"Asal kau ada."

'I-Itachi-kun...'


Title : Sakura Rhythm

Author : Imelda Yolanda (UIniichan)

Genre : Romance, Drama, Family

Rating : T

Length : Chaptered

Disclaimer : This fict is mine, but the casts are Masashi Kishimoto's

Warning : OOC, Typo(s), Crack Couple

Pairing : ItaIno

Don't Like Don't Read!

Enjoy!

'Kriiing! Kriiing! Kriiing!'

Suara telepon terus berdering di ruang tamu apartemen yang berada di lantai 12 tersebut. Tak ada satu orang pun yang berniat untuk mengangkatnya dan mendengar omongan orang yang berada di seberang telepon sana.

Salah satu hak pihak yang menerima telepon adalah untuk tidak mengangkatnya. Mungkin begitulah.

Dua orang remaja yang tengah dalam posisi berpelukan di sebuah ranjang tetap diam dalam posisinya masing-masing tanpa melakukan pergerakan apapun. Keduanya sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing meskipun dengan posisi yang sangat tidak 'wajar'.

Itachi masih memeluk Ino dengan posisi gadis itu terpenjara di bawahnya. Hidung mancungnya masih setia menghirup wangi tubuh Ino dan beberapa helaian rambut blondenya yang tergerai panjang.

Berbeda dengan gadis tersebut yang merasa tidak nyaman dan terkesan panik dengan yang terjadi sekarang.

Ino berteriak dan berusaha mendorong tubuh Itachi menjauh, "Itachi-kun! Teleponnya! Mungkin kabar dari Ayahmu!"

Tubuh yang berusaha di dorong oleh Ino tidak tergeser sedikitpun meskipun Ino sudah berusaha sekuat tenaga.

Itachi menjauhkan wajahnya dari leher Ino dan menatap wajah Ino lekat. Kemudian telapak tangannya menutup mulut Ino paksa.

"Sudah kubilang, biarkan saja." Suara berat Itachi memerintah Ino.

Gadis blonde itu dibuat terkejut dengan perlakuan pemuda di atasnya. Otaknya terus berputar memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Itachi?

Apa naluri kelaki-lakiannya yang membawanya berindak liar seperti ini, atau ia hanya melampiaskan rasa frustasinya pada Ino?

Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi otaknya dan membuat kepalanya amat pusing.

'Tidak! Tidak! Aku tak mau begini!' Hatinya berteriak.

Sontak gadis itu langsung menggigit tangan Itachi yang membekap mulutnya. Tidak ada cara lain, itu satu-satunya jalan supaya bisa lepas dari cengkraman pemuda Uchiha tersebut.

Ino memang menyukainya. Sangat. Tapi hal seperti ini tidak diinginkannya. Hal-hal kotor yang seharusnya tidak dilakukan oleh dua orang yang bukan suami-istri apalagi mereka yang masih berusia belasan.

Uchiha Itachi menunjukkan ekspresi terkejutnya. Ia kaget dengan apa yang dilakukan Ino. Telapak tangannya juga terluka karena perbuatan Ino.

Karena perhatian Itachi yang mulai teralihkan, Ino tidak menyia-nyiakan kesempatan kecil itu. Ia meraih bantal yang ada di dekatnya dan memukulkannya berkali-kali ke wajah tampan Itachi.

Ino mulai menangis dan berteriak kepada pemuda di depannya, "Kau! Kau hanya melarikan diri! Hanya karena keadaan tidak berjalan seperti yang kau inginkan! Kau merajuk seperti anak manja!"

Itachi kembali dibuat terkejut oleh Ino. Ia merasa yang dikatakan Ino memang benar. Dirinya memang hanya melarikan diri dari kenyataan. Ayahnya tidak menuruti keinginannya dan ia melampiaskan semua itu kepada orang lain. Lama ia berpikir sampai ia menyadari bahwa dirinya memang egois.

'Bug!'

Ino kembali mendaratkan satu pukulan ke wajah Itachi sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Itachi dan apartemen itu.

