Hahay! Myung kembali! Maaf sebelumnya telat apdet ._. karna urusan sekolah yang belum selesai, jadi gak sempet ol ._. hehehe..maaf yang sebesar-besarnya ya. Gak banyak curcol, silakan baca^^ -maaf kalau jelek-


"aku pernah melewatimu tanpa peduli…
kau juga orang asing bagiku dulu…
lalu aku mengenalmu tanpa sengaja…
itulah awal dari cerita kita…"

First

Bab 3

"Aku…aku akan menikah." Hermione membulatkan matanya. Tatapan antara kaget dan tidak percaya. Perlahan tatapan itu sirna, digantikan tatapan gembira. Ginny yang semula khawatir akan reaksi Hermione, perlahan tersenyum lebar.

"Selamat Ginny!" Hermione tersenyum sumringah. Ginny yang awalnya khawatir akan reaksi Hermione ikut tersenyum. Hermione melirik jari manis Ginny. Sebuah cincin indah melingkar dijarinya. "Cincin yang indah, Ginny." Ginny hanya tersenyum. Tiba-tiba wajahnya berubah sedih. "kenapa Gin?"

"Kalau aku menikah, itu berarti aku akan tinggal bersama Harry." Ginny menatap Hermione sedih.

"Aku tau itu. Aku bisa hidup sendiri, Ginny. Aku bukan anak kecil lagi. Tinggallah dengan Harry."

"Benarkah? Tidak apa-apa?"Ginny menatap Hermione tidak yakin.

"Apapun untuk sahabatku." Ginny memeluk Hermione senang.

"Terima kasih Mione! Kau memang sahabat yang paling baik!" Ginny melepas pelukannya, "Jadi,kau ingin pindah kemana?" lanjutnya.

"Kurasa, karna kau pergi. aku hanya butuh tempat yang kecil saja. Lagipula barangku tidak sebanyak barangmu." Hermione merapatkan syal dan mantelnya. Udara semakin dingin.

"Baiklah, besok bagaimana? Setelah kuliah. Jam 2 di taman." Kata Ginny.

"Deal. Jangan telat." Hermione berdiri dan berpamitan pada Ginny sebelum naik ke dalam taksi. Sesampai di apartemen,Hermione berjalan tanpa suara. Matanya memandang waspada. Dengan hati-hati memasuki apartemennya. Ditutupnya pintu dengan perlahan. Sesampai di dalam, Hermione memeriksa seluruh ruangan, memastikan tidak ada penyusup. Merasa semua aman Hermione pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Kau sudah mantap dengan apartemen ini?" kata Ginny sambil meminum sodanya.

"Yah, menurutku cocok untukku. Ada 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tengah digabung dengan dapur. Kurasa itu bagus. Lagipula dekat dengan kampus." Hermione memakan es krimnya sambil menatap Ginny.

"Baiklah, kalau kau cocok. Kapan kau akan pindah?"

"Kurasa lusa. Besok aku akan urus dan membersihkan tempat baruku." Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Kaca mobil diturunkan,

"Hei, Ginny!" teriak orang dalam mobil.

"Harry! Kau sudah pulang? Kenapa tidak menelponku?" Ginny memasang wajah cemberut. Harry tersenyum geli melihat Ginny.

"Masuklah. Aku antar kalian." Sesampinya di rumah, Ginny membantu Hermione mengemasi barang Hermione.


Sesuai yang Hermione inginkan, setelah mengurus penyewaan apartemen barunya, serta membersihkannya yang dibantu Ginny, Hermione mengangkut seluruh barang-barangnya. Semua peralatan yang kata Ginny tidak akan dibutuhkannya nanti, Hermione bawa. Hermione menata seluruh barangnya. Setelah menurutnya seluruh barang sudah pada tempatnya, Hermione melihat kardus yang isinya baju-baju dari orang tidak dikenal, Hermione mengambil salah satu baju.

"Siapa dia? Kalau aku bertemu dengannya, kuharap aku tau siapa dia."


Hermione meniup permen karetnya sambil berjalan keluar kampus. Di tangannya penuh buku musik. Dikepalanya terpasang sebuah headphone. Tiba-tiba Ginny menepuk pundaknya dan menyodorkan sekaleng minuman.

"Hai Ginny. Menunggu Harry?" Hermione mengambil minuman dari tangan Ginny. Ginny hanya nyengir mendengar pertanyaan Hermione.

"Kau akan langsung pulang? Bagaimana tinggal disana?" tiba-tiba Harry muncul dengan mobilnya, lalu meminggirkan mobilnya.

"Tidak. Aku akan ke restaurant langganan kita dulu, jarak antara rumahku sekarang dengan restaurant cukup jauh. Dan, soal apartemen, menurutku sangat nyaman, seperti rumah sendiri. Nah, bye Ginny." Kata Hermione lalu berjalan pergi. Meninggalkan Ginny dan Harry. Hermione menghentikan sebuah taksi menuju restaurant favoritnya.

Hermione menyeberang jalan sambil menenteng makanan yang dia beli. Jalan masih seperti akhir-akhir ini, agak lenggang, di trotoar juga sepi pejalan kaki. Hermione merapatkan syalnya. Tiba-tiba dari arah persimpangan meluncur dengan tidak terkendali sebuah mobil hitam. Terdengar suara tubrukan. Kotak makanan Hermione terlempar. Darah mengalir dari kepalanya. Mobil yang menabraknya pergi begitu saja. Sebuah mobil berwarna biru berhenti. Draco Malfoy keluar dari dalam dan langsung berlari ke tempat Hermione berbaring. Diangkatnya secara perlahan, menuju ke dalam mobilnya. Lalu meluncurkan mobilnya dengan kecepatan hampir penuh menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit dibopongnya Hermione ke ruang UGD, para suster langsung memasang tirai di sekeliling tempat tidur Hermione. Draco menunggu diluar, lalu menelpon Ginny. Berselang beberapa menit, Ginny datang bersama Harry. Ginny terlihat sekali sangat khawatir. Tidak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di depan pintu. 15 menit kemudian, seorang suster keluar.

"Keluarga Hermione Granger? Kalian boleh masuk." Ginny langsung berlari mengikuti sang suster diikuti Harry dan Draco. Ginny dan Harry berdiri di samping tempat tidur Hermione. Sementara Draco hanya berdiri jauh dibelakang mereka.

