Biasanya peran antagonis adalah tokoh kedua dari sebuah cerita... bagaimana kalau yang antagonis jadi tokoh utama? Penasaran?... percayalah tak ada kisah cinta yang lebih ekstrim dari pada ini... hyahahahahhahhah (ketawa nista sang author sarap)
Antagonist
Naruto © M.K
Antagonist © elfazen
.
.
.
SasuIno
.
sligh KakaTen,NaruKarin,KibaSaku,GaaTayu,OroTsun
(slightnya super duper crak semua)
.
.
.
WARNING: Lautan typo,Eyd tidak ditemukan keberadaanya,ooc abis... bikin mual dan kadang kejang-kejang,
.
yang merasa tidak suka dan masih di bawah umur sebaiknya MINGGAT aja... !
.
.
.
enjoi
chape 3
"Gaara sebaiknya kita hentikan ini semua, aku sudah memiliki suami... dan kau adalah muridku" ucap Tayuya Tegas pada Gaara.
"Tsk! orang yang memukulimu seperti ini masih kau sebut suami?" ucap gara sambil memegang memar di pelipis Tayuya yang memang sedikit tersamarkan oleh kosmetik mahalnya.
"Gaara sudahlah sebaiknya kau pulang... kau sudah mendapatkan hadiahnya kan." ucap Tayuya sembil menampik tangan Gaara yang memegang pelipisnya.
"..." Gaara diam, ya... dia memang sudah mendapatkan hadiah... hadiah yang selalu di berikan oleh Tayuya saat Gaara berhasil menyelesaikan sebuah soal sulit atau saat Gaara mendapat nilai sempurna di bidang Matematika... Hadiah itu hanyalah sebuah ciuman panas dengan sang guru... hadiah yang sungguh fantastik bukan? Namun apa sebenarnya itu yang diinginkan Gaara? Mungkin memang Gaara yang memulai ini semua, di saat dia menjadi murid bandel dan tak pernah mendapat nilai bagus Tayuya datang sebagai sosok dewasa yang selalu memperhatikan Gaara, dia menyuruhnya berubah dan menjadi murid yang pintar walau tetap saja bandel. Akhirnya mereke membuat suatu perjajnjian dimana Gaara akan berubah kalau Tayuya mau memberi hadiah ciuman disaat Gaara mendapat nilai bagus atau bisa mengerjakan soal sulit di depan. Namun seiring berjalannya waktu Gaara yang pada awalnya hanya mencari kesenangan belaka menjadi terobsesi kepada Gurunya. Dia ..tenggelam dalam permainannya sendiri.
"Ra... Gaara..!" suara tegas Tayuya sensei membangunkan Gaara dari lamunanya.
"Kerjakan soal nomor 15" perintah Tayuya. Dan Gaara pun berdiri dari bangkunya. Dia berseringai saat mengambil spidol di tangan tayuya.
"Kuharap kau tidak bosan memberi hadiah kepadaku" bisik Gaara sangat pelan hingga tak ada yang bisa mendengarnya kecuali mereka berdua. Gaara pun mengerjakan soalnya dengan teliti, suasana kelas yang sepi tak seperti biasanya. Kiba yang sedng molor di balik bukunya sedangkan Naruto sedang berkhayal dengan melihat foto Karin di HP-nya...sedangkan tokoh utama kita... tentu saja mereka masih menjalani hukuman. Hukuman? Apa mungkin seorang seperti mereka rela di hukum? Entahlah...
.
.
.
"Tsunade-sama mereka telah melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah saya harap anda bisa memberei hukuman yang pantas pada mereka" ucap Sakura pada Tsunade yang sudah meletakan bolpoint di tempatnya.
"Hn, baiklah sakura kau boleh keluar." ucap sudate tegas.
"Baik Tsunade-sama" Ucap Sakura di akhiri dengan bungkuan badan, dan dia pun mlangkahkan kakinya keluar.
