Heart Virus

By : Annchan602

Naruto By Masashi Kishimoto (bukan punya saya yaa)

Hahhh, update di bulan puasa? -_-#!%?

Still be strong #Yeay! Enjoy it ;D

But guys, before reading this fic, aye mau ngebales riview dari minna-san semua nih... sorry dori strawberry yee riview yang kemarin2 baru di bales sekarang (

: hihihi, kalau sekarang kayanya udah tau yaa?

Azizaanr : udah tau kaan sekarang. Kamu sasusaku lovers ya? Hihihi nanti deh kapan2 aku bikin fic dg pairing sasusaku ;D

nelsonthen52 : arigatou gozaimatsu, thank's a lot, terimakasih banyak #nunduk2

kalo ada kesalahan kasih tau aja yaaaa ;D #pastinya ada, -_-!

Manda Vvidenarint : enni nih.. aye lanjutin ;D thank u yee, jangan bosen riview lagi :*

yuu-san : haaah? Kamu bilang fic ini seru? Hiks.. #Nangis darah terharu

terimakasih, terimakasih.. walaupun seru nya baru kayak nya yaaa, hehehe

Lmlsn : nih nih udah.. riview lagi yaaaa hihihii mmmmuachhh :*

dewazz : Sasori kakak ganteng nya sakura :D ahhh... kalo sekarang kayanya udah tau deh dewazz yang rambut merah itu siapa. Hehehe

Mizuira Kumiko : hahaha iya iya beruang pencium yaa? #nelen ludah. Makasih yaa riview nyaaa.

Moody A : nih aku udah updated. Terimakasih riview nyaa ;D

Fukudafatima : sip, arigatou ne (

Flashback

"Bisakah kau hentikan kencan buta ini bu?"

"Yah, aku rasa jawaban pertanyaan mu itu sesuai dengan situasi saat ini, Gaara-kun,"

"Apa maksud ibu?" laki-laki yang di panggil Gaara tadi menatap datar sang ibu yang kini tengah tersenyum jenaka.

"Ibu pikir anak ibu ini pintar, wah wah... sepertinya ibu harus memeriksa semua nilai-nilai mu sewaktu di sekolah yaa, jangan-jangan kau memalsukannya..." sang ibu menatap anak nya horror.

"Ibu, aku sedang tidak ingin bercanda," Gaara memijit pelipis nya pelan, merasa kualahan menghadapi ibunda tercinta. "Jawablah perntanyaan ku bu,"

"Ya... ya...ya... baiklaaah. Memangnya sejak kapan sih kau mau bercanda, bicara saja susah." Ibu Gaara mengibaskan rambutnya kebelakang. Membenarkan poninya yang sebenarnya tidak berantakan. Gaara yang melihat kelakuan ibunya memejamkan matanya erat. Menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersabar menghadapi sang ibu. 'Menyebalkan'.

"Sebenarnya saat ini Gaara-kun, kaulah yang meminta ibu membuatkan kencan buta ini untuk mu."

"Apa?" Gaara menaikkan alisnya.

"Lihat keadaaan mu saat ini! tidak punya pacar, tidak ada kenalan perempuan sama sekali, usia sudah masuk 23 tahun, di bandingkan itu-" sang ibu mendekati anak manis nya yang sedang duduk, menyentuh tangannya pelan.

"Ayah dan Ibu mu ini tidak selamanya muda. Lihatlah keriput di wajah ibu mu ini!" ibu Gaara menunjuk kedua sisi pipinya, dan sekitar kantung matanya yang telah mengeriput.

"Setidaknya kami ingin melihat putra terakhir kami memiliki pendamping hidup sebelum nyawa kami di cabut oleh Yang Maha Kuasa. Melihat sosialisasi mu yang benar-benar jempol kebawah itu membuat kami resah. Terpaksa ibu harus ambil tindakan."

Gaara terdiam memikirkan kata-kata ibunya. Biar bagaimanapun orang tua Gaara nya hanya ingin melihat ia bahagia bersama dengan pasangan hidupnya sebelum mereka meninggalkan sang anak. Memikirkan bahwa kedua orangtuanya suatu saat nanti pasti akan meninggalkannya membuat Laki-laki berambut merah itu sedikit melunak pada ibunya. Ia merebahkan dirinya diatas sofa dan menyenderkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu.