"Nona Granger masih tergolong cukup beruntung. Hanya kaki kirinya patah, tapi kami masih harus melakukan pemeriksaan pada kepalanya, memastikan tidak ada luka serius." Dokter itu menepuk pundak Ginny sebelum pergi. Ginny duduk disamping Hermione, menggemgam tangannya. Bebarapa alat terpasang di tubuh Hermione. Ginny menatap sedih Hermione yang masih pingsan. Lalu berjalan keluar. Draco dan Harry mengikuti. Mereka berjalan ke lobby.

"Tunggu disini, aku akan mengurus administrasinya." Kata Ginny. Draco menahannya.

"Biar aku saja." Katanya, lalu mengurus administrasi, "Tolong kamar VVIP, berikan pelayanan yang baik." Katanya pada pengurus administrasi. Ginny yang mendengarnya kaget. Draco hanya tersenyum. "Aku pulang dulu, ada hal yang harus kuurus." Draco melirik Harry. Harry mengangguk pelan hampir tidak terlihat.

"Kau akan menjaganya disini,dear?" tanya Harry sambil mengusap pelan kepala Ginny.

"Ya, pulanglah. Nanti aku akan pulang sebentar." Ginny tersenyum lemah.

"Baik, aku pergi dulu, telpon aku jika ada hal penting." Kata Harry melambai sekilas lalu berbalik pergi. Ginny berjalan ke kantin rumah sakit, dia memesan segelas kopi.


Harry membuka pintu mobil Draco. Di dalam Draco sedang menegak sodanya. Harry hanya melihatnya sekilas lalu mengambil ipad dari tasnya.

"Kau sudah mencari buktinya?" kata Draco. Harry tidak menjawab, dia serius memperhatikan ipadnya. "Kau lihat apa? Sampai wajahmu seserius itu." Draco menjalankan mobilnya keluar rumah sakit. Harry menengok Draco, lalu menyerahkan ipadnya.

"Ah. Otakmu ada gunanya juga." Kata Draco.

"Justru otakmu yang tidak berfungsi." Balas Harry. Draco melirik Harry kesal. "Aku tidak sengaja menemukannya."

"Korupsi dana yayasan?"

"Begitulah yang aku temukan."

"Baiklah. Besok aku akan mencari tahu." Kata Draco. Draco menambah kecepatan mobilnya. Harry kembali serius dengan ipadnya.

"Rumahnya ada diatas perusahaannyakan?" tanya Draco, Harry hanya mengangguk."Hey, Harry. Apa yang membuatmu begitu cinta pada Ginny? Dia tidak tahu apa-apakan?" tanya Draco, tatapannya masih pada jalan.

"Kenapa? kau menyukai seseorang? Tidak, dia tidak tahu apa-apa." Jawab Harry. Harry menatap Draco heran, "Kaukan playboy. Apa mungkin kau sedang menyukai salah satu gadismu?" tanya Harry dengan wajah polos. Draco meliriknya, lalu memukul Harry dengan kaleng sodanya.

"Sudah kubilang. Jika jatuh cinta, tidak menutup kemungkinan, orang yang kita sayangi akan terbunuh. Tapi aku khawatir pada Ginny, kalau sesuatu terjadi padanya." Kata Draco serius.

"Aku juga khawatir, tapi tidak mungkin kita berhenti. Kita sudah berlatih bertahun-tahun. Tapi aku tidak rela melepas Ginny." Harry menatap kosong ke jalan.

"Bujuklah dia untuk pergi keluar negeri. Kau minta dia untuk lanjutkan pendidikkan di sana." Kata Draco sambil menyalip sebuah truk.

"Itu tidak akan mudah. Bagaimana dengan Hermione? Mereka berdua sahabat. Apa mungkin Ginny mau meninggalkan Hermione?"

"Bujuk saja. Menikahlah di sana, lalu kau pulang kesini." Kata Draco.

Harry menghela nafasnya, "Baiklah akan kucoba."

"Aku percaya padamu, mate." Kata Draco.

"Ngomong-ngomong, malam itu kau yang membawa Mione ke hotel?" Draco hanya mengangguk tanda mengiyakan.

"Dia tidak melihat wajahmukan?"

"Tentu saja tidak. Untung aku pakai masker dan wig." Harry terlihat lega, Draco melihat reaksi Harry, "Aku juga tidak akan seceroboh itu. Siapa yang mengambil mobilmu?" Dia memberhentikan mobilnya di dekat sebuah rumah besar.

"Semoga saja tidak ada yang tahu identitas kita. Asistenku nanti. Kalau begitu sampai jumpa." Kata Harry lalu menutup pintu mobil. Draco menjalankan mobilnya menuju rumahnya


Keesokkannya Ginny, pergi ke kampus dan memberitahukan keabsenan Hermione. Draco datang membawa buah-buahan. Draco baru akan menggeser pintu kamar ketika pintunya terbuka dan muncul seorang dokter.

"Keluarga Miss Granger?" kata dokter itu. Draco mengangguk. "Saya hanya ingin memberitahukan, Miss Granger tergolong masih beruntung, tapi kami menemukan tengkoraknya sedikit retak, tapi tidak berpengaruh pada otaknya." Dokter itu tersenyum lalu pergi. Draco masuk ke kamar, terlihat Hermione telah bangun. Draco meletakkan buah-buahan yang dibawanya di meja samping Hermione.

"Kau sudah sadar?" kata Draco duduk di sofa dekat tempat tidur.

"Siapa yang membayar kamar ini? Apa Ginny?" Draco tidak menjawab, malah mengeluarkan sekaleng soda dari kantongnya.

"Tanya saja pada dia." Kata Draco datar, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu."Makanlah buah itu." Kata Draco lalu keluar. Hermione hanya memandang Draco yang berjalan keluar.

Sementara diluar, Draco baru saja menutup pintu, ketika seseorang menepuk pundaknya.

"Draco?" kata Ginny. Draco berbalik dan tersenyum. "Apa yang kau lakukan disini? Apa Mione sudah sadar?" lanjutnya.

"Aku hanya menjenguknya. Ya, dia sudah sadar. Dan, tadi dokter berkata kalau tidak terjadi hal serius, tapi tengkoraknya agak retak." Kata Draco, tersenyum singkat lalu berbalik pergi.

"Siapa yang menabraknya?" tanya Ginny. Draco berbalik, memasang wajah sedih.

