Preview~

"Ahh~"

Sial! Kyungsoo mendesah saat tangan kiri Sehun turun dan berada pada pinggangnya, memberikan tekanan yang pas untuk menambah kenikmatan. Menarik tubuh bagian bawahnya untuk semakin mendekat hingga tanpa sengaja bagian tubuh mereka tersentuh.

Suasana sangat romantis dan intim hingga Kyungsoo mulai membuka bibirnya dan mengangkat kedua tangannya kearah pundak Sehun tanpa melakukan kegiatan hanya diam dan mencoba mengatakan bahwa kuluman Sehun pada lidahnya sangat nikmat dan sensual.

Keduanya seperti kerasukan, menghisap lidah dan kedua bibir pasangannya dengan posesif dan bersemangat seakan tidak ada lagi untuk hari esok. Mendesah beberapa kali saat gairah mengambil alih fungsi tubuh. Seakan sekedar ciuman erotis tidak mampu meredamkan gairah panas dalam diri mereka.


.

=O=

.

Memang sudah semestinya bahwa seorang gadis akan berlama-lama di depan cermin. Mempersiapkan diri sebelum melakukan aktivitas. Mulai dari merias diri agar terlihat cantik, memilih baju dari ratusan pakaian yang ada dilemari agar terlihat menarik, serta memilih aksesoris untuk menambah kepercayaan diri. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk seorang gadis melakukan itu semua.

Dan itulah yang Kyungsoo lakukan. Sudah satu jam yang lalu gadis cantik bermata belo ini duduk manis di depan meja riasnya. Bukan untuk memoleskan make up pada wajahnya yang memang terlahir dengan kecantikan bidadari, bukan juga memilih baju dari sekian ratus pakaian yang dimiliki karena ia lebih memilih dress sederhana yang nyaman ia gunakan lagipula hanya terdapat beberapa lembar pakaian di lemarinya -tidak sampai ratusan, dan bukan pula memilih berbagai aksesoris yang akan ditempelkan ditubuh mungilnya karena ia hanya memakai jam tangan putih di pergelangan tangan kirinya. Meski hanya hal sederhana yang ada di tubuhnya sudah membuat Kyungsoo terlihat luar biasa. Lalu apa yang membuat gadis itu berlama-lama di depan cermin, padahal sebelumnya ia hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk melakukan semuanya.

"Tidak. Aku harus berangkat hari ini!" Kyungsoo berucap untuk dirinya sendiri. Menyakinkan diri bahwa ia memang harus berangkat hari ini, karena setelah kejadian malam itu ia membolos kuliah keesokan harinya.

Tidak berangkat kuliah tiba-tiba padahal ia adalah mahasiswa yang rajin, tidak memberi kabar pada Baekhyun yang merupakan sahabat baiknya, mematikan ponsel seharian dan baru menghidupkan benda itu pagi tadi membuat ratusan pesan dan telpon tidak terjawab membanjiri milikinya.

Mulai telpon dan pesan dari Kris yang meminta maaf dan ratusan kalimat untuk bertemu dan menjelaskan semuanya. Ugh... bila ingat laki-laki itu membuat dada Kyungsoo sedikit sesak. Lalu ada Baekhyun yang memenuhi kontak masuk serta recent panggilannya yang semua isi pesannya menyakan kabar Kyungsoo, apa ia baik-baik saja, kenapa tidak masuk kuliah, kenapa tidak membalas dan mengangkat telponnya, kenapa ponselnya mati dan banyak lagi. Kyungsoo hanya tersenyum saat melihat semua pesan Baekhyun, gadis sipit itu benar-benar terlihat manis bila seperti ini.

Dan yang terakhir...

Salah satu alasan kenapa ia membolos kemarin. Yang membuat Kyungsoo menutup wajahnya. Yang membuat wajahnya merah layaknya kepiting rebus. Yang membuat Kyungsoo tidak ingin mengingatnya tapi terus teringat sejak kemarin. Yang membuat Kyungsoo berdebar. Yang membuat Kyungsoo mual. Yang membuat Kyungsoo merasakan ribuan kupu-kupu diperutnya. Yang membuat Kyungsoo... asdfghjk!

Bagaimana bila nanti mereka bertemu. Bertatap muka satu sama lain. Memandang kelereng hitam di manik masing-masing. Bagaimana bila rasa itu datang lagi. Bagaimana bila Kyungsoo tidak dapat meengendalikan debarannya. Bagaimana bila Kyungsoo terus memanas diseluruh tubuhnya. Bagaimana bila Kyungsoo... astaga! Ia bisa gila bila terus duduk diam di depan cermin. Bahkan sekarang kejadian romantis di depan mobil itu terlihat jelas di matanya. Sial, Kyungsoo malu sekali sekarang.

.


.

Setelah menambah beberapa belas menit untuk berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk berangkat saja hari ini. Tidak mungkin ia akan terus bersembunyi di rumahnya selamanya. Ughh...

Dia sengaja berangkat lebih lama dari waktu biasanya, bila sebelumnya Kyungsoo bisa menunggu kelas dimulai satu jam sebelumnya tapi hari ini ia sengaja berangkat 10 menit sebelum kelasnya dimulai. Entahlah, rasanya hari ini ia merasa bukan seperti Kyungsoo yang biasanya.

