Disclaimer: Detective Conan punya Aoyama Gosho, Black Bulter punya Yana Toboso, yang punya saya cuma ide sinting bikin ini fic. Ide sintingnya juga masih terinspirasi dari game Criminal Case, bukunya S. Marga GD dan terutama novel-novelnya Agatha Christie (pada dasarnya, datang ide pas baca Evil Under The Sun – Pembunuhan di Teluk Pixy). Gambar cover bukan punya saya juga, saya cuma nyolong di Abah Google XD
Warning: spoiler alert bagi kedua manga, AU, OOC, mungkin kata-kata kasar, fic eksperimen (?)
.
.
.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan ketika mobil yang ditumpangi Shinichi berhenti di depan pagar hitam yang menjulang tinggi. Seorang polisi muda membungkukkan kepalanya terhadap mereka, menunjukkan bahwa mereka telah ditunggu. Takagi memintanya untuk mengantar Ran dan Miwako ke kantornya.
"Tugas kami akan memakan waktu, jadi lebih baik kalian menunggu saja," respon Shinichi tenang ketika melihat raut kurang setuju mereka. Ia menoleh kepada istrinya, "dan lagi-lagi, hari ini aku menjadi suami yang menyebalkan."
"Hah – sudahlah." Ran mendekati Shinchi dan memeluknya, "hati-hati, Shinichi."
Shinichi tidak berkata apapun. Ia lebih memilih untuk menjawabnya dengan pelukan singkat. Mereka segera melepaskan pelukannya ketika pagar hitam itu perlahan dibuka oleh seorang pemuda berambut pirang.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya." Pemuda yang sama menyapa mereka ramah, "tentu Anda adalah atasan dari polisi-polisi yang berada di dalam. Masuklah, kami telah menunggu."
"Aku dan Shinichi saja yang akan masuk," Takagi menarik tangan Shinichi. Kedua pria itu sempat melambaikan tangan pada istri mereka sebelum mobil mereka berangkat. Pemuda berambut pirang itu hanya memandang mereka dengan senyumnya yang manis – senyum yang menurut Shinichi lebih cocok untuk wanita.
"Maafkan saya membuat kalian menunggu. Oh ya, pemuda ini rekanku, Shinichi Kudo. Mungkin Anda pernah mendengar nama ini sebelumnya–"
"Ah! Detektif muda kondang asal Jepang itu, 'kan?" Reaksi yang terlalu bersemangat ini sedikit mengagetkan Shinichi. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Kudo – saya Finny, pengurus kebun rumah ini. Silakan masuk, Tuan!"
"Sudah tidak perlu memperlihatkan identitas?"
"Tidak perlu, saya percaya pada Tuan Kudo."
Shinichi memilih untuk masuk ke dalam tanpa berkomentar apa-apa. Takagi dan Finny mengikuti langkahnya. Mereka berdua melihat tampang Shinichi yang begitu tenang dan santai, seolah ia sedang menjelajah taman umum. Shinichi bahkan sempat mengeluarkan kameranya dan memotret beberapa kali, membuat Takagi geleng-geleng kepala.
"Rumah dengan gaya Victoria yang terawat memang mempesona," Shinichi menoleh pada Finny, "kebunnya memang agak berantakan, tetapi… agak sulit dipercayai, di tempat seanggun ini bisa menjadi tempat kriminal."
"Kriminal memang tidak mengenal ruang dan waktu, Tuan. Saya sendiri tidak percaya ada orang yang bisa membunuh Nyonya." Raut wajah Finny terlihat agak muram.
"Yah, tempat ini bisa menjadi TKP terindah yang pernah kudatangi." Shinichi memperhatikan pemuda di hadapannya. Rambut pirang pendek dengan jepit pada poninya menghiasi wajahnya yang terlalu manis untuk seorang pemuda. Ia memperkirakan seberapa jauh pendidikan yang pernah ditempuhnya – Shinichi yakin, umurnya masih terlalu muda untuk bekerja.
"Finny, bolehkah kami mengetahui nama lengkapmu?"
"Tentu saja. Nama saya Finnian, tanpa nama panjang."