"Aku tidak tau. Tapi dia langsung pergi. Aku kebetulan sedang lewat." Kata Draco lalu berjalan pergi. Ginny menggeser pintu, lalu berjalan ke samping Hermione.

"Mione?" Hermione menolah dan langsung tersenyum lebar.

"Ginny! Kau datang!" Ginny tersenyum lemah melihat kaki Hermione yang dipasangi tali yang ada pemberatnya. Hermione mengikuti arah pandang Ginny. "Tidak apa, nanti juga akan sembuh." Katanya pelan,sambil tersenyum . Ginny agak gembira karna Hermione tidak sedih. Dia mengambil makanan yang dibawanya.

"Makanlah, ini kesukaanmu." Kata Ginny menyodorkan kotak makan. Hermione mengambilnya, sementara Ginny mengambil buah yang tadi dibawa Draco, mengambil buah apel dan mengupasnya. "Kapan kau sadar?"

"Ah, sudah tadi pagi. Kebetulan suster datang. Ah ya, Ginny. Kau yang membayar kamar ini? Kata Malfoy tanyakan saja padamu." Kata Hermione, sambil menyendok sebuah wortel.

"Haha. Bukan, Mione. Kau harus berterima kasih pada Draco. Dia yang mengurus administrasi. Tadinya aku yang ingin membayarnya, tapi dia menahanku dan membayarnya. Lagipula jika aku yang membayar, kamarmu tidak mungkin VVIP, Mione." Hermione tersedak wortelnya, Ginny buru-buru memberikan air.

"Malfoy? Kau tidak bohongkan Ginny?" Hermione menatap Ginny tajam.

"Iya dia, Mione. Dia itu kaya Hermione. Apartemennya saja sangat mewah dan luas. Sayangnya dia hanya tinggal sendiri." Kata Ginny sambil menyodorkan sepiring potongan apel. Hermione menatap tak percaya ke Ginny.

"Lalu siapa yang membawaku kesini?" tanya Hermione masih menatap Ginny lekat.

"Draco. Katanya dia kebetulan sedang lewat. Lalu membawamu kesini. Dia menelponku saat kau sudah di dalam UGD. Aku yang saat itu sedang bersama Harry di mobil menuju apartemen Harry, langsung memutar arah kesini. Tapi sayangnya, Mione, orang yang menabrakmu langsung lari." Ginny menjelaskan panjang lebar. Hermione mencerna semua perkataan Ginny. "Kau punya hutang dengan Draco, Mione." Tambahnya.

Hermione hanya diam, sambil memakan makanannya. Secara hubungan Hermione dengan Draco tidak bisa dibilang baik. Hermione menggelengkan kepalanya mengusir semua pikiran. Tapi kepalanya terasa sakit. Hermione memegang lukanya.

"Kenapa, Mione?" tanya Ginny, karna tiba-tiba Hermione memegang kepalanya sambil meringis.

"Tidak, tidak apa-apa. Hanya kepalaku rasanya sakit." Jawab Hermione. Ginny menatap kepala Hermione yang diperban. Hermione menutup kotak makannya, lalu mengambil sebuah apel.

"Aku sudah mengirim surat ke kampus. Hari ini, aku bolos kelas." Kata Ginny memecahkan keheningan.

" Terima kasih, Gin. Maaf merepotkanmu. Besok sebaiknya kau masuk. Disini ada suster yang menjagaku. Lagipula, aku tidak bisa kemana-mana." Kata Hermione.

"Baiklah, tapi besok sepulang kuliah, aku tetap akan kesini. Kau mau aku bawakan apa?" tanya Ginny sambil membereskan kotak makan.

"Ayam pedas-manis buatanmu." Kata Hermione riang. Ginny nyengir.

"Baiklah. Aku akan bawakan yang banyak." Kata Ginny senang.

Mereka mengobrol sampai tiba-tiba pintu kamar terbuka. Keduanya menoleh, melihat siapa yang datang. Ternyata Lavender dan si kembar Patil. Mereka heboh melihat kamar VVIP Hermione. Sekitar pukul 5 sore, mereka semua pergi.

"Bye, Mione. Besok aku bawa pesananmu." Kata Ginny sebelum menggeser pintu tertutup. Hermione menarik selimutnya.

"Kenapa harus makhluk menyebalkan itu yang menolongku?" Gumam Hermione kesal. Hermione menarik selimutnya sampai ke atas kepala.


Sementara di tempat lain, Draco sedang mengendarai mobilnya. Dia berhenti di depan sebuah gedung. Sebuah senyum licik terlukis di wajahnya. Dia memanjat pagar dengan mudah. Melihat sekitar, tidak terlihat satupun penjaga. Draco berjalan menuju ke belakang gedung. Dia berhenti disebuah pintu. diputar kenopnya, tidak terkunci. Draco membukanya perlahan, diliriknya sekitar. Sebuah cctv disamping pintu. Ditutupinya cctv dengan kain. Draco melanjutkan langkahnya masuk ke ruang selanjutnya. Ruang berikutnya juga kosong, Draco memencet tombol lift. Liftpun kosong. Draco masuk dan langsung ke lantai kedua dari atas. Sesampai dilantai paling atas, Draco menengok kanan-kiri. Ada seorang penjaga.

"Siapa kau?" kata orang itu. Draco hanya diam dan langsung meninju orang itu sampai pingsan. Diseretnya orang itu ke pojok. Draco mengambil kartu identitas orang itu,lalu ditempelkan ke alat sensor. Draco masuk, ruang kerja. Draco menempelkan kamera kecil di salah satu lemari. Dari luar terdengar suara-suara langkah kaki. Draco mengambil sebuah tabung dari sakunya. Begitu pintu terbuka, dibuangnya tabung itu. Asap keluar dari tabung itu. Memenuhi seluruh ruangan, Draco buru-buru masuk ke lift. Saat pintu lift terbuka lagi, banyak penjaga yang sudah bersiap. Draco menghajarnya dengan santai. Buru-buru dia berlari keluar, melompati pagar, dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Draco mengendarai mobilnya ke rumah. Tiba-tiba hpnya berdering.

"Ya? Harry?" kata Draco sambil terus menatap jalan.

"Bagaimana? Semua berjalan lancar?" kata Harry dari seberang telpon.

"Sesuai rencana. Besok kita bertemu di tempat biasa." Kata Draco lalu menutup telponnya.


