Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki, of course
Main Cast: Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuro, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou
Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum
Akira Scarlet present: How to Survive
Chapter 3: Two Side
London, 2225
"Rapatnya akan dimulai sebentar lagi," Ujar lelaki berambut coklat.
"Aku tahu Kiyoshi, menurutmu aku sedang berjalan kemana?" Balas lelaki itu. Tampaknya ia sedang depresi berat.
"Baik-baik Hyuga, aku hanya mengingatkan."
Mereka berdua masuk ke dalam salah satu ruangan. Didalam ruangan itu tampak beberapa lelaki yang sedang duduk, lengkap dengan patner mereka yang sedang berdiri. Setia menunggu patnernya.
Ruangan itu cukup besar. Ada sebuah proyektor diruangan itu, yang biasanya hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu –setidaknya untuk jaman ini-.
Namun ada satu hal yang tampak jelas di ruangan itu, yaitu sebuah tulisan "Seirin" yang terpampang di dinding dengan warna merah tua.
"Baiklah, kita mulai rapat kali ini," Ujar Hyuga Junpei, selaku pemimpin orang-orang yang menamakan diri mereka Seirin tersebut.
"Langsung ke intinya," Ujar Hyuga. "Rencana kita mengalami sedikit masalah."
"Masalah?" Tanya salah seorang lelaki, Shun Izuki, "Apa ada yang tidak beres?"
"Tentu saja!" Jawab Hyuga spontan. Lelaki ini benar-benar sedang depresi berat. "Ada sekelompok murid wamil yang menghalangi kita!"
"Murid wamil?" Kali ini Shinji Koganei yang berbicara. "Mau apa mereka?"
"Mereka adalah murid wamil Tokyo. Jumlah mereka ada 6 orang, dan semua orang berharap mereka dapat memecahkan misteri mengenai Niger," Jelas Kiyoshi.
"Ooh begitu. Jadi mereka ingin memecahkan misteri tentang makhluk temuan kita ini? Menarik," Komentar Izuki.
"Ya begitulah. Namun mereka bukan remaja sembarangan. Kemarin ini aku memutuskan untuk menyerang wamil mereka. Namun mereka malah kabur," Kata Hyuga.
"Mereka kabur kemana?" Tanya Koganei.
"Kibune. Kota dekat Kyoto."
"Aku jadi penasaran mengenai keenam remaja ini. Menurutmu bagaimana, Kensuke Fusui?" Ujar Hiroshi Fukuda pada patnernya.
"Ya, aku juga penasaran," Jawab Kensuke.
"Kalau begitu," Hyuga mengambil sebuah file. "Berikut adalah nama keenam lelaki itu. Akashi Seijuro, Kuroko Tetsuya, Aomine Daiki, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, dan Murasakibara Atsushi."
"Akashi Seijuro dan Kise Ryouta?" Gumam salah satu lelaki diruangan itu, Kiyoshi Miyaji.
"Ada apa Miyaji?" Tanya Kiyoshi.
"Tidak bukan apa-apa."
"Nama-nama yang terdengar menyebalkan. Apa kau punya rencana, Hyuga?" Tanya Fukuda.
"Tentu saja," Jawab Hyuga. "Tak lama lagi Kibune akan dipenuhi oleh api."
"Hee, aku suka idemu," Komentar Izuki.
"Pertanyaannya, kali ini siapa yang akan turun ke lapangan?" Tanya Hyuga. Semuanya terdiam.
"Tampaknya ini akan sangat menarik," Gumam Koganei.
.
.
"Semuanya, makan malam sudah siap!" Seru Kagami dari dapur rumahnya. Keenam lelaki dengan seragam wamil keluar dari kamar mereka.
"Wah kali ini masak apa, sup?" Tanya Murasakibara. Kagami mengangguk. "Ayo makan sebelum dingin," Ujarnya –yang entah kapan jadi gemar memasak seperti ini- sambil tersenyum.
Sudah satu minggu keenam lelaki yang melarikan diri dari Tokyo ini menginap di rumah Kagami. Pemilik rumah itu sendiri tidak keberatan. Meskipun demikian, keenam lelaki itu harus berada dalam kamar yang sama karena Kagami tidak memiliki kamar lagi.
Selesai makan, mereka mengobrol sebentar, lalu tidur.
.
Akashi terbangun dari tidurnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ia mengedarkan pendangannya. Semua sedang tertidur. Kecuali satu orang, Kise Ryouta. Lelaki itu tidak ada ditempat tidurnya.
Akashi beranjak dari tempatnya, lalu melangkah keluar kamar. Ia berjalan menuju teras rumah, dan disana ia bertemu dengan Kise.
"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Akashi. Kise tersentak, lalu menoleh. "Akashicchi, jangan muncul tiba-tiba begitu ssu. Kau seperti Kurokocchi saja."