"Uchiha Sasuke kau sama sekali tidak berubah...Dimana seragammu? Kau pikir sedang berada dimana?" ucap Tsunade pada Sasuke yang tengah bertelanjang dada.
"Hn.." jawaban ambigu khas Uchiha pun meluncur dari mulut Sasuke.
"Tsk! " Tsunade mengumpat dia sangat jengkel sekali dengan Uchiha satu ini kalau bukan karena dia anak dari Sahabatnya mungkin dia sudah mengeluarkan Sasuke dari dulu.
"Lalu kau Yamnaka... Kau masih dua hari disini dan kau sudah berbuat hal yang fatal" Tsunade memincingkan matanya melihat seragam Ino yang kebesaran
"Dan apa yang kau pakai Itu adalah Seragam Uchiha?" tanya Tsunade mengintimidasi.
"Ya... ini seragam sasuke" jawab Ino enteng dia meyandarkan punggungnya pada kursi begitupun juga sasuke, yang sedang berwajah bosan dan malas menjalani kegiatan ini.
"Lalu di mana seragam mu?"
"Di sobek oleh Sasuke dan sudah tidak bisa di pakai lagi" ucap Ino lagi-lagi dengan entengnya... tanpa beban sama sekali.
Tsunade memiijit keningnya dia sedikit frustasi menaggapi siswa siswi seperti Ino dan Sasuke.
"Jadi kalian benar-benar melakukanya di dalam sekolah? Kalian tahu kalau itu melanggar aturan sekolah! Kenapa kalian masih melakukannya!" marah Tsunade kepada Ino dan Sasuke.
Srek
"Ach" tedengar suara kesakitan sorang pria di ruangan tsunade. Bagaimana tidak barusan Ino tengang menginjak Rambut seseorang yang mencuat keluar dari kolong meja kerja tsunade dan menggesernya keras.
"Tsunade sama aku tidak peduli kau mau menghukum kami seperti Apa... Namun aku juga tidak akan Peduli yang akan terjadi padamu dan seseorang di bawah mejamu kalau pihak yayasan mengetahui kefatalan kalian..." ucap Ino dengan seringai kemenangannya.
"A..apa maksudmu Yamanka!" sentak Tsunade yang kini sudah berdiri dan berkeringat dingin.
"Orang yang menandai lehermu payah sekali Tsunade-sama..."
Duk
Kepala Orochimaru terbentur atap meja saat dia hendak bediri, dia geram dikatai Sasuke payah..
"Naif sekali kalian pikir kalian siapa? … kalian bahkan tidak mempunyai bukti apa-apa... coba saja melapor pada Yayasan dan tunggu siapa yang akan di keluarkan dari sini... lagi pula kalian pikir aku tidak punya hak untuk mengeluarkan kalian? Aku punya! Kalian lupa kalau aku adalah Kepala Sekolah disini!" ucap Tsunade dengan senyum meremehkan.
"Bocah kau pikir kau lebih hebat dari pada aku..!" kini Orochimaru sudah keluar dari persembunyianya dan menampakan wajah sangar serta lidah ularnya.
"Cih ternyata kau...sensei" ucap sasuke kala mengetahui yang sedari tadi bersembunyi di kolong meja adalah Orochimaru sensei guru kimia mereka.
Tit
"Naif sekali kalian pikir kalian siapa? … kalian bahkan tidak mempunyai bukti apa-apa... coba saja melapor pada Yayasan dan tunggu siapa yang akan di keluarkan dari sini... lagi pula kalian pikir aku tidak punya hak untuk mengeluarkan kalian? Aku punya! Kalian lupa kalau aku adalah Kepala Sekolah disini!"
"Bocah kau pikir kau lebih hebat dari pada aku..!"
