Cast :

Kikwang Beast as Kim Kikwang

Jang Hyunseung Beast as yoeja

Dojoon Beast as Kim Dojoon

Junhyung Beast

Yunho TVXQ as Jung Yunho

Kim Jaejoong TVXQ as yoeja

Genre : Romance dan Humor (gagal)

Rate : T

Author : Ayy88fish

Warning : Gender bender dan Shounen-ai. Pengennya sih yaoi, tapi gak sanggup u,u

Disclaimer : Cast semua milik Tuhan. Beast milik CUBE Ent dan Beauty. Dongwoon milik saya -*NGEK* dicekek massal-

Part 3 persembahan Ayya. Maaf kalo cast-nya nambah. Soalnya ini emang udah di set keluarga besar Kiki dapet peran semua *maksa*. Terima kasih untuk yang sudah mau mampir dan meluangkan waktu untuk membaca bahkan memberi kritik serta saran. Ditunggu komentar selanjutnya.

Selamat menikmati ^^

Semoga suka.

.

.

.

"Hai. Sudah lama?" sapa namja berambut blonde yang baru memasuki lapangan. Mengambil posisi di sebelah namja yang tengah membetulkan tali sepatunya. Mereka berada di pinggir sebuah lapangan sepak bola. Selain mereka ada 10 orang lain yang mengenakan seragam serupa dengan mereka. Dan selusin lainnya juga berpakaian seragam namun berbeda dengan milik kedua namja tadi. Rencananya, dua tim itu akan mengadakan pertandingan sepak bola. Hanya permainan persahabatan antar perusahaan. Having fun. Itu intinya. Cuaca cerah menambah semangat para pemain yang akan bertanding.

"Belum. Aku juga baru datang."

"Lima belas menit lagi pertandingan dimulai. Kalian cepatlah bersiap." Seorang namja yang didaulat menjadi kapten tim biru memberi titah pada teman-temannya.

"Ne, hyung." Jawab mereka serempak.

.

.

.

Nafas Dojoon terengah-engah. Langkahnya sedikit lambat menuju pinggir lapangan. Pertandingan baru saja selesai. Menghasilkan skor 2-3 dengan tim merah pemenangnya. Memang tidak ada hadiah ataupun trophy bagi mereka yang menang, tapi kepuasan batin dan otot yang meregang, itu yang menjadi keinginan sesungguhnya.

"Ini, minumlah." Seseorang menyodorkan sebotol air mineral yang sudah terbuka tutupnya pada Dojoon.

"Gomawo."

"Setelah ini, kau ada acara tidak?"

"Tidak ada. Kenapa?"

"Ani. Aku ingin mengajakmu makan malam. Kau mau?"

"Haha.. Tumben sekali."

"Ya! Tidak selamanya kan aku ini pelit." Oke. Namja yang sedang berbincang dengan Dojoon saat ini memang teman sekolahnya sejak Junior High School, jadi mereka sudah sangat mengenal kepribadian sahabat masing-masing. Juga kebiasaan-kebiasaan yang hanya menjadi konsumsi pribadi. Termasuk 'pelit' yang diucapkan sang sahabat sebelumnya.

"Ani. Tapi tidak biasanya kau begini."

"Mau atau tidak?"

"Oke. Mana mungkin aku menolak yang namanya gratisan kan? Haha.."

"Aish.. Kau ini." Sebuah kepalan tangan mengenai lengan Dojoon. Tidak keras. Tapi cukup mampu membuat namja itu memiringkan badannya.

"Memangnya ada yang istimewa, Junhyung ah?"

"Eum.. Aku belum berterima kasih padamu. Berkat kau, aku jadi mendapat pekerjaan yang selama ini aku idam-idamkan?"

"Kau sudah mengatakannya berulang kali."

"Tapi aku ingin mentraktirmu dengan gajiku sendiri. Gaji keempatku. Kau masih tidak mau? Kau sudah termasuk orang spesial ku lho."

"Gaji keempat. Memangnya gajimu yang lain kemana?"

"Aku sama sekali belum menggunakan uang hasil kerjaku. Gaji pertama untuk umma. Gaji kedua untuk appa. Dan gaji ketiga adalah milik Yoseob. Dan sekarang aku ingin merasakan gaji keempatku bersama sahabat baikku, apa itu salah?" Dojoon tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Junhyung.

"Ya! Apa yang salah?" Dojoon masih saja tertawa.

"Ya! Kenapa masih tertawa? Apa yang salah? Ya!"

