Cast:
Park Jihoon
Bae Jinyoung
Lai Guanlin
And another character will be revealed along the story
Rate: T+
AU/GS/Hurt/Comfort
Length: Chaptered
Disclaimer: saya hanya meminjam nama. Jalan cerita murni khayalan saya. Apabila ada kesamaan unsur, seperti keterangan tempat dan waktu, mungkin kita berjodoh. Eaak :'D
Warning! Aku bikin genderswitch untuk Jihoon, Hyungseob, Seonho, dan Daehwi. Dan semuanya udah aku bikin 17+ ya umurnya karena cast anak kuliahan. Cast lain akan muncul sesuai alur cerita~
Typo(s) everywhere /mian/ aku sudah cek berkali-kali namun maafkan yaa kalo masih ada typo(s) bertebaran /bow/
.
.
Happy Reading!
.
.
©xxhajin
Just You, Yes You!
Chapter 3 : Captivated!
.
.
"Jadi kau alergi telur..." gumam Guanlin pada dirinya sendiri. Tangannya menarik selimut sampai di dada.
Ia pun segera memejamkan kedua matanya, semangat sekali untuk menyambut hari esok. Ia akan bertemu dengan Jihoon-nya besok.
"Selamat tidur, Jihoon-ah. Sampai jumpa besok"
Ia tidur dengan tersenyum. Berterimakasih pada takdir yang membawanya bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
.
.
Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar. Ia berada di meja makan sekarang, sedang khidmat melahap menu sarapan paginya. Sesekali ia melirik ke layar ponselnya yang terus menyala menampilkan notifikasi dari group chat jurusannya. Maklum, baru hari pertama kuliah, semua mahasiswa baru pasti heboh. Namun tidak dengan gadis berpipi gembil satu ini, ia terlampau santai.
Yang penting hari ini ia tidak lupa akan satu hal.
Essay 10 lembarnya.
Beruntung kemarin Hyungseob membantu menyelesaikannya dan bahkan ketika bangun tidur tadi sudah ada email masuk dari Hyungseob. Jihoon benar-benar berhutang pada sahabatnya yang satu itu.
Ia melanjutkan kegiatannya untuk menyendok nasi ke mulutnya. Dan tangan kanannya menaruh sendok stainless steel yang dipegangnya itu ketika ada sebuah pesan masuk dari sahabatnya.
Jihoon-ah setelah kelas ketemu yaaa. Aku temani ke ruangan dewan murid. Hwaiting untuk hari pertama kita sebagai mahasiswa!
Jihoon membacanya dan tersenyum senang. Ia senang karena ia ditemani Hyungseob untuk bertemu kakak tingkatnya yang dingin nanti. Tak menunggu lama, ia pun mengetik pesan balasan untuk Hyungseob.
Aaiih sahabatku yang manis ini baik hati sekali. Nanti kita bertemu dekat kantin saja ya. Seobi hwaiting!
Setelahnya ia menekan tombol off di sisi kanan ponselnya. Ia menoleh ke arah piring keramik berwarna putih berukuran agak besar di depannya.
"oh cepat sekali habisnya. Apa aku makan terlalu sedikit?" Jihoon menimbang-nimbang. Ia ingin menyendok nasi lagi. Menu pagi ini terlampau enak. Namun niatnya ia urungkan.
"ya! Park Jihoon berhenti makan!" monolognya pada dirinya sendiri.
Ia pun berdiri dari kursinya. Kemudian kepalanya mendongak untuk melihat apa ada Yoon ahjumma di dapur rumahnya. Ternyata wanita berumuran hampir setengah abad itu sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Jihoon yang ingin mengucapkan terima kasih atas masakannya pun mendekat karena penasaran.
Ternyata Yoon ahjumma sedang menyiapkan bekal untuknya.
"Ahjumma membuat itu untukku?" kata Jihoon yang setengah mengagetkan Yoon ahjumma. Wanita itu pun menoleh ke arah Jihoon dan tersenyum.
Ia merapatkan tutup kotak bekal tersebut dan memberikannya ke Jihoon.
"untuk tuan puteri dan sahabat tuan puteri yang manis itu"
Jihoon tersenyum, "untuk Hyungseob juga? Gamsahamnida ahjumma. Terima kasih juga untuk sarapannya pagi ini. Aku suka!"