"Aku mengerti bu, tidak usah adakan kencan lagi,"

"Heleh, bicara apa kau ini? Apa kau bisa bawakan gadis pada orang tua mu ini untuk kau nikahi? Kalau bisa melakukannya sendiri, ibu tidak akan mengatur kencan untuk mu."

"Aku coba," Jawab Gaara datar. Semakin mencari posisi yang nyaman diatas paha sang ibu. Tangannya yang kosong menarik jemari lentik ibunya keatas kepalanya. "Hmm... elus yang di sebelah sini bu,"

Ibunya terkekeh kecil melihat kelakuan anaknya yang sudah beranjak dewasa ini.

"Baiklah, Gaara-kun. Ibu beri waktu sampai satu tahun untuk mu mencari calon istri. Tapi, berhubung hari ini ibu sudah merencanakan kencanmu dengan seorang gadis, untuk terakhir kalinya kau ikuti kencan itu yaa. Ibu tidak enak kalu harus membatalkannya.

"Hn," Gaara menjawab dengan malas-malasan.

"Jangan beri jawaban seperti itu pada ibu mu, kau ini!" Ibu Gaara mengacak-acak rambut anak nya gemas.

"Ck, hentikan bu!" Gaara bangkit dari pangkuan ibunya, sedikit merapihkan rambut merah nya yang berantakan.

"Aku berangkat. Setelah ini, jangan ada lagi kencan buta untukku."

"Bla bla bla bla~ jangan ada lagi kencan buta untukku," Sang ibu menirukan perkataan anaknya jengkel, "Sebaiknya kau segera bawakan seorang gadis ke rumah ini, sebelum aku mempromosikan mu ke seluruh wanita konoha. Heh, Sabaku no Gaara, kau dengar perkataan ku tidaaak?"

"Hn," Gaara menjawab malas perkataan ibu nya sambil lalu.

'Konyol' pikir Gaara.

Butuh waktu 25 menit untuk sampai ke sebuah cafe klasik di kawasan konoha yang lumayan tenang. Tidak ada pusat perbelanjaan ataupun bioskop, hanya ada beberapa restoran, cafe, dan beberapa kedai makanan di sekitar pantai. Meskipun tidak ada hiburan sejenis mall, namun kawasan tersebut memiliki hiburan alam seperti pantai, arena climbing, dan sebuh track bersepada yang sangat luas bagi para pecintanya.

Gaara tiba disana dengan mood yang sangat tidak bagus. Meskipun begitu, suasana hatinya saat ini tidak dapat menutupi keindahan jasmani yang diperlihatkannya. Kemeja biru muda yang dilapisi suit hitam diluarnya melekat sangat pas ditubuh Gaara yang tinggi atletis. Sepatu hitam nya membentur pelan lantai cafe, menimbulkan suara ketukan dan kesan santai di setiap langkahnya. Para wanita butuh waktu tiga hingga lima detik untuk mengalihkan pandangannya saat menatap wajah datar Gaara.

'Belum datang?' pikirnya.

Entah ia merasa kesal karena keterlambatan 'teman kencan nya' itu atau dia merasa lega karena bisa menghindar dari kencan sepihaknya saat ini walau hanya sejenak? Gaara melirik jam tangan silver nya dengan malas. Jarum jam di tangannya menunnjukkan pukul 07.25. Ia memang sengaja meminta waktu kencannnya di percepat, dari awal Gaara berniat tidak akan lama menghabiskan waktunya di cafe tersebut dan langsung berangkat kerja. Lagi pula, mana ada orang yang berkencan sepagi ini?

Dari tempatnya duduk saat ini, Gaara dapat menangkap sosok perempuan berkacamata yang baru saja kelur dari mobil hitam miliknya. Perempuan itu memakai long dress lima belas sentimeter diatas lutut berwarna emas yang sangat ketat di tubuhnya, membuat Gaara berpikir bahwa perempuan itu sangatlah aneh.