"Ani.. Ani.." nafas Dojoon kembali terengah-engah. Bukan karena habis berlari seperti sebelumnya, tapi karena tawa yang tak kunjung henti dari bibirnya.

"Huft.. Mianhae. Aku terlalu kaget dengan sikapmu. Bahkan appamu juga…"

"Walaupun hubunganku dengan appa tiriku tidak begitu akrab, tapi melihat dia menjaga umma ku dengan begitu baik, setidaknya itu jadi alasanku untuk menghormatinya." Potong Junhyung.

"Arraso. Mian aku menertawakanmu. Habisnya, biasanya kau kan frontal. Jadi melihat sikapmu yang begini rasanya sedikit aneh."

"Jangan mulai lagi." Sergah Junhyung.

"Oke. Oke. Baiklah. Setelah ini kita pergi. Oh ya, siapa saja yang kau undang?"

"Tidak ada. Hanya kau saja. kau tidak lupa kan kalau temanku itu hanya dirimu?"

"Ne. Ne. Aku mengerti. Jam 6 aku ke rumahmu."

"Ani, biar aku saja yang kerumahmu. Sudah lama aku tidak kesana. Aku merindukan halmoni."

"Baiklah."

.

.

.

Seorang namja tampan tengah berguling-guling di depan TV. Kedua tangannya digunakan untuk memeluk perutnya. Oh, jangan lupakan wajah memelas yang sayangnya tidak akan membuat orang mengasihaninya. Kenapa? Karena itu tidak cocok dengan otot-otot dilengan dan perutnya, sehingga memperlihatkan abs kotak-kotak yang terlihat karena kaosnya yang tersingkap. Belum lagi wajahnya yang cool itu.

"Noona… Kenapa rumah sepi sekali? Aku lapar. Apa ada sesuatu yang bisa ku makan?" Kikwang berhasil menghentikan langkah sang kakak yang baru saja mau masuk kamar. Habis mandi.

"Mandi sana."

"Memangnya mandi bisa menghilangkan laparku?" jawab Kikwang tanpa menoleh si penanya.

"Ya sudah, tidur." Jawab noona nya dari dalam kamar.

"Ya! Noona… Kenapa kau kejam sekali padaku? Ayolah masakkan sesuatu untukku. Apa tidak kasihan melihat adikmu yang tampan ini kelaparan?"

"Hum? Tampan? Darimananya?" kini wajah sang kakak sudah tepat berada di depan wajahnya. Tangan Jaaejoong meraih wajah Kikwang lalu menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri. Seperti berusaha menemukan sesuatu. Sedangkan Kikwang, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Merasa ada yang salah pada sang noona.

"Hm.. Sebaiknya kau minta saja kekasihmu memasak untukmu."

"Mwo?" Kikwang bangun dari aksi bergulingnya. Duduk di hadapan sang kakak.

"Iya, minta saja Hyunseung memasak sesuatu untukmu. Kau mengeluh lapar kan dari tadi?"

"Tapi, noona.. Kau tahu kan aku dan dia tidak punya hubungan apapun. Aku tidak bisa seenaknya meminta dia masak untuk ku. Lagipula mana mungkin dia kesini. Seperti orang kurang kerjaan saja." hanya jeda tiga detik setelah kalimat tadi meluncur dari bibir Kikwang, tiba-tiba

"Permisi." Seorang yoeja berteriak dari luar pagar keluarga Kim.

"Nah, itu si orang kurang kerjaan datang. Minta makan saja dengannya ya sayang." Jaejoong menepuk-nepuk kepala sang adik dengan pelan. Beranjak menuju pintu pagar. Meninggalkan Kikwang yang menganga lebar.

"Wow. Seharusnya noona kuliah di metafisika saja bukan di kedokteran."

"Tapi, memangnya ada ya jurusan metafisika?" Oo. Sepertinya kita harus melihat ke-tulait-an Kikwang lagi.

"Masuk saja. Tapi sayang umma, appa dan halmoni sedang berkunjung ke rumah paman. Kalau tahu kau kesini, mereka pasti senang."

"Ani. Aku hanya mau mengantarkan baju ini. Terima kasih sudah meminjamkannya oenni."

"Hey, tuan rumah sudah mempersilahkanmu untuk singgah. Apa sopan jika kau menolak tawaran ku? Aku jarang bersikap baik lho."

Kikwang melangkahkan kakinya keluar rumah. Dua yoeja cantik tengah berbincang di depan pintu pagar. Salah satu dari mereka membawa kantung karton. Hyunseung masih menolak untuk masuk walaupun sekarang dia sudah berdiri di