Ia pikir memang sudah waktunya untuk pulang ke rumah dan minta maaf kepada Ayah dan juga adik-adiknya. Dirinya sudah benar-benar menyadari semua kesalahannya dan berencana meruntuhkan dinding gengsi dan egoisnya di depan keluarga.

Ino melangkahkan kaki jenjangnya di jalanan daerah perumahan Tokyo yang terlihat sepi. Ia berniat untuk kembali ke rumah. Meskipun tidak ada seorangpun yang lewat di jalanan itu selain dirinya, irama sakura yang gugur tertiup angin mengalun pelan di telinganya menemani jalan pulang.

Terdapat tulisan 'Keluarga Yamanaka' di depan sebuah rumah sederhana yang tertangkap oleh mata aquamarine Ino yang sedari tadi melihat kebawah.

Akhirnya, ia tiba di rumah yang ia tinggalkan sehari yang lalu.

Ino membuka pelan pintu depan rumah itu supaya tidak ada satu orangpun yang menyadari kepulangannya.

Apa daya, Madoka yang sedang berada di dapur menyadari ada seseorang yang membuka pintu geser itu dan mendapati Ino tengah mengendap-endap masuk.

"Nee-chan!" Ujar Madoka membuat semua orang yang ada di rumah itu berkumpul.

Semua adik Ino bergelayut memeluk Ino menandakan rasa rindu karena terpisah dalam waktu semalam. Hmm…

"Maaf, membuat kalian cemas." Sesal Ino kepada adik-adiknya.

"Tidak apa-apa." Timpal Kenta.

"Ayah! Nee-chan pulang!" Honoka dan Miki berlari memanggil sang Ayah yang berada di kamarnya.

'Grek!'

Suara pintu geser kamar Ayah Ino dibuka. Ino terkejut dan sedikit takut untuk bertemu dengan Ayahnya apalagi dengan wajah sang Ayah yang masih menunjukkan guratan amarah.

"Kalian masuklah. Makanan sudah siap." Titah Ayah Ino.

Semua adik-adik Ino menuruti perintah sang Ayah dan berjalan menuju ruang makan untuk makan malam.

Ino mulai buka suara, "Ayah, umm…"

"Sedang apa? Cepatlah duduk. Nasinya cepat dingin." Ujar Ayah Ino dan berjalan meninggalkannya.

Yamanaka Ino terkejut dengan perkataan Ayahnya barusan. Ia baru saja berniat untuk meminta maaf namun Ayahnya mengalihkan pembicaraan dan malah menyuruhnya makan.

Ia menangis terharu dibuatnya. Itu tanda Ayah Ino tidak lagi marah dan tidak ingin mengungkit masalah kemarin.

Mereka semua kemudian duduk bersama dan makan malam. Adik-adik Ino terlihat bahagia melihat kakaknya sudah kembali. Sementara Ino benar-benar merasa terharu.

Ayah Ino mulai bicara setelah makan malam selesai, "Ayah rasa kalian semua sudah tahu rumah ini akan dijual. Ayah akan mencari sewa rumah di dekat daerah ini sehingga kalian tidak perlu pindah sekolah." Jelasnya.

"Ino." Panggilnya.

"Ah, ya. Aku akan bekerja untuk membantu keluarga." Tambah Ino cepat.

"Tidak. Walau bukan di swasta, selesaikan SMA-mu." Kata Ayah Ino tenang.

"Benarkah?" Tanya Ino senang.

Ayah Ino mengangguk kecil.

"Baiklah. Akan segera kuurus kepindahannya." Ujar Ino.

Gadis berparas cantik itu merasa sangat senang dengan keputusan Ayahnya untuk tidak memaksanya berhenti sekolah. Setidaknya ia bisa menyelesaikan SMA sebagai pendidikan terakhirnya. Meskipun bukan di Horikoshi, ia bisa terus menuntut ilmu.

Matanya masih belum bisa menutup meskipun ia sudah berusaha. Ini sudah sangat larut dan ia masih memikirkan tentang kepindahan sekolahnya.

