Another You

Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama

Rate T+ / M (Biar aman)

Warnings: OOC, Gaje, Typo (mungkin), Yuri, YumiKuri

.

.

.

.

.

Ymir bisa mendengar ada pertengkaran lagi di ruang tamu. Ibunya tengah memarahi ayahnya yang kembali ke rumah dengan kondisi mabuk berat. Ymir takut ibunya akan dipukuli lagi, jadi ia berhenti dengan perkejaan sekolahnya dan berlari keluar menuju mereka berdua.

"Ayah! Keluar dari sini!" Dengan lancang Ymir membentak ayahnya, menunjuk jarinya keluar rumah dengan kasar sambil melotot marah.

"Ymir, hentikan." Ibunya memohon kepada Ymir sambil memegang tangannya lembut. Ymir mengelak, bersikap seperti yang paling tua di rumah ini.

"Tidak, harusnya aku yang menghentikan ibu. Hentikan, bu. Jangan maafkan ayah lagi!" Ymir menoleh ke arah ibunya dengan tatapan heran tercampur amarah. Ibunya hanya diam seribu bahasa.

"Ayah, aku serius. Jika kau tidak keluar dari sini, aku akan-"

"Akan apa, hah? Kau tidak akan berani memukul ayahmu sendiri!" Ayahnya menantang, dengan tatapan mabuk, Ymir menganggapnya tatapan orang mati.

"Aku berani saja." Ymir menyiapkan kepalan tinju nya di sebelah kanan.

"Coba saja... heheheh." Sengiran aneh terlukis di wajah ayahnya, membuat Ymir semakin geram, kemudian mengayunkan tangan kanannya dan meninju ayahnya sekeras yang ia bisa.

"Astaga, Ymir! Hentikan!" Ibunya terduduk, menghampiri suaminya yang tumbang akibat tonjokan putrinya sendiri. Botol bir yang dipegang ayah Ymir kini mengeluarkan cairan haram, mengalir di atas lantai, membasahi dengan seluruh dosanya.

"Baiklah, terserah ibu saja." Ymir mengambil botol bir dari tangan ayahnya yang sedang tidak sadarkan diri, dan membuangnya ke tong sampah dekat dengan kamarnya. Kemudian ia masuk kembali ke kamarnya dan duduk di depan meja belajarnya lagi. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mendengus kesal.

"Ada apa di luar tadi?" Kitsune terbangun dari tidurnya, bertanya pada Ymir

"Kau tidak perlu tahu. Tidurlah kembali, aku juga mengantuk." Ymir menutup buku-buku pelajarannya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Aku sudah tidak mengantuk." Kitsune beralasan

"Terserahlah," Ymir mengabaikan perkataan Kitsune dan membenamkan kepalanya di atas bantal.

"Oh ya, Ymir. Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Katakanlah secepatnya." Balas Ymir sambil masih memejamkan matanya, tapi telinganya terpasang tajam.

"Sebaiknya kau tidak mengunjungi kelasmu sepulang sekolah seperti tadi."

Ymir mulai tertarik dengan bahan pembicaraan ini, kemudian mendongak ke arah Kitsune.
"Memangnya kenapa?"

"Aku sengaja menguncinya agar kau tidak masuk. Banyak Youkai jahat yang menetap di kelasmu." Kitsune lagi-lagi berkata hal-hal yang sulit dipercaya

"Oh, beruntungnya diriku," Ymir kemudian kembali memejamkan matanya. "Kalau begitu, terima kasih, Kitsune." Ymir membalasnya sambil setengah mengantuk.

.

.

.

.

.

Ymir terbangun dengan suara gemuruh hujan mengusik telinganya, dan harus menggerutu sekali lagi bahwa sekarang mulai memasuki musim dingin, sebentar lagi pasti turun salju. Ia bangun terduduk, melirik sekitar. Ia tidak menemukan Kitsune di dalam kamarnya. Sepertinya Kitsune sudah pergi.

Lalu Ymir berjalan menuju kamar mandi dengan kaki lemas, bersiap menjalani hari ini yang terlihat biasa-biasa saja.

Selesai berpakaian seragam sekolah, ia menyiapkan jas hujan untuknya pergi ke sekolah, karena Ymir tak mau membasahi bajunya lagi. Setelah itu ia berjalan menuju meja makan. Hanya terpampang roti selai coklat di atas piring, tapi di kursi meja makan tidak ada siapa-siapa. Rumahnya terasa sangat sepi, mendorongnya untuk melihat keadaan ibunya,

Ibu masih tertidur nyenyak, tidak ada tanda-tanda ayahnya berada di rumah ini. Itu bagus, membuatnya merasa aman.

Ymir berjalan mendekati ibunya, terlihat kelelahan.

"Ibu, aku pergi ke sekolah dulu ya," Ucap Ymir lirih kemudian mengecup kening ibunya sebelum berjalan keluar rumah, menuju sekolah.

Di sepanjang perjalanan menuju subway, ia tetap berjalan tenang meskipun tetesan air hujan menerpanya pagi ini. Akan tetapi itu tidak masalah karena ada kain waterproof yang melindungi dirinya dari air hujan.

Sesampainya di subway, Ymir melihat dengan jelas ada gadis pirang sedang menunggu kereta. Sangat mudah untuk menemukannya karena hanya dia yang berambut pirang di antara banyak orang. Hari ini stasiun terlihat cukup ramai dibandingkan kemarin, orang-orang sudah bersiap menempuh cuaca yang terbilang cukup buruk ini.

Ymir tidak berniat memanggil Krista. Ia hanya menjaga jarak darinya, berusaha agar Krista tidak mengetahui keberadaannya.
"Mungkin lebih baik jika aku menjauh darinya. Aku tidak bisa berteman dengannya."

Namun tetap saja, sekeras apapun Ymir berusaha menjauh dari Krista, hatinya tidak pernah tenang jika membiarkan Krista berada sendiri di transportasi umum seperti ini. Sekarang Ymir hanya terduduk, jauh dari Krista. Berusaha mengunci pandangannya ke arah Krista walaupun penglihatannya terhalang orang-orang yang sedang berdiri sepanjang kereta. Ymir hanya ingin melindungi nya. Tapi tidak, tidak bisa. Dan mungkin tidak akan pernah bisa, Ymir tetap mencamkan hal itu, tak peduli seberapa sakit pemikirannya.

.

.

.

.

.

Akhirnya sampai juga di stasiun tempat ia turun. Ymir memakai kembali jas hujannya dan melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Tak lama kemudian ia melihat Krista lagi. Berjarak beberapa meter di depannya. Bajunya basah, tidak membawa payung, tidak membawa jaket. Persis seperti dirinya kemarin.

"Ah, sialan." Ymir mengumpat karena dilanda perasaan dilema nya. Ia mau tidak mau harus membantu Krista. Tapi semakin bimbang karena keinginannya yang tidak mau terus dekat dengannya.
Ymir melihat Krista memeluk badannya sendiri, kedinginan. Ymir menggerutu sekali lagi dan kemudian menghampiri Krista yang sedang berjuang hebat menempuh hujan yang kejam ini. Walaupun hujannya tidak terlalu deras, suhu nya cukup dingin untuk manusia manapun. Dan berharap mempunyai rambut setebal beruang kutub.

Akhirnya Ymir berjalan cepat mendekat Krista. Kemudian menyapanya, berusaha terlihat polos.

"Hey, Krista-" Ymir hendak menepuk pundaknya, namun setelah namanya dipanggil, Krista mendongak dan langsung memeluk tangan Ymir yang sedang tersembunyi dibalik jas hujannya yang lebar – tanpa bagian lengan.

"Ymir... Aku... aku kedinginan..." Ymir bisa merasakan getaran hebat dari tubuh Krista. Ia terkejut ketika melihat Krista langsung refleks memeluk tangannya seerat anak kecil yang ketakutan seperti sehabis melihat hantu.

"Iya. Aku tahu." Ymir mengangkat lengannya, memberi ruang di sampingnya agar Krista bisa berteduh dibalik jas hujannya. Jas hujan itu cukup lebar untuk membungkus mereka berdua. Tanpa menjawab, Krista langsung menunduk di bawah jas hujan Ymir – dan kemudian memeluk pinggangnya.