"KYUNGSOO!"

Kyungsoo melihat Baekhyun berlari dari ujung lorong yang berlawanan dari tempatnya. Pasti gadis itu akan bertanya macam-macam. Baekhyun kan cerewet sekali, rasa penasarannya juga menyeramkan. Ia akan menginterogasi korbannya dengan sangat mendalam, bahkan polisi pun kalah saing dengannya. Sebelum gadis itu benar-benar mendekat Kyungsoo sudah menghela napas, mempersiapkan diri. Ingin melarikan diri juga percuma, itu hanya membuatnya terlihat bodoh.

"YACK! Kenapa kemarin tidak berangkat? Kenapa tidak mengabariku? Kenapa ponselmu mati? Apa terjadi sesuatu? Kyungsoo, kenapa kau diam saja?"

See? Rentetan pertanyaan tadi diucapkan tanpa mengambil napas kedua. Benar-benar hebat sahabat cantiknya ini.

"Sejak kemarin Kris juga selalu menanyakanmu, apa yang terjadi?" Baekhyun masih menunggu jawaban Kyungsoo, tapi melihat gadis itu masih tetap diam membuatnya ragu. Apa Kyungsoo baik-baik saja. Kris tidak pernah menyakan gadis ini padanya. "Kau baik-baik saja, Soo?"

Suara Baekhyun melembut, terdengar khawatir ditelinganya. Kyungsoo jadi tidak tega melihatnya, kemudian ia tersenyum sebelum menjawab. "Aku baik-baik saja, Baek. Kemarin hanya... kelelahan." Kyungsoo tidak yakin dengan alasan yang dia berikan dapat membuat Baekhyun percaya, tapi hanya itu yang saat ini terlintas. Semoga sahabatnya ini tidak bertanya lebih jauh, setidaknya bukan sekarang. Lalu Kyungsoo nyengir dan menarik lengan Baekhyun menuju kelas, sebelum gadis yang mengaku memiliki pacar diluar negeri ini bertanya semakin jauh.

"Hei! Hei! Lepaskan aku, jawab dulu pertanyaanku, Soo."

"Iya, nanti akan aku ceritakan. Sekarang kita ke kelas, aku dengar Mark sonsaengnim akan memulai kelasnya lebih cepat".

.


.

Baekhyun masih menatap Kyungsoo dengan pandangan heran. Sejak di kelas tadi ponsel sahabatnya tidak mau diam, meski sudah diubah dalam mode getar tetap saja menganggu. Sampai sekarang pun ponsel itu terus bergetar tanpa henti. Ia menghiraukan Kyungsoo yang masih sibuk dengan curry ramnyunnya dan melirik ID si penelpon. Masih sama dengan si penelpon yang sejak tadi mengganggu perkuliahan mereka.

Kris!

Sejak kapan Kyungsoo mengacuhkan panggilan Kris. Bahkan gadis itu saja tidak percaya bila kekasihnya selingkuh meski bibir tipis Baekhyun sampai berbusa memberitahunya.

"Soo, ponselmu bunyi." Baekhyun coba memberitahu, mungkin saja Kyungsoo tidak sadar sejak tadi ada yang menelpon, meski itu mustahil karena getaran benda itu sungguh mengganggu. Baekhyun mendengar gumaman, tapi Kyungsoo tidak juga bergerak. "Ada telpon... dari Kris," barulah Kyungsoo berhenti makan.

"Hmm, aku tahu."

"Kau tahu? Dan tidak mengangkatnya?" jelas sekali ada rasa tidak percaya dari pertanyaan Baekhyun. "Kau sengaja mengacuhkan panggilan dari Kris? Uwaahh..." Baekhyun berdecak kagum, tertawa sebentar untuk selebrasi. Sangat tidak mungkin seorang Kyungsoo mengabaikan telpon dari Kris, sedangkan dia yang sampai lelah menjelaskan bahwa Kris itu tukang selingkuh saja tidak di dengar. "Oke, pasti sesuatu sedang terjadi sekarang. Alasanmu membolos kemarin bukan karena kelelahan kan, Soo?" Baekhyun menyingkirkan sedikit piringnya.

"Aku memang kelelahan Baek."

"Lalu kenapa kau mematikan ponselmu?"

"Aku hanya tidak mau diganggu. Maaf karena tidak membalas pesanmu."

Baekhyun sebenarnya marah karena belasan pesan yang ia kirim tidak mendapat balasan dari Kyungsoo, tapi sekarang ia tidak mempedulikannya. "Lalu kenapa kau tidak mengangkat telpon Kris? Terjadi sesuatu diantara kalian?" Kyungsoo tidak mau memandang Baekhyun, membuat gadis bermarga Byun itu geram. "Sekarang kau bermain rahasia denganku?"

"Tidak Baek, bukan begitu. Hanya saja... " Kyungsoo melihat Baekhyun menyilangkan kedua tangan di atas meja. Ekspresinya seakan menvatakan -jawab-aku-dan-jangan-beralasan-lagi-. Kyungsoo menghela napasnya, luluh dengan tatapan menyeramkan Baekhyun. "Baiklah, aku akan bercerita. Tidak ada rahasia diantara."

