DISCLAIMER : BLEACH © Tite Kubo

NOTE : "berbicara", 'berpikir'

Hm! Buat semua yang sudah repiew kemarin, baik yang user maupun bukan user. Makasih banyak sudah mau RnR fic saya ini.. -joged2-

Oke! Akhirnya chapter terakhir! Dan masih tetap diawali oleh beberapa baris syair lebay buatan saya! -dilempar kacang-

Yosh! Enjoy!!


My Rival, My Bestfriend

.

Walau musim berubah seiring waktu
Berbagai bencana besar melewati
Yang bisa menghancurkan semuanya
Tapi tidak dengan ikatan kami,
Ikatan yang disebut persahabatan

.

Di malam musim salju itu
Udaranya sangat dingin hingga membekukan tubuh
Kadang hingga tangan dan kaki terasa mati
Tapi tidak dengan hati kami,
Karena ada hangatnya persahabatan

.

Untuk Hari Persahabatan Author FFN
(31 Desember)

.

Chapter 3

[ Final ]

***

Perlahan-lahan langit sore menjadi gelap. Kedua orang itu terbaring di atas tumpukan salju, dengan luka-luka di kedua wajah mereka masing-masing akibat pertengkaran tadi. Keduanya tetap terdiam sambil merasakan perih dan dinginnya butir salju yang sedikit demi sedikit turun mengenai dan meleleh di atas wajah luka mereka.

"Padahal malam ini, malam terakhir musim salju ya? Semua orang menikmati penyambutan musim semi di hati mereka. Tapi kita malah..." kata Kira memulai pembicaraan.

Renji menghela nafasnya. "Kita malah tetap berdiam di musim salju, iya 'kan? Ikatan kita yang sekarang ini... Benar-benar dingin seperti musim salju."

"Tapi sebentar lagi musim semi akan datang, Abarai-kun," balas Kira yang terbaring di belakangnya.

"Begitu 'kah? Apa musim semi itu akan datang menghampiri kita?" tanya Renji yang tetap memandang ke atas dengan mata lelahnya.

Kehening menghampiri mereka lagi. Hanya terdengar suara orang-orang yang sedang menikmati rasa kebersamaan di dalam rumah. Malam tahun baru itu, semua kebahagian berkumpul menjadi satu. Tawa canda, suka-cita, dan kehangatan, semuanya berkumpul di antara setiap orang. Merayakan kedatangan musim semi. Akhirnya lelaki berambut pirang itu angkat bicara untuk merespon perkataan Renji.

"Kenapa tidak? Musim semi itu akan datang menghangatkan kita," ucap Kira pelan. "Abarai-kun... Maafkan aku... Aku yang--"

"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Kau tidak ada salah apa-apa, Kira," potong Renji. "Aku memang bodoh. Karena terlalu ingin mendahuluimu, aku sampai memukulmu. Maaf..."

"Jangan pikir hanya Abarai-kun saja yang bodoh di sini. Aku juga orang bodoh di sini karena tak mau mengalah darimu," bantah Kira.

"Tapi aku yang memulai semuanya, jadi aku yang salah dari awal. Hanya karena seorang gadis, aku jadi seperti ini. Bodohnya..." lirih Renji.

"Lebih tepatnya 'kita'. Jadi kau menyalahkan Hinamori-kun?" tanya Kira.

Renji menghela nafasnya, "Ck, bukan begitu. Dia sama sekali tidak salah... Kita yang terlalu egois."

"Ya... Dan keras kepala," lanjut Kira singkat.

Renji mendelik, "Kau mengejekku ya?"

Kira hanya tertawa pelan, "Hahaha, Abarai-kun kan memang keras kepala."

"Kau yang lebih keras kepala, Kira!" balas Renji tertawa lebar.

Selang beberapa detik, suara tawanya bercampur dengan tawa teman yang sedang bersamanya. Mereka berdua tertawa bersama lagi di saat itu juga.