"Eh, badannya dingin sekali." Ymir tahu baju sekolahnya akan ikut basah jika Krista terus memeluknya seperti ini, tapi Ymir tidak bisa menolak, ia merasa iba, jadi ia ikut merangkul Krista dengan tangannya yang masih di balik kain jas hujan dan memeluknya semakin erat.
"Kenapa... kau tidak bawa payungmu?"

Kemudian Krista membuka kain yang menutupi kepalanya, sedikit, agar dapat menatap wajah Ymir, "Aku.. takut payung itu tertinggal lagi, hehe..." Krista tertawa kecil kemudian menutup wajahnya lagi.

"Kalau begitu nanti sepulang sekolah aku belikan payung untukmu."
Ymir terkejut mendengar ucapannya sendiri, sejujurnya ia tidak sadar telah mengatakan hal semacam itu, namun waktu tak dapay diputar kembali. Ia bahkan tidak yakin bahwa uangnya cukup untuk membeli payung, dan mesti berpikir dua kali.

"Sungguh? Terima kasih, Ymir...!" Krista memeluk tubuhnya semakin erat, Ymir dapat merasakan perut hangatnya yang dicampur dengan seragamnya yang dingin karena basah.

Ymir hanya diam sambil terus berjalan ke depan, tetap merangkul Krista. Krista tidak melepaskan pelukan dari pinggangnya, ia malah justru merasa nyaman dengan pelukan itu. Sampai Ymir mendengar Krista bersenandung pelan di balik jas hujannya.

"Oh ya, aku tidak sabar menunggu salju turun... aku sangat suka salju, bagaimana denganmu Ymir?" Krista bertanya ramah sambil membuka sedikit penutup kepalanya. Hujan sudah hanya gerimis, tapi angin dingin masih saja berhembus.

"Biasa saja, sepertinya aku lebih suka hujan." Jawab Ymir datar

"Oh, kau tidak suka bermain di luar ya? Kalau salju turun, kita berdua bisa bermain lempar salju."

"Lempar salju? Bukannya itu sakit? Lebih baik bermain saja di bawah hujan."

"Awalnya mungkin terasa sakit, tapi nanti kau juga akan menikmatinya."

Ymir tersenyum kecil mendengarnya, karena sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak bermain dengan salju di luar rumahnya.

Setelah sampai di sekolah, Ymir membuka jas hujannya kemudian Krista berterima kasih karena sudah menolongnya dari hujan. Ymir hanya tersenyum sekilas, melihat keadaan sekitar sekolah tampak sedikit sepi.

Ymir berdiri diam di dinding lorong lobby sekolah, tidak hendak menuju kelasnya. Setelah melihat jam dinding, ia yakin datang ke sekolah tidak terlambat. Dan Krista masih saja terus menemaninnya.
Ymir masih tidak terlalu nyaman dengan keberadaan Krista terus di dekat-dekatnya. Apakah ia tidak mempunyai teman sama sekali?

"Gadis cantik dan kaya seperti dia mana mungkin hanya berteman denganku?" Ymir berpikir sedikit negatif, namun kenyataannya mungkin benar. Sepertinya Krista tidak mempunyai teman, sama seperti dirinya.

Ymir melihat-lihat sekitar, hingga beberapa tempelan kertas di mading menarik perhatiannya. Disitu banyak pengumuman-pengumuman yang tampaknya sudah kadaluarsa, dan Ymir bisa tahu bahwa yang mengurus mading tidak serius. Di tengah-tengah pemberitahuan yang tidak terlalu berguna itu, ia melihat foto seorang pemuda dengan rambut gelap dan wajah tirus. Ymir berjalan mendekati mading tersebut dan menatap tajam foto pemuda itu. Tertulis di atasnya:

IN MEMORY OF

BERTHOLDT HOOVER

YOU WERE ALWAYS IN OUR HEARTS.

Dan ada banyak pesan tulisan diselingkar foto itu. Beberapa pesan berduka, dan foto-foto lain pemuda itu dengan wajah bahagianya. Ymir mengerti bahwa pemuda yang difoto ini telah meninggal dunia, dan banyak orang mengenang jiwanya disini. Krista berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya, menatap wajah Ymir yang masih nanar di depan foto tersebut.

"Ymir... ada apa?" Krista bertanya lirih.

"Apa kau kenal dia?" Tanya Ymir sambil menunjuk foto pemuda yang terpajang di mading tersebut.

Krista menggeleng pelan, namun tetap menjawab "Sepertinya dia dulu murid sekolah ini... kasihan, ya. Aku mendengar ia meninggal karena kecelakaan bus. Jika tidak, pasti ia sudah kuliah dan menggapai cita-citanya."

Ymir terkejut mendengar informasi yang baru saja ia dengar. Sangat miris rasanya jika meninggal bahkan sebelum tamat sekolah. Akan tetapi ada satu pemikiran lagi yang terlintas di benaknya. Ymir yakin pernah melihat wajah itu di suatu tempat. Wajahnya begitu familier, Ymir berusaha mengingat, tapi dia sendiri heran mengapa tidak bisa.

Ia tidak pernah mendengar berita tentang kematian Bertholdt Hoover, menurutnya ia telah meninggal cukup lama, sehingga kebanyakan orang mungkin sudah mengabaikannya dan foto ini bermaksud untuk membuat seisi sekolah terus mengenang, mengabadikannya serta mengetahui bahwa ada salah satu siswa dari sekolah ini yang telah meninggal dunia.

"Ymir, ayo. Bel masuk sudah berbunyi." Krista menarik lengannya dengan lembut. Ymir bahkan tidak mendengar belnya, ia terlalu larut di dalam pemikirannya sendiri.

.

.

.

.

.

Sepanjang pelajaran sekolah, Ymir hanya menangkap sedikit ilmu yang dilontarkan dari mulut para guru. Lagi-lagi ia terganggu oleh pemandangan membosankan di luar jendela. Hujan tidak lagi turun, tapi langit masih agak gelap.
Sampai bel istirahat berbunyi, Ymir tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke belakang bangkunya, dan Krista tidak ada disana.

"Mencariku?" Tiba-tiba Krista sudah berada di depan meja Ymir, dan dia tidak terlalu bisa menyembunyikan kekagetannya.
Untuk beberapa saat, Ymir baru sadar bahwa sedari tadi ia sedang mencarinya. Mencari Krista di pandangannya.

Kenapa aku peduli dengannya?

"Ini untukmu, kau tidak bawa makan siang lagi, kan?" ditangannya, terpampang jelas roti isi yang menggiurkan. Ymir menunggu sampai Sasha datang ke dalam kelasnya dan merebutnya. Tapi tidak.
"Jangan bilang tidak lapar, kau pasti lapar." Krista memaksa, Ymir mengambil roti isi itu dari tangannya.

"Kenapa... kau melakukan ini?" Ymir bertanya heran, menggigit kecil roti isi itu dan mengunyahnya perlahan

"Karena kau bertubuh tinggi." Krista menjawab, Ymir membalas dengan menaikkan satu alis ke atas, terlihat bingung.

"Apa hubungannya dengan tinggi badanku?" Ymir bertanya lagi seiring Krista membuka kotak makannya. Penghuni bangku di depan Ymir keluar kelas lagi, dan Krista langsung duduk di kursi kosong itu tanpa izin.

"Yah, kau harus makan banyak biar gemuk. Sehingga suatu saat nanti aku bisa lebih tinggi darimu."

Ymir tertawa kecil mendengar jawaban yang menurutnya sedikit konyol. Di dalam roti isi yang ia makan terdapat keju, menambahkan kalsium di dalam tubuhnya yang berarti bisa membantunya tambah tinggi.

Mereka menyantap makanannya masing-masing, diselimuti keheningan kelas. Telinganya bisa menangkap goresan lembut pulpen dan pensil yang ditimbulkan dari beberapa murid yang sedang menulis – atau menggambar sesuatu di atas kertas. Detak jam dinding hampir bersamaan dengan detak jantungnya yang tenang, sosok Krista di depannya mendamaikan hati.

Ymir menonton Krista dengan canggung yang sedang memakan makan siangnya yang terlihat enak dengan sumpit. Ymir mulai mempertimbangkan agar membawa makan siangnya sendiri di kemudian hari, sehingga Krista tidak lagi harus memberinya makanan seperti kucing tersesat.

