Kyungsoo tak henti-henti mengirim chat pada Oh Sehun, meski tak ada satupun yang masuk. Kyungsoo juga mencoba mengirim e-mail dan mengecek semua akun sosial media milik Sehun. Namun tetap saja, tak ada tanda-tanda dimana keberadaan Sehun.

.

Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Kyungsoo;

Kemana Oh Sehun pergi?

Apa Oh Sehun pergi untuk menghindarinya?

Mungkinkah Oh Sehun pergi bersama Xi Luhan?

Dan…

Kenapa hatinya sakit saat Oh Sehun meninggalkannya?

.

.

.

©Angelsoo Proudly Present

THE THEORY OF LOVE

(A Month With Park Chanyeol )

-Do Kyungsoo; Oh Sehun; Kim Jongin; Park Chanyeol-

Rated T

Warn : Baeksoo genderswitch, Chanbaeksoo

Genre : Drama; romance

Disclaimer : All characters belong to their agency


Butuh waktu hampir sebulan untuk Kyungsoo melupakan masalahnya dengan Oh Sehun, dan fokus kembali pada rencana awal.

Adapun orang kedua yang dipilih untuk menjalani satu bulan bersamanya adalah Kim Jongin.

.

Hari itu, Selasa tanggal 10 Juni 2016, Kyungsoo yang tak sengaja bertemu Kim Jongin di perpustakaan kampus, tidak mau membuang kesempatan tersebut. Jadi ia menghampiri Jongin yang sedang sibuk memilih-milih buku.

"Hai Kim Jongin.."

Jongin menoleh.

"Ouh, Kyungsoo noona."

"Kau terlihat sibuk sekali."

Jongin tersenyum tawar.

"Begitulah noona, apalagi aku hampir sidang skripsi."

"Oh ya? Kapan itu?"

"Entahlah, yang pasti dalam bulan ini. Aku sedang mengajukan jadwal, tapi selalu bertabrakan."

"Ouh, tampaknya kau akan sibuk sebulan ke depan Jonginie."

"Sepertinya begitu noona."

.

.

Setelah mengetahui Jongin akan sibuk selama sebulan ke depannya, Kyungsoo tentu membatalkan rencana sebulan bersama Kim jongin. Ia tidak ingin waktu satu bulan hanya terbuang begitu saja tanpa ada momen berarti karena Jongin yang sibuk dengan skripsi.

Ia sempat berpikir akan menunggu Jongin menyelesaikan masalah skripsi, baru kemudian ia memulai rencananya –satu bulan bersama Kim Jongin.

Namun rencana tersebut berubah saat ia pulang ke rumah dan ibunya memberitahu bahwa ia mengundang keluarga Park untuk pesta barbeque bersama dirumah mereka. Kyungsoo pun memutuskan untuk menjadikan hari itu sebagai hari pertamanya bersama Park Chanyeol.

x-o-x-o

The 1st day with Park Chanyeol

Keluarga Park datang sekitar pukul 7 malam. Semua orang berkumpul di taman belakang rumah Kyungsoo.

Masing-masing dari mereka membaur satu sama lain, membentuk kelompok, dan kemudian mulai sibuk dengan kegiatan bersama kelompoknya tersebut. Kakek Kyungsoo, ayah Kyungsoo, dan Tuan Park mengobrol asyik masalah pekerjaan. Ibu Kyungsoo dan Nyonya Park sibuk memanggang berbagai bahan makanan dan menyajikannya di atas meja yang telah disediakan. Sedangkan Do Kyungsoo dan Park Chanyeol hanya duduk bersebelahan di sebuah gazebo yang ada di tengah taman, tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara.

Sekitar 30 menit mereka duduk dalam diam, hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk buka suara.

"Park Chanyeol-ssi."

"Ya?" Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo yang berada kira-kira 1 meter di samping kirinya.

"Boleh aku menanyakan sesuatu?"

"Silakan."

"Maaf mungkin aku lancang, tapi pertanyaanku masih sama… Tidakkah kau berniat membatalkan rencana perjodohan ini?" Kyungsoo menatap Chanyeol dengan wajah sendu.

Ada sedikit jeda, sebelum Chanyeol menjawab.

"Tidak." Chanyeol berujar pelan tapi pasti.

"Meski kau tau bahwa diantara kita tidak ada cinta?"

Chanyeol memejamkan mata, kemudian sedikit mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan kekasihmu?"

Chanyeol diam.

Merasa tidak mendapat jawaban, Kyungsoo kembali menghadap Chanyeol.

"Chanyeol-ssi?"

Chanyeol masih diam. Matanya menerawang memandang langit malam. Kyungsoo sempat melihat sekilas mata Chanyeol yang berkaca-kaca.

