Unseen Bound
.
.
.
.
.
Yang mereka tahu, cinta itu tidak selalu harus ditandai dengan suatu ikatan. Tapi tanpa sadar, mereka sudah terikat satu sama lain.
Arilalee present
Title : Unseen Bound
Author : Arilalee
Genre : Romance, lil-angst, school-life
Cast : 2MIN, Meanie, KaiSoo
Support Cast : SHINee, Seventeen, EXO, Lee Joon, Krystal, Ravi, Timotheo, Lee Yoobi
Warning : Yaoi, BxB, Typo, dramatisasi berlebihan, OOC, perubahan usia
Notes : SHINee dan EXO kecuali Sehun dan Kai kelas tiga. Sehun, Kai kelas dua. Seventeen hyung line ( , Jeonghan, Joshua, Jun, Hoshi, Wonwoo, Woozi) kelas dua. Seventeen dongsaeng line (Dokyeom, Mingyu, The8, Seungkwan, Vernon, Dino) kelas satu.
Setiap seri, main cast-nya berbeda. Tergantung yang akan disertakan dalam judul. Polanya selalu sama, misal chapter 1 2min, chapter 2 kaisoo, chapter 3 meanie, chapter 4 2min, chapter 5 kaisoo, chapter 6 meanie, dan seterusnya.
Buat yang Cuma pengen baca otp-nya aja, lompat-lompat chapter ngga apa-apa. Karena mereka punya kisah masing-masing yang meski berhubungan tetep nggak membingungkan (semoga) buat dibaca per-pairing.
UNSEEN BOUND
FILE 3
MEANIE : ABUSE
"Bahkan aku tidak pernah mengharapkan akan ada seseorang yang datang dengan cinta sebesar ini padaku. Sebelum semuanya terlambat – menjadi semakin rumit, angkat tanganmu ; menyerahlah. Dan berbaliklah. Tinggalkan aku sekarang. Perlukah kulayangkan semua caci makiku untukmu?" – Jeon Wonwoo.
xxxxx
"Dia datang lagi."
Seharusnya Wonwoo tidak usah mempedulikan tiga kata yang barusan Kwon Soonyoung bisikkan padanya. Karena saat Wonwoo mendongak – ia menyesal telah melakukannya – mata sipitnya langsung menangkap sosok yang paling tidak ingin ia temui sekarang-sekarang ini. Atau selama-lamanya.
"Selamat pagi, Wonwoo Sunbae." Sosok itu mendekat dan meletakkan sesuatu di meja Wonwoo – itu susu kotak stroberi dan sandwich dengan isian daging asap – seperti pagi-pagi sebelumnya. "Sarapan?"
Namanya Kim Mingyu. Masih kelas sepuluh tapi tubuhnya tinggi keterlaluan. Mungkin itu kenapa bocah dengan taring berlebih itu selalu menjadi pusat perhatian. Sialnya, Mingyu–yang–selalu–jadi–pusat–perhatian terus-menerus berada di sekitar Wonwoo, yang sama sekali tidak suka perhatian.
Apalagi perhatian berlebihan yang selalu dilakukan si junior tersebut selama belakangan ini.
"Berhenti memamerkan taringmu, Kim. Kau terlihat seperti werewolf." Soonyoung menunjuk wajah si junior sambil menyiku Wonwoo secara main-main. Lalu ia tertawa sendiri – dan itu membuat pagi Wonwoo semakin buruk saja.
"Wonwoo Sunbae," Mingyu memanggil Wonwoo lagi setelah tadi diabaikan – atau tepatnya selalu diabaikan.
Wonwoo mendelikan mata sipitnya ke arah Mingyu yang membungkuk ke arah mejanya dengan cara yang menyebalkan. Tapi sejurus kemudian Wonwoo mengalihkan bola matanya ke arah deretan huruf yang tercetak pada buku di hadapannya – dia memang kutubuku.
Tapi si bocah Kim itu tampak tak gentar. "Bagaimana dengan makan bersama siang nanti?"
"Astaga, Kim. Menyerah sajalah." Lee Jihoon – teman Wonwoo yang lain – tiba-tiba mengeraskan suaranya. Membuat Wonwoo agak meliriknya meski berakhir lagi pada bukunya. "Kau tidak akan bisa menghasilkan apa-apa dengan selalu bersikap aneh seperti ini. Jadi pergilah."
"Aku tidak bicara pada Jihoon Sunbae." Mingyu menjawabnya dengan senyuman menjengkelkan.
Kali ini Soonyoung yang menyahut, "Lalu kau bicara pada siapa? Apakah pada bayanganmu sendiri?" Lalu si Kwon tertawa lagi.
Dan kepala Wonwoo semakin berdenyut mendengarnya.
Jadi tak ada alasan bagi Wonwoo untuk terus bertahan di kelas tak menyenangkan itu. Ia berdiri dengan satu gerakan kasar yang membuat kursi dan mejanya bergeser – juga Soonyoung yang terlonjak sampai tawanya tertelan begitu saja. Lalu ia mengambil langkah memutar melalui deretan samping mejanya dan meninggalkan kelas dengan membawa serta buku dalam genggamannya.
Wonwoo hanya tidak ingin kepalanya meledak di hari sepagi ini.
xxxxx
Dan di sinilah Wonwoo sekarang. Duduk di salah satu bangku perpustakaan dan menghadapi setumpuk buku – yang terdiri entah empat atau lima, Wonwoo agak lupa – di atas meja. Matanya yang berbingkai kacamata bulat terlihat fokus mengeksplor tiap halaman buku. Tidak sadar saja kalau dia sudah melakukan ini sejak setengah jam yang lalu – dan itu artinya sebentar lagi bell masuk berbunyi.
"Tidak ke kelas?"
Wonwoo mendongak dan menemukan Wen Junhui di hadapannya. Pria berkebangsaan China itu terlihat menenteng dua buah buku di satu tangannya sementara tangan lainnya memegang sebuah kartu – itu kartu perpustakaan, Wonwoo sudah hafal.
"Baru saja ingin." Wonwoo menyahut seadanya. Lalu menumpuk buku yang tadi dibacanya setelah menyelipkan satu pembatas berwarna kuning cerah. Dan tanpa berkata-kata apa pun lagi Wonwoo beranjak dari tempatnya, berjalan di samping Junhui yang juga teman sekelasnya.
"Kelihatannya kau sudah lama berada di perpustakaan. Aku sampai di kelas dan kursimu sudah kosong."
Wonwoo mengangguk setelah menoleh sekilas pada pemuda Wen. "Cukup lama – sudah satu setengah buku kuhabiskan." Ia mengerling tumpukan buku di dekapannya.
"Kurasa kau tidak sekutubuku ini sebelumnya – maksudku, kau terlihat terlalu kutubuku akhir-akhir ini." Junhui memanjangkan kalimatnya, seperti berusaha mencari kata-kata yang pas untuk menggambarkan apa yang dirasakannya. "Koreksi kalau aku salah, biasanya kau hanya pergi ke perpustakaan setiap jam istirahat siang. Tapi belakangan ini kau jadi pergi ke sana setiap ada kesempatan."