Katanya kemudian ia berlalu, menaiki tangga untuk mengambil tas dan berangkat ke kampusnya karena sewaktu ia makan tadi sudah terdengar suara mobil dipanaskan, siap mengantar Jihoon.
.
.
Ia berjalan di koridor kampusnya dengan semangat menyala-nyala. Tadi pagi ia diberitahu oleh Haknyeon bahwa ia, Haknyeon, dan Euiwoong sekelas. Daftar peserta mata kuliah sudah keluar. Guanlin yang penasaran pun membuka safari di ponselnya dan menuju alamat web universitasnya.
Dan benar saja, dewa keberuntungan lagi-lagi berpihak padanya.
"Yes!" tangannya terangkat untuk meninju di udara.
Ia sekelas dengan Park Jihoon. Nomor absen Jihoon tidak jauh dari milik Guanlin. Hanya berjarak 11, lebih dulu Jihoon.
Karena itu kini ia berangkat sangat awal, sudah tidak sabar ingin bertemu Jihoon-nya lagi. Ketika masuk kelas, ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Senyum miringnya kembali datar, ia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Kondisi kelas masih sangat sepi, hanya segelintir manusia yang sudah duduk di kursi bercat putih tersebut.
Tak mau berdiam diri di pintu kelas seperti orang bodoh, ia pun melangkah masuk dan secara random memilih tempat duduk. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk, dari Haknyeon rupanya.
Bruh, kau sudah di kelas?
"Well, aku sudah disini dari tadi." Jawab guanlin dengan voice message. Ia malas mengetikkan huruf di keyboardnya.
Sekitar dua menitan, Haknyeon memunculkan batang hidungnya bersama Euiwoong. Mereka tersenyum ketika mendapati Guanlin sudah duduk tenang, untung saja kursi satu deret yang ditempati Guanlin masih kosong. Haknyeon pun mengambil duduk di sisi kanan Guanlin. Euiwoong menyusul Haknyeon dan duduk di sebelahnya.
Guanlin hanya melihat malas pada dua manusia itu. Dimana-mana selalu bersama.
Tangannya ditepuk Haknyeon pelan. Sang pemilik pun menoleh ke pelakunya.
"ini hari pertama, bruh. Kenapa wajahmu ditekuk gitu?" tanya Haknyeon pada manusia berkulit terlampau putih di sebelahnya.
Yang ditanya enggan menjawab. Tiba-tiba ada seorang mahasiswi mengambil duduk di sebelahnya, bukan Park Jihoon sayangnya. Guanlin melirik heran pada mahasiswi di sebelahnya itu. Tangan kirinya membawa coklat bar dan tangan kanannya membawa permen lolipop yang masih terbungkus erat.
Dia anak TK atau mahasiswa, sih. Ucap Guanlin di batinnya. Ia kemudian memusatkan perhatiannya pada benda persegi panjang berwarna hitam di tangannya. Ia sibuk membaca artikel untuk menghilangkan rasa gelisahnya karena Jihoon yang tak kunjung datang.
"Yoo Seonho?"
Namun tiba-tiba juga sebuah suara lembut mengusak pendengarannya, membuat Guanlin reflek mencari sumber suara itu. Ia pun menoleh pada seorang mahasiswi yang Guanlin tebak berbicara pada orang di sebelahnya.
Mahasiswa di sebelahnya mendongakkan kepala ketika mendengar namanya dipanggil.
"oh! Park Jihoon?"
Deg. Jantung Guanlin berdetak kencang. Serasa dunia berhenti. Itu Park Jihoon yang dirindukannya! Ia sedang berdiri dalam jarak 2 langkah kaki dari dirinya sekarang!
Guanlin terpesona seketika. Jihoon sangat cantik. Semburat pink merona di pipi tembamnya masih sama seperti waktu ia kecil dulu. Rambut panjangnya yang halus itu tergerai lurus. Bahkan baru parfum Jihoon menguar sampai arah penciuman Guanlin. Bau manis, seperti campuran buah dan bunga. Ia gemas, ingin saja mengusir mahasiswi di sebelahnya ini agar ia bisa duduk bersebelahan dengan Jihoon.
