Kamichama Karin © Koge Donbo
Warns:
AU!
OOc, typo, gaje (kayak muka saya)
Pairs: MichiHime (yang sangat jarang, ayo kita lestarikan! #ditimpuk sapu)
Slight KazuKarin
Chapter 3
Happy reading minna-san
Michiru mencoba memejamkan matanya. Entah mengapa, bola mata berbeda warna itu tak ingin terpejam walau waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Michiru mencoba membalikkan tubuhnya ke sebelah kanan, namun tidak berhasil, ia tetap tidak bisa tidur.
'Sialan, aku insomnia!' umpatnya dalam hati.
Michiru bangkit dari tempat tidurnya dan menggaruk wajahnya yang kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang ke perkataan Kazune tadi siang.
"Menikahlah dengan Himeka, hanya itu jalan satu-satunya membuat Himeka bahagia sebelum waktunya berakhir."
'Aku memang mencintai Himeka, tapi bukan berarti aku harus menikah dengannya saat ini 'kan?' tanya Michiru dalam hati. Hal ini membuatnya galau. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin membahagiakan Himeka sebelum Himeka pergi—ah tidak, Himeka tidak akan meninggalkannya.
Karena lelah, akhirnya Michiru bisa tertidur.
xXx
Siang ini, setelah selesai mengikuti pelajaran di sekolah Michiru langsung bergegas ke rumah sakit tempat Himeka dirawat. Ia nampak tergesa-gesa, kaki panjangnya berjalan dengan cepat—walau tidak berlari—di lantai rumah sakit. Ia merasa senang karena Karin dan Kazune telah memberitahukannya kalau Himeka sudah sadar.
'Tok-tok-tok!'
"Ma—suk."
"Konnichiwa Hime-chan! Daijoubu?" tanya Michiru dengan wajah berseri-seri. Himeka tersenyum begitu tahu siapa yang datang. Ingin rasanya ia bangkit, namun tubuhnya terasa sangat lemas.
"Konnichiwa, aku baik Michi," jawab Himeka. Michiru duduk di kursi sebelah ranjang Himeka. Ia tak tahu obrolan apa yang akan ia buka. Mungkin kecelakaan 16 siswa TK di Medan atau kenaikan harga sembako bisa menjadi topik bagus.
"Kau tidak sekolah?" tanya Himeka lemah.
"Ah—ya?" sahut Michiru yang lamunannya buyar. Himeka hanya menggelengkan kepalanya menghadapi kekasihnya ini.
"Kau tidak sekolah?" ulang Himeka. "Sudah, sekarang sudah pulang. Teman-teman bilang mereka sangat merindukanmu," ujar Michiru. Tangan Michiru sudah gatal, ia gatal ingin membelai rambut Himeka mesra. Maka dari itu, Michiru mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membelai surai indigo cantik itu.
'Sreeettt!'
Namun, alangkah kagetnya Michiru. Beberapa lembar surai indigo itu terlepas dan menempel di tangannya.
"Hi—Hime—"
Himeka menunduk, matanya sedikit memanas. Michiru pun menjadi sedikit panik.
"K—kau?" Michiru menunduk, ia mencengkram sprei ranjang Himeka.
"Hiks… aku baik-baik saja Michi, tak usah sedih," ujar Himeka. Tangan kanannya yang tak terpasang selang infus membelai rambut karamel Michiru.
"…."
"Michi, dengarkan aku. Aku baik-baik saja, masalah rambutku karena aku itu—ano, aku jarang menyisirnya akhir-akhir ini," dusta Himeka. Gadis itu berusaha menahan airmatanya agar terkesan kuat di depan Michiru, namun cairan bening itu tetap mengalir mengikuti lekuk wajah cantiknya.
Michiru menengadah. "Jangan berdusta Himeka, aku tahu kau tidak baik-baik saja," ucap Michiru.