Akashi duduk disamping Kise. "Jadi kau tidak bisa tidur?"
Kise mengangguk, "Perasaanku tidak enak ssu."
"Begitu?" Tanya Akashi.
Ada satu hal yang diketahui oleh Akashi, namun tidak diketahui oleh temannya yang lain. Jika perasaan Kise tidak baik, artinya hal buruk akan terjadi. Perasaannya tidak pernah salah. Sama seperti firasat Akashi yang tidak pernah salah.
"Apa menurutmu hal buruk akan terjadi?" Tanya Kise. Akashi mengangkat bahu, "Mungkin. Aku sudah mengenalmu sejak kita masih sangat kecil. Dan perasaanmu tidak pernah salah."
"Begitu yah. Berarti akan ada hal buruk," Ujar Kise lesu.
"Ngomong-ngomong biasanya kau punya tebakan mengenai perasaan tidak baikmu dalam bentuk warna. Apa tebakanmu?"
"Dalam mimpiku aku melihat warna merah. Setelah itu aku terbangun dan tidak dapat tidur lagi. Lalu berakhir disini."
"Merah?" Tanya Akashi. "Darah atau api, keduanya identik dengan warna merah," Lanjutnya lagi.
"Menurutku sih api, karena warna merah yang kulihat adalah merah oranye. Bukan merah darah," Ujar Kise. Akashi terdiam.
"Kalau begitu mungkinkah kota ini akan dibakar ssu?" Tanya Kise cemas.
"Bisa iya, bisa tidak. Sekarang pertanyaannya adalah, siapa yang melakukannya dan untuk apa?" Jawab Akashi. Ia tampak berpikir, "Kita berada dalam keadaan yang sulit."
"Keadaan yang sulit," Ujar Kise. "Apakah keadaan ini mengingatkanmu pada sesuatu Akashicchi?"
"Sesuatu?" Seakan-akan menyadari sesuatu, Akashi berkata, "Oh itu. Ya sedikit. Tapi aku tidak ingin membahas itu lagi, terutama mengenai dia."
"Saudaraku ssu?" Tanya Kise. Akashi mengangguk, "Dan saudara sepupu untukku."
"Kalau dipikir lagi, sudah 7 tahun ya kita tidak bertemu dengannya ssu. Aku penasaran dia sekarang bagaimana."
"Ya benar. Aku juga penasaran, tapi tidak ingin bertemu dengannya lagi," Ujar Akashi.
Mereka berdua terdiam cukup lama. Tiba-tiba Akashi berdiri, "Apa itu?"
"Hah apa?" Tanya Kise. "Aku kan tidak punya mata setajam milikmu ssu."
"Ada sesuatu, mereka bergerak dalam jumlah yang banyak. Oh astaga itu Niger! Dan siapa lelaki bertopeng itu?!"
"Mungkinkah mereka akan menyerang kita?" Tanya Kise. "Mereka membawa api!"
"Kita harus memberitahu yang lain," Ujar Akashi, lalu masuk kedalam. Kise mengikutinya.
"Semuanya bangun!" Seru Akashi.
"Ada apa malam-malam begini Akashi-kun?" Tanya Kuroko.
"Sejumlah Niger menyerang, dan ada 2 pria bertopeng misterius. Parahnya lagi, kedua orang itu membawa api."
"Api? Biasanya kan orang-orang memakai senter. Jangan bilang kalau mereka mau membakar sesuatu," Ujar Murasakibara.
"Apa 2 pria itu datang bersamaan dengan Niger?" Tanya Midorima.
"Lebih tepatnya lagi mereka yang mengendalikan Niger-Niger sialan itu."
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Biasanya jika dalam jarak sedekat itu, Niger akan langsung menyerang. Tapi tadi para Niger itu tampak tenang saja."
"Baiklah, kita ambil senjata kita."
"Kalian butuh bantuan?"
Semua yang ada didalam kamar itu menoleh, dan mendapati Kagami berdiri di depan pintu. Ia memegang sebuah pisau.
"Kau bisa bertarung?" Tanya Aomine.
"Bisa, dulu temanku pernah mengajariku."
"Kau tahu apa yang kau hadapi kan?"
"Tentu saja, Niger."
"Baiklah-baiklah, tapi jangan menghalangi kami."
"Aku punya tugas tersendiri."
"Apa?"
"Membawa kalian ke pemimpin kota ini. Tadinya aku ingin melakukannya besok, tapi sepertinya harus sekarang."
"Jangan bilang kita akan kabur lagi. Aku ingin sekali bertarung."
"Aku tidak tahu." Kagami mengangkat bahu, "Tugasku hanya membawa kalian ke pemimpin Kibune, bukan membawa kalian kabur."
