Summary: Karena suatu kejadian, Annie harus dimasukkan ke dalam kelas XI-F yang berisi siswa-siswa abnormal. Selain dirinya sendiri, ia juga harus menyelamatkan seorang siswa baru dari ancaman Trio Idiot.
Romance/Humor | Armin Arlert/Annie Leonhardt | Multichapter
T-rated.
The story is mine, but the characters are Isayama Hajime's.
CUPID © Ryuki Ayanami
Chapter 3 — When They Stalk
"Mengapa tidak memilih topik yang mudah? Siklus sel, misalnya."
Ymir berdecak. "Itu sih di buku juga ada. Sudahlah. Ide tentang penelitian sel punca sudah cukup bagus."
"Kau itu hanya membela ide Krista," cibir Mina.
"Dia benar, Ymir," Sasha menimpali. "Kurasa otakku tidak cukup kuat untuk menampung sesuatu sedahsyat sel punca. Bahkan aku tidak tahu apa itu sel punca."
"Sudahlah, Teman-teman," kata Krista. "Kita bisa mencari topik yang lain."
"Carilah sesuatu yang mudah," sahut Mina.
Sasha mendesah. "Tugas ini benar-benar membuatku pusing. Kira-kira, topik apa yang dipilih Armin dan kelompoknya?"
"Aku yakin sesuatu yang lebih dahsyat dari sel punca," kata Mina. "Mungkin kloning manusia atau transplantasi kepala."
"Apa kau tahu sesuatu tentang itu, Mikasa?" tanya Sasha. "Eren satu kelompok dengan Armin, bukan?"
Mikasa mengangguk. "Tapi Eren tidak berkata apapun."
Itu karena dia dan dua kawan idiotnya menyerahkan sepenuhnya tugas itu kepada Armin, batin Annie.
Ia terus berjalan tanpa menanggapi satupun perkataan teman-temannya. Ia terlalu malas untuk berbicara. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah membuka pintu kamarnya dan terjun ke tempat tidurnya yang nyaman. Sebaliknya, ia malah sedang berjalan kaki menuju rumah Sasha untuk mengerjakan tugas Biologi.
Setelah lima belas menit, ia dan teman-temannya tiba di depan sebuah rumah kecil bercat putih. Sasha mempersilakan teman-temannya masuk dan menyarankan mereka untuk mengerjakan tugas di kamarnya yang agak luas.
Seperti yang diharapkan dari seorang fujoshi akut macam Sasha, kamar yang mereka masuki berisi doujinshi dengan berbagai jenis. Yang paling banyak tentu saja yaoi. Annie tidak terlalu terbiasa dengan kebudayaan Jepang, jadi ia bergidik ketika tidak sengaja melihat sampul komik bergambarkan dua pria cantik sedang berpelukan.
Sasha menyajikan sirup dan kue buatan rumah. Keenam gadis itu segera mengerjakan presentasi di laptop milik Sasha. Meskipun sempat terjadi perdebatan tentang topik yang akan dipilih, akhirnya topik tentang penelitian sel punca kembali menjadi pilihan setelah Ymir berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.
Dua jam kemudian, kerangka presentasi telah selesai dibuat. Keenam gadis itu kemudian beristirahat.
"Aku benci sekolah," kata Mina.
"Aku juga," timpal Sasha.
Annie menutup buku Biologi-nya. "Kita baru menyelesaikan kerangka presentasi. Masih ada slide yang harus dikerjakan."
"Sudahlah. Masih ada waktu," Mina mengibas-ibaskan tangannya. "Kita bahas tentang hal lain saja."
"Aku penasaran topik apa yang dipilih kelompok Armin," kata Sasha.
Mina berdecak. "Kenapa kau menanyakan hal itu lagi sih? Jangan-jangan kau suka Armin."
"Tidak, tidak! Asal kau tahu saja, aku ini suka laki-laki."
Mereka berdua tertawa. Annie mengerutkan kening. Ternyata bukan Trio Idiot saja yang meragukan jenis kelamin Armin, si biang gosip ini juga begitu.
"Armin itu laki-laki," kata Annie datar.
Sasha dan Mina berhenti tertawa. Mereka memandangi Annie dengan heran.
"Wah, jangan-jangan kau yang suka Armin!" tunjuk Sasha.