2 minggu telah berlalu, Hermione menggeser pintu kamarnya. Untuk sementara, dia menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Hermione berjalan ke taman. Hermione duduk di salah satu bangku taman. Pandangannya menyapu sekelilingnya. Banyak pasien dan keluarganya mengobrol disana. Tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampirinya.

"Kakak sakit ya? Ini untuk kakak." Katanya sambil menyodorkan sekuntum bunga matahari. Hermione tersenyum geli melihat anak itu.

"Terima kasih, bunga ini harum sekali. Kau sungguh anak yang baik." Kata Hermione sambil mengusap kepala anak itu.

"Cepat sembuh ya kakak." Anak itu memandang Hermione sebentar sebelum berlari pergi. Anak itu berlari kearah seorang wanita. Hermione masih tersenyum senang. Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan segelas minuman. Hermione mendongak.

"Minumlah. Ini teh hijau." Kata orang itu. Hermione mencoba mengenali siapa orang itu. Wajahnya terhalang topi. Tapi rambut pirang itu mirip dengan orang yang ditunggunya.

"Draco…Malfoy?" kata Hermione pelan. Orang itu menoleh sedikit, Hermione melihatnya tersenyum.

"Mengenaliku? Minum ini. Aku kesini karna diminta Ginny. Jadi jangan berpikir aku kesini dengan sukarela." Katanya sambil mengangkat sedikit topinya. Hermione terdiam.

"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Hermione.

"Aku hanya tidak ingin orang meninggal hanya gara-gara keegoisanku."

"Berapa biaya perawatanku? Aku akan bayar." Kata Hermione. Hermione mengambil tongkatnya.

"Masih memikirkan biaya. Lebih baik jalani saja perawatanmu. Setelah kau keluar kau boleh membayarnya." Kata Draco.

"Terima kasih." Kata Hermione tulus. Draco hanya diam. "Tadi kau bilang Ginny yang meyuruhmu kesini, memang kemana dia?" tanya Hermione mencairkan suasana. Draco hanya mengedikkan bahunya.

"Tanya sendiri padanya." Kata Draco datar.

"Hpku hilang. Jadi aku tidak bisa menghubunginya." Jawab Hermione, sedikit kesal dengan jawaban Draco. Draco memandang Hermione sekilas lalu merongoh sakunya.

"Ini hpmu?" katanya sambil menyodorkan sebuah handphone.

"Ah! Ini dia! Dimana kau menemukannya? Terima kasih!" kata Hermione tersenyum riang.

"Di mobilku. Mungkin terjatuh, saat aku membawamu kesini." Tiba-tiba hp Draco bordering. "Kenapa?" Draco melirik Hermione, "Baiklah." Draco menutup telponnya. "Kembalilah ke kamarmu." Kata Draco tanpa memandang Hermione. Matanya menyipit ke depan.

"Memang kenapa?" kata Hermione bingung. Draco tidak menjawab, memasang tampang datar.

"Sudah kubilang kembali, kau ini keras kepala sekali. Kalau tidak kembali, hutangmu kutambah 100.000 pound." Draco memandang Hermione dengan tidak sabar.

"Eh, jangan! Baik aku kembali!" Hermione berjalan cepat dengan tongkatnya. Draco melirik Hermione lalu menurunkan topinya. Draco berjalan dibelakang 2 orang. Draco terus mengikuti mereka hingga tempat parkir.

"Rood, urus mereka. Aku tidak mau melihat mereka lagi." Kata orang yang paling depan berjalan.

"Baik. Akan saya laksanakan." Kata orang dibelakangnya sambil membuka pintu mobil untuk orang yang menyuruhnya. Lalu sebuah koper diserahkan kepada orang dipanggil Rood. Mobil itu berjalan pergi. Sementara orang yang bernama Rood tadi berbalik kembali ke dalam rumah sakit. Draco mengikutinya dari belakang.

Orang itu memasuki lift. Buru-buru Draco masuk ke dalam lift sebelahnya. Disetiap lantai Draco menahan pintu lift. Di lantai 5 orang itu keluar. Draco menahan lift sebentar sebelum ikut keluar. Orang itu masuk ke dalam salah satu pintu. Draco membuka pintu itu perlahan. Ditempelkannya sebuah mini camera di pintu. Draco lalu pergi sambil membuka hpnya. Terlihat dilayar, kepala rumah sakit dan beberapa dokter, serta orang yang dipanggil Rood tadi.

"Mau apa kau kesini lagi?" kata kepala rumah sakit. Rood tidak menjawab, dia meletakkan koper yang dibawanya di atas meja.

"Ini perintah dari Tuan Macnair. Kalian pakai ini dan tutup mulut kalian soal para pasien dari perusahaan kami yang tewas itu." Kata Rood. "Tuan Macnair berharap kalian dapat bekerja sama." Lanjutnya dingin lalu berbalik.

"Pegawai yang tewas?" Gumam Draco, tersenyum licik. Dia lalu beranjak pergi.


Hermione menutup pintu kamarnya. Lalu duduk di salah satu sofa.

"Kenapa aku menuruti kata-katanya ya? Ancaman bodoh macam apa aku turuti begitu! Akukan bosan di dalam sini. Ahh! Bodohnya!" Hermione memukul kepalanya kesal pada diri sendiri. "Auch! Ash! Sakit." Hermione memegangi kepalanya. Disentuhnya bekas luka di kepalanya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seorang suster masuk, wajahnya terlihat heran melihat Hermione.

"Ada apa Nona Granger? Kepalamu sakit lagi?" tanya suster tersebut.

"Ah.. tidak apa-apa."

"Kenapa tidak keluar? Mau kutemani?" tanyanya lagi.

"Tidak usah. Terimakasih." Kata Hermione sambil tersenyum. Suster itu mengangguk lalu keluar. Hermione merebahkan dirinya di tempat tidur. Merutuk kesal pada diri sendiri.


Draco menatap kertas-kertas di depannya. Dia menopang dagunya tampak berpikir.

"Tewas karena keracunan? Apa mungkin?" kata Harry tangannya memainkan sebuah pulpen.

"Bukan. Ini diracuni. Mereka sebelumnya masuk rumah sakit karna sesak nafas. Dokter bilang, mereka menghirup gas beracun. Setelahnya, mereka kembali pulih. Tapi kemudian, dokter bilang mereka tewas. Aku sempat dengar salah satu pasien melihat mereka sempat membuat keributan, mereka bilang mereka akan menuntut Macnair. Beberapa jam kemudian mereka sudah terbujur kaku. Bukankah itu mencurigakan? " Draco berdiri dan mengambil jasnya.