Saat perempuan itu keluar, seseorang yang Gaara perkirakan adalah supir perempuan itu membukakan pintu untuk nya lalu dengan sigap berjongkok dan mengelap sepatu high heels perempuan tersebut, membuat Gaara semakin menaikkan alis nya tinggi-tinggi. Belum selesai dengan keanehan itu, perempuan aneh tadi tidak sengaja menabrak seorang pegawai cafe hingga pegawai itu terjatuh. Bukannya meminta maaf perempuan itu malah marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak enak di dengar. Gaara melihat sekeliling. Tidak ada perempuan sama sekali disana.

'Apa dia teman kencan ku?' pikirnya.

Radar milik Gaara segera menangkap masalah besar yang akan ia dapat jika memang perempuan itu adalah teman kencannya. Tanpa basa-basi lagi ia beranjak dari meja cafe dan setengah panik -yang tidak di tunjukkan- berusaha secepat mungkin keluar dari sana. Persetan dengan ibunya yang akan memarahi nya habis-habisan. Ia tidak peduli.

"Ah, maaf tuan Gaara!"

Gaara segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah meja kasir, dimana seorang perempuan sedang menatapnya.

"Benar kan anda tuan Gaara?" perempuan itu kembali bertanya yang hanya di jawab anggukan oleh Gaara.

"Tuan Gaara, aku telah di hubungi oleh ibu anda untuk memperhatikan kencan anda hari ini dengan nona Karin."

"Karin?" "Ya tuan, nona Karin. Apakah ada yang membuat anda tidak nyaman disini tuan? Kenapa anda tergsa-gesa seperti ingin keluar dari si-"

"Ya, aku ada urusan. Tolong batalkan kencan ini ya." Gaara benar-benar berlari meninggalkan cafe itu menuju tempat parkir. Sekarang ia benar-benar yakin bahwa ibunya akan mencekik nya setelah kabur dari kencan ini.

Bahu kanan Gaara berbenturan pelan dengan Karin saat ia keluar.

"Tu-Tuan! Tuan Gaara, tapi sebentar lagi nona Karin akan da-"

"Siapa kau menyebut-nyebut nama ku?" Karin bertanya dengan heran.

"Eh? Itu, nona tuan Gaara bilang kencan nya di batalkan. Ada urusan mendadak,"

"Gaara? Gaara ketua komite lembaga pendidikan konoha? Teman kencan ku?" Karin memasang wajah bloon nya. Mulut nya sedikit terbuka mendengar kejutan kecil dari gadis penjaga kasir tersebut.

"Iya nona, aku sudah beri tahu kalau anda akan segere datang tapi-"

"Hentikan kata-kata mu! Yang mana yang namanya Gaara itu?" Karin terlihat kebingungan. Dia bahkan belum melihat Gaara sama sekali.

"Beliau berambut merah, tadi ketika beliau keluar pas sekali anda langsung masuk kesini." Gadis itu menjelaskan.

'Dia keluar aku masuk ya?' pikir Karin. Tiba-tiba ia membelalakkan mata dan segera keluar cafe.

Ketika Karin melihat Gaara

"Dasar setan rambut merah! Apa-apaan kau mengerjai ku seperti ini hah? Aku akan mencekik mu Gaara!" Karin berbisik pelan.

Di samping itu, Gaara yang telah memanaskan mobil nya segera bergerak keluar area parkir. Sementara Karin yang harga dirinya setinggi langit itu tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh Gaara. Ia segera meminta -memerintah- supir kesayangan nya untuk mengejar nya. Dalam sekejap jalanan yang tidak terlalu banyak pengunjung itu beralih fungsi menjadi track balap mobil antara Karin dan Gaara. Karin yang duduk di kursi depan sebelah supir nya mengeluarkan tubuh dari jendela hingga batas pinggang, tangan kanan nya perpegangan erat pada atap mobil bagian dalam sementara tangan kiri nya melambai-lambai ke atas.

"Hooooooooi kau, Sabaku No Gaara brengsek! Beraninya kau perlakukan aku seperti ini. Dasar lelaki bajingan! Kau pikir aku sudi berkencan dengan mu hah? Enyahlah kau ke neraka Baka!"

Karin menumpahkan seluruh sumpah serapahnya. Sedikit membuat pengunjung yang kebetulan ada disana terkesiap melihat mulut nya yang terbuka sangat lebar ketika berteriak kesetanan. Sedangkan pemuda yang di teriaki nya itu hanya bisa meringis. Sepertinya hari ini akan terasa panjang bagi Gaara.