"Bukan begitu—"
"Lalu apa buktinya Armin itu laki-laki?" tanya Mina.
Annie ingin membuka mulutnya, namun tidak jadi. Ia ingin membela tetangganya itu. Tapi, yang namanya pembelaan harus disertai dengan bukti. Lalu ia harus membuktikannya dengan apa? Tidak mungkin ia berkata ia sudah pernah melihat i—i—itulah, pokoknya!
Tentu saja itu tidak disengaja, tambahnya dalam hati. Namun, ia tetap diam karena tidak mau salah berbicara. Sasha dan Mina tertawa makin keras.
"Kudengar Trio Idiot sempat berebutan Armin," kata Mina.
Sasha terlonjak. "Hah?! Apa itu artinya Connie su-suka Armin?" Badan gadis itu melemas.
Wajah Mina menampakkan ekspesi kaget. "Kau suka Connie?"
Sasha mengangguk sedih. "Aku... dikalahkan orang seperti dia."
Tiba-tiba Mikasa turut meratap bersama Sasha.
"Eren..."
Hah? Seriously?
Annie berusaha menahan diri untuk tidak menampar keras-keras pipinya.
"Bukannya Sasha harus senang jika Connie suka Armin?" tanya Krista. "Maksudku, dia adalah seorang fujoshi."
Sasha tergagap. "Ta-ta-tapi..."
"Krista benar," Ymir menyahut. "Kau itu fujoshi yang tidak konsisten."
Sasha meratap bersama manga-manga yaoi koleksinya.
Mina menghela napas. "Kalau begitu, kalian berdua harus cepat-cepat menyatakan cinta pada Eren dan Connie sebelum semuanya terlambat. Mungkin kalian masih punya kesempatan."
"Bagaimana caranya?" tanya Sasha.
"Tenang saja," jawab Mina kalem. "Aku akan menyusun rencana."
"Terima kasih, Mina! Kau adalah sahabatku yang terbaik!" Sasha berjingkat senang.
Mina tersenyum puas. Mikasa menyalaminya dan berterima kasih, sedangkan Krista bertepuk tangan. Ymir juga bertepuk tangan, meskipun tanpa semangat. Hanya Annie yang diam di tempat. Ia terlalu sibuk mengutuki Kepsek Smith yang sudah memasukkannya ke kelas idiot ini.
Kegiatan kelompok itu diakhiri pukul empat sore. Seharusnya mereka membahas penelitian sel punca, namun fokus kelompoknya terdistraksi oleh rencana Mina yang ingin menjodohkan Sasha dan Mikasa dengan gebetan mereka masing-masing. Sebuah misi yang bertujuan untuk mempertemukan cinta suci (baca: cinta buta) antara gadis gila dan laki-laki idiot. Misi itu dinamakannya dengan Cinta Untuk Para Idiot dan Dungu—atau disingkat CUPID.
Annie berjalan menuju halte bis dengan kegondokan yang amat sangat. Seharusnya ia sudah berada di rumah tiga puluh menit yang lalu. Ia naik bis menuju rumahnya. Bis berhenti lima belas menit kemudian. Ia keluar dari bis dan memasuki kompleks perumahan yang agak sepi di Lehnen Street.
Sejak SD, Annie selalu mengambil rute yang sama setiap kali ia pulang sekolah. Ia menunggu bis di halte dekat sekolah, tiba di pemberhentian bis di Lehnen Street, lalu berjalan kaki selama sepuluh menit ke rumahnya. Selalu begitu tiap tahunnya. Ia tidak suka antar-jemput. Ia lebih memilih menyusuri Lehnen Street yang sepi sendirian.
Pernah ia mencoba mengendarai sepeda. Namun, sensasinya tidak sama seperti berjalan kaki. Naik sepeda membuat konsentrasinya terpecah belah. Ia harus membagi fokus antara menjaga keseimbangan, kecepatan, serta mengamati lingkungan sekitar jika ada kendaraan besar lewat. Padahal, bagian favoritnya adalah memandangi sebuah sungai kecil di Lehnen Street yang selalu dilewatinya ketika berangkat dan pulang sekolah.
