Selamat Datang

Fanfic SNK


Disclaimer : SNK milik Isayama Hajime. Cover image milik yang buat.

Warning : FLUFF!

Balasan Review :

Kim Arlein 17 = Eeehhh... Maaf ya, jadinya lebih sedikit dari chapter sebelumnya. Writer block dan sekolah nggak bisa kompromi nih. -_-a

Rivaille Yuki Gasai 2 = Bisa jadi, baca chapter ini! Iya, saya masih sekolah. Masih polos dan unyu-unyu. :3 Plis, jangan muntah.

AprilianyArdeta = Hmmm... apa ya? :v

Myouki Kuroki = Apakah Anda yakin? Coba diendus lagi, siapa tahu baunya berubah. :v Trims kritiknya!

Manusia = Kepo! :v Udah lanjut!

DarkWings88 = Penasaran? Silakan baca lanjutannya!

L.V neko = Makasih! Semoga nilai saya bagus... Tapi saya ragu.


Day 2 Part 2

Levi berjalan dengan langkah yang agak cepat. Tetesan kopi hitam berjatuhan dari ujung kemejanya yang masih belum kering total. Wajahnya terlihat tegang. Rahangnya mengeras, makin menegaskan betapa tegangnya ia saat ini. Dari balik kacamata hitam mahalnya, bola mata biru kelabu sang pengusaha beken terus-terusan melirik ke arah pemuda cantik berkimono yang sedang berusaha menyamai langkahnya. Ekspresi wajahnya terlihat tenang, tetapi rasa bersalah masih sangat kentara tampak di kedua bola mata heterokromnya.

Pengusaha muda itu kembali menghadap jalan di depannya dengan alis yang bertautan. Ia merasa tak tenang melihat wajah Eren yang penuh rasa bersalah seperti itu. Yang ia inginkan hanyalah agar ia bisa kembali tersenyum lagi, makanya ia mengajaknya keluar bersama.

Ya, alasan Levi sebenarnya ketika mengajak Eren adalah untuk membawanya melihat dunia luar. Dari pengamatannya, sepertinya pemuda itu belum pernah benar-benar melihat dunia. Ia pastinya selama ini hanya terkurung di dalam rumah kuno minimalis itu layaknya burung dalam sangkar sebagai pemanis taman. Dari cara berpakaiannya yang kuno itu Levi juga sadar bahwa bocah yang telah membuatnya kurang tidur tersebut tidak tahu banyak tentang fashion juga teknologi modern. Dan Levi akan mengubah itu semua.

Tiba-tiba, Levi merasakan ujung lengan bajunya ditarik. Ia menoleh dan mendapati Eren sedang menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Levi menelan ludah. Terlalu manis. Ia menggelengkan kepala keras-keras, membuat Eren menatapnya khawatir. Si rambut arang berdehem.

"Kenapa, Eren?"

Kedua pipi pemuda berambut cokelat itu memerah manis. Bola mata heterokrom berusaha untuk tidak menatap bola mata biru kelabu di hadapannya. Levi menyeringai lalu menangkap dagu lancip Eren dan menengadahkan kepala pemuda itu untuk menatapnya langsung di mata. Kedua bola mata cantik milik Eren membola sempurna. Semburat merah kini telah menjalar hingga kedua telinganya.

"Ada apa, bocah?" Levi mengulang pertanyaannya.

"Ah, um," bibir Eren membuka dan mengatup salting. "Itu... Se-sebenarnya, saya bisa menggunakan sihir untuk membuat baju Anda bebas kopi."

Levi membeku. Jadi dia dari tadi bisa terbebas dari baju lengket menjijikkan ini? Pandangannya menggelap. "Kenapa tidak bilang dari tadi, bocah sialan?"

"E-eh... Saya baru ingat dan tadi tidak berani bilang gara-gara takut Anda marah, Levi-sama," jawab Eren ketakutan. Levi bisa merasakan dagu yang ia pegang gemetaran. Lelaki itu menghela napas lelah dan melepas genggamannya pada dagu Eren.

"Ya sudah. Sekarang, perbaiki bajuku."