"Kau mau kemana?" tanya Harry.

"Mendapatkan informasi yang akurat." Katanya. Harry hanya tersenyum, tahu apa yang akan Draco lakukan.

"Berhati-hatilah. Siapa tahu dia sulit ditaklukkan." Draco hanya tersenyum tipis. Lalu keluar.


"Jadi, mereka diracuni begitu?" tanya Draco.

"Ya, begitulah…tapi mereka disuruh oleh Macnair bodoh itu…yaya..Macnair sok itu..." gumam seorang suster yang tampaknya setengah mabuk. Dia bersandar di bahu Draco sambil memegang gelas yang berisi alkohol yang sudah Draco campurkan dengan obat tidur.

"Kau tahu berapa uang yang diberikan Macnair pada para dokter?" Draco melingkarkan tangannya dibahu wanita itu.

"Sekitar 50.000 pound… Aku juga disuap oleh Macnair…tapi dengan licik dia memotong bagianku…hahaha…dasar licik…sangat serakah."

"Berapa yang dia berikan padamu?"

"Hanya 20.000 pound…sangat… tidak….adil…" wanita itu langsung pingsan ke ranjang. Draco mengambil perekam di balik lampu meja. Dia meninggalkan sebuah cek di atas meja lalu pergi. Draco langsung masuk ke dalam mobil dan berhenti di pinggir jalan. Di dengarnya rekaman percakapan tadi. Dia tersenyum licik sebelum kembali meluncurkan mobilnya menuju rumah.


Seminggu kemudian Hermione sudah diperbolehkan pulang. Dia mengucapkan terima kasih pada para suster yang sudah merawatnya sebelum pergi. Pagi tadi Hermione mendapat pesan dari Ginny kalau dia tidak bisa menjemputnya, karena hari ini dia akan mencoba gaun pengantinnya. Hermione memberhentikan sebuah taksi.

"Tolong ke Mall Diagon Alley."kata Hermione pada sang sopir. Sopir itu mengangguk. 10 menit kemudian mereka sampai. Hermione langsung masuk ke dalam. Dan mencari toko pakaian khusus pengantin. Hermione masuk ke dalam dan melihat Ginny sedang berputar di depan Harry.

"Hermione! Apa yang kau lakukan? Kaukan baru keluar rumah sakit! Kakimu bagaimana?" Ginny menghampiri Hermione masih memakai gaunnya.

"ah,kau ini. Jangan khawatirkan aku. Kau terlihat cantik Ginny." Hermione menatap Ginny kagum.

"Tapi aku masih agak risih dengan gaun ini." Ginny memandang tubuhnya.

"Baiklah coba yang lain saja." Ginny kembali masuk ke dalam. Hermione duduk di sebelah Harry.

"Kita belum resmi berkenalankan? Aku Harry Potter." Kata Harry mengulurkan tangannya.

"Hermione Granger. Sebelumnya, selamat untuk kalian. Jadi, bagaimana dengan persiapan pernikahan disana?"

"Hahaha…terima kasih. Sangat sempurna. Aku harap semua berjalan lancer." Harry tersenyum senang. Hermione mengangguk. Tiba-tiba pundak Harry ditepuk seseorang.

"Hai, mate. Bagaimana? Berjalan lancar?" tanya Draco sambil duduk disamping kiri Harry.

"Begitulah. Hei, Hermione, Ginny ingin kau menjadi pendampingnya, tadi Ginny sudah memilihkanmu gaun. Kurasa cocok untukmu." Kata Harry.

"Oh, baiklah. Terima kasih." Hermione menatap Draco lalu buru-buru masuk ke dalam. Draco dan Harry memandang Hermione menjauh.

"Jadi bagaimana?" kata Harry memecah keheningan.

"Sukses. Kau tenang saja. Nanti kutunjukkan." Kata Draco sambil menguyah permen karetnya. Harry menatap Draco jijik. "Kenapa memandangku seperti itu?"

"Kau ini sudah dewasa. Masih saja mengunyah permen karet. Seperti anak kecil saja." Cibir Harry. Draco tidak menanggapi Harry.


Ginny berkeliling apartemen Hermione. Hermione hanya duduk di sofa, memperhatikan Ginny yang terus berkometar tentang apartemennya.

"Tempat ini cukup bagus, tapi menurutku terlalu kecil, Mione." Ginny berkomentar sambil melihat kamar mandi.

"Untuk ukuran 3 orang menurutku lumayan, lagipula kau hanya tinggal sendiri." Harry tiba-tiba muncul dari ruang tamu. Ginny kaget melihat Harry.

"Kenapa kau bisa kesini?" Ginny menghampiri Harry. Hermione bangkit, juga menghampiri Harry.

"Kau lupa, dear? Sejam lagi kita ada jadwal foto!" Harry merangkul Ginny. Ginny membulatkan matanya, kaget. Hermione tersenyum geli. "Kau mau ikut Hermione?" tawar Harry.

"Aku menyusul saja nanti. Pergilah, Ginny, kalian bisa terlambat." Pasangan itu pamit pada Hermione. Hermione tersenyum senang melihat Harry dan Ginny. Hermione teringat curhatan Ginny sekitar 2 minggu lalu saat dia masih di rumah sakit.

Flashback

"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengikuti permintaannya? Tapi aku tidak mau…" Ginny menatap kosong gelas kopinya. "Lagipula aku tidak mungkin sering bertemu denganmu, Mione…" Hermione tampak berpikir.

"Tapi bukankah disana sangat bagus? Menurutku disana sangat indah. Coba saja. Kau bisa pulang kesini sekali-kali. Kau bisa menelponku jugakan. Tapi terserah padamu." Ginny masih tampak berpikir.

"Tapi…" Ginny membiarkan kata-katanya menggantung. Hermione menunggu dengan sabar.

"Sekali-kali aku akan kesana melihatmu." Kata Hermione. ginny masih terdiam.

"Baiklah, aku setuju." Kata Ginny akhirnya. Dia memasang senyum yang agak terpaksa.

"Jangan tampak terpaksa seperti itu. Kalau aku sudah boleh keluar nanti, aku akan mengajakmu ke pantai." Hermione mencoba menghibur Ginny. Ginny tersenyum senang.