Mukanya yang semakin muram menghalangi niat Shinichi untuk bertanya. Mereka bertiga berjalan menuju pintu depan, dan Finny mengetuk pintunya. Takagi meraih catatannya, sementara Shinichi tersenyum kecil pada raut berpikirnya.
"Apa ada yang lucu, Shinichi?"
"Belum ada."
"Kau selalu bertingkah aneh."
"Sherlock dan Poirot adalah orang-orang aneh."
Giliran Takagi yang tersenyum sampai terdengar sebuah seruan dari dalam. Kedua pria itu memasang tampang serius ketika mendengar derap kaki yang semakin lama semakin dekat.
"Selamat pagi, Tuan-Tuan." Takagi dan Shinichi dapat melihat seorang pria sepuh membukakan pintu dan menampilkan senyum ramahnya, "kau pasti Detektif Shinichi Kudo, 'kan? Ho-ho-ho. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda."
Shinichi sedikit mengerutkan dahi mendengar cara pria itu tertawa, "tidak perlu berlebihan seperti itu, memang ini tugas saya."
"Jangan merendah seperti itu, Tuan. Mari, ikut saya ke dalam."
Shinichi dan Takagi menuruti perintahnya. Finny mengikuti langkah mereka dengan ragu-ragu. Shinichi memilih berada di belakang, masih mengamati pria sepuh yang kini sedang sibuk menutup pintu.
"Maaf Pak, tetapi bolehkah saya tahu siapa Anda?"
"Oh? Tentu saja, daritadi saya menunggu pertanyaan itu." Pria sepuh itu memerintahkan Shinichi secara tersirat untuk mengikutinya. "Saya Tanaka, satu dari dua pelayan senior di rumah ini. Saya lahir di Jepang, namun sudah tinggal di Inggris sejak usia 10 tahun. Oh, tunggu sebentar. Saya panggilkan Tuan dulu – Tuan sangat menanti kedatangan Anda."
Shinichi memperhatikan pintu kayu yang menjulang tinggi dengan ukiran-ukiran apik yang menghiasinya. Usia pintu ini sudah termasuk tua, dan kemungkinan besar terbuat dari kayu jati. Pintu yang begitu kokoh, memperlihatkan kekuatan yang dimiliki pemiliknya, batin Shinichi.
"Ya, tunggu sebentar–eh?"
"Kau tunggu di sini saja, biar aku saja yang buka."
Shinichi menoleh pada Tanaka ketika terdengar suara dari dalam. Takagi yang sedang asyik mengamati bergerak cepat ke sebelah Shinichi. Ia terlihat gugup, membuat Shinichi hampir lepas kendali untuk tertawa.
"Dia juga manusia, kok." Canda Shinichi melihat Takagi yang jadi sibuk tak karuan. Untungnya, sersan itu dapat bersikap tenang ketika pintu itu mulai tertarik ke dalam. Shinichi menggeser langkahnya sebelum dapat melihat seorang pria muda berambut biru tua tersenyum padanya.
"Selamat pagi." Sapanya kalem. Tangan kirinya diletakkan pada dada, membuat Shinichi melakukan hal yang sama. "Sudah lama mendengar nama Anda, Tuan Kudo. Saya senang mengetahui fakta Anda bersedia untuk membantu saya."
"Itu sudah tugas saya, Tuan Phantomhive." Mereka berjabat tangan sebelum Vincent memintanya masuk dengan diikuti Takagi, Tanaka dan Finny. Shinichi berdiri di luar lingkaran karpet besar yang mengitari sofa dengan beberapa orang yang menjadikan dirinya sebagai fokus.
"Dia Shinichi Kudo." Vincent menghampiri mereka, "dan Tuan Kudo, ini penghuni Manor House."
Shinichi balik memperhatikan orang-orang itu tanpa ekspresi. Ia baru tersenyum ketika melihat seorang anak lelaki yang memandang ke arahnya, namun anak lelaki itu malah ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Vincent.
"Hei – ah, Tuan Kudo, maafkan dia. Dia memang jarang bertemu orang asing, jadinya pemalu seperti ini." Vincent meraih kepala putranya dan mengacak-acak rambutnya, "Ciel, ini Shinichi Kudo yang tadi malam Papa ceritakan padamu. Ayo, beri salam padanya."