Beberapa menit ia menonton sambil mengunyah roti isinya, Krista terbatuk – memecah keheningan. Ia tersedak, dan sulit berbicara. Ymir ikut terkejut dan buru-buru mengeluarkan air minum dari dalam tasnya dan memberinya kepada Krista. Setelah Krista selesai meneguk air, Ymir menasehatinya untuk makan perlahan agar tidak lagi tersedak, bersikap bagaikan ibu. Krista hanya mengangguk sambil tersenyum malu. Kemudian Ymir merasakan hal itu lagi; seperti ada serangga di dalam perutnya sedang berterbangan. Mengapa setiap kali Krista tersenyum, Ymir merasakan perutnya dilanda sesuatu? Seolah-olah senyuman tersebut dimantrai oleh suatu hal.

Jika orang lain melihat senyumannya, akankah mereka merasakan hal yang sama seperti Ymir?

Ymir tidak pernah merasakan hal semacam itu sebelumnya, dan ia sendiri juga tidak tahu mengapa begitu peduli kepada Krista. Dia tidak pernah terlalu peduli kepada orang lain selain ibunya. Perasaan ini adalah hal yang baru bagi Ymir, dan ia sangat penasaran untuk menemukan jawabannya.

.

.

.

.

.

Sepulang sekolah Ymir merasa lega, karena ia tidak lagi berurusan dengan Youkai di dalam sekolahnya. Dan bila pun ada, dia ingin masalahnya diselesaikan di rumahnya, atau di tempat lain, dimana ia bisa sejauh mungkin dengan Krista. Karena keberadaannya bisa membuat situasi memburuk, dan Ymir tidak ingin Krista mengetahui kemampuannya dapat melihat makhluk gaib. Beberapa orang mungkin mengetahui rahasianya, dan itu tidak berakhir baik.

" Masa-masa menyebalkan," ia menyebutnya, dan berjanji tidak akan lagi bergaul dengan orang-orang di luar sana karena hanya membuatnya lebih membenci dirinya sendiri. Ymir tidak mau ini terjadi, terkadang ia hanya berharap tidak hidup di dunia yang kejam ini. Ymir tidak ingin diberikan kemampuan aneh semacam ini, bertahun-tahun ia mencari manfaat dari mata ini, tapi tetap saja terasa begitu tidak berguna.

Luka-luka dari masa lalu tengah menghantui dirinya sekarang – yang sedang terduduk sendirian di salah satu bilik toilet perempuan. Menurutnya itu tempat yang bagus untuk menjauh dari Krista untuk beberapa saat, dan setengah berharap bahwa Krista tidak akan mencarinya untuk pulang bersama lagi seperti kemarin.

Ya, setengah berharap.

Setengah, menandakan bahwa jauh di dalam benak Ymir, ia ingin bertemu dengannya. Melepas rindu yang bahkan beberapa menit lalu sudah terobati. Menatap mata biru laut seindah samudra itu, melihatnya tidur dipangkuannya dengan nyaman, dan menyaksikan senyuman yang memberinya sensasi seperti sedang disihir.

Ymir meremas rambut cokelatnya, terhantui oleh pikiran-pikirannya sendiri. Masa lalu, Krista, dan kedua orang tuanya.

~Flashback~

Semua dimulai ketika Ymir memasuki kelas 3 SD. Di tengah malam, beberapa hari ia terbangun, merasakan seseorang di dalam kamarnya. Awalnya Ymir tidak dapat melihat orang yang kemungkinan memasuki kamarnya ketika tengah malam, ia berusaha mengabaikannya dan berasumsi bahwa itu kedua orangtuanya yang sedang mengecek apakah ia sudah tidur. Tapi, anehnya Ymir tidak mendengar deritan pintu yang dibuka.

Hingga suatu malam, Ymir membuka matanya, terbangun lagi dari tidurnya. Merasakan hawa seseorang masuk di dalam kamarnya. Langkah kakinya tidak terdengar, seperti ia berjalan selembut awan. Ymir, yang masih terbaring dengan mata terbuka, menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, karena makhluk itu terasa semakin mendekat.

"Orang tuamu membencimu, manusia." Suara serak menyeramkan laki-laki yang tidak dikenalnya terdengar jelas di samping telinganya. Kemudian laki-laki itu tertawa. Ymir terbelalak, ketakutan dan berteriak membuat kegaduhan sambil memukul-mukul udara. Kedua orang tuanya ikut panik, dan berlari menuju kamar Ymir.

"Ada apa, Ymir? Astaga, sedang apa kau?" Ibunya memasuki kamarnya, menghentikan gerakan pukulannya yang asal. Kemudian ia berlutut, memeluknya dengan erat. Ymir menumpahkan tangisannya di dalam dekapan hangat ibunya. Ayahnya datang, menyalahkan lampu sambil menyiapkan diri berkelahi jika ada penyusup. Tapi tidak ada tanda-tanda manusia asing disitu.

"Ibu... ada monster, berbicara di telingaku... dia... dia sangat menyeramkan..." Ymir tersendat-sendat akibat menangis,

"Dia mengatakan apa, Ymir?" Ibunya bertanya sekali lagi, melepas pelukannya dan jempolnya menghapus air mata Ymir dengan lembut

"Dia... dia bilang... kalian membenciku..." Ymir membalas sekali lagi, ayahnya mendengar dan ikut berlutut juga di depan Ymir.

"Tenanglah, nak. Kau hanya bermimpi buruk." Ucap ayahnya mengusap pelan rambut cokelat tuanya yang terurai berantakan.

"Ymir, kami tidak akan mungkin membencimu. Kau adalah bidadari terindah di antara kami." Ibunya berkata, menenangkan Ymir kemudian ia dihujani pelukan kasih sayang. Kedua orang tuanya begitu menyayangi anak perempuan satu-satunya. Ymir sangat bahagia... sampai suatu hari...

Ymir baru saja dibelikan es krim favoritnya, dalam perjalanan pulangnya, mereka melewati trotoar untuk menuju parkiran mobil.

Saat sedang asiknya memakan es krim, Ymir melihat seorang makhluk bermata tiga berjarak agak jauh di depannya. Dan tampaknya makhluk itu sempat melihatnya. Ymir berusaha tidak menggubris, ia melirik kedua orang tua di sampingnya yang sepertinya tidak melihat makhluk itu diantara keramaian.

Beberapa saat kemudian, makhluk itu berjalan – tidak, ia berlari. Sangat kencang, menuju ayahnya. Ymir menahan nafas, berusaha untuk tidak teriak – lalu ia melihat makhluk itu meloncat, bersiap menerjang ayahnya, membuka mulutnya yang lebar menampakkan gigi-gigi taringnya. Ymir dengan refleks mendorong ayahnya keluar dari jalur trotoar. Banyak mobil berlalu-lalang, ayahnya terkejut karena nyaris saja dirinya terlindas truk besar. Untungnya truk itu sudah mengerem duluan.

"Ayah! Oh, tidak! Maafkan aku...!" Ymir turun dari trotoar, diikuti ibunya yang juga terlihat panik. Ia menarik ayahnya berdiri dan kembali ke jalur trotoar, es krim yang dipegangnya terjatuh di aspal.

"Ymir, apa-apaan tadi?!" Ayahnya membentak Ymir dengan kasar.

Penyupir truk dari jalan raya keluar dari truknya dan bertanya cemas
"Tuan, apakah anda tidak apa-apa?"

"Ya, saya baik-baik saja. Terima kasih." Ayahnya menjawab, bersyukur karena pengemudinya terlihat handal. Setelah itu penyupir truk memasuki truk nya lagi dan mengemudi kembali seperti biasa, setelah membuat beberapa mobil menunggu di belakangnya yang sudah marah-marah.

"Ayah, maafkan aku. Aku tadi melihat monster bermata tiga, dia mau memakanmu, ayah!" Ymir berbicara sejujurnya, berharap kedua orang tuanya percaya. Namun apa daya, mereka pasti tidak menemukan makhluk bermata tiga dimanapun.

