How are you? I guess you're okay

Day by day, I am drenched with your memories so it's hard

If you will come back some day

There won't be anytears

My second confession

.

.

.

Mark melangkahkan kakinya dengan semangat di jalan trotoar yang tak jauh dari kediamannya. Sepucuk surat dengan amplop berwarna biru muda berada di tangan kanannya juga sebuah boneka beruang besar berada di punggungnya. Mark mendongak, menatap langit yang tidak tertutup awan kemudian tersenyum kecil. Dalam hati Mark bersyukur, mungkin Tuhan memang sangat menyayanginya, hingga ia di beri kemudahan seperti ini. Karena beberapa hari lalu, hujan sering kali turun ketika menjelang sore seperti sekarang.

Mark berhenti berjalan, matanya mengarah pada minimarket di seberang jalan. Bukan pada minimarketnya, namun pada seorang pemuda yang baru saja keluar bersama pemuda lainnya. Mereka adalah Haechan dan Jaemin. Pujaan hati sekaligus temannya.

Ingin memanggil namun rasa ragu menyelimuti hati Mark. Terlebih dengan bawaannya sekarang, kan Mark ingin memberi kejutan pada Haechan, masa iya Mark harus memanggilnya sekarang? Kalau kejutannya gagal bagaimana?

Mark kemudian menunduk, menatap amplop di tangannya dengan senyum tipis. Mark benar-benar berusaha keras untuk usahanya kali ini. Mark tidak bisa tidur beberapa malam ini karena harus membuat isi amplop itu. Mark juga belakangan sering bertemu dengan Taeil, kakak tingkatnya, untuk berlatih menyanyi. Karena Haechan itu suka dinyanyikan sebelum tidur, jadi Mark berusaha sekeras mungkin agar bisa menjadi kekasih ideal untuk Haechan.

Mark terkekeh tak lama setelah melirik boneka berwarna putih di belakangnya. Salahkan kakaknya, Taeyong, yang tidak mengizinkannya untuk menaiki mobil sang kakak. Taeyong bilang, "Jika kau benar-benar mencintainya, maka jadilah lelaki sejati. Jarak dari sini ke rumah Haechan kan tidak jauh, sekalian mengetes kau itu berani malu di depan umum demi cintamu atau tidak." Membuat Mark mau tidak mau memasang senyum tipis dan mengangguk mengerti akan perkataan Taeyong.

Mark lantas melihat ke depan. Dan mata Mark membulat seketika saat matanya bertemu tatap dengan mata Haechan yang berdiri tepat di seberang jalan sana. Mark ingin lari kabur, tapi sayang, begitu melihat lampu lalu lintas Mark harus menahan nafas begitu lampunya berwarna hijau untuk para pejalan kaki. Dan ketika melihat ke seberang, Mark benar-benar ingin kabur sekarang begitu melihat Haechan yang melangkah dengan langkah lebar-lebar menghampirinya.

Mark pun akhirnya menghela nafas pelan dan memaksa senyum lebar ke arah Haechan yang berdiri dengan tepat di hadapannya sekarang.

"Mark hyung? Kau sedang apa di sini?" Haechan menatap bingung pada Mark yang hanya bisa tertawa garing. "Dan boneka itu, untuk siapa? Kau sedang ingin memberi hadiah untuk yang berulang tahun atau ingin menyatakan cinta?"

Mark tersedak ludahnya sendiri begitu Haechan menatapnya dengan sinar mata jahil. 'Habis sudah.' Gumam Mark dalam hati.

"Kau benar, aku ingin menyatakan cinta." Mark mengangguk lemah dan tersenyum lembut pada Haechan. Haechan yang melihat senyum Mark sedikit merona. Dengan cepat, Haechan mengalihkan pandangannya dan memilih menatap sepatu converse putih miliknya di bawah sana.

"Ke siapa? Apa aku mengenalnya hyung?" Haechan bertanya masih dengan kepala menunduk. Entah benar atau tidak, Mark sedikit mendengar ada nada sedih dari cara bertanya Haechan.

