Butuh berbulan-bulan buat mikir ini mau diterusin atau engga :(

But I know now jalan ceritanya bakal gimana~

Di chapter ini udah diusahakan dirty meskipun belum banget-bangetan~

Masih pertama kali maafkan hehehe

Give me some reviews!

.

.

.

Happy reading!

.

.

.

"Adegannya?" Jongin mengalihkan perhatiannya dan menatap tepat pada manik mata Kyungsoo yang berwarna hitamnya. Mereka membiarkan keheningan menyeruak disana. Baik Jongin maupun Kyungsoo sama sekali tidak angkat suara; bahkan Jongin tenggelam dalam benaknya. Lelaki itu mengamati mata Kyungsoo yang membulat padanya. Sejenak, dia terkagum. Baru sekali ini dia menatap lurus bola mata seseorang dengan waktu yang lumayan lama. Dan dari itu, dia bisa menyimpulkan betapa lucunya mata tersebut.

Ah… Adorable. Batinnya.

"Adegan… maksudku, dialognya! Pa-paling tidak kita tahu apa yang harus kita lakukan—" Kyungsoo menghindari tatapan Jongin, "Adakah yang salah denganku? Jangan menatapku begitu…" gumamnya dengan suara yang makin lama makin menghilang.

"Menatapmu—Oh! Maafkan aku, Hyung. Berlatih dialognya akan sama saja dengan pembacaan script pertama besok. Kalau kau mau berlatih adegannya, boleh juga. Mungkin aku akan menanyakan beberapa hal padamu."

Wait! Kim Jongin! Are you out of your mind? Batin Jongin yang merutuki kalimatnya baru saja.

Berlatih adegannya? Ada banyak kissing scene disana. Mungkin sekitar enam atau tujuh kali. Belum nanti jika saat shooting ada NG atau semacamnya. It's just like… UGH. Jujur Jongin sudah melakukan kissing scene di drama sebelumnya dan itu sukses berat karena berhasil menjadi scene dengan rating tertinggi. Tapi kali ini… dengan laki-laki, rasanya…

Jongin mengesampingkan rasa jijik yang sebenarnya mungkin dia rasakan sekarang. Baginya, dia harus tetap professional. Lagipula, jika dia bisa melakukan ini dengan baik, dia mendapatkan bayaran yang tinggi, 'kan? Uang, ujung-ujungnya tetap pada uang. Apalagi seorang Kim Jongin, yang menilai apapun dengan uang. Bukan karena sombong, tapi… hemat. Yah, meskipun garis antara hemat dan pelit itu hanya setipis tisu yang sudah menyerap air; sudah tidak ada bedanya.

Kyungsoo yang sedari tadi menunduk kemudian mendongakkan kepalanya lagi dengan mata yang berkedip. Terlihat dari ekspresinya, dia terkejut. Matanya berukuran lebih besar dari sebelumnya. Bibirnya yang berbentuk hati itu sedikit terbuka. Dan nafasnya yang terhenti secara tiba-tiba. Jujur, Kyungsoo tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal tersebut. Lagipula, masalah berlatih tadi, dia sebenarnya menyesal juga mengatakan itu. Maksudnya bukan adegan—adegan ya adegan itu. Tapi lebih ke 'memahami' adegannya. Kalau adegan dengan team mates di boy groupnya dia pasti bisa melakukan. Tapi yang lain-lainnya… Kyungsoo 101 persen ragu—bahkan melebihi 100 persen, 'kan?

"Episode empat…" Jongin membolak-balik kertas naskahnya. Dia berdeham untuk menghilangkan rasa gatal—padahal sebenarnya tidak sama sekali—di tenggorokannya, "Kissing scene… Ehm, Hyung."

"I-iya?" tanya Kyungsoo tergagap.

Dengan mata yang berlarian, Jongin mendekat ke arah Kyungsoo. Entah apa yang ada di otaknya, dia ingin mencoba keberaniannya sendiri. Di dalam hatinya dia mengumpat, tapi otaknya terus mengatakan dia harus professional. God, damn you, professional. Oh, fuck that shit!

"Can I?" tanya Jongin yang sudah duduk di samping Kyungsoo dengan jarak yang lumayan dekat itu.

"You can… what?"

Jongin tidak tahu. Dia juga tidak mengerti. Jujur semua bulu kuduknya berdiri dan dia ingin berteriak. Otaknya berkata tidak, tapi hatinya menyuruh. Dan bodohnya, seluruh badannya mengikuti kemana hatinya menuntun. Mata Jongin yang semula menatap lurus milik Kyungsoo, sekarang bergerak turun. Otaknya memerintahkan untuk membayangkan dia sedang berhadapan dengan seorang gadis, tapi itu sulit. Yang dihadapannya tetap saja laki-laki meskipun dia tidak berkumis sedikitpun.

His lips… just… sexy. Wait! This is so wrong!

"Give you a peck." Jawab Jongin dengan suara yang serak.

"Eh?"

"Just… a little bit, Hyung. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya… boleh?"

"Wa-wait—Jongin-ah." Kyungsoo mendorong badan Jongin agar sedikit menjauh, "Aku yang seorang gay disini. Kenapa kau yang melakukan ini lebih dulu?"

"Oh? Aku hanya—"

Snapped.

