The Third Fic from Our Promise.
Inspired from Rinto and Lenka's song, Yakusoku no Hana.
Disarankan untuk membaca sambil mendengar lagu ini dan lagu lainnya yang berjudul Darling.
Dikarenakan author yang lagi demam bikin fic, jadi idenya banyak (.^w^.)
Tapi, kemarin nggak bisa ngeupdate gara-gara ketiduran, gomen.
Hope you'll enjoy it!
Disclaimer : Yamaha Music Production
oOo
How can you Forget about that Promise?
Lenka melangkah dengan cepat, tak menghiraukan panggilan Gumi dan Gumiya yang mengikutinya dari belakang. Ia mendekap buku pelajarannya erat. Dadanya terasa sesak. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga.
Dalam pikirannya masih terekam dengan jelas kejadian yang barusan ia alami. Dan tentu saja, hal itu sangat membuatnya shock.
oOo
(Flashback)
Lenka menatap Rinto dengan pandangan terkejut. Ia sama sekali tak menyangka akan langsung bertemu dengan anak lelaki yang membuat janji dengannya dulu. Rasanya Lenka ingin mendekapnya saat itu juga, mengatakan kalau ia sudah sangat rindu dengannya. Akan tetapi, akal sehat Lenka mencegahnya untuk berbuat itu.
"Hei, kau tak apa-apa?" ujar Rinto dan itu membuat Lenka tersadar dari keterkejutannya. Lenka segera bangkit dan merapikan buku-bukunya, tanpa menghiraukan sodoran tangan Rinto. Tentu saja hal ini membuat Rinto agak kaget.
"Aku tak apa-apa. Terimakasih banyak," ujar Lenka dan tersenyum pada Rinto. Rinto membalasnya dengan anggukan.
Mereka berdua terdiam. Walaupun hanya sebentar, tapi bagi Lenka itu sudah terasa seperti berjam-jam lamanya. Lenka merasa kalau jantungnya berdegup kencang. Ia sangat gugup, tak tahu apa yang harus dikatakan kepada Rinto. Banyak hal yang ingin diungkapkannya. Misalnya, "kenapa kau tidak mengabariku selama ini" atau "sejak kapan kau pindah kemari?".
Akan tetapi, ketika Lenka baru saja berniat untuk bertanya, Rinto berjalan dengan cuek melewatinya. Lenka terdiam kaget. Dan tanpa bisa dicegahnya, ia berbalik dan meraih lengan Rinto untuk menghentikannya. Rinto pun berpaling dan menunjukkan tatapan bertanya.
"A-ano..." Lenka merasa suaranya sangat seperti seekor burung yang ketakutan, dan dari suaranya pun terdengar jelas kalau ia gugup.
"Ya?"
"Ano... apakah... kita pernah bertemu sebelumnya?" ucap Lenka tanpa sadar.
Dalam hati Lenka memaki-maki dirinya sendiri, 'Kenapa aku malah menanyakan hal tidak jelas seperti itu? Bukankah sudah jelas kalau kami pernah bertemu?! Dasar aku bodoh, bodoh, bodoh!'. Akan tetapi, jawaban dari Rinto membuat pikiran Lenka terhenti dan langsung menatap Rinto dengan shock.
"Maaf, aku tidak ingat apa kita pernah bertemu sebelumnya," jawab Rinto datar.
"Eh?"
"Maaf, karena aku masih baru disini, aku tak tahu apa kita pernah bertemu sebelumnya," lanjut Rinto tanpa menyadari perubahan raut wajah Lenka.
"J-jadi... kau tidak ingat siapa aku... dan kau lupa dengan janji itu...?" ucap Lenka dengan suara bergetar.
"Janji? Janji apa?" tanya Rinto bingung. Dan jawaban itu makin membuat Lenka membeku.
Rasanya saat itu Lenka ingin berlari dan menangis keras-keras. Bagaimana bisa Rinto melupakan janji yang mereka buat saat kecil...? Padahal Lenka sangat mengingatnya, karena itu adalah janji yang sangat penting untuknya. Akan tetapi, Lenka justru mengatakan hal yang sama sekali tak terpikir di benaknya.
"Ah... maaf kalau begitu. Kelihatannya... aku salah orang. Permisi,"
Lenka langsung pergi meninggalkan Rinto dengan hati yang sangat pedih. Dan dibelakangnya, Rinto hanya bisa menatap kepergian Lenka dengan perasaan bingung.
oOo
Rinto sama sekali tak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran berikutnya. Ia masih mengingat wajah shock yang ditujukan kepadanya barusan. Dan entah kenapa, saat melihat wajah kecewa milik gadis itu, ada sesuatu yang aneh terjadi pada diri Rinto. Entah kenapa ia... merasa bersalah?