"Kira..." panggil Renji pelan. Pandangan matanya tak lepas dari langit hitam yang sedang menjatuhkan butiran salju. "Kita ini masih sahabat 'kan?" tanya Renji.

Lelaki berambut pirang itu terdiam sesaat.

"Katanya, ikatan sahabat itu tidak selamanya harus selalu damai. Ikatan itu sama seperti musim, ada saatnya ikatan di antara sahabat yang akan berubah jika sudah waktunya, menjadi kawan atau rival, berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Tapi yang pasti, setelah musim salju, pasti ada musim semi," ucap Kira yang tetap menatap langit hitam di atasnya.

"Jadi... Aku yang membuat ikatan kita semakin memburuk? Membuat ikatan kita tetap berdiam di musim dingin?" tanya Renji dengan nada bersalah.

Kira tersenyum. "Bukan maksudku menuduhmu, Abarai-kun. Maksudku, kita bisa saja menyambung ikatan kita yang hampir terputus ini kembali menjadi ikatan yang utuh."

"Maksudmu mengganti musim salju dengan musim semi dalam ikatan kita?"

"Benar... Hahaha, Abarai-kun tak berubah. Bodohnya tetap sama," ledek Kira.

"Sialan," dengus Renji.

"Oh ya, aku belum menjawab pertanyaan yang tadi. Sudah tahu 'kan? Ikatan persahabatan kita tidak terputus gara-gara hal tadi. Dan yah! Kita ini sudah jelas masih sahabat, Abarai-kun," jawab lelaki berambut pirang itu dengan senang.

Sebuah senyum lega muncul di wajah Renji, "Syukurlah... Aku pikir kau tak akan mau berteman denganku lagi. Kau tahu? Walaupun sekarang seluruh tubuhku sakit dan kedinginan, tapi hatiku senang dan hangat saat mendengar pengakuanmu tadi."

Kira pun ikut tertawa, "Baguslah kalau begitu. Apa pukulanku terlalu keras tadi?"

"Hahahaha, lumayan," balasnya dengan tertawa. Renji bangkit dari tumpukan salju yang dia tiduri tadi dan berdiri di samping Kira yang masih terbaring di atas jalan, "Tapi.. Gara-gara aku, Hinamori sampai merasa bersalah."

"Jangan merasa bersalah sendirian. Dalam hal ini, aku juga yang salah," ucap Kira sambil memandang Renji yang di atasnya.

"Kita sama-sama melakukan kesalahan. Kau tahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya 'kan?" tanya Renji sembari mengulurkan tangan kanannya pada lelaki berambut pirang yang di bawahnya.

Kira menggapai genggaman tangan yang diulurkan Renji dan bangkit dari tidurnya. Kedua telapak tangan itu saling menggenggam erat, saling mengerti. (author pingsan)

"Aku tahu, Abarai-kun. Saatnya mengganti musim salju menjadi musim semi, bukankah begitu?" balas lelaki berambut pirang itu. Renji hanya tersenyum mendengar pernyataan sahabatnya.

Kelihatannya, butiran salju putih yang dingin itu sudah berhenti turun dari langit hitam.

***

Seorang gadis sedang memandang cermin di hadapannya, melihat wajahnya terlihat sedikit pucat dengan mata yang sembab.

"Ini semua salahku... Gara-gara aku, persahabatan mereka menjadi rusak..."

TING TONG

Bel pintu rumahnya yang khas berbunyi.

"Itu pasti Shiro-chan... Aduh, kenapa harus sekarang? Mataku masih merah."

Hinamori cepat-cepat menghapus air matanya yang sempat mengalir tadi. Memikirkan alasan yang bisa menutupi penyebab matanya yang bengkak itu.

TING TONG

"S-Sebentar!"

Gadis itu menuju pintu, memasang senyum paksa di wajah sedihnya, dan membuka pintu rumahnya itu.

"Maaf, aku kelamaan mem-...." ucapannya langsung berhenti ketika melihat tamu-tamu yang tak terduga. "K-Kalian..."