"Gaara bajingan! Berhenti kau, pengecut!"

"Dia perempuan gila!" Gaara berdecak pelan. Ia berusaha mengambil handphone dengan tangan kiri nya, menghubungi seseorang.

"Hn, Kankurou, temui aku di pintu masuk komplek rumah kita. Bawa sesuatu untuk aku menyamar. Hn, bawakan apa saja untukku asal bisa menyembunyikan diri ku. Sebentar lagi aku sampai. Hn. kita bertemu disana," Klik.

Gaara melempar asal handphone genggam nya. Ia melirik kaca spion yang memperlihatkan mobil hitam Karin. Gaara menancapkan gas nya lebih dalam, berhasil memberikan jarak yang cukup jauh d mobil Karin namun masih bisa terkejar.

Saat memasuki sebuah gapura, Gaara menginjak rem dengan kuat sehingga terdengar suara decitan mobil yang beradu dengan jalan aspal. Gapura itu merupakan salah satu tanda bahwa ia telah masuk area komplek rumah nya Tanpa basa-basi Gaara segera melepaskan sabuk pengaman nya dan keluar dari mobil tanpa susah payah menutup nya kembali.

"Kankuro!"

Kankuro yang sudah menunggu dari tadi dengan sigap melemparkan sebuah kantung plastik hitam besar pada saudaranya itu.

"Oh, demi Tuhan Gaara, kau berhutang banyak pada ku." Kankuro dengan cekatan memasuki mobil Gaara, menggantikan posisi pria itu. Sementara Gaara dengan sangat cepat mengobrak-abrik isi dari kantung plastik yang di lemparkan Kankuro tadi.

Tiba-tiba wajah nya yang stoic agak sedikit kaget setelah melihat isi dari katung plastik tersebut. Keringat bercucuran melewati dahi nya.

"Kostum badut?"

"Sudah cepat jangan banyak bicara!" Kankuro sudah bisa menebak reaksi Gaara yang enggan memakai kostum tersebut. Ia melongokkan kepalanya dari jendela mobil.

"Aku tidak dapat menemukan apa pun yang bisa menyembunyikan diri mu, aku juga harus membayar mahal untuk mendapatkan kostum itu. Lebih baik kau pakai atau ibu akan membunuh mu!" Kankuro membuat gerakan seperti menyayat leher nya dengan menggunakan tangan kanan nya.

"Aku pergi, ini-"

Gaara menangkap handphone milik nya yang di lempar oleh Kankuro. Dengan cepat mobil pribadi milik nya itu melesat menuju jalan raya. Mengelabui Karin yang sedang mengejar mobil itu.

'Timing yang pas' Gaara bernafas lega. Rencana nya berhasil.

Ia memakai kostum badut itu dengan segera dan mengirimkan sebuah pesan singkat agar pengawal rumah Gaara segera membawakan nya mobil pengganti.

Karena Gaara enggan mengambil resiko jikalau Karin akan kembali lagi setelah mengetahui siasat nya, akhirnya dia memutuskan untuk masuk lebih dalam ke kompleks rumah nya. Lebih baik berjaga-jaga, toh seandainya ia bertemu dengan ibu nya pun kostum beruang yang ia pakai cukup untuk mengelabui ibunya.

Gaara's POV

Aku memasuki komplek rumah ku. Sangat sepi. Kebanyakan dari pemilik rumah ini adalah investor, mereka membeli rumah di komplek ini hanya untuk investasi. Tidak heran jika rumah-rumah di sini tidak berpenghuni.

Ini pertama kalinya aku berjalan kaki, tentu saja aku selalu menggunakan kendaraan. Lumayan juga berjalan-jalan di sekitar sini.

Saat aku sedang asik melihat rumah-rumah yang berjajar tinggi, aku menangkap seseorang di sebuah rumah. Seorang gadis, duduk di bangku halaman nya. Anak sekolah, dia masih SMA, kelihatan dari seragam nya.

Aku memperhatikannya terus sampai mobil ku tiba-tiba datang dan melewati ku dengan cepat. tidak heran, mereka tidak tahu kalau yang memakai kostum beruang ini aku. Lebih baik aku segera mengejar mereka.

