Preview

Kris.. aku pulang telat hari ini, aku akan pergi bersama kyungsoo, menemaninya belanja.. aku mencintaimu ^_^

-your baekhyun-

Love is Sin

Main Casts:

Kris Wu as Kris Wu

Byun Baekhyun as Baekhyun Wu

Enjoy~~

Baekhyun POV

Akhirnya aku sampai di sebuah cafe. Tempat ini sama sekali bukan tempat yang asing lagi bagiku. Cafe ini adalah tempat yang biasa kudatangi dengan sahabatku ketika dulu aku masih berstatus sebagai mahasiswa.
Namun setelah menikah dengan Kris, aku tidak pernah memiliki waktu untuk datang dan bersantai lagi. Tidak seperti yang kulakukan dulu . Sekarang, aku terlalu sibuk mencari uang.

"Baekhyun-ah!" panggil seorang namja. Suaranya terdengar familiar dan membuatku menoleh ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari dari mana suara itu. Mataku berputar menjelajahi setiap sudut cafe untuk mencari sosok yang memanggilku tadi.
Sampai akhirnya aku menemukan seseorang yang tengah menggerak gerakan tangannya di udara. Ia melambaikan tangannya padaku. Ah kyungsoo. Aku tersenyum ketika aku berhasil menemukan namja itu. Begitupun dengan kyungsoo, ia tersenyum puas ketika melihatku yang berhasil menemukannya.

Aku segera melangkahkan kakiku mendekati kyungsoo, kemudian mengambil posisi duduk di sebrang kyungsoo.

"Baekhyun-ah.. bogoshipeo.. bagaimana kabarmu?" kyungsoo dengan cepat membuka percakapan diantara kami saat aku baru saja duduk dihadapannya. Aku tersenyum padanya
"baik. Semakin baik" jawabku

Kyungsoo semakin tersenyum. "syukurlah.. bagaimana dengan suamimu?"

"Kris.. dia juga semakin "baik". Aku senang dia akhirnya sadar. Dia berhenti melakukan tindakan kriminal" jelasku padanya

"jinjjayo?" kyungsoo membuka matanya dan membuat kedua matanya yang sudah lebar semakin lebar saja.

"sungguh. Sekarang ia bekerja menjadi supir pribadi" aku berpikir sejenak untuk memikirkan nama atasan Kris. Bodoh. Kris tidak memberitahu siapa nama atasannya padaku.
"tapi aku lupa siapa nama atasanya" aku terkekeh sembari mengusap tengkukku, membuat kyungsoo mengerucutkan bibir ranumnya lucu.

"Aish.. kau ini bagaimana? kau harus tahu Kris bekerja pada siapa" ujar kyungsoo menasihatiku

Aku masih terkekeh kikuk
"hehe ne. Aku lupa menanyakan yang itu. Nanti kutanyakan"

Kyungsoo berhenti mengerucutkan bibirnya dan kembali tersenyum padaku.

"Baiklah.. Kau ingin apa? Aku yang traktir" tawar kyungsoo sambil memnyodorkan sebuah buku bersampul coklat dan tercetak gabungan huruf yang membentuk kata -menu- sebagai sampulnya. Aku segera meraih buku itu kemudian mulai membuka lembar perlembarnya

"uhm.. aku ingin milkshake vanilla saja" ujarku sambil menunjuk pada sebuah gambar milkshake yang tertempel di buku itu.

"eoh? hanya itu? tidak biasanya kau hanya memesan minuman saja" goda kyungsoo

Aku tersenyum sebagai jawabannya
"aku sedang ingin minum saja"

"benarkah? Jangan hanya karena aku yang traktir. Kau kan sahabatku baekkie. Jja mau pesan apa lagi?" tawarnya sekali lagi. Tapi aku tetap menggeleng dan masig tersenyum.
"tidak usah kyungie, sungguh. Aku hanya ingin minum"

Wajahnya dengan cepat ia tekuk sebagai responnya. Ia cemberut. Mungkin karena kutolak tawarannya.
Padahal dulu itu biasanya aku yang selalu mengomelinya kalau ia tidak mau menraktir jajananku. Tapi sungguhan. Aku sedang tidak ingin apa apa.

