Hai Minna..
Sorry sudah lama vakum dari story Author semakin gak Pede dengan cerita gaje ini. Hehehe.. Takutnya kalo dilanjutin malah bikin ilfeel. Setelah baca ulang chap 1 n 2, Author jadi kayak kena serangan jantung #lebai. Lupakan.
Ga sadar di chap 2 punya janji tentang Ino Sai. Wokokoko beranisekali ini author main janji. Well sudah selayaknya author tepati.
Now,This time to reply our reviewer..
Rhein98 : Apa ya? Coba simak chap ini ya..
Leinaden13 : Hehe Inojin gitu lohh ;)
Bayangan Semu : Terimakasih #kedipkedip
Lmlsn : Haha rahasia doonk.. Bisa Hima, Bisa Sara, Bisa juga Chocho.. Hehe makasih.. Iya typo memang masih belum sempat dirapikan.
EmikoRyuuzaki-chan : Haha ga kebayang Sai mesum.. Tapi boleh dicoba.. Hehe
SaiinoLoverSajalah : Oke Lanjutt
Gevannysepta : Maaf baru update. WB melanda. Hahah
Nyonya Besar Gaara : Hehe iya, gegara gak nemu pair Yamanaka fam akhirnya nulis sendiri deh.. Hehe makasih sudah mau mampir
Guest : Waduuuhh,, diingetin itu jadiii... #mimisan
LadyHanabi : Haha emang Sai itu err... Ah sudahlah..
Ino suka saat-saat dirinya merasa menjadi seorang Ratu. Yah, di rumahnya dia memang seorang Ratu kan?
Ino kembali berkutat dengan tanaman bunganya yang tumbuh subur di taman Villa keluarga Yamanaka. Sedangkan kedua lelaki Yamanaka?
Ah, rupanya mereka masih berada dibagian depan Villa membereskan kerusakan akibat pertempuran mereka tadi.
"Ugh, Touchan", keluh Inojin sambil memanyunkan bibirnya. Tangan mungilnya memegang sapu lidi sambil menggerak-gerakkan sapu itu beraturan. "Katanya tadi boleh berbuat sesuka kita, sekarang malah di hukum".
"Hm, ya, kau benar Inojin", gumam Sai mengiyakan. Dirinya yang sedang terduduk di teras sambil mengawasi Inojin menyapu kini sedang mencoba berpikir untuk membalas perbuatan istrinya.
"Apa kau senang dengan pertarungan kita tadi?", tanya Sai menatap Inojin dengan pandangan yang sulit Inojin artikan.
"Tentu saja", jawab Inojin bersemangat. "Aku bangga bisa menjadi lawan yang sebanding bagi Touchan. Tidak lagi iri pada kemampuan Boruto yang juga bisa mengimbangi Tousannya. Tidak juga iri pada Shikadai yang sejenius paman Shikamaru. Yang pasti, hari ini aku senang sekali karena pertarungan kita tadi", tutur Inojin mengebu-gebu sambil meraih kantong plastik tempat wadah beberapa tanaman yang hancur terkena efek justu mereka tadi.
"Hm, kau benar. Touchan juga senang melihatmu bisa sehebat itu", gumamnya tetap pada posisi berpikir.
"Apa kau merasa Kaasanmu menghukum dengan adil?".
Inojin berhenti sejenak. Matanya mengernyit. Apa hukuman membersihkan bekas pertarungan mereka cukup adil? Sepertinya iya. Tapi yang tidak adil itu...
"Yang tidak adil itu Touchan yang sedari tadi hanya duduk", sembur Inojin sambil mengarahkan kayu pegangan sapunya ke arah Sai.
"Hei-hei, hentikan Inojin", cegah Sai yang menerima serangan dari Inojin berkali-kali.
"Hahaha.. Rasakan itu", tawa Inojin mengiringi pukulannya yang beberapa kali mengenai pantat dan lengan sang ayah.
"Itaaii,, hentikan Inojin",teriak Sai mulai berdiri dan menjauhkan diri dari putranya yang kini tertawa-tawa sambil mengejarnya sembari memukul-mukulkan pegangan sapu yang dipegangnya.
"Haha.. Rasakan.. Rasakan.. Rasa.. Itaiii", Inojin merasa kepalanya terantuk sesuatu. Dasar ayahnya menyebalkan! Sai kini berada diatas pohon, nangkring dengan tidak elit sambil memeletkan lidah ke arah Inojin yang kini sedang mengelus jidatnya yang terantuk batang pohon.
"Sudahlah Inojin, hentikan pukulanmu. Kita buat perhitungan dulu dengan Kaasanmu", bujuk Sai berusaha mengalihkan perhatian Inojin.
Uh, sungguh sial nasib Inojin kecil. Kedua orang tuanya benar-benar suka membullynya.
"Aahh,, Kaasan dan Touchan sama saja", teriak Inojin kencang. "Aku mau pulaaaaang. Aku mau pulaaaang, Touchan. Aku mau pulang sajaaaa".