"Apakah terlihat buruk?" Wonwoo menimpali sebuah pertanyaan pada Junhui alih-alih mengoreksi seperti yang diminta. "Apakah menjadi sekutubuku itu menjadi sangat buruk?"
"Yaah," Junhui mengedik. "Tidak juga."
Wonwoo menunduk. Mengamati langkah sepatunya sendiri yang beradu dengan lantai putih koridor. Membuatnya agak tidak fokus dan harus terkesiap saat Junhui memperingatkan dirinya untuk mengambil langkah ke kiri – itu letak kelasnya.
Selanjutnya Wonwoo hanya harus benar-benar berbelok di deretan meja pertama dan menemukan tasnya yang tergeletak di atas meja baris ke tiga. Tapi langkahnya terhenti saat Junhui berbicara sebelum memisahkan diri ke deretannya.
"Kau tidak terlihat buruk. Hanya saja, kurasa bocah Kim itu tidak selamanya bisa ditoleransi hanya dengan berlari ke perpustakaan. Mungkin suatu saat dia akan menyusulmu juga ke tempat kekuasaanmu itu."
Dan Wonwoo tidak mengerti kenapa ia harus membekukan langkahnya sejenak setelah senyuman simpul Junhui di akhir kalimatnya. Padahal untuk apa Wonwoo memikirkan kalimat itu? Dia Jeon Wonwoo, 'kan? Si datar dan kutubuku nomor satu yang sama sekali tidak tertarik pada bocah Kim yang sedang disebut-sebut.
Tapi nyatanya, Wonwoo malah membeku lagi saat menemukan kotak susu stroberi dan sandwich daging asap masih tergeletak manis di atas mejanya.
Sekarang Wonwoo pikir kepalanya akan meledak – lagi.
xxxxx
Semua kesialan ini (Wonwoo selalu menyebutnya seperti itu) berawal sejak satu bulan lalu – kalau tidak salah. Sejak Wonwoo diseret Kwon Soonyoung untuk menonton seleksi anggota tim inti klub basket sekolah. Wonwoo tidak mengerti kenapa penyeleksian dilakukan setelah tiba di semester dua, bukankah seharusnya di awal-awal tahun ajaran baru? Tapi Wonwoo tidak peduli karena ia hanya harus duduk di kursi penonton dan fokus pada bukunya – selagi Soonyoung mengomentari apa-apa saja yang terjadi di lapangan sana.
"Kenapa tidak mengajak Jihoon saja?" Wonwoo bertanya pada Soonyoung setelah ia agak pusing mendengar teriakan aneh para wanita berpom-pom di pinggir lapangan.
Soonyoung menyengir, "Jihoon – kau tahu sendiri dia sibuk dengan klub-nya."
"Aku juga sibuk – kau tahu itu."
"Kau hanya sibuk membaca, Jeon Wonwoo. Jadi sebaiknya kau sibuk membaca lagi saja, kenapa malah sibuk bertanya?"
Belum sempat Wonwoo menjawab pertanyaan konyol Soonyoung – atau memang Wonwoo enggan menjawabnya sama sekali ; karena sekali lagi itu konyol – sebuah bola oranye menggelinding ke arah sisi lapangan. Tidak, lebih tepatnya ke arah kaki Wonwoo.
Ingatkan Wonwoo bahwa ia berada di sisi lapangan basket sekarang. Di kursi paling depan. Paling depan dari yang terdepan – salahkan Soonyoung yang menyeretnya.
Wonwoo masih memandangi bola berbintil itu saat suara sepatu berlari terdengar mengarah padanya. Soonyoung menyikunya sementara Wonwoo mendongak untuk melihat siapa yang sekarang sedang berdiri di hadapannya – dan menutupi sinar matahari langsung dengan tubuhnya.
"Maafkan aku, Sunbae." Suara si anggota klub basket terlihat menggema begitu saja. Wonwoo sempat berpikir kalau pria itu adalah seniornya – karena tubuhnya tinggi sekali, sumpah – tapi melihat pria itu belum memakai seragam resmi tim basket – dan dia memanggil Wonwoo dengan embel-embel Sunbae – membuat Wonwoo mematahkan pemikirannya sendiri.
Wonwoo hanya mengangguk dan tidak tertarik untuk menjawab dengan kata-kata. Ia sudah hampir kembali tenggelam pada bukunya, membiarkan si junior merunduk mengambil bola di dekat kakinya, andai saja pria tinggi itu tidak mengajaknya bicara lagi.
"Sunbae, bisa kita bicara setelah ini?" Pria itu membuat Wonwoo mendongak lagi padanya. Dan sekarang ia sedang menyelipkan sebuah senyuman lebar yang membuat Wonwoo khawatir itu akan membuat wajahnya robek. Tapi kekhawatiran Wonwoo berubah menjadi runtukkan kesialan saat bocah itu menambahkan, "Kurasa aku tertarik padamu, Sunbae."
Dan sudah bisa ditebak kalau reaksi Wonwoo hanyalah datar – sedatar permukaan buku yang selalu ia bawa kemana-mana – tanpa berniat memberikan jawaban apa pun, yang Wonwoo pikir bisa membuat si bocah itu berpikir ulang untuk berurusan dengannya. Tapi Wonwoo malah benar-benar mendapati bocah itu menahannya di koridor lantai dasar seusai acara penyeleksian.
"Aku serius tentang 'aku tertarik padamu, Sunbae' yang tadi." Pria yang lebih tinggi terlihat tidak sabaran untuk berbicara. Berbanding terbalik dengan Wonwoo yang hanya menatap pria itu di balik kacamatanya yang sesekali melorot – bukan karena hidungnya, tapi karena Wonwoo baru mengganti kacamatanya beberapa Minggu yang lalu, masih penyesuaian – tanpa berniat mengatakan apa-apa. "Tapi kurasa seharusnya kita berkenalan lebih dulu. Aku Kim Mingyu."
Wonwoo masih tak menjawab, juga tidak mau repot-repot menjabat tangan si bocah yang terulur padanya. "Kurasa kau sudah membaca name-tag ku sejak tadi."
"Yeah – sebenarnya." Mingyu menggaruk tengkuknya. Agak canggung karena ternyata si Sunbae bersikap sangat dingin.
Sedikit tersenyum culas – dalam hati – Wonwoo yakin kalau Mingyu akan mundur setelah tahu seberapa ketus dirinya. Baru saja Wonwoo akan bersorak-sorai – lagi-lagi dalam hati – saat si junior malah meraih tangan Wonwoo yang sedari tadi diam menggantung di sisi tubuhnya.
Wonwoo berusaha – sekeras mungkin – untuk memelototi Mingyu yang malah memamerkan taring-taringnya yang terlihat kelebihan kalsium. Dan belum sempat Wonwoo menampar tangan kurangajar si adik kelas, bocah bermarga Kim itu sudah melontarkan kalimat super menjengkelkan yang membuat Wonwoo harus memasang sirine anti Kim Mingyu mulai saat ini.