"Chanyeol-ssi?"

Tiba-tiba ponsel Chanyeol bordering. Pria itu bangkit dari duduknya.

"Maaf aku harus mengangkat telepon."

Kyungsoo mengangguk sebagai tanggapan.

.

Chanyeol belum selesai dengan acara meneleponnya sampai saat para ibu-ibu memanggil untuk segera berkumpul di meja makan, barulah pria itu mematikan sambungan teleponnya dan segera bergabung bersama orang-orang yang telah lebih dulu siap di meja makan.

.

Malam itu berlalu tanpa ada satupun kepastian dari Chanyeol.

.

.

The 8th day with Park Chanyeol

Meski telah mulai menjalankan satu bulan bersama Park Chanyeol –secara sepihak, namun keadaanya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Do Kyungsoo tidak berniat menghubungi Park Chanyeol, apalagi harus berterus terang mengenai masalah percintaan dan rencana konyolnya tersebut.

Hingga suatu hari, di jam makan siang Kyungsoo menerima sebuah pesan dari Chanyeol, pria itu bertanya apakah bisa bertemu dengan Kyungsoo malam nanti, karena ada seseorang yang ingin berkenalan dengan Kyungsoo, katanya. Kyungsoo yang memang tak ada rencana apapun di malam hari, mengiyakan ajakan pertemuan tersebut.

.

Jadi di sanalah Kyungsoo, duduk sendiri di pojokan sebuah kafe yang cukup ramai. Gadis Do itu sudah sampai sekitar 5 menit yang lalu, tapi orang yang mengajaknya bertemu belum juga muncul.

Lima menit kemudian, sebuah sedan BMW masuk ke parkiran kafe. Melalui kaca kafe yang tembus pandang, Kyungsoo dapat melihat Park Chanyeol keluar dari kursi kemudi dalam balutan baju kantor rapi, hanya saja tanpa jas. Chanyeol mengitari mobil, kemudian membukakan pintu penumpang. Dari sana turun seorang wanita yang tak terlalu tinggi dalam balutan light blue dress tanpa lengan yang menutupi hingga batas lututnya.

Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, dan membawa tangan si wanita untuk melingkari pinggangnya. Wanita itu berjalan dengan sedikit tertatih. Kyungsoo bertanya-tanya dalam hatinya apa kaki wanita itu sedang bermasalah?

Beberapa saat kemudian mereka telah masuk ke dalam kafe. Kyungsoo berinisiatif untuk memanggil Chanyeol. Chanyeol menoleh, dan mereka mulai berjalan ke arah meja Kyungsoo.

"Malam, Kyungsoo-ssi…" Chanyeol tersenyum ramah, sambil menyeret ke belakang sebuah kursi untuk wanita yang datang bersamanya.

"Malam Chanyeol-ssi." Kyunngsoo berdiri dan sedikit membungkuk pada kedua orang itu.

"Perkenalkan, ini Byun Baekhyun, kekasihku. Ia terus merengek padaku agar diperkenalkan denganmu." Chanyeol duduk di sebelah wanita bernama Baekhyun itu.

Baekhyun tersenyum lembut, dan mengulurkan tangan.

"Byun Baekhyun."

Kyungsoo menyambutnya, kemudian juga tersenyum.

"Do Kyungsoo."

"Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu. Aku mendengar banyak tentangmu dari Chanyeol, hmm.. Kyungie. Boleh aku memanggilmu begitu?"

"Tentu saja, hmm… Unni?"

Baekhyun mengangguk.

Kyungsoo dan Baekhyun tersenyum bersamaan.

.

"Ouh! Kau sudah memesan minumanmu lebih dulu nona Do?" Park Chanyeol bertanya setelah melihat adanya segelas minuman di meja mereka.

Kyungsoo mengangguk.

"Aku akan memesan sekarang. Kau ingin apa Baekie? Jus strawberry seperti biasanya?"

Baekhyun menggeleng.

"Aku sedang ingin minum macchiato, Yeolie."

"Tidak biasanya. Tunggu sebentar oke?"

Baekhyun mengangguk.

.

Setelah ditinggal Chanyeol untuk memesan minuman, Kyungsoo dan Baekhyun sama-sama diam, tidak memiliki bahan pembicaraan. Hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk buka suara;

"Kau memiliki rambut yang bagus Unni!"

Kyungsoo jujur untuk itu. Ia terpesona pada rambut keriting gantung sepinggang berwarna auburn brown milik wanita di hadapannya tersebut.

"Aku anggap itu pujian untukku, Kyungie. Terimakasih."

"Aku juga suka kepangan rambutmu. Manis! Sangat cocok denganmu."

Baekhyun meraba kepala bagian belakangnya.