"Sekarang kami jadi punya bukti... Bagaimana Tsunade sama? kau mengeluarkan kami dari sekolah dan kalian juga akan dikeluarkan dari sekolah ... Ah.. ditambah kalian juga tidak akan pernah mendapat pekerjaan di sekolahan manapun...dan tentu saja juga menanggung malu" ucap Ino setelah mematikan rekaman suara Tsunade dan Orochimaru di HP-nya... sungguh orang jahat yang penuh antisipasi.
"Kalian tidak lebih dari dua orang dewasa yang sangat naif...Khufufuu" ucap Sasuke, dia berdiri dan mengandeng tangan Ino, dan menuntunnya untuk keluar dari ruangan Laknat itu.
BLAM
Suara pintu menggelegar meninggalkan Tsunade dan Oochimaru yang tengah terbatu di tempat.
.
.
.
Sasuke menggenggam tangan Ino erat, mereka berjalan di koridor yang sepi, hening menyelimuti mereka hanya samar-samar suara guru yang sedang mengajar yang terdengar di telinga mereka. Sasuke menuntun Ino menaiki tangga dan terus seperti itu. Ino mngerutkan alisnya ia bingung mau di ajak kemana dia. Tentu arah tangga ini tidak menuju kelasnya.
"Kau ternyata tak lebih dari pembual besar yang banyak omong," Sasuke memecahkan keheningan mereka.
"Kau adalah orang pertama yang mengatai aku 'payah' dan brengseknya lagi ..kau adalah seorang perawan."lanjut sasuke dengan penekanan di kata perawan.
Ino menatap Sasuke yang bertelanjang dada, dia tidak munafik Ino menyadari Sasuke memang tampan dan juga sangat seksy. Namun Ino segera mengalihkan pandangannya yang hampir terbius oleh pheromone Sasuke.
"Terserah... " ucap Ino enteng tak mau mengakui bahwa dirinya memang hanya omong besar. Ino memang bukan gadis baik yang mau melepas keperawanannya di malam pertama. Ino masih perawan sampai saat ini karena sampai sekarang di belum menemukan Laki-laki yang tepat untuk mendapatkan keperawanannya.
"Cih! Payah sekali.."
Braak.
Setelah mengatai Ino payah Sasuke mendobrak kasar pintu di atap sekolah.. lalu Sasuke menuntun Ino menuju tempat yang dia inginkan. Sasuke sedikit bergidik kedinginan kala angin musim semi menerjang kulitnya yang mulus. Dia duduk dan bersandar di dinding pembatas lalu dia menarik tangan Ino yang masih Ia genggam dan berhasil membuat Ino duduk menghadap di pangkuan Sasuke. Angin mulai mengibarkan rambut Ino yang terurai...Sasuke yang melihatnya mulai menyingkirkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajah Ino. Sasuke mencium bibir Ino... menciumnya dengan lembut dan hati-hati... ciuman yang beda dari biasanya bahkan mungkin ciuman yang pertama dia lakukan dengan lembut. Tidak lama Sasuke melepas ciumanya... mereka saling metatap...mata onyx Sasuke bertabrakan dengan biru lautan Ino.
Saat itu sasuke sadar kalau Ino memang benar-benar cantik. Sasuke merangkum pipi Ino dan mulai menjilati bibir Ino... lalu merayap kepipi kenyalnya... saliva sasuke meleleh di pipi Ino hingga turun ke dagu dan lehernya Ino memejamkan sebelah matanya geli...kini sasuke mulai menjilati pelipis Ino dan turun lagi ke pipi.
"Ngnhhhhh..." desah Ino yang merasa dada kirinya tengah di remas lembut oleh Sasuke...
"Kau tahu kini kau sudah seperti pelacur-pelacur itu..." bisik Sasuke di telinga Ino dia berseringai dan menatap Ino remeh. Namun dia sedikit tercekat saat mendapati Ino tersenyum Iblis padanya. Tangan Ino mula menyentuk pipi halus sasuke lalu...
"ARGHH...!" Sasuke mengerang hebat merasakan perih di wajahnya darah mengalir di daerah pipinya...Ino berdiri dan menendang kemaluan Sasuke.