Eren mengangguk keras-keras. Ia mundur beberapa langkah dari Levi lalu mengangkat kedua tangannya. Jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya menyatu membentuk sebuah belah ketupat dengan kedua jempolnya mencuat. Ia memejamkan mata emasnya dan mengarahkan mata hijau kebiruannya ke celah belah ketupat yang dibentuk jari-jarinya. Levi menatap Eren intens, menunggu cahaya terang yang biasa muncul di film-film penyihir yang terpaksa ia tonton berkat Hange dan Erwin. Sungguh masa-masa yang sulit baginya.

Levi menunggu. Tapi cahaya itu tak muncul juga. Yang ada hanya suara 'Klik!' seperti potretan kamera dan ia merasakan tubuhnya kembali kering dan tidak lengket. Eren menurunkan kedua tangannya dan tersenyum cerah ke arahnya. Levi mengangkat sebelah alis. Eren menunjuk kemeja Levi, dan mata biru kelabu pengusaha itu mengikuti arah yang ditunjuk Eren. Memang benar, kemejanya sudah kering total dan bersih seperti baru. Levi kembali menatap Eren yang kini memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar.

"Kau... punya kamera?" tanya Levi dengan bodohnya.

Eren mengerutkan dahinya. "Kamera? Apa itu?"

Kayaknya gaptek nih bocah udah nggak tertolong. "Benda persegi panjang yang bisa mengambil gambar kenangan seseorang."

Pemuda cantik itu menusuk pipinya dengan jari telunjuk, membentuk pose berpikir. Bebrapa detik kemudian sebuah kilatan samar muncul di kedua matanya. "Ah, benda yang Armin gunakan waktu itu. Bukan, saya tidak punya kamera. Tapi memang sihir barusan disesuaikan oleh perkembangan zaman. Ide dari rekan saya, Mikasa, yang terinspirasi dari acara... euh... apa ya? Doraman?"

"Doraemon maksudmu?"

"Ah! Benar! Itu maksud saya! Makhluk yang disebut 'robot' itu. Di perutnya ada celana dalam putih aneh yang bisa mengeluarkan alat ajaib! Aneh banget! Sihir tadi terinspirasi dari kamera persegi berwarna norak yang bisa membuat modelnya ganti baju! Lucu ya?" Eren menjelaskan dengan bersemangat.

Levi tersenyum samar melihat Eren yang menjelaskan dengan mata berbinar-binar. Yah, walaupun ia mengira kantong ajaib dari Doraemon sebagai celana dalam, Levi tak bisa menyalahkannya. Memang benar-benar mirip.

Ingin sekali Levi terus memandangi manusia mempesona di depannya itu untuk selamanya. Tapi, waktu terus berjalan dan ia tak boleh menyia-nyiakannya.

"Baiklah, bocah. Kita harus kembali bergerak. Waktuku tak banyak. Kincir angin terkutuk itu harus segera ditangani."

Mereka pun kembali menyusuri jalan hingga tiba di ujung gang. Saat mereka keluar gang, muncul lah pemandangan kota yang ramai tapi tak terlalu berisik itu. Di sepanjang sisi jalan berderet pohon sakura. Kelopak-kelopak bunga merah muda itu berguguran, membentuk permadani cantik di bahu jalan. Levi melirik ke arah Eren yang kini tengah mengagumi seluruh isi pusat kota yang tidak terlalu besar itu. Matanya jelalatan kemana-mana. Levi sempat berpikir mata itu akan jatuh kalau ia membelalakkannya terus seperti itu.

Pengusaha muda itu memperhatikan jalan sekitar dari balik kacamatanya dengan waspada. Mana tahu ada reporter-reporter nyasar lainnya yang menyadari keberadaannya. Saat itulah ia baru sadar, bahwa mereka berdua sedari tadi menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka menunjuk-nunjuk dan berbisik satu sama lain. Sesekali terdengar kikikan gadis SMA dan siulan pemuda tanggung. Levi menautkan alis ketika tahu siapa sebenarnya yang sedang mereka pelototi.