"Bagaimana dengan kencan Minggu ini?"
xxxxx
"Kau melamun?"
Wonwoo tidak terlalu kaget saat Jihoon datang menghampirinya dan menumpukan setengah bobot tubuhnya – yang mungil – ke meja.
"Tidak." Wonwoo menggeleng. Ia tidak akan pernah mengaku kalau kenangan – oh, adakah kata yang lebih tidak menjijikkan dibanding ini? – tentang pertemuan pertamanya dengan si bocah bertaring dari kelas 1-3.
"Bagaimana kalau kita ke kantin?" Itu Junhui yang entah sejak kapan sudah ikut mengerubungi meja Wonwoo.
Wonwoo mengangguk, menatap kedua teman sekelasnya. "Kebetulan aku lapar." Lalu beralih pada Soonyoung yang kelihatan sibuk dengan ponselnya.
"Kau, Soon?" Junhui yang mewakili pertanyaan Wonwoo.
"Kebetulan aku harus ke ruang latihan, mengambil sesuatu." Soonyoung dengan gusar mulai bangkit dari kursi. "Aku menyusul."
Dan di sinilah mereka bertiga sekarang, di kantin yang sedang ramai-ramainya. Junhui sudah lebih dulu mengambil pesanannya – dia adalah anggota klub tari, mungkin itu kenapa dia cukup fleksibel untuk memotong antrean tanpa diteriaki oleh siswa lain ; kemungkinan kedua karena dia terlalu tampan untuk diteriaki – sementara Wonwoo dan Jihoon masih berdiri dalam antrean dengan nampan kosong.
"Kelihatannya semua meja penuh." Junhui menggumam seraya menghampiri dua teman sekelasnya. "Haruskah aku cari tempat yang pas untuk kita bertiga?"
Wonwoo meneleng sejenak sebelum menyahut, "Berempat, Jun. Kau tidak lihat Jihoon menemukan temannya?"
Junhui menoleh ke arah Jihoon – yang berdiri di depan Wonwoo – yang sedang mengobrol dengan seorang wanita. Junhui kenal wanita itu, namanya Jung Soojung, gadis cantik dari kelas 2-2 yang juga teman Jihoon di klub musik. "Baiklah. Aku akan mencari empat kursi kosong."
Junhui pergi setelah Wonwoo memberinya anggukan persetujuan.
Wonwoo menghembuskan nafasnya. Kalau saja ia tidak sedang berada dalam kondisi kelaparan kritis, mungkin ia tidak akan berada di sini – melainkan di perpustakaan. Salahkan dirinya sendiri yang tidak menyempatkan diri untuk sarapan. Juga tidak menurunkan ego untuk menyantap saja sandwich daging asap yang kelihatan masih baru tadi pagi.
Kenapa jadi terkesan menyesal seperti ini?
"Mana Junhui?" Jihoon bertanya setelah mereka bertiga – dirinya, Wonwoo dan Soojung – sudah membawa makanan pada nampan masing-masing.
Wonwoo sedikit mengedarkan pandangannya, "Mencarikan tempat untuk kita. Kau melihatnya?"
Jihoon ikut mengedarkan pandangan, begitu pun Soojung. Lalu Jihoon menyiku lelaki yang lebih tinggi saat menemukan Junhui sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Oh! Wonwoo! Di sini!"
"Kenapa dia berteriak di tempat seperti ini, astaga." Jihoon menggerutu sementara Wonwoo hanya berjalan menuju meja dimana Junhui berada. Soojung juga hanya membuntuti dua pria itu tanpa banyak bicara. Lagipula, dia hanya ada urusan dengan Jihoon – masalah klub musik, tentu saja.
Wonwoo sampai di meja dan baru menyadari saat dua orang yang tadi mendiami meja yang sama dengan Junhui mulai beranjak. Wonwoo bukan orang sepenasaran itu untuk bertanya – terlebih pada kakak kelas tak dikenal.
"Bukankah itu Kyungsoo Sunbae dari kelas 3-3?" Jihoon kembali bersuara. Ia sudah duduk di sebelah Soojung yang berhadapan dengan Junhui.
Wonwoo menggeleng tidak tahu saat Jihoon menatapnya, pun begitu dengan Junhui. Tapi Soojung yang duduk di samping Jihoon hanya diam saja alih-alih menjawab saat ditatap oleh tiga laki-laki di sekelilingnya. Dan seperti dewi fortuna berpihak pada Soojung – dia terlihat benar-benar tak ingin menjawab pertanyaan yang terlontar secara tersirat dari tiga pasang mata yang menatapnya – seseorang hadir di meja mereka dan menarik atensi keseluruhannya dengan sangat baik.
"Wonwoo Sunbae,"
Dan Wonwoo benar-benar menyesali keputusannya untuk tidak sarapan kali ini.
"Aish, bocah ini lagi." Junhui terlihat mendengus sambil memakan menu makan siangnya. Terlihat mencoba menyindir Mingyu – yang sekarang memasang senyuman bodoh sambil duduk di samping Wonwoo yang sama sekali tidak menggubrisnya – barangkali adik kelasnya itu akan merasa malu dan segera enyah.
Bukan apa-apa, Junhui juga kesal kalau terus-menerus melihat wajah itu selama beberapa kali dalam sehari.
"Jangan pergi dulu." Mingyu berujar dengan nada panik saat ia melihat Wonwoo mulai bergerak untuk bangkit dari kursinya. Dan ia tidak peduli saat Junhui terlihat kesal karena ucapannya diabaikan. "Aku hanya ingin memastikan Wonwoo Sunbae makan siang dengan baik." Lalu ia meletakkan sepiring apel yang sudah dikupas ke atas nampan Wonwoo dengan kasual.
Wonwoo mendengus sambil melirik Mingyu yang masih saja tersenyum seperti idiot di sampingnya. Tapi kemudian Wonwoo mengalihkan pandangannya dan malah menangkap Jihoon dan Junhui yang berbisik-bisik menyebalkan.
Kaki Wonwoo sudah hampir menendang meja dan akan beranjak, tapi Mingyu lebih dulu melakukannya. Ia berdiri dan membuat tubuh tinggi menjulangnya terlihat semakin tinggi saja. Mingyu sedikit membungkuk ke arah meja dan hal itu membuat hidung Wonwoo menghirup aroma Mingyu terlalu banyak.
Wonwoo menoleh – lebih tepatnya mendelik tajam pada Mingyu yang malah tertawa bodoh.
"Sampai jumpa lagi, Wonwoo Sunbae yang manis." Lalu pergi dengan lambaian tangan kekanakkan yang membuat Jihoon berlagak ingin muntah.
Wonwoo mengerling pada piring kertas berisi potongan apel yang kini bersebelahan dengan minuman dinginnya. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas Wonwoo tidak tahu harus memperlakukan apel itu seperti apa. Tapi kemudian ia bersyukur karena Junhui berinisiatif untuk mengambil sepotong dan membagikannya pada Jihoon serta Soojung.
"Aku tidak melihat ada apel tadi." Jihoon mengatakannya setelah ikut memakan apel yang diberikan Junhui.
