PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung

WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul

The Proposal

(The Proposition #2)

By

KATIE ASHLEY …

ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..

YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !

.


Bab 1

Yunho terkejut bangun dari mimpi buruknya dan menemukan dirinya menelungkup di meja dapur. Keringat membasahi wajahnya. Ia mengangkat tangannya yang gemetaran untuk menghapusnya. Saat itulah ia menyadari bahwa itu adalah air mata, bukan keringat, membasahi pipinya. Yunho telah berhenti bermimpi buruk tentang kecelakaan Uee selama bertahun-tahun. Tak butuh waktu lama untuk Yunho mengingat apa yang telah membawa mimpi buruk itu kembali.

Jaejoong.

Semua yang Yunho kira pernah ia rasakan pada Uee ternyata jutaan kali lebih besar yang ia rasakan pada Jaejoong saat ini. Ia hanya mengira ia tahu apa itu cinta. Bahkan tanpa mencoba, Jaejoong telah menimbulkan perasaan aneh pada dirinya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan sekarang Jaejoong telah pergi.

Sebuah tangisan kekalahan yang penuh penderitaan keluar dari bibirnya.

"Sepertinya kita kembali mengalami mimpi buruk, huh?"

Yunho terlunjak sebelum melempar pandangannya ke balik bahunya.

"Hai juga, Pop. Bagaimana kau bisa masuk?"

Ji-hon memberinya senyum masam. "Aku punya kunci, nak."

Ketika Yunho berputar di kursinya, pandangannya ikut berputar, dan ia harus berpegangan pada sisi meja untuk menyeimbangkan dirinya.

"Yeah, well, apa yang terjadi dengan mengetuk pintu?"

"Aku sudah lakukan, tapi kau tak juga membukakan pintu. Sekarang aku bisa melihat penyebabnya."

Yunho menatap penampakan buram dan ganda dari wajah merengut ayahnya. Sebuah tatapan yang benar-benar muak sudah sangat cukup, tapi di kondisinya yang mabuk, ia harus melihat dua.

Ji-hon bersandar di meja dapur, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Nak, kupikir sekarang kau sudah mabuk berat!"

Setelah mendengus tertawa, wajah Yunho membentur meja dengan keras. Dadanya naik turun saat ia tertawa pada kenyataan ayahnya benar-benar mengatakan istilah mabuk berat. Tentu saja tingkat mabuknya juga membuat itu lebih lucu lagi.

Saat dia akhirnya dapat menenangkan diri, dia berseru, "Sebenarnya, Pop, aku sudah mabuk saat minum lima bir dan tiga tequila yang lalu. Aku pikir bisa dibilang aku minum berat."

"Jadi kita mengulangi ini lagi?" Ji-hon mendengus.

Sambil mengangkat kepalanya, Yunho mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?"

Wajah Ji-hon dipenuhi oleh kemarahan. "Kau tahu pasti apa yang aku maksud. Kau memulai pola yang sama seperti yang kau lakukan Sembilan tahun lalu, langsung melarikan diri ke minuman seperti seorang pemabuk."

"Aku menelponmu karena aku membutuhkan bantuanmu, bukan ceramah. Jadi bila kau ke sini untuk berteriak-teriak padaku maka sebaiknya kau pergi!"

Hal berikutnnya yang Yunho tahu Ji-hon menarik rambutnya untuk membuatnya berdiri dan melotot padanya. "Jangan pernah kau berbicara seperti itu lagi padaku! Aku masih ayahmu, dan kau harus menunjukkan rasa hormat padaku. Kau mengerti?"

"Tinggalkan saja aku sendiri!" Yunho berteriak, mencoba untuk melepaskan diri.

Ji-hon mengencangkan genggamannya pada rambut Yunho, menyebabkan Yunho mengernyit kesakitan. "Baiklah. Cukup. Aku akan memperlakukanmu sama seperti aku menganiaya calon tentara yang mengacau!"

Sebelum Yunho mengajukan protes, Ji-hon menarik Yunho turun dari kursi dapur. Kursi itu jatuh dengan suara berisik. "Aku tidak tahu kau masih begitu kuat, Pria Tua. Kau cukup tangkas untuk seseorang berusia tujuh puluh dua tahun," Yunho tercenung.

"Kau sebaiknya tutup mulut kalau kau tahu apa yang terbaik untukmu!" Bentak Ji-hon sebelum mendorong Yunho ke arah lorong. Ia mungkin sudah pingsan lagi bila Ji-hon tak terus memegang kuat tengkuk dan ikan pinggang Yunho.