Kedua tamu itu hanya memasang senyum ramah dengan wajah mereka yang masih luka dan memar, bahkan masih ada noda darah yang membekas dengan jelas di kedua pipi mereka.

"Maaf kalau kau terpaksa melihat wajah kami lagi. Kami datang untuk..." Renji memulai pembicaraan.

Renji dan Kira pun menunduk bersamaan di hadapan Hinamori, "Maafkan kami!!"

Gadis itu tediam. Kaget melihat apa yang dilakukan kedua pemuda yang di hadapannya.

"Maaf membuatmu merasa bersalah, Hinamori-kun. Maaf..." ucap Kira dengan nada penyesalan.

Renji pun mengikuti, "Maaf, ini semua kesalahan kami."

"Maaf, kami benar-benar minta maaf," tambah Kira lagi.

Ucapan maaf dari kedua lelaki itu membuat mata gadis itu berkaca-kaca lagi. Butir-butir air matanya yang masih terbendung, kini mengalir deras membasahi kedua pipinya. Dia langsung memeluk kedua lelaki yang berdiri di depannya sambil menangis sekeras-kerasnya.

"H-Hinamori-kun??" Kira kaget karena mendadak dipeluk.

"Justru di sini aku yang salah! Maaf... Gara-gara aku kalian berdua..."

"Sudahlah... Tak akan ada yang memisahkan ikatan kami berdua. Betul kan, Kira?" tanya Renji dengan senyum girangnya.

Kira mengangguk pelan, "Benar sekali, Hinamori-kun tak perlu merasa bersalah."

"Tapi... Aku ini..." Hinamori masih saja menuduh dirinya.

"Sudahlah! Tak ada yang perlu mengungkit kejadian yang sudah lalu! Semua masalah sudah berakhir, sekarang ini adalah awal, bukankah begitu?" Renji memeluk erat kedua temannya itu.

Kira dan Hinamori tersenyum dan mengangguk pelan. Ketiganya saling tersenyum hangat, sekaligus merasakan kehangatan di setiap pelukan mereka bertiga.

"Sahabat itu, rasanya hangat seperti musim semi," ujar Hinamori yang masih memeluk kedua lelaki itu. (author ngiler)

"Hahaha, aku rasa musim semi itu sudah menghampiri kita semua!" kata Renji dengan tawa bahagianya. Kira dan Hinamori pun ikut tertawa, merasakan kebahagiaan yang sama.

Tak lama ketiganya melepaskan pelukan dan masih terdiam dengan senyuman hangat di wajah.

"Emm... Sebentar!" Renji menarik Kira menjauh dari Hinamori beberapa senti.

"Aku rasa, sekarang saatnya aku mengambil hati Hinamori. Kau jangan mengganggu," bisik Renji pada Kira. Lelaki berambut pirang itu malah tersenyum iblis.

"Kalau Abarai-kun terlalu lama, aku yang maju duluan," ujar Kira yang spontan langsung berhadapan dengan Hinamori. "Hinamori-kun, maukah kau--..."

"Kira! Seharusnya aku duluan yang nembak dia!" potong Renji.

"Kalau aku ditolak, Abarai-kun bisa jadi back-up-nya!" (*)

"Apa? Kau pikir kita ini main Counter Strike??" balasnya heran.

Mereka berdua memulai adu mulut lagi, tapi kali ini mereka terlihat lucu. Hinamori hanya tertawa kecil melihat perdebatan mereka berdua.

"Ehem, ehem!"

Seseorang bedehem cukup keras, sehingga membuat ketiga orang itu terdiam dan menuju ke sumber suara.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya lelaki berambut putih yang mendekati mereka. Dia menjadi khawatir ketika melihat kedua mata gadis itu berkaca-kaca, "Hinamori? Kenapa kau menangis??"

"S-Shiro-chan! Ini hanya...." Hinamori mencoba menjelaskan.

"Shiro-chan? Adikmu?" tanya Renji langsung.

Lelaki berambut putih itu mendelik, "Adik?!"

"Maaf, adik kecil. Kami hanya ingin menemui kakakmu sebentar," tambah Kira.