"Biasanya buah akan habis dalam lima menit pertama." Soojung berujar sambil ikut mengambil sepotong apel dari piring yang Jihoon sodorkan. "Dia cukup beruntung mendapatkan ini – atau mungkin sengaja melakukannya dengan datang secepat mungkin ke kantin?"
Wonwoo berdehem. Melanjutkan aksi makan siangnya dan langsung menggeleng saat Junhui berniat memberikan sisa potongan apel padanya. Lagipula, siapa yang peduli kalau Mingyu sengaja datang secepat mungkin ke kantin hanya untuk sepiring apel?
xxxxx
"Ini buku-bukunya, Wonwoo-haksaeng."
"Terima kasih, Saem."
Wonwoo mendengus. Memandangi tumpukan buku cetak Bahasa Inggris yang harus ia bawa ke kelas. Bukannya Wonwoo tidak sanggup, ia hanya tidak yakin – apakah ia bisa berjalan dengan benar kalau tumpukannya setinggi ini?
Wonwoo menoleh ke kanan dan kirinya dan tentu saja tidak akan menemukan siapa-siapa. Yeah, lagipula sekarang jam pelajaran sedang berlangsung. Jadi kecil kemungkinan Wonwoo akan menemukan seorang pembolos di perpustakaan – kecuali di ruang kesehatan atau rooftop, seharusnya. Jadi mau tidak mau Wonwoo mengangkat semuanya sendirian. Mungkin mulai besok ia akan meminta Soonyoung menemaninya kalau diminta guru mengambil buku cetak lagi.
Dengan langkah perlahan, Wonwoo mulai berjalan di koridor. Buku-buku itu tidak terlalu berat, tapi cukup merepotkan karena Wonwoo tidak bisa melihat ke depan dengan benar. Wajahnya harus mengintip melewati tumpukan buku dari sisi kanan atau kiri – dan sumpah, itu cukup membuat lehernya pegal.
Langkah Wonwoo melambat saat ia sadar kalau sebentar lagi ia harus menaiki tangga. Siapa sebenarnya arsitek yang membuat perpustakaan berada di lantai dasar dan kelasnya berada di lantai atas? Bagus, Wonwoo mulai gila karena ia meruntuki si arsitek yang bahkan tidak pernah ada dalam pelajaran sama sekali.
Mungkin Wonwoo benar-benar harus mengajak Soonyoung kalau ia disuruh mengambil buku lagi. Juga mengajak Junhui dan Jihoon sekaligus agar tugasnya semakin ringan.
Atau lagi, mengajak –
GREP
"Kenapa Sunbae membawa semua ini sendirian?"
– Kim Mingyu.
Wonwoo menoleh dengan sedikit dongakan – Mingyu sangat tinggi dibanding anak kelas sepuluh lainnya, omong-omong – dan menemukan wajah Mingyu yang kelihatan lebih serius dari biasanya. Wonwoo bahkan bisa melihat kerutan di dahi si adik kelas yang sekarang membawakan tiga per empat bagian dari tumpukan – merepotkan – buku yang tadi ia bawa.
"Ini jam pelajaran, kenapa berada di sini?" Wonwoo enggan menjawab pertanyaan Mingyu dan malah melempari pertanyaan lain dengan ketus. Lalu sejurus kemudian ia menyesal telah bertanya.
"Mungkin karena takdir? Sepertinya Tuhan sengaja mempertemukan kita, Sunbae."
Wonwoo memutar bola matanya. Lalu ia mempercepat langkahnya, memimpin langkah si adik kelas yang masih mengekorinya sambil sesekali tersenyum cerah. Sedikit heran kenapa ia membiarkan dirinya terlihat lemah dengan hanya membawa seperempat bagian tumpukan buku – tapi persetan dengan itu.
"Apakah Jin Saem yang meminta Sunbae melakukan ini?" Mingyu menyamakan langkahnya dengan Wonwoo dengan mudah – dan Wonwoo sedang mengutuk tinggi badan Mingyu yang berlebih itu – sambil terus mencoba menggali topik perbincangan agar kebersamaannya dengan Wonwoo bisa sedikit lebih membekas dibanding pertemuan biasanya. "Kenapa beliau tega sekali pada orang semanis dirimu?"
"Sebaiknya hentikan omong kosongmu atau kau kutendang ke bawah sana." Wonwoo mengancam sambil menunjuk dinding kaca yang menampilkan pemandangan lapangan basket dari lantai dua.
Alih-alih merasa takut, Mingyu malah terkekeh renyah sambil terus mengimbangi langkah Wonwoo yang terburu-buru. Tapi sekarang ia bungkam – hanya sesekali tersenyum lebar sampai rasanya pipinya kebas – seperti kemauan kakak kelas kesayangannya.
Akhirnya mereka sampai di depan kelas Wonwoo. Wonwoo melirik bocah di sampingnya yang terlihat berinisiatif membuka pintu. Tapi sebelum itu terjadi, kaki Wonwoo melangkah mendekat, menghentikan gerakan Mingyu.
"Sampai sini saja. Kembalilah ke kelasmu." Wonwoo memerintah sambil mengisyaratkan pada Mingyu untuk kembali meletakkan tumpukan buku tersebut ke lengannya yang terbuka.
Mingyu memandangi itu sebelum kemudian menggeleng. "Aku harus bertanggungjawab sampai selesai, Sunbae."
"Hei– "
CKLEK
"Permisi, Saem."
" –ck, menyebalkan." Wonwoo mendengus. Tapi Mingyu hanya tersenyum menanggapinya.
Mau tidak mau Wonwoo masuk ke kelasnya bersama Mingyu. Dan ia benar-benar akan menjadikan mengutuk sebagai hobinya berkat bocah bernama Kim Mingyu.
"Kim Mingyu-haksaeng? Bagaimana bisa kau berada di sini?" Jin Saem terlihat keheranan saat melihat bocah kelas sepuluh itu ikut membantu Wonwoo membawakan buku-buku untuk pelajarannya.
Mingyu meletakkan tumpukan buku tersebut ke atas meja guru. "Maaf, Saem. Tadi saya baru saja dari toilet saat melihat Wonwoo Sunbae kesulitan membawa ini semua, jadi saya berinisiatif membantunya."
"Baiklah, terima kasih Mingyu-haksaeng. Tapi sebaiknya kembalilah ke kelasmu sekarang."
"Ya, Saem." Mingyu membungkuk dan bersiap untuk pergi dari kelas Wonwoo. Tapi ia menyempatkan diri untuk menatap Wonwoo sambil membisikkan, "Sampai jumpa, manis."
Yang membuat beberapa teman Wonwoo yang mendengarnya menjadi bersiul-siul.
Juga Jin Saem tersenyum kecut.
Wonwoo menghela nafasnya. Ia benar-benar akan mengganti hobinya – dari membaca menjadi mengutuk Kim Mingyu – di angket guru kesiswaan secepatnya.
xxxxx
"Dia benar-benar populer." Soonyoung berujar tiba-tiba di tengah keheningan saat dirinya dan Wonwoo serta Jihoon berjalan beriringan di koridor. Ini sudah jam pulang tapi mereka ada kegiatan ekstrakurikuler masing-masing. Jadi mereka memutuskan untuk pergi bersama sebelum kemudian berpisah di ujung koridor ke ruangan yang dituju.