Kyungsoo masih cemberut. Ia melambaikan tangannya sekali lagi, untuk memanggil pelayan cafe
Pelayan cafe itu tersenyum dan datang menghampiri meja kami berdua

"aku pesan milkshake vanilla.. dan roti krim saus strawberry" ucap kyungsoo pada pelayan ramah itu.
Pelayan itu mengangguk dan mencatat pesanan kami.
"mohon tunggu sebentar" ujar pelayan itu setelah selesai mencatat pesanan.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, pesanan kami pun jadi.
Pelayan itu menyajikan pesanannya diatas meja kami. Satu vanila milkshake untukku dan satu roti krim saus strawberry untuk kyungsoo, si maniac strawberry.

"kyungsoo-ah.." kataku ragu sambil mengaduk milkshake dihadapanku dengan sedotan. Yang dipanggil langsung menoleh dan menatapku. Ia menatapku. Tatapannya seakan mengatakan "ada apa?"

"aku.." ucapku ragu ragu.

"ada apa Baekhyun-ah?"

Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri untuk menatap sekitar. Ketika aku mendapati cafe itu sedikit sepi. Aku baru angkat bicara

"aku hamil" ujarku dengan sedikit berbisik

Kyungsoo langsung menghentikan kegiatan mengunyahnya, kedua matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka, ia melototiku. Ish. Benar benar membuatku risih saja.

"Kau pasti bercanda.." balasnya dengan wajah yang masih terkejut. Ia mencondongkan kepalanya. mendekat padaku. Melihat dari tatapannya, sepertinya aku bisa membaca apa yang ada dipikirannya.

"kau kan namja Baekhyun-ah. bagaimana bisa kau.." aku segera membekap mulutnya dan membuat kyungsoo tidak melanjutkan kalimatnya. benar kan? kyungsoo pasti menanyakan hal itu.

Aku menghela nafasku panjang.
"Sebenarnya umma pernah mengatakan hal ini padaku ketika aku masih SMA dulu. Aku sengaja tidak memberitahu padamu tentang hal ini. Aku terlalu malu. Walaupun kau sahabatku. Tapi tetap saja aku terlalu malu" jelasku. Rasanya malu sekali aku mengatakan aib yang seharusnya kusembunyikan darinya. Aku menghela nafas lagi.

"benarkah? Kau bodoh byun Baekhyun. Pertama, kenapa kau baru menceritakannya padaku kalau kau bisa.. hamil? Kedua, kenapa kau juga baru cerita padaku kalau kau sudah hamil? Padahal aku ini sahabatmu. Kau teman masa kecilku, bahkan sampai sekarang" intonasinya semakin meninggi saja. Aku semakin menundukkan wajahkku. Aku membiarkannya marah, karena aku memaklumi itu.

"dan yang ketiga..." suaranya terdengar galak. Tapi ia menghentikan ucapannya. Membuatku penasaran kenapa ia menghentikan kalimatnya. Aku sedikit mendongak dengan takut takut untuk menatapnya.

"tapi aku senang mendengarnya~ chukkae! kau memiliki jiwa seperti seorang umma. Jadi kurasa kau pantas menjadi umma" ujar kyungsoo. Intonasinya berubah drastis. Tadi ia menaikan intonasinya dan seakan memarahiku. Namun sekarang nadanya benar benar seperti orang yang kegirangan.

"seandainya aku bisa hamil sepertimu baekkie" ucap kyungsoo lirih tiba tiba. Aku menatapnya. Kyungsoo mungkin sedikit iri dengan berita kalau aku ini tengah hamil. Kyungsoo sangat menyukai anak kecil. Dia adalah tipikal penjaga dan penyayang layaknya seperti seorang umma.

"tapi aku tidak bisa hamil sepertimu baekkie" lanjutnya

Aku tersenyum tipis.
"hey.. seorang anak tidak harus lahir dari kandunganmu sendiri bukan? Asal kau menyayangi dan menjaganya, kau bisa menganggapnya sebagai anakmu kyungsoo-ah" kataku berniat untuk membuatnya tidak merasa sedih lagi.

"ah kau benar baekkie" kyungsoo akhirnya tersenyum. Membuatku sedikit lega.

"ah ya.. berapa usia kandunganmu baekkie? Sepertinya kau masih hamil muda eoh?"