"Adik kecil?! Kakak??"

"Hinamori, aku baru tahu kalau kau punya adik sebesar kacang seperti ini," kata Renji santai.

"Adik sebesar... K-Kacang...??" Muncul urat-urat di ujung dahi lelaki itu, bahkan urat-urat itu terlihat mau putus.

Hinamori sweatdrop, "Ano... Abarai-kun, Kira-kun. Dia bukan adikku... Dia ini... Pacarku."

Kedua sahabat itu terbengong sesaat mendengar perkataan Hinamori, "APAAAAAAAA??! PACAR??!"

"Grrr... AKAN KUBUNUH KALIAN BERDUAAAA!!!"

Sang penguasa es kembali meraung pada saat itu juga. (?)

.

15 menit kemudian...

"Maaf... Shiro-chan tak suka dibilang anak kecil," kata Hinamori sambil menempelkan plester pada wajah Kira.

"Aduh!! Pelan-pelan, Hinamori-kun..." rintih Kira saat Hinamori mengobati luka di wajahnya.

"ADOOOGHH!!! Pelan dikit dong, Hitsugaya-san! Sakit!! Tubuhku sudah luka, ditambah bogem matang darimu! Jangan tambah lagi!" teriak Renji kesakitan yang wajahnya sedang diobatin (baca: disiksa) oleh Hitsugaya. Sementara Kira dan Hinamori hanya sweatdrop melihatnya.

Lelaki pendek itu mendengus kesal, "Ini untuk perkataanmu yang menghinaku tadi!"

"Maaf, Hitsugaya-san... Kami tak tahu kalau kau ini hampir seumuran dengan kami," ucap Kira pelan yang tak mau juga disiksa olehnya.

"Sudah! Lupakan saja! Walaupun aku masih merasa kesal!" balas Hitsugaya dengan nada marah.

'Nggak tulus nih, minta maafnya...' bisik Renji dan Kira di dalam hati secara bersamaan.

Selesai wajah kedua lelaki itu diobati, Hinamori membuatkan susu cokelat hangat untuk semua orang yang berada di rumahnya. Mereka semua sama-sama menikmati kehangatan susu cokelat dan keceriaan di rumah itu.

Tidak jauh dari ruangan tempat Renji dan Kira berada...

"Hinamori," panggil lelaki berambut putih.

Gadis yang dipanggil itu menoleh, "Ya?"

"...Kau pasti akan kecewa mendengarnya. Begini... Aku juga tak sempat mendapatkan tiket yang kau inginkan itu," ucap Hitsugaya pelan. "Maaf..."

Hinamori tersenyum dan menggeleng pelan kepalanya, "Tidak apa-apa, Shiro-chan. Kita juga bisa melihatnya dari kejauhan."

Hitsugaya hanya bisa membalas senyuman gadis yang kelihatan kecewa di hadapannya itu.

"Hey, Kira! Kau dengar apa yang mereka bicarakan 'kan?" tanya Renji sambil berbisik. Diam-diam Renji mendengar pembicaraan antara Hitsugaya dan Hinamori.

Kira mengangguk, "Tentu saja aku dengar. Jangan bilang kalau Abarai-kun berpikiran yang sama denganku."

"Baguslah kalau sama! Begini....." Renji pun membisikkan suatu isyarat pada Kira.

.

"Kalian sudah mau pulang?" tanya Hinamori pada kedua lelaki yang berdiri di mulut pintu rumahnya.

"Yaaa, kami tak mau mengganggumu terlalu lama," ujar Renji yang merasa mengganggu dua orang di rumah itu.

Gadis itu tersenyum, "Kalian sama sekali tak mengganggu, Abarai-kun, Kira-kun."

"Baiklah, kami mau pamit... Lagian..." Kira meraih tangan kanan Hinamori dan meletakkan selembar tiket ke tangan Hinamori. "Ini, terimalah hadiah kecil dari kami, Hinamori-kun."