Shinichi berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya pada Ciel, sambil bertanya-tanya apakah senyumannya sudah cukup ramah. Ia hampir berpikir senyumannya menakutkan ketika Ciel membalas uluran tangan dan mencoba balik tersenyum padanya. Namun, Shinichi bisa membaca tatapan matanya. Ciel bukannya malu atau segan padanya, namun ia tidak berkeinginan untuk beramah-tamah. Terbaca jelas ketakutan sekaligus kesedihan pada ekspresinya. Matanya bengkak – itu pasti efek dari kebanyakan menangis.
"Tuan… saya senang bisa bertemu Tuan. Salam kenal, nama saya Ciel." ucapan lirih Ciel telah meyakinkan Shinichi kalau kedatangannya telah menyadarkannya pada realita. Shinichi membalas salam Ciel dengan anggukan, dan syukurnya Vincent menyadari ekspresi anak itu. Ia bisa kembali berdiri saat Vincent membawa putranya dalam gendongan.
Seorang pria berambut hitam berdiri dari kursinya dan menghampiri mereka. Raut muka kerasnya terlihat jelas. Vincent melangkah selangkah ke kanan untuk memberikan ruang baginya, "nah, ini Diederich. Pria asal Jerman ini adalah tangan kananku, dan dia tinggal di sini."
Mereka berjabat tangan tanpa suara.
"Sisanya adalah pekerja," Vincent menoleh pada ketiga orang yang daritadi berdiri di belakang sofa. Ketiganya langsung menghampiri mereka dan mengatur jarak. Shinichi menolehkan pandangannya pada dua pria dan satu wanita.
"Kau mungkin sudah mengetahui perihal Finnian dan Tanaka. Nah, mereka ini sisanya." Pandangan di arahkan pada seorang pemuda bermata merah yang berdiri di paling kiri, "dia Sebastian. Dia adalah guru privat Ciel, sekaligus pelayan senior kedua. Dia sudah bekerja di sini sebelum Ciel lahir."
Sebastian mengangguk sopan pada Shinichi.
Vincent mengarahkan fokus mereka pada pemuda lain yang berdiri di pinggir kanan, "dia Bard, koki keluarga yang baru bekerja dua tahun lalu." Bard tersenyum ramah ke hadapannya, namun Shinichi memilih tidak merespon.
"Dan dia…" Pandangan mereka teralih pada seorang wanita berambut pink dengan kacamata tebal, "Maylene, namun panggil dia Mey-Rin. Dia adalah pelayan keluarga kami. Sudah mulai bekerja sebelum Ciel lahir, namun sedikit lebih lama Sebastian."
Wanita itu nampak gelagapan dan sedikit salah tingkah, menarik perhatian Shinichi. Takagi mengerutkan keningnya, namun tetap membalas sapaan tanpa suaranya. Shinichi beralih fokus pada karpet di bawah kakinya.
"Dan Tuan Kudo," Vincent membuyarkan lamunannya, "dapatkah saya memperlihatkan inti dari semua ini pada Anda sekarang?"
Suara Shinichi terdengar agak ragu, "silakan, Tuan Phantomhive."
Vincent menurunkan Ciel dari pangkuannya, "tolong jaga dia."
Shinichi segera mengikuti Vincent yang memberi tanda padanya. Dengan isyarat tangan ia meminta Takagi untuk diam di sana. Vincent sempat berhenti untuk membiarkan Shinichi berjalan beriringan dengan dirinya. Shinichi mengamati apapun yang dilihatnya. Mempelajari tempat di sekitar kejadian termasuk dalam kunci keberhasilan penyelidikan.
Vincent berhenti di hadapan sebuah pintu, "di sini, Tuan."
Shinichi mengenakan sarung tangannya, "maaf dan permisi, Tuan."
Terpampanglah sebuah kamar yang didekorasi secara elegan. Kamar ini bisa dibilang cukup rapi untuk sebuah tempat kejadian perkara. Shinichi bahkan sempat merasa malu sendiri, kamarnya saat masih bujang dulu tidak pernah lebih rapi dari tempat kejadian perkara kali ini. Ia membiarkan Vincent masuk dan membiarkan pintunya terbuka.