Flashback End

Hermione, kembali tersenyum mengingat wajah Ginny yang langsung senang ketika Hermione ajak ke pantai. Hermione berjalan ke kamarnya bersiap-siap menyusul Ginny.


Dari jauh Hermione melihat Ginny dan Harry sedang bersiap untuk pindah lokasi fota pra wedding. Hermione berjalan mendekat.

"Hermione, kau baru saja sampai?" Ginny bertanya pada Hermione dari pantulan kaca. Hermione megangguk.

"Mau foto dimana?" Hermione menyentuh gaun yang akan dipakai Ginny.

"Ikuti kami saja. Draco sudah mengijinkan kau ikut mobilnya." Hermione kaget.

"Draco Malfoy?"

"Tentu saja, Draco mana lagi yang kita kenal?" Dari pantulan cermin tampak Harry memberi isyarat untuk berengkat. " Ayo Hermione kita harus berangkat ke Sungai Thames ." Hermione pergi mencari Draco. Dari jauh terlihat dia sedang duduk sambil meminum sekaleng soda. Dia hanya memakai kaos tipis di balik jasnya yang sengaja tidak dikancingkan, padahal udara lumayan dingin.

"Siap berangkat lagi? Kali ini kemana?" Draco bangkit dari tempat duduknya.

"Sungai Thames" kata Hermione. Draco berjalan memasuki mobilnya. Hermione mengikutinya. "Aku masih punya hutang denganmu. Total biaya perawatanku berapa?" tanya Hermione sambil memasang sabuk pengaman.

"Tidak usah bayar. Bagiku uang sebanyak itu hanya seperti membeli sekaleng soda. " Draco mengejar rombongan Ginny-Harry yang sudah berjalan duluan.

"Bagaimanapun kau sudah menyelamatkanku." Kata Hermione bersikeras.

"Sudah kubilang kau tidak usah bayar. Lagipula kau tidak mungkin mampu membayarnya." Draco menyalip mobil lain.

"Berapapun aku akan bayar, kalau biayanya terlalu besar, aku akan mencicilnya." Kata Hermione masih tetap memaksa.

"Kau ini keras kepala sekali. Kau mau bayar dengan apa? Daun?" Draco mendengus kesal. Draco memberhentikan mobilnya. Mereka sudah sampai di pinggir Sungai Thames.

"Kau sudah menolongku! Kalau kau tidak menolongku saat itu mungkin aku sudah kehabisan darah dan meninggal! Mana mungkin aku tidak berterima kasih padamu!" kata Hermione bersikeras.

"Kalau begitu tinggal ucapkan terima kasih bukan?" Kata Draco.

"Apa? Mana mungkin aku hanya mengucapkan terima kasih? Kau sudah menyelamatkan nyawaku!" Hermione menatap Draco.

"Sudah kubilang, aku tidak butuh apapun darimu!" kata Draco sambil memperhatikan Ginny dan Harry yang sedang bersaip lagi.

"Baik! Aku ingin berterima kasih padamu tapi kau menolaknya!"Hermione keluar dari mobil lalu berjalan menjauh mobil Draco. Draco mendengus kecil. Hermione menunggu Ginny selesai foto.

"Gin, aku harus pulang sekarang. Ada tugas penting yang harus kuselesaikan." Kata Hermione pada Ginny yang sedang melepas tatanan rambutnya.

"Kau baru saja datang, Mione, kau ingin pulang begitu saja? Aku baru ingin mengajakmu makan malam bersama. Baiklah, sampai jumpa. 5 hari lagi akan kujemput, berkemaslah!" Hermione mengangguk lalu pergi ke halte bis. Hermione duduk sendirian di halte. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti, kacanya diturunkan.

"Masuklah, akan kuantar kau." Hermione memandang sinis Draco. Bis datang, Hermione langsung naik, tidak mempedulikan Draco yang berteriak-teriak memanggilnya. Hermione menyenderkan kepalanya di bangku bis, sambil memasang headphonenya. Diam-diam Draco mengikuti bis yang ditumpangi Hermione. Hermione turun dari bis,lalu berjalan menuju apartemennya. Draco mengikuti dari belakang sampai Hermione menaiki tangga apartemen. Draco memandangi Hermione, yang menaiki tangga, hingga lantai paling atas.


Draco duduk di ruang kerjanya, pandangannya terfokus pada sebuah foto.

"Hermione Jean Granger, benarkah ini dirimu?" Draco menghela nafas lalu menyimpan foto itu di salah satu laci meja. Diraih ipadnya, disambungkannya ke kamera yang dia pasang di kantor Macnair. Terlihat Macnair sedang berbicara dengan sekretarisnya.

"Kau sudah cari orang yang menyusup masuk ke kantorku waktu itu?" kata Macnair tangannya terkepal erat.

"Belum. Dia menutupi cctvnya, cctv di dalam lift juga tidak memperlihatkan jelas wajahya. Di ruangan sekretaris juga tidak terlihat jelas, sebagian wajahnya tertutup topi." Kata sekretaris itu. Macnair tampak marah.

"Tingkatkan keamanan. Aku butuh pengawal tambahan. Dan persiapkan untuk acaraku minggu depan." Kata Macnair. Sekretaris itu mengangguk, lalu segera keluar. Draco tersenyum licik. Sebuah rencana terlintas di pikirannya.


Draco berada di tengah-tengah pemukiman yang terbakar. Orang-orang berlarian di sekelilingnya, berusaha menyelamatkan diri. Api menjalar ke segala benda. Draco hanya melihat dengan pandangan takut. Sebuah pohon yang terbakar hendak roboh ke arah Draco. Tiba-tiba seseorang memeluknya dan mendorongnya, berusaha melindunginya. Pohon itu jatuh mengenai Sang pelindungnya. Perlahan pelukan orang itu mengendur, dan orang itu jatuh. Draco menoleh melihat siapa yang menyelamatkannya. Terlihat wajah ibunya tersenyum hangat,sebelum sebuah pohon lain jatuh mengenai ibunya. Draco berteriak memanggil ibunya, air mata membanjiri wajahnya. Api bertambah besar. Sebuah tangan menariknya pergi. Draco berusaha memberontak,ingin berlari menyelamatkan Ibunya tapi orang yang meggendongnya terlalu kuat. Draco melihat orang yang menggendongnya,Ayahnya. Draco menangis sesunggukkan. Sang Ayah terus berlari, tanpa melihat arah dia berlari. Sebuah kayu yang terbakar mengenai lengannya. Tapi dia terus berlari, tanpa sadar, mereka berada di dekat sungai dengan arus yang deras. Sang Ayah terus berlari, hingga mereka tercebur ke dalam sungai. Draco terlepas dari pelukan ayahnya. Bersamaan dengan itu, sebuah kayu terbakar, jatuh mengenai kepala Ayahnya, setelah itu Ayahnya tidak terlihat lagi. Draco berusaha memanggil Ayahnya, tapi suara terjangan arus air mengalahkan suaranya. Draco berusaha menggapai sebuah batu. Tapi kepalanya malah terhantam batu lain. Dan semuanya gelap.