Jongin terdiam. Tapi sesungguhnya, dari pertama kali bertemu, bibir Kyungsoo menjadi hal yang menarik bagi Jongin. Yup. Entah, Jongin menjadikan bibir Kyungsoo sebuah hal yang mengagumkan kala itu. Bukan kok, dia sudah meyakinkan dirinya bahwa dia bukan gay. Dia juga merasa jijik dengan adegan-adegan yang ada disana. Tapi… dia ingin tahu. Dan dia ingin mencoba seberapa berani dirinya menjajal hal baru.

"Jangan salah paham, Hyung. Kau berkata ingin berlatih sebelumnya. Maka dari itu aku memulai hal-hal kecil yang ada disana—"

"Hal-hal kecil? Kalau misalkan ada adegan seks disana, kau mau melatihnya juga?"

"YA! Kau yang mengatakan ingin berlatih tadi! Kenapa jadi aku yang kena…" gumamnya seperti seekor kicked puppy.

"Kau tidak takut aku akan tertarik padamu?"

Jongin menolehkan kepalanya dengan mata yang terbelalak. Benar juga. Tentu kemungkinan Jongin untuk tertarik lebih kecil daripada Kyungsoo. Dengan segera dia menyilangkan tangannya di depan dadanya seperti sedang berlindung dari seorang yang pervert. Setelah sadar dengan apa yang dilakukannya, dia menurunkan tangannya ke daerah… selangkangan.

"Kau—YA! Jangan! Aku bukan gay. Hyung, siapa kau sebenarnya? Kau menakutkan—"

"Sebenarnya, bukan begitu, Jongin-ah. Aku… aku belum pernah melakukan satu pun hal yang ada disana." Gumam Kyungsoo dengan wajah yang memerah.

"Berciuman? Kau sama sekali belum pernah?" Kyungsoo menggeleng, "Wow! Kau hidup di zaman batu hingga tidak pernah berciuman sama sekali?"

Kyungsoo tersenyum dengan terpaksa. Bukan karena itu. Dia… hidup dengan polosnya selama ini. Uhum, dia anak yang tumbuh dengan banyak rules dari orang tua hingga dia sendiri sangat menurut. Bahkan dia hampir dijodohkan dengan seorang lelaki bernama Hyunsik setelah tahu jika Kyungsoo punya gen penerima. Nah, awalnya Kyungsoo menyetujui. Tapi Chanyeol, yang menemukan bakat Kyungsoo, segera mencegahnya habis-habisan. Bisa dibilang, Chanyeol penyelamat dari Kyungsoo. Walaupun sempat Kyungsoo merasa dirinya menjadi anak durhaka setelah menolak dan menghindar dari perjodohan itu.

"Hyung, berciuman itu… It will drive you crazy. Dulu, ketika aku masih berkencan, aku punya kegemaran itu! Hanya saja… mantanku punya bibir yang cenderung tipis dan berkebalikkan dengan milikku." Tidak seperti milikmu, Hyung. Ucap Jongin yang sedikitnya excited.

"Aku hanya… belum menemukan orang yang tepat, Jongin-ah. Itu saja."

Jongin mengangguk. Beberapa saat kemudian alisnya berkerut, "Tunggu, jika kita melakukan kissing scene nanti, berarti itu akan menjadi ciuman pertamamu?"

Kyungsoo yang juga baru menyadari itu segera menempelkan jari-jemari pada bibirnya yang tebal itu. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali layaknya sedang berkata benar juga. Ayolah, dari ekspresinya saja, sudah terlihat apa yang sedang ada di otak Kyungsoo saat ini.

"Oh… I'm so doomed." Ucap Jongin yang kemudian menyandarkan punggungnya dengan kasar.

Mereka berdua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Dengan posisi duduk yang saling bersebelahan, mereka memalingkan muka ke arah sebaliknya. Berusaha sebaik mungkin untuk tidak memikirkan hal tersebut; bahkan berusaha menyibukkan otak mereka dengan hal yang lain. Kyungsoo memilin jari-jari tangannya yang lumayan lentik itu; dengan harapan rasa gugupnya menguar ke udara. Dia, menyesali ucapannya. Mungkin Jongin salah paham, tapi semua itu dimulai dari kesalahannya. Berlatih adegan? Tentu saja semua orang mengira untuk melakukan adegan-adegan disana sebelum shooting, tapi maksud Kyungsoo bukan begitu. Maksudnya hanya untuk memahami, bukan melakukan praktik.

Lelaki itu menggigit bibir bawahnya sembari membetulkan kacamatanya yang turun dari jembatan hidungnya. Nafasnya dihela sekuat mungkin hanya untuk menghilangkan perasaannya yang tidak karuan itu. Ayolah, siapa yang menyangkal jika Jongin menarik? Jongin menarik; dalam konotasi menarik. Dengan mata yang berbinar, hidung kecil—yang menurut Kyungsoo menggemaskan itu—dan bibir yang bisa dibilang plump; seperti miliknya. Yang disukai Kyungsoo dari Jongin adalah badannya, karena badan Jongin bisa dibilang pas; tidak kurus, dan tidak begitu berisi; proporsional. Selama ini Kyungsoo selalu membayangkan bagaimana 'pangeran impian' -nya. Dan Jongin? Nearly reach his expectation.

"Hyung?" panggil Jongin.

"Eung? I-iya?"