Aomine menatap temannya satu persatu, menunggu keputusan mereka. Bagaimanapun, ia harus menerima keputusan bersama.
"Baiklah Kagami," Ujar Akashi "Dimana pemimpin kota ini?"
Saat mereka keluar, mereka menyadari apa yang kedua pria dan Niger itu akan lakukan. Mereka membakar kota Kibune. Apinya belum sampai dipusat kota, masih berada dipinggiran.
"Ayo cepat kesini," Kagami memimpin jalan.
"Kurasa perasaanmu benar lagi," Bisik Akashi pada Kise. "Kota ini memang akan dibakar oleh api."
Saat mereka berjalan, Kuroko bisa melihat kedua pria bertopeng yang dikatakan Akashi. Mereka mengenakan pakaian putih-hitam, dan memakai topeng dengan warna hitam.
Kenapa akhir-akhir ini kami selalu dikejar oleh Niger ya? Apakah pengejaran ini kebetulan atau sengaja ditujukan pada kami? Pikir Kuroko.
.
Shun Izuki berjalan perlahan mengitari kota kecil Kibune tersebut.
"Hei Moriyama, menurutmu dimana keenam lelaki itu?" Tanyanya pada bawahannya.
"Tadi kulihat mereka sedang berjalan menuju pusat kota," Jawab Moriyama dari balik topengnya.
"Kenapa tidak kau beritahu dari tadi? Ayo kita cari mereka."
"Baik-baik."
.
Kagami mengetuk salah satu pintu rumah. Terdengar suara "masuk" dari dalamnya. Mereka lalu masuk dengan tergesa-gesa.
"Ini adalah pemimpin kota Kibune, Masako Araki," Ujar Kagami menunjuk seorang wanita berambut hitam panjang.
"Kalian murid wamil Tokyo yang terkenal itu ya?" Tanyanya.
"Sebenarnya ada apa kau memanggil kami kesini?" Akashi balas bertanya.
"Karena ada hal yang ingin kuberitahu kalian."
"Lalu kenapa kau terlihat begitu santai? Seluruh kota ini akan terbakar! Dan kau masih duduk disini?" Seru Aomine.
"Aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian. Setelah itu, pasukanku akan menyerang."
"Kau punya pasukan?"
"Ya, aku sudah mempersiapkannya sejak lama. Sekarang, mereka sedang berusaha memadamkan api yang membakar kota ini."
"Begitu."
"Jadi," Wanita itu berdiri. "Apa kalian tidak merasa kalau kalian selalu diserang oleh Niger?"
"Aku merasa," Ujar Kuroko. "Meskipun aku tidak tahu mengapa kami diserang baru akhir-akhir ini."
"Karena berita mengenai kalian baru sampai pada mereka."
"Mereka? Siapa?" Tanya Midorima.
"Seirin. Aku yakin temanku Katsunori sudah memberikan file kepada kalian. Jika kalian membacanya, kalian pasti tahu mengenai sekelompok peneliti yang menghilang bukan?"
"Peneliti yang mengatakan mereka menemukan sesuatu lalu kemudian dinyatakan gagal dan mereka menghilang?" Midorima terkejut, "Berarti dugaan Kuroko?"
"Memang apa dugaan Kuroko?" Tanya Murasakibara.
"Aku menduga kalau peneliti itu yang menemukan Niger."
"Dugaanmu betul," Ujar Masako "Nama kelompok peneliti itu adalah Seirin."
"Seirin? Apa yang merencanakan pembakaran kota ini juga?" Tanya Akashi.
"Bisa jadi. Kutebak tujuan mereka adalah melenyapkan kalian, yang mereka kira akan menganggu rencana mereka. Kalian harus hati-hati."
"Apa rencana mereka?" Midorima penasaran.
"Masih misterius. Yang pasti, mereka tidak segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi jalan mereka. Lihat saja bagaimana ia membakar kota ini untuk melenyapkan kalian. Padahal mereka tahu kalau perbuatan mereka ini dapat membunuh banyak orang tidak bersalah."
"Mereka pasti sekumpulan psikopat," Ujar Aomine, "Atau orang gila."
"Mungkin, namun kudengar kalau Seirin mendapatkan anggota baru. Kalian pernah dengar Kaijou, Yosen, atau Touou?"
"Kelompok peneliti terkenal didunia? Kenapa dengan mereka?"
"Ketiga kelompok itu sudah tidak ada lagi. Mereka terpisah-pisah. Lalu beberapa dari mereka bergabung dengan Seirin."
"Bagus, lawan kita tampaknya peneliti dengan otak yang jenius ssu," Keluh Kise.