Aku tersenyum sambil mengelus permukaan perutku lembut
"usianya baru 8 minggu"

"waah kalian pasti sangat menunggu kehadirannya ne?"

"hm.. tentu saja" aku mengangguk dengan masih mengelus perutku perlahan.

"karena roti krimku dan milkshakemu sudah habis. Kita langsung berangkat belanja saja ne? Uhm.. Tapi kau benar tak apa jika mengantarku? Nanti aegyamu.." tanya kyungsoo khawatir. "Oh ayolah. Kita hanya pergi belanja. Tidak terlalu lelah kan? elakku

"baiklah. Nanti kuantar pulang baekkie"

Baekhyun POV end


Kris terbangun dari tidurnya. Ia masih belum mendapati Baekhyun. Membuat Kris sedikit khawatir, tentu saja. Istrinya tengah hamil 8 bulan. Jamnya sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi Baekhyun tak kunjung pulang. Kris benar benar khawatir sekarang.

Kris berjalan menuju kulkas kecil yang berdiri di pojok ruangan dekat televisi. Memgambil minuman berkadar alkohol rendah untuk menenangkan diri dari rasa khawatirnya itu.

"aku pulang~"

Mendengar itu, Kris dengan cepat melihat siapa yang datang. Itu Baekhyun, seseorang yang sedang ia khawatirkan.

Baekhyun tampak kerepotan membawa kantung belanjaannya. Ia membawa banyak sekali belanjaan. Tentu sebagai suami yang baik, Kris tidak membiarkan istrinya kerepotan begitu. Kris langsung saja mengambil kantung belanjaan yang Baekhyun bawa dan menyimpannya di atas meja.
Kris menatap intens Baekhyun. Kris penasaran,

"dari mana Baekhyun membeli belanjaan sebanyak ini? Apa ia menjadi pembunuh bayaran juga?" Batin Kris

Baekhyun tersenyum seakan mengerti harus menjawab apa.

"kyungsoo yang memberiku semua ini. Ini untuk bekal kita selama satu bulan Kris sayang" ujar Baekhyun

Dan Kris mengangguk mengerti. Ia berjalan mendekati Baekhyunnya kemudian melingkarkan lengan panjangnya ke pinggang Baekhyun. Baekhyun membalas dengan mengalungkan lengannya ke leher Kris. Mereka saling bertatapan. Tatapan lembut tercipta diantara mereka.

"bagaimana kabar uri aegya?" tanya Kris lembut. Ia mulai menggerakan tangannya untuk mengelus perut istrinya perlahan.
Baekhyun tersipu melihat wajah Kris yang semakin hari tampak semakin tampan itu.
Baekhyun mendaratkan telapak tangannya diatas punggung tangan Kris dan mengikuti gerakkan Kris yang mengelus perutnya lembut. Baekhyun tersenyum manis.

"uri aegya baik baik saja appa, kau sudah makan? Jja kita makan bersama"


Kris menggerutu ketika Sehun tidak kunjung datang. Kris tidak suka menunggu. Baginya, menunggu adalah hal yang paling membuatnya kesal. Tak masalah jika ia harus melompati deretan gedung yang tinggi atau berlari selama beberapa jam tanpa henti. Selama itu bukan menunggu, Kris pasti akan melakukannya

"yo! Kris" panggil seorang namja yang berjalan mendekatinya.
Kris menegakkan posisi berdirinya yang bersandar pada tembok dan menatap ke arah Sehun.
"kau sudah menunggu dari tadi? Aku ada sedikit masalah dengan kekasihku tadi" ucap Sehun enteng

Kris mendecak mendengan ucapan Sehun yang begitu enteng. Kris hanya menjawab dengan gumaman. Kris menjatuhkan rokoknya, yang ujungnya masih terbakar, ke tanah kemudian menginjaknya.
"jadi.. katamu kita akan pergi menemui "rekan bisnis" kita"

Sehun mengangguk kemudian ia menggerakkan kepalanya berniat memberi aba aba pada Kris agar ia mengikutinya. Kris menurut, ia mulai berjalan mengikuti Sehun yang sudah berjalan lebih dulu.

.