Aneh. Padahal ia sama sekali tidak ingat apapun tentang gadis itu. Tapi entah kenapa, otaknya seperti mengatakan ada sesuatu yang terlupa olehnya, dan itu membuat kepalanya menjadi sakit.
"Rinto dan Rin, bisa bantu aku sebentar?" tanya Gakupo-sensei.
Rinto segera bangkit da menghampiri Gakupo-sensei yang diikuti oleh Rin. Gakupo-sensei menunjuk pada satu arah, dan hal yang menanti di sana benar-benar bukan hal yang menyenangkan. Di hadapan mereka, tumpukan kertas yang lumayan tinggi menanti. Rinto mendengus pelan.
"Nah, kalian berdua, tolong bawakan ini ke ruang guru, ya. Aku tak bisa mengangkatnya sendiri, jadi aku perlu bantuan kalian berdua," ujar Gakupo-sensei lalu membagi tumpukan itu menjadi tiga bagian. Terdengar helaan napas lega dari Rin.
"Nah, aku akan bawa tumpukan yang ini, sedangkan kalian tolong bawakan dua tumpukan sisanya. Tolong, ya!" kata Gakupo-sensei dan diikuti anggukan Rinto dan Rin.
Rinto segera mengangkat bagiannya dan melangkah keluar ruangan, mengikuti Gakupo-sensei. Rin buru-buru mengejarnya sambil membawa tumpukan kertas yang lumayan berat itu. Rinto melirik Rin sekilas dan berhenti, menunggu Rin yang terlihat kerepotan membawa tumpukan kertas itu.
"Ahaha... maaf, aku lama, ya?" tanya Rin sambil berusaha menyembunyikan kelelahannya karena membawa tumpukan kertas yang lumayan berat itu. Dan tanpa disangkanya, Rinto mengambil sebagian dari tumpukan kertas yang dibawanya.
"Rinto, aku tak apa-apa, kok," ujar Rin, merasa bersalah.
"Yang begini serahkan saja pada cowok. Sekarang terasa ringan , kan?" sahut Rinto datar. Rin terdiam sebentar, dan tersenyum.
"Terimakasih, Rinto. Kau baik sekali," kata Rin, dan itu membuat wajah Rinto hampir seperti kepiting rebus kalau Rinto tidak segera menetralkan akal sehatnya.
"...Sama-sama," jawab Rinto dan balas tersenyum.
oOo
Rinto merasa hari ini sekolah terasa sangat lama selesai. Dan lagi, saat ia baru pertama kali masuk sekolah barunya, sudah banyak hal terjadi dalam satu hari. Rinto mengingat-ingat kejadian-kejadian yang terjadi dalam satu hari ini. Saat ia pertama kali bertemu dengan Rin.
Saat ia pertama kali mengobrol akrab dengan seorang senpai. Saat ia pertama kali merasakan debaran jantungnya yang terasa aneh saat bertemu dengan Rin. Saat ia kesal dengan Len. Dan saat ia pertama kali menyadari kalau ia menyukai Rin.
Ah, ada sesuatu yang terlupa. Gadis itu. Gadis berambut pirang yang diikat ekor kuda. Entah kenapa, sampai selesai sekolah pun ia masih memikirkan gadis itu. Apa ia baik-baik saja? Wajahnya saat itu terlihat sangat shock. Memangnya siapa dia? Kenapa dia bersikap seperti mengenalnya sejak dulu? Dan... janji apa yang disebut-sebut olehnya?
"Rinto, jangan melamun!" seru Rin dan itu membuat Rinto tersadar.
"Ah, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu..." ujar Rinto dan mengalihkan pandangannya kepada Len. Entah kenapa, wajah Len seperti kesal saat melihatnya. Dengan penasaran, Rinto mendekati Len.
"Kau kenapa, Len? Kelihatannya kau terlihat kesal saat melihatku," tanya Rinto. Raut wajah Len langsung berubah dan ia memalingkan wajahnya. Rin tertawa kecil dan itu disadari oleh Rinto.
"Rin, apa kau tahu kenapa ia kesal padaku?" tanya Rinto penasaran.
"Ah, itu karena ia iri dengan tinggimu, Rinto," jawab Rin dan langsung disambut pandangan menusuk dari Len.
"Tinggi...?" Rinto berpaling ke Len dan menatapnya sebentar. Yang ditatap langsung memberinya tatapan membunuh.
Rinto mengangguk-angguk tanda mengerti dan dari wajahnya sudah terlihat jelas kalau Rinto sedang menahan tawanya. Len yang menyadari itu langsung memerah dan bergegas menghampiri Rin.
"Dasar bodoh! Kenapa kau bilang?!" seru Len dengan wajah yang masih merah padam.
"Maaf, maaf. Habis kau lucu, sih," jawab Rin sambil berusaha menahan tawanya juga.
"Cih!" Len langsung melayangkan sebuah "sentilan" ke dahi Rin dan tentu saja Rin langsung mengaduh.