Guanlin diam-diam memasang telinganya.
"aku tidak menyangka kita di universitas yang sama, bahkan di jurusan yang sama dan di kelas yang sama, Jihoon-ah!" kata Seonho antusias. Ia sudah meletakkan makanan manis tadi di atas mejanya seusai memeluk Jihoon.
Jihoon membenarkan letak tasnya. Ia lalu menyiapkan binder dan alat tulis di mejanya.
"beruntungnya aku bertemu sepupuku yang cantik ini. Tapi kenapa appaku tidak bilang ya kalau kau juga masuk disini? tahu begitu kan kita bisa bersama-sama"
Seonho tersenyum dan menggenggam tangan Jihoon. Ia juga senang sekali, terbayang kehidupan kuliahnya tidak akan menyeramkan, karena ada Jihoon. Seonho dan Jihoon adalah saudara dekat. Kakak tertua ayah Jihoon, Park Jaehwan, mempunyai anak perempuan bernama Park Kanghee. Kanghee menikah dengan ayah Seonho, Yoo Sewoon. Dan lahirlah Yoo Seonho, sepupu Jihoon.
Ah ternyata mereka bersaudara. Batin Guanlin yang masih diam-diam mendengarkan.
Kemudian ada seorang laki-laki berumur setengah abad berjalan masuk ke ruangan kelas. Ia dosen mata kuliah pagi ini. Oke, Guanlin harus menahan rasa penasarannya dan fokus ke pelajaran hari ini kalau ia tidak mau ketinggalan.
Sepanjang pelajaran, pikiran Guanlin hanya fokus pada Jihoon meskipun matanya tertuju ke arah dosennya. Namun ia mati-matian menahan agar tidak menoleh ke arah gadis yang sangat dirindukannya itu.
"baiklah, saya harap pertemuan minggu depan semuanya sudah mendapatkan kelompok, satu kelompok terdiri atas 5-6 orang. Untuk pertemuan mata kuliah Pengantar Manajemen minggu ini, saya rasa cukup perkenalan, oh dan jangan lupa buku cetak bisa dibeli di toko buku atau bisa titip di koperasi mahasiswa bagi yang tidak mau repot-repot"
Dosen mata kuliah Pengantar Manajemen pagi ini membereskan barang-barangnya. Ia berdiri dan membawa tas beserta notebook 12 inch di tangannya.
"sekian untuk hari ini, kuliah saya akhiri"
Setelah dosen tersebut keluar, gemuruh mahasiswa yang lega pun terdengar. Semuanya sibuk merapikan barang-barangnya masing-masing. Sedikit-sedikit Guanlin mencuri pandang pada Jihoon. Ia mengawasi gerak-gerik Jihoon yang terlihat menggemaskan.
Namun Euiwoong tiba-tiba melintas di depan Guanlin, ia kemudian berhenti tepat di depan Seonho dan Jihoon.
"Park Jihoon" panggil Euiwoong.
Yang dipanggil mendongakkan kepalanya, ia menghentikan aktifitas beres-beresnya. Dan terkejut, ini kan yang kemarin waktu ospek, batin Jihoon.
"ya? Oh, Euiwoong?" sapa Jihoon sambil mengingat-ingat nama gadis imut itu.
Euiwoong pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak gadis di sebelah Jihoon berkenalan.
"aku Lee Euiwoong." Ucapnya pelan. Tak butuh waktu lama, gadis itu juga menjabat tangan Euiwoong.
"aku Yoo Seonho, panggil saja Seonho" balas Seonho.
Euiwoong menebarkan senyumnya lagi. Sepertinya ia sedang goodmood hari ini.
"jadi kalian berdua sudah dapat kelompok? Aku sama Haknyeon dan Guanlin masih bertiga saja, mungkin kalian mau bergabung"
Nice shot, Euiwoong. Teriak Guanlin senang dalam batinnya. Daritadi ia bingung memikirkan cara mengajak Jihoon agar sekelompok dengannya.
Seonho menoleh ke arah Haknyeon dan Guanlin yang juga sedang menatapnya balik seperti menunggu jawaban. Tidak buruk. Batin Seonho. Ia kemudian mengangguk pelan.