Ia sadar betul, penampilan Eren yang beda zaman seperti itu pasti akan menangkap perhatian banyak orang, apalagi dengan sebuah katana di pinggangnya. Selain itu, wajahnya yang luar biasa menawan sudah pasti akan dikagumi. Lalu warna kedua matanya yang tak biasa menambah keindahan wajahnya. This brat is the real masterpiece.

Sebuah siulan rendah ditangkap oleh pendengaran tajam Levi. Ia menoleh cepat dan mendapati beberapa pemuda tanggung yang bersiul seduktif kemudian mengedip nakal ke arah Eren. Walau yang diberi kedipan nggak ngeh, Levi tetap melemparkan pelototan mautnya ke arah makhluk-makhluk tak tahu diri yang telah berani menggoda miliknya.

Miliknya?

Levi menggelengkan kepala. Ia benar-benar sudah hilang akal. Semenjak pertemuannya dengan pemuda cantik misterius ini, pikirannya jadi tak karuan.

Ketika sang pengusaha muda menolehkan kepalanya ke arah Eren, bocah itu sudah atk ada lagi di sisinya. Levi sempat panik, namun akhirnya bernapas lega ketika menemukan Eren tengah memandangi etalase sebuah toko. Wajahnya tampak campur aduk antara kaget, senang, dan sedih. Levi berjalan mendekatinya dan dapat melihat jelas benda yang sedang ditatap oleh Eren. Sebuah kalung kunci berwarna platina.

"Levi-sama, apa itu 'Hwait Dai'?"

Levi menoleh ke arah Eren yang kini memandangi sebuah papan yang digantung di etalase toko tersebut. Levi mengikuti arah pandangannya. Ia mendengus.

"White Day, Eren. Tak terlalu penting. Hanya sebuah hari biasa ketika para pasangan bermesraan di tempat umum," jawabnya sambil lalu, tidak menyadari bahwa wajah Eren telah memerah seperti tomat mendengar kalimat yang terakhir. "Ayo, cafe-nya ke arah sana."


Jantung Eren berdegup kencang. Ia berkali-kali menatap punggung lebar Levi yang berjalan mengarahkan jalan di depannya. Pipinya memerah malu ketika mengingat kembali bahwa pelanggan kerennya itu mengajaknya pergi bersama. Ini rasanya seperti... apa itu yang pernah ia dengar di kotak bercahaya? Ah, iya, nge-date. Eren menenggelamkan wajahnya ke kedua tangan untuk meredam teriakan bahagianya.

"Oi, bocah, kau kenapa?"

Eren buru-buru mengangkat wajahnya lalu menggeleng. "Umh... nggak apa-apa, Levi-sama," ujarnya dengan pipi merah.

Levi hanya mengangguk lalu membukakan pintu cafe. Seketika itu juga wangi manis roti menyapa penciumannya. Otomatis, air liur mulai berkumpul di dalam mulutnya berkat aroma menggiurkan ini.

"Eren, mau sampai kapan kau berdiri di sana seperti orang bodoh?"

Pemuda itu kembali tersadar dan menatap Levi yang masih dalam posisi membuka pintu. Eren mengangkat alis, Levi pun mengangkat alis. Ia menatap kembali ke tangan Levi yang menggenggam gagang pintu dan barulah ia sadar, Levi sedang menunggunya masuk duluan. Oh, betapa gentleman-nya dirimu, Levi-sama! pikir Eren layaknya fangirl. Wajah Eren memerah malu lalu masuk cafe, diikuti Levi setelah ia menutup pintu masuk.

"Selamat datang, Kapten!"

Eren tersentak kaget lalu menatap dua orang barista yang memberi salam a la tentara yang sudah punah sejak lama. Salam para tentara di masanya, 500 tahun yang lalu.

Levi memijat pelipisnya. "Bocah-bocah ini."

"Sa...sha... Con...nie?" Eren memanggil nama mereka ragu. Bisa saja nama mereka sudah berubah di zaman ini bukan?

Kedua barista itu mengangkat kepala mereka lalu menatap ke arah Eren. Kedua bola mata mereka membelalak kaget, disertai dengan buliran air mata yang menetes.