Hinamori kaget, kedua bola matanya yang berwarna hazel itu membulat, "I-Ini... Tiket pertunjukan kembang api di gedung Seireitei... Kenapa...?"

"Aku rasa benda itu tak ada gunanya bagi kami, jadi kami putuskan untuk memberikannya pada Hinamori-kun," jelas Kira. Renji hanya mengangguk setuju.

"Lagian kau pasti ingin pergi barengan dengan si cebol putih itu kan?" goda Renji dengan nyengir baboon-nya.

"I-Itu...." Hinamori tertunduk malu.

"Baiklah, cepat pergi, masih ada waktu untuk ke sana. Ayo, Kira, kita pergi," ajak Renji sembari melangkah keluar area rumah Hinamori.

Kira menundukkan kepalanya, "Kami permisi dulu, Hinamori-kun."

Gadis itu memandang kedua lelaki itu melangkah meninggalkan pekarangan rumahnya, dia pun berteriak, "A-Arigatou gozaimasu, Abarai-kun, Kira-kun!!"

Melihat bayangan kedua lelaki itu sudah menghilang. Hinamori langsung memasuki rumah dan memeluk erat lelaki mungil yang masih di rumahnya.

"Shiro-chan!!"

"Woi! H-Hinamori!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Hitsugaya kaget sekaligus merasakan semua aliran darahnya naik ke kepala. (baca: mendidih malu)

"Shiro-chan! Lihat apa yang kudapat!!" teriaknya dengan girang sambil menunjukkan tiket. Lelaki berambut putih itu hanya tersenyum senang pada Hinamori.

***

Di perjalanan...

"Maaf ya Kira, aku seenaknya menyuruhmu memberikan tiket itu padanya. Padahal itu tiket pertunjukan langka yang ingin kau lihat," ucap Renji yang merasa bersalah.

"Tidak masalah, Abarai-kun. Aku memang berniat memberikan tiket itu padanya. Yang penting, Hinamori-kun merasa senang sekarang," ujar Kira tertawa kecil.

"Bukan hanya dia saja yang senang," bantah Renji.

"Hm?"

"Aku juga senang karena kau masih ada menemaniku sebagai sahabat terbaikku, Kira!" Renji tertawa dan memukul pelan pundak temannya itu.

"Aggh!! Pelan-pelan, Abarai-kun! Tubuhku masih terasa sakit," rintih Kira sambil mengelus-ngelus pundaknya.

"Ehhh, maaf, maaf!"

Lalu tiba-tiba sebuah sepeda kurir berhenti di depan mereka berdua.

"Cih! Kalian di sini rupanya, aku menunggu kalian dari tadi," kata lelaki berambut jabrik yang mengendarai sepeda itu. Orang itu adalah...

"Hisagi-senpai!" serentak Renji dan Kira.

Hisagi memandangi wajah kedua pelangganan setianya itu, "Ada apa dengan wajah kalian berdua? Barusan berkelahi ya?"

"Ini... Hanya karena masalah kecil, tak begitu penting," jawab Kira singkat.

Renji hanya terdiam dan mengganti topik baru, "Hisagi-senpai mencari kami ya?"

Hisagi mendengus, "Ya iyalah! Kalian tidak melupakan sesuatu di toko-ku? Aku kelamaan menunggu kalian berdua!"

Kedua orang itu berpikir sesaat.

"Oh iya! Aku lupa mengambil pesananku di toko-mu!" ucap Renji sambil menepuk jidatnya.

"Aku juga lupa, Hisagi-senpai," tambah Kira.

Renji bingung. "Kau juga menitipkan sesuatu di sana?"

"Haa... Begitulah," jawab Kira sambil menggaruk kepalanya.

'Jadi ini maksud Nanao-san? Hmph, benar-benar mirip,' bisik Renji dalam hati yang mengingat perkataan Nanao sebelumnya.

"Dasar! Kalian berdua ini sama saja linglungnya! Jadinya aku yang kerepotan!" gerutu Hisagi sembari turun dari sepedanya.