"Jangan salah paham dengan maksudku tadi." Jongin menegakkan badannya dan menghadap ke arah Kyungsoo, "Aku hanya ingin tahu—hanya ingin tahu bagaimana rasanya melakukan hal tersebut dengan laki-laki. Itu saja. Hehe—" ucap Jongin sembari menggaruk tengkuknya.

"Kau akan tahu jika shooting nanti. Itu pun kalau kau tidak menggunakan double body—"

"NO! Maksudku, aku memang benar-benar ingin melakukannya. Hanya karena merasa penasaraan saja. Tapi, aku mau tak mau harus melakukannya, 'kan? Aku sudah menandatangani kontrak dan… ayolah, kau tahu sendiri masalah itu. Aku—" Jongin menghela nafasnya, "Aku merasa terjebak dengan masalah ini. Sexuality bukan hal yang bisa digunakan sebagai bahan bercandaan dan Jongdae, si Keparat itu sudah mempermainkannya dan aku merasa aku menjadi gi—"

Smooch.

"La…"

Jongin menghentikan kata-katanya setelah sebuah bibir menyentuh miliknya dalam sekejap. Matanya terbelalak ketika melihat Kyungsoo yang juga menatapnya dengan pipi yang sudah semerah buah tomat. Jongin belum kembali ke akal sehatnya, dan dia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang menghilang entah kemana setelah ciuman sekilas tadi.

"What. Did. You. Do." Ucap Jongin dengan telinga yang juga memerah.

"Aku—aku… ah, maafkan aku—aku hanya, kau mengatakan hal itu, semuanya dan aku hanya—hanya ingin menghentikan ucapanmu. Tapi sepertinya caraku salah…" Kyungsoo menundukkan kepalanya, "Bodoh. Apa yang baru kau lakukan, Soo? Stupid—" gumamnya sembari menghentakkan kakinya dengan lemah.

Lelaki berkulit tanned itu menjilat bibirnya—dengan pikiran yang sudah meliar. Tunggu, dengan apa yang dilakukan Kyungsoo tadi, dia semakin penasaran dan ingin tahu, bagaimana rasanya berciuman, bukan hanya kecupan. Dalam sepersekian detik, Jongin sudah bisa menyimpulkan bagaimana rasanya berciuman dengan Kyungsoo. Ayolah, disaat berkencan dulu, Jongin suka melakukan itu. Dan sekarang… meskipun dengan seorang laki-laki, tapi… bibir Kyungsoo, menjadi sebuah pengecualian.

"Hyung—" Jongin menarik tangan Kyungsoo dan menghadapkan lelaki itu padanya, "Maafkan aku."

Dengan mata yang sudah terpejam, Jongin mendekatan wajahnya. Dan dalam beberapa detik saja, dia sudah mendaratkan bibirnya di bibir milik Kyungsoo. Jongin mulai menggigit—kecil—dan melumat bibir Kyungsoo yang masih kaku itu. Mungkin, mungkin lelaki bermata bulat itu belum mengerti dengan apa yang dilakukan Jongin padanya. Ayolah, jika secara tiba-tiba, siapa yang menyangka?

God damn. His lips are even better than any woman that I ever dated… batin Jongin.

Jongin meletakkan tangannya di daerah tengkuk Kyungsoo, dan mendorongnya—hingga Jongin merasakan giginya terantuk, "Hyung…" bisiknya disela-sela kegiatan tersebut.

Dengan gigitan-gigitan kecil itu, Kyungsoo mulai terpengaruh juga. Tanpa dia sadari, matanya sudah terpejam. Bibirnya juga ikut bergerak mengikuti permainan Jongin. Bahkan dia memiringkan kepalanya agar bisa melakukan hal tersebut dengan lebih mudah. Jari-jemarinya menarik kaos hitam bergambar botol beer milik Jongin dengan lemah. Tentu saja, dia seorang submissive. Dan dengan nalurinya, dia membiarkan lidah Jongin menyapu bagian dalam mulutnya.

Jongin membuka matanya dan menjauhkan bibirnya. Tak disangka apa yang dilakukan berubah menjadi panas; steamy. Dia melihat Kyungsoo yang menggerakkan kelopak matanya perlahan. Jongin melihat perubahan pupil milik lelaki tersebut; berubah melebar. Jongin tahu, mungkin dia juga sama. Dia, terbawa suasana hingga merasa nafasnya menghilang entah kemana. Dia juga masih menatap bibir Kyungsoo yang memerah dan berubah menjadi puffy; membengkak; swollen lips.

"Jongin…" gumam Kyungsoo lirih—dan dengan tangan yang masih berada di kaos Jongin.

"Gosh—maafkan aku, Hyung. Aku hanya ingin mencoba tadi dan tidak mengira akan begini."

Kyungsoo tersenyum kecil, "Tidak apa. Aku juga bersalah disini."

Jongin menggerakkan tangannya dan mencubit pipi gemuk Kyungsoo dengan gemas. Ah, selain bibir, pipi Kyungsoo juga mulai menjadi obsesinya. Dengan pipi gemuk dan kulit yang putih—biasa dia sebut dengan kulit susu—membuat Jongin merasa gemas. Kyungsoo benar-benar adorable, apalagi setelah bertatap muka begini. Jongin mengacak-acak rambut Kyungsoo yang hitam itu seraya tertawa kecil.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya dengan mata yang sayu, "Apa… kau tidak jijik?"