"ARRG! BRENGSEK!" Sasuke mengeram menahan sakit di bagian fitalnya.
"Seorang pelacur tidak akan merobek muka dan menendang kemaluan pelangganya..." ucap Ino sinis. Lalu Ino pun melangkah menjauh dari tempat Sasuke. Namun bukan Sasuke namanya kalau mau di perlakukan seperti ini... apalagi oleh sorang Gadis.
Brak..
"Ach...!" Ino kesakitan lantaran Sasuke menarik dan membantingnya menempel pada tembok, Sasuke menggencet tubuh Ino hingga pipi Ino menyatu dengan tembok... Ino meringis menahan sakit di bagian mukanya. Ia sadar saat ini darah segar pasti keluar dari mulutnya karena benturan keras tadi... karena dia merasakan sensasi asin di dalam mulutnya.
"Kau tidak akan pernah kulepaskan lagi!" desis Sasuke di telinga Ino penuh penekanan dan amarah.
Sret
Sasuke menarik ikat pinggangnya dan melilitkannya di kedua tangan Ino, Ino yang tangannya terikat hanya meringis masih merasakan sakit di bagian mukanya yang masih tetap menempel pada tembok.
"ARGHH...!BRENGSEK HENTIKAN! ARRGH...! INI SAKIT KEPARAT!" teriak Ino dengan bentakan saat merasakan liangnya mulai di masuki secara paksa dan kasar oleh milik Sasuke.
"FUCK! DIAM!" bentak Sasuke balik kepada Ino dan masih berusaha menjebol liang Ino yang memang sangat sempit itu.
"Tsk! Sial sem...pit!" Sasuke berusaha mencari titik paling terdalam Ino dan menembuasnya namun Itu pun perlu usaha besar.
"ARGH..! hentikn BODOH!" Ino masih berteriak kesakitan namun tak di gubris oleh Sasuke.
"ARGH..! BRENG..ARGH..SEK!" Ino makin berteriak kala Sasuke makin kasar dengan usahanya.
"Apa begitu caranya memohon Hn?" sasuke menghentikan sejenak usahanya namun tetap menanam sebagian miliknya pada diri Ino. Dia meremas kasar dada Ino dan menjilati tengkuk Ino. Dan Itu pun sukses membuat Ino mendesah secara otomatis. Sasuke berseringai dan masih tetap menjilati tengkuk Ino kala mendengar desahan Ino yang semakin menjadi-jadi.
"Aku akan menghentikan ini kalau kau mau bersujud dan mencium kaki ku" desis Sasuke de telinga Ino penuh penekanan. Dia beseringai dan berlanjut menjilati mata Ino yang sedikit mengeluarkan air mata akibat kesakitan. Namun dia tidak menangis sama sekali. Itu sedikit membuat Sasuke heran padahal kalau Ino menangis mungkin akan lebih seru batinya. Sungguh benar-benar orang yang kejam bukan?
"Ya... biklah.." ucap Ino sambil memejamkan matanya merasakan sakit di bagian bawahnya walau belum sukses di jebol oleh Sasuke namun masih begitu perih rasanya.
Sasuke terdiam kala mendengar jwaban Ino. Dia tidak menyangka seorang seperti Ino yang notabenya sama dengan dirinya, mau menjatuhkan harga dirinya. Namun kemudia sasuke melepas miliknya yang tadi masih tertanam di dalam diri Ino, dia berseringai dan menjambak rambut pirang Ino.
"Cepat lakukan.." ucap Sasuke dan melepas jambakannya.
Ino jatuh tersungkur dengan celana dalam yang melorot, baju kebesaran yang acak-acakan, rambut pirang yang mulai berantakan, dan juga tangan yang terikat di belakang.