"Sudah cukup, Ymir. Jangan berbicara soal monster-monster lagi! Khayalanmu hampir membuat ayah terbunuh!" Ayahnya terlihat kesal dan marah, kemudian berjalan lagi menuju mobil. Ymir menggandeng tangan ibunya, yang masih terlihat tenang walaupun sesungguhnya tidak.

"Ibu, ibu percaya padaku kan? Makhluk itu mempunyai banyak gigi taring...!"

"Iya, Ymir... Ibu percaya. Tapi kamu harus segera menghentikan halusinasi mu itu. Percayalah, monster itu tidak ada." Ibunya mengelus rambutnya perlahan. Ymir tidak habis pikir, ia sendiri yakin bahwa makhluk yang ia lihat tadi bukanlah khayalan.

Sesampainya mereka di rumah, Ymir langsung berlari menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia mendengar kedua orang tuanya saling berteriak di ruang tamu. Jarak kamarnya dari ruang tamu cukup dekat, sehingga Ymir dapat mendengar jelas apa yang mereka perdebatkan.

"Sudah berkali-kali kita mengirim dia ke psikiater. Tapi masih saja tidak menghasilkan apa-apa. Sebaiknya kita kirim dia saja ke rumah sakit jiwa." Ymir mendengar dengan jelas perkataan ayahnya, membuat hatinya bergejolak

"Apa? Tidak! Dia hanya anak-anak... itu hanya fase, biarkan dia menikmati masa-masa kecilnya." Ibunya membalas

"Bagaimana dia bisa menikmati masa kecilnya jika dia hampir membunuh ayahnya sendiri?! Dia sudah gila! Dia bahkan sudah dicap anak aneh dan pembual di sekolahnya!"

Ada keheningan sesaat, "Jangan pernah kau menyebut dia lagi seperti itu. Ymir adalah malaikat kecil yang hadir di hadapan kita, tidakkah kau menyadari hal itu?"

"Malaikat kematian, maksudmu?" Ayahnya bertanya lancang. Ymir terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.

Selanjutnya mereka tetap saling berteriak, namun Ymir memilih untuk mengabaikannya.

Sesaat kemudian, ia mendengar sesuatu menaiki kasurnya makhluk itu sepertinya masuk melewati jendela yang terbuka. Nampaknya ia bertubuh ringan. Ymir menoleh ke asal suara, menangkap siluet seekor rubah putih sedang berdiri di atas kasurnya. Rubah itu terlihat lucu, matanya merah menyala walaupun sinar matahari menerangi ke dalam kamarnya. Kemudian rubah itu terduduk, menatap Ymir. Telinga lebar sang rubah bergerak-gerak, diiringi dengan ekor putih lebatnya yang sedang dikibaskan.

"Rubah... apa kau tersesat?" Ymir berdiri perlahan, menghampiri rubah itu, berniat mengelusnya. Si rubah tidak memberi respon, saat Ymir duduk di sampingnya, ia malah turun dan terus menatap Ymir dari bawah.

"Apa kau lapar?" Ymir bertanya lagi, "Ikuti aku, sepertinya masih ada makanan di kulkas. Ayo." Sebelum Ymir mengajak rubah itu keluar kamarnya, ia menutup jendela dan berjalan keluar, hendak menuju kulkas. Mengabaikan orangtuanya yang masih berargumen.

Ymir berusaha bergerak sepelan mungkin, tapi akhirnya ia terlihat juga oleh kedua orangtuanya. "Ymir... Kau mau apa?" Ibunya menoleh, mengabaikan masalah yang diperdebatkan dengan suaminya untuk menaruh fokus kepada Ymir.

"Ibu... seekor rubah putih menghampiri kamarku, sepertinya ia tersesat dan lapar." Balas Ymir pelan.

"Ohya? Dimana rubah itu sekarang?" Ibunya bertanya penasaran, berharap benar-benar melihat rubah putih.

"Dia disampingku, bu." Ymir menunjuk dimana rubah itu sedang terduduk diam di samping Ymir.

Ibunya melirik ke samping Ymir, kemudian menatap matanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ymir... tidak ada rubah di sampingmu. Sepertinya ia sudah pergi," Ibunya berusaha tidak membuat masalahnya semakin buruk ketika ayahnya juga mulai terlihat heran setelah Ymir bilang ada rubah putih di sampingnya.

"Sekarang... tunggulah di kamar, ibu akan membuat makan siang." Kemudian ibunya pergi meninggalkan, diikuti dengan ayahnya di belakang.

"Kau tidak lihat rubah itu kan? Aku juga tidak. Dia harus menghentikan imajinasinya!" Ucap ayahnya, terdengar jelas di telinganya

Ibunya tidak menjawab, terus berjalan menuju dapur.

"Rubah... mengapa ayah dan ibuku tidak dapat melihatmu?" Ymir berjongkok di samping rubah putih itu, kemudian mengelusnya – dan tangannya tembus.

Ymir sangat terkejut. Dia terlempar ke belakang dan menatap rubah itu sangat heran. Ia tidak bisa berkata apapun, seiring dengan sang rubah menengok ke arah Ymir, kemudian berlari keluar rumah.
"Apa... Kenapa...?" masih tidak mengerti kenapa rubah itu tembus saat tangannya menyentuh, Ymir menatap tangannya sendiri.

Semenjak itu Ymir sering dihampiri oleh si rubah putih yang sama. Dengan bertambahnya usia, Ymir mulai mengerti bahwa selama ini yang ia lihat bukanlah khayalan, dia mempunyai kemampuan khusus, dapat melihat Youkai dan rubah itu adalah salah satu dari mereka.

.

.

.

.

.

Mengingat masa lalu, Ymir merasa sudah cukup membuang-buang waktu di dalam labirin memori – dan bilik toilet ini. Ketika keluar, lagi-lagi dia menangkap seseorang yang membuatnya lega, sekaligus agak jengkel.

Kenapa dia selalu ada di dekatku?

"Oh, Ymir. Aku tadi mencarimu, tapi tidak ketemu... ternyata dari tadi kau disini," Ujar Krista sambil menyisir rambut pirangnya menggunakan jemari tangannya di depan cermin wastafel.

Kenapa dia mencariku? Kenapa aku berharap?

"Eh, iya... tadi Jean bilang ingin bertemu denganmu. Katanya dia ingin meminta maaf." Krista melanjutkan kata-katanya

Ymir terkabur dari lamunannya, "Jean? Minta maaf? Dimana dia?"

"Ehm, terakhir kali aku liat dia di depan pintu masuk toilet perempuan."

Segera Ymir keluar dari toilet perempuan. Dan mendapati Jean sedang bersandar di depan tembok.

"Oh, Ymir... kan? Ehmm, begini... jadi, tadi saat mau menaruh payung itu, aku ingat yang punya adalah Krista Lenz, karena dia yang duduk di belakangmu," jelas Jean secara kronologis

Ymir berusaha menyembunyikan sedikit kebahagiannya yang baru saja mengetahui nama lengkap Krista, "Ya. Lanjutkan." Ymir berjalan mendekat kepada Jean.

"Lalu... tampaknya dia berteman denganmu. Nah waktu itu ketika menuju kelas, aku harus buang air dulu. Tapi... saat keluar dari toilet, aku lupa mengambil payung itu dari wastafel. Dan, saat aku kembali... payung itu sudah hilang." Jean kembali menjelaskan

"Payung itu sudah kembali. Kenapa kau tidak minta maaf dulu dengan Krista?"

"Oh, syukurlah, kukira payung itu sudah dicuri. Aku baru saja ingin meminta maaf padanya. Tapi, kau tahu... aku selalu merasa gugup dengan kebanyakan perempuan."

Percakapan mereka sedikit dijeda dengan keluarnya Krista dari toilet perempuan. "Hai, Jean. Kuharap kau tidak punya masalah serius dengan Ymir. Apakah kau sudah selesai meminta maaf?"

"Ya... uhm, aku juga ingin kau memaafkanku." Ucap Jean sedikit gugup

"Memaafkanmu atas apa?" Krista bertanya polos

Jean tidak menjawab, lidahnya terasa kaku.

"Karena dia yang mengambil payungmu." Ymir melanjutkan, dan Jean ikut mengangguk.

"Ohh, hahaha... jangan dipermasalahkan, payung itu sudah kembali. Lain kali, jangan menyuruh orang lain menunggu saat kau buang air, ya..." Krista sedikit mengejek diikuti dengan Jean menatap heran kepada Ymir.