"Apa yang kau lakukan, Len?! Sakit, tahu!" sungut Rin sambil memegangi dahinya.
"Itu hukuman!" jawab Len dan melipat tangannya di depan dada, tanda ia sedang "ngambek".
"Waa... maaf, maaf! Nanti aku traktir, deh!" seru Rin, berusaha meredakan suasana hati Len.
Mereka sama sekali tak menyadari tatapan Rinto. Walaupun raut wajah Rinto tetap datar, tapi hatinya terasa panas. Ia kesal. Ia tak bisa masuk ke dalam "lingkaran" yang dibuat oleh mereka. Sangat terlihat jelas kalau mereka sangat akrab dengan satu sama lain. Bagi seorang pendatang seperti Rinto ini, sudah bisa dipastikan kalau ia tak pernah bisa memasuki lingkaran yang sudah lama mereka ciptakan itu.
Rinto bangkit dari duduknya dan meraih tasnya. Ia harus segera pergi dari sini sebelum emosinya memuncak lagi seperti tadi. Rinto berjalan menuju pintu kelas. Dan tanpa disangka-sangkanya, di depan pintu kelas berdiri sebuah wajah yang sudah dihapalnya.
Gadis yang tadi bertabrakan dengannya.
oOo
Lenka sama sekali tak berpikir kalau ia akan bertemu dengan Rinto lagi. Dan ia juga tak mengharapkannya, karena masih sedih dan kecewa atas kejadian yang tadi. Akan tetapi, entah kenapa Tuhan berkehendak lain. Dihadapannya sekarang, berdirilah sosok Rinto, yang juga menatapnya dengan pandangan kaget.
Mereka berdiri dalam diam, tak tahu harus berkata apa. Mereka sama-sama membeku di tempat mereka berdiri, dan sama-sama menampakkan wajah kaget. Kalau ada orang yang melihat mereka, tentu saja orang itu akan menganggap mereka terlihat aneh. Dan orang itu adalah Gumi dan Gumiya, yang kebetulan lewat.
"Heeii... kalian berdua kenapa?" tanya Gumi dan langsung membuat Rinto dan Lenka tersadar.
Lenka langsung menunduk dan Rinto langsung memalingkan wajahnya. Dan lagi-lagi, tentu saja tingkah mereka berdua ini membuat Gumi dan Gumiya semakin bingung.
"Hei, kau kenapa? Kau kenal dengannya?" tanya Gumiya. Lenka tak menjawab, masih dengan kepala yang tertunduk.
Dan mereka berempat dikagetkan oleh sebuah seruan khas. Dan seruan itu berasal dari Len dan Rin yang berlari menuju mereka.
"Aaah... Lenka! Sudah lama sekali kau tak berkunjung ke kelas kami!" seru Rin dan Len kompak. Rinto yang mendengarnya langsung menoleh.
"Kalian berdua kenal dengannya?" tanya Rinto kaget.
"Tentu saja. Di sekolah ini, kami dijuluki Trio Kagamine, karena marga kami semua sama!" jawab Rin dan langsung merangkul Len dan Lenka bersamaan.
"Sama? Kanjinya juga?" tanya Rinto masih dengan raut wajah yang kaget.
"Iya! Nah, perkenalkan, Rinto. Dia Kagamine Lenka, dari kelas 1-2! Nah, perkenalkan juga, Lenka. Dia Kagamine Rinto, murid yang baru masuk hari ini!" seru Rin bersemangat.
"Oh ya, marga Rinto juga sama, kan? Berarti kalian jadi Four Kagamine, dong!" kata Gumi.
"Benar juga! Baiklah, mulai hari ini julukan kita menjadi Four Kagamine?! Bagaimana menurut kalian berdua?" tanya Rin.
Akan tetapi, Rinto dan Lenka masih terdiam mematung. Lenka sama sekali tak pernah berpikir kalau Rinto dekat dengan Rin, yang merupakan salah satu teman terdekatnya. Sedangkan Rinto, ia merasa mengenal nama itu.
Kagamine Lenka. Rinto merasa pernah mengenal nama itu. Akan tetapi, setiap kali ia berusaha mengingatnya, ia merasa kepalanya sakit. Siapa gadis ini sebenarnya...?
Awal musim gugur dan juga hari pertamanya pindah ke sekolah itu, kejadian-kejadian yang sama sekali tak pernah disangka Rinto mulai terjadi. Dan juga... siapa sebenarnya gadis yang bernama Lenka ini...? Kenapa ia merasa pernah mengenalnya?
oOo
To be Continued
Akhirnya selesai, yuhuu...
Chapter 3 nih. Semoga bisa terus lancar sampe selesai!
Kalo ada typo mohon maaf yah. Juga kalo ada kesalahan-kesalahan!
Sampai ketemu di chapter 4!