"Ahh—aku jujur Michi dan aku—"
"Rupanya ada kau, Nishikiori," sapa Kazune tiba-tiba. Kakak kandung Himeka itu menyandarkan tubuhnya di mulut pintu seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Iya, itu karena aku ingin menjenguknya," kata Michiru tenang.
"Tapi kau tak usah menjenguknya setiap hari, aku dan Karin masih bisa menjaganya," sindir Kazune. Himeka ingin marah karena sikap Kazune, namun itu terdengar mustahil mengingat keadaannya saat ini.
"Nii-chan?" gumam Himeka pelan namun dapat didengar Kazune. Kazune langsung menghampiri keduanya.
"Apa yang membuatmu menangis? Kau apakan adikku?"
"Nii-chan, Michiru tidak membuatku menangis, hanya saja—"
"—ah, sudahlah! Aku ingin berbicara dengan dia," kata Kazune seraya menunjuk Michiru. "Kau istirahat saja."
.
.
.
.
"Sebenarnya aku heran dengan sikapmu. Kemarin kau berperilaku seolah kau—"
"—Aku hanya panik melihatnya menangis," potong Kazune. Michiru menatap Kazune.
"Tapi aku tak membuatnya menangis," bela Michiru.
"Aku tahu, dan aku berkata kalau aku hanya panik," ulang Kazune. Michiru menyerah.
"Sebenarnya, seberapa parahkah penyakitnya sehingga rambutnya…?" tanya Michiru tak melanjutkan pertanyaannya.
"Dia telah melakukan chemotherapy semalam. Itu penyebabnya. Jadi jangan heran kalau nanti kau mendapati dia tak memiliki rambut," jawab Kazune dingin. Michiru memijat keningnya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Menikahlah dengannya," sahut Kazune cepat namun tak menatap wajah lawan bicaranya. Michiru menggelengkan kepalanya.
"Jangan bodoh Kazune! Kau berkata seolah tak ada jalan lain."
"Lalu bagaimana Nishikiori?" bentak Kazune, kini ia menatap lekat mata Michiru. Michiru menjadi sedikit takut.
"Aku hanya belum siap, bahkan aku dan dia masih sekolah dan bagaimana kalau pihak sekolah tahu?" tanya Michiru lantang. Kazune menatap dingin sahabatnya seolah ingin menerkamnya.
"Aku hanya ingin dia tersenyum sebelum dia pergi. Dan aku belum memberitahumu kalau umurnya tak lebih dari 3 bulan lagi," ujar Kazune dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Michiru memejamkan matanya seolah berpikir keras. Tangan Michiru yang notabene lebih besar dari tangan Kazune menggenggam pergelangan tangan Kazune.
"Tunggu! Aku bersedia menikah dengan Himeka, apapun asal dia bahagia," seru Michiru. Kazune tersenyum kecut. Ditepuknya pundak Michiru.
"Itu yang ingin kudengar. Namun, aku tak memaksamu Nishikiori," tutur Kazune yang langsung meninggalkan Michiru, tak ingin memperpanjang keadaan. Michiru yang galau segera duduk di bangku yang ia duduki sebelumnya. Kedua tangannya menutupi wajah tampannya. Ia tak mungkin menarik kembali kata-katanya. Hal itu tidak pernah dan tidak akan pernah dilakukan oleh lelaki Nishikiori.
xXx
Dengan sedikit ragu, Michiru menarik engsel pintu di depannya.
"Hahhh," desahnya.
Dan dengan penuh keberanian Michiru menarik engsel itu sehingga pintu terbuka. Dilihatnya seorang gadis pucat sedang terbaring lemah. Seolah menanti seorang pangeran menciumnya dan kemudian ia akan bangun.
"Hi—Himeka?" panggil Michiru.
"Ngghhh—" desah Himeka. "Michi?"
"Ya, kau baik-baik saja?" tanya Michiru. Himeka memegang keningnya.
"Ah, aku hanya sedikit pusing."