"Ahhh, siaaaaal..." Ymir berusaha agar kebohongannya tidak diketahui oleh kedua orang ini.
"Hahahaa, iya, ayo Krista. Kita pulang." Ymir memaksakan tawa nya, dan menarik tangan Krista dengan sedikit kencang, meningalkan Jean dan menuju keluar gerbang sekolah.

Mereka berjalan menuju subway bersama-sama lagi. Hal yang tidak diinginkan oleh Ymir. Krista bertanya padanya apa sungguh-sungguh mengenai membeli payung baru, Ymir menjawab 'Ya' dengan ragu-ragu. Dilanjutkan dengan Krista menarik pergelangan tangannya menuju toko kecil yang menjual barang-barang antik dan suvenir.

Antik. Tentu saja mahal, dan Ymir benar-benar berharap kalau Krista tidak akan menemukan payung di toko itu.

Krista melihat banyak benda melalui kaca di toko tersebut. Dia terus mengoceh tentang benda ini itu, terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali pergi ke toko barang antik.

"Hey, Krista... kau tidak mungkin akan membeli semua barang yang kau tunjuk, kan?" Ymir bertanya, sambil menyentuh pundaknya pelan

"Tentu saja tidak. Aku hanya suka melihatnya. Ayo, kita masuk ke dalam." Krista menarik tangannya lembut, menyuruhnya memasuki toko yang bernuansa seperti tempat di zaman lampau, namun suasana nya tetap modern.

"Oh, lihat, Ymir! Ada payung."Krista bersemangat sambil menunjuk payung kecil digulung berwarna biru yang dipajang jelas di samping meja kasir.

Warna payung itu biru cerah, secerah laut. Mengingatkan Ymir pada mata Krista yang warnanya tidak bisa ia lupakan.

"Hm-hm... kau mau membelinya?" Ymir sudah bersiap bernegosiasi dengan sang pemilik toko, sambil mengeluarkan dompet dari tasnya. Sebelum Krista menjawab, ia lebih dulu melirik keluar toko. Dan melihat butir-butir salju putih turun dari langit.

"Wah, salju sudah turun." Krista berjalan mendekat lagi dengan kaca jendela menatap butiran putih itu melayang pelan, terjatuh di banyak tempat.

"Lalu...?" Ymir ikut berdiri di samping Krista yang sedang menatap ke atas langit lewat jendela toko yang lebar.

"Itu artinya, kita tidak butuh payung. Ayo, Ymir. Kita main!" Krista menarik tangannya dengan kuat menuju keluar toko. Dan Ymir dapat melihat bahwa si pemilik toko mulai sedikit kesal akibat toko nya semakin sepi. Namun lebih baik ia mengabaikannya, toh si pemilik toko juga tidak akan memaksa.

Ymir hanya menurut, Krista menariknya ke jalur trotoar. Jalanan terlihat sepi, butiran-butiran salju mendarat di atas kepalanya.
"Ymir, kau bisa bermain lempar salju, kan?" Krista bertanya sambil berjongkok, memegang bongkahan salju kecil di tangan mungilnya. Ymir melihat sekitar, dipikirannya muncul dengan sebuah alasan

"Ehm... saljunya belum terlalu lebat, amunisi nya akan cepat habis," Ucap Ymir – yang sesungguhnya berharap segera mengajaknya pulang.

"Oh, kalau begitu..." Krista menggandeng tangan Ymir dengan lembut, dan berjalan pelan. Ymir hanya mengikuti,"Kita akan menunggu sampai saljunya lebat." Krista melanjutkan perkataannya sambil mengayun-ayunkan pelan tangannya.

"Hah?" Ymir menaikkan sebelah alisnya, sedikit tidak setuju dengan ide Krista. Salju turun sangat pelan, sehingga jika menunggu salju lebat, bisa menunggu hingga besok

"Atau... kita pulang saja ke rumahku, dan kita bisa bermain disana!" Krista lagi-lagi menyebutkan pemikirannya – yang mungkin terdengar sedikit gila,

"Krista, bermain saljunya besok saja. Memangnya kau bawa jaket? Bisa-bisa kedinginan." Mengingat besok adalah hari sabtu, Ymir membujuknya untuk segera cepat pulang.

"Tidak sih... tapi, aku sangat ingin bermain denganmu, sekarang!" Ujar Krista merengek layaknya anak kecil. Krista bersikap sedikit kekanakkan, tapi menurut Ymir itu sikap yang unik.
"Eh, tapi... tadi pagi ibu bilang akan kerja lembur. Dia menyuruhku untuk bermain sebentar di rumah teman..."

"Ibumu sungguh berbicara seperti itu?"

Krista mengangguk.

"Kalau begitu, kenapa tidak mampir ke rumahku?" untuk kesekian kalinya Ymir tersedak dengan kata-katanya sendiri.

"Ah! Ide cemerlang!" Krista mengangkat jari telunjuknya ke atas, kemudian dengan cepat meraih ponselnya, mengetik nomor telepon, dan memasangkan benda itu di samping telinganya.

"Ibu...? Bolehkah aku main ke rumah teman?"

"Eh-" Ymir hendak mengatakan sesuatu ketika Krista meminta izin.

"Temanku itu perempuan, bu. Jangan khawatir."
Terdapat jeda sebentar,
"Oke, bu... terima kasih!" akhir kata Krista terlihat bahagia
"Sekarang masih jam tiga sore, berarti aku masih punya banyak waktu." Krista bergumam pada dirinya sendiri lalu memasukkan telepon genggamnya kembali dalam sakunya. Ymir sangat yakin bahwa ibunya mengizinkan.

"Semoga ayah tidak ada di rumah, semoga ayah tidak ada di rumah, semoga ayah tidak ada di rumah," Ymir mengucapkan kata-kata itu berulang kali di dalam hatinya. Tangannya digandeng lagi oleh Krista dan mereka berdua berjalan menuju subway yang biasa mereka gunakan.

Ymir bertanya sekali lagi tentang apakah Krista yakin akan pergi ke rumahnya. Krista mengangguk, wajahnya terlihat senang. Dia bahkan menyuruh Ymir untuk melewati hutan bersama. Dan Ymir merasa sedikit heran kenapa Krista ingin melewati hutan, ia menjawab, "Kalau kita pergi bersama-sama, aku tidak akan takut!"

Mereka duduk bersebelahan lagi di kereta, Krista tidak mengatakan apa-apa tentang ia ingin tidur. Tiba-tiba kepalanya sudah ada di pangkuan Ymir, hembusan nafasnya bisa terasa di atas pahanya, menembus kain roknya. Ymir hanya bisa tersenyum, menyadari bahwa Krista adalah orang yang suka tertidur. Atau mungkin dia hanya terlalu lelah?

Seperti kemarin, Krista lagi-lagi meminta maaf karena tertidur lagi di paha Ymir. Dan hanya bisa menjawab "Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan." Ymir tidak lagi peduli dengan perasaan dirinya yang tidak mau berteman lagi dengan siapapun. Asalkan Krista tidak mengetahui rahasianya, Ymir ingin terus dekat dengannya – selama mungkin. Tapi ia sendiri pun sedikit tidak yakin bagaimana caranya menjalin hubungan , karena sudah terlalu lama rasanya berteman dengan orang lain.

Mereka berdua berjalan melewati jalan sempit diantara pepohonan yang sering ditelusuri oleh Ymir. Suhu begitu dingin, Krista memeluk tangan Ymir bagaikan boneka teddy. Ymir tidak ingin menolak – tidak, ia rasa ini adalah momen yang tidak akan ada ketika ia menginginkannya.

Butiran salju melayang, dan mendarat di atas rambut mereka. Daun-daun di pepohonan diselimuti oleh bongkahan salju putih nan lembut. Ymir menoleh ke arah Krista yang sedang menggunakan pundaknya sebagai bantalan, dan lengannya sebagai guling seperti orang sedang tidur. Tapi matanya terbuka, dan Ymir dapat melihat wajahnya.

Sangat cantik di bawah salju.