"Oh ini? Muridku yang melakukannya. Ia bilang ini model waterfall braid. Entahlah, anak-anak memang penuh kejutan."

"Jadi kau seorang pengajar Unni?"

Baekhyun mengangguk.

.

Obrolan ringan malam itu berlanjut tentang pekerjaan Baekhyun sebagai guru musik di sebuah sekolah dasar. Tentang kaki Baekhyun yang ternyata pincang sebelah. Tentang kisah cinta Chanyeol dan Baekhyun yang berawal dari sebuah kecelakaan lalu lintas, karena keteledoran Chanyeol, yang berakhir pada pincangnya kaki Baekhyun dan berseminya cinta di hati keduanya.

Melalui pertemuan malam itu, ada beberapa hal baru yang Kyungsoo tau; Park Chanyeol sebenarnya adalah seorang yang berhati hangat, terutama kepada orang yang dicintainya. Dan Byun Baekhyun, kekasih Chanyeol adalah wanita manis yang sangat baik. Jika Kyungsoo adalah seorang pria, dan berada dalam posisi Chanyeol, di mana harus memilih antara Baekhyun dan dirinya, maka Kyungsoo tanpa berpikir dua kali akan memilih Baekhyun.

Hal tersebut semakin membuat Kyungsoo bingung. Kyungsoo tau Chanyeol sangat mencintai Baekhyun. Terlihat dari bagaimana pria itu memperlakukan kekasihnya. Tapi kenapa Chanyeol seperti tidak berniat membatalkan perjodohannya dengan Kyungsoo? Pasti pria itu punya alasannya sendiri. Dan Kyungsoo akan menanyakannya.

.

.

The 12th day with Chanyeol

Kyungsoo telah bertekat untuk menanyakan alasan kenapa Chanyeol tidak berniat membatalkan perjodohan di antara mereka, meski tidak yakin Chanyeol akan memeberi taunya, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Makahari itu di sekitar waktu makan siang, Kyungsoo mengirim pesan pada Chanyeol.


To : Park Chanyeol

Park Chanyeol-ssi apa kau sibuk malam ini? Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.


Sekitar 5 menit kemudian, Chanyeol membalas pesan Kyungsoo.


From : Park Chanyeol

Maaf Kyungsoo-ssi, nanti malam adalah jadwal check-up Baekhyun, jadi ku rasa malam ini tidak bisa. Tapi besok malam mungkin aku bisa.


Kyungsoo menghembuskan nafas pasrah. Dan berkata dalam hati, bahwa Baekhyun benar-benar beruntung.


To : Park Chanyeol

Aa~ tidak masalah Chanyeol-ssi. Baiklah aku tunggu kabar kepastian darimu besok.


Setelah membalas pesan dari Park Chanyeol, Kyungsoo memasukkan ponselnya ke saku celana, dan mulai berjalan menuju kantin kampus untuk makan siang.

.

.

The 13th day with Park Chanyeol.

Keesokan harinya, pesan kepastian dari Chanyeol tentang janji pertemuannya dengan Kyungsoo, tidak datang hingga waktu menjelang sore. Kyungsoo sebenarnya ingin mengirim pesan lebih dulu, mungkin Chanyeol lupa. Tapi ia merasa gengsinya sebagai seorang wanita di pertaruhkan di sini, jadi dia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan lebih dulu, dan memilih untuk menunggu.

Barulah sekitar pukul 6 sore, sebuah pesan masuk ke ponsel Kyungsoo. Dan benar saja itu dari Chanyeol. Kyungsoo segera membukanya.


From : Park Chanyeol

Aku benar-benar minta maaf Do Kyungsoo-ssi, kita tidak bisa bertemu malam ini. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, juga tidak. Ada sedikit masalah dalam keluargaku. Aku akan menghubungimu lagi jika semua sudah beres. Maaf.


Kyungsoo mendengus pasrah. Ia tidak membalas pesan tersebut, sebab berdasarkan pemikirannya, Chanyeol seperti sedang tidak ingin diganggu. Mungkin memang telah terjadi masalah serius dengan keluarganya.

.

.

Chanyeol tidak juga menghubungi Kyungsoo hingga 10 hari setelahnya. Barulah di hari ke-sebelas, Chanyeol menghubungi Kyungsoo.

.

.

The 24th day with Park Chanyeol

Chanyeol menghubungi Kyungsoo dan menanyakan apakah mereka bisa bertemu, Kyungsoo tentu mengiyakan pertanyaan tersebut. Itu memang yang ditunggu-tunggu Kyungsoo selama sepuluh hari ke belakang.