Meskipun ia sering memandangi sungai itu, ia tidak pernah pergi ke sana sekalipun. Ayahnya melarangnya bermain di tepi sungai. Dan ketika ia sudah besar, ia tidak punya kesempatan untuk duduk di tepian sungai itu karena terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan berlatih judo.
Dulu sekali, ibunya pernah berjanji untuk mengajaknya bermain di tepi sungai jika ia sudah agak besar dan ayahnya tidak terlalu khawatir. Namun, janji itu tidak pernah ditepati hingga ibunya dijemput kematian delapan tahun lalu. Hal itu membuat Annie bertambah enggan untuk pergi ke tepi sungai. Ia sudah cukup puas hanya dengan memandangi kecantikannya dari jauh.
Kali ini pun Annie hanya memandangi sungai kecil itu. Ia menatap sinar matahari yang terpantul di permukaan sungai. Cahayanya terpecah dan terlihat seperti gemerlap lampu kota di malam hari. Ia memandangi sungai itu hingga menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang sedang duduk di tepi sungai.
Annie melebarkan matanya ketika menyadari orang itu adalah Armin. Pemuda itu duduk di sana dengan tenang dan tampak hanyut dalam buku yang sedang dibacanya. Tiba-tiba dia menutup bukunya dan melirik jam tangannya. Dia berdiri dan membalikkan badan, kemudian tersenyum saat menyadari ada seseorang yang dikenalnya tengah berdiri di atas sana.
Armin segera menghampiri Annie dan menyapa gadis itu.
"Selamat sore," sapanya.
"Sore."
"Kau baru pulang dari sekolah?"
"Aku mengerjakan tugas Biologi bersama kelompokku."
Armin mengangguk-angguk. Kedua muda-mudi itu berjalan meninggalkan sungai kecil yang indah itu.
"Aku menemukan beberapa partitur lagu folk milik ayahku," kata Armin. "Sebenarnya aku berencana untuk memberikannya padamu pagi tadi, tapi aku meninggalkan partitur-partitur itu di meja belajar."
Annie menatap pemuda itu. "Kau tahu, aku tidak sungguh-sungguh meminta bantuanmu. Kukira itu hanya basa-basi."
"Ah..." Armin tersenyum gugup. "Begitu, ya."
Tiba-tiba Annie merasa tidak enak.
"Karena kau sudah repot-repot mencarinya, kuterima bantuanmu," kata Annie. "Terima kasih."
Seulas senyum terbit di wajah Armin. "Tidak masalah. Aku akan membawanya besok."
Annie hanya mengangguk.
Malam harinya, Annie menggunakan waktu untuk mengerjakan PR Matematika. Ia menngamati kumpulan rumus yang ditulisnya di buku, lalu menerapkannya ke dalam soal. Satu jam kemudian, PR-nya selesai dan otaknya terasa bebal. Annie bangkit dari kursi dan melakukan peregangan. Inilah cara yang paling efektif untuk menghilangkan kebuntuan dalam otaknya.
Ia melirik jam dinding.
Pukul 8.00.
Ayahnya belum kembali dari gelanggang olahraga di kota, mungkin sibuk mengurusi administrasi atau menyemangati murid-muridnya yang kalah. Atau yang lebih parah—mengantar mereka ke rumah sakit untuk merawat cedera mereka.
Gerakan Annie terhenti. Gadis itu melihat kalender meja dan menghitung. Kurang dari enam bulan lagi, turnamen judo tingkat kota akan diadakan. Ayahnya sempat membujuknya untuk mengikuti turnamen itu. Namun, ia belum memutuskan apakah akan ikut atau tidak.
Masalahnya, mengikuti turnamen judo berarti harus siap mengorbankan banyak waktu. Waktu sekolah, waktu belajar, dan waktu bersantai. Itulah yang membuat Annie ragu untuk mengikuti turnamen itu. Ia tidak tahu apakah pengorbanannya nanti akan berbuah manis atau justru ia akan mendapat hasil yang sama seperti di turnamen nasional.
Annie menghela napas. Ia berjalan ke arah lemari baju dan membukanya. Matanya mencari-cari seragam judo miliknya. Seragam itu tergeletak di dasar lemari. Annie memungutnya dan meringis ketika mencium bau yang terkuar dari seragam itu. Baunya mirip bau kayu yang sudah lapuk. Ia melemparnya keluar dan seragam itu mendarat di lantai. Tiba-tiba, ia melihat sebuah kotak panjang. Annie mengambil kotak itu, menaruhnya di meja belajar, dan membukanya.