Saat mereka masuk ke kamar utama, Ji-hon mendorongnya ke dalam kamar mandi. Yunho berbalik dan melihat Ji-hon mengunci pintu. Rasa takut menyergap Yunho. Dengan gugup Yunho terhuyung mundur saat Ji-hon berjalan mendekatinya. "Shit, Pop, kau tak akan memukuliku lagi seperti saat aku masih sekolah ketika kau menemukan pipa ganja di bawah tempat tidurku, kan?"

Tanpa memperdulikan Yunho, Ji-hon menuju shower. Setelah menyalakan keran air, ia meraih lengan Yunho dan mendorongnya ke bawah pancuran air. Air sedingin es membasahi Yunho. Walaupun melewati bajunya, setiap tetes air terasa seperti sebuah pisau bergerigi menusuk-nusuk kulitnya. Ia mencoba keluar, tapi Ji-hon membanting pintu shower menutup. "Kau akan tetap di dalam sana sampai kau sadar dan dapat menceritakan apa yang telah terjadi seperti seorang laki-laki sejati!"

Yunho mendobrak pintu, tapi Ji-hon memegang pintu dengan kuat.

"Aku terlalu tua untuk semua omong kosong ini, Nak. Aku mungkin tak akan ada sembilan tahun lagi saat kau mencoba bertingkah seperti ini lagi. Setidaknya ijinkan aku meninggal dalam damai karena tahu kau memiliki seorang istri dan anak untuk dicintai!"

Kata-kata Ji-hon lebih membuat Yunho membeku daripada air dingin yang menyiraminya. Hanya memikirkan bagaimana ia telah menyakiti Jaejoong membuat rasa pedih atas penyesalan bergetar di dalam dirinya. Alih-alih memberontak lebih jauh, Yunho berbalik dan berdiri di bawah gagang pancuran air, membiarkan air sedingin es menyengatnya seperti pecutan dari cambuk.

Menundukkan kepalanya, Yunho berharap air itu memang sebuah cambuk. Ia layak mendapatkan pukulan untuk semua yang telah ia katakan dan lakukan pada Jaejoong di beberapa minggu terakhir dan secara tak langsung juga pada anaknya. Hukuman fisik merupakan sebuah pelepasan untuk mengurangi siksaan emosional dalam dirinya.

"Kau sudah mulai sadar?" Ji-hon bertanya.

"Ya, Pak," Yunho berkata lirih di bawah siraman air dingin.

"Bagus. Aku akan membuat kopi. Aku akan menunggumu saat kau sudah siap untuk bicara."

Menggigit bibirnya, Yunho tak dapat menghentikan air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada yang lebih ia inginkan dari ayahnya untuk menemukan bagaimanapun caranya untuk mendapatkan Jaejoong kembali. "Terima kasih, Pop," dia berkata, suaranya bergetar dengan emosi.

"Kembali."

Yunho memaksakan dirinya untuk tetap di bawah siraman air sampai pikirannya benar-benar jernih. Saat ia dapat berjalan tanpa terhuyung, ia keluar dari pancuran air. Giginya bergemeletuk saat ia melepaskan bajunya yang basah kuyup. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan kecepatan super, Yunho melangkah ke kamar tidur dan mengenakan celana piyama dan sebuah baju kaus.

Saat Yunho sampai di dapur, Ji-hon sedang duduk di sisi meja.

Sebuah senyum tersungging di ujung bibirnya. "Maaf, aku harus melakukan cara militer padamu."

Yunho menggelengkan kepalanya. "Aku pantas mendapatkannya.

Sebetulnya, kau seharusnya memukulku."

"Menjadi seorang masokis rupanya?"

Yunho mengangkat bahunya dan menuang segelas kopi untuk dirinya sendiri. "Aku pantas mendapatkan lebih dari itu. Aku melukai orang- orang yang paling aku sayangi."

Ji-hon menghela napas. "Aku tak tahu tentang itu. Ada banyak kebaikan dalam dirimu, Yunho. Aku harap kau dapat melihat itu."

"Pasti tidak terlalu banyak kebaikan dalam diriku jika aku selalu mengacau segalanya."

"Ngomong-ngomong tentang itu…" Ji-hon bersandar di kursinya, sambil meletakkan tangannya di atas anak kursi. "Sebelum aku menawarkan bantuan, aku harus tahu satu hal."

Yunho menaikkan alisnya dan menyesap kopinya. Panasnya cairan kopi menyengat lidahnya. "Apa itu?" katanya parau.

"Apakah kau benar-benar ingin Jaejoong kembali karena kau mencintainya, atau karena kau merasa bersalah?"

"Ini tidak seperti yang terjadi dengan Uee," protes Yunho.