Mereka tiba di sebuah komplek yang cukup elit. Ya. Terlihat dari desain setiap rumah yang terkesan elegan.
Perumahan ini tampak asing bagi Kris.

"Aku merasa belum pernah lewat sini. Tempat ini begitu asing" batin Kris

Sampai akhirnya mereka sampai dan berdiri di depan sebuah rumah mewah. Bahkan melebihi kata mewah. Dengan warna yang super elegan, dekorasi warna yang glamour dan pagar yang cukup tinggi menjulang dihadapan mereka. Terlihat dari sela pagar, terparkir sebanyak 3 mobil yang Kris tahu harga satu mobilnya pasti lebih mahal dari 10 kali harga apartemennya.

Wow. Kris terkagum melihatnya.

"kami ingin menemui Kim Jongdae-sshi" ucap Sehun pada seseorang yang tengah duduk sambil membaca koran. Namja itu sedikit terganggu, ia menoleh pada Sehun yang mengintip namja itu dari sela pagar yang cukup tinggi.
Namja itu menatap Sehun dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapanya benar benar mengintimidasi.

"apa tuan kim Jongdae mengundang kalian?"ucap namja itu masih dengan tatapan mengintimidasinya.

"ne. Kami berdua diundang" balas Sehun. Kris? Kris hanya diam memperhatikan Sehun meminta izin untuk masuk ke dalam.

Namja itu dengan ragu membukakan pagarnya dan mempersilahkan Kris dan Sehun masuk. Tapi namja itu tentu tidak membiarkan mereka berdua masuk ke dalam dengan mudah dan tanpa di awasi. Penjaga itu berjalan masuk bersama Kris dan Sehun. Tak jauh dari situ, berdiri seorang namja dengan blazer hitam, dasi yang menggantung rapi di lehernya, sepatu hitam yang mengkilap. Penampilannya benar benar formal. Terlihat seperti seorang butler.
Namja itu menatap dengan tatapan yang sama seperti saat si namja penjaga tadi.

"Siapa kalian?" tanyanya dengan nada yang cukup angkuh.

"kami diundang kemari oleh Kim Jongdae-sshi" jawab Sehun

Namja itu menatap intens kepada mereka berdua.

"Aku tidak mengenal gelandangan seperti kalian. Jadi kalian tidak bisa menemui.."

"Mereka tamu ku" potong seseorang dengan tiba tiba.

Ah sepertinya si tuan muda pemilik rumah mewah ini. Kim Jongdae atau biasa disapa Jongdae, berjalan menuruni tangga dan mendekat. Jongdae menatap kedua tamunya. Tapi ia lebih sering menatap Sehun.

"kau oh Sehun?" Tanya Jongdae

Sehun tersenyum tipis. Ia sedikit membungkuk pada Jongdae
"ne, Kim Jongdae-sshi"

"Kau berkata kasar pada kedua tamu spesialku" Jongdae memicingkan tatapannya pada butler yang hampir saja mengusir Kris dan Sehun tadi.
Si butler itu membungkuk beberapa kali pada Jongdae. "maafkan saya tuan muda"

"jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada kedua tamu terhormatku ini" ujar Jongdae sambil melipatkan kedua tangan di dadanya.

Dengan sedikit ragu, akhirnya ia membungkuk dan meminta maaf.

Jongdae -istilah kasarnya- mengusir butler itu.
Ia menjatuhkan diri di sofa bertekstur bulu miliknya. Jongdae tertawa renyah.
"aku senang kalian mau membantuku aku ingin kalian membunuh 2 orang" ucapnya. Ia masih menyandarkan punggungnya. Kepalanya ia sandarkan juga pada telapak tangannya.

"kalian sanggup?" tanya Jongdae.

Kris dan Sehun menatap satu sama lain. Mereka menyeringai.
"Aku ingin kau membunuh orang tua kekasih ku"Jongdae beranjak dari sofanya dan berjalan menuju nakas. Mengeluarkan sebuah foto
"Ini orangnya" ucapnya sambil menyodorkan sebuah foto pada Kris dan Sehun

"mereka menentangku menikah dengan kekasihku, Minseok namanya. Aku dan Minseok tidam bisa menikah karena mereka berdua. Ck tua bangka" Jongdae berdecih

Kris dan Sehun hanya menyeringai mendengar keluhan Jongdae.