Renji nyengir baboon, "Maaf deh, kami akan ke tokomu sekarang."

"Tidak usah, tadinya aku mau menunggu. Tapi karena Nanao nggak mau nunggu di toko kelamaan, jadinya dia menyuruhku mengantar barang kalian ke rumah," jelas lelaki berambut jabrik itu. "Tapi untunglah aku bertemu kalian berdua ada di sini. Ini."

Hisagi menyerahkan dua bungkusan yang dibawanya pada masing-masing pemiliknya. Kedua lelaki itu pun menerima bungkusan yang mereka beli kemarin.

"Terima kasih, Hisagi-senpai!" serentak mereka berdua.

"Oke, tugasku sudah selesai. Aku mau pulang dulu." Lelaki berambut jabrik itu membalikkan sepedanya.

"Hee, enak nih... Hisagi-senpai sudah ada yang nungguin di rumah," goda Renji.

"Mau nonton acara kembang api di rumah bersamaan?" tambah Kira lagi.

"Eghh! Kalian mau bikin aku malu di sini ya?! Itu bukan urusan kalian!" Hisagi memalingkan mukanya yang sudah merah seperti sambal terasi.

Renji dan Kira hanya tertawa geli melihat tingkah senpai mereka itu. Hisagi hanya mendengus kesal, sekaligus malu.

"Ya sudahlah, selamat tahun baru untuk kalian berdua, jangan berkelahi lagi!" ucap Hisagi yang mulai menganyunkan sepedanya.

"Selamat tahun baru juga, Hisagi-senpai!" balas mereka berdua bersamaan lagi.

***

Suasana kembali hening di antara mereka berdua saat bayangan Hisagi menghilang dari pandangan mereka berdua, sampai akhirnya Renji melempar sebungkus paket pemberian Hisagi tadi ke arah muka Kira dengan tiba-tiba.

"Hei!! Apa-apaan ini Abarai-kun?!" kagetnya.

Kira menatap paket yang tadi dilempar Renji. Sebuah jaket berwarna biru yang terlipat dan terbungkus rapi dalam bungkusan putih bening.

"Ini... apa?" tanya Kira kebingungan.

"...Itu hadiah tahun baru untukmu. Aku bingung mau memberimu apa, terserah mau kau pakai atau tidak, yang pasti 'Selamat Tahun Baru'. Aku harap persahabatan kita akan tetap terus berjalan dan tak pernah berhenti sampai kapan pun," kata Renji sambil menggaruk kepalanya.

Lelaki pirang itu menatap heran pada orang yang di sampingnya. Dia pun tertawa lebar, "Huahahaha!! Abarai-kun sok pidato romantis!!!"

"R-Romantis?! Kau pikir aku menyimpang??" Tampang Renji langsung menjadi merah seperti rambutnya.

"Ahahaha!! Bukan seperti itu maksudku! Aku masih straight, Abarai-kun! Aku hanya kaget kau akan memberikanku hadiah di malam tahun baru ini. Terima kasih banyak, Abarai-kun." Kira berusaha menahan tawanya.

"Cih, kau bikin aku malu saja, Kira!" gerutu Renji memalingkan wajahnya.

"Bercanda, Abarai-kun. Oh ya... Aku juga ingin memberikan sesuatu pada Abarai-kun."

Kira mengarahkan sebungkus pesanan yang diberi oleh Hisagi tadi. Renji menerima bungkusan itu dan segera membukanya. Sepasang sarung tangan tebal berwarna merah.

"Ini... Sarung tangan..."

"Ya iyalah, masa pisang?" canda lelaki pirang itu. "Kemarin aku melihat sarung tangan Abarai-kun sudah tidak layak pakai. Jadi aku belikan sarung tangan ini sebagai hadiah tahun baru."

Renji terharu mendengar kepedulian sahabatnya itu, "Terima kasih banyak... Kira," ucapnya senang.

Di saat itu juga, suara letusan kembang api terdengar. Pandangan kedua lelaki itu mengarah ke langit hitam yang mulai dihiasi berbagai macam bentuk dengan warna yang indah.