EHHH... Sai langsung meloncat turun dan mendarat mulus diatas tanah. Tangannya yang sedikit kotor mengusap-usap kepala bocah kesayangannya yang sedang histeris.
"Hei, Jagoan", ujar Sai mencoba membujuk Inojin. "Ayo bermain. Kita jauh-jauh datang kesini. Jangan menangis".
"Aku tidak menangis", elak Inojin sambil menyembunyikan setitik air mata yang lolos dari pertahanannya. "Aku sebal dengan kalian. Aku mau pulang. Aku mau main sama teman-temanku".
"Kau sendiri bilang teman-temanmu sedang liburan jauh kan?", tanya Sai sambil menyunggingkan senyumnya.
"Eto.. Ah Benar", jawabnya murung. "Kalau begitu buat kan aku adik. Aku tidak mau main sama Touchan dan Kaachan. Kalian hanya membullyku".
Seringaian muncul diwajah Sai. Adik yaa? Hoho.. Bukan ide yang buruk.
"Wah, kau membuat Touchan harus bekerja keras malam ini", seru Sai dengan senyuman lebar. "Baiklah, mari kita bereskan yang tadi dulu. Supaya Touchan bisa cepat-cepat memberikanmu seorang adik".
Inojin tersenyum tak kalah lebarnya. Ah, asyiiikk akhirnya ada anggota lain yang bisa ia bully. Kehkehkeh..., batinnya.
"Kau lelah Ino?", tanya Sai ketika Ino mulai merebahkan tubuh diatas ranjang mereka.
"Tentu saja, kau pikir mudah merawat tanaman sebanyak itu?", tutur Ino sedikit sewot mengingat insiden pertarungan kedua lelakinya tadi siang.
"Kau masih marah?", tanya Sai ikut berbaring disamping Ino.
"Masih tanya?", sahut Ino judes.
Well, kalau keadaannya seperti ini rencana Sai memberi adik Inojin dalam waktu dekat bisa gagal. Baiklah, Sai akan berusaha sekali lagi. Menurut Naruto, perempuan itu lebih mudah ditakhlukan dengan rayuan manis. Yah, sepertinya ini waktu yang tepat untuk mencobanya.
"Kau tau, kau semakin cantik memakai gaun tidurmu yang berwarna ungu muda ini. Aku selalu suka ketika kau mengenakannya. Terlihat seksi", bisik Sai tepat ditelinga Ino.
Ino sedikit merinding mendapati udara terhembus dari mulut Sai saat mengucapkan kata-kata yang romantis menyentuh ke dalam telinganya.
"Uh, Sai-kun, kau bisa saja", cicit Ino mulai merona.
Yes, batin Sai semangat. Sedikit lagi, Sai!
"Kau tau, Sayang", bujuk Sai lagi. "Pipimu yang merona itu membuatku selalu tidak tahan untuk menciummu".
Sai segera mendekatkan wajahnya ke arah Ino yang disambut pelukan hangat dari sang wanita.
Suara desahan memenuhi ruangan kamar itu. Ya, akhirnya ya Sai keinginanmu membuatkan adik untuk Inojin bisa terpenuhi.. Hehe.. "Author Ganggu", hardik Ino dan Sai berbarengan.
"Heh,, oke-okehh,, kubuat kalian iri saat malam pertamaku nanti", ujar Author sedikit curcol. Ah, lupakan.
Inojin menguap beberapa kali. Kakinya menggantung diatas salah satu tempat duduk meja makan yang masih kosong. Kemana Touchan dan Kaachannya yaa?
Ada yang tau?
Beberapa menit terantuk-antuk dimeja makan, Inojin dikejutkan suara desisan dari arah dapur. Touchannya masih mengenakan piama berdiri sambil memegangi penggorengan. Inojin melongok sekilas. Ah, Touchannya sedang membuat nasi Goreng rupanya.
Salah satu menu favorit mereka berdua.
"Kaachan mana?", tanya Inojin sambil menoleh ke arah Sai.
"Masih tidur. Semalam Kaachanmu tidak tidur", ujar Sai sambil meraih sebuah piring kosong.
"Kenapa tidak tidur?", tanya Inojin bingun sembari menerima uluran piring yang kini telah terisi nasi goreng dari ayahnya.
"Kau kan minta adik. Jadi ya Kaasanmu tidak boleh tidur", jawab Sai santai sambil mengisi piringnya sendiri dengan seporsi penuh nasi goreng. Tenaganya benar-benar membutuhkan asupan makanan setelah tadi malam dipakai semalaman.
"Jadi harus begadang ya?", tanya Inojin masih tetap mengerutkan dahi tanda tidak paham.
"Begitulah", jawaban ambigu Sai yang diiringi seringaian lebar membuat Inojin bungkam. Jika dilanjutkan, Inojin merasa bakal malu sendiri. Ia tau betul peringai sang ayah. Haha..
TBC or Not?
.
Like
.
Comment