"Siapa?" Jihoon yang lebih dulu penasaran pada decakan kagum yang Soonyoung lontarkan sebelumnya.
Soonyoung menunjuk seseorang dengan dagunya. Membuat Wonwoo dan Jihoon sama-sama menoleh dan mendapati kerumunan di sekitaran lapangan basket dari posisi mereka di lantai dua. Itu adalah kerumunan beberapa siswa dan siswi yang berteriak saat salah satu anggota klub basket melakukan dribble di tengah lapangan.
"Yeah, dia memang." Jihoon mengangguk setelah mengerti siapa yang Soonyoung maksudkan. "Bahkan lebih populer dari kapten basketnya sendiri – Choi Seungcheol."
"Dia sudah langsung masuk majalah sekolah dan menjadi stundent of the week – mengalahkan kandidat lain yang beberapanya dari kelas senior – di hari keenam setelah penerimaan murid baru. Juga sudah empat kali menghiasi cover majalah sekolah selama belum genap satu tahun berada di sini." Soonyoung menjelaskan. Lalu menoleh pada dua sahabatnya yang masih memandangi ke arah yang sama. "Dia keren, bukan begitu?"
Jihoon mengangguk. Ia ikut menoleh ke arah Wonwoo yang masih saja memandangi ke arah sana.
"Dan orang di sebelah kananku adalah orang yang menolak orang sepopuler itu berkali-kali." Jihoon mempertegas dengan iringan senyuman jahil di wajahnya. Membuat Soonyoung susah payah untuk tidak terbahak di tempatnya.
Merasa sedang ditatap dari dua arah berlawanan, Wonwoo menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lalu memutar bola matanya jengah. "Jangan bergossip di depan wajah objek gossip kalian."
"Kurasa itu fakta, bukan gossip. Seharusnya mengaku saja kalau kau sedang gugup – pipimu memerah." Jihoon dan mulut kurangajarnya adalah perpaduan yang sangat menyebalkan.
Wonwoo mendelik kesal pada si pendek sebelum memundurkan tubuhnya – menjauhi pagar pembatas. "Terserahlah."
Soonyoung benar-benar tak bisa menahan tawanya sekarang. Ia tertawa melihat bagaimana Wonwoo berjalan mendahuluinya sambil terus menatap ke depan, seolah ia akan mati kalau melirik sedikit saja.
"Dia benar-benar terbaca." Soonyoung mengomentari. "Kenapa juga dia harus bersikap jual mahal padahal dia menyukai bagaimana Mingyu memperlakukannya? Dia hanya terlalu mengangkat tinggi gengsinya tapi reaksi tubuhnya benar-benar pengkhianat. Bahkan pipinya bisa semerah itu tapi tidak mengakuinya sama sekali."
"Bukan begitu, kurasa." Jihoon mengedik, "Ada satu hal yang membuatnya seperti itu – kemungkinan."
"Heum?" Soonyoung meneleng. Bingung. "Apa maksudmu?"
"Hanya menebak," Jihoon menggumam. "Mungkin semacam ketakutan atau trauma?"
Soonyoung tak menanggapi. Malah mengerutkan dahi dan memikirkannya diam-diam. Sementara Jihoon memperlunak tatapannya sebelum mencoba mengejar langkah Wonwoo yang sudah cukup jauh di depan sana.
xxxxx
"Begitulah, jadi mulai besok kalian harus latihan untuk persiapan olimpiade fisika ini. Tapi karena Choi Minho-haksaeng sudah kelas tiga – dan jadwal pulang kelas tiga lebih siang karena pelajaran tambahan – kita juga harus menyesuaikan jadwal Jeon Wonsoo-haksaeng. Jadi selama dua jam sebelum latihan dimulai, kau bisa pulang dulu – itu tidak masalah."
Wonwoo menghela nafas secara sembunyi-sembunyi. Tentu saja ia tidak boleh terang-terangan melakukannya kalau masih sayang nyawa. Sebenarnya bukannya Wonwoo tidak suka menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade fisika – tahun lalu juga dia melakukannya, bersama Minho Sunbae juga, dan Kyuhyun Sunbae yang sudah lulus tahun ini – bisa dibilang, Wonwoo sudah cukup terbiasa dengan olimpiade seperti ini. Tapi sekarang Wonwoo harus memikirkan bagaimana caranya ia akan mengubah lagi jadwal kerja paruh waktunya karena harus pulang lebih malam.
Ya, ini agak menyusahkan bagi seseorang yang punya banyak kegiatan selain sekolah.
"Jadi, begitu saja. Aku belum menentukan siapa kelas satu yang akan mewakili ini, sebenarnya. Mungkin baru akan kutentukan besok." Oh Saem melepas kacamatanya. Lalu menatap dua siswanya yang duduk di hadapannya bergantian. "Kalian boleh pergi."
"Terima kasih, Saem." Wonwoo dan Minho membungkuk dan keluar dari ruangan si guru fisika dengan beriringan. Ya, mereka cukup akrab karena sudah pernah latihan setiap hari bersama tahun lalu. Tapi tidak seakrab itu untuk bisa saling menyapa di koridor kalau tidak sedang ada keperluan. Mereka sama-sama tidak suka pembicaraan basa-basi yang menguras waktu, omong-omong.
"Kupikir kau sedang ada kegiatan klub." Minho yang lebih dulu bicara pada Wonwoo. Jadi mau tidak mau Wonwoo mendongak untuk menghargai si senior.
"Memang." Wonwoo mengangguk. "Tapi sepertinya sudah selesai sekarang." Minho mengangguk tanpa berniat memanjangkan pembicaraan. Jadi Wonwoo yang melanjutkan, "Sunbae sendiri kelihatannya masih aktif di ekskul, padahal seharusnya kelas tiga sudah fokus menghadapi ujian."
"Yeah – entahlah." Minho mengedik. "Aku masih bisa mengatur waktuku di sepak bola dan pelajaran, kurasa tidak terlalu merugikan kalau aku melepas lelah di sepak bola – ya meski kedengarannya aneh melepas lelah dengan cara mencari kelelahan lain."
Wonwoo tersenyum kecil saat Minho terkekeh pelan. Lalu sejurus kemudian keduanya kembali hening dan tidak terasa sudah sampai di ujung koridor.
"Kau langsung pulang?" Minho bertanya, meski dia seharusnya sudah tahu jawabannya.
Wonwoo mengangguk. "Kelihatannya Sunbae juga tidak ada jadwal latihan sepak bola?"
"Ya, begitulah." Minho menjawab sambil mengedarkan pandangannya. Lalu ia melambaikan tangannya pada seseorang di bagian lain koridor yang membuat Wonwoo agak penasaran dan ikut menoleh. "Aku duluan, Taemin sudah menunggu."