Kyungsoo mengusulkan bertemu di Lotto Cafe, tapi Chanyeol dengan halus menolaknya. Pria itu bilang ingin suasana beda yang lebih santai, sebab banyak hal yang harus dibicarakan katanya. Chanyeol mengusulkan Festival Bunga Teratai di Seodong Park. Kyungsoo langsung menyetujui usulan tersebut. Pria Park itu juga bilang akan menjemput Kyungsoo dirumahnya pada pukul 7 malam. Dan Kyungsoo mengiyakannya.

.

Tak ingin membuat Chanyeol menunggu, pukul 7 kurang 5 menit Kyungsoo telah duduk manis di kursi yang ada di teras rumahnya. Kyungsoo mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih tulang, vintage flat shoes warna tosca, wristlet bag yang senada dengan sepatunya, dan rambut hitam panjang yang dikuncir kuda.

Pukul 7 tepat, sebuah mobil yang Kyungsoo tau itu milik Chanyeol, berhenti di depan pagar rumahnya. Kyungsoo segera berlari menghampiri. Chanyeol membuka kaca pintu di samping kursi penumpang, tersenyum, kemudian menyuruh Kyungsoo masuk.

Tidak seperti biasanya, Chanyeol tampil lebih kasual dengan all black fashion. Jack Daniel t-shirt hitam, skinny ripped jeans hitam, slip-on hitam, snapback hitam, dan casual rolex hitam tersemat manis di pergelangan tangan kirinya. Rambut hitam kecoklatan yang biasa disisir rapi dengan gel, dibiarkannya turun hingga sebatas alis.

Beberapa menit setelah mobil melaju, Kyungsoo membuka pembicara.

"Kau terlihat lebih santai malam ini Chan.. "

"Oppa, panggil aku Oppa! dan aku akan memanggilmu Kyungie." Chanyeol tersenyum tipis.

"Aa~ baiklah. Chanyeol Oppa!"

"Hmm.. apa katamu tadi? Aku terlihat lebih santai? Aa~ aku memang begini jika tidak sedang bekerja. Tapi malam ini aku sedikit tidak percaya diri dengan pakain serba hitam begini. Selera yang sedikit aneh menurutku."

"Lalu kenapa kau mengenakannya Oppa?"

"Baekhyun yang memaksa. Bahkan tadi ia memakaikan parfumnya padaku. Apa menurutmu aku jadi seperti laki-laki girly?"

"Hehe tidak sama sekali. Kau tetap tampan, Oppa. Omong-omong kenapa Baekhyun Unni melakukan itu ?"

"Entahlah, akhir-akhir ini dia sering memaksaku melakukan hal-hal aneh. Dan jika aku menolak, ia akan mengacuhkanku."

"Kau dan Baekhyun Unni sangat romantis, Oppa."

"Begitu menurutmu?"

Kyungsoo mengangguk cepat beberapa kali.

.

Satu jam kemudian mereka sampai di area Seodong Park, tempat berlangsungnya Festival Bunga Teratai. Setelah memarkir mobil, mereka mulai berjalan ke area festival.

"Kyungie.."

"Ya, Chanyeol Oppa?" Kyungsoo mengelus-elus kedua lengannya untuk mengurangi rasa dingin yang dirasakannya.

"Huh? Apa kau kedinginan Kyung?"

"Sedikit, tapi ku pikir tidak masalah. Aku kira malam musim panas suhunya tidak akan sedingin ini, hehehe."

"Mungkin karena di sini ada danau dan banyak pepohonan jadi.. ouh, aku baru ingat, aku memiliki mantel musim panas di mobilku. Tunggu dulu, biar ku ambilkan untukmu." Chanyeol langsung berlari keluar area festival.

"Chanyeol Oppa, tidak perlu..." Kyungsoo setengah berteriak. Meski percuma, Chanyeol telah menghilang di kerumunan para pengunjung festival lainnya.

Kira-kira 4 menit kemudian Chanyeol datang dengan berlari kemudian menyodorkan sebuah mantel berwarna army green pada Kyungsoo.

"Apa aku lama? Maaf. Sekarang pakailah ini."

"Terimakasih Oppa. Maaf merepotkanmu."

"Aku tidak kerepotan sama sekali." Chanyeol tersenyum lebar, menampilkan gigi rapinya.

"Apa kau membelikan ini untuk Baekhyun Unni?"

Kyungsoo bertanya sambil memakai mantel pendek sebatas pinggulnya itu.

"Tidak juga. Aku membeli tiga buah mantel yang sama dengan warna berbeda saat pergi perjalanan bisnis ke Jepang bulan lalu."

Keduanya mulai berjalan kembali.

"Aku berniat memberikannya pada Baekhyun, Yoora, dan orang yang dijodohkan denganku."

Kyungsoo memperlebar pupil matanya dan sedikit mendongak menghadap Chanyeol yang berjalan di sampingnya.