"Bagus! Memang begitu seharusnya."

Kyungsoo berpikir sejenak untuk memulai ceritanya, memilih runtutan cerita yang akan dia ceritakan pada Baekhyun.

"Aku pergi ke bar dua hari yang lalu—"

"Kau pergi ke bar?!" Baekhyun memekik.

"Sehun mengajakku kesana".

"Sehun? Oh Sehun? Dia mengajakmu pergi ke bar?!"

Kyungsoo sudah memperkirakan reaksi Baekhyun akan seheboh ini, ia juga melihat rasa tidak suka saat mendengar Sehun yang telah mengajaknya ke tempat yang seperti itu. Tempat terkutuk menurut Baekhyun, karena ia hampir kehilangan keperawanannya disana. Sebelum Baekhyun bertanya, Kyungsoo memutuskan untuk melanjutkan ceritanya. "Aku melihat Kris disana, bersama seorang wanita." Lirih Kyungsoo yang menundukkan kepala.

Tidak perlu diperjelas, apa yang telah dilakukan Kris karena melihat sikap Kyungsoo yang langsung terlihat menyedihkan, pasti tidak jauh dari soal selangkangan Kris dan payudara wanita itu. Lagi pula selain bercumbu apa yang akan dilakukan seorang laki-laki dan seorang wanita di tempat gelap penuh alkohol dan birahi yang tidak terkontrol seperti itu.

"Lalu, apa yang kau lakukan?"

Kyungsoo mendongak. "Aku hanya mengatakan bahwa aku mengerti."

"Apa?!" Kaget Baekhyun. "Hanya itu?" Kyungsoo mengangangguk dan Baekhyun menghela napas lelah. "Astaga Soo, kau hanya bilang bahwa kau mengerti sedangkan seharusnya kau bisa memukul Kris hingga dia mati atau menarik rambut wanita yang bersamanya hingga botak. Tapi, kau hanya bilang kau mengerti?!" geram Baekhyun, merasa Kyungsoo ini bodoh atau apa.

"Aku tidak dapat berpikir apa pun saat itu Baek, tubuhku mati rasa."

Ternyata garis antara baik hati dan bodoh itu sangat tipis dan Baekhyun memakluminya, sahabat baiknya ini memang orang yang tidak tegaan. Dia mengerti, sangat mengerti.

Baekhyun mengusap pundak Kyungsoo yang bersebrangan dengannya. "Soo, aku tahu ini menyakitkan tapi aku juga senang akhirnya kau melihat sendiri kebrengsekan Kris. Jadi, sudah ya jangan menangis lagi."

Kyungsoo terbelalak, kaget sekaligus bingung. "Kau senang melihatku seperti ini?" Agak sedikit tersinggung mendengar perkataan Baekhyun, kenapa gadis itu malah senang melihatnya menyedihkan seperti ini.

Baekhyun tersenyum manis, mengerti ketersinggungan Kyungsoo. "Aku senang akhirnya kau melihat siapa sebenarnya Kris dan tidak dibodohi laki-laki brengsek itu lagi." Sahut Baekhyun menggedikkan bahu dan tertawa.

Kyungsoo mencibir, sedikit membenarkan perkataan Baekhyun meski kadang perkataannya terlalu frontal tapi dia sahabat yang sangat baik. "Ck, kau memang sahabat yang luar biasa." Lalu keduanya tertawa bersama.

"Astaga Soo, tidak bisakah kau mengangkatnya?! Ini benar-benar mengganggu!" tunjuk Baekhyun pada ponsel Kyungsoo yang memang sejak tadi terus bergetar di sela curhatan mereka.

"Aku bingung akan mengatakan apa Baek."

"Katakan saja untuk jangan menganggumu lagi." Saran Baekhyun cuek.

"Tapi belum ada kata putus antara aku dan Kris".

Baekhyun menggebrak meja tiba-tiba, membuat seisi kantin melihat ke tempat mereka dengan kaget termasuk Kyungsoo yang duduk di depannya. "Astaga Soo, kau ini memang bodoh atau apa sih? Kau masih ingin mempertahankan hubungan bodoh ini padahal kau sudah melihat sendiri saat dia selingkuh?" Kyungsoo semakin tertunduk mendengar perkataan Baekhyun. Ia hanya tidak tahu harus mengatakan apa saat mengangkat telpon Kris. "Sekarang angkat telponnya dan katakan bahwa hubungan kalian sudah berakhir dan suruh jangan menganggumu lagi."

"Tapi Baek—"

Sret!

"Yaa! Brengsek, kau itu bodoh atau tuli. Bukankah aku sudah bilang jangan pernah menganggu Kyungsoo atau aku akan membuat hidupmu hancur, hah? Mulai detik ini, hubungan kalian berakhir, sampai aku mendengar bahwa kau masih menghubungi Kyungsoo lagi, aku benar-benar tidak akan tinggal diam. Kau mengerti brengsek?!"

Sambungan telpon itu berakhir. Kyungsoo dan Baekhyun masih sama-sama terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Serentetan kalimat barusan adalah milik Sehun. Laki-laki itu datang tidak tahu dari mana dan dengan lancang mengangkat panggilan untuk Kyungsoo, mengucapkan serentetan ancaman barusan.