"E-EREEEENN!"

Keduanya menerjang Eren dengan pelukan yang menyesakkan dada. Mereka menangis meraung-raung untuk kedua kalinya hari itu. Eren mengusap punggung keduanya dengan tawa bahagia. Benar-benar sebuah reuni yang mengharukan. Beberapa orang yang menyaksikan mengusap air mata mereka dengan tisu. Sedangkan Levi kebingungan di sebelah Eren. Kenapa bisa mereka saling mengenal?

"Eh! Itu bukannya Oom muka masam tadi pagi?!" seorang bocah pemberani menunjuk Levi.

"Ssshh! Sayang!" ibunya langsung menarik anaknya.

Eren, Sasha, dan Connie terpaku sejenak. Beberapa detik kemudian, tawa mereka meledak, menambah kegusaran Levi di sebelah mereka.

"Oi! Apa yang lucu, hah?!"

"Hahaha! Hi... hihi... ti-tidak apa-apa Levi-sama. Ha-hanya saja, kami teringat dengan kejadian masa lalu. Ironis sekali, iya 'kan, Sasha? Connie?"

Kedua bocah barista itu memegangi perut mereka, berusaha menahan tawa tapi gagal. Perempatan muncul di dahi Levi, tapi ia tahan kemarahannya. Paling tidak, Eren nampak terhibur.

"Ah, sudahlah. Kami datang ke sini mau mengambil barang ketinggalan."

Connie yang pertama pulih merespon. "Oh, kincir angin merah itu, 'kan?" ia mengeluarkan kincir angin merah dari kantong celana belakangnya dan menyodorkannya pada Levi. "Ini dia."

Levi mengernyitkan hidung. "Kau tidak mengentutinya 'kan?"

Wajah Connie memerah. Sasha dan Eren kembali tertawa terbahak-bahak. "Ti-tidak, Sir!"

Levi mengangguk lalu menyambar benda pembawa sial itu. "Baiklah, Eren, ayo kita ke tempat lain."

"Eh? Kok udah pergi aja? Nggak pesan sesuatu dulu?" tanya Sasha kecewa.

Levi menoleh ke arah Eren. "Benar juga. Apa kau mau makan dulu, bocah?"

Eren menggelengkan kepala. "Saya tidak lapar." Detik berikutnya, perutnya berbunyi nyaring, menimbulkan kikikan geli dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan Levi tertawa pelan di balik punggung tangannya. Wajah pemuda bermata heterokrom itu memerah.

"Perutmu tak bisa berbohong tampaknya. Kau tunggu di meja sana, bocah. Biar aku yang memesan makanan." Levi menunjuk sebuah meja di dekat jendela besar. "Dan kau bocah botak, aku ada permintaan."

Connie memberi hormat lagi. "Dengan senang hati, Sir!"

"Urgh... berhentilah memberi hormat begitu."

Eren tertawa lalu berjalan menuju meja yang ditunjuk barusan oleh sang pelanggan. Ia duduk lalu bertopang dagu, menatap keramaian kota dari balik jendela bening cafe.

Ia mengingat kembali kesalahannya. Ia benar-benar malu memikirkan bahwa sihir yang ia ciptakan malah menjadi malapetaka bagi pelanggannya. Ia tak menyangka, emosi pribadinya begitu kuat sehingga mempengaruhi alat sihir yang ia buat.

Ketika itu, sang pemilik toko sihir itu tak sengaja berandai-andai, bisakah Levi mengingatnya kembali? Akankah mereka jadi seperti dulu? Ia bahkan lupa menutup mata emasnya. Masalahnya, mata emasnya itu memiliki kekuatan yang terlalu besar, kekuatan yang bahkan setelah 500 tahun terkadang tak dapat ia kendalikan. Ia hanya menggunakan kekuatan mata kanannya itu ketika sedang terdesak. Tapi, pikiran bodohnya memutuskan untuk lupa dan membuat sihir pada kincir angin itu kacau balau lalu mengikuti keinginan terdalam pembuatnya.