"Ya, untukmu. Maaf baru ada kesempatan memberikannya. Aku bahkan hampir lupa. Hehehe."

"Tidak masalah, Oppa. Terimakasih telah mengingatku." Kyungsoo tersenyum.

Chanyeol mengangguk dan balas tersenyum.

Mereka berjalan pelan menyeberangi jembatan yang terbentang di atas danau.

"Hmm.. kalau aku boleh tau, Yoora itu siapa, Oppa?"

"Yoora? Park Yoora. Dia adiku satu-satunya Kyung. Ku pikir dia seumuran denganmu."

"Ouuh ku pikir kau anak tunggal, Oppa."

Chanyeol menggeleng sambil tersenyum tipis. Sangat tipis.

Mereka diam tanpa suara untuk beberapa saat. Berjalan berdampingan menikmati bunga-bunga teratai yang menutupi hampir sebagian besar permukaan danau.

Setelah sampai di ujung lain jembatan, suasana mulai lebih ramai. Sebab tak jauh dari sana terdapat panggung pertujukan seni dan budaya.

"Chanyeol Oppa…" Kyungsoo membuka suara.

"Hm?" Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo.

"Bisa kita mencari tempat yang lebih sepi? Ada hal serius yang ingin aku tanyakan padamu."

Kyungsoo tentu belum lupa akan tekatnya untuk tahu alasan Chanyeol tidak membatalkan perjodohan diantara mereka.

"Ayo, ada banyak hal juga yang ingin ku bicarakan denganmu."

Kyungsoo dan Chanyeol berjalan menjauhi panggung pertunjukan seni dan budaya. Hingga sampailah mereka di tempat yang cukup sepi, meski masih ada orang yang lewat di sekitar situ, tapi setidaknya lebih tenang tanpa alunan musik dan sorak sorai penonton.

Mereka duduk di sebuah bangku di bawah pohon Oak.

"Kyung, sebelumnya aku minta maaf karena beberapa minggu lalu telah membatalkan janji pertemuan kita yang telah aku buat sendiri. Tapi sungguh, waktu itu keadaannya benar-benar mendesak." Chanyeol mengatakannya dengan raut wajah yang menyiratkan penyesalan yang sangat kentara.

"Tenanglah Oppa, kau tak perlu merasa bermasalah begitu. Karena aku tak pernah mempermasalahkannya." Kyungsoo tersenyum menenangkan.

"Terimakasih Kyung, kau sangat baik. Pantas kakekku selalu membangga-banggakanmu dulu. Hehehe…" Chanyeol terkekeh mengingat pujian-pujian yang selalu dilontarkan kakeknya mengenai Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum, sedikit malu.

"Omong-omong apa yang ingin kau tanyakan padaku Kyung?"

"Itu, masalah kita, maksudku masalah perjodohan kita." Kyungsoo mengucapkannya sedikit ragu-ragu.

"Tanyakanlah, kebetulan ada hal yang harus ku ceritakan padamu masalah itu juga."

"Oppa tidak akan marah kan?"

"Apa aku semenakutkan itu di matamu?"

Kyungsoo menggeleng pelan. Sedikit ragu dengan jawabannya sendiri.

"Kalau begitu, tanyalah."

"Ehm, Oppa.. aku tahu kau sangat mencintai Baekhyun Unni, begitupun Baekhyun Unni sangat mencintaimu. Yang ingin aku tanyakan, mengapa kau tidak berniat membatalkan rencana perjodohan kita? Maksudku, bukankah jika perjodohan ini dilanjutkan malah akan menyakitimu, Baekhyun Unni, bahkan mungkin juga aku. Apalagi kita sama-sama tahu bahwa bahwa baik aku ataupun kau, tidak memiliki perasaan cinta satu sama lain, layaknya seorang kekasih. Selain itu, bukankah kakekmu sudah meninggal? Ku pikir jika kau membatalkan rencana perjodohan ini, kau tidak akan terlalu mengecewakannya. Aku yakin ia akan mengerti. Ia melihat masalah kita dari atas sana."

Kyungsoo mengungkapkan semua yang berputar-putar dalam benaknya akhir-akhir ini.

"Kebetulan sekali kau menanyakannya Kyung. Aku juga ingin menceritakan permasalahanku yang berkaitan dengan rencana perjodohan kita."

Kyungsoo membuka cukup lebar pupil matanya, dan sedikit memiringkan kepala.

"Apa yang ingin kau ceritakan Oppa?"