Jantung Kyungsoo berdetak lebih cepat.

Kejadian malam itu teringat lagi.

Dimana ia dan Sehun saling melum...

Kyungsoo mengalihkan tatapannya menunduk lagi, rasa malu untuk bertemu Sehun masih terlalu besar. Rasanya ia ingin ditelan bumi sekarang juga atau berharap ada sekumpulan banteng yang menabraknya hingga pingsan atau apapun itu yang menbuatnya tidak perlu menyapa Oh Se—

"Hai, Soo!"

—hun.

"Oh Sehun!" Itu suara Baekhyun.

"Maaf mengangkat telponmu lancang, tapi tangan dan mulutku sudah gatal rasanya." Jelas Sehun nyengir.

"Mulutku gatal" Kyungsoo menggeleng keras dalam dirinya, astaga bagaimana bisa kalimat itu memiliki arti berbeda dalam pikiran Kyungsoo.

"Tidak apa-apa, itu benar-benar membantu. Kalau tidak kau angkat aku tidak yakin gadis bodoh ini akan tega berkata seperti itu pada Kris." Sahut Baekhyun. "Iya kan, Soo?"

"Eoh? I-iya, tidak apa-apa. Terima kasih." Kyungsoo berharap suaranya tidak terdengar aneh ditelinga Sehun juga Baekhyun. Ia belum siap untuk menjawab pertanyaan Baekhyun bila gadis itu menyadari bahwa sebenarnya ia sedang gugup sekarang.

Sehun mengambil duduk tepat di sebelah Kyungsoo, tanpa menyadari jantung gadis itu berdetak semakin cepat seakan mau meledak. Kyungsoo berkeringat. Tidak tahu harus melakukan apa.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun berbunyi. "Ada apa Baek?" Kyungsoo bertanya saat melihat ekspresi malas di wajah Baekhyun.

"Kelas managemen pembangunan dimulai 10 menit lagi." Managemen pembangunan adalah salah satu mata kuliah yang diambil terpisah oleh Baekhyun dan Kyungsoo.

"Bukankah seharusnya hari rabu besok?"

"Entahlah, Jackson bilang Prof. Lee ada urusan hari itu jadi dimajukan hari ini. Sial, aku malas sekali kalau begini."

Kyungsoo sudah hapal kebiasaan Baekhyun, gadis itu memang paling malas dengan dosen-dosen yang mengganti jam kuliah mereka seenaknya sedangkan bila mahasiswanya telat sedikit bisa dapat hukuman.

"Dasar pemalas!" Suara Sehun menyahut dari sebelah Kyungsoo

Baekhyun mengangkat tinju melakukan gerakan seakan memukul Sehun dan dibalas oleh laki-laki itu dengan wajah datar dan menyebalkan.

Kyungsoo terkekeh melihatnya. "Sudah sana masuk, nanti kalau ada tugas kau salin saja punyaku. tinggal edit sana-sini dan kumpulkan." Kyungsoo memang sudah mengambil makul ini semester kemarin dengan dosen yang sama jadi kemungkinan tugas yang akan diberikan akan sama jenisnya.

"Uh, kau memang sahabat terbaikku Soo. Aku menyayangimu, mumumu~" Baekhyun memonyongkan bibirnya memberi ciuman jarak jauh.

"Jadi wanita itu seperti Kyungsoo, sudah cantik, baik, rajin pula. Memang tipe gadis idaman cocok untuk dijadikan calon istri, tidak sepertimu yang pemalas manja juga. Bagaimana bisa kekasihmu masih bertahan dengan gadis sepertimu, eoh?"

"Tentu saja bisa, karena dia sangat mencintaiku." Bangga Baekhyun menjulurkan lidahnya. "Kau ini ya awas, suka sekali menghinaku. Dasar Oh-Menyebalkan-Sehun!"

"Sudahlah Baek, kau bilang kelasmu dimulai 10 menit lagi lebih baik sekarang kau berangkat jangan meladeninya," Kyungsoo menghalangi Baekhyun yang berniat bangun dari duduknya untuk menghampiri Sehun dan memukul kepalanya.

"Haahh, kau benar Soo. Kalau begitu aku pergi dulu." Baekhyun melangkah menjauh dan meninggal Kyungsoo dengan Sehun berdua. Hanya berdua.

Hening menyelimuti mereka. Kyungsoo kembali menunduk berpura-pura sibuk dengan minumannya sedangkan Sehun kembali dengan mode aneh yang hanya ia tunjukkan saat bersama Kyungsoo.

Kyungsoo sedang bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa berani menatap Sehun, padahal laki-laki itu terlihat biasa saja dan malah memperhatikan sikap malu-malu Kyungsoo yang sangat menggemaskan menbuat Sehun tersenyum dan ingin sekali memasukkannya ke dalam kantong dan membawa pulang.

"Hun?"

Keadaan masih tetap diam, Sehun yang dipanggil sengaja tidak menyahut karena wajah Kyungsoo masih tidak mau memandangnya. Tertawa dalam hati melihat betapa lucunya gadis gembil bermata belo ini.