Giliran Jihoon yang menimbang-nimbang, ia melihat ke arah Guanlin tepat pada matanya. Jihoon merasakan sesuatu yang tidak asing ketika ia menatap Guanlin. Yang ditatapnya berharap cemas.
Kenapa Jihoon seperti heran ketika melihatku, apa ia juga masih ingat kalau aku yang pernah dijodohkan dengannya dulu?
Guanlin terus saja menebak-nebak.
"aku bergabung" kata Jihoon. Harapan Guanlin sirna sudah, tidak ada tanda-tanda Jihoon yang mengingatnya. Tapi tidak apa-apa, hal tersebut tidak menurunkan semangat Guanlin. Ia bisa membantu Jihoon mengingatnya, kan?
"okeee kalau begitu kita sudah pas ya, 5 orang saja. Oh iya, kalian mau tidak kalau kita beli buku cetaknya barengan aja? Biar bisa bawa semua gitu nanti waktu pertemuan minggu depan" usul Euiwoong, ia tidak meminta pendapat apa-apa pada dua laki-laki yang juga sedang mendengarkannya.
Seonho mengangguk setuju.
"tapi mau beli kapan? Bisa nggak kalau aku dan Haknyeon titip ke kalian?" ucap Euiwoong malu-malu. Dasar kalian, batin Guanlin.
"kalau setelah ini aku tidak bisa, aku harus ke ruang dewan mahasiswa. Hukuman essay 10 lembar..." Jihoon mengatakannya gamblang.
Guanlin menginterupsi, "kalau misal setelah dari ruang dewan mahasiswa bagaimana?"
Oh god! Ia sungguh tidak sabaran. Stay calm, Guanlin!
Jihoon mengedipkan kedua matanya, ia ada janji dengan Hyungseob kan?
"aku sudah ada janji dengan temanku setelah itu, maaf" Jihoon tersenyum masam.
Euiwoong pun bingung, ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi chatting. "kalau begitu aku minta id line kalian ya, aku akan membuat grup"
Hari ini keberuntungan Guanlin menang telak. Sudah sekelas dengan Jihoon, sekelompok dengan Jihoon, kini ia punya kontak Jihoon.
"kalau besok bagaimana? Setelah kelas siang?" suara Guanlin menginterupsi lagi. Ia masih berusaha, tentu saja!
"oh maaf aku tidak bisa kalau besok, aku harus pulang setelah kelas karena ada acara" sahut Seonho.
Euiwoong menggaruk puncak kepalanya yang tidak gatal. Besok Haknyeon sudah berjanji akan mengajaknya makan patbingsoo setelah selesai kelas. Ia tentu tidak mau hal tersebut dibatalkan.
Semuanya menunggu Jihoon.
Ngomong-ngomong, kondisi kelas sudah sepi, hanya tersisa 5 manusia itu.
"aku tidak ada janji sih, kalau beli buku cetaknya besok tidak masalah"
Guanlin tersenyum miring.
Euiwoong mengambil tasnya dan menyeret Haknyeon hendak keluar kelas.
"oke Jihoon-ah. Kalau begitu, kau besok pergi dengan Guanlin ya? Aku ada janji dengan Haknyeon besok. Gomawo! Akan aku ganti segera uang bukunya. Bye! Semoga kau tidak dimarahi di ruang dewan nanti!" ucap Euiwoong yang kemudian menghilang dari balik pintu kelas bersama Haknyeon. Tinggal 3 manusia di dalam kelas ini.
Seonho berdehem pelan. "kalau begitu terima kasih yaa, Jihoon-ah. Besok bilang aku ya harga buku cetaknya, kalau bukunya berat suruh Guanlin saja yang bawa."
Jihoon hanya mengangguk. Ia tak tahu harus apa.
Kemudian Seonho mengambil ponsel Jihoon, ia mengetikkan sesuatu.
"display picture mu lucu sekali. Aku akan mengirim pesan nanti, Jihoon-ah. annyeong! Aku pergi dulu ya?" Seonho menyusul keluar kelas. Jihoon memeriksa ponselnya, ternyata Seonho baru saja mengetikkan id line nya di ponsel Jihoon.
Jihoon tersadar bahwa ia masih bersama Guanlin. Anak itu tidak berniat pulang?
