Bagi yang nungguin, (pede amat gue!) maaf ya updatenya lama! Karena tugas yang bejibun jadi baru sempet update deh! Seperti yang pernah diusulin sebelumnya, ini dia flashback waktu Misaki pertama kali ketemu Sebastian. Enjoy!
Disclaimer: Maid-sama dan Kuroshitsuji bukanlah punya saya tapi punya Hiro Fujiwara sensei dan Yana Toboso sensei. Tapi Usui dan Sebastian jelas-jelas punya saya. *kabur sebelom disambit*
That Butler, is the Maid Servant
Part 3: Memories
"Selamat tinggal, ketua."
Itu bukan yang pertama kalinya seseorang mengatakan selamat tinggal pada Misaki.
Saat dia masih kelas 3 SMP, saat situasi masih damai, saat ayahnya adalah sosok yang amat dia harapkan, hormati, dan juga sekaligus menjadi sandaran hidupnya, saat itulah pertama kalinya dia menerima ucapan selamat tinggal.
Ayahnya orang yang sangat baik. Saking baiknya, dia bersedia jadi jaminan temannya yang berhutang banyak pada rentenir. Dan saat sang teman kabur entah kemana, keluarga mereka jadi diteror oleh para rentenir itu.
Setiap malam begitu mengerikan. Gedoran di pintu, kaca jendela yang pecah. Setiap hari mereka harus meringkuk di bawah meja agar tidak terkena lemparan batu dari para lintah darat tersebut.
Suatu hari, saat pulang sekolah, Misaki melihat ayahnya berpakaian rapi, seperti yang biasa dia pakai saat masih bekerja dulu. Misaki senang. Dipikirnya ayahnya sudah kembali mendapat pekerjaan yang akan mengeluarkan mereka dari situasi buruk ini.
Tapi dengan segera dia menyadari situasinya aneh. Ibunya berdiri di samping meja ruang tamu sambil terisak sementara ayahnya yang selalu berwajah riang walaupun seberat apapun masalah yang dihadapi mereka kini berwajah serius. Suasana hening. Hnaya bunyi jarum jam yang nyaring menggema diseluruh ruangan.
"Misaki…"
Ayah Misaki berjalan menghampiri putri sulungnya sambil tersenyum lemah. Ekspresi lelah yang kental terpancar di wajahnya. Tiba-tiba saja Misaki merasa ayahnya terlihat bertambah tua sepuluh tahun.
"Maafkan ayah."
Kenapa? Kenapa ayah minta maaf?
"Kalau ayah tetap ada disini kalian akan makin menderita."
Tidak! Kenapa ayah sampai berpikir begitu? Memang kita kesulitan, tapi aku sama sekali tidak berpikir kalau kita menderita!
"Ayah akan berusaha untuk mencari cara agar kita lepas dari hutang ini."
Apa? Apa ayah... akan pergi?
"Sampai saat itu, tolong jaga ibumu dan Suzuna ya?"
"Jangan! Jangan pergi, ayah!"
"Selamat tinggal, Misaki."
Kadang Misaki masih bermimpi buruk tentang hari itu, sampai dia bertemu dengan Usui. Entah kenapa saat bersama Usui, mimpi buruk itu tak pernah muncul lagi. Awalnya dia bingung kenapa hal itu terjadi tapi lama-lama dia sadar kalau alasannya adalah karena dia telah menemukan orang yang ia percayai lagi. Orang yang dia percaya tak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi.
Tapi akhirnya Usui juga pergi.
Misaki adalah orang yang tegar. Dia bangga akan hal ini. Bertahun-tahun dia menjadi penyokong utama keluarganya setelah ayahnya pergi. Dia belajar keras agar dapat beasiswa supaya tidak merepotkan ibunya yang lemah, dia melatih fisiknya agar bisa melindungi keluarganya. Tak ada yang biasa membuatnya putus asa. Tak ada yang bisa mengacaukan hatinya. Kecuali kepergian Usui Takumi.
Tentu saja Misaki tidak memperlihatkan perasaanya pada siapapun. Dia tetap gadis rajin yang bisa diandalkan kapanpun oleh siapapun. Tapi bagi yang mengenalnya dengan baik bisa melihat perubahannya. Bagaimanapun juga Misaki bukan orang yang pandai berbohong.