Keinginan Eren agar Levi mengingat masa lalunya. Hal itulah yang membuat rekan-rekan Levi, Sasha, dan Connie mengingat masa lalu mereka ketika terkena efek sihir dari kincir angin tersebut.

Eren membaringkan kepalanya di atas meja. Tapi setelah melihat Levi untuk kedua kalinya hari ini, pemuda itu lebih memilih agar Levi tak pernah mengingat masa lalunya. Mengingat ia sudah bukan tentara kaku social awkward yang selalu siap siaga menghadapi masalah. Ia juga bukan lagi pangeran diplomatik yang selalu mencurigai siapa saja yang mencoba mendekatinya. Bahkan namanya pun berbeda. Ia juga tampak berbeda. Ia tampak... lebih bahagia. Eren senang sekaligus sedih. Senang Levi tak memiliki beban ingatan suram itu, sedih karena ia tak akan bisa menjadi kekasih Levi lagi.

Pemuda itu memejamkan mata sambil menghela napas lelah. Beberapa saat kemudian, kedua bola mata itu kembali terbuka. Eren duduk tegak, menajamkan semua panca inderanya. Mata heterokromnya menelusuri jalanan kota dan menemukan sosok yang mengikuti mereka sejak keluar dari gang. Sosok itu memegang kamera di tangannya, matanya tertuju lurus ke arah di mana Levi sedang memesan makanan. Eren menyipitkan mata. Tak ada yang boleh menyakiti Levi-sama!

Eren memejamkan mata kanannya. Bibirnya membaca mantra, jari telunjuknya menari membentuk formasi sihir kecil di udara yang memancarkan sinar yang berwarna senada dengan mata kirinya. Mata hijau kebiruannya ikut bersinar. Sosok penguntit itu langsung menegang. Dengan tatapan kosong, penguntit itu berjalan menuju arah yang berlawanan dengan cafe ini. Mata hijau kebiruan Eren terus mengikuti sosok itu hingga ia hilang ditelan keramaian. Eren mengeluarkan napas yang sedari tadi tanpa sadar ia tahan. Dengan begini, mereka aman.

"Tch! Sial! Di saat seperti ini malah ada meeting dadakan."

Eren mendongakkan kepala. Dilihatnya Levi tengah bersungut-sungut dengan smartphone di tangan kanan dan sebuah bingkisan di tangan kiri.

"Bocah, kau ikut denganku ke kantorku. Kau bisa memperbaiki kincir angin ini dan makan siang di sana. Ini darurat."

Eren mengangguk, melambaikan tangan kepada Connie dan Sasha lalu mengikuti Levi menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi, Eren memastikan tak ada lagi yang mengikuti mereka, kemudian berjalan terburu-buru menyamai langkahnya dengan sang pelanggan.


Gedung tempat Levi bekerja luar biasa luas dan tinggi. Eren sudah mendongakkan kepalanya sejauh mungkin, tapi puncaknya masih tak tampak. Ia berdecak kagum.

Di dalamnya pun tak kalah hebat. Udara sejuk dan bersih dapat ia rasakan di sana. Lantai keramik bersih mengkilap, ia bisa melihat bayangan wajah kagumnya di sana. Seluruh kaca di gedung itu tampak sangat bening. Langit-langit gedung tingginya kira-kira tujuh meter. Orang-orang berpakaian formal berlalu-lalang dengan kegiatan mereka masing-masing.

Eren memandangi gedung itu dengan kagum hingga pandangannya jatuh ke sosok kuda yang sangat ia kenal. Wajahnya mengerut tak senang. Walaupun sebenarnya ia senang bisa melihatnya lagi (Eren tak akan pernah mengakuinya selamanya). Di sekitarnya juga tampak beberapa wajah familiar. Mata Eren melembut sebelum akhirnya dipenuhi sinar jail.