Ymir ingin sekali menyapu salju yang sedang hinggap di atas rambut pirang Krista. Dan ketika ia melakukannya, Krista mendongak, memberinya senyuman dan melakukan hal yang sama kepadanya. Hanya saja, Ymir menunduk sedikit agar tangan Krista bisa mencapai atas kepalanya.

Sesampainya di depan rumah, Krista memuji bahwa rumah Ymir terlihat sederhana namun mengesankan. Ia bahkan melirik adanya taman belakang yang luas, dan itu bisa dijadikan taman bermain yang menyenangkan bersama Ymir.

"Ibu...? Aku pulang..." Ymir membuka pintu depannya, Krista hanya menyembunyikan dirinya di balik tubuh Ymir.

"Selamat datang, Ymir... Dan- oh! Kau membawa teman, rupanya." Ibunya melirik ke belakang Ymir, Krista terlihat agak malu.

"I-Iya... tidak apa kan, bu?"

"Tentu saja boleh, teman-temanmu selalu ibu sambut. Ayo masuk," Ibunya melebarkan pintu, mempersilahkan mereka berdua masuk, "ngomong-ngomong... namamu siapa?" Ibunya bertanya ramah sambil tersenyum ke arah Krista

"Ehm... K-Krista Lenz..." Krista menjawab sedikit kaku, sejujurnya tidak terlalu tahu harus menjawab seperti apa

"Ah,tidak usah malu-malu seperti itu..." Ujar ibunya sambil menutup rapat pintu depan. "Kalau mau sesuatu, bilang saja pada Ymir, ya? Kau mau minum?"

"Oh, t-tidak usah... Nanti saja..." Krista menggeleng pelan, membalas senyumannya kemudian menoleh ke arah Ymir – yang sedang melihat-lihat sekitar, mencari sosok ayahnya, dan tidak ada. Syukurlah.

"Ayo, kita ke kamarku saja."

Krista mengikuti Ymir berjalan menuju kamarnya. Setelah masuk, Ymir meminta maaf karena suasananya sedikit berantakan – karena sejujurnya ia kurang suka bersih-bersih.

"Ibumu baik sekali, ya..." Krista memuji sambil tersenyum manis

"Hm... Aku senang kau berkata seperti itu," Ymir melirik jam dinding sambil menaruh tas sekolahnya di lantai, diikuti dengan Krista
"Huh, sudah sore. Jadi, kalau bisa... Maksudku- kalau kau mau, kau bisa mandi air panas lalu..." Ymir menghentikan kata-katanya. Terasa sungguh gugup ketika Krista dekat dengannya, di kamarnya, bahkan.

"Lalu apa...?" Krista bertanya sambil mendekatkan dirinya pada Ymir.

"Ehm... lalu pakai saja bajuku. Tapi, kalau kau mau, maksudnya- aku tidak memaksa. Kamar mandinya ada disitu." Ymir menyukai letak-letak ruangan di rumahnya karena kamar mandinya berada di dalam kamar tidurnya.

"Oh, terima kasih banyak. Aku jadi merepotkan."

"Ah, tidak kok. Tenang saja..." Ymir membalas seiring Krista mulai memasuki kamar mandinya dan mengunci pintunya. Dan Ymir dapat mendengar guyuran air dari shower membasahi lantai. Ymir buru-buru menyiapkan baju ganti untuk Krista. Dan salah satu yang tidak ia pikirkan sebelumnya- pakaian dalam.

"Aduh, bagaimana ini?" Ymir menggaruk-garuk kepalanya setelah menyadari juga bahwa Krista bertubuh kecil dan kemungkinan sebagian bajunya akan kebesaran jika dipakai Krista.

Alhasil Ymir hanya memilih baju asal dan celana selutut untuk dipakai Krista. Dan berharap semoga muat. Setelah itu ia merilekskan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba datang Kitsune dari jendela kamarnya.

"Hei, ada apa datang kemari?" Ymir berbisik-bisik, berusaha tidak membuat Krista berasumsi bahwa ia sedang berbicara dengan orang lain.

"Bosan." Kitsune menjawab singkat, telinga nya yang lebar menangkap suara "Ada manusia lain disini?" ia bertanya

"Ya, temanku," Ymir menjawab tetap merahasiakan namanya "Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Aku ingin bertanya denganmu."

"Silahkan," Kitsune membalas sambil terduduk di samping Ymir yang sedang berbaring di kasur

"Kau tahu sesuatu tentang..." sedikit sulit bagi Ymir menghafalkan nama-nama orang, apalagi yang ber-alfabet rumit
"Hm... Hoovar...? Bertholdt... Bertholdt Hoover! Ya, itu dia." Ymir merasa seperti ada lampu bohlam kecil muncul di kepalanya karena telah mengingat nama yang terbilang cukup rumit, bagi dirinya.

"Bertholdt... Hoover?" Kitsune tidak menjawab, ia justru malah mengulang namanya

"Ya, aku dengar dia sudah meninggal. Apa kau pernah bertemu dengannya?"

Kitsune tidak menjawab, membuat Ymir penasaran dan menoleh ke arahnya.
"Kitsune? Hey, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

Si rubah tetap tidak menjawab, ia justru berdiri di samping Ymir. Dalam sekejap, ia merubah wujudnya menjadi manusia.

Ymir menahan nafas, masih tidak percaya apa yang sedang ia saksikan di depannya. Rambut gelap dan wajah tirus khas nya menetap di dalam otaknya. Membuat mulutnya berbicara, "Bertholdt Hoover?" untuk kesekian kalinya nama itu terlontar di dalam ruangan ini.

Manusia di depannya mengangguk sambil tersenyum kecil.

Ymir semakin terbelalak, "Waktu itu kau bilang dibu-" sebelum Ymir dapat menyelesaikan kata-katanya, matanya menangkap Krista yang baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya dibungkus handuk putih.

"Aku jelaskan nanti." Kitsune merubah bentuknya menjadi rubah kembali dan meloncat keluar menembus jendela kamarnya.

"Eh..? Krista. Ehm... bajunya disini," Ymir mengambil setelan baju casual dan memberinya kepada Krista,

"Terima kasih," Ucap Krista mengambil baju itu dan balik badan masuk menuju kamar mandi lagi.

Beberapa menit kemudian, Krista keluar dengan penampilan yang tidak biasa. Kaus oblong abu-abu milik Ymir sungguh melebihi ukuran badan aslinya. Dan celana yang seharusnya sepanjang lutut, ketika dipakai Krista panjang sampai bagian betis. Tapi setidaknya bagian pinggangnya pas. Ymir harus menahan tawa, karena Krista terlihat begitu malu.

"J-jangan tertawa... tubuhmu kebanyakan kalsium." Ujar Krista sambil menutupi rona wajahnya yang memerah. Terlihat sangat imut di mata Ymir.

"Ahahah...! Iya Krista, maaf. Selesai aku mandi, kita main keluar, oke?" Ymir berdiri dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah usai mandi dan memakai baju seadanya, Ymir melihat Krista di depan jendela, menatap keluar tanpa berkedip. Salju belum terlihat begitu tebal, jadi Ymir menyarankan untuk berdiam disini dulu.

Selama mereka berdua di kamar, mereka hanya mengobrol tentang hal-hal kecil, mengenai Ymir yang sudah tinggal disini sejak kecil. Dan Ymir menjawab sebisanya. Namun pikirannya dipenuhi oleh banyak rencana dan kata-kata kepada Krista jika ayah Ymir kembali ke rumahnya, ia berharap ayahnya takkan kembali.

Setelah lumayan lama menunggu, Krista melihat lagi ke luar jendela,
"Lihat, Ymir. Sepertinya salju sudah mulai tebal." Kata Krista

"Ayo, kita ke taman belakang saja." Sebelum mereka berdua keluar lewat pintu belakang, terlebih dahulu Ymir menyiapkan jaket untuk mereka berdua. Krista diberikan jaket yang paling kecil bagi Ymir, tapi bagian lengannya masih sedikit terlalu panjang, tapi Krista tidak peduli, ia ingin sekali bermain salju dengan Ymir, dan mungkin ia tahu mengapa, karena Krista kesepian di dalam rumahnya.

Dan benar saja, ketika mereka sampai di taman belakang, saljunya lebih tebal dari yang Ymir bayangkan. Krista terlihat begitu bahagia, mengitari lahannya yang hanya terisi oleh salju, bangku kayu dan satu pohon yang tidak terlalu tinggi, namun terurus.