Di sisi lain dirinya sangat senang karena masih bisa bersekolah, namun di sisi lain ia merasa sedih karena harus pindah sekolah dan bepisah dengan pemuda tampan yang bernaung di hatinya, Uchiha Itachi.

Ia memeluk erat selimut tebalnya memikirkan apa yang akan terjadi di depan. Akankah ia bertemu dengan Itachi lagi nanti?

'Aku sedih harus berpisah dengannya. Namun setelah mengingat kejadian siang tadi, aku juga takut bertemu dengannya.'

.

.

.

.

.

"Nee-chan! Ini pakaian yang sudah dicuci. Biar aku bantu menjemur." Ujar Tsuyoshi semangat.

Sehari setelah kepulangan Ino ke rumah, pagi ini semuanya berubah menjadi lebih baik di keluarganya. Adik-adiknya mulai mengerti dengan segala kesibukan yang selalu dilakukan Ino sendiri. Mereka semua sudah mulai membantu pekerjaan rumah Ino. Yah, walaupun hanya hal kecil tetapi sudah membuat gadis Yamanaka itu merasa senang dan sedikit terbantu.

Saat ini ia dan adiknya–Tsuyoshi tengah menjemur pakaian di balkon rumahnya setelah mencuci dan sedikit mengeringkannya di mesin cuci.

Tanpa disadari ada sepasang mata abu-abu gelap yang memperhatikan kegiatan Ino dan adiknya dari bawah. Matanya terus memperhatikan kegiatan gadis cantik itu dengan tatapan menyesal.

"Permisi. Ada yang bisa kubantu?" Madoka tiba-tiba muncul dari belakang pemuda itu dengan membawa tas belanja.

Sontak pemuda berambut panjang–Itachi sedikit terlonjak kaget karena perbuatan Madoka yang datang secara tiba-tiba.

Itachi membalikkan tubuh tingginya untuk berhadapan dengan Madoka, "Eh? Apa kau adiknya Ino?" Tanya Itachi.

Yang ditanya malah menatap Itachi dengan tatapan terpesona dengan sedikit semburat merah di pipi putihnya.

'Tampan sekali.' Batin Madoka.

Setelah tersadar dari lamunan terpesonanya Madoka langsung masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan sang kakak bahwa ada seseorang yang mencarinya.

"Nee-chan! Ada yang mencarimu. Namanya Itachi." Ujar Madoka memberitahu Ino.

Ino membelalakkan matanya terkejut dengan perkataan Madoka. Bagaimana Itachi bisa menemukan rumahnya? Itulah yang ada di pikiran Ino. Gadis cantik itu tidak tahu apakah harus menemui Itachi atau membiarkannya pergi. Tetapi seharusnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertemu sebelum benar-benar berpisah.

"Katakan padanya bahwa Nee-chan sedang tidak di rumah." Ino memutuskan untuk tidak menemui pemuda tampan itu.

"Eh?" Madoka sedikit terkejut tetapi sedetik kemudian ia keluar untuk mengatakannya pada Itachi.

"Begitu? Umm… Ini tertinggal di tempatku. Tolong berikan padanya." Jawab Itachi sambil memberikan sebuah tas kecil yang tertinggal di apartemen kemarin.

Tatapan mata Itachi berubah menjadi sangat kecewa mengetahui kenyataan bahwa Ino tidak mau menemuinya. Padahal ia sudah melihat Ino diatas balkon tadi. Mata onyxnya kembali menatap ke balkon rumah Ino dan sepertinya gadis cantik itu memang disana memperhatikan Itachi dari atas.

"Aku… Akan datang lagi." Matanya tetap melihat keatas dengan tatapan menyesal dan kecewa.

Yamanaka Ino yang merasa ditatap oleh Itachi menyembunyikan dirinya di balik tirai yang ada di pintu balkon. Aquamarienya menatap lantai sedih.

Setelah yakin bahwa Itachi sudah meninggalkan rumahnya, ia sedikit membuka tirai itu dan mendapati Itachi sudah tidak ada disana.