Ada sebuah flute di dalamnya.
Ia memandangi flute itu. Sudah hampir lima tahun sejak ia terakhir kali melihatnya. Bahkan ia tidak ingat telah menaruhnya di dasar lemari pakaian.
Annie ingat flute itu adalah flute milik ibunya dan diberikan kepadanya saat ia berulang tahun yang kelima. Ia tidak terlalu tertarik dengan musik, namun ia bersedia belajar bermain flute karena ibunya adalah seorang guru musik.
Ia mengambil flute itu dari dalam kotak dan mencoba memainkan beberapa nada. Bunyinya masih terdengar bagus meski sudah lama tidak dimainkan. Annie kemudian memainkan Kling, Glöcken. Ia sudah lupa sebagian besar nadanya, sehingga permainannya terdengar kurang bagus. Dengan rasa pesimis yang besar, ia meletakkan kembali flute itu ke dalam kotak. Jika lagu sesederhana Kling, Glöcken saja tidak bisa ia mainkan, maka mustahil ia bisa memainkan lagu folk gubahan seorang maestro musik macam ayah Armin yang pernah bermain di opera Berlin.
Mungkin jika ibunya masih ada, ia tidak akan serepot ini dalam menghadapi kelas Musik.
Annie menghela napas. Ia meletakkan kembali flute itu ke dalam kotak.
Dengan langkah berat, ia menyeret kakinya ke meja belajar. Ia jatuh terduduk di kursi. Hal yang terjadi di kelas Musik membuatnya teringat kembali akan ibunya. Ia harus memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan musik.
Annie melempar pandangannya ke luar jendela. Matanya menyipit ketika ia melihat sesosok (atau banyak sosok?) orang berjalan mengendap-endap di jalanan Lehnen Street yang sepi.
Pencuri?
Ia melirik jam dinding. Mustahil ada pencuri yang beraksi pukul delapan malam. Kecuali jika mereka idiot.
Ketika sosok itu berjalan di bawah tiang lampu jalan, Annie dapat melihat siapa mereka yang sebenarnya. Ia memang tidak bisa melihat terlalu jelas dua orang lainnya, tapi satu orang lagi tidak mudah untuk diabaikan. Apalagi jika kepalanya yang nyaris botak memantulkan cahaya lampu jalan dengan sempurna.
Ketiga orang itu kentara sekali sedang mengintai rumah nomor 73.
Annie menghela napas. Ia tidak tahu harus merasa cemas akan suatu tindak kriminal yang mungkin akan terjadi di dekat rumahnya atau merasa prihatin dengan orangtua dari Trio Idiot. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat Jean berjongkok dan Connie naik ke atas pundaknya. Dengan susah payah, Jean berdiri dan berusaha untuk mengangkat sahabatnya. Sedangkan Eren sibuk menyemangati Jean.
Seisi sekolah tahu bahwa keidiotan Trio Idiot memang luar biasa. Mulai dari menyelundupkan komik hentai ke perpustakaan sekolah, menyetel lagu SNK48 lewat speaker di laboratorium bahasa, hingga menuduh seorang laki-laki (yang sudah jelas laki-laki) sebagai seorang perempuan. Namun, tindakan mereka kali ini bukan idiot lagi. Orang Jawa menyebutnya edan.
Mungkin Trio Idiot harus mengganti nama mereka menjadi Trio Edan.
Annie terus memperhatikan tiga orang itu dari jendela kamarnya. Ia memicingkan mata ketika Eren meraih sesuatu dari dalam sakunya. Pemuda berambut coklat itu menyerahkan benda itu kepada Connie. Annie mengernyitkan kening begitu menyadari bahwa benda itu adalah kamera digital.
Ini sudah kelewatan.
Ia bangkit dari kursi dan membongkar peti kecil di sudut kamarnya yang berisi mainan-mainan lama. Tak lama kemudian, ia menemukan sebuah kotak berisi kelereng. Annie mengambilnya dan ia kembali pada posisinya di jendela.
Setelah memastikan bidikannya tepat sasaran, ia mengambil sebutir kelereng dan melemparnya ke kepala Connie yang bersinar diterpa cahaya bulan.