"Begini, Ehm! Kau memang benar, kakekku sudah meninggal kira-kira setahun yang lalu. Sebelum meninggal ia sempat membuat surat wasiat, yang kira-kira isinya mengatakan bahwa ia menjodohkan aku, satu-satunya cucu laki-laki yang dimilikinya, dengan cucu dari sahabat lamanya, dan itu kau, Kyung. Di surat wasiatnya juga tertulis jika akhirnya aku menikah dengan orang yang dijodohkan denganku -Kyungsoo, kakek akan memberikan seluruh saham dan harta miliknya padaku. Tapi, jika aku tidak menikah denganmu, maka kakek akan memberikan seluruh saham dan harta miliknya pada Park Yoora dan suaminya. Saat itu Park Yoora memang sudah menikah."

Kyungsoo sedikit kecewa mengetahui Chanyeol menyetujui rencana perjodohan mereka hanya karena harta warisan.

Tapi kemudian Chanyeol kembali melanjutkan;

"Tapi Kyung tolong jangan salah paham padaku. Aku tidak menyetujui rencana perjodohan kita hanya karena harta warisan, ada masalah yang lebih rumit lagi."

"Apa maksudmu Oppa?"

Chanyeol kembali bercerita.

"Awalnya aku menolak mentah-mentah rencana perjodohan ini, apalagi saat itu aku sedang tergila-gila pada Baekhyun. Tapi setelah memikirkannya kembali untuk waktu yang cukup lama, aku memutuskan menyetujui rencana perjodohan ini. Satu alasanku, aku tidak ingin saham kakek jatuh ke tangan Park Yoora dan suaminya itu. Suami adikku Yoora sangat buruk, Kyung. Saat kakek masih hidup, ia memang selalu bersikap manis di depan kami, apalagi Yoora. Tapi setelah kakek tiada, sifat aslinya mulai muncul. Ia mulai berani melawan pada ayah dan ibuku, meski Yoora yang sangat mencintai pria itu, selalu membelanya. Ia bahkan menggelapkan dana perusahaan untuk kepentingan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia mulai berselingkuh di belakang Yoora. Kami sudah berusaha memberitahu Yoora akan perselingkuhan yang dilakukan suaminya. Tapi Yoora tidak percaya, ia telah buta oleh cintanya pada pria itu."

Kyungsoo menyeka air mata yang jatuh dari ujung matanya.

"Kau baik-baik saja Kyung?"

Kyungsoo mengangguk.

"Lanjutkan, Oppa."

"Baiklah. Jadi alasan-alasan itu yang membuatku memutuskan rencana perjodohan kita. Karena aku tahu, jika saham dan seluruh harta kakek jatuh ke tangan Yoora dan suaminya, maka pria itu dengan mudahnya akan mengendalikan Yoora-ku, dan pada akhirnya pria itu akan mendepak kami dari rumah yang notabene juga atas nama kakek. Mungkin tak masalah jika ia hanya mendepakku seorang, tapi aku yakin ia tak segan melakukannya juga pada Ayah-ibuku, bahkan istrinya, Yoora. Aku tidak bisa melihat keluargaku terlantar hanya karena keegoisanku, Kyung. Jadi setelah mempertimbangkannya masak-masak, aku memutuskan untuk menerima rencana perjodohan ini."

Air mata sudah mengalir di kedua belah pipi Kyungsoo.

"Apa Baekhyun Unni mengetahui ini semua?"

Cahanyeol mengangguk.

"Aku tak punya tempat bercerita selain dia, Kyung."

"Bagaimana tanggapannya, Oppa?"

"Dia terus menenangkan aku, dan mengatakan pasti semua ada jalan keluarnya. Katanya aku hanya perlu bersabar dan terus berdoa pada Tuhan. Aku melakukannya. Dan kau tau Kyung…?"

"Apa Oppa?"

"Tuhan benar-benar menjawab doaku. Meski harus mengorbankan adikku, Yoora."

"Maksudmu Oppa?"

"Kau ingat saat aku membatalkan pertemuan kita, dan mengatakan bahwa sedang terjadi masalah dengan keluargaku?"

Kyungsoo mengangguk.

Chanyeol mengusap ujung matanya.

"Hari itu Yoora yang baru pulang ke apartemennya setelah menginap di rumah ayah-ibu, mendapati suaminya bersama sahabatnya sendiri, tengah bercinta di dalam kamar pribadinya –kamar Yoora dan suaminya. Yoora yang melihat itu jadi gelap mata, dengan gunting yang ia ambil di laci meja rias, ia menusuk kedua orang yang selama ini amat dipercayainya tersebut secara brutal. Yoora bahkan baru berhenti saat polisi yang mendapat laporan dari tetangga apartemen Yoora, datang. Saat itu kedua orang yang menjadi korban perlakuan Yoora meninggal dengan kondisi tubuh mengenaskan. Dan adik manisku, Park Yoora, harus dipenjara karena hal ini. Kami sengaja menutup semua akses berita, agar tidak lebih menyakiti Yoora."

Dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, Kyungsoo menepuk bahu Chanyeol beberapa kali. Menenangkannya.

"Kalau dilihat-lihat cerita hidupku seperti drama bukan?" Chanyeol tersenyum kecut.

"Jadi bagaimana akhirnya Oppa? Maksudku, harta warisan kakekmu."

"Itu jatuh ke tangan Yoora, tapi karena Yoora di penjara, Yoora secara sukarela melimpahkannya pada pihak sosial. Pihak sosial sebagai pemegang saham tertinggi berhak memimpin perusahaan, yang beberapa tahun terakhir dipegang sementara oleh ayahku, atas kemauan kakek yang saat itu mulai sakit-sakitan."

"Jadi apa kau yang dipercaya oleh Yoora, Oppa?"

Chanyeol mengangguk pasrah.

"Jadi Oppa, dari keseluruhan ceritamu tadi, bolehkah aku mengambil kesimpulan untuk pertanyaanku di awal tadi?"

Chanyeol sedikit memiringkan kepala, tak mengerti.

"Kau membatalkan perjodohannya, benarkan?" Kyungsoo menyeka sisa-sisa air matanya dan seulas senyum berkembang di bibirnya.

Chanyeol sedikit mengusak poni Kyungsoo.

"Iya aku melakukannya. Bahkan orang tuaku berencana akan segera ke rumahmu untuk membicarakan ini. Apa kau sangat bahagia aku membatalkannya?"

"Bukan begitu, Oppa. Aku merasa setidaknya masalah dalam hidupku mulai berkurang." Kyungsoo tersenyum lebar, menampilkan bentuk hati dari kedua belah bibirnya.

"Tapi Oppa…" Kyungsoo seperti baru teringat sesuatu.

"Apa?"

"Bagaimana dengan kakekku? Aku yakin ia tidak akan menerima pembatalan ini begitu saja." Kyungsoo sendu.

"Tenang saja, aku akan meluluhkan hatinya agar mau menerima pembatalan perjodohan ini."

"Bagaimana caranya Oppa?"

"Sama seperti yang ku lakukan pada ayah dan ibuku, yaitu dengan memberitahu bahwa…" Chanyeol tak melanjutakan ucapannya.

"Bahwa..?" Kyungsoo penasaran.

"Bahwa Baekhyun tengah mengandung darah dagingku." Chanyeol menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyumnya.

"YA! Oppa! Bagaimana kau baru memberitahuku sekarang?" Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir sambil mengipas-ngipaskan tangan pada wajahnya yang tidak gerah.

"Aku juga baru mengetahuinya sekitar dua minggu yang lalu." Chanyeol mengucapkannya polos.

.

Sebelum pulang dari area festival, Kyungsoo dan Chanyeol mampir ke kedai es krim yang ada di dalam area tersebut, atas permintaan Chanyeol. Pria yang akan segera jadi ayah tersebut bilang sedang ingin mentraktir Kyungsoo es krim, dan ia juga ingin membawakan Baekhyun oleh-oleh.

Kyungsoo memesan es krim rasa coklat dengan banyak cream. Sedangkan Chanyeol memesan perpaduan rasa mint dan vanilla untuk dirinya sendiri, dan rasa strawberry tanpa gula sebagai oleh-oleh untuk Baekhyun.

Saat pesanan datang, Kyungsoo langsung menikmati es krimnya. Berbeda dengan Chanyeol yang malah diam tak berkutik.

"Oppa, kenapa tak kau makan es krimmu?"

Chanyeol hanya diam, dengan mata yang terbuka lebar, pipinya sedikit menggembung.

"Oppa, kau baik-baik saja kan?"

Chanyeol tidak menjawab, ia malah beranjak dari kursinya dan berlari ke belakang. Kyungsoo yakin Chanyeol pergi ke toilet.

Beberapa menit kemudian Chanyeol kembali dengan wajah yang sedikit pucat.

"Oppa kenapa?"

Chanyeol menggeleng.

"Entahlah Kyung, kepalaku sedikit pening dan aku mual-mual, sepertinya aku masuk angin."

"Hmm.. atau jangan-jangan kau sedang mengalami morning sickness, Oppa?

"Hahaha jangan bercanda Kyung, Baekhyun yang hamil bukan aku, lagi pula ini malam bukan pagi hari."

"Tapi Oppa pada beberapa kejadian, memang sang prialah yang mengalami morning sickness. Dan juga morning sickness tidak hanya terjadi di pagi hari, tapi bisa juga malam atau bahkan sepanjang... Oppa! kau mau kemana lagi?"