Air matanya menetes jatuh ke lantai, 'Maaf, Itachi-kun...'

.

.

.

.

.

"Maaf tiba-tiba pindah." Gadis bermarga Yamanaka itu membungkuk 90 derjat kepada Kepala Sekolah.

Hari ini Ino datang ke sekolah untuk mengurus segala keperluan kepindahan sekolahnya. Ia benar-benar tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa ia hanya akan menghabiskan waktu setahun di sekolah yang selalu menjadi impiannya. Yang mana artinya ia tidak akan mendapatkan almamater kelulusan dari Horikoshi.

"Ayahmu bagaimana?" Tanya Kepala Sekolah.

"Ada kerabat yang akan mencarikan Ayah pekerjaan. Ayah antusias membangun usahanya kembali." Jawab Ino dengan senyum terpaksa.

"Begitu… Berusahalah di sekolah yang baru." Kepala Sekolah memberi semangat.

Tiba-tiba ada seorang guru wanita paruh baya menghampiri sang Kepala Sekolah, "Murid baru sudah berkumpul." Ujarnya pelan.

Ino melihat kumpulan murid-murid baru yang terlihat senang di hari pertama masuk sekolah. Pikirannya kembali melayang dimana hari pertama ia masuk ke Horikoshi–sekolah impiannya sejak dulu. Ia juga begitu senang dan semangat. Ino ada diantara murid-murid baru dan juga Itachi.

'Ciit!'

Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan SMA Horikoshi yang membawa dua orang pria dan satu supir sebagai pengendali.

"Terima kasih sudah diantar." Suara berat seorang pemuda berusia belasan berucap sopan kepada Pamannya.

"Tidak masalah. Hmm… Mulai hari ini kami akan kesepian karena kau akan kembali ke rumah. Bibimu cemas melihat wajahmu yang dihajar oleh Ayahmu." Ucap Paman Itachi seraya menghela napas.

"Tidak apa-apa. Aku akan terus berusaha hingga cita-citaku direstui." Jawab Itachi yang memang seorang keras kepala.

"Tapi Ayahmu sangat hebat. Mengamuk dan menghajarmu di rumah sakit." Tambah Paman Itachi diikuti tawa.

"Itu tandanya ia bisa segera pulang." Kata Itachi lagi sambil menyentuh pipinya yang dibalut perban.

Ya, penampilan Itachi hari ini bisa dibilang agak kusut dengan perban yang menghiasi pipi kirinya. Memang benar kalau kemarin ia menemui Ayahnya di rumah sakit. Namun kesialan yang ia dapatkan.

Ayahnya meledak-ledak dan menghajar Itachi di rumah sakit. Akibatnya wajah tampannya harus terluka dan perban menjadi pelengkapnya.

"Sampai jumpa." Ujar Itachi kepada sang Paman setelah menuruni mobil.

"Ah, Itachi! Kau melupakan sesuatu yang penting. Ini memory digital camera." Paman Itachi menyodorkan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang.

Itachi sedikit terkejut dan dengan cepat tangannya menyambar benda itu dari tangan Paman jahilnya.

"Foto yang paling berharga di dalamnya, yang ini, bukan?" Tanya Paman Itachi menggoda sambil menunjukkan sebuah foto seorang gadis yang berbaring di taman yang sudah ia cetak.

"Datang lagi ke rumah." Paman Itachi melambaikan tangan dengan mobilnya yang mulai menjauh dari tempat itu.

'Sial!' Batin Itachi kesal.

.

.

.

.

.

"Ino, kelas sedang kosong. Sebelum murid-murid baru masuk, ambillah barang-barangmu." Titah Kepala Sekolah kepada Ino.

"Baik." Turut Ino.

"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya seorang guru tiba-tiba kepada pemuda yang masuk sehingga mengalihkan perhatian Ino yang akan meninggalkan ruang guru.

"Kau akan memberi sambutan kepada murid-murid baru dengan wajah seperti itu?" Tanyanya lagi.

"Benar." Jawab pemuda Uchiha itu datar.

Ino menghentikan langkahnya sesaat untuk melihat Itachi.