Draco terbangun dengan badan penuh keringat. Nafasnya terengah-engah. Draco berusaha megatur nafasnya, lalu pikirannya kembali pada mimpinya barusan. Sebuah kejadian mengerikan saat dia berusia 2 tahun yang menyebabkan Ibunya meninggal, sedangkan Ayahnya dinyatakan hilang. Draco menggemgam kalung dengan bandul sebuah logam berbentuk peluru degan ukiran berbentuk ular diatasnya. Setetes air mata jatuh di pipinya, mengingat senyum Ibunya untuk terakhir kali.


Hermione menyerahkan segelas kopi pada seorang pembeli. Hermione tersenyum ramah. Demi memenuhi kebutuhannya, Hermione terpaksa kerja sampingan. Dengan uang hasil kerjanya dia bisa terus hidup. Untung saja dia mendapat beasiswa, jika tidak, mungkin dia tidak bisa kuliah. Bagaimanapun, Hermione harus melakukan ini semua.

"Hermione saatnya kau pulang." Kata bos Hermione.

"Baik!" Hermione mengambil tasnya, lalu keluar café. Hermione berjalan melewati taman. Matanya menatap ke langit malam di atasnya. Hermione menggemgam sebuah gelang dengan manik mutiara. "Ibu, apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu." Hermione berhenti, dan menatap langit. Orang-orang melewatinya tanpa peduli. Tiba-tiba seseorang menabraknya, gelang mutiaranya terlepas.

"Maaf." Kata orang tersebut, lalu memungut gelang mutiara Hermione. "Ini milikmu." Hermione tersenyum, berusaha melihat siapa yang menabraknya. Orang itu langsung pergi. Hermione berusaha melihat orang tadi, tapi dia sudah lenyap diantara kerumunan orang. Hermione menunggu bis datang. Sebuah mobil berhenti di depannya. Hermione memutar matanya malas.

"Hei!" Hermione tidak menjawab, pura-pura tidak melihat Draco. "Hei, aku bicara denganmu!"

"Bisakah kau tidak menggangguku? Aku bosan melihatmu!" kata Hermioen ketus.

"Baik! Kalau tidak mau membayar hutangmu! Aku pergi!" Hermione buru-buru bangkit dan menahan mobil Draco. Draco mengangkat alisnya. "Minggir! Aku mau pergi!"

"Jangan! Berapa total hutangku?"

"Aku tidak butuh uangmu."

"Tadi kau bilang apa aku mau membayar hutangku apa tidak? Aku ingin membayar hutangku!"

"Baik, 1 juta pound." Kata Draco sambil menengadahkan tangannya.

"A-apa? Sebanyak itu?"

"Kau bilang kau ingin membayar hutangmu? Berikan uangnya!"

"A- boleh aku mencicilnya?" tanya Hermione agak malu.

"Kau ini bagaimana? Kau sudah selalu memaksaku, lalu sekarang kau ingin mencicil hutangmu? Apa kau gila?" Draco berkata dengan nada tidak percaya.

"Ayolah, biarkan aku mencicilnya…" bujuk Hermione dengan nada memelas.

"Aish. Begini saja. Kau harus lakukan apapun setiap aku minta, selama 1 bulan? Bagaimana?" Hermione tampak berpikir.

"Baiklah, setuju." Draco menyeringai. "Mulai kapan?"

"Sekarang, antarkan aku ke klub malam." Kata Draco sambil pindah ke jok belakang mobil. Hermione tidak beranjak dari tempatnya. "Cepat! Kau tidak mau?" Hermione menyetir ke klub malam terdekat. Draco langsung turun, "Kalau kau mau masuk, ada baju di bagasi, kau akan terlihat aneh dengan kemeja dan celanamu itu. Jangan pulang sebelum aku kembali kesini." Kata Draco lalu berjalan masuk ke klub. Hermione melirik punggung Draco.

"Ke dalam? Untuk apa? Aku tidak ada urusan disana." Hermione bergumam.

1 jam berlalu, Hermione tampak bosan. Dia keluar dari mobil dan membuka bagasi. Ada beberapa tas disitu. Hermione membuka salah satu tas, isinya kemeja pria. Lalu dibuka yang lainnya, di dalamnya ada pakaian wanita. Hermione mengambilnya, lalu memakainnya di dalam mobil.
Hermione berjalan masuk dengan sedikit risih. Suasana di dalam klub sungguh ramai. Beberapa pria meliriknya. Hermione mencari-cari sosok Draco.

"Hermione?" sebuah suara terdengar di belakangnya. Hermione menoleh.

"Ya? Kau siapa?" Hermione menatap orang di depannya dengan tatapan curiga. "Bagaimana tau namaku?"

"Kau tidak kenal denganku? Aku Ronald." Hermione memperhatikan orang di depannya lebih teliti.

"Ah! Jaksa Ronald Weasley! Sudah lama tidak bertemu! Kenapa orang sepertimu bisa disini?" Hermione tersenyum manis.

"Ada orang yang ingin kutemui. Dan kau? Kenapa ada disini? Gadis baik-baik sepertimu kenapa bisa disini?" orang bernama Ronald itu melihat pakaian Hermione.

"Ah,itu.. tidak, aku.. ada urusan sebentar disini." Hermione gelagapan menjawab pertanyaan Ron. Ron tersenyum, lalu melirik arlojinya.

