'Misteri abadi dunia adalah keterpahamannya' – Albert Einstein
.
.
Sebelumnya:
"Ha-hajimemashite, watashi wa Kagami Taiga, desu. Kalian bisa memanggilku Taiga. Sebelumnya aku tinggal di Amerika. Yoroshiku onegaishimasu."
.
"Maaf, aku tidak sengaja!"
.
"Tolong temani Kagami berkeliling sekolah. Kebetulan hari ini tidak ada rapat OSIS bukan?"
.
"Hello Taiga~"
.
"Namaku Aomine Daiki."
.
.
.
Ohayou, Taiga-chan~
© riryzha
Kuroko no Basuke
© Fujimaki Tadatoshi
Chapter 3
Warning: OOC, typo, dan segala ke-absurd-annya
.
.
.
"Katanya di kelasmu ada murid baru ya?"
"Iya. Dan kau tahu, dia cantik sekali!"
"Benarkah? Waah, aku jadi ingin berkenalan dengannya. Mungkin saja dengan dekat dengannya bisa membuatku tertular kecantikannya."
Dua anak perempuan itu kemudian tertawa. Keduanya tengah berdiri di depan cermin kamar mandi sambil mencuci tangan. Di sebelah mereka tampak beberapa perempuan sebaya dengan mereka tengah memoles diri dengan alat kecantikan yang dibawa dari rumah.
"Cantik dari mana? Cih."
Seorang perempuan yang tengah memegang gincu dengan warna Coral Shore bermerek Shiseido sambil membuang ludah ke wastafel di depannya. Sementara dua murid perempuan di sebelahnya memutar bola mata mereka malas.
"Tenang saja Izumi~ Tetap kau yang paling cantik. Benarkan, Ami?" Ujar teman Izumi sambil menyikut anak perempuan dengan surai cokelat tanah yang tengah merapikan rambut di sebelahnya.
"Tentu saja. Kau primadona sekolah." Ujar Ami tanpa sedikitpun matanya beralih dari kaca.
"Thank you, my dear Ina and my lovely Ami." Ucap Izumi sambil mengembangkan senyum kepada keduanya.
"Tapi Tai-chan tidak memakai kosmetik apapun, Izumi." Sahut salah satu murid perempuan di sebelah mereka.
"Mungkin karena dia terlalu pintar menyembunyikan make up yang dipakainya makanya terlihat natural." Ujar Izumi seraya mengangkat kedua bahunya disertai dengan senyum sinis.
"Terserah kau saja, Izumi." Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala kemudian keluar dari kamar mandi.
"Aku yakin dalam beberapa bulan lagi gelar primadona Teiko akan jatuh kepada Tai-chan."
Keduanya tidak menyadari bahwa Izumi mengepalkan tangan dan memukul wastafel dengan tatapan penuh amarah ketika pintu kamar mandi tertutup.
~Ohayou, Taiga-chan~
"Um…" Taiga memandang kedua anak laki-laki yang berjalan di depannya dengan canggung.
"Pertama kita ke 1-4 atau disebut kantin. Kenapa 1-4? Angka 1 menunjukkan kantin ini merupakan kantin khusus murid kelas 10. Dan 4 menandakan ruangan ini berada urutan keempat setelah perpustakaan. Yang pertama adalah lobby tempat kau menunggu sebelumnya." Setelah melewati papan dengan angka yang tertera di samping pintu, Akashi menjelaskan sambil berjalan menuju sebuah meja dengan sekumpulan anak yang memiliki warna rambut yang unik. Aomine sendiri sudah duduk lebih dulu di sebelah anak laki-laki dengan rambut secerah matahari di kala terik itu.
"Tumben kau sedikit terlambat, Akashi?" Laki-laki dengan surai hijau yang Taiga lihat di kelasnya tadi duduk di sebelah anak laki-laki dengan rambut berwarna ungu?
'Mereka seperti sekumpulan sereal froot loops dari kelloggs.' Taiga tertawa pelan.
"Apa yang kau tertawakan, Taiga?" Tanya Akashi seraya mengusap hidungnya.
"Aa... Um…"
"Tenang saja ssu! Kami tidak menggigit kok." Anak laki-laki bersurai kuning tersenyum sambil mengibaskan tangannya.
'Setidaknya bukan kami, tapi Akashi-cchi.' Sambung anak laki-laki itu dalam hati dan entah bagaimana bisa diiyakan dalam hati oleh yang lainnya.
"Emm, tidak apa aku duduk bersama dengan kalian?" Tanya Taiga sambil memainkan jari-jarinya.