Sikapnya pada laki-laki (secara umum, kecuali pada kenalan-kenalannya seperti Kanou, Yukimura, trio payah, Hinata, dan Aoi) kembali dingin seperti dulu, setelah ayahnya pergi dan sebelum Usui terlibat dalam kehidupannya. Dia berhenti dari Maid Latte dengan alasan ingin konsen sebagai asisten profesor. Dia jadi lebih tertutup, bahkan dengan keluarganya.
Semua karena Usui Takumi.
Diam-diam Misaki hancur. Karena tidak mau ada yang melihat hal itulah dia menjauh dari semua orang dan memutuskan untuk tinggal sendiri diluar kota. Tiap malam dia dihantui oleh dua mimpi buruk: kepergian ayahnya dan kepergian Usui. Setiap bangun tidur dia menangis dan gemetar. Tapi demi hidupnya dan keluarganya dia berusaha tegar dan semangat, tidak menyadari kalau usahanya menutupi perasaan itu seperti menunda bom waktu yang bisa meledak setiap saat.
Suatu malam, Misaki pulang ke apartemennya agak larut. Hari itu dia baru saja lembur memeriksa lembar ujian mahasiswa yang diajar profesor yang menjadi atasannya. Saking lelahnya, dia menghempaskan tubuh ke atas kasur tanpa ganti baju, bahkan tanpa buka sepatu.
Tik, tik, tik. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar, menggema keseluruh kamar. Walau sangat lelah entah kenapa matanya tak bisa terpejam. Dia terus berbaring tanpa bergerak. Matanya yang berat berulang kali menutup dan membuka.
TIK, TIK, TIK. Lama-lama bunyi jarum jam semakin keras. Jantung Misaki berdebar kencang menyakitkan. Suara itu mengingatkannya pada sesuatu yang mengerikan. Pandangannya mengabur. Tahu-tahu saja dia melihat sebuah pemandangan yang familiar. Rumahnya. Sosok ibunya yang menangis di latar belakang. Dan wajah ayahnya yang mendekat, terlihat sepuluh tahun lebih tua…
"Selamat tinggal, Misaki."
Lalu pemandangan berubah. Suara detik jarum jam berubah menjadi gemerisik daun musim gugur. Kali ini wajah Usui membayang di hadapannya. Ekspresi wajahnya terluka.
"Selamat tinggal, ketua."
Tiba-tiba saja Misaki gemetar begitu hebat dan menangis keras. Sambil menangis dia mencengkram rambutnya dan bertanya pada dirinya sendiri berulang kali. Kenapa? Kenapa mereka pergi? Kenapa mereka meninggalkan aku? Aku tidak meminta mereka melakukan apapun untukku. Aku hanya ingin mereka ada disisiku. Apa aku begitu lemah sampai mereka harus pergi demi melindungiku?
Saat itulah tanpa sengaja dia menyenggol tas yang dia lemparkan begitu saja di ujung tempat tidur saat pulang tadi. Sebuah buku tebal berwarna abu-abu gelap jatuh keluar dan membuka tepat di halaman pertengahan. Huruf indah dan kuno berwarna ungu gelap terlihat jelas dari tempat Misaki berbaring.
The Guide to Call a Demon (Panduan Untuk Memanggil Iblis)
.
.
.
Profesor yang menjadi atasannya adalah dosen ilmu sosial yang tertarik pada okultisme dan hal-hal supernatural lainnya. Saat liburan hobinya adalah meneliti dan mendatangi tempat-tempat yang konon memiliki sejarah tak biasa dan gaib. Sebelum Misaki menjadi asistennya, dia mengambil cuti dua bulan dan pergi ke Inggris untuk menyelidiki hantu Tower of London. Dari penjaga disana dia mengetahui rumor tentang bangsawan Inggris zaman dulu yang konon pernah memanggil iblis, yang tinggal di villa di pinggir kota London. Profesor itu memutuskan untuk pergi ke tempat itu.
Tempat itu, yang dulunya pasti merupakan sebuah vila yang mewah, tampak seperti reruntuhan. Saat sedang menyelidiki reruntuhan itu dia menemukan sebuah buku yang nyaris tidak hancur sama sekali. Buku itu dia berikan pada Misaki sebagai tanda terima kasih telah bersedia lembur menemaninya.
Misaki bangkit dari tempat tidurnya dan meraih buku itu. Ada sesuatu yang menariknya untuk membaca buku yang terkesan misterius dan, entah kenapa, agak mengerikan itu.
Iblis itu ada.
Misaki mengernyitkan dahi membaca kalimat pertama buku harian itu. Apa maksudnya ini?