Belum selesai Kyungsoo menjelaskan, Chanyeol sudah kembali berlari ke kamar mandi.

.

Beberapa menit kemudian Chanyeol kembali dengan wajah pucat dan tubuh yang tampak lemas.

Chanyeol duduk di kursinya yang ada di hadapan Kyungsoo.

"Oppa, kau baik-baik saja?"

Chanyeol mengangguk pelan.

"Hanya sedikit pening."

"Lebih baik kita pulang, Oppa. Aku mengkhawatirkan kondisimu."

Chanyeol menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kiri.

"Bisa tolong kau singkirkan es krim-es krim ini dari sini Kyung? Aku merasa mual tiap melihat dan mencium baunya." Chanyeol menunjuk es krim-es krim yang ada di hadapannya.

Kyungsoo melakukan apa yang diminta Chanyeol, dengan merelakan juga es krim yang sedang dinikmatinya.

Beberapa menit kemudian, mereka pulang. Dengan Kyungsoo yang membawa mobil dan mengantar Chanyeol ke apartemennya.

.

Empat puluh lima menit perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di basement apartemen Chanyeol.

"Oppa, sudah sampai. Apa kau bisa berjalan sendiri ke apartemenmu? Jika tidak, aku akan minta bantuan penjaga."

"Tenanglah, aku bisa Kyung."

Kemudian keduanya keluar dari mobil.

"Kyung, ayo mampir dulu ke apartemenku. Pasti Baekhyun senang bisa bertemu denganmu."

"Ouh, Baekhyun Unni tinggal bersamamu Oppa?" Kyungsoo antusias.

Chanyeol mengangguk pelan.

"Sejak ku tahu ia sedang mengandung anakku."

.

Akhirnya Kyungsoon mampir ke apartemen Chanyeol. Benar kata pria itu, Baekhyun sangat senang saat tahu Kyungsoo datang berkunjung.

Sekitar 15 menit di apartemen Chanyeol, Kyungsoo pamit pulang. Baekhyun terlihat sangat khawatir saat tahu Kyungsoo akan pulang dengan taksi. Tapi Kyungsoo meyakinkan wanita itu bahwa dia akan baik-baik saja.

Baekhyun mengantar Kyungsoo sampai depan pintu apartemennya. Memeluk Kyungsoo beberapa saat dan menyuruh Kyungsoo agar hati-hati. Mereka berpisah dengan lambaian tangan dan seutas senyum di bibir masing-masing.

Kyungsoo berjalan menjauhi Baekhyun yang masih berdiri di depan pintu apartemennya.

Park Chanyeol orang baik. Byun Baekhyun juga orang baik. Mereka beruntung saling memiliki. Mereka telah ditakdirkan. Semoga Tuhan segera mempertemukan aku dengan Chanyeol-ku sediri di luar sana.

.

Kyungsoo sedang menunggu di depan lift, saat seseorang menyapanya.

"Kyungsoo noona?"

Kyungsoo menoleh ke sampingnya.

"Ouh, Jonginie…"

"Apa kau juga tingga di sini noona?"

"Tiidaak, aaku baru saja mengunjungi… teemaanku. Kau tinggal di sini?" Kyungsoo sedikit gugup.

"Begitulah."

Kyungsoo mengerucutkan bibir dan mengangguk-anggukan kepalanya.

Lift terbuka, dan mereka berdua masuk.

"Kau juga akan ke basement, noona?

Kyungsoo menggeleng.

"Tidak Jonginie, aku tidak membawa mobilku."

"Ouuh… Kalau begitu aku bisa mengantarkanmu pulang."

"Oouh, ti-tidak perlu Jonginie, itu akan merepotkanmu."

"Aku tidak merasa kerepotan. Lagi pula aku juga akan keluar."

"Hmm… apa boleh begitu?" Kyungsoo merasa ini kesempatan bagus.

"Tentu saja noona. Anggap saja sebagai balas budi, karena kau sudah sering membantu saat aku ada kesulitan dengan tugas kuliah." Jongin tersenyum tulus.

"Baiklah, terimakasih sebelumnya Jonginie."

Jongin hanya menganguk dan tersenyum manis.

.

.

.

TO BE CONTINUED…

.


.

A/N : Mana Chansoonya? ITUUU!

Itu Chanbaeksoo! Maaf…saya gak bisa bikin Baeksoo tengkaaar.

Saya pengen everybody love Do Kyungsoo.

.

Semoga masih ada yang minat sama The Theory of Love.

Review kalian sangat di tunggu. Saya selalu baca dengan teliti satu persatu.

.

Jadi menurutmu bakal sama siapa Do Kyungsoo akhirnya?

.

.

.

With Love,

.

Angelsoo

08212016