"Ini kamar kami," Vincent memberikan penegasan "Silakan lakukan tugas Anda, Tuan Kudo."
Shinichi menoleh ke arah Vincent, lalu membuang keraguannya. Ia menghampiri ranjang tipe king set yang hanya sedikit tercemar darah. Sebuah pisau bergagang hitam dengan lumuran darah tergeletak begitu saja pada jarak sekitar 30 cm dari kasur. Shinichi memungut pisau tersebut dan menghampiri korban. Ia mengamati Rachel yang masih terlihat rapi. Selimut putih masih membungkus tubuhnya sampai bawah ketiaknya. Shinichi menarik selimutnya yang ternyata agak kusut akibat genggaman. Dari kelembabannya, ia tahu selimut ini sempat basah.
Shinichi meletakkan tangannya pada leher korban, yang perlahan merambat pada kepalanya. Ia cukup kaget ketika tidak menemukan bekas pukulan apapun pada bagian tubuh Rachel. Ia mencoba mencari benda apapun yang dapat dicurigai di sekitar kasur, namun ia tak dapat menemukannya.
"Nyonya Phantomhive, Anda terlihat sedang tidur lelap andaikan saya tidak melihat guratan pada pergelangan tanganmu."
"Ada kemungkinan dia benar-benar bunuh diri." Shinichi tahu, Vincent tidak rela mengatakan ini. Ia mengamati foto-foto yang menghiasi kamar itu. Semuanya foto-foto standar – foto pernikahan, foto keluarga dan foto putra tunggal mereka. Shinichi meraih pisau yang tergeletak itu, lalu mencocokannya dengan luka pada pergelangan tangan korban. Takagi benar – pisau itu yang telah menghilangkan nyawa Rachel.
"Saya mendapat keterangan bahwa istri Anda memiliki fobia dengan pisau. Apakah itu benar?"
Vincent mengangguk, "melihat orang memegang pisau adalah petaka baginya. Ia tidak pernah makan memakai pisau, untuk memotong makanan ia menggunakan garpu. Kalau tidak bisa, seenak apapun makanan itu, ia lebih memilih untuk tidak memakannya."
"Apakah Anda tahu apa alasannya?"
Vincent menelan ludah, "… baiklah. Saya tidak begitu ingin menceritakan ini, Rachel selalu menghindari untuk membahasnya. Saat ia kecil dulu, ia tinggal bersama seorang kakak tiri dan adiknya, dan kakak tirinya ini adalah seorang pria dengan watak yang amat aneh. Ia memiliki hobi untuk mengiris sekitar nadinya dengan pisau. Rachel mulanya hanya bergidik ngeri melihatnya, namun saat mereka hanya berdua di rumah, kakak tirinya ini tiba-tiba menyerangnya. Kemungkinan besar ia ingin memerkosa Rachel dengan cara menakut-nakutinya, namun keinginan untuk memerkosa hilang dan ia lebih berobsesi melihat sekujur tubuh Rachel tergurat oleh pisau. Rachel jelas ketakutan, apalagi setelah tangan kanan kakaknya semkain mendekat pada leher, sementara tangan kirinya mendekati pergelangan tangan kanannya. Ia tidak bisa melepaskan diri, kakaknya itu berbada layaknya seorang gangster. Oh ya, saya lupa bilang kalau kakaknya ini adalah seorang pedofilia."
"Apakah itu terjadi ketika ia masih berusia kanak-kanak?"
"Tepat. Dia bilang kejadiannya saat ia pulang dari hari pertama masuk sekolah dasar. Kakaknya berumur sekitar 18 ketika melakukan hal mengerikan itu." Raut kelam Vincent terlihat jelas, "Rachel sempat menjerit, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena kejadian itu terjadi di dalam ruang bawah tanah. Ia hampir meninggal akibat luka-luka guratan yang dalam, kalau adik dan ayahnya tidak mempergokinya lebih cepat."
"Tunggu. Sekarang, di mana Kakaknya?"
"Sudah lama meninggal. Dengan sintingnya, kakaknya mengangkat tangan dan tertawa-tawa mengakui perbuatannya. Ia mengambil kamera, lalu menusukkan pisau pada perutnya sendiri sambil memotret kejadiannya."