"Meja ini milik umum, nanodayo." Midorima membetulkan letak kacamatanya lalu kembali membaca buku tebal yang dibawanya.
"Tapi kenapa sejak tadi banyak orang yang selalu menghindar untuk lewat dekat meja ini? Dan tatapan yang mereka berikan seperti, entahlah… Mengagumi kalian mungkin?" Ucap Taiga sembari melirik sekitar.
"Mungkin karena mereka jarang melihat titan berwarna ungu sedang melahap rakus segunung makanan ringan?" Ujar Aomine sambil menunjuk anak laki-laki yang paling tinggi di antara mereka meski dalam posisi duduk.
Taiga yang melihatnya langsung tertawa cukup keras. Oh ayolah. Mana mungkin ia bisa menahan pemandangan di mana kumpulan remah snack yang menghiasi pipi anak laki-laki itu dengan tatapan layaknya anak kecil yang menemukan mainan baru.
"Ah, sumimasen… Aku tidak berniat untuk menertawakanmu, um…" Taiga menggaruk tengkuknya dengan wajah tersipu malu dan sedikit rasa takut dalam hatinya. Pasalnya baru kali ini ia benar-benar tidak bisa mengontrol diri di depan orang lain.
"Murasakibara Atsushi. Tidak apa. Tawamu seperti musik yang indah." Murasakibara menatap Taiga sebentar kemudian melanjutkan makan.
Meninggalkan Taiga yang speechless.
'Bold move, Murasakibara!' Sepertinya semuanya yang berada di kantin setuju dengan ucapannya.
"Sebaiknya kau duduk dulu." Sebuah tangan putih pucat menepuk tempat kosong di sebelahnya. Memecah keheningan yang ada di kantin.
Sejak kapan kantin menjadi hening? Entahlah Taiga tidak mengetahuinya.
"Sejak kapan kau di situ?!" Aomine dan anak laki-laki bersurai kuning itu yang berteriak paling kencang. Sementara Akashi, Midorima dan Murasakibara hanya bisa mengelus dada.
"Um, thanks…?" Taiga duduk dengan wajah bingung.
"Kuroko Tetsuya. Yoroshiku." Anak laki-laki dengan surai biru langit itu kemudian melanjutkan kembali sesi minumnya.
"Kagami Taiga." Taiga memandang heran para anak laki-laki yang ada di meja itu.
'Mereka seperti habis melihat hantu saja.'
"Tetsuya, lain kali peringatkan kami kalau kau sudah ada di dekat kami." Akashi menatap Kuroko yang menatap balik dirinya.
"Baiklah, Akashi-kun."
"Oh ya! Perkenalkan namaku Kise Ryouta!" Kise mengulurkan tangan kanannya dari seberang tempat Taiga duduk.
Taiga baru saja hendak mengangkat tangannya untuk menyambut uluran tangan tersebut kalau Aomine tidak segera menampik tangan Kise.
"Tidak perlu salaman segala."
"Aomine-cchi hidoi, ssu!"Ujar Kise seraya mengelus tangannya lalu mengomel sendiri.
'Aku tidak mau kau juga memegang tangan lembut itu, Kise!' Pekik Aomine dalam hati.
"Fools." Ujar Midorima pelan seraya mendesah lelah.
"Kuro-chin, sebaiknya jangan cuma minum vanillashake. Kau tidak akan tumbuh besar hanya dengan minuman itu." Ujar Murasakibara seraya menunjuk-nunjuk minuman di tangan Kuroko dengan sebatang pocky?
"Dan aku tidak mungkin tumbuh besar hanya dengan camilan saja, Murasakibara-kun." Balas Kuroko tak kalah gesit.
Akashi hanya bisa menggeleng pasrah kemudian menepuk pelan pundak Taiga.
"Mau memesan makanan?"
"Ah… Boleh." Taiga segera berdiri dan berjalan beriringan dengan Akashi menuju counter.
"Aku pesan ice tea dan satu roti yakisoba. Kau?" Akashi melirik Taiga.
"Aa… Um, aku ice lemon tea dan… lima sandwich keju?" Ingin rasanya Taiga menenggelamkan diri dalam teluk Toyama begitu mendapat tatapan tidak percaya Akashi dan Ibu kantin.
Jangan tanyakan Taiga bagaimana ia tahu tentang teluk Toyama.