Itachi yang merasa diperhatikan berbalik menatap Ino dan ia pun terkejut. Dengan cepat Ino berlari meninggalkan ruang guru untuk menghindari Itachi.

"Sensei! Ino datang ke sekolah?" Tanya Itachi pada guru di sebelahnya.

"Benar. Karena keadaan keluarga, ia akan berhenti dari sekolah ini. Hari ini ia datang untuk mengambil barang-barangnya." Jelas guru itu.

Itachi membulatkan matanya karena terkejut akan penjelasan gurunya tadi. Dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.

Itachi berlari meninggalkan ruang guru untuk mengejar Ino tanpa menghiraukan teriakan guru yang memanggilnya.

"Ino!" Itachi berteriak memanggil Ino yang berlari di depannya.

Gadis blonde itu terus berlari meninggalkan Itachi di belakang dengan air mata yang terus menetes dari aquamarinenya.

"Ino! Tunggu!" Itachi kembali berteriak memanggil Ino agar ia berhenti dari larinya namun sia-sia. Ino terus berlari menaiki tangga dan masuk menuju kelas.

'Grek!'

Itachi membuka pintu dorong kelasnya dengan napas yang masih memburu akibat adegan kejar-kejarannya dengan Ino tadi.

Kosong. Pemuda berambut panjang itu tidak menemukan seorangpun di dalam kelas termasuk sosok Ino. Padahal ia sangat yakin bahwa Ino berlari ke kelas itu.

Sosok gadis yang dicari tersebut ternyata berada di kelas itu namun ia ada di bagian balkon samping kelas dengan pintu yang tertutup. Ia terduduk memeluk lututnya dan terus terisak pelan.

'Maaf... Itachi-kun...'

'Ting! Tong! Ting! Tong!'

'Uchiha Itachi dimohon segera ke auditorium! Segera ke auditorium!'

Suara seseorang memanggil Itachi melalui speaker tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Syaraf pendengaran Ino juga dapat mendengar membuatnya mendongak dan berdiri dari duduknya.

'Benar. Hari ini Itachi-kun akan memberikan sambutan. Jadi dia belum ke auditorium? Apakah ia masih mencariku?' Pikir Ino.

'Grek!'

Pintu geser yang mengarah langsung ke balkon kelas terbuka menampakkan sosok tinggi tegap dengan setelan jas sekolahnya disana.

Sontak Ino menengokkan kepalanya untuk melihat ternyata Itachi berhasil menemukannya.

Yah, Itachi adalah pemuda yang sangat cerdas. Sangat mudah baginya menemukan Ino di tempat seperti ini.

"Itachi-kun…" Ujar Ino terkejut.

"Hegh! Kau takut padaku?" Tanya Itachi sambil menepuk kepala Ino pelan.

"Itu… Tentu saja, iya." Jawab Ino menunduk tak berani menatap Itachi.

"Maaf.. Kata-kata saja tidak cukup, bukan?" Kali ini Itachi yang menunduk menyesali perbuatannya.

"Itachi-kun… Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Ino dengan nada khawatir.

"Kau benar. Aku manja dan hanya melarikan diri dari Ayah dan juga diriku. Tapi aku tidak akan lari lagi. Mataku selalu tersinari melihatmu tersenyum ceria. Di saat sulit sekalipun aku tetap berusaha menjadi seseorang yang bisa dengan tegap berdiri di hadapanmu." Itachi mengelak dari pertanyaan Ino.

"A-Aku sama sekali tidak sehebat itu." Sangkal Ino yang merasa tersanjung dengan ucapan Itachi.

"Menurutmu tidak. Tapi menurutku iya. Bagiku kau istimewa." Jujur Itachi.

"Apa?" Tanya Ino dengan tatapan bingung.

Itachi menepuk dahinya sendiri karena kelakuan Ino yang tidak peka, "Oh, ayolah! Maksudku aku suk–"

"Itachi! Itachi! Huh, dasar! Kemana dia sebenarnya?!" Sekumpulan guru berteriak mencari Itachi menyebabkan putusnya perkataan Itachi untuk Ino.