Rerumputan di tamannya sudah terkubur oleh salju, hijaunya sudah tidak terlihat. Ketika Ymir menyentuh salju di bawahnya, ia terpekik – karena saljunya langsung menyentuh kulit, ia tidak menggunakan sarung tangan. Sampai ia melihat Krista yang sudah menggenggam bola salju sebesar telapak tangannya – tanpa mengenakan sarung tangan.

"Kau kebal dingin?" Ymir bertanya

"Kau tidak pernah bermain dengan salju, ya?" Krista balik bertanya

Ymir menggeleng.

"Ya ampun, kasihan sekali," Krista terkikik, "Kalau begitu, kita buat manusia salju saja."

Ymir pernah mendengar nama itu, dan sejujurnya berpikir apapun yang dilakukan bersama Krista selalu seru. Jadi ia mengangguk dan mengikuti instruksi yang diberikan.

Pertama-tama mereka mengumpulkan salju sebanyak-banyaknya untuk menjadi tubuh si manusia salju, kemudian menyusunnya menjadi bola besar yang bertumpuk. Setelah selesai membuat badan dan kepalanya, yang kurang hanya mata dan hidung. Karena tangannya sudah mereka pasang dari ranting pohon yang jatuh.

Kemudian mereka mundur, menatap si manusia salju buatan mereka berdua ,
"Bagus juga ya, kita hanya perlu membuat wajahnya," kata Ymir sambil berkacak pinggang. Krista yang berdiri di sampingnya, kemudian menunduk dan mengambil segenggam salju.

"Ya, tapi kita kesini untuk main lempar salju, kan?" Krista langsung melempar salju yang ada di tangannya kepada Ymir

"Hei-" Ymir melihat Krista sedang memakai wajah menantang, "Kubalas kau," saat ia menunduk untuk menyiapkan salju, Krista sudah berlari menjauh dan bersembunyi dibalik manusia salju yang mereka buat tadi.

Saat Krista mengintip, tiba-tiba di hadapannya ada bola salju yang melayang, tapi lemparan Ymir meleset. Krista tertawa mengejek, "tidak kena..." katanya

Ymir langsung berjalan cepat menuju manusia salju itu yang di baliknya ada Krista, namun sebelum ia melakukan apa-apa, Krista melemparnya lagi dengan salju di kepalan tangannya. Kali ini mengenai bahu Ymir.

Krista tertawa lagi.

Perasaan membalas tidak luput dari Ymir. Dia membuat bola salju di tangannya dan melemparnya ke arah Krista yang sudah berlari lagi menjauh dari Ymir, hendak bersembunyi di balik pohon. Sebelum Krista bisa berlindung, punggungnya terpukul seuatu yang dingin.

"Ha!" Ymir berteriak penuh kemenangan ketika bola dingin itu menghantam punggung lawannya.

Krista balas melempar, dan Ymir berhasil menghindar. Mereka melanjutkan permainan kekanak-kanakannya ini hingga langit terlihat gelap. Ymir melihat kedua telapak tangannya yang dingin memucat karena berkali-kali menggenggam salju. Nafasnya terengah-engah karena mereka berdua mengitari area taman, berusaha menghindari serangan satu sama lain.

"Krista... aku capek...!" Ymir mengangkat tangannya menyerah, diikuti dengan Krista muncul dari tempat persembunyiannya.

"Iya, aku juga..."

Ketika mereka hendak kembali masuk ke dalam rumah, ibu Ymir membuka pintu, "Ya ampun, dari tadi kalian disini?" ucap ibunya terkejut

Mereka berdua hanya mengangguk

"Oh, dari tadi ibu cari di dalam rumah tidak ada. Ayo, masuk. Makan malam sudah siap." Ibunya berbicara santai sambil melebarkan pintu, mempersilahkan mereka masuk ke dalam.

"Makan malam?" Krista bergumam, "Oh, tidak! Jam berapa ini?" Krista terlihat sedikit panik

"Kenapa? Kau ada perlu?" Ymir bertanya, menghentikan langkahnya saat sudah masuk ke dalam, suhu nya hangat dan nyaman, beda seperti di luar.

"Tidak, aku harus menghubungi ibuku..." Krista meraba-raba saku di bajunya, dan baru ingat kalau ponsel nya ia tinggal di dalam kamar Ymir.

Krista tergesa-gesa berlari ke kamar Ymir, dan Ymir mengikuti di belakang dengan santai.
Sesampainya di depan kamar, Krista berbicara dengan ibunya melalui telepon, sambil buru-buru merapikan bajunya ke dalam tas.

"Iya, bu... maaf, aku lupa. Aku sedang siap-siap pulang."

Ymir merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya ketika Krista mengatakan 'pulang'.

"...benarkah?!" tiba-tiba Krista berhenti dengan kegiatannya, terlukis senyuman terlebar yang baru pertama kali dilihatnya – membuat Ymir heran.
"Baik, bu... terima kasih." Krista menutup lagi teleponnya.

"Ada apa?" Ymir bertanya setelah melihat Krista berhenti membereskan bajunya.

"Ibuku bilang aku sudah jarang bergaul dengan teman, jadi ia memperbolehkanku menginap di rumahmu..." Krista menjawab dengan santai

"Me-mengi...nap?" Ymir terbata-bata setelah mendengar kata-katanya

Krista mengangguk, kemudian melanjutkan, "Ya, nanti ibuku akan mengantarkan baju ganti untukku. Kalau kau tidak mau, ibuku akan menjemputku pulang sekarang. Jadi, bagaimana?"

Krista menunggu jawaban, tapi Ymir hanya terdiam.

"Kalau begitu..." Krista berdiri dan bersiap pergi, "Aku pulang...?"

"T-tidak...! Jangan... jangan pulang." Ymir menghentikan Krista yang hendak pergi ke luar kamarnya. Dan mungkin, sebentar lagi Ymir akan menyesal telah berkata seperti itu "Sebentar, aku tanya ibuku dulu," Ymir melnjutkan sambil memberi bahasa tubuh agar Krista menetap di tempatnya. Kemudian Ymir berlari kepada ibunya.

"Ibu, Krista ingin menginap," Kata Ymir langsung ke inti nya.

"Menginap? Tentu saja boleh! Akhirnya kau punya teman juga, lagipula ibu sudah masak ekstra untuk Krista," Ibunya menjawab santai sambil menyiapkan makan malamnya

"Bukan... maksudku," Ymir membuat jeda, berharap jika kata-katanya yang akan dilontarkan tak membuat ibunya tidak enak hati, "bagaimana jika ayah datang?"

"Jangan khawatir, jika ayahmu pulang, keluarlah lewat pintu belakang dan ajak Krista jalan-jalan, oke?" Ibunya memberi jawaban yang sama sekali tidak diduga oleh Ymir. Berpikir lagi dua kali akankah rencana ibunya akan berhasil nanti. Lagipula, tidak akan ada yang tahu kapan ayahnya akan kembali. Dan ia berharap tidak akan kembali lagi, selamanya.

Setelah itu, Ymir kembali ke kamarnya, melihat Krista yang sudah sabar menunggu jawabannya.
"Ibuku bilang boleh, tapi memangnya ibumu tahu dimana rumahku?"

Krista terlihat bersemangat menjawab segala hal, "Beri tahu alamatmu, nanti aku kasih ke ibuku. Kalau dia tidak menemukannya, kita tunggu saja di stasiun." Krista mengeluarkan isi pikirannya dan Ymir setuju.

Setelah Krista selesai berbicara dengan ibunya melalui SMS, mereka berdua merasa sangat lapar – tentu saja – karena mereka belum juga menisi perutnya sedari tadi. Mereka sudah bermain di luar cukup lama. Ketika Ymir melirik jam, menunjukkan pukul setengah tujuh, dan Krista sudah sampai di rumah Ymir sekitar jam setengah empat sore.

Ymir dan ibunya, serta Krista menyantap hidangan malam dengan tenang juga atmosfir bahagia. Ibunya terus bertanya bagaimana kisah mereka bertemu hingga saat ini berteman. Krista menjelaskan seluruh ceritanya dengan detail, ia pun juga menceritakan tentang menunggu Jean di toilet laki-laki.