"Jijik?" Jongin menimang jawabannya. Dia bimbang. Jujur, dia masih merasa jijik jika harus berciuman dengan laki-laki. Tapi yang dihadapannya adalah seorang Do Kyungsoo, lelaki yang super-duper-adorable bagi Jongin. Dan rasa jijiknya? Rasa jijiknya entah menguar kemana. "Ah, itu—aku pikir karena aku harus professional, aku bisa mengatasi itu."

"Ah…"

But, Hyung. Your lips are driving me crazy. Batin Jongin yang lagi-lagi mendaratkan matanya ke arah bibir Kyungsoo.

"No, Jongin, no." gumam Jongin yang kemudian menyandarkan punggungnya sembari menyadarkan dirinya dari kebodohan yang sedang menyanyi di otaknya.

"Jongin-ah, ada apa?" tanya Kyungsoo dengan wajah yang khawatir.

Jongin melirik, "Jangan menatapku begitu." Ucapnya ketus.

"Eh? Apa salahnya?"

Ekspresi Kyungsoo yang sedang mengangkat alis dan bibir yang mengerucut itu semakin membuat otak Jongin memikirkan hal-hal yang aneh. Bibir itu. His lips—

"Stop pouting!" seru Jongin.

"Aku tidak mengerti Jongin—"

Mungkin akal Jongin tidak sehat. Lelaki itu kembali—dengan bodohnya—mendaratkan bibirnya disana. Seakan—mungkin—bibir Kyungsoo menjadi rumah bagi miliknya. Bahkan sekarang Jongin melakukannya dengan lebih kasar; memaksa. Secara tidak sadar, Jongin mungkin menyalurkan kebutuhannya akhir-akhir ini; his sexual needs.

Jongin kembali menjauhkan bibirnya. Dan kemudian, dia meraih pinggang Kyungsoo dan mengangkat badan ringkih itu hingga terduduk di pangkuannya. Jongin sudah tidak memperdulikan bagaimana otaknya berteriak; dia sudah mengikuti kemana nafsunya menuntun. Terlihat dari pupilnya yang sudah melebar ke ukuran maksimal ketika menatap tepat pada milik Kyungsoo. Lelaki yang ada di pangkuannya itu tidak jauh berbeda, pupilnya juga berada status yang sama. Bisa dipastikan, nafsu sudah menggiring mereka berdua.

Kyungsoo mendekatkan wajahnya dan melingkarkan tangannya ke leher Jongin—dengan otomatis. Dan Jongin? Jongin sudah mengakuisisi pinggang Kyungsoo dengan posesif. Badan mereka sudah tidak berjarak; bahkan kacamata Kyungsoo juga sudah entah kemana dan entah mereka juga mungkin tidak sadar kapan itu terlepas. Suara hisapan dan lumatan itu terdengar di ruangan. Dan rintihan dari Kyungsoo juga sudah terdengar ketika Jongin berpindah obyek—dari bibir ke arah leher yang memiliki banyak tanda lahir tersebut.

"Jongin…" rintih Kyungsoo yang sekarang melingkarkan tangannya dengan sangat erat dan wajah yang terbenam di pundak Jongin.

Nafas hangat Jongin menyapa bagian belakang leher Kyungsoo. Bahkan sekarang dia melenguh—ketika Jongin menghisap lehernya dengan kuat. Dia, Kyungsoo, yakin jika hisapan itu akan meninggalkan bekas biru disana; hickey. Kyungsoo tidak pernah begini. Ciuman pertamanya juga sudah hilang sedari tadi. Tapi dia tidak mengira akan sejauh ini. Make out? Itu menjadi hal yang tidak pernah terbersit di pikirannya. Dia anak yang polos; sangat polos hingga sering dibohongi oleh banyak orang. Dia merasa menjadi seorang yang jalang ketika berada pada situasi dimana matanya hanya setengah tertutup, kepala yang dimiringkan agar lehernya lebih bebas, bibir yang juga terbuka dan mengluarkan lenguhan disana. Jadi ini? Ini yang dikatakan Jongin?

Disaat mereka Jongin sedang sibuk menggigit lembut bagian telinga Kyungsoo, pintu apartment itu terbuka dan terdengar sebuah teriakan, "KIM JONGIN! CHICKEN IS COMING—HELL! WHAT THE FUCK!"

Oh 'the son-of-a-bitch' Sehun.

.

.

.

Sehun mendudukkan dirinya di hadapan Kyungsoo dan Jongin—yang Jongin sekarang menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Dia, Sehun, mengalihkan matanya secara bergantian—dari Jongin ke Kyungsoo—dan berulang kali. Dia menunggu jawaban. Tentu. Ketika Sehun masuk ke rumah Jongin, mereka berdua sedang dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Bahkan Jongin sedang memakan telinga Kyungsoo yang terlihat ya… mungkin menikmati—ya begitulah. Persis ketika Jongin masuk ke kedai kopinya dan memergoki dia dan Luhan pada situasi yang sama.

"Jadi…" Sehun membuka suara.

Jongin menegakkan badannya, "Dia Do Kyungsoo, partnerku di drama nanti." Ucapnya sembari melirik ke arah lelaki yang sedang menatap ujung kakinya sendiri itu.

Kyungsoo mengangkat kepalanya, "Jangan salah paham—"

"Oh Sehun. So, Kyungpoo-ssi—"

"Kyungsoo—"

"Kau berkencan dengan Jongin?" tanya Sehun tiba-tiba.