"Sial! Apa boleh buat…" Itachi yang belum menyelesaikan perkataannya untuk Ino berniat meninggalkan tempat itu karena namanya sudah dipanggil-panggil.

'Bruk!'

Itachi merasa terkejut dengan kelakuan Ino yang menariknya sehingga membuatnya terduduk jatuh di lantai.

"Maaf… Aku tahu kau harus pergi sekarang. Tapi, aku ingin mengetahui kelanjutan kata-katamu tadi." Ujar Ino malu.

"Aku… Ingin mendengarnya sampai akhir." Ino menunduk semakin dalam membuat rambut blondenya terjatuh menutupi wajah cantiknya.

"Umm… Apa kau tidak keberatan jika aku menyentuhmu?" Itachi meminta izin.

Ino mendongakkan kepalanya menatap Itachi kemudian telapak tangannya menyentuh punggung tangan Itachi. Tanda bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan permohonan Itachi barusan.

Itachi yang merasa punggung tangannya disentuh Ino dengan cepat menautkan jemarinya dengan milik Ino.

Manik keduanya saling bertemu mengungkapkan rasa cinta yang ada di dalam hati.

Pemuda tampan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ino dan menghapus jarak diantaranya. Ino yang peka akan perilaku Itachi langsung memejamkan matanya. Itachi yang melihat lampu hijau disana ikut memejamkan matanya kemudian bibir mereka saling bertemu.

Itachi memagut mesra bibir merah Ino dengan penuh rasa kasih sayang yang dapat ia ungkapkan dari setiap pagutan yang diciptakan.

Tidak ada nafsu di ciuman itu. Hanya ada cinta diantara keduanya. Berciuman di tengah musim semi dengan jemari saling bertaut dan sakura yang berguguran menjatuhi keduanya. Indah.

'Aku suka padamu.'

.

.

.

.

.

Sakura melayang berguguran. Itulah irama musim semi yang hangat dan lembut. Irama yang mengundang datangnya kebahagiaan.

'Tap! Tap! Tap!'

Seorang gadis cantik berambut blonde melangkah keluar dari rumahnya diiringi senyuman yang terpatri di wajah manisnya.

Seorang pemuda tampan berambut panjang berdiri di depan rumah itu menunggu kedatangan gadisnya.

"Maaf, aku agak lama." Ujar gadis itu tersenyum.

"Tidak masalah." Maklum Itachi.

Keduanya kemudian berjalan bergandengan menyusuri jalan perumahan yang sepi.

"Di sekolah ada rumor yang mengatakan kalau lukaku ini akibat dihajar Ayahmu." Itachi membuka pembicaraan.

"Apa?!" Tanya Ino terkejut.

"Banyak spekulasi karena kepindahanmu. Misalnya, bahwa kau hamil…" Ujar Itachi jujur.

"Apa-apaan itu?! Konyol!" Ino seperti dibuat gila dengan spekulasi seperti itu.

Hal konyol apa yang dibuat orang-orang di Horikoshi. Hamil?! Itu adalah hal gila. Baru saja kemarin dirinya dan Itachi resmi menjadi sepasang kekasih dan kemarin juga ia melepaskan ciuman pertamanya untuk Itachi. Mana mungkin ia melakukan hal bodoh dan menyebabkan dirinya hamil di luar nikah.

"Apakah Ayahmu menakutkan?" Tanya Itachi.

"Hmm… Tangannnya lebih cepat dari mulutnya." Jujur Ino.

"Kalau begitu aku harus siap mental." Itachi menghela napas.

"Eh? Siap mental?" Ino bingung dengan ucapan Itachi.

"Umm… Soal masa depan." Tegas Itachi.

.

.

.

.

.