"jadi besok setelah kelas kita pergi ke toko buku?" tanya Guanlin pada Jihoon yang dijawab dengan anggukan.
"kalau naik motor tidak apa-apa? Mahasiswa baru belum boleh membawa mobil" tanya Guanlin lagi.
Jihoon mengendikkan bahunya. "tidak apa-apa" jawabnya simpel.
Guanlin berdiri dari duduknya. Ia masih tidak berniat untuk pulang.
"ayo aku temani ke ruang dewan mahasiswa"
Jihoon menyanggahnya.
"oh tidak perlu, Guanlin. Aku mau bertemu temanku dulu di kantin." Jawab Jihoon sambil berjalan mundur.
"kalau begitu aku ikut, aku mau membeli sesuatu di kantin" bohong. Tentu bohong. Guanlin hanya ingin bersama Jihoon lebih lama lagi.
Tanpa menunggu jawaban Jihoon, ia pun berjalan mendahuluinya. Tiba-tiba Jihoon menyusul langkahnya dan mensejajari langkah Guanlin. Kini mereka berjalan di koridor kampus. Mereka banyak berbicara tentang mata kuliah pengantar manajemen tadi hingga sampai di depan kantin fakultasnya, Jihoon melihat Hyungseob sedang berbicara dengan mahasiswa laki-laki.
"aku duluan ya, Guanlin. Nanti kalau ada apa-apa, kontak aku di line saja. Annyeong!"
Guanlin mengangguk mengiyakan, ia melihat Jihoon menghampiri dua manusia yang sedang berbicara itu. Mahasiswi yang berambut sebahu—mungkin teman yang Jihoon maksud, tebak Guanlin—menyambut kedatangan Jihoon kemudian ia menyeretnya pergi setelah sedikit membungkukkan kepala pada mahasiswa laki-laki tersebut
Setelah Jihoon menghilang di belokan koridor kampus, ia membalikkan badannya. Benar saja, alasan ia ingin ke kantin hanya dusta belaka. Ia hanya berbohong.
.
.
Mereka berdua sedang berjalan di koridor kampus hendak menuju ruang dewan mahasiswa.
"untung saja kau segera datang" kata Hyungseob lega. Jihoon tidak mengerti, ia ingin kejelasan.
Hyungseob membenarkan poninya yang mengganggu. Kemudian ia bercerita.
"kau lihat kan tadi? Yang berbicara denganku?" tanyanya. Jihoon kemudian mengangguk.
"lalu?" tanya Jihoon penasaran.
"dia kakak tingkat di jurusanku! Namanya Park Woojin! Dan dia yang waktu itu bersama kakak tingkat di jurusanmu yang menegur kita karena tidak pakai id card itu!" kata Hyungseob berapi-api. Yang masuk di pikiran Jihoon hanya kakak tingkat dingin. Oh setelah ini ia akan bertemu dengannya!
"tadi aku ke kantin kan, aku haus, jadi aku beli ini—" katanya sambil menunjuk botol susu berukuran kecil.
"nah waktu aku membayar, penjaga kantinnya bilang kalau tidak ada uang kembalian. Lalu ada kakak tingkat tadi. Ia membayar untuk ini!" kata Hyungseob sambil menunjuk botolnya lagi.
"lalu waktu keluar dari kantin, ia mengajakku mengobrol sebentar. Dan kau tau! Dia minta id line ku!"
Triing... sebuah notifikasi dari ponsel Hyungseob. Jihoon ikut melihatnya.
Park Woojin Sunbaenim:
Besok setelah kelas ada acara? Jalan yuk! Mau, nggak?
"YAK! JIHOON-AH! AKU HARUS APA?!"
.
.
Hyungseob membungkukkan kepalanya tanda terima kasih kepada kakak tingkatnya itu.
"gamsahamnida, sunbaenim. Aku akan ganti uangnya besok ya?"
Yang lebih tua menggerakkan telapak tangannya dan tersenyum. "tidak perlu. Santai saja"
Hyungseob menunduk malu.