"Sehun?" Kyungsoo mengulang panggilannya merasa Sehun tidak menyahut panggilan awalnya. Wajahnya memang masih menunduk, tapi dia sudah berusaha untuk memanggil laki-laki ini dan asal tahu saja itu sudah membutuhkan keberanian yang begitu besar hingga telapak tangan Kyungsoo berkeringat.

Sehun sengaja menulikan telinga dan tetap memandang wajah Kyungsoo dari samping seperti sekarang, diam-diam mendekat mempersempit jarak diantara mereka. Ingin melihat bagaimana reaksi Kyungsoo nanti.

"Sehun, kenapa kau— OMO!" Kyungsoo menjerit. Kaget karena saat ia mendongak ke samping wajah Sehun berada sangat dekat bahkan bila Kyungsoo telat sedetik saja untuk menyadarinya mereka akan kembali berciu-. Astaga, Kyungsoo bisa gila bila terus menerus memikirkannya. "Kau... bisakah kau sedikit menjauh, aku sedikit—"

"Baiklah."

Sehun dengan mudah menggeser duduknya meski hanya beberapa inch, tapi dia sudah puas melihat wajah merona Kyungso yang sangat cantik. Sehun terus tersenyum melihat salah tingkah gadis itu. Sejurus kemudian dia kembali menatap Kyungsoo dengan serius dan gadis itu menyadarinya.

"Soo..." Sehun memanggil dengan suara yang begitu rendah dan dekat, membuat Kyungsoo yang mendengarnya sedikit bergetar. "Aku—"

"Sehun, ayo kita lupakan!"

"Eoh?"

"Kejadian dua hari yang lalu, di depan mobil. Kita lupakan saja, aku minta maaf atas sikapku saat itu. Aku tidak bisa berpikir dengan benar, maafkan aku. Aku pastikan hal itu tidak akan terulang lagi. Jadi, mari kita lupakan saja. Setuju?" Kyungsoo tidak ingin Sehun berpikiran yang tidak-tidak tentang dia. Kyungsoo tidak ingin Sehun mengira bahwa ciuman itu merupakan ciuman pelampiasaan karena ia melihat Kris tengah selingkuh. Kyungsoo tidak ingin Sehun berpikiran bahwa ia menjadikannya sebagai pelarian rasa sakit. Ia hanya tidak ingin Sehun berpikiran yang buruk tentang dia. Lagi pula rasa tidak nyaman itu tidak bisa ia tanggung terus untuk kedepannya.

Tidak. Bukan itu maksud Sehun, Dia sama sekali tidak mempersalahkan tentang ciuman itu. Sungguh. Lagi pula dialah yang seharusnya meminta maaf karena dia yang memulai ciuman itu. "Kyungsoo, kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang-"

"Lebih baik jangan membahasnya lagi, aku tidak mau kita menjadi tidak nyaman karenanya. Apa kau sudah makan? Pesanlah makanan, aku yang traktir," cengir Kyungsoo mengalihkan pembicaraan.

Sebenarnya hanya Kyungsoo yang merasa tidak nyaman karena Sehun masih baik-baik saja, seperti biasanya. Tapi Sehun memahami bahwa Kyungsoo memang gadis yang sangat baik, dan hal itu mungkin membuat Kyungsoo tidak nyaman karena ia akan berpikiran ciuman itu bentuk dari pelarian semata. Akhirnya, Sehun mengikuti kemauan Kyungsoo untuk melupakan kejadian itu meski ciuman manis itu tidak akan pernah ia hapus dari ingatannya.

.


.

Baekhyun menuruni tangga rumahnya dengan riang. Hot pants putih serta kaos pink bergambar rilakuma yang sedikit longgar menempel ditubuh seksinya. Gadis itu memang cantik menggunakan pakaian apa saja. Tidak salah banyak laki-laki dikampus yang menyukainya. Sayangnya mereka semua harus menelan patah hati saat menyatakan cinta dengan alasan Baekhyun sudah memiliki laki-laki spesial yang sedang berjuang untuk menghalalkannya. Uhh...romantis sekali.

Setelah selesai kuliah dari Prof. Lee dan mengerjakan tugas yang diminta bersama teman-teman gadis itu sampai di rumah jam 5 sore, tidur sebentar karena tubuhnya serasa akan remuk dan bangun setengah 7 lalu mandi dan turun ke lantai bawah untuk makan malam.

Baekhyun berdecak heboh saat melihat banyak makanan yang sedang disiapkan oleh ibunya. "Eomma, apa kita akan mengadakan pesta?" Baekhyun bertanya sambil mencicipi beberapa masakan yang sedang dibuat oleh Byun Heechul, ibu Baekhyun.

"Tidak, eomma hanya mengundang Sehun untuk makan malam bersama." Heechul menjawab tanpa melihat Baekhyun. Masih sibuk dengan masakannya.

"Sehun? Jadi ini semua untuk albino itu? Ck, eomma berlebihan sekali. Makanan ini bahkan bisa dimakan untuk orang satu kota. Cukup belikan tteokbokki dipinggir jalan saja untuknya." Sejak dulu Baekhyun memang jarang akur dengan sepupu laki-lakinya itu ditambah tadi siang Sehun sudah membuatnya kesal, ya sudah kalimat pedas akan terus meluncur dari mulut cabenya.