-FIN-

©Imelda Yolanda (UIniichan)

A/N :

Heyho! Chapter 3 updated! Ending! Hahaha XD Kenapa ending? Dikit yak chaptersnya? Haha sorry sorry sorry /dance ala Super Junior/ XD Hmm.. Aku tahu aku egk bisa melanjutkan ff ini lagi karena aku punya ff baru sekarang /tebar bunga kantil/ Duh, sebenernya niatnya mau aku kasih jeda agak lama ini endingnya tapi ya aku merasa tanggungan aku masih buanyak banget /lebay/ :P So, update kilat aja lah! Reviewnya genks! Review kalian adalah semangatku muach muach! Thank you! /bow/

Lmlsn : Hiii~~! Iya susah banget cari kerjaan kalo egk ada orang dalem /curhat/ Itachi agresif? Tenang... Ratingnya masih T kok XD Yosh! Aku memang berniat buat ff dengan pairing ItaIno aja kok /walah?/ Thanks for the review! Muach!

fifin anggraini : Terharu? Aku juga /eh?/ Makasih ya udah menyempatkan diri untuk membaca ff nista(?) ini :*

exol : Udah aku ganti yaa :) Makasih reviewnya :)

fina : Makasih reviewnya! Silakan mampir(?) lagi...

Noor wahdah : Updated cyiiinn! Makasih sudah mampir...

itakun : Aku juga suka sekali dengan pairing ini. Arigatou! Reviewnya makasih /kiss & hug/

Shinji gakari : Updated yaa... Makasih atas reviewnya /bow/


-Omake-

"Maaf… Tapi dia tidak mau aku pergi tanpanya." Ujar Ino tak berdaya dengan Honoka yang memegangi pinggiran rok ungu Ino.

Ya, hari ini adalah hari pertama Itachi dan Ino berkencan setelah dua bulan berjalan sebagai pasangan kekasih. Karena Ino yang sangat sibuk dengan peran penggantinya sebagai ibu rumah tangga, apa boleh buat, mereka berdua selalu tidak mempunyai waktu untuk pergi berkencan.

Sekalinya kencan pertama, adik kecil Ino–Honoka ikut bersama.

Uchiha Itachi hanya bisa menghela napas maklum dengan Honoka yang benar-benar tidak bisa lepas dari kakaknya. Wajar saja jika Honoka sangat bergantung pada Ino karena sejak bayi ia tidak pernah mendapat kasih sayang Ibu.

Dua insan yang sedang berkencan tersebut berjalan bergandengan berkeliling taman tanpa ada percakapan sedikitpun. Bagaimana Itachi melakukan pendekatan mendalam dengan gadisnya jika Honoka terus saja merengek dan memutus tiap kalimat Itachi.

"Nee-chan! Aku ingin makan es krim!" Pinta Honoka.

"Ah, baiklah. Tunggu disini bersama Itachi-nii." Kata Ino seraya berjalan untuk membelikan es krim dan meninggalkan Honoka bersama Itachi.

Honoka membalikkan tubuhnya menghadap Itachi yang duduk di kursi panjang taman. Matanya memancarkan tatapan pesona ke arah Itachi.

Pemuda Uchiha yang menyadari jika dirinya sedang ditatap lekat berbalik menatap Honoka dan melemparkan senyum tipis. Jika diperhatikan, Honoka sangat mirip dengan Ino. Mulai dari warna rambut, pipinya yang chubby dan selalu ada warna merona alami serta anak rambut di depan yang menggantung. Itulah yang dipikirkan Itachi.

'Tampan sekali.' Batin bocah empat tahun tersebut yang menatap wajah Itachi.

Ketika Ino kembali dan membawa es krim tiba-tiba ia terkejut dengan kelakuan adiknya, "Nee-chan! Aku ingin menikah dengan Itachi-nii!" Kata Honoka polos sambil memeluk Itachi erat.

Itachi membulatkan mata terkejut dengan kelakuan calon adik iparnya itu. Sementara Ino dibuat sweatdrop.

"Itachi-kun, apa yang kau lakukan pada Honoka?" Tanya Ino bingung.

"Aku tidak melakukan apapun." Itachi masih terkejut dengan kelakuan Honoka yang sekarang menciumi pipi putihnya.

Itulah cinta pertama Honoka. Empat tahun.

-FIN-