Lalu suara kakak tingkatnya itu menginterupsi. "kau mahasiswa baru yang tidak pakai id card itu, kan? Namamu Ahn Hyungseob? Aku Park Woojin" katanya, ia mengulurkan tangannya untuk menjabat Hyungseob
Oh! Hyungseob membelalakkan matanya. Ia ingat! Kakak tingkatnya ini ikut menegurnya waktu ia bersama Jihoon di depan lobi fakultas. Hyungseob semakin malu karena kelalaiannya itu.
Eh? Kok kakak tingkatnya itu tahu namanya? Hyungseob akan memikirkannya nanti. Ia pun membalas jabat tangan itu dengan malu-malu. Hangat. Tangan itu terasa hangat.
"ne, sunbaenim. Aku Ahn Hyungseob"
Park Woojin tersenyum. Gigi gingsulnya tak sengaja ia perlihatkan pada Hyungseob.
"ngomong-ngomong, aku boleh minta id linemu? Mungkin kalau kau perlu bantuanku, kita berada di jurusan yang sama kan?"
Hyungseob gelagapan. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan itu pada Woojin.
"aku sudah menambahkan line mu" kata Woojin sambil mengembalikan ponsel Hyungseob.
Hyungseob masih tak tahu harus merespon apa. Ia diam saja. Beruntung setelah itu ia melihat Jihoon berjalan dengan seorang mahasiswa yang entah ia tak tahu itu siapa.
Hyungseob kebingungan, ia harus pergi sekarang juga kalau ia tidak mau kakak kelasnya ini mendengar degup jantungnya yang tidak karuan. Setelah membungkukkan salam pada Woojin, ia segera menyeret Jihoon.
.
.
"ya sudah jawab iya saja" jawab Jihoon enteng.
Hyungseob mempout bibirnya. Ia bingung harus menjawab pesan kakak tingkatnya itu dengan jawaban apa. Kemudian ia mengetikkan beberapa kata dengan ibu jarinya.
Kebetulan besok aku tidak ada acara, sunbaenim. Baiklah kalau begitu.
Semoga tidak salah.
Jihoon merebut ponselnya tiba-tiba dan menekan tombol off. "sudah lanjut nanti, Seobi! Aku bisa telat ke ruang dewan mahasiswa"
Hyungseob lupa harus mengantar Jihoon ke ruang dewan mahasiswa.
.
.
Jihoon menelan ludahnya pelan. Ia kini di dalam ruang dewan mahasiswa. Di tangannya membawa sebuah map putih bercorak garis-garis warna-warni, di dalamnya tentu saja berisi essay bahasa inggris 10 lembar.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ruangan ini tidak terlalu besar tapi nyaman dan dingin. Jihoon suka.
Namun senyumnya luntur ketika sosok yang amat menyebalkan itu berjalan ke arahnya.
"sudah selesai essaynya?" tanya sosok itu to the point.
Jihoon mengangguk-angguk. Poninya bergoyang.
Bae Jinyoung melirik Jihoon sebentar lalu mengalihkan arah pandangnya.
"ini sunbaenim..." gadis berpipi tembam itu menyerahkan map putih yang dipegangnya.
Sosok dingin itu membuka perekat map, dan mengeluarkan isinya, ia hanya menganggukkan kepala dan menaruh itu di meja tepat di belakangnya.
"lain kali yang teliti."
Jihoon mendengar itu, agak tersinggung, tapi benar juga. Ia mempoutkan bibirnya. Oke lain kali ia akan sangat-sangat teliti.
Jinyoung melihat gadis itu gemas. Anak ini bagaimana bisa bersikap seperti itu di depan seniornya! Jinyoung diam-diam memperhatikan pipi tembam Jihoon.
Doyan makan. Batin Jinyoung di luar konteks. Oke Jinyoung, Fokus!
"benar 10 lembar essay ini kau sendiri yang mengerjakan?"
Jihoon terkejut dan mendongakkan kepalanya. APA? Tolong jangan tanya soal itu!
"aku mengerjakan itu sendiri sunbaenim." Jawab Jihoon.
Jinyoung berdehem pelan. Ia sungguh tahu bahwa Jihoon ini anak yang manja, maklum sepertinya Jihoon anak orang kaya, pikir Jinyoung. Dilihat dari gayanya saja sudah bisa ditebak bahwa mahasiswa baru ini pasti anak orang kaya. Dari pakaiannya, tasnya, bahkan ia menggenggam ponsel keluaran terbaru berlogo apel yang bahkan itu bisa untuk membayar spp kuliah 2 semester menurut Jinyoung.