Kepala Wonwoo mengangguk lagi. Lalu ia menggumamkan selamat tinggal sebelum melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Wonwoo mengeluarkan ponselnya, berniat mencari kontak si boss kerja paruh waktunya sebelum kemudian mendengus dan memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi. Bisa-bisa gajinya terus mengecil kalau Wonwoo terus menerus mengubah-ubah jadwalnya sesuka hati. Ya, meski si boss sebenarnya tidak terlalu pelit kalau masalah upah – tapi tetap saja jadi tidak enak hati.
Sedang berperang dengan pikirannya sendiri, Wonwoo dikejutkan dengan bayangan seseorang yang berjalan tepat di belakangnya. Wonwoo sebenarnya tidak usah menoleh, karena ia sudah tahu hanya dari cara langkahnya yang berisik.
"Teman-teman klub fotografi Sunbae sudah pulang, kenapa Sunbae masih di sini?"
Wonwoo mendelik kesal. Menatap Kim Mingyu, bocah pengganggu nomor satu yang menjabat sebagai perusak mood Wonwoo. "Teman-teman klub basket-mu juga sudah pulang semua, kenapa masih di sini? Merepotkan."
"Aahh, jadi selama ini Sunbae memperhatikan jadwal klub-ku juga? Aku jadi terharu."
Yeah, dan Wonwoo akan selalu menyesal setelah ia membuka mulutnya. Jadi Wonwoo memutuskan untuk tidak menggubris ocehan si pengganggu. Langkah kaki Wonwoo terlihat teratur, ia tidak terburu-buru tapi juga tidak terlalu lambat. Sementara tangannya kembali merogoh saku saat dirasa ada getaran dari ponselnya.
Mata rubahnya membaca dengan seksama siapa yang mengiriminya pesan. Dan ia mendengus saat nama 'boss' terpampang di layar.
"Boss? Siapa itu?"
Dan seharusnya Wonwoo ingat kalau di sebelahnya ada Kim–pengganggu–Mingyu.
"Tidak sopan mengintip ponsel orang lain – terlebih seniormu." Wonwoo mengatakannya dengan ketus tanpa berniat membalas tatapan si adik kelas. Matanya tetap fokus pada ponselnya dan jari-jarinya mulai aktif bergerak untuk mengetikkan balasan pada si pengirim pesan.
"Apakah selama ini kau bekerja paruh waktu?" Mingyu nampaknya tak mengindahkan peringatan Wonwoo sebelumnya dan malah menanyakan hal yang lebih privat.
Wonwoo mendengus. Segera menjejalkan ponselnya ke dalam saku sebelum melemparkan tatapan kesal pada Mingyu yang terlihat sama sekali tidak berdosa. "Apa kau pikir itu urusanmu?"
"Apa Sunbae sudah terlambat pergi bekerja sampai boss Sunbae mengirim pesan?" Pertanyaan lain untuk jawaban. "Aku dan motorku – kami bersedia mengantar Sunbae dengan senang hati."
"Ck," Wonwoo tak menggubris. Memilih mempercepat langkah untuk meninggalkan si pengganggu tapi anehnya diam saja ketika Mingyu menyamakan langkah dengannya lagi. "Apa kau benar-benar tak punya kegiatan bermanfaat?"
Mingyu tersenyum, "Menjagamu dan memastikanmu selamat sampai tujuan – itu kegiatan bermanfaat, 'kan?"
Wonwoo mendecih. "Berhenti bicara omong kosong."
"Itu bukan omong kosong."
Sebelah tangan Wonwoo terkepal sementara tangan yang lainnya meremas ponselnya dengan kuat. Satu lagi getaran tanda pesan masuk hingga fokusnya kembali ke layar ponselnya. "Pergilah, kau pengganggu."
"Tidak mau."
"Orang gila."
"Itu karena Sunbae."
"Pergi atau kupatahkan lehermu!"
"Tidak akan kubiarkan Wonwoo Sunbae yang manis berjalan sendirian."
Helaan nafas berikutnya Wonwoo keluarkan dengan sangat berat. Ia memejamkan mata dan entah sejak kapan ia sudah berkaca-kaca seperti itu. Langkahnya terhenti tiba-tiba dan buku-buku jarinya memutih saking erat kepalan tangannya.
"PERGI SAJA URUSI MASALAHMU SENDIRI, SIALAN!" Wonwoo berteriak lantang dalam satu tarikan nafas. Cukup mengejutkan sampai membuat si adik kelas melebarkan matanya dengan heran.
"Sunbae – "
"Aku muak melihatmu, sialan." Wonwoo berdesis di akhir. Bibirnya bergetar dan dadanya terasa sesak. Lalu ia menyingkirkan tubuh Mingyu yang sempat mematung sebelum melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Mengabaikan panggilan Mingyu di belakangnya, Wonwoo mempercepat langkahnya menjadi berlari. Berlari sekuat tenaga, berharap bahwa bumi akan menelannya saat ia sudah lelah nanti.
xxxxx
"Apa maksud pesan yang Paman kirimkan padaku?" Wonwoo bertanya tanpa basa-basi saat ia sampai di restoran tempatnya bekerja paruh waktu. Ditatapnya pemilik restoran yang beberapa menit yang lalu mengiriminya pesan ke ponselnya.
"Jeon Wonwoo-ssi.."
"Jelaskan saja padaku atau aku akan menghancurkan tempat ini." Wonwoo berdesis akibat emosinya yang belum teredam sempurna. Beruntung ia masih bisa menahan bentakan liarnya seperti yang ia lakukan pada Mingyu tadi.
Si pemilik restoran terlihat tercenung sejenak. Jelas sekali orang itu juga merasa bersalah. "Wonwoo-ssi, sebenarnya kau cukup kuandalkan untuk restoranku – kau tahu itu, 'kan? Tapi akhir-akhir ini, kulihat kau terlalu sibuk dengan sekolahmu," Paman pemilik restoran menjeda. Sedikit menatap Wonwoo dengan hati-hati, takut salah bicara dan melukai pegawainya. "Fokuslah pada belajarmu– "
"Tidak bisakah aku mendengar alasan yang lebih logis dari ini?" Wonwoo memotong. Kesabarannya sudah habis dan ia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak memberikan tatapan sengit pada boss-nya.
"Sebenarnya, ada seseorang yang melamar pekerjaan dan bersedia bekerja full time. Dan aku tidak mampu kalau harus membayarnya sekaligus membayarmu, Wonwoo-ssi. Jadi kumohon, mengertilah. Aku akan tetap berikan gajimu hari ini."
Rahang Wonwoo mengeras, matanya terpejam. Dan sejurus ia menyerah. Semua kemarahannya ia biarkan saja keluar dengan nafas yang berhembus dari hidungnya dengan kasar. Ia membuka mata dan memandang nanar pada Paman pemilik restoran.
"Nyatanya, aku akan selalu menjadi pihak yang harus mengerti." Wonwoo mengatakannya sambil menarik ujung bibirnya untuk tersenyum. "Ya, seharusnya aku cukup tahu diri kalau aku terlalu banyak menuntut dari Paman."