"Tidak, Sehun-ssi. Kami… kami hanya berlatih untuk drama—"

"Kau tidak perlu malu, Kyungpoo-ssi. Aku dan Jongin sudah seperti saudara sendiri. Dan kau—" Sehun menatap Kyungsoo dari ujung kepala hingga ujung kaki, "Aku akan memberikanmu izin jika kau mau berkencan dengan Jongin."

Jongin mendelik, "YA! Oh Sehun!"

"Sssh!" Sehun memberikan jari telunjuknya pada Jongin; mengisyaratkan agar lelaki itu terdiam, "Jadi, Kyungpoo-ssi—"

"Namaku Kyungsoo, Sehun-ssi—"

"Apa kau tertarik dengan Kim Jongin?"

"Aish!" Jongin yang sudah tidak sabar itu menarik Kyungsoo dan membawanya pergi menuju pintu depan apartmentnya, "Hyung, bukan aku bermaksud untuk mengusirmu, tapi… Sehun pasti akan menanyaimu dengan pertanyaan yang tidak masuk akal."

Kyungsoo tersenyum kecil, "Aku tahu. Dan itu wajar." Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Jongin, "Aku sangat malu…"

"Itu salahku, Hyung. Aku terlalu terbawa dengan suasana dan bam! Itu terjadi. Lain kali cegah aku, hm?"

Kyungsoo mengangguk dan sukses membuat Jongin gemas. Sejenak Jongin tidak mengerti mengapa lelaki yang ada di hadapannya itu lebih tua darinya. Baginya, Kyungsoo bisa saja lima atau bahkan mungkin delapan tahun lebih muda dengan wajah yang seperti itu. Tangannya dengan refleks meraih pipi Kyungsoo dan mencubitnya lembut. Dia gemas, tidak lebih dari itu.

"Aku pulang, Jongin. Lagipula aku harus membersihkan rumah."

"Ah… hati-hati, Hyung. Maaf jika kejadian tadi tidak begitu menyenangkan."

Kyungsoo menggeleng, "Itu salahku. Ah, jika ada apa-apa, kabari aku, hm? Kau bisa mengirimkan pesan padaku." Lelaki itu mulai mengenakan sepatunya, "Aku pergi dulu!"

Jongin menutup pintunya setelah Kyungsoo melangkahkan kakinya pergi. Meskipun suasana diantara mereka sekarang menjadi super awkward. Semua karena Oh Sehun—the son of a bitch. Andai saja Sehun tidak datang, mungkin mereka masih biasa saja dan menganggap hal tersebut sebagai bagian dari latihan drama. Jongin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan mendapati Sehun sudah duduk di lantai, menonton televisi, dan dengan paha ayam di genggaman tangan.

"YA! Bisa-bisanya kau menginvasi rumahku begini!" seru Jongin yang kemudian mendudukkan dirinya di samping Sehun dan mulai meraih ayam yang ada di meja.

"Jongin."

"Hm?"

"Is he turning you… into… I mean, gay?"

HUK!

Jongin tersedak dan terbatuk—cukup membuat Sehun panik dan mengambilkan segelas air putih untuk sahabatnya itu.

"I'm not a gay, Sehun-ah! Kami hanya berlatih adegan untuk drama!" Jongin yang berapi-api itu mengambil beberapa lembar kertas dan membalik halamannya, "See? Episode empat, scene ke 22! Sama, 'kan?"

"Tapi, ketika aku meihat kalian tadi, bisa dibilang… seperti kalian melakukan hal-hal itu; naturally. Tanpa dibuat-buat."

"HISH! Sudahlah, Sehun-ah. Kau membuat dia tidak nyaman. Dan juga, kau baru bertemu. Tiba-tiba kau menanyakan apakah aku berkencan dengannya, kau pikir itu hal sepele? Apa kau tidak bisa melihat bagaimana wajahnya menjadi merah dan terpaksa begitu?"

"YA! Kenapa kau jadi marah padaku?"

"Karena kau membuatnya tidak nyaman!"

Sehun terdiam. Kemudian senyuman jahil terpapar disana, "Kau membelanya?"

"EH? Ten-tentu! Dia tamuku!"

"Okay. I will wait, Kim Jongin."

"What are you waiting for?" tanya Jongin bingung.

"Kesadaranmu. Kesadaran bahwa kau berubah menjadi seorang gay—"

"YA!" Jongin menubruk Sehun dan menendang lelaki tersebut dengan brutal, "You! Son of a bitch!"

Sehun tertawa terbahak-bahak ketika sahabatnya menyangkal habis-habisan begitu. Dia tahu siapa Jongin dan bagaimana sifatnya. Selama bertahun-tahun mereka dekat tentu dia tahu bagaimana kehidupan Jongin. Selama ini, Sehun selalu mempertanyakan status sexuality dari Jongin. Dia tahu jika Jongin bersikukuh bahwa dia seseorang yang straight, tapi belum tentu dia tidak bisa menjadi gay, 'kan? Lagipula bisa saja Jongin seorang biseksual—yang menyukai keduanya.

Sehun kembali menegakkan badannya ketika Jongin sudah menghentikan luapan kekesalannya tersebut, "Jongin-ah, by the way… bagaimana rasanya make out dengan laki-laki?"