"soalnya biasanya anak sepertimu itu malas. Paling tugas ini kau lihat dari internet, atau kalau tidak ya minta temanmu yang mengerjakan"
Tangan Jihoon terkepal. Malas katanya?
Sungguh kalau Hyungseob tidak menawarkan bantuan pun ia akan melanjutkan essay itu sendiri tadi malam. Itu saja dia sudah mengerjakan 3 lembar!
Kalau saja kau bukan seniorku, sudah kutinju wajahmu itu! Enak saja mengataiku malas...
Jihoon tersenyum. Ia malas menghadapi kakak tingkatnya ini.
"terserah sunbaenim kalau itu, hukumanku untuk mengerjakan essay 10 lembar sudah selesai. Dan kalau boleh aku permisi keluar..." Jihoon hendak melangkah keluar namun tidak enak, ia juga harus menghormati kakak tingkatnya itu. Mana pula ia masih baru satu hari berkuliah disini.
Jinyoung hanya menatap adik tingkatnya itu sambil melipat tangan di depan dada.
"kau boleh keluar—" kata Jinyoung.
"—jangan lupa belajar yang rajin" oh oke, kalimat ini lolos begitu saja dari mulut Jinyoung tanpa ia sadari.
Jihoon hanya melengos. Ia membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruang dewan mahasiswa.
Hyungseob masih duduk manis menunggunya di depan ruangan tersebut. Ia sibuk mengunyah bekal yang Jihoon berikan padanya. Kata Jihoon, itu titipan dari Yoon ahjumma untuknya.
Ia menyadari sesuatu pada raut wajah Jihoon.
"hey ada apa?" ia menyenggol lengan Jihoon pelan.
Jihoon menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
"sudah, ayo kita makan waffle di tempat biasanya" ajak Jihoon.
Hyungseob berjalan mengekori Jihoon yang jalannya terlampau cepat. Ia kesulitan menutup kotak berisi sandwich sosis yang masih sisa setengah.
"waffle plus ice cream matcha. Aku ingin mendinginkan kepalaku yang panas ini" tambahnya.
"call!" sahut Hyungseob. Mereka kini berada di dekat halte universitas, hendak menyetop taksi.
Mungkin satu scoop ice cream tidak akan cukup bagi Jihoon. Kepalanya sangat panas jika mengingat kakak tingkatnya tadi.
Aishhh, benar-benar membuatku badmood!
.
.
Sebuah coklat hangat dengan beberapa butir marshmellow diatasnya tersaji di atas meja nakas dekat sofa. Baru saja Yoon ahjumma mengantarkan itu ke kamar Jihoon yang sekarang masih sibuk dengan kegiatannya mengeringkan rambut dengan handuk putih kecil. Ia baru saja selesai keramas.
Ia rindu ayahnya, sudah 3 hari ini ayahnya tidak berada di rumah. Sudah 3 hari ini pula ia tidak mendapat video call dari kakaknya, Park Daniel. Heran. Jihoon mengambil ponselnya.
Ia mengetikkan pesan untuk kakaknya itu.
Oppa sibuk?
Tak butuh lama, Jihoon yang masih mengawasi ponselnya itu melihat tanda read tertulis disana.
Tiriring... tiriring... Oh peka sekali! Daniel menelpon adik manisnya itu.
"eoh, oppa. Kau kemana saja?"
Daniel tersenyum di ujung sana, ia senang Jihoon selalu bertanya seperti itu.
"mianhae, Jihoon-ah, oppa benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Appa menyusulku disini karena mau melihat cabang toko yang akan dibuka beberapa hari lagi"
"yaaa. Aku disini sudah selesai ospek, hari ini hari pertama kuliahku. Dan tidak ada satupun yang bertanya bagaimana hariku, bahkan appa juga"
Jihoon mendengar Daniel tertawa.
"kasihan sekali adikku ini... Lalu bagaimana hari pertama kuliahmu? Oh ospek kemarin? Bagaimana rasanya?"