"Kurasa dia sudah datang. Sampai jumpa, Hermione. Jaga dirimu." Kata Ron, dan berbalik pergi. Hermione masih tersenyum manis. Dia mengambil tempat duduk di bar. Seseorang duduk disampingnya. Hermione melirik orang itu dan raut wajahnya berubah kaget, lalu buru-buru bangkit sambil menutupi wajahnya. Hermione buru-buru mencari Draco. Tapi tidak terlihat sama sekali. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. Hermione berbalik.

"Kau masuk juga akhirnya. Ingin bersenang-senang, eh?" kata Draco dengan seringaiannya, matanya lalu melihat Hermione dari atas sampai bawah.

"Berhenti menatapku seperti itu! Ayo pergi!" Hermione berbalik hendak pergi. Draco menahan tangan Hermione.

"Kenapa buru-buru sekali? Ayolah bersenang-senang!" Hermione menatap Draco antara kesal dan panik.

"Ayolah, jangan disini! Ada-oh tidak! Sembunyi!" Hermione menatap ke arah belakang Draco dengan horor. Hermione buru-buru menarik Draco keluar. Saat mencapai pintu keluar, Hermione menarik Draco ke balik dinding. Beberapa orang berpakaian jas hitam masuk. Hermione menahan nafas. Sementara Draco memperhatikan orang-orang itu tajam. Draco sedikit kaget melihat salah satu orang yang berjas hitam itu. Setelah orang-orang itu sudah jauh, Hermione langsung menarik Draco ke mobil.

"Hei, hei! Kau ini sebenarnya kenapa?" Draco berdiri di samping mobil. Hermione tampak sedang mengatur nafasnya.

"Kau tahu? Orang-orang yang aku hindari tadi? Mereka anak buah teman Ayahku!"

"Memangnya kenapa? Bukankah lebih baik kau menyapanya?" potong Draco.

"Sekarang hubungan Ayahku dengannya buruk! Kalau aku menampakkan batang hidungku, dan dia melihat aku ada di dalam sana, mau diletakkan dimana muka Ayahku?" potong Hermione.

"Memangnya pekerjaan Ayahmu apa? Sampai harus terlibat dengan orang-orang seperti itu?"

"Kepala Kepolisian Inggris." Kata Hermione dingin.

"Itu baguskan? Kenapa kau tidak meminta dia untuk membayar hutangmu? Kenapa ekspresimu seperti itu? Seperti sangat membenci Ayahmu."

"Kenapa memangnya kalau aku membencinya?" Draco terperangah mendengar jawaban Hermione. Hermione menghela nafas, "Ayahku meninggalkan aku dan ibuku, saat aku berumur 7 tahun. Ibuku lalu terkena kanker dan meninggal. Sementara Ayahku menikah lagi dengan orang lain. Sejak itu aku mulai membencinya." Hermione menahan tangisnya. Draco tertegun melihat Hermione. Suasana menjadi hening.

"Maaf." Kata Draco dengan penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa." Hermione memaksakan sebuah senyum.

"Kau mau kemana?" tanya Draco sambil menyalakan mesin mobilnya. Hermione tampak tidak mengerti. "Bagaimana kalau ke klub yang lain?" tanpa persetujuan Hermione, Draco langsung tancap gas ke klub malam lainnya.

Mereka keluar dari mobil. Hermione berjalan beriringan dengan Draco. Draco mengajaknya ke meja bar. Hermione langsung memesan sebotol vodka. Draco hanya menatapnya datar. Dia sendiri memesan sebotol wine. Draco memperhatikan Hermione yang terus menuangkan vodka ke gelasnya. Hermione menambah 1 botol lagi, setengah botol hampir habis. Draco mengambil gelas Hermione dan menegak habis minuman itu.

"Hei, itu minumanku, Draco!" Hermione berusaha mengambil gelasnya. Tapi pandangannya mulai tak fokus, yang ditangkapnya malah tangan Draco.

"Kau sudah terlalu mabuk, ayo pulang!" Draco menarik tangan Hermione. Hermione berjalan sempoyongan. Draco memeluk Hermione agar tidak jatuh. Draco membawa Hermione ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, Draco menggendong Hermione ke salah satu kamar, dan membaringkan Hermione di kasur lalu menyelimutinya. Draco memandang Hermione sebentar, lalu menutup pintu.

Draco membasuh dirinya di bawah shower. Memikirkan cerita Hermione tadi. Draco keluar dari kamar mandi lalu keluar menuju ruang kerjanya. Tiba-tiba ipadnya berdering, Draco membukanya, dan terlihat wajah Harry.

"Hai, mate. Bagaimana? Kau sudah mengemasi barangmu? Aku akan menunggumu besok, pukul 2 siang. Aku tidak mau acara pernikahanku gagal." Kata Harry.

"Baiklah, aku mengerti." Draco mematikan video chatnya, lalu beralih ke laptopnya. Dilihatnya video hari ini dari kantor Macnair. Video itu terus berputar, hingga menampilkan, saat Macnair mengundang seseorang ke kantornya. Draco langsung duduk tegak.

"Duduklah. Jadi, aku langsung saja. Bagaimana hasil kerjamu sesuai yang aku perintahkan waktu itu?" tanya Macnair.

"Sesuai yang kau inginkan, uang yang kau ambil dari yayasanmu,sudahku transfer ke rekeningmu yang lainnya. Tenang saja, semua aman." Kata orang itu.

"Bagus. Ini upahmu. Jangan bocorkan pada siapapun." Kata Macnair sambil menyodorkan sebuah amplop. Orang itu menyeringai lalu undur diri. Draco tampak senang, melihat itu. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, Draco buru-buru mematikan ipadnya. Draco mendongak melihat siapa orang itu, raut wajahnya langsung berubah terkejut.

"Pa-Paman?"


Gimana-gimana? Kalau jelek tolong maklumi (^^")v hehehe

untuk : Bagaimana kalau sekarang? sudah betul?

untuk ochan: rated M ya? poke dah, ntar diganti,hehehe

untuk Lumostotalus: actionnya jangan setengah2? sipp siap diperbaiki^^

untuk guest: maaf ya telat apdet :(

untuk zean's malfoy: siapa ya? disini sudah terjawabkan?^^

maaf ya, yang reviewnya belum dijawab :( dan maaf kalau masih ada kesalahan pengetikkan atau salah kata^^ aku akan berusaha memperbaikinya =D berhubung juga karna dikerjakan dengan agak terburu-buru. fic ini hanya imajinasi semata.

Terima kasih atas reviewnya! selalu didengar olehku =D