Dengan pemikirannya itu, Mark memberanikan dirinya untuk mengacak rambut Haechan dan terkekeh pelan. Haechan mendongak, menatap yang lebih tua dengan pandangan kesal. Dia sudah menata rambutnya tadi, tapi kenapa Mark malah membuatnya berantakan lagi?

Mark mengulurkan amplop yang sedari tadi di pegangnya ke depan wajah Haechan. "Bacalah."

"Huh?" Haechan mengerjapkan matanya dengan bingung, tetapi tangannya tetap terulur untuk meraih amplop berwarna biru muda itu. "Ini apa?"

"Surat." Mark menjawab dengan singkat yang membuat Haechan mendengus kesal. "Aku tahu. Tapi untuk apa?"

"Kau baca saja dulu. Nanti kau akan mengerti." Haechan pun menghembuskan nafasnya pelan. Tangannya membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kertas putih yang terlipat rapi. Dengan pelan, Haechan membuka kertas itu dan membacanya dengan perlahan.

'Hai Haechan-ie. Apa kabarmu? Aku rasa kamu baik-baik saja. Ini terdengar aneh mungkin, tapi aku mohon, baca surat ini sampai selesai karena aku membuatnya semalaman suntuk.

Kau tahu Haechan, sepanjang hari aku selalu memikirkanmu. Aku selalu terjaga sepanjang malam dan juga aku merasa frustasi setiap kali bayangan akan kita dulu kembali hadir dalam pikiranku.

Aku minta maaf karena dulu sempat memutuskanmu, dulu kau tahu? Kita masih sangat labil, belum tahu apa itu sebenarnya cinta. Dan sekarang aku ingin kau tahu, kalau aku benar-benar mencintaimu, Haechan-ie.

Aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku tidak akan membuatmu cemburu lagi, justru merekalah yang akan cemburu melihat kita bersama. Jadi kembalilah padaku, untuk selamanya.

So Lee Haechan, would you be mine, again?

This is my second confession.'

Haechan mendongak, matanya berkaca-kaca ketika melihat Mark yang berdiri di depannya dengan boneka beruang yang sedari tadi di punggung Mark, kini menjadi berhadapan langsung dengan Haechan.

"Eonjerado geudae doraondamyeon nunmul ddawin eobtgetjyo dubeonjjae naui gobaek."

Suara Mark terdengar di belakang boneka beruang itu. Haechan lantas memeluk boneka itu sebelum menaruhnya dengan sembarang di jalan trotoar yang membuat beberapa orang yang melihatnya menggeleng pelan.

"Bukan suatu hari nanti, tapi sekarang, hyung." Haechan kemudian memeluk Mark dengan erat, matanya mengeluarkan air mata hingga membuat dirinya sesegukan. "Aku juga mencintaimu, Mark hyung. Tak peduli jika ini kedua, atau bahkan nanti ada ketiga, keempat atau keberapapun nantinya, hatiku akan tetap untukmu hyung."

Mark membalas pelukan Haechan tak kalah erat. Kepalanya menggeleng menolak pernyataan Haechan. "Tidak akan ada ketiga atau keempat Haechan-ie. Aku tidak mau lagi kehilanganmu, jadi ini adalah pernyataan cinta kedua dan terakhirku."

Haechan mendongak dan menatap Mark dengan wajah memerah lengkap dengan mata yang basah. "Aku mencintaimu, hyung."

Mark tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Haechan. Mencium lembut bibir sang kekasih ditemani cahaya sinar matahari yang perlahan tenggelam.

.

.

.

END

.

.

.

Special for Park RinHyun-Uchiha juga para MarkChan/MarkHyuck Shipper.

A/N

Maaf jika ini hancur, tidak sesuai harapan, tidak sesuai pesanan, tidak sesuai ekspetasi, dan apapun itu. Karena ini bukan Songfic ya, cuma terinspirasi. Jadinggak aku gunakan semua liriknya. Dan kalau MarkChan'nya gimana gitu(? Maaf ya, soalnya aku kan penganut(? Haechan seme. Juga HyuckMin(? Shipper. Maaf.

Ps : Aku buat cepat karena emang lagi ingin buat ff yg manis. Habisnya yg lain pahit semua.

Pss : Yg belum sabar ya, nanti dibuatin kok.

Sampai Jumpa!