"YA! Kau—"

"Hei, aku hanya bertanya dan ingin tahu jawabanmu! Apa salahnya? Kau tinggal menjawab itu menyenangkan, biasa saja, atau menjijikkan—"

"It was… amazing, Oh Sehun." Jongin menghela nafasnya, "Aku—jujur, Sehun-ah. Mungkin aku terbawa suasana hingga melakukan hal separah itu dengan Kyungsoo. Aku merasa berdosa karena Kyungsoo—bahkan aku yang mengambil ciuman pertamanya!"

"What? Dia tidak pernah berciuman sekalipun?"

Jongin menggeleng, "Aku—aku ciuman pertamanya. Dan jujur, bibir Kyungsoo… bahkan selama aku berkencan dengan wanita-wanita itu, atau bahkan one-night-stand ku di bar, tidak ada yang seperti milik Kyungsoo."

"Memangnya, bagaimana bibir si Do Kyungpoo itu?"

"Kyungsoo, Oh Sehun." Jongin mengoreksi dan kemudian melanjutkan imajinasinya lagi, "Sangat lembut. Bahkan lebih lembut daripada bibir wanita. Mungkin suatu saat nanti aku akan bertanya pelembab bibir apa yang dia gunakan agar pacarku menggunakannya juga." Dia meletakkan tulang paha ayamnya dan berkata lagi, "Bibirnya yang tebal itu—damn! Dari awal bertemu aku sudah mengagumi bibirnya, Sehun-ah!"

"See? Kau tinggal selangkah lagi."

"Selangkah apanya?"

"Menjadi seorang gay. Berterima kasihlah pada Do Kyungpoo—"

"Bajingan!" Jongin lagi-lagi menindih Sehun dan memukulnya berulang kali, "Aku bukan gay! Dan namanya Do Kyungsoo, you, asshole!"

.

.

.

Jongin mengedarkan dirinya di supermarket sore harinya. Dia harus membeli cola yang sudah dihabiskan oleh Sehun ketika mereka makan ayam sebelumnya. Lelaki itu mendorong kereta belanjaannya perlahan, sembari memilih makanan instan apa yang bisa ia beli. Sebenarnya dia sedang melamun; dan sedang memikirkan sebuah hal. Tentang apa yang dikatakan Sehun sebelumnya. Dia yakin, sangat amat yakin bahwa dia bukan gay; karena dia masih saja merasa jijik jika membayangkan harus melakukan hal-hal berbau seksual bersama laki-laki. Tapi, yang tidak dia mengerti adalah, mengapa dia bisa melakukan hal tersebut dengan Kyungsoo, seseorang yang baru saja dia kenal dan bahkan, laki-laki.

Menurut Jongin, Kyungsoo sendiri sangatlah adorable. Entah berapa kali kata-kata itu terbersit di otaknya tapi dia tidak pernah bosan. Selama ini Jongin selalu menyukai gadis yang berbadan ringkih dan kurus; tentu berbeda dengan Kyungsoo yang berisi dan sedikit… sintal. Meskipun begitu, rangka badan dari Kyungsoo sangatlah kecil untuk ukuran seorang pria. Dengan pundak yang sempit dan pinggang yang kecil, membuat Kyungsoo terlihat semakin mini.

Pikiran Jongin semakin tidak karuan ketika melihat ada pasangan gay sedang berbelanja disana. Dia mengamati mereka. Badan salah satunya mirip denganBaekhyun; kurus dan sebelas-dua belas dengan badan wanita. Wajahnya juga cenderung cantik jika dibandingkan dengan lelaki pada umumnya. Ketika melihat keadaan tersebut, Jongin merasa bergidik. Dia bukan seorang homophobe, tapi untuk membayangkan dia harus melakukan hal-hal tersebut dengan seorang pria, rasanya…

Wajah Kyungsoo terlintas di pikirannya. Selama ini dia selalu membayangkan untuk melakukan hal-hal tersebut dengan pria lain; dan sekarang berubah menjadi Kyungsoo. Namun entah mengapa, Jongin menganggap akan biasa saja jika melakukan hal tersebut dengan seorang Do Kyungsoo.

"No way. No." Jongin menyadarkan dirinya, "Tidak akan mungkin aku berubah karena Kyungsoo Hyung. Hanya karena kejadian tadi semuanya berubah begini." Gumamnya sembari berusaha mengembalikan akal sehatnya.

Disaat dia masih sibuk dengan angan-angannya, ponsel kesayangannya pun berbunyi, ByunBitch.

"Halo?"

"Anak mama! Ada dimana? Aku di apartment dan tidak menemukan dirimu."

"Aku di supermarket dekat apartment, Hyung." Jongin menghentikan langkahnya dan mengambil sebungkus potato chips disana, "Susul aku kemari."

"Tidak ada yang menngenalimu?"

"Ada, banyak. Bahkan tadi ada seorang gadis yang menepuk bokongku—tak kukira badanku seseksi ini."

Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Aku akan kesana. Jangan kabur, you rascal!"

Tanpa menjawab, Jongin sudah menutup teleponnya. Karena dia tidak ingin mendengarkan ocehan-ocehan Baekhyun yang memuakkan itu. Dia kembali mencari-cari apa yang dia inginkan. Sesekali dia menatap gadis-gadis yang mengambil fotonya diam-diam. Image Jongin adalah seorang yang jual mahal; bad boy. Bahkan terkesan dingin. Banyak fansnya yang justru merasa takut untuk mendekati Jongin karena lelaki itu memiliki sorot mata yang kaku; bahkan tidak bersahabat sama sekali.