Mungkin semua orang akan mengecamku kalau mereka tahu kalau aku menyerahkan jiwaku pada iblis untuk mendapatkan semua yang kumiliki. Kekayaan, kehormatan, kepercayaan dari Yang Mulia Ratu…tapi aku tidak peduli. Karena aku telah membayar mahal untuk apa yang kudapatkan dari iblis itu.
Nyaris saja dia menjerit membaca paragraf kedua bagian ini. Memanggil iblis? Memanggil iblis… sungguhan?
Aku tidak akan bilang ini adalah jalan yang baik. Bagi kalian yang ingin hidup normal dan damai, tutup buku ini. Tapi semua orang yang bisa membaca buku ini adalah orang yang telah kehilangan nyaris segalanya dalam hidup, seperti aku. Jadi bagi kalian yang ingin mendapatkan segalanya dengan harga yang mahal, akan kuberitahukan cara agar kalian dapat memanggil iblis yang bisa mengabulkan semuanya.
Tiba-tiba saja Misaki mengerti kenapa dia merasa begitu tertarik pada buku ini. Buku ini menawarkan 'sesuatu' padanya. Menawarkan 'jawaban'.
Misaki bukan tipe orang yang percaya takhayul seperti atasannya.
Tapi saat itu dia sedang merasa sangat putus asa dan melupakan ke skeptisannya pada hal-hal diluar akal sehat manusia. Dia menginginkan pertolongan…dari manapun asalnya. Apa dia cukup berani untuk mengambil resiko? Resiko untuk menemukan jawaban untuk keinginannya, menjadi kuat tanpa harus tergantung pada siapapun, kecuali pada…iblis yang akan dipanggilnya?
Lagi-lagi adegan-adegan perpisahan itu kembali terbayang. Kepergian ayahnya, kepergian Usui…tidak! Aku tidak akan tergantung lagi pada siapapun! Aku ingin memiliki kekuatan untuk melindungi semuanya…
Walaupun itu artinya aku harus menjual jiwaku pada iblis!
.
.
.
*Tentukan 'tumbal'mu. Makin besar nilai 'tumbal' itu, makin kuat iblis yang kau panggil.
Misaki melihat catatan kaki di bawah instruksi tersebut dan terkejut saat melihat kalau pemilik buku ini menumbalkan puluhan orang sebagai korbannya. Jelas dia tak bisa melakukan hal yang sama. Jadi dia mengorbankan…nyawanya.
"Diriku sendiri."
Tubuhnya panas dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Sensasinya seperti sedang disilet-silet dari ujung kepala sampai ujubg kaki. Misaki jatuh berlutut. Jantungnya serasa diremas kuat-kuat.
*Pilih dimana 'tanda kontrak' di letakkan. Makin dekat jaraknya ke mata, makin kuat perintahmu padanya.
Dimana? Dekat mata? Tak mungkin dimata seperti orang ini, terlalu mencolok. Lalu satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah…
"Pe…lipis kanan."
Begitu mengucapkan kata itu, pelipis kanannya terasa seolah terbakar. Misaki menahan jeritannya dan melanjutkan membaca instruksi selanjutnya.
*Lakukan eksorsisme pada tumbal yang ditentukan.
Misaki mengambil sebilah pisau tajam dan tanpa ragu mengiris urat nadi di pergelangan tangannya. Seketika darahnya keluar deras dan dalam keadaan setengah sadar, dia membaca instruksi selanjutnya
*Panggilah iblis itu.
Dengan sisa-sisa kekuatannya yang tinggal sedikit, Misaki mengulurkan lengannya yang diselimuti darah ke udara.
"Tolong…"
Dan setelah itu dia tak sadarkan diri.
Angin yang bertiup kencang memasuki ruangan dari jendela yang tiba-tiba saja terbuka. Sosok gelap yang diselimuti kabut hitam tiba-tiba muncul di hadapan Misaki yang tergeletak tak sadarkan diri. Sosok serba hitam itu tersenyum dingin memandangi majikan barunya.
"Majikan yang ceroboh ya? Aku bisa repot kalau anda mati sebelum menyebutkan isi kontrak dan mematuhi kontrak itu."
Itulah yang terakhir kali Misaki ingat sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.
*Dan selamat datang di dunia yang kegelapan tak berujung…
TTD
C.P
Bersambung
Author's note: gue ngerasa kalo adegan pertemuan Misa-chan – Sebas agak gantung tapi…setelah dipikir-pikir lanjutannya gak cocok kalo ditulis dibagian ini. Anyway, thanks for reading! Please RnR! ^-^