Jihoon bercerita panjang lebar, telinganya pun cukup panas sekarang karena ponsel yang menempel dari tadi.
"ahahaha. Kakak tingkatmu itu mungkin menyukaimu. Ia mungkin hanya mengerjaimu dan membuatmu kesal"
Jihoon mendecih, "aigoo. Suka apanya. Mana ada yang suka tapi malah menyiksa seperti itu. Sudahlah aku tidak mau membahasnya! Omong-omong, appa dimana? Aku ingin berbicara dengan appa"
"appa baru saja keluar, ia dari tadi mendengarkanmu berbicara. Hahahah. Appa bilang besok ia akan pulang"
Jihoon terkejut, jadi ayahnya mendengar semuanya? Malulah ia.
"astaga, oppa! awas ya nanti kau kalau pulang ke rumah! Aigoo bagaimana bisa Seongwoo eonni menyukai orang seperti oppa"
Daniel hanya tertawa mendengar ocehan adiknya. Iya ya? Bagaimana bisa Seongwoo menyukainya. Daniel juga tidak tahu.
"sudah malam adikku sayang. Besok oppa janji akan telepon lagi sebelum tidur, good night"
"araseo. Oppa kapan pulang ke Korea?" tanya Jihoon yang rindu dengannya.
"setelah ini, setelah pembukaan toko ini selesai Jihoon-ah. Tidak lama lagi. Oppa juga sudah sangaaat merindukanmu" kata Daniel di seberang sana.
Jihoon menggembungkan pipinya, ia rindu diajak jalan-jalan oleh kakaknya itu.
"cepat kesini, oppa. Kalau begitu hati-hati disana ya"
Pip. Jihoon menutup sambungan teleponnya setelah Daniel mengucapkan selamat malam untuk yang kedua kalinya. Ia mengecek notifikasi pesannya, dan ada pesan masuk dari Guanlin.
Lai Guanlin:
Park Jihoon. Lagi apa sekarang?
Oh?
Jihoon menyeruput coklat hangatnya, takut marshmellow kesukaannya mencair. Lalu mengetikkan pesan balasan.
Aku sedang bersantai. Ada apa, Guanlin?
Hanya sepersekian menit Guanlin membalas pesannya.
Tidak, aku hanya ingin bertanya, besok kita jadi ke toko buku kan?
Oh iya, membeli buku cetak!
Tentu saja, setelah kelas besok. Balas Jihoon.
Jihoon melanjutkan kegiatan menyeruput coklat hangatnya, sesekali ia mengunyah marshmellow yang kenyal itu.
Araseo. Kalau begitu sampai jumpa besok. Beristirahatlah... Selamat malam, Jihoon-ah.
Oke selamat malam, Guanlin. Balas Jihoon pada teman barunya itu.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas berwarna cream di dekat bednya.
.
.
Jantung Hyungseob terus saja berlomba.
Oh tentu saja, ponselnya itu terus bergetar dari tadi, menampilkan notifikasi pesan.
Benar, dari siapa lagi kalau bukan kakak tingkat yang baru dikenalnya. Hyungseob heran, kenapa kakak tingkatnya ini bersikap seperti ini—terlampau baik—kepadanya. Bahkan ia, Park Woojin, menawarkan bukunya untuk dipinjam oleh Hyungseob.
Siapa yang bisa menolak? Daripada beli buku baru? Ya, kan?
.
.
Tbc
Annyeong Haseyo Reader-nim! ^^ BTW TERIMA KASIH YAAK UNTUK YANG SUDAH MAU REVIEW FF ABAL INI :") Neomu Gomawooo.. Saranghae3
Seonho sudah muncul nih, tapi cuman seuprit doang :""))) Eaaaa ada cinta dibalik batu :'D Ahh modus banget ini mah si Woojin. Bisa aja dehh modus pinjemin buku ke adik tingkat, ya?
Ehehe jangan benci tokohnya ya~ itu semua murni khayalan author.
Ini merupakan FF pertama aku yang berani aku publish:') aku bakal senang sekali kalau reader-nim mau mengomentari FF aku ini ^^ Sampein komentar kalian di kolom review yaa~
Review dari para reader-nim sangat berharga untuk author^^
See You On The Next Chapter~