"Err… Kebetulan aku memiliki metabolism tubuh yang… um, cukup baik?" Taiga berusaha menjelaskan yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
"Baiklah~ tunggu sebentar…" Ibu kantin itu segera berbalik dan menyodorkan satu gelas ice tea dan sebungkus roti yakisoba kepada Akashi dan satu gelas ice lemon tea beserta satu kantung plastik berukuran sedang berisi lima sandwich keju kepada Taiga.
Keduanya segera kembali ke meja dengan kumpulan anak dengan warna rambut seperti pelangi tersebut setelah membayar pesanan mereka.
"Banyak sekali sandwich yang kau beli, Kagami-cchi?" Tanya Kise dengan tatapan yang sama seperti Akashi dan Ibu kantin sebelumnya begitu Akashi dan Taiga duduk di bangku.
"Kau membelikan satu untukku?" Tanya Aomine sambil menaikkan satu alisnya.
"Um… sebenarnya ini untukku sendiri." Taiga segera menyembunyikan kantung plastik yang dipegangnya di bawah meja.
"Sebanyak itu?" Mata Midorima melebar.
"Apa aku salah?" Taiga tertunduk lesu.
Membuat semuanya yang berada di meja itu merasa bersalah melihatnya.
"Ahhh, tidak kok." Kise berusaha mencairkan suasana.
"Benarkah?" Dengan cepat kepala Taiga terangkat dan senyum lebar merekah di bibir merah mudanya.
"I-iya ssu." Jawab Kise sebisa mungkin selagi meneguk ludahnya.
"Terima kasih." Senyum Taiga semakin melebar hingga kedua matanya menyipit.
Banyak suara tersedak yang tiba-tiba muncul seakan saling bersahutan.
'Kaya gini mah gak perlu mati dulu buat ngeliat surga dan para malaikatnya kalo tuhan udah nurunin satu di Teiko.' Sepertinya para murid kelas 10 sedang kompak dalam masalah hati sejak hari ini.
Tiba-tiba sebuah suara melengking dan derap langkah memecah suasana.
"TETSU-KUN~"
Kuroko nyaris saja tersungkur kalau ia tidak segera berpegangan pada meja kantin.
"Momoi-san… Tolong, aku butuh udara." Kuroko menepuk pelan punggung gadis dengan surai merah muda tersebut.
"Ah, maaf Tetsu-kun." Gadis dengan marga Momoi itu segera melepaskan pelukannya dengan senyum malu-malu.
"Are? Suki-chan?"
"Eh? Tai-chan?"
TBC
.
.
.
Moshi moshi!
Kembali lagi bersama saya, riryzha~
Yap yap...
Saya di sini hanya mau cuap-cuap seputar iklan di atas sebelumnya.
Pasti semuanya sudah bisa menebak ada apa di antara kedua kembang desa(?) Teiko itu...
Nahhh, kesampingkan itu dulu ;)
.
Oh ya, jangan bosen ya kalau nanti banyak adegan orang-orang pada keselek di fict ini. XD
Karena siapapun pasti akan melakukan hal yang sama kalau melihat penampakan seorang Kagami Taiga *oke, mungkin cuma aku aja ;D
Dan sebagai bonus untuk hari ini ialah aku mau menebar aib salah satu tokoh terkemuka(?) di Teiko Academy.
Yak! Akashi Seijuro! *berbisik
pssst
Nih ya, tadi di iklan barusan ada adegan Akashi mengusap hidungnya bukan?
Inget gak?
Kalo enggak coba deh scroll lagi ke atas.
.
.
Naahhh, kenapa Akashi ngelakuin hal itu?
Ada yang tahu? ha? ada gak?
Psssttt gini yah.
Seorang Akashi Seijuro bisa mimisan sodara-sodara!
Saya juga heran kenapa bisa dia mimisan *kelepasan ngomongnya kekencengan
.
.
-Akashi: Hello, riryzha... barusan kau bergosip tentangku ya?
-Riryzha: Hallo Akashi-kun! Ah, tidak kok... cuma membahas tentang alasan mengapa orang bisa mimisan begitu saja hehehe
-Akashi: Souka...
.
.
Fyuh! Hampir saja saya membuka pintu gerbang dunia lain sodara-sodara!
Tapi... Kenapa Akashi bisa mengira kita ngomongin dia ya? Padahal kan gak sebut merek pas kekencengan ngomong barusan.
-Komentator: Mungkin GR kalik!
Haha, bisa jadi?
Okay!
Sekian sambutan dari saya untuk anda semua hari ini.
Semoga segera bertemu di lain kesempatan (*'-'*)/
See ya soon!