Dia mulai merangkak ke kaki Sasuke di benar-benar bersujud dan mencium kaki sasuke. Sasuke yang melihat itu hanya berekspresi datar dia tidak lagi berseringai entah apa yang dia rasakan saat ini tapi melihat Ino yang seperti itu membuat sesuatu di dalam hatinya seperti tersayat oleh pedang. Sasuke mengerutkan alisnya dia bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini... perasaan yang sama seperti saat dia melihat Ino yang telanjang dan menundukan kepalanya di UKS, dan saat ini perasaan itu makin besar mnehantam hati sasuke kala melihat Ino dengan keadaan yang makin parah... dia sudah pernah melakukan BDSM dengan banyak wanita sebelumnya namun dia sama sekali tak merasakn apa-apa hanya rasa senang, dan gembira saja kala melihat wanita-wanita itu kesakitan namun kini beda...kenapa dia begitu sakit kala mendapati Ino bersujud padanya dengan penampilan yang mengenaskan. Bukan kah ini yang dia inginkan?.. yah.. tapi sekarang dia sadar sebenarnya dia sama sekali tidak menginginkan ini...dia sama sekali tidak mau melihat Ino begini..
Sasuke mulai berjongkok dan mengambil bahu Ino dia merengkuh Ino ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang sama sekali belum pernah dia lakukan pada gadis-gadis lain sebuah pelukan sayang dan cinta penuh dengan perlindungan...
"Maaf..." Ino tercekat saat mendengar kata-kata sakral itu lagi... Namun sebagai orang jahat sepertinya. Dia sangat tahu mana permintaan maaf yang benar-benar tulus dan tidak. Dari ucapan maaf yang sangat pelan dari Sasuke dia tahu ada ketulusan di dalamnya, bagi orang jahat seperti mereka kata maaf adalah kata-kata paling tabu untuk di ucapkan. Namun sekali mengucapkanya, mereka tidak akan hanya main-main. Ino bingung apa yang sedang dia rasakan saat ini, tadi saat dia harus bersujud dan mencium kaki Sasuke dia sudah bersumpah akan membunuh Sasuke. Namun saat ini mungkin dia harus rela dihukum raja iblis karena sudah mulai merasa tidak akan pernah menepati sumpahnya. Karena dia merasa sangat nyaman di pelukan Sasuke... dia juga... sudah memaafkan Sasuke. Hanya dengan satu kata 'maaf' yang sangat sakral... mereka bisa bersatu...aura negative bertemu aura negative bercampur jadi satu dan akan menjadi aura positive. Hukum alam memang begitu kan?.
.
.
.
ceklek
Suara pintu terbuka dan menampilkan ruangan serba putih milik Dr. Uchiha Itachi.
"Sasuke bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk ruangan orang" ucap Itachi yang mendapati adiknya masuk dengan muka sedikit lecet di bagian pipi. Itachi mengerutkan dahinya 'tumben sasuke bisa terluka' batinya heran mendapati tukang kelahi seperti adiknya bisa terluka terlebih lagi itu di bagian wajah. Sasuke tidur di kasur pasien tanpa menghiraukan kakaknya.
"Kenapa wajahmu?" tanya Itachi menghampiri Sasuke dan mulai mengambil peralatan untuk mengobati luka Sasuke.
"hn... " jawab Sasuke ambigu. Ya dia memang tidak bisa akrab dengan kakanya entah karena faktor apa... padahal dulu waktu kecil Sasuke begitu manja pada Itachi.
"Hahhhh..."Itachi hanya mendengus.. jengah mendapati sikap adiknya yang tak pernah berubah..
Itachi mulai mengobati luka Sasuke dengan teliti sedangkan Sasuke hanya memejamkan matanya tanpa memprotes sedikit pun.
.
.
.
Ino duduk di sofa panjang di apartemennya... di apartemennya nampak sepi dan sunyi walau saat ini dia melihat ke arah LCD TV 32 inci yang menyiarkan acara humor namun dia sama sekali tidak tertawa... matanya memang melihat ke arah TV matanya kosong dan terlihat sangat kesepian dan pikiranya... entah melayang kemana.