"aku ingin kalian membunu mereka secepatnya"

"baiklah kami mengerti" jawab Sehun dan Kris serempak.

Seberapapun brengseknya Kris. Tenyata ada yang menyamai ke-brengsekan-nya, Jongdae. Masalah antara Jongdae dan Minseok benar benar mirip dengan masalahnya dan Baekhyun. Tapi Kris tidak pernah terpikir untuk membunuh kedua orang tua Baekhyun. Seberapapun kerasnya kedua orang tua Baekhyun pada hubungan mereka, Kris tetap tidak membunuh kedua orang tua Baekhyun. Karena Kris sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Itu yang ia rasakan ketika ia melihat orang tuanya dibunuh. Umurnya bahkan masih terlalu kecil untuk diberi tontonan pembunuhan seperti itu. Kris melihat jelas bagaimana kedua orang tuanya di bunuh saat usianya masih 7 tahun.

Kris meraih foto itu dan memperhatikan wajah yang tercetak di lembar foto itu.

"Aku bisa membuat orang ini mati" seringai Kris

"bagus. Ambil seragam kalian. Dan mulai bekerja. Aku akan membayar kalian dengan bayaran yang.. cukup mahal" sekarang giliran Jongdae yang menyeringai.


Baekhyun melihat Kris sudah berpakaian rapi. Ia tersenyum menatap suaminya yang merapikan kemejanya.

"Kau semakin tampan saja, appa" Baekhyun mendekat pada Kris. Menatap wajah suaminya itu intens.
Mendekatkan jarak antara mereka.

Kris tersenyum. Ia membelai lembut surai halus Baekhyun.

Baekhyun memotong ketika Kris hendak merespon pernyataanya
"Tapi kenapa harus malam malam seperti ini? Aku kesepian" raut wajah Baekhyun berubah menjadi sedih sekarang. Baekhyun menundukkan kepalanya sembari mengerucutkan bibirnya. Dengan sigap Kris mengangkat wajah Baekhyun, mencium bibir ranum istrinya lembut. Hanya ciuman sekilas.

"hanya malam ini baby. Aku harus bekerja" ujar Kris dengan suara khas baritonnya.

Baekhyun tersenyum tipis dan menggangguk sedikit. Bagaimanapun juga ia harus memaklumi suaminya. Ia harus membiarkan suaminya pergi mencari nafkah, walau hatinya rela hanya setengah hati.

"baiklah" jawab Baekhyun.
Dan mereka kembali berciuman untuk yang terakhir sebelum akhirnya mereka terpisah karena Kris yang benar benar harus pergi.


"Jadi kau membunuh yang namja atau yang yeoja?" Tanya Sehun pada Kris. Kris hanya menoleh sedikit sambil menyetir.

"biar aku urus yang namja" seringai Kris. Tatapannya masih terfokus ke depan karena harus berkonsentrasi menyetir.

"baiklah. Uhm. Kau pakai alasan apa?" Pertanyaan kedua muncul dari mulut Sehun

"bekerja. Apa lagi? Aku mengatakan padanya kalau aku ini seorang supir pribadi seorang konglomerat" ujar Kris

Sehun tertawa meledak mendengar jawaban keheningan berubah menjadi bising karena suara tawa Sehun.

Namun Kris hanya menanggapinya dengan santai.

"Menurutku itu alasan paling masuk akal" jawab Kris seadanya.
Dan akhirnya tawa Sehun mereda ketika ia menyadari kalau mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan.
Kris menghentikan mobilnya ketika mereka benar benar sampai.

"semoga berhasil" seringai Kris. Ia beranjak keluar dari dalam mobil. Disusul oleh Sehun. Sehun sedikit merapikan kostum formalnya.
Mereka berjalan menuju rumah itu.

Singkat cerita mereka sudah ada di dalam rumah yang tak kalah mewah dengan rumah Jongdae tadi.

Kris dan Sehun menyamar sebagai suruhan dari perusahaan yang bekerja sama dengan perusahan milik appa Minseok.

Kris dan Sehun masih setia menunggu korbannya.

"Selamat malam" sapa seorang namja yang umurnya bisa diperkirakan tua itu.