"Aku juga mendapat informasi kalau markas Seirin terletak di London, Inggris. Sebenarnya semenjak 2 tahun yang lalu semua Negara Asia mengadakan perjanjian kalau siapapun yang menemukan Seirin harus menghukum mereka. Namun tampaknya mereka bersembunyi di Eropa, dan Negara Eropa sedang berselisih dengan Negara Asia. Bisa jadi ini mengakibatkan perang yang besar."
"Bagaimana dengan Negara Amerika?"
"Mereka tidak ikut campur. Meskipun demikian, mereka adalah korban pertama serangan Niger."
"Jadi, kita harus apa?" Tanya Murasakibara.
"Kalian harus ke London, dan mengalahkan Seirin. Aku pernah dengar kalau semua Niger akan musnah kalau ada yang menghancurkan batu berlian berwarna biru yang disimpan oleh Seirin. Bisa dibilang itu adalah titik vital dari seluruh Niger."
"Jadi kita hanya harus menghancurkan batu itu?"
"Tidak semudah itu, batu itu hanya bisa dihancurkan oleh suatu pedang. Bisa dibilang pedang itu mirip dengan pedang Excalibur."
"Dimana pedang itu berada?"
"Paris, Perancis."
"Menurutmu bagaimana caranya kita bisa kesana?" Tanya Aomine. "Bagaimana dengan kedepannya?"
"Aku punya seorang teman disana. Namanya Tatsuya Himuro, ia bisa membantu kita," Jawab Kagami yang sedari tadi diam.
"Mengenai cara kalian kesana, kalian akan menggunakan pesawat."
"Kupikir kita tidak boleh menggunakan pesawat," Ujar Aomine.
"Siapa bilang? Niger tidak dapat terbang."
"Caramu menembus barrier?" Balas Aomine.
"Barrier didaerah sekitar bandara tidak setinggi didaerah lainnya."
"Lalu bagaimana caranya kita tidak dikenali oleh petugas bandara?" Tanya Akashi. "Kupikir mereka pasti mendukung Seirin, yang artinya merupakan lawan kita. Apa kita perlu menerapkan seni menyamar?"
"Kalian memang akan pergi ke Eropa, tetapi tidak mendarat di bandara umum. Kalian akan mendarat di bandara kecil milik Tatsuya. Kalian juga akan menggunakan pesawat miliknya."
"Bagus, sebenarnya sekaya apa dia?"
"Kalian akan berangkat secepatnya. Sekarang pilihan kalian ada 2, pergi atau tinggal? Kalian bisa pergi sekarang, atau tinggal dan membantu kami."
"Tentu saja tinggal. Aku tidak ingin kabur untuk kedua kalinya," Ujar Aomine ketus.
"Bagaimana Akashi-kun?" Tanya Kuroko.
"Sepertinya kali ini kami akan tinggal dan membantu kalian melawan," Jawab Akashi.
Masako mengangguk, "Tapi aku tidak ingin mengambil resiko. 3 orang dari kalian tinggal disini."
"3 orang? Baiklah, siapa yang akan tinggal?"
"Midorima, Kuroko, Kise, kalian tinggal," Perintah Akashi. Karena Akashi merupakan pemimpin mereka, mereka tidak berani menolak.
Akashi, Aomine, dan Murasakibara keluar. Diikuti Kagami dan Masako. Sementara sisanya menunggu didalam.
.
"Wah payah nih, kita kewalahan!" Seru Moriyama. Ia mundur selangkah.
"Cih, para Niger sudah tidak tersisa, dan api sudah hampir mereka padamkan. Boleh juga mereka. Kita harus mundur," Ujar Izuki.
"Kita akan kena marah Hyuga kan?"
"Tentu saja iya. Tapi mau bagaimana lagi, ayo Moriyama," Mereka berdua menghilang diantara semak-semak.
.
Akashi membuka pintu rumah Masako. "Kita menang," Ujarnya.
"Oh ya? Kemana 2 lelaki bertopeng itu ssu?" Tanya Kise.
"Mereka sepertinya lari. Aku tidak melihat mereka sedari tadi."
"Kalau begitu, kalian boleh berangkat sekarang," Kata Masako yang mucul tiba-tiba.
"Sekarang? Kemana?" Tanya Murasakibara.
"Ke Paris tentu saja. Kagami akan mengantar kalian. Sebenarnya dari kemarin ini ia sudah mengirim kabar kepada Tatsuya."
"Memakai surat? Belum tentu sudah sampai."
"Tentu saja tidak. Memang rakyat biasa tidak mengetahuinya tapi untuk orang-orang penting, mereka menggunakan alat komunikasi super cepat."
"Oh begitu."
"Baiklah kalian bisa berangkat sekarang. Semoga beruntung!"
Third chapter!
Disini Seirin (dengan gabungan beberapa tim yang lain) berperan sebagai antagonis. Jadi, sudah pasti agak ooc
Akhir kata, enjoy!