Namun, entah mengapa aku membalikkan tubuh ku dan menatap nya lagi. Sepertinya tidak apa-apa kalau memberikannya sedikit kenangan.

Aku menghampiri gadis SMA itu, seperti nya dia sudah melihat ku.

"Hai badut, baaduuuuuuut! Kok ada badut di sini sih? Memangnya ada yang abis ulang tahun?" cih, aku tertawa dalam hati. Riang sekali gadis ini.

Dia berjalan menghampiri ku sampai depan pagar. Aku juga tidak sadar kalau sudah berada di depan pagar rumah nya.

"Aku mau foto bareng dong, hihi. Jarang-jarang nih minta foto. Aku tidak terlalu suka badut lho,"

Gadis itu tersenyum lebar.

Aku terdiam melihat senyum nya.

Aku segera membuka kostum kepala ku, menarik leher nya dan

"Ehhh! Apa apaan ini. Heh! Kak Sasor- hmpph..hhmph!"

Aku mencium nya. Rasanya lumayan. Aku memainkan lidah ku, merasakn lidah nya yang enggan bergerak. Kalau tidak ingat dengan tujuan ku, mungkin aku akan berpindah ke leher nya. Aku melepaskan ciuman ku. Gadis itu sibuk mengambil nafas. Dada nya turun naik tidak karuan

"Badut SIALAN!" dia berteriak marah.

"Aku pasti akan mendapatkannya kembali. Sampai jumpa."

Aku tidak sempat melihat wajah nya lagi, buru-buru menghampiri pengawal ku yang seperti nya sedang mencoba mencari ku.

Normal Pov

End of Flashback

'Halo, Sakura, jemput aku yaa hari ini. Kita pergi bimbel bersama!'

"Hai, tunggu aku ya, aku sedang siap-siap."

Sakura memasukkan buku-buku nya kedalam tas. Bahu kanan nya menghimpit handphone merah jambu kesayangan nya.

"Eh Tenten, berapa uang yang kau berikan pada badut itu?"

'Ah? Uang yang mana?'

"Uang yang tiga hari lalu kau berikan pada badut beruang, saat kita ke festival itu lho.."

'Ohh... itu, memang nya kenapa?'

"Aku mau menggantinya. Itu kan misi ku, tapi kau malah ikut repot."

Sakura menuruni tangga, tangan kanannya mengambil alih handphone yang sebelumnya disematkan ke bahu.

'Kau terlalu berlebihan Sakura. Santai saja, kau bahkan sering mentraktir ku.'

"Baiklah, terserah kau saja Tenten. Sepertinya aku agak sedikit telat, yaaa kau tahu motor itu rusak karena kau juga. Ya ya ya, sampai jumpa Tenten."

Sakura memasukkan handphone nya ke dalam tas. Ia segera keluar menuju halaman depan untuk pamit pada ibu nya. Saat Sakura membuka pintu rumah nya, ia melihat sang ibu sedang duduk santai di halaman sambil minum teh hangat. Di depan sang ibu duduk seorang wanita cantik berambut cokelat. Seperti nya tamu yang di undang ibu nya.

"Ibu! Aku berangkat yaa. Oh iya, selamat siang bibi," Sakura membungkukan badan, memberi salam pada tamu ibu nya.

"Oh, hahaha selamat siang. Manis sekali anak mu, Mebuki."

"Tentu, Sakura itu anak yang sangat manis. Yah... setidak nya sebelum kau ketahui sifat buruk nya." Mebuki tersenyum jahil. Sekali-kali lumayan juga meledek anak nya.

"Ibu," Sakura mengembungkan pipinya. Sedetik kemudian gadis itu mendekati ibu nya dan meletakkan tangan nya pada kedua sisi telinga sang ibu, membisikkan sesuatu.

"Ibu, aku minta uang. Motor ku sedang rusak bu, ehehehe"

"Apa kau bilang?" Mebuki melotot melihat anak nya.

"Eh, itu. Ehehehe," Sakura memainkan kedua telunjuk nya keatas dan kebawah.

"Oh astaga Sakuraaa!" Mebuki meletakkan cangkir teh nya ke atas meja lalu menghadap sepenuhnya pada anak gadis nya itu.

"Kenapa motor mu bisa rusak Sakura? Lalu untuk apa kau minta uang?"

