[Balasan untuk surat dari chap 1]
.
Dear, Lizzy ... Aku baik-baik saja.
Aku adalah pengembara. Sudah kenyang makan asam garam kehidupan jalanan. Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan tumbang semudah itu.
Satu-satunya kekosongan dalam perjalanan, Lizzy, itu karena tidak ada teman. Aku tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara, tetapi tak apa lah. Aku punya Blackie. Dan buku gambar ini lebih dari sekadar kawan setia.
Kau benar, Lizzy ... Aku membaca suratmu dalam kafe luar ruangan, di pinggiran kota Bertchesgaden, Jerman. Pagi yang sejuk ketika kepak sayap merpati terbang bebas melewati kepala, dan cangkir mengepulkan uap manis kopi. Ada petak bunga mayflower di sisiku, dan menara gereja yang mengingatkanku pada menara jam di desamu. Austria ada di balik punggung. Terpisah oleh rangkaian pegunungan Alpen, tetapi kita terhubung dalam dimensi dan pola pikir yang sama.
Senang mendengar berita baik dari keluarga di desa, Lizzy.
Desamu adalah yang terindah di dunia. Udaranya sejuk dan bersih. Walaupun cuacanya dingin khas pegunungan, tetapi ada lebih banyak kehangatan yang memancar melalui wajah-wajah ramah penduduk desa. Aku menyukai menara jam di alun-alun itu. Letaknya strategis, di tengah-tengah. Dari sana, aku bisa melihat puncak Matterhorn yang berdiri menjulang. Puncak gunung yang mengerucut seperti Piramid itu masih mengagumkan. Bagaimana mungkin, lempeng kerak dari gurun pasir Afrika, bergeser menyeberangi lautan, sejauh itu dia mencari persinggahan?
Pikiranku terbuka, Lizzy ... Itulah esensi perjalanan: kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meninggalkan yang lama, dan menetap di tempat baru.
Aku banyak belajar dari perjalananku. Dibanding desamu, Potala di Dalai Lama, itu bukan apa-apa. (Psstt, rahasiakan ini ya!).
Sebagai pendatang pertama, aku senang bisa membantu kalian. Perpustakaan adalah tempat keduaku setelah jalanan. Aku senang menginap di perpustakaan. Ada banyak pintu yang terhubung melalui lembaran buku. Namun, aku prihatin pada perpustakaan di sana, koleksinya sedikit, dan jarang ada yang berminat. Makanya, aku minta Kakak di London supaya menyortir koleksi buku milikku, untuk dikirim ke tempatmu. Tidak terima penolakan. Tentu saja, kau boleh tambahkan koleksi sendiri. Manfaatkan lah uang yang terkumpul di kotak amal dan sumbangan mingguan.
Aku masih ingat saat menemanimu menjaga Tenda Baca itu. Walaupun anak-anak datang lebih karena rasa penasaran. Mereka ingin mengenal orang asing (tamu pertama di desa), tetapi akhirnya hati mereka tertambat. Terus berkunjung ke perpustakaan kan?
Itu berkat ketekunanmu, Lizzy. Aku menyukaimu yang tidak mudah patah harapan.
Lizzy, semua yang terjadi di dunia ini pasti bermakna. Berlaku juga untuk perjumpaan kita.
Tahu tidak? Aku senang saat kita bertemu lagi─betul, harapan itu ada selama kita mau berharap.
Masih ingat, makan siang pertama kita?
Aku pulang dari menara jam pukul satu siang. Keasyikan menggambar membuatku lupa pulang ke hostel─yang ternyata adalah rumahmu. Aku sudah berjanji siang bersama Tuan Midford.
Jangan marah, tapi aku ingin terpingkal saat melihat ekspresimu. Di ruang makan itu, kau duduk di ujung meja. Matamu terbelalak seperti melihat hantu─kau sangat ekspresif. Kau berlari menghambur dalam pelukanku. Aku terkejut.
Paman dan Bibi Midford sangat baik. Lucu saat mengingat mereka tidak membicarakan tamu baru mereka. Aku sudah tahu Tuan Midford punya anak gadis, tetapi tidak kusangka itu kamu, Lizzy. Tahu begitu, aku tidak akan keluar rumah terlalu pagi. Tiga jam kita terlambat berkenalan.
Rupanya, takdir ingin mempertemukan kita dengan cara yang istimewa.
Kembali ke perjalananku sekarang.
Aku lanjut menulis surat ini di depan jendela menghadap kebun anggur yang hijau dan luas. Ada padang bunga violet di sisi kebun. Warna ungu berkilauan disiram terik matahari, terdengar dengung lebah menari-nari mengelilingi serbuk sari. Aku menyewa kamar dalam hostel bergaya Barok Italia. Atapnya disangga dinding putih yang tinggi. Saat berbaring di tempat tidur, aku bisa melihat lukisan Peniup Suling Hamelin di plafon kamar. Serasa tidur di bawah naungan negeri dongeng.
Besok, aku akan naik kereta menuju Munich. Banyak kota-kota bersejarah di Jerman yang harus dikunjungi. Menyeberangi Sungai Rhein menuju Perancis adalah pilihan pertama. Aku bersiap akan meleleh di bawah matahari Atlantik dan pesisir Italia. Pilihan kedua ada pada jalan menuju Praha, terus lanjut ke timur Eropa. Mana pilihan terbaik untuk pelancongan ini? Aku agak bimbang, sebab ini rute perjalanan yang terakhir.
Akhir tahun nanti, keluarga ingin aku menghadiri perayaan natal bersama di London.
Tahu tidak, kakakku bersikeras mengirim uang dan pernak-pernik─makanan dan semacamnya. Padahal, aku tidak sedang kekurangan. Toko mainan Funtom milikku, menghasilkan laba yang lebih dari cukup. Lizzy ... perjalanan ini akan ringan tanpa banyak dibebani barang bawaan. Harus ada yang mengajarkan perkara sepenting ini pada kakakku.
Kata-kataku tersendat di ujung pena. Surat ini berakhir.
Hibur perjalananku dengan kata-kata indahmu, Lizzy ... Kau selalu hadir bersamaku, di antara langkah-langkah kaki dan derap sepatu.
salam
Ciel Phantomhive