Bagus, sudah 3 orang yang ikut dibohongi.

Ymir tidak berbicara apapun, ia hanya mendengar mereka berdua berbicara akrab dan ibunya berterima kasih kepada Krista karena sudah menjadi teman Ymir. Untung baginya, Ibu tidak mengatakan apa-apa tentang 'kemampuan unik' yang dimilikinya sejak kecil. Ibunya sadar itu adalah rahasia terbesar di dalam hidupnya, dan ia menjaganya dengan baik.

Dan yang lebih membuat Ymir bahagia, ayahnya tidak muncul dari mereka pergi sampai kembali dari stasiun. Setelah menemui ibu Krista di stasiun dan Krista menerima baju gantinya, benar saja, ternyata ibunya cukup kebingungan dengan alamat rumah Ymir, jadi mereka memutuskan untuk bertemu dengannya di stasiun. Ymir disambut baik oleh ibu Krista, ia adalah wanita yang ramah.

Mereka kembali ke dalam kamar, disambut oleh Kitsune yang sudah berada di atas kasur Ymir. Krista tentu saja tidak melihatnya, dan Ymir menyuruhnya pergi.

"Tenang saja, sebentar lagi dia tidur." Ucap Kitsune, mengatakan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

"Ymir, aku mengantuk..." Krista duduk di samping kasur sambil mengucek matanya dan menguap. Ymir melirik Kitsune, yang berlagak tidak melakukan apa-apa. Tapi Ymir yakin ada hubungannya dengan Youkai ini.

"Kau boleh tidur di kasurku," Ymir menjawab tulus. Sebenarnya kasur ini memang didesain untuk dua orang. Pada akhirnya, Ymir bisa merasakan ada orang lain yang akan tidur, dan kemudian bangun di sampingnya – yang terakhir melakukan hal itu adalah ibunya.

"Terima kasih..." Krista langsung menghantam kepalanya di atas kasur dan memejamkan matanya, erat.

Ymir ikut berbaring di samping Krista. Tepatnya berbaring di samping meja belajarnya. Kitsune sedang duduk diam di meja, dan seperti biasa, Ymir mengobrol dulu sebelum pergi tidur.

"Jangan menyihir dia seperti itu." Ymir langsung angkat bicara, memelankan suaranya agar tidak didengar Krista.

"Maaf, tapi aku hanya ingin kau mendengarkan ceritaku."

"Kalau begitu, cepatlah. Aku juga sudah mengantuk, mungkin terkena radiasi sihirmu itu."

Kitsune tertawa pelan, kemudian bersiap untuk menceritakan Ymir sesuatu yang mungkin takkan pernah ia beritahu orang lain – apalagi manusia. Tapi Kitsune menghormati Ymir, karena menurutnya manusia seperti dia itu sangat langka. Dapat dengan jelas melihat Youkai, berteman dengan mereka dan tidak mengusirnya kembali ke alam baka.

"Jadi..." Kitsune memulai ceritanya ketika ia mulai masuk sekolah SMA. Orang tua nya sangat bangga, begitu pula dirinya. Hari pertama masuk sekolah, ia bertemu dengan banyak orang-orang baru, dan masuk ke dunia pertemanan yang baru. Aktivitas di sekolahnya juga membuatnya senang, ia mengikuti klub olahraga voli.

Hari demi hari telah berlalu, hingga Bertholdt menaiki kelas dua SMA. Nilainya memang tidak terlalu tinggi dan tidak meraih peringkat pertama, tapi usahanya cukup membuat kedua orangtua nya bangga. Bertholdt berkenalan dengan anak pindahan dari luar kota. Anak itu bernama Reiner Braun. Selama mereka berteman, Reiner dapat mengenal Bertholdt lebih dalam. Mengenai keluarganya yang kaya raya. Bertholdt menganggap Reiner adalah teman sejati biasa, ia memberitahu secara detail alamat rumahnya agar mungkin suatu hari nanti Reiner ingin mampir ke rumahnya.

Reiner juga mendengar desas-desus serta gosip yang keluar dari beberapa orang di sekitarnya, tentang Bertholdt adalah anak dari orang tua yang kaya raya, serta keluarganya yang memiliki brankas berisi uang diselimuti perhiasan emas.

Setelah mendengar hal tersebut, Reiner berencana buruk untuk merampok semua kekayaan mereka. Sejak dulu Reiner sudah mengikuti pekerjaan kotor, hanya saja mereka yang dekat dengannya tidak pernah mengetahui rahasianya, begitu juga Bertholdt.

Hingga suatu malam, Reiner mampir ke rumahnya, bukan untuk mengerjakan tugas bersama ataupun bermain layaknya sahabat. Melainkan Reiner menodongkan pisau kepadanya dan menyuruhnya menunjukkan dimana letak brankas tersebut. Bertholdt menolak, ia berkata, "Tidak ada brankas apapun di dalam rumah ini," mendengar hal itu Reiner mulai mengancam. Ia bilang akan membunuh kedua orang tuanya jika tidak segera memberitahu dimana brankas tersebut berada. Bertholdt menjawab, dengan sedikit ragu, "Orang tuaku tidak ada disini,"

Satu hal yang tidak disadarinya, Reiner membawa pasukan menyerbu rumahnya secara diam-diam dan dalam waktu sedikitpun, Bertholdt tidak lagi bisa melihat orang tuanya dikemudian hari. Ia menangis, di hadapan orang tuanya yang sudah terbaring tidak berdaya. Reiner tertawa melihat Bertholdt bersedih. Pada akhirnya, Bertholdt memberi tahu Reiner dan teman-temannya dimana brankas itu diletakkan. Ia membuka brankas itu dengan kode yang hanya diketahui oleh keluarganya, dan membiarkan Reiner tertawa bahagia karena kini kekayaan sudah ada di tangannya. Kata-kata terakhir yang ia dengar dari Reiner, "Sekarang, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," dan rasa sakit terakhir yang ia ingat adalah sebuah pisau tajam menikam, menembus tulang rusuknya.

Ymir tidak bereaksi setelah mendengar cerita yang panjang itu. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan kosong. Sejujurnya ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Lalu... apa yang terjadi dengan dia?" Ymir bertanya, sepenuhnya penasaran dan tentunya, menyangkut Reiner; si pengkhianat.

"Tidak tahu, tidak peduli." Kitsune menjawab dengan sekilas

"Kejam sekali dia," komentar Ymir "Kau tidak ingin membalas dendam?"

"Membalas kejahatannya tidak akan menghidupkan kedua orangtua ku dan aku." Kitsune membalasnya cepat, dan logis. Ymir mencamkan hal itu kepada dirinya, dan mungkin selamanya akan berpikir, balas dendam itu sia-sia.

"Jadi... kau ini sebenarnya Bertholdt Hoover?" Ymir bertanya lagi sambil menoleh ke rubah putih.

Kitsune hanya mengangguk, turun dari meja dan mengubah dirinya menjadi wujud manusia. Ymir dapat melihat wajahnya, begitu mirip dengan foto yang dilihatnya di mading.
"Kukira kau takkan pernah mengetahui nama asliku. Tapi, karena sekarang kau tahu, maka aku menceritakan itu."

"Kau tahu, mereka memasang foto wajahmu di mading sekolah," mendengar hal itu, Bertholdt tersenyum ria.

"Ymir... kau bicara dengan siapa?" Krista terbangun dari tidurnya dan menatap Ymir dengan tatapan heran sedikit mengantuk.

"Oh, tidak. Aku tidak bicara, mungkin kau hanya bermimpi. Hehe, tidurlah lagi, sudah malam." Ymir berhasil membuat Krista kembali ke alam mimpinya, dan memberi isyarat kepada Kitsune untuk segera pergi.

Ymir membuat posisi tidur, menatap punggung Krista yang ada di depannya. Kemudian mulai memejamkan matanya. Ia tersenyum sekilas, karena menurutnya ini adalah hari paling menyenangkan.

Tidak ada ayah, tidak ada Youkai menyebalkan, dan tentunya, Krista berada di sampingnya ketika ia tidur.

TBC


OKeeee tunggu chap selanjutnya, baybay!

Thanks For Reading!