"Acaranya sudah dimulai rupanya," ujar Kira.

"Jadi... Apa harapanmu untuk tahun ini, Kira?" tanya Renji sembari melanjutkan langkahnya.

Kira terdiam sesaat, menyamakan langkah kakinya dengan Renji, lalu mengeluarkan senyumnya, "Tidak sulit, harapanku sama denganmu, Abarai-kun. Aku berharap ikatan persahabatan kita tak 'kan pernah berhenti sampai kapanpun."

Renji tersenyum lebar, "Aku senang kau mengatakannya, Kira. Terima kasih... Karena masih mau bersahabat dengan orang keras kepala seperti aku ini."

"Ahahaha, sama-sama, Abarai-kun," balas Kira dengan tawa kecilnya.

Keheningan muncul di antara langkah mereka berdua. Tapi suara langkah kaki dan letusan kembang api masih menemani.

"Oi, Kira..." panggil Renji. "Kau mau nonton Fade to Black ga?"

"Movie baru itu? Mau dong!!" jawab Kira bersemangat.

"Kita nonton bareng di rumahku yuk!" ajak Renji, lalu dia berlari meninggalkan Kira setengah jalan dan berteriak, "Yang terakhir tiba di rumahku, dia harus beli makanan kecil!!"

Temannya yang pirang itu kaget, "Apa? Aku nggak akan kalah, Abarai-kun!!"

Dia pun berlari mengejar sahabatnya yang sudah selangkah di depannya. Tampak kedua sahabat itu berlari, saling mengejar layaknya anak-anak yang bermain saat musim semi, diiringi tawa pada masing-masing wajah mereka dan tentu saja, ada kehangatan musim semi di dalam hati mereka. Selamat Tahun Baru, Sahabat.

***

Katanya, benang yang terputus itu tak bisa dipakai dan tak berguna lagi.
Tapi bagi kami, benang yang putus bisa kami sambung kembali.
Menjadi satu ikatan benang yang utuh.
Ikatan yang disebut persahabatan.

= The End =


A/N:

Bah! Ini kelihatan seperti fic untuk Tahun Baru.. -swt-

Hwkwkwkw, ada aroma yaoi nya.. Tapi di mana ya? -dijotos-

Semoga saja persahabatan kita semua tidak putus sampai kapanpun yea, walau ada hambatan dan masalah apapun, kita semua tetap saling mendukung dan mempercayai. :)

Oh iya, saya minjem sebutan "kacang" dari FMA. Nanya!! Manga-nya dah mau tamat ya? (crying)
Ahahaha, maaf ya Ed, pinjem bentar julukanmu. Sebutan itu juga cocok buat Hitsugaya soalnya... =)) -mentang2 seiyuu nya sama-

*digorok Hitsugaya*

(*) Back-up, Counter Strike
Kalau dalam perang, back-up itu pelindung orang yang di depan. Jadi kalau orang di depan K.O, maka orang yang back-up bakal maju menggantikannya. Counter Strike itu salah satu game online, main tembak-tembak, tau ga? Kayak Densus 88 vs Noordin CS. (lho)

Karena ini final chap, saya bales repiew yang nggak log in..

~Kaori a.k.a Yama
Iya, warna rambutnya cokelat kehitaman tuh. Coba deh nonton lagi. :D
Makasih buat repiewnya ya...

~Aihara Zala
Pisang itu enak, saya juga suka. Tapi saya bukan yang di tipi itu lho! *keinget pembicaraan waktu itu*
Makasih buat repiewnya, neng...

~Ruki_ya
Hahaha, itu hanya egois sesaat. Ini juga udah baikan. Makasih buat repiewnya ya...

~Kurugi Yuki
Wah, sabar! Entar kalo dia tambah jelek gimana? -ditabok Renji-
Makasih buat repiewnya ya...

Oke, terima kasih banyak buat semuanya karena masih mau mampir ke sini sampai chapter terakhir. Selamat Hari Persahabatan!

Yosh! Review, please?