~antagonist~
"Hai ten!" sapa Ino ceria pada Tenten yang sedang berjalan sendiri menuju sekolah.
Bruk
Ino melempar tasnya pada Tenten. Tenten yang hendak memprotes pun mengurungkan niatnya...karena pasti dia akan di dianancam dengan kata-kata 'kita teman kan?..' Tenten harus mulai terbiasa dengan ini.
"Ten-chan aku lapar.." rengek Ino sambil memegangi perutnya.
"Lalu?" tanya tenten malas.
"Heheeh belikan roti rasa mocca yang ada di sana" kata Ino sambil nyengir kuda menunjuk toko kue di seberang jalan. Tenten menoleh pada Ino
"Kau beli sendiri saja... aku bukan budak mu Ino!" bentak Tenten pada Ino sambil membanting tas Ino.
Ino tertunduk lesu... Dia mengambil HP di kantongnya dan mulai memencet keypad Hpnya...
"Ten...kita berakhir di sini saja..." ucap Ino sambil menunjukan Hpnya yang akan memencet tombol done untuk mengirim foto KakaTen kepada semua Orang di sekolah...
"Tidakkkkk...! baiklah baiklah aku belikan kumohon jangan... Inoo" ucap tenten yang tegang mendapati fotonya akan disebarkan via mms oleh Ino. Tenten mengambil tas Ino yang di bantingnya tadi dan berlari menuju toko roti di seberang jalan.
"Sial sial sial!" teriak tenten sambil berjalan kesal menuju toko roti.
Ino berseringai geli mendapati Tenten begitu mudah di kuasai...
Saat Ino tengah menunggu tenten yang sedang membelikanya roti. Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna biru dongker berhenti tepat di depan Ino lalu sang pengendara yang berseragam sama dengan Ino berambut raven dan berwajah dingin keluar dari mobilnya. Ino mengerutkan dahi saat menyadari Sasukelah yang pemilik mobil mahal itu.
Sret
Sasuke menarik tangan Ino dan menuntunya memasuki mobilnya. Ino Yang di perlakukan begitu secara tiba-tiba hanya tersenyum geli dan menurut saja... mungkin kalau gadis biasa akan berteriak dan memprotes. Tapi Ino dia kan bukan gadis biasa... mobil pun melaju cepat meninggalkan Tenten yang geram sambil meremas roti mocca pesanan Ino.
"Dasar sialan!" teriak Tenten pada Ino dan Sasuke yang tentu saja tidak dapat mendengarnya.
.
.
.
"Kau sudah makan?" tanya Sasuke tiba-tiba namun pandangannya tetap mengarang ke depan... Ino menatap Sasuke dengan senyum sinis
"heh.. kau peduli..?" Ino menjawab dengan angkuhnya. Sasuke pun hanya berwajah datar menaggapi jawaban dari Ino.
Sasuke menghentikan mobilnya di sebuah restoran breakfast, Sasuke keluar dari mobilnya dan menunggu Ino keluar sendiri... saat Ino sudah keluar Sasuke menggandeng tangan Ino dan mengajaknya masuk kedalam. Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih...
Mereka pun Sarapan berdua... dengan sangat Romantis Ino menyuapi Sasuke... dan menyuapi dirinya sendiri. Dan pandangan Sasuke pun tak pernah lepas dari gadis pirang di sampingnya. Namun tak ada yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Kau tahu? kau orang yang paling brengsek yang pernah kutemui..." ucap Ino sambil menyuapkan sesuap sendwich pada Sasuke. Sasuke menerimanya dan mulai mengunyah sendwich yang ada di mulutnya.
"Kau wanita terjalang yang pernah ku kenal... dan juga paling menggairahkan.." ucap sasuke sambil sedikit menguyah sisa-sisa sendwict di mulutnya.