Ttak!
Connie mengaduh dengan keras. Jean bersusah payah mempertahankan keseimbangannya, namun gagal. Kakinya oleng. Eren berusaha menahan tubuh Jean supaya tidak roboh, tapi dia justru kerubuhan dua temannya. Mereka berguling-guling di tepi jalan karena kesakitan.
Sementara itu, Annie tersenyum evil di kamarnya. Ia melirik ke arah rumah Arlert, berharap Armin atau kakeknya menyadari suara gaduh di dekat rumah mereka dan menangkap basah aksi Trio Idiot. Tiba-tiba, salah satu jendela di lantai dua terbuka dan muncullah Armin.
Waktu yang sangat pas, batin Annie.
Armin memandangi sekitarnya seolah-olah sedang mencari sumber suara gaduh yang didengarnya. Matanya tiba-tiba menangkap sosok Annie di jendela seberang. Pemuda itu tersenyum dan melambaikan tangan.
Dari sudut matanya, Annie dapat melihat Eren meraih kameranya dan mengarahkannya ke jendela Armin, lalu bergantian ke jendela kamarnya.
Annie langsung panik.
Jika Trio Idiot merekam ini, maka bisa dipastikan besok video itu akan jatuh ke tangan Mina dan Sasha, biang gosip kelas F. Dan jika si biang gosip melihat video itu, Annie berani bersumpah trending topic di sekolah akan berganti dari #ReplaceMrRivaille menjadi #ArminAnnieDating.
Annie segera meninggalkan kamarnya dan turun ke bawah dengan kecepatan tinggi. Ia membuka pintu depan dan melewati halaman depan rumahnya yang sempit hanya dalam waktu satu detik. Bahkan ia tidak usah repot-repot membuka gerbang. Ia menempatkan kaki kanannya di sela-sela gerbang. Dengan kakinya itu ia mengangkat tubuhnya dan memanjat gerbang setinggi dua meter itu dengan cepat. Annie langsung melompat turun.
Hap.
Ia mendarat dengan sempurna. Annie menegakkan tubuhnya dan mencari-cari keberadaan Trio Idiot, namun mereka tidak ada. Kemungkinan mereka langsung kabur begitu menyadari tanda bahaya.
Annie mengepalkan kedua tangannya. Ia akan mengurus mereka besok.
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.
"Kau baik-baik saja?" Armin menghampirinya dengan napas tersengal-sengal. "Apa yang terjadi? Aku kaget ketika kau menghilang dari jendela setelah kusapa. Lalu kulihat kau memanjat pagar itu dan melompat."
Annie menghela napas. "Tidak ada apa-apa."
"Apa ada pencuri?" tanya Armin. "A-aku sempat mendengar suara gaduh sebelum aku membuka jendela."
Mereka bukan pencuri, batin Annie. Mereka adalah sekumpulan orang gila. Dan mereka memegang video yang dapat menghancurkan hidupku.
"Besok ada tugas Matematika, bukan?"
"Ya."
Annie mengangguk-angguk.
Sebagaimana kebiasaan siswa malas yang begitu abai akan sekolah, Trio Idiot jarang sekali mengerjakan tugas dari guru. Annie yakin seribu persen mereka akan datang ke sekolah pagi-pagi sekali untuk meminjam PR milik Mikasa dan menyalinnya bersama-sama. Sebelum mereka bisa menorehkan tinta di buku PR mereka, ia akan menghajar mereka bertiga dan merebut video itu.
To Be Continued
A/N: Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2016! /niup terompet/
Semoga tahun 2016 menjadi tahun yang baik bagi kita semua. Dan semoga semangat menulis saya tidak luntur sehingga saya bisa terus melanjutkan CUPID. XD /digebuk readers/
Terima kasih untuk yang udah baca, baik good readers maupun siders. Ini dia balasan untuk repiu yang kemarin:
BlackAzure29: Makasih udah baca! Ini dia chapter yang baru, semoga suka.
Aray Pangestu: di sini karakter Armin memang belum keliatan. Akan saya gali lebih dalam di chapter 4, jadi tunggu ya XD. Makasih udah komen!
Akiko Han: entah hidupnya Annie itu barokah atau kutukan /dicincang Annie/ Makasih udah baca!