Beberapa saat kemudian, Jongin merasakan ada yang mengikuti di belakangnya. Dan PLAK!

"Berani-beraninya menutup teleponku begitu!"

"ACK! Sakit, Hyung—"

"Rasakan!" Baekhyun berjalan dan meneliti apa yang dibeli oleh Jongin, "Sudah kubilang jangan membeli makanan-makanan seperti ini! Kau bisa merusak bentuk badanmu sendiri!"

"Aku kurang gizi, Hyung. Butuh asupan camilan dan semacamnya—"

"NO! Kau akan mati cepat jika mengkonsumsi makanan seperti ini."

Akhirnya Jongin membiarkan Baekhyun mengeluarkan 90 persen belanjaannya; dan hanya meninggalkan dua botol besar air putih beserta sebungkus besar tissue. Baekhyun menggantinya dengan buah, sayur, daging, dan vitamin—yang Jongin bersumpah dia tidak menyukainya; kecuali daging dan ayam. Dengan segala macam usahanya, Jongin akhirnya bisa memasukkan empat bungkus ramyeon instan. Walaupun dia mendapatkan banyak cacian dari Baekhyun; tapi Jongin tidak peduli.

Jongin mengekor di belakang Baekhyun ketika sampai di kasir. Sempat pegawai kasir terdiam dan mematung ketika melihat Jongin—mungkin karena Jongin terlalu tampan atau semacamnya. Sampai akhirnya si pegawai bekerja lagi setelah mendapatkan bentakan dari Baekhyun. Oh, how dare you.

"Untuk apa kau membeli tissue sebanyak itu?" tanya Baekhyun sembari mengunyah permen jellynya.

"OH?" Jongin mengalihkan perhatian dari ponsel ke arah tissue yang masih belum dimasukkan ke plastic itu, "Eum—itu, tissue di apartment sudah habis."

"Habis? Aku pikir aku baru membelikanmu tissue seminggu yang lalu?" Baekhyun mengerutkan alisnya, "Duh, jangan terlalu banyak masturbasi, Jongin-ah."

WHAT THE FUCK!

Jongin segera menutup mulut Baekhyun yang tidak punya filter itu. Beberapa orang disana menatap Jongin dengan tatapan nakal bahkan banyak diantaranya terkikik. Emm… memang sih, tissue di apartment Jongin habis digunakan untuk itu, tapi, bukan berarti setiap hari Jongin melakukannya. Dia punya jadwal yang padat. Tapi ketika libur begini, dan dia tidak bisa ke club dengan bebas, maka mau tidak mau… yah, dengan menonton video porno atau disaat mandi sepertinya menjadi penyelesaian.

Dengan rasa malu Jongin kembali ke mobil yang dikendarai Baekhyun—karena sebelumnya dia pergi dengan berjalan kaki. Dia meninggalkan Baekhyun yang struggling dengan segala macam belanjaannya. Dan dia membiarkan Baekhyun memasukkan belajaan itu ke dalam mobil sendirian. Itu tugas manajer, 'kan? Walaupun sebenarnya biasanya Jongin yang melakukannya, tapi kali ini Jongin sedang kesal. Lagipula biasanya, jika dilihat-lihat, Baekhyun lebih bossy daripada Jongin dan itu selalu memunculkan pertanyaan sebenarnya siapa yang artis dan siapa yang manajer.

Ketika sampai di apartment, lagi-lagi Jongin menghamburkan dirinya ke ranjang. Sepertinya ranjang menjadi hal yang paling menyenangkan di dunia ini. Memang sih, benda kesayangan Jongin.

"Jonginnie!" teriak Baekhyun dari luar kamar.

"Hmm?" jawab Jongin malas.

"Keluar kau, dumbshit!"

Dengan malas, Jongin melangkahkan kakinya dan menemui Baekhyun yang sedang sibuk memasukkan buah ke dalam lemari es Jongin, "Apa, Hyung?"

"Kau sudah bertemu Kyungsoo?"

"Sudah. Kenapa?"

"Bagaimana? Berjalan lancar?" tanya Baekhyun penasaran.

Jongin menghela nafasnya. Sedikit ada pertempuran di otaknya apakah dia harus menceritakan semuanya pada Baekhyun atau tidak. Orang yang ada di hadapannya adalah Byun Baekhyun; si tukang gosip dan penghasut nomor satu di dunia. Meskipun begitu Jongin membutuhkannya. Sangat butuh.

"Hmm. Sangat lancar." Jawab Jongin seadanya.

"Lalu? Kalian sudah berlatih dialognya?"

"Sudah, Hyung. Sudah. Jangan cerewet."

Lelaki itu memutar bola matanya, "Kalau aku tidak begini, kau akan super malas, Jongin-ah. I know who you are."

"Hm, yeah, yeah. Terserah kau saja, Hyung."

Baekhyun terkikik sembari menutup lemari es yang sudah penuh tersebut, "Jongin-ah, malam nanti aku akan pergi berkencan dengan Chanyeol. Kalau kau ingin makan, kau tinggal memasak bahan-bahan yang sudah dibeli tadi. Jangan memesan makanan dari luar."

"Hyung, kau tahu aku tidak bisa memasak—like I will explode this kitchen if I cook!"