Pemuda itu menutup mata kanannya lalu mengucapkan mantra pendek. Tiba-tiba, celana hitam lelaki kuda itu melorot hingga mata kaki, menampakkan boxer merah muda bermotif kuda terbang. Gadis pirang di meja resepsonis menutup matanya. Seorang laki-laki pirnag berotot bersama seorang wanita jangkung dengan bercak tipis di wajahnya tertawa hingga berguling. Seorang lelaki tinggi tak terkira tertawa canggung sambil menggaruk pelipisnya yang berkeringat. Eren terkikik geli melihat wajah panik si muka panjang.

"Oi, bocah-bocah. Kerja yang benar," tegur Levi sambil melepaskan kacamata hitamnya. Tatapan tajamnya terarah kepada keempat sosok di depan meja resepsionis itu.

"Ba-baik, Sir!"

Eren kembali terkikik ketika lelaki kuda itu tersandung celananya sendiri dan jatuh dengan pantat menungging. Levi menggelengkan kepala. Kenapa ia bisa menerima mereka bekerja di perusahaannya?

Mereka terus berjalan, menaiki lift, dan berhenti di depan sebuah pintu kembar yang tingginya melebihi tiga meter di lantai tertinggi. Levi membukanya dengan kaki lalu mempersilakan Eren untuk masuk duluan. Wajah Eren kembali merah. Levi menutup pintu dan udara di sekitar mereka jadi canggung.

"Eren."

"Y-ya?"

Levi tertawa kecil. "Rileks, bocah. Aku tak akan memakanmu." Levi menyeringai ketika ia menerima reaksi wajah memerah dari si bocah yang kini tergagap, bingung ingin bilang apa.

"Eren." Yang dipanggil mendongak. Levi memainkan kantong celananya. Setetes keringat meluncur dari pelipis ke dagunya. "Aku−"

KRIIINGG! ADA TELEPON, MAS! KRIIINNGG! AYO, GRUMPY CAT! DIANGKAT! JANGAN MALAS! KRIINNGG!

"Tch! Hange! Apalagi yang ia lakukan dengan teleponku!" Levi berjalan menuju telepon putih yang tergeletak di sebelah kertas dokumen yang menggunung. Eren baru sadar kalau ruangan itu dipenuhi oleh kertas. Levi tampak bad mood setelah menerima telepon entah dari siapa itu.

"Levi-sama?"

Pengusaha muda itu mengacak-acak rambutnya. "Eren, kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali." Dengan begitu Levi berjalan cepat dan keluar dari ruangan kerjanya.

Eren ditinggal sendirian di ruangan itu. Ia melihat-lihat di sekitar ruangan, mencari-cari hal yang bisa ia kerjakan. Ia tak bisa memperbaiki kincir angin tanpa kehadiran pelanggannya karena itu merupakan salah satu syarat mutlak dalam peraturan tokonya. Ia akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi besar sambil memandangi langit dari jendela. Ketika ia berjalan menuju kursi empuk itu, tiba-tiba ada sekelebat bayangan melewati jendela besar gedung itu. Mata heterokromnya membola.

Dengan segera, Eren berlari menuju jendela besar itu. Kepalanya melongok keluar jendela. Mata kanannya kembali ditutup, lalu ia menggunakan sensor khusus di matanya untuk mencari hawa keberadaan mencurigakan sekecil apapun. Namun, ia tak menemukan apapun. Eren menarik diri dari jendela.

Tidak mungkin bayangan tadi hanya khayalannya. Dan jika benar, bayangan itu bukan manusia biasa, atau bahkan memang bukan manusia. Karena ini 'kan lantai teratas. Padahal, ia sudah memastikan tak ada yang menguntit mereka. Atau jangan-jangan ada kekuatan besar di zaman ini yang−

BRAK!

"Levi! Aku datang untuk mengganggu! Bagaimana dering teleponnya?! Merdu 'kan? Itu suaraku sendiri lho−"

Eren terpaku ketika sosok berkacamata itu memasuki ruangan secara tiba-tiba. Terlebih lagi, wajah yang familiar.

"Eren?"

Kedua mata heterokrom Eren membelalak. "Ha-Hange-san?!"


Lho? Lho? LHO? Kenapa Hange ingat Eren?

Penasaran? Stay tune!

(= RnR =)