"Ini hanya sebuah pertanyaan sederhana, Nak. Apakah kau ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan Jaejoong dan anakmu atau tidak?

Maksudku, kebanyakan lelaki yang benar-benar sedang jatuh cinta tidak kabur dan mencoba untuk tidur dengan wanita lain."

Air mata terasa panas menyengat di mata Yunho. "Aku benar-benar mencintainya, Pop. Itu adalah kebenaran yang sebenarnya."Ia mengelap air matanya dengan kepalan tangannya. Duduk di kursi di seberang Ji-hon, Yunho menceritakan semua detail yang terjadi malam sebelumnya. "Walaupun aku tak bisa mengucapkannya saat itu atau bahkan malam ini saat ia menginginkannya, Aku sangat mencintai Jaejoong."

"Jadi tahun dimana kau berusaha mendapatkan Uee kembali itu semua merupakan–"

Yunho menutup matanya dalam kepedihan. "Rasa bersalah, bukan cinta. Ia berhasil membunuh rasa cintaku padanya dengan cara menipuku. Tapi karena bayi itu, aku akan bertahan di sisinya."

"Apakah Jaejoong tahu tentang hal ini?"

Membuka kelopak matanya, Yunho menjawab, "Aku hanya memberi tahunya tentang perselingkuhan. Aku rasa dia tak sanggup menghadapi sisanya."

"Kurasa kau perlu untuk memberitahunya."

Yunho meringis. "Aku akan memberitahunya. Jika ia mau berbicara padaku lagi."

"Aku punya perasaan yang kuat dia akan ada di sekitar sini lagi."

"Jangan katakan itu karena intuisi Irlandiamu." Kata Yunho, seraya menaikkan alis matanya.

"Tidak. Ini karena Sungmin menemuinya saat ia meninggalkan rumah ini."

Mengerang, dengan frustasi Yunho menggosokkan tangannya ke wajahnya. "Bagus. Aku yakin mereka akan menyerbu kemari segera untuk memanggang kejantananku di sebuah open berapi!"

Ji-hon terkekeh. "Jangan berpikiran sempit tentang kakakmu. Dia dan kakak-kakakmu yang lain mungkin akan mencincangmu karena apa yang telah kau lakukan, tapi mereka benar-benar mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia." Ji-hon merunduk ke depan dan menepuk tangan Yunho. "Dan mereka tahu bagaimana kau mengacau segalanya dulu dan menahan kebahagiaanmu sendiri."

Hidung Yunho mengembang dalam kemarahan. "Mereka tak tahu cerita lengkapnya, Pop. Mereka tak tahu apa yang telah Uee lakukan!"

"Aku tahu itu. Itu adalah rahasia yang akan tetap terjaga antara kau, Uee, dan aku."

Yunho berkata sambil mengepalkan tangannya, "Tidakkah kau tahu berapa kali aku ingin berteriak pada Mom saat dia menyanjung dan memuji Uee di depan mukaku tentang Uee yang telah menikah dan berbahagia? Jika saja dia tahu Uee yang telah mengacaukan isi kepalaku dengan semua wanita lain."

"Itu adalah pilihanmu untuk tak mengatakan padanya, Nak. Aku tak suka merahasiakan hal itu darinya. Ibumu dan aku tidak banyak menyimpan rahasia, tapi aku menyimpan rahasiamu."

Ekspresi marah Yunho melembut. "Aku menghargai itu, Pop."

Ji-hon tersenyum. "Terima kasih kembali." Ia berdiri dan menuang sisa kopinya ke wastafel. "Jadi kau akan berbicara pada Jaejoong dan mengatakan yang sebenarnya padanya?"

"Yeah. Secepatnya saat dia mau bicara padaku."

"Bagus. Aku senang mendengarnya." Ji-hon melihat ke jam tangannya. "Well, sebaiknya aku pulang sekarang."

Yunho merasa sesak menyadari kemungkinan dia sendirian. "Saat ini benar-benar sudah terlalu malam untukmu mengemudi. Mungkin kau sebaiknya menginap saja malam ini."

Yunho menangkap tatapan ayahnya. Dengan matanya, Yunho mencoba mengatakan apa yang ia terlalu malu untuk mengakui: Ia tidak mau sendirian.

Ji-hon menganggukkan kepalanya. "Kupikir kau benar. Kau tak keberatan menginapkan orangtuamu di sini?"

Yunho tersenyum. "Aku sama sekali tak keberatan."

...


fiuhhhhh baru sadar ternyata selama ini penulisan nama Yoochun salah seharusnya Yoochun -_-

tapi ya sudah lah sudah terlanjur ...

maaf ya..

karna ada yang bilang ...

...