"Akhirnya yang kutunggu datang juga" bisik Kris dalam hati
Namja tua itu duduk dihadapan Kris dan Sehun. Menatap sedikit curiga pada mereka.

"aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya?" ujarnya curiga namun tetap menampilkan kesan sopan.

"ah.. kebetulan asisten tuan choi tidak bisa datang kemari. Jadi kami yang datang" jelas Kris

Namja tua atau sebut saja tuan kim mengangguk. Sedikit menarik napas lega ketika mendengar penjelasan mereka. Ia pikir sepertinya Kris dan Sehun benar benar suruhan tuan choi.

"anda sendirian tuan?" tanya Kris

"Tidak. istriku sedang tertidur di kamar" jawabnya sambil tersenyum.

.

"tuan kim.. bisakah aku memakai toilet disini?" Tanya Sehun mendadak memotong obrolan Kris dengan tuan kim yang sedari tadi berbincang tentang kehidupan -palsu- Kris.

Tuan kim dengan sopannya mengangguk.
"tentu saja. toiletnya ada di ujung lorong dekat dapur"

Sehun membalas dengan tersenyum sopan padanya. Ia berdiri dan sedikit membungkuk pada tuan kim.
Kemudian berlalu menjauh dari Kris dan tuan kim.

Ini dia. Aksinya di mulai. Ia berbelok dari jalannya menuju toilet. Ia membuka sebuah kamar yang tidak terkunci. Sehun melihat seorang yeoja yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.
Sehun menyeringai melihatnya. Ia sedikit menutup pintu. Tangannya ia masukkan kedalam blazernya, untuk mengambil sebuah pisau tajam. Setelah mendapatkannya. Sehun mengangkat pisaunya dan mengarahkan pada perut atas si korban. Ia semakin menyeringai.
Nyonya kim sedikit gelisah dalam tidurnya. Ia terus bergerak gelisah. Sampai akhirnya ia membuka matanya perlahan.

Melihat Sehun yang sudah mengangkat pisau tajam diatasnya, yeoja itu berteriak sekencang kencangnya. Membuat Sehun sedikit panik. Sehun dengan cepat menancapkan pisau itu ke perut nyonya kim. Nyonya kim berteriak kesakitan. Sehun mencabut pisaunya dan kembali menancapkan pisaunya lagi.
.

Tuan kim terkejut setengah mati mendengar suara istrinya berteriak minta tolong. Matanya menatap tajam pada Kris. Wajahnya menatap curiga pada Kris. Kris memasang wajah terkejut -padahal ia hanya beracting-. Tanpa aba aba tuan kim berdiri untuk menyusul istrinya di kamar. Kris dengan cepat berdiri dari duduknya dan mengarahkan revolvernya pada punggung tuan kim yang berjalan menjauh. Kris menyeringai dan langsung menarik pelatuknya. Hingga akhirnya. Tuan kim ambruk ke bawah dengan lubang di punggung yang menembus sampai ke dadanya oleh sebuah peluru.

tidak lama dari itu, Sehun keluar setelah menyelesaikan urusannya.

"Jangan tinggalkan jejak apapun.. Kita harus cepat pergi dari sini" ujar Kris sambil memasukan revolvernya.

Dewi fortuna berpihak pada mereka. Mereka berlari keluar berhasil kabur. Mengagumkan.


Hingga beberapa jam setelah pembunuhan..

"Jongdae ah.. terimakasih sudah mengantarku sampai rumah"

Jongdae tersenyum menanggapinya. Ia mencium kening namja yang tingginya sedikit lebih rendah darinya.

"saranghae" ucap mereka serempak.

.
"aku pulang~ umma.. ap.." namja itu berjalan mendekati namja yang telungkup di lantai beralaskan darah segar mengalir dari dadanya

"ap.. appa!" teriak namja itu dengan histeris

TBC

a/n: helow chingudeul.. updatetan love is sin datang (?) hehehe terima kasih yang sudah mereview.. aku cinta kalian~ :D baekhyun dibuat menderita ga yaa? :p kita lihat nanti kekeke

review if you like chingudeul~

Seperti kalimat saya yang biasa. Review kalian akan membuat saya lebih semangat bikin next chap

Gomaptaa #bow