"Wonwoo-ssi, maafkan aku. Ini gaji terkahirmu." Paman pemilik restoran menyodorkan amplop pada Wonwoo. "Kau – pasti akan mendapatkan pekerjaan selanjutnya dengan cepat, kau adalah pegawai yang kompeten."
Wonwoo tersenyum getir. Menerima amplop pemberian dari Paman pemilik restoran dengan tawa sarkatis – untuk dirinya sendiri. "Aku tak akan dibuang kalau aku seberharga itu."
Kemudian Wonwoo berbalik. Meninggalkan restoran yang sudah menjadi ladang penghasilannya selama beberapa tahun terakhir. Membiarkan Paman pemilik restoran memanggil namanya beriringan dengan ucapan maaf yang terdengar memuakkan.
Wonwoo tahu, semua itu hanya alasan – dia bahkan bisa melihat selebaran lowongan kerja yang tertempel di depan pintu restoran – untuk menyingkirkan Wonwoo yang belakangan sering datang terlambat bekerja. Paman hanya sedang berusaha menjaga perasaannya – dan itu tidak berhasil.
Padahal bagi Wonwoo, lebih baik ia dimaki-maki dan diludahi oleh Paman pemilik restoran daripada diperlakukan seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Wonwoo benar-benar membenci semua orang yang memakai topeng untuk bertingkah di hadapannya.
Lebih tepatnya, Wonwoo membenci dirinya sendiri yang selalu mudah dibodohi. Mudah mempercayai dan akhirnya akan menjadi sakit hati.
GREP!
Wonwoo sedang menangis saat sebuah tangan menarik lengannya dan menghempaskannya ke dalam sebuah pelukan erat yang cukup asing. Ia terisak karena dadanya terasa sesak dan kepalanya terasa mendidih. Kedua tangannya terkepal kuat dan Wonwoo tak peduli kalau telapak tangannya harus hancur karena itu.
Tapi Wonwoo tidak cukup kaget saat merasakan sebuah suara yang bergaung di telinganya – tepatnya di bawah telinga, dekat ceruk lehernya – dan terasa familiar.
Wonwoo hanya perlu membiarkan tangan besar yang tadi menarik lengannya kini mengusap kepala dan punggungnya.
Wonwoo hanya perlu menumpahkan bebannya melalui air mata yang mulai membasahi bahu kokoh di hadapannya.
Wonwoo hanya perlu membutakan matanya, menulikan telinganya, dan melumpuhkan otaknya – memaksa dirinya untuk tidak menyadari bahwa orang yang memeluknya adalah Kim Mingyu – yang entah sejak kapan membuntutinya dan menungguinya seperti ini.
"Air matamu, kau tak membutuhkannya – jadi lepaskanlah semuanya."
xxxxx
"Sudah malam, kau tidak mau pulang, Hyung?"
Wonwoo berdecak. Melirik Mingyu yang duduk di sampingnya. Keduanya sedang terduduk di taman yang entah apa namanya – Wonwoo tadi tidak terlalu memperhatikan jalanan saat Mingyu membawanya kemari.
"Kenapa panggilanmu berubah?" Wonwoo menyipitkan matanya. Mengintimidasi Mingyu – dan selalu gagal.
"Itu akan membuat kita lebih akrab." Mingyu tersenyum lagi dan kali ini Wonwoo rasa ia mulai terbaisa melihat taring menjulur sebegitu menyeramkannya di wajah Mingyu.
Wonwoo mendengus – mengabaikan cengiran bodoh Mingyu. Kepalanya menunduk, memperhatikan motif kotak-kotak di celana seragamnya sendiri. Sambil sesekali kedua tangannya bergerak saling mengait di atas paha. Wonwoo hanya sedang merenungi apa yang terjadi hari ini.
"Apakah semuanya jadi lebih baik?" Mingyu tiba-tiba bertanya lagi.
Wonwoo tidak mendongak, pun tidak menjawab.
"Hyung, kalau kau memang merasa semuanya berat – aku siap jika kau mau berbagi bebanmu padaku. Ya, kalau kau keberatan menyebutku teman curhat, anggap saja aku tempat sampah." Mingyu kedengaran lebih serius dari biasanya. Dan Wonwoo tidak tahu kenapa ia malah mengangguk kecil alih-alih memaki si adik kelas seperti biasanya.
Mungkin efek karena dadanya yang sedang sesak atau kepalanya yang pusing – anggap saja begitu.
"Dan untuk permintaanmu tadi – "
"Permintaan apa?" Wonwoo menyela dengan ketus. Ia tidak ingat ia pernah meminta sesuatu pada bocah ingusan seperti –
"Agar aku pergi dan mengurusi urusanku sendiri."
– ah, yang itu.
"Itu perintah, bukan permintaan." Wonwoo mengoreksi sambil memperhatikan kedua kakinya yang bergoyang-goyang – dan Mingyu tersenyum simpul melihat itu.
"Baiklah – perintah." Mingyu ikut meralat. "Mungkin kau tidak sadar – tapi aku sedang melakukannya."
Wonwoo memicing, menatap Mingyu dengan pandangan tidak mengerti. "Kau hanya sedang berkeliaran di sekitarku, bocah. Berhenti bermain-main."
"Benar." Mingyu mengangguk. Matanya terlihat lebih lembut atau memang Wonwoo saja yang sedang mabuk malam ini? "Urusanku, sejak hari itu – saat kita pertama kali bertemu dalam jarak yang sangat dekat – kau, Jeon Wonwoo adalah urusanku."
Wonwoo jelas ingat kalau dirinya berjulukan si wajah datar di sekolah. Dan Wonwoo jelas ingat kalau Mingyu adalah boca pengganggu yang paling ingin Wonwoo musnahkan dari hidupnya.
Tapi Wonwoo tidak ingat kalau pipinya bisa memerah hanya karena kata-kata picisan seperti itu. Jadi apa yang Jihoon bilang di sekolah tentang pipinya tidak main-main?
xxxxx
"Woah, jadi kau tinggal di sini, Hyung?" Mingyu dan segala kehebohannya.
Wonwoo bahkan belum benar-benar melepas helm-nya saat Mingyu berseru sebegitu kerasnya di malam hari seperti ini. Dengan kasar Wonwoo menyerahkan helm Mingyu – yang tadi dipakainya – tanpa repot-repot mengucapkan terima kasih. "Pergilah."
Mingyu mengerucut. "Memangnya Hyung tidak mau kuantar sampai kamar?"
"Mati saja kau." Wonwoo mengatakannya dengan ekspresi datar. Seharusnya orang normal akan marah ketika dikatai seperti itu, tapi karena ini Mingyu, maka ia tertawa. "Idiot."
"Hyung!" Mingyu memanggil Wonwoo yang sudah hampir memasuki gedung apartemen sederhana – harganya murah dan benar-benar terlihat seperti gedung tua dibanding apartemen – yang menjadi tempatnya tinggal beberapa tahun belakangan.
Dan entah angin apa yang membuat Wonwoo menoleh dan membiarkan dirinya mendengarkan apa yang akan Mingyu katakan padanya.