"Ibu, aku kan tidak sengaja. Hari ini aku ada bimbel untuk persiapa ujian akhir. Aku sudah janji pada Tenten akan menjemput nya. Makanya aku butuh uang untuk naik taxi, biar tidak telat. Boleh ya bu? Yaaa?" Sakura melihat Ibu nya dengan sangat memelas. Kedua tangannya di lipat kedepan. Memohon agar ibu nya yang cantik itu mau memberi nya uang.

"Eh eh eh... enak sekali habis merusak motor langsung naik taxi. Tidak tidak tidak, Berjalan kaki lah ke sekolah mu dan betulkan sendiri motor mu! Kau harus bertanggung jawab Sakura, ibu tidak pernah mengajarkan mu untuk menjadi anak yang manja."

Mebuki menarik nafas dalam dan kembali menyesap teh nya. Seseorang yang memperhatikan mereka dari tadi terkekeh pelan. Ia mengeluarkan handphone genggam nya dan menelepon seseorang.

"Ya, Gaara-kun. Bantu ibu ya, berhenti di depan rumah no 75. Rumah yang paling dekat dengan pintu masuk komplek. Ibu ingin minta tolong sesuatu. Ya ibu tunggu yaa." Ia menutup telpon nya.

"Nah, Mebuki-"

Mebuki menoleh ke sumber suara.

"Anak ku sebentar lagi kesini. Biarkan saja Sakura-chan menumpang ke mobil nya,"

Sahabat Mebuki itu tersenyum, tangan kanan nya menggenggam handphone dengan erat. Mebuki pun berganti menoleh ke arah Sakura.

"Haaah.. ibu heran dengan mu, sekali-kali lakukanlah hal dengan lembut! Jangan seperti anak laki-laki,"

"I-iya bu, maaf." Sakura menunduk dalam. Takut melihat ibu nya.

TIN TIN TIN!

Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar nyaring sampai halaman rumah Sakura. Tiga orang perempuan yang sedari tadi terlibat percakapan itu saling menatap, bertanya dalam diam.

"Mungkin itu anak ku. Ayo kita lihat" mereka pun beranjak keluar halaman setelah Sakura membuka pagar rumah setinggi dada nya.

"Ah benar! Mebuki, itu anak ku." Perempuan yang memanggil Mebuki itu menunjuk ke arah pintu mobil yang sedang terbuka, memperlihatkan sosok tinggi tegap dengan rambut merah. Orang itu menghampiri mereka bertiga.

"Ada apa bu?"

Kedua ibu rumah tangga itu tersenyum melihat sosok yang baru saja turun dari mobil, sedangkan Sakura? Seperti nya sudah bisa di tebak.

"Ra-rambut merah..." jemari lentik Sakura menutup mulut nya yang sedang membulat.

"Sakura,"

"Eh, iya?"

"Sakura-chan ini Gaara-kun, Gaara-kun ini Sakura-chan. Nah, karena motor nya Sakura sedang rusak, tolong antarkan dia ke rumah temannya ya, Gaara-kun." Ibu Gaara tersenyum manis - mematikan - pada putra bungsu nya yang hanya di jawab dengan anggukan. Tidak baik untuk menolak permintaan ibunya, mengingat ibu nya itu masih marah karena insiden kabur Gaara dari kencan buta.

'Oh... lutut ku lemaaaas' pikir sakura.

"Baiklah, aku berangkat bu, bibi," Gaara membungkuk sopan pada kedua wanita itu, sementara Sakura masih berdiri mematung. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

"Ayo Sakura, katanya mau menjemput Tenten?" Mebuki menghentikan lamunan Sakura.

"Iya bu, aku berangkat dulu yaa. Bibi, aku berangkaaat." Setelah Sakura memberikan salam, gadis itu segera membuka pintu depan mobil, duduk disamping Gaara. Perempuan bersurai pink itu menelan ludah. Ia merasa bukan hanya lutut nya saja yang melemas, namun seluruh tubuh nya juga sudah ikut mati rasa.

Mobil yang mereka kendarai sudah mulai berjalan. Seperti yang Sakura duga, suasana perjalanan mereka benar-benar hening. Sakura tidak berani memulai pembicaraan, sedangkan Gaara bukan tipe yang memulai pembicaraan. Hingga saat tiba di depan rumah Tenten pun tidak ada percakapan yang keluar di antara mereka.