Heechul menoleh sebentar untuk memberi deathglare pada Baekhyun, "Kau ini jahat sekali pada adik sendiri. Sudah sana bantu eomma, taruh masakan ini di atas meja makan. Dan jangan membantah, kau tidak akan mendapat makanan bila tidak berusaha." Heechul harus mengeluarkan sedikit ancamannya saat melihat Baekhyun akan melakukan protes.

Baekhyun menata piring-piring yang berisi masakan Heechul dengan wajah cemberut, gadis itu masih kesal rupanya. Heechul yang melihatnya hanya tersenyum geli.

Beberapa menit kemudian suara berat menyapa mereka. "Annyeonghseyo.."

"Sehun, kau sudah datang?" itu Sehun rupanya. Heechul menyambut anak itu dengan bahagia berbeda sekali dengan Baekhyun yang semakin terlihat kesal. "Duduklah dulu, makanan sebentar lagi akan siap. Baekhyun cepat sedikit ya, Sehun sudah datang."

Baekhyun yang masih berdiri diantara ruang makan dan dapur mendengar teriakan sang ibu. Astaga, masakan ibu begitu banyak dan dia harus bolak balik membwanya hanya untuk Sehun? Oh Sehun yang menyebalkan itu?

"Jika kau ingin makan, berusahalah untuk mendapatnya sendiri." Ketus Baekhyun.

"Byun Baekhyun!" Heechul memperingati.

"Apa? Bukankah eomma yang mengatakannya tadi?" gadis itu langsung berbalik dengan kesal, kakinya dia hentak sampai penghuni rumah akan tahu jika ia benar-benar kesal.

"Gadis itu benar-benar." Heechul menghela tidak percaya. "Maaf ya Sehun, kau pasti paham sifatnya memang seperti itu."

Sehun tersenyum sungkan. "Tidak apa-apa imo, Baekhyun noona memang sangat mirip dengan imo."

"Yaack, kau juga.." Heechul mendelik mengerti maksud perkataan Sehun adalah juga menyindirnya, tapi kemudian sama-sama tertawa menyadari situasi konyol ini. "Ya sudah sana, bantulah Baekhyun. Imo akan menelpon samchonmu untuk menyuruhnya pulang".

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya sang kepala rumah tangga datang. Byun Hangeng terlihat masih tampan diusianya yang sudah setengah abad itu. Heechul menyambut sang suami dengan gembira, menerima ciuman di keningnya dari Hangeng sebagai tanda penyambutan, kebiasaan yang sudah sejak lama mereka lakukan bahkan sebelum Baekhyun lahir.

Hangeng mengambil tempat duduk paling ujung, menengahi meja makan, tempat yang memang biasanya digunakan oleh kepala rumah tangga. Disamping kanannya ada Heechul yang duduk bersebelahan dengan Baekhyun dan di seberang mereka ada Sehun, duduk sendiri. Mereka mulai makan dengan tenang, terkadang diselingi percakapan hangat antar keluarga, menyakan kabar Sehun yang sudah tiga bulan tinggal di Korea, menanyakan kabar skripsi Sehun, bagaimana perasaan Sehun tinggal di apartement sendiri yang menolak tinggal di rumah mereka, sampai pertanyaan yang menyentil hatinya.

"Bagaiman kabar Luhan di China?" tanya Heechul penasaran.

Pergerakan Sehun terhenti, senyumnya pun menghilang. Mencoba bersikap biasa-biasa saja sebelum menjawab. "Dia baik-baik saja, imo."

Baekhyun yang mendengar pertanyaan itu juga ikut terhenti, entah karena alasan apa dia juga kaget mendengar sang ibu menanyakan kabar Luhan. Gadis itu memperhatikan baik-baik perubahan wajah Sehun meski ayah dan ibunya tidak menyadari itu.

"Kenapa kau tidak mengajaknya sekalian ke Korea, bagaimana bisa kau meninggalkannya sendirian disana, eoh? Tega sekali."

"Benar, seharusnya kau juga mengajaknya kemari Sehun." Hangeng menyetujui pendapat sang istri.

Sehun tersenyum kikuk mendengarnya. "Dia bilang tidak ingin mengganggu skripsiku, imo-samchon. Lagi pula aku harus cepat untuk menyelesaikannya."

"Tapi kan tetap saja dia masih sangat membutuhkanmu." Sehun hanya tersenyum, menggaruk tengkuknya karena gugup. Semoga situasi ini cepat berlalu. Dia merasa tidak nyaman tiba-tiba.

Baekhyun memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat. "Eomma-appa, aku sudah selesai. Aku ke kamar sekarang ya?" tanya nya minta ijin.

"Kenapa cepat sekali? Kau sedang diet?" ini pertanyaan jahil Hangeng, karena ia sangat tahu obsesi anaknya dengan tubuh kurus dan seksi.

Baekhyun merajuk manja mendengar godaan sang ayah. "Tidak. Aku sudah ada janji akan melakukan skype dengan Richard." Ucapnya berbunga-bunga.

"Kau masih memanggilnya dengan nama itu?" pekik Sehun tidak percaya.