"Ma—maaf aku mengganggu istirahatmu, hanya saja ada suatu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu," tutur Michiru. Himeka menautkan kedua alisnya.
"Aku ingin kau menikah denganku," ujar Michiru tiba-tiba. Himeka menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"A—ka—kau bercanda?" tanya Himeka.
"Aku serius, Hime. Dan aku tak mau kau menolakku," jawab Michiru. Airmata Himeka berlinang. Michiru segera menyekanya.
"A—aku mau," sahut Himeka. Senyum mengembang di wajah Michiru. Mereka tak menyadari kalau sepasang zamrud menyaksikan mereka penuh haru.
xXx
Hari ini, tepatnya 2 hari setelah Himeka keluar dari rumah sakit, Himeka masih belum bisa bersekolah. Kazune memutuskan untuk mengundurkan Himeka dari sekolahnya karena Himeka bisa pingsan kapan saja dan kondisinya cepat berubah sewaktu-waktu.
Karin setia menemani Himeka selama Himeka menjalankan perawatan di rumah ketika Kazune sedang pergi sekolah, karena kebetulan pula Karin masuk siang.
"Himeka, kau serius akan menikah dengan Michiru?" tanya Karin ketika Himeka sedang melahap roti selai kacangnya.
"A—aku serius Karin. Aku yakin kau telah mengetahui kondisiku, dan aku—"
"—Ah, lupakan. Hari ini kita kan akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantinmu," potong Karin cepat. Himeka hanya mengangguk.
Karin menatap haru pada sahabat di depannya. Ia masih tak habis pikir mengapa gadis sebaik Himeka bisa mengidap penyakit parah dan ia juga tak pernah mengira kalau umur Himeka hanya—ah, Karin menepis pikiran itu. Ia masih yakin, Tuhan akan menyembuhkan penyakit Himeka.
"Karin, kau melamun?"
Di sisi lain, Karin tak ingin melihat Kazune menangis karena kepergian adiknya. Sudah cukup Karin melihat Kazune yang menangis terpukul ketika Kazusa adik perempuan Kazune meninggal dengan Jin kekasihnya karena kecelakaan.
"Karin?"
"Ah iya?"
"Kau melamun?" tanya Himeka.
"Tidak, aku hanya mengantuk," dusta Karin seraya tertawa. Himeka hanya menggeleng.
"Maaf ya, aku makannya lama," mohon Himeka. Karin menjadi salah tingkah dan menggoyangkan kedua tangannya.
"Tidak-tidak-tidak, itu karena semalam aku belajar sampai larut, ehehe."
xXx
"Himeka, mengapa kau memilih baju yang berwarna putih itu? Padahal menurutku baju yang berwarna merah muda itu lebih cocok denganmu," gerutu Karin ketika mereka telah keluar dari butik.
"Aku suka warna putih, Karin. Dan dengan begitu aku akan terlihat seperti seorang putri salju," kata Himeka seraya tersenyum. Karin miris.
"Eh? Iya, sepertinya kau akan terlihat seperti putri salju," ujar Karin. "Kau tahu? Kazune sangat menyebalkan kemarin dia tidak mengizinkanku pergi ke—"
'BRUK!'
"HIMEKA?" teriak Karin histeris ketika ia melihat Himeka pingsan.
Karin pun panik, orang-orang pun mulai mengerubungi mereka. Sekelebat, Karin melihat ke arah barat. Dilihatnya lelaki yang begitu dikenalnya dengan seorang gadis berambut hitam dengan kucir di rambutnya.
Karin tak dapat menahan airmatanya.
"Michiru dan Rika…."
TBC
Maaf ya update nya lama, sibuk banget. Hehe….
Guru aku sering banget ngasih tugas 1 siklus, haduhhh pusing deh.
Dan oh iya, mungkin chapter 4 akan menjadi chapter terakhir. Maaf yang review aku belum bisa balas karena gak sempet. Tapi, jangan ngapok untuk review ya!