Sakura menghela nafas pelan. Ia harus berani untuk membuka suara, setidaknya hanya untuk berterimakasih.

"Hmm, Tuan Gaara terimakasih karena sudah mengantarku," Sakura menunduk sopan.

"Hn," jawab Gaara.

'Hn? Hn apa maksud nya?' Sakura memiringkan kepalanya ke kiri sambil menatap Gaara. Saat sadar dengan apa yang ia lakukan gadis itu pun buru-buru keluar mobil dan menghampiri Tenten di rumah.

"Tenteeeeeeen!"

"Iya iya aku dengar. Tidak usah pakai teriak berapa sih?" Tenten terlihat kesal, mengorek-ngorek telinganya.

"Aduh duuuh, Tenten. Rambut merah- aku tadi- rumah- teman ibu," Tenten memutar kedua matanya dengan malas.

"Bicara itu jangan belepotan. Kau lihat si rambut merah?"

Sakura tersenyum senang dang mengangkat dua jempol nya.

"Seratus!"

"Iyalah, aku kan hebat," Tenten menaikkan kerah baju nya sebelah, percaya diri.

"Astaga Tenteeeen, tubuhku terasa mati rasa. Ibu ku punya teman, tadi pagi mereka minum teh dirumah ku. Si rambut merah itu, dia anak bibi yang tadi. Aku kesini di antar oleh nya." Jelas Sakura dengan susah payah. Seperti berbusa saja mulut nya.

"Lalu, dia orang nya bukan?"

"Aku tidak tahu,"

"Lho, kok tidak tahu?"

"Aku belum bertanya, aku takut." Sakura menundukkan wajah nya lemas. Menyesal juga karena tadi tidak bertanya.

"Ashhh, kau ini. Yasudah lah ayo kita ke sekolah."

Gadis berambut cepol itu menarik lengan Sakura tanpa rasa kasihan. Mereka berceloteh panjang hingga Tenten menghentikan langkahnya dan membuat orang yang ditarik nya juga ikut berhenti.

"Rambut merah," Tenten berkata sangat pelan.

"Hah, apa?" Sakura terkejut ketika melihat arah pandangan Tenten. Saat ini, beberapa meter didepan mereka, seorang pria berambut merah sedang duduk diatas kap mobil hitamnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, pandangannya datar tidak berekspresi.

"I-itu yang kau bicarakan tadi heh, Sakura?"

Sakura menelan ludah nya berat. "I-iya,"

"Wah, seram juga ya," Tenten bergidik ngeri. Namun sejurus kemudian gadis itu kembali menarik Sakura dengan semangat dan menghampiri Gaara.

"Selamat siang tuan," Tenten membungkuk menyapa dengan hormat. Yang dipanggil tuan hanya diam tidak bicara.

"Tuan menunggu Sakura ya?"

Sakura merutuki temannya dalam hati. Kenapa temannya itu tidak bisa menjaga image sama sekali sih?

"Boleh kami masuk?" kali ini Sakura tidak bisa diam. Ia menginjak kaki Tenten dengan keras.

"Awww... isshhh, apa-apaan sih kau ini?" Tenten melotot ke arah Sakura. Bola mata nya serasa akan meloncat keluar.

"Hehehehe, maaf." Sakura membuat tanda peace. 'Siapa suruh tidak bisa diam?' pikirnya.

"Masuklah, aku antar."

Dan kedua gadis itu pun saling berpandangan heran.

"Sepertinya dia benar-benar menunggu mu Sakura."

To be contiuned...

Terimakasih banyak yang telah meriview ataupun membaca fic saya. Saya ngerasa alur cerita ini agak lumayan lambat. Juga, yang minta lemon maaf yaa belum bisa masukin. Wkwkwkwk mungkin next chapter. Banyak nya deadline yang mengharus kan untuk menulis banyak cerpen membuat saya agak sedikit terkena penyakit writer's block. Saya harus gunta ganti tulisan supaya gak bosen nulis.

At least, saya udah update. Saya usahain biar cepet update lagi deh.. arigatou minna-san #bungkuk-bungkuk gaje