"Jangan makan ramyeon instan juga."

"Ah, Hyung! Jangan begini—"

"Kau harus menjaga kesehatanmu sebelum kau comeback di drama Jongin-ah. Trust me, dengan kau memulai hidup sehat, kau akan terlihat lebih tampan." Ucap Baekhyun sembari menepuk-nepuk kedua pipi Jongin.

"Terserah kau saja." Jawab Jongin yang kembali ke kamar dengan langkah yang kesal.

"Aku pergi dulu, sayang!" teriak Baekhyun dari luar kamar.

Jongin tentu saja akan bersikap layaknya I-don't-give-a-shit pada kepergian Baekhyun. Dia tidak peduli. Dia lebih memperdulikan nasibnya yang tidak tahu harus makan apa malam nanti. Mungkin dengan diam-diam dia akan memesan makanan restoran China, tapi pasti Baekhyun akan mengeceknya esok hari. Dan entah mengapa, Baekhyun selalu tahu.

Lelaki itu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Dan kemudian menggelepar di atas ranjang dengan ponsel di tangannya. Dia merasa bosan, televisi dan acaranya sedang tidak bagus. Dan dia sedang tidak ingin bermain game atau semacamnya. Disaat itu, dia menggulirkan jarinya ke nomor-nomor yang ada disana. Dia ingin menghubungi Sehun, tapi dia tahu pasti sedang sibuk di kedai kopinya. Kemudian, dia menemukan nama Kyungsoo. Dia berdalih ingin menghubungi Kyungsoo agar lebih dekat dan tidak canggung. Meskipun sebenarnya… tadi pagi… mereka… ah, sudahlah.

Beberapa saat kemudian, Kyungsoo menjawab panggilan tersebut, "Halo?"

"Emm… Hyung?"

"Iya? Ada apa, Jongin-ah? Ada masalah?"

"Ti-tidak. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa dan akhirnya aku menghubungimu. Kau sedang tidak sibuk 'kan, Hyung?"

Kyungsoo tertawa kecil, "Tidak. Aku sedang memilihkan pakaian untuk Chanyeol Hyung nanti malam. Dia akan pergi bersama manajermu, 'kan?"

"IYA! Dan itu membuatku bingung harus makan apa malam ini karena biasanya Baekhyun Hyung yang memasakkan untukku."

"Ah… mau aku masakkan sesuatu?"

Wajah Jongin menjadi berubah senang dan dia segera mendudukkan dirinya, "Benarkah? Tapi… aku tidak tahu dimana kau tinggal, Hyung. Dan sepertinya Baekhyun Hyung melarangku pergi kemana-mana."

"Chanyeol Hyung bisa mengantarkanku nanti. Lagipula aku akan di apartment sendirian juga."

"Kau tinggal bersama Chanyeol Hyung?"

"Iya. Dan mungkin dia tidak akan pulang hari ini. Bagaimana, kau mau?"

"Eung! Sudah ada bahan makanan disini. Aku akan menunggumu, Hyung!"

Jongin menutup sambungan ponselnya dengan perasaan yang excited. Entah, baginya ini terlalu cepat tapi Kyungsoo menawarkan hal yang dia butuhkan. Jongin tidak bisa memasak, dan sangat terrible akan hal itu. Memasak ramyeon saja dia terkadang terlalu banyak memasukkan air, apalagi harus memasak yang lain? Di dalam hatinya dia menyumpahi Baekhyun yang meninggalkan dirinya sendirian. Tapi separuh hatinya mengakui bahwa dia sangat bergantung pada lelaki tersebut. Baginya, Baekhyun adalah separuh hidupnya—ini berlebihan tapi hey, itu kenyataannya—dan dia bersiap-siap akan kehilangan karena Chanyeol sudah merebutnya. Ingin dia melarang Chanyeol tapi… Baekhyun sepertinya sudah terobsesi dan Jongin tidak bisa melakukan apa-apa.

Dia melihat pesan dari Kyungsoo yang mengatakan akan datang sekitar jam tujuh. Masih ada sekitar dua jam lagi, dan Jongin yang sebenarnya ingin memanfaatkan hal tersebut untuk tidur. Tapi, niatnya berubah setelah melihat setumpuk tissue yang baru dibelinya tadi. Okay, Jongin is a pervert, tapi… his needs must be taken out. Hey, he wants to get laid. Meskipun dia tidak bisa melakukannya sekarang.

Tissue itu sudah berada di sampingnya. Dan tangan Jongin sudah pergi ke balik celananya. Beberapa kali dia melakukan sentakan disana, dan dia melenguh. Ketika ukurannya sudah berada pada keadaan maksimalnya, Jongin mulai mempercepat gerakannya. Erangan mulai keluar dari bibirnya, dan nafasnya mulai memburu. Keringatnya sudah menetes dan membasahi rambut cokelatnya itu. Setelah berkali-kali hentakan itu dilakukan, his seeds are flowing out. Dia sempat mengerang dan mengucapkan sebuah kata dari bibirnya. Dia menghela nafasnya kuat-kuat sembari mengumpulkan nyawanya yang masih melayang entah kemana. Setelah dia kembali ke akal sehatnya, dia merengek. Benar-benar merengek. Iya, karena dia baru menyadari bahwa dia mengucapkan sebuah kata ketika mencapai klimaksnya.

Kyungsoo.

"NO! I'm not a gay!"

TBC.