Shinichi membuka rambut Rachel dan memperhatikan lehernya. Memang ada bagian kulit yang berwarna lebih muda, bukti bahwa pernah ada luka dalam lama di sana. Melihat panjangnya kulit itu membuat ia bergidik.
"Jadi, selepas peristiwa itu, ia sama sekali tidak mau memegang pisau sampai akhir hidupnya?"
"Begitulah.
"Tunggu, tadi Anda bilang istri Anda memiliki adik. Apakah adiknya sudah meninggal juga?"
"Adiknya masih hidup. Namanya Angelina, dia yang menjelaskan semuanya secara terperinci padaku. Rachel tidak pernah bisa bercerita tentang peristiwa itu secara jelas, ia pasti menggigil ketakutan dan menangis."
"Baiklah, dapatkah Anda menjabarkan tentang Angelina?"
"Angelina Durless, atau mungkin Angelina Bernett, adalah satu-satunya saudara kandung Rachel. Ia bekerja sebagai dokter bedah di Royal Hospital London, namun setelah suaminya meninggal, ia memilih untuk berfokus pada penelitian terhadap AIDS yang dilakukan oleh kerjasama antara dokter-dokter di Eropa dan Amerika."
"Apakah mereka memiliki hubungan baik?"
"Saya pikir begitu. Angelina memang sibuk dengan pekerjaannya yang membuatnya sering berpergian keluar negara, tetapi kadang-kadang ia berkunjung kemari. Menyimak cara mereka berbicara, saya dapat menarik kesimpulan kalau hubungan mereka akrab, walaupun tidak seerat saat Rachel masih belum menikah."
"Kapan mereka terakhir bertemu?"
"Siang sebelum Rachel meninggal. Ia kemari sekitar jam setengah tiga sore, namun saya tidak sempat berbincang dengannya karena dikejar pekerjaan. Ia juga bermaksud menemui Rachel yang sempat menelepon dan menceritakan kondisinya."
Shinichi melepaskan tangan Rachel secara mendadak, "apakah dia masih ada di London?"
"Setahu saya masih, ini adalah hari terakhirnya di London. Tetapi, saya masih belum memberitahu dia tentang perkara ini."
Shinichi menoleh pada Takagi yang baru saja datang, "Tuan Phantomhive, tolong berikan nomor telepon Angelina yang dapat dihubungi pada Sersan Takagi, dan bawa ia kemari secepat mungkin."
Vincent menuliskan nomor telepon dan alamat Angelina pada Takagi, "rumahnya tidak jauh dari sini, hanya satu blok dari sini."
Takagi memanggil seorang perwira polisi muda untuk mengawasi ketiga pelayan yang masih berdiri di depan pintu. Ia sendiri segera berlari keluar bersama bawahannya yang lain.
"Perihal Angelina harusnya saya katakan dari awal," nada bicara Vincent terdengar seperti orang salah langkah.
Shinichi merasa sedikit kesal, namun ia berhasil mengalihkan perasaannya, "dan saya sendiri sampai lupa menanyakan pertanyaan yang paling dasar dari seorang detektif yang menangani kasus kriminal. Siapa yang pertama kali menemukan korban dalam keadaan tak bernyawa?"
Dan semua pasang mata tertuju pada pelayan wanita dengan kacamata tebalnya.
.
.
.
TBC
Author Notes:
Buset deh ini part bisa panjang begini, saya nggak nyangka. Hahahahaha. Saya kepikiran buat part ini pas di MOS subuh-subuh. Mungkin pengaruh setengah ngantuk. Sampai saya salah PBB beberapa kali, lalu kena bending sama coret kotak reward. Huaaaa. Udahlah, yang penting lulus lah. #curcolmodeon
Harapan saya, semoga Vincent nggak terlalu OOC. Btw, di sini Sebastian itu manusia biasa yah. Kenapa? Saya enggak ada feeling buat dia jadi demon. Gitu aja #kabursebelumdikeroyok
Makasih yang udah baca. Monggo deh unek-unek, kritik, saran dan kawan-kawannya dituangkan pada kotak review yang ada di bawah ini:
I
I
I
V