"Ah.. .. jadi kau pengemar wanita jalang ya? Hahaha" ucap Ino sambil tertawa kecil dan mulai menyuapi Sasuke lagi. Sedangkan Sasuke hanya mengangkat bahunya... cuek.
Sungguh percakapan yang frontal... namun sungguh aneh mereka sungguh terlihat romantis Ino sampai rela menyuapai Sasuke namun kenapa obrolan mereka begitu frontal?.
Tanpa disadari oleh sekelilingnya ternyata tangan kanan sasuke tengah berada dalam rok Ino dan menyentuhkan sebuah pisau lipat pada paha Ino... Sasuke tengah mengancam Ino dan menyuruhnya untuk menyuapai Sasuke...sungguh cara memohon yang sangat ekstrim.
Setelah suapan terakhir Sasuke mencium bibir Ino lembut sebuah kissing morning yang sangat lembut. Dia melumat agak dalam namun tak lama kemudian Sasuke melepasnya.
"Ada mayones.." Ucapnya sambil berseringai kecil.
"Cepat singkirkan benda itu"ucap Ino manis sambil membelai wajah sasuke yang berbekas cakar di pipnya..
"sebelum aku menambah luka ini makin dalam" lanjutnya masih dengan senyum lembut tapi palsunya.
"hahahaha... kau lucu sekali"
cup
Sasuke mengecup bibir Ino singkat setelah menertawakan Ino, lalu dia menyimpan pisau lipatnya di saku dan mengandeng tangan Ino untuk keluar dari restoran tersebut...
Tanpa mereka sadari keduanya mulai dari kemarin selalu saja bergandengan tangan...dan keduanya juga tak ada yang memprotes kegiatan itu...
karena bagi mereka bergandengan tangan seperti itu... adalah hal yang menenagkan bagi keduanya.
Dan tanpa mereka sadari juga... keduanya telah saling melengkapi sebuah ruang kosong dan sunyi di dalam hati mereka masing-masing.
TBC
yo mina-san! ^.^/ elf mintak maaf kemarin gk bisa update...
ada kejadian lucu pas elf lagi ngetik scane yang "ARGHH...!BRENGSEK HENTIKAN! ARRGH...! INI SAKIT KEPARAT!" teriak Ino dengan bentakan sat merasakan liangnya mulai di masuki secara paksa dan kasara oleh milik Sasuke.
"FUCK! DIAM!" bentak Sasuke balik kepada Ino dan masih berusaha menjebol liang Ino yang memang sangat sempit itu.
Nah gini ceritanya..
elf kan ngetik sambil jaga warnet.
Lha.. pas elf ngetik scane di atas elf lagi seru2nya..lalu ada anak kecil mangil2
"kak.. no 6 berapa kak.." elf gak ngegubris..elf lagi seru...tuch anak masih mangil manggil aja "kak... kak.. hallo kak no 6 kak.." elf tetep gk dengerin.."kak..ka.." lha pas mau ngetik tulisan "FUCK! DIAM!" elf malah keceplosan teriak ke tuh anak "Fuck diam!" tuh anak sampai kaget mpek hampir nangis...
"eh.." elf sadar dan langsung ngelus ngelus tuch kepala anak kecil "dek mafaf dek ya.. kakak gk sengaja.." eh tuh anak malah teriak2 pakek bahasa jawa yang kalau di artikan itu "BRENGSEK KAMU KAK! DASAR TULI! DI PANGGIL2 GK DENGER! MALAH DI MARAHIN BRENGSEK! SIALAN!" terus elf di lempar pakek uang 2000an padahal tuch anak maen game habis 7500 jadilah elf udah di marahin anak kecil tekor lagi... TT^TT sungguh nista banget hidup elf..
yo mina jangan pedulikan curhatan gajhe di atas mintak repiuw
dan yang baca aja trus gk repiuw.. elf sumpahin jomblo dah.. seumur jangung! (plaked)
eLfazen
