "Sudah susah-susah aku membelinya tapi tidak berguna, huks!"

Baekhyun melangkah meninggalkan area kamar mandi dengan langkah terseret malas. Kepalanya menunduk, handuknya terombang-ambing begitu saja di genggamannya.

"Ah, Baekhyun-ah? Darimana kau?"

Merasa terpanggil, gadis itu mendongakkan kepalanya. "Eh, Sehun." Cengirnya.

Sehun tersenyum tipis. "Kenapa kau masih berada di sekolah? Kau ada kegiatan tambahan?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. "Ti-tidak kok, tidak ada. Hanya iseng saja melihat-lihat keadaan sekolah ketika sore seperti apa, hehe."

Sehun tersenyum maklum. "Chanyeol lagi?"

"Eh?" Baekhyun menatap Sehun bingung sebelum kemudian dia cengengesan sendiri. Kadang dia suka melupakan fakta kalau Sehun selalu ada di sekitar Chanyeol yang otomatis dia juga sering melihat tingkah konyolnya selama ini. "Iya. Susah ya untuk dekat dengan temanmu yang satu itu." Cibirnya.

Sehun tersenyum menatap Baekhyun. "Teruslah berusaha, Baek. Tidak akan ada usaha yang sia-sia, kan?"

Mendengar ucapan Sehun, rasanya gadis itu seperti baru mendapatkan pencerahan. Orang sukses kan pasti punya kegagalan-kegagalan yang terjadi sebelum akhirnya dia sukses. Baekhyun pun harusnya juga seperti itu. Banyak film kan yang gadisnya mengejar-ngejar sang lelaki kemudian setelah sekian lama dia mendapatkan orang itu juga. Dia hanya butuh kesabaran lebih lama lagi dan biarkan waktu yang menjawab.

"Eung!" Angguknya antusias. "Terima kasih, Sehun-ah! Kau sudah mengembalikan semangatku." Gadis itu tersenyum lebar. Jenis senyum yang sampai menyentuh matanya, membuat Sehun jadi ingin tersenyum juga.

"Nah, kalau begitu jangan memasang wajah menyedihkan itu lagi. Kau pasti bisa."

Baekhyun mengangguk semangat, matanya berbinar menatap Sehun seolah laki-laki itu adalah gurunya yang sangat membantu.

"Yasudah aku mau ke kamar mandi dulu. Rasanya gerah sekali." Pamitnya sambil mengibas-ngibaskan kerah baju olahraganya.

"Ya sudah sanaaa,"

Sehun hendak melangkahkan kakinya pergi, tapi langkah itu terhenti saat matanya menangkap sebuah handuk berwarna merah di genggaman Baekhyun. Tanpa bertanya lagi, laki-laki itu menarik handuk itu begitu saja sebelum Baekhyun sempat menyadarinya.

"Aku pinjam dulu ya? Aku lupa membawa handukku. Terima kasih ya!"

"Eh, i- itu…"

Baekhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Sehun sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Bahu gadis itu merosot, lagi-lagi dia menghela nafasnya. "Itu kan untuk Chanyeol…."

.

.

.

.

.

TBC

cerita ini menurut kalian gimana? mainstream banget ya? T_T responnya kayaknya ga bagus. Apa sebaiknya aku delete aja?