"Ne! Wae? Itu kan memang namanya. Dasar albino menyebalkan!" Kemudian berlalu meninggalkan mereka semua untuk menuju kamar.

Hangeng hanya tersenyum maklum melihat tingkah kekanakan Baekhyun, gadis itu memang masih kekanakan dan sangat manja karena memang dia anak tunggal dari kekuarga terpandang Byun.

"Kau tahu kan tentang obsesinya memiliki suami bule? Ck, anak itu memang menggemaskan." Heechul memberi penjelasan.

"Tapi bukankah dia tetap orang Korea yang hanya bersekolah di New York, imo?" Heechul hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

Begitulah Baekhyun, anak gadis semata wayangnya akan selalu kekanakan dan sangat manja. Manis sekali. Dan Sehun akan berterima kasih padanya nanti karena telah membantunya keluar dari situasi yang menegangkan tadi.

Terima kasih Byun Baekhyun!

.


.

"Bee, kau harus tidur sekarang. Lihatlah, ini sudah lebih dari jam tidurmu." Suara berat itu mengulang kalimat yang sejak tadi ditolak Baekhyun.

"Tapi, aku masih ingin melihatmu." Baekhyun tetap menolak meski saat dia menjawab dia juga menguap. Kalau boleh jujur ia mengantuk sekali sekarang, tapi Baekhyun tidak akan menyianyiakan waktu berharga untuk tidur dan memilih mempertahankan kelereng sipitnya untuk tetap berbicara dengan Richard meski terkadang kepalanya terantuk karena tidak sengaja tertidur.

Panggilan sayang laki-laki itu juga tidak mempan untuk menyuruh gadis keras kepala ini. "Aku tidak mau kau terlambat besok, jadi sekarang tidur ya?"

"Aku bukan anak kecil lagi!"

"Aku tahu, kau memang bukan anak kecil lagi tapi kau adalah gadis tercantik yang pernah aku kenal dan aku tidak mau gadis cantik itu memiliki mata panda besok pagi. Aku mau dia untuk tidur sekarang." Layar laptop Baekhyun menampilkan senyum paling manis -menurutnya dari seorang laki-laki tampan dengan lesung pipit di pipi kirinya.

Baekhyun mengalah, tidak kuat mendengar kalimat-kalimat manis selembut kapas dari laki-laki tampan di seberang sana lagi pula kantuknya semakin menjadi-jadi. "Baiklah, aku akan tidur. Tapi kau harus janji bahwa besok kita akan mengobrol lagi."

"Aku janji."

"Aku tidur sekarang, kau juga jangan tidur terlalu malam. Selamat malam Richard!"

"Selamat malam Bee, have a nice dream." Baekhyun merona mendengar ucapan selamat malam dari laki-laki ini. Dan akan selalu merona. Lalu ia mematikan laptopnya dan bersiap untuk naik ke atas kasur.

"Ah, aku haus sekali." Berjam-jam mengobrol dengan seseorang yang kau sukai memang membuatmu tidak kenal waktu. Baekhyun memilih turun ke dapur sebelum benar-benar tidur.

Saat melangkah melewati ruang keluarga, ia melihat televisinya masih menyala padahal setahunya ayah dan ibu tidak pernah terjaga sampai selarut ini.

"Sehun? Kau masih disini?"

Laki-laki itu menoleh. "Eoh, eomma mu menyuruhku untuk menginap. Kau belum tidur?" Baekhyun baru menyadari bahwa Sehun telah berganti dengan piyama milik ayahnya.

"Aku baru saja selesai skype dengan Richard dan sekarang aku haus, ingin minum." Baekhyun berlalu begitu saja tanpa menghiraukan ekspresi Sehun yang merasa aneh dengan panggilannya.

"Demi Tuhan! Kau masih memanggilnya dengan nama menggelikan itu?"

"Jika kau masih mempermasalahkan nama kekasihku, aku akan senang hati menyirammu dengan air ini." Baekhyun memamerkan segelas air putih yang dibawanya. "Lagipula dia memang dipanggil Richard disana." Baekhyun mengambil duduk di samping Sehun, berniat menemani sepupunya itu sebelum kembali ke kamar. Ada yang ingin dia tanyakan sebenarnya. "Sehun, kau... sudah sedekat apa dengan Kyungsoo?"

Sehun mematung. "Aku... kami hanya teman biasa, seperti kau dengannya. Apa maksudmu sebenarnya?"

"Sehun, kau tahukan bila Kyungsoo adalah sahabat baikku dan dia baru saja dikhianati kekasihnya. Aku mohon padamu jangan menyakiti hatinya. Apa pun alasanmu, kau tidak boleh terlalu dekat dengannya." Baekhyun berkata dengan nada yang sungguh-sungguh. Tidak seperti biasanya yang kekanakan.

"Aku tidak akan menyakitinya!"

"Kalau begitu jangan mendekatinya!"

"Aku tidak bisa. Aku sudah..." Sehun menggantung, tidak yakin juga dengan lanjutan kalimat yang akan diucapkannya.

"Sehun, ingatlah bahwa Luhan sedang menunggumu di China. Benar kata eomma, kau tidak seharusnya meninggalkan dia seperti ini—"

"Aku melakukan ini juga untuknya. Aku berusaha sekeras ini juga untuk kebahagiaannya." Tanpa sadar Sehun meninggikan suaranya meski masih dalam taraf berbisik. Perlawanan Sehun tersulut saat Baekhyun seakan mulai memojokkannya.