"Jangan lupa bersihkan dirimu sebelum tidur dan jangan tidur terlalu larut." Mingyu hampir berteriak – padahal jaraknya dengan Wonwoo hanya beberapa kaki – dan Wonwoo mengurut pelipisnya untuk itu. "Jangan lupa juga mimpikan aku, ya?"
"Kau membuatku jadi tidak ingin tidur, sialan." Wonwoo memaki dan benar-benar meninggalkan Mingyu yang masih terbahak-bahak seperti pengidap penyakit berbahaya di atas motornya. Bahkan tawanya masih terdengar saat Wonwoo sudah tidak bisa melihatnya lagi.
Dan samar-samar Wonwoo mendengar teriakan memalukan Mingyu selanjutnya.
"Sampai jumpa besok boneka salju bertabur gula-kuuuu!"
Kali ini Wonwoo benar-benar menyesal telah membiarkan Mingyu pergi mengantarnya pulang.
Boneka salju apanya?
– dan bertabur gula?
Dia benar-benar punya gangguan jiwa.
xxxxx
Helaan nafas Wonwoo terdengar sangat berat pagi ini. Seolah mendapatkan bencana besar, Wonwoo sudah memasang wajah masam bahkan di awal harinya. Sebenarnya Wonwoo tidak terlalu kaget – karena dia sudah memprediksi kalau ini akan terjadi – tapi tidak secepat ini.
Hanya berjarak semalaman.
"Selamat pagi Wonwoo Hyung."
Kim Mingyu. 16 tahun. Cita-cita : arsitek.
"Pergilah, sialan. Kau merusak pagiku." Wonwoo berujar ketus. Tadinya ia tidak mau meladeni bocah kelebihan kalsium – dan kelebihan hormon ceria – itu.
Tapi Wonwoo seharusnya sudah hafal kalau Mingyu adalah bocah yang menyebalkan dan pantang menyerah.
"Lepaskan." Wonwoo baru saja akan melangkah melewati Mingyu yang masih bertengger di motornya. Tapi Wonwoo tidak ingat tangan Mingyu sepanjang itu sampai bisa meraih lengannya dan menahan langkahnya – tanpa bergeser sedikit pun dari motornya. "Kubilang lepaskan, sialan."
"Ayolah, kau tidak akan dikejar malaikat maut kalau hanya pergi ke sekolah bersamaku." Mingyu memasang senyuman manisnya – itu menurut Mingyu. Lalu menarik Wonwoo mendekat secara perlahan sebelum menepuk jok di belakangnya dengan satu tangannya yang lain. "Ini singgasanamu, Princess."
"Menggelikan." Wonwoo menyergah tangan Mingyu. Kembali berbalik dan mulai berjalan menjauh, tapi lagi-lagi Mingyu menahannya. Dan kali ini Wonwoo mendapati Mingyu sudah beranjak dari motornya.
Kepala Mingyu agak menunduk dan Wonwoo menyadari itu – serta memaki dalam hati, kenapa dirinya merasa sangat kecil saat berdampingan dengan si adik kelas – sehingga Wonwoo membalas tatapan bocah itu.
"Kenapa menatapku?"
"Sedang memandangi keindahan – apa salahnya?"
"Gila." Wonwoo melempar pandangannya ke depan. Tapi ia kembali menoleh ketika merasa tangan Mingyu yang tadi mencekalnya melepas lengannya untuk kemudian memposisikannya di genggaman tangan Wonwoo. Wonwoo mendongak, memberikan tatapan kesal pada Mingyu yang seenaknya menggenggam tangannya seperti itu.
"Kalau Wonwoo Hyung tidak mau naik motorku, ayo naik bus bersama-sama." Sebuah senyum simpul Mingyu berikan pada Wonwoo yang terdiam di tempatnya.
Mata Wonwoo terpaku pada mata Mingyu yang terlihat sangat tulus. Itu kelihatannya – dan Wonwoo tidak yakin dengan kenyataannya.
Sebenarnya Wonwoo hanya sedang menelaah orang yang sedang menggenggam tangannya saat ini – apakah dia benar bersungguh-sungguh memperlakukan Wonwoo seperti ini? Apakah Wonwoo harus menerima semua yang ia lakukan atau menolaknya dengan lebih keras lagi?
Wonwoo masih terdiam saat Mingyu mempererat genggaman tangannya. Dan sebelah tangan Mingyu tergerak untuk merapikan rambut Wonwoo yang tertiup angin. Secara refleks kedua mata Wonwoo terpejam. Menikmati sentuhan lembut Mingyu di puncak kepala dan telapak tangannya – itu terasa sangat hangat.
Tapi kemudian Wonwoo menarik tangannya. Melepaskan diri dari kehangatan yang Mingyu tawarkan. Wonwoo sempat menangkap raut kecewa Mingyu sebelum Wonwoo memutus kontak mereka. Lalu tanpa ragu Wonwoo kembali melangkah, meninggalkan Mingyu yang masih terdiam di tempatnya sambil memandangi punggung Wonwoo yang menjauh.
Dalam langkahnya, Wonwoo terus menekankan dalam dirinya – kalau ia harus mengenyahkan Mingyu dari hidupnya. Sekarang atau secepatnya.
Meski sebenarnya Wonwoo tidak mengerti kenapa Mingyu masih bertahan di sisinya meski Wonwoo memperlakukannya seburuk itu. Wonwoo bahkan kehabisan kata untuk memaki si bocah Kim itu.
Karena bagi Wonwoo hanya ada dua pilihan untuk saat ini. Dan itu adalah pilihan sulit yang belum Wonwoo tentukan, ia akan memilih yang mana.
Menyakiti Mingyu terus menerus saat ini agar dia menyerah.
Atau –
– membiarkan Mingyu masuk ke dunianya dan membiarkan dirinya menyakiti Mingyu lebih banyak di kemudian hari.
TO BE CONTINUED
PS(s)
Ini terabsurd kayaknya :v
Untuk part Meanie akan berpusat pada kebimbangan hati Wonwoo (sebenarnya yang 2min dan Kaisoo juga tentang kebimbangan para uke :v ) jadi siap-siap dibuat sebel sama kelabilan Wonwoo untuk ke depannya :v
Ada cuplikan dari kekonyolan di OFD yang aku sadur di sini :v iya yang itu "mimpikan aku" "aku jadi gamau tidur" wkwk :v aku emang receh, tapi sampe sekarang aku ngakak tiap nonton itu :v
Minho nongol dikit, pun Kyungsoo, tapi Jongin dan Taemin hilang di sini :v
Gimana pun, uke itu tetep cowok gaes. Aku suka sebel liat karakter uke yang menye-menye gitu, tapi kenapa aku malah bikin yang kayak gitu? :v
Oke, ini PS isinya emot (:v) semua :v
Next chap adalah 2MIN. Latar waktu tetap melanjutkan dari chap Meanie yang ini, sama seperti chap ini yang ngelanjutin latar waktunya chap KaiSoo kemarin. Kecuali kalau akan butuh flashback kaya di chapter KaiSoo kemarin dan di chapter ini.
Jangan lupa review guys!
Love, Arilalee