"Kalau begitu tunjukkan, cepat selesaikan skripsimu dan kembalilah ke China. Jangan melakukan sesuatu yang akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Kau tidak seharusnya melakukan ini pada wanita sebaik Luhan. Kau juga tidak boleh menyakiti hati selembut Kyungsoo. Kau mengerti maksudku kan?" Baekhyun mengusap bahu Sehun. "Masuklah ke kamar, jangan tidur terlalu malam. Aku masuk dulu." Setelah memberi nasihat sebagai seorang kakak yang jarang ia perlihatkan, Baekhyun beranjak menuju kamarnya.

Sehun yang ditinggal sendiri semakin frustasi setelah tadi ibu Baekhyun bertanya tentang Luhan. Jujur saja, Sehun sedikit melupakan keberadaan gadis cantik bermata rusa itu beberapa hari ini. Dan rasa frustasinya bertambah saat menyadari bahwa sudah dua hari ini dia belum menghubunginya.


Sehun kembali menempelkan ponselnya setelah panggilan pertama tidak terjawab. Memutuskan untuk menghubungi Luhan meski ia tahu bahwa gadis itu pasti sudah terlelap ke alam mimpi. Tapi untuk menebus rasa bersalahnya, ia ingin bersikap egois. Dan dibunyi sambungan yang ke tujuh, Sehun mendengar suara serak di seberang sana.

"Ni hao?"

Sehun tersenyum, pasti gadis ini belum sepenuhnya bangun untuk mengangkat telpon. "Lu, ini aku."

"Eoh? Sehun?!" ada nada tidak percaya dari suaranya yang serak. "Sehun? Kau benar-benar Sehun?"

"Iya Lu, ini aku. Kau pasti sudah tidur, maaf menganggumu malam-malam begini."

"Tidak. Tidak apa-apa, aku juga baru saja terlelap belum terlalu nyenyak tadi." Suara itu tersenyum, sangat merdu terdengar diponsel Sehun, ia yakin pasti Luhan sudah tidur sejak tadi dan dia memilih berbohong dan tidak membuatnya merasa bersalah. Baekhyun benar, Luhan memang gadis yang sangat baik.

"Hmm..." Sehun bergumam tidak jelas, bingung ingin bertanya apa. "Kau sudah makan?" Bodoh. Sehun merutuki dirinya sendiri setelah pertanyaan konyol itu terlontar.

Terdengar suara tawa dari seberang telpon. Benarkan Luhan pasti menertawakan pertanyaan konyolnya. "Sudah, sejak lima jam yang lalu. Kau sendiri bagaimana, sudah makan?"

"Aku juga sudah makan, tadi imo memasak banyak sekali untukku."

"Byun imo? Eomma Baekhyun?" Sehun bergumam mengiyakan. "Kau tinggal dirumah mereka sekarang?"

"Tidak, imo mengundangku makan malam tadi dan menyuruh untuk menginap malam ini. Aku akan kembali ke apartement besok."

"Aku sangat merindukan mereka. Tolong titipkan salamku pada imo, samchon dan juga Baekhyun ya?"

"Iya, mereka juga menanyakanmu tadi. Kapan-kapan kau juga harus ke Korea, imo menyuruhmu untuk datang mengunjungi mereka."

Luhan tersenyum lagi. "Nanti setelah kau berhasil aku akan berkunjung ke Korea. Sehun, jaga kesehatanmu baik-baik disana, jangan lupa beristirahat, jangan lupa makan, baik-baiklah disana karena aku akan selalu menunggumu disini." Ucap Luhan lirih. Sehun merasa Luhan sedang menahan tangisnya dan itu membuat hatinya menjadi sakit. "Maaf tidak bisa melayanimu dengan baik."

"Tidak Lu, kau sudah melakukan yang terbaik. Kau juga baik-baik disana, jaga kesehatan, jangan lupa makan dan banyak istirahat. Kau kembalilah tidur, aku akan menutup telponnya."

"Ne, selamat malam Sehun. Mimpi yang indah."

"Selamat malam sayang, kau juga mimpi yang indah."

Sehun mengakhiri panggilan itu dengan ucapan selamat malam dari masing-masingnya. Tanpa sadar satu tetes air mata mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Lu".

=O=

TBC

15 Mei 2016

Author notes: sempet kaget waktu baca review yang pada pengen HunSoo, waahh... bukannya ami itu sama abi ya, ayah sama bunda ya? Wah, pada seneng crack pair ternyata, kekekeke. Luhannya udah keluar tuh, masih pada yakin tetep milih HunSoo kalo baca percakapan Sehun-Luhan di paragraf terakhir? Yakin gak mau berubah jadi HunHan nih? Hahahaha.

Terima kasih buat yang udah baca, review, follow dan favorite. Ff pertama di fandom EXO jadi ff nya so-so lah.

FYI: chapternya udah tak panjangin 2x lipat tanpa diminta, jadi seharusnya tanpa diminta pun review juga harus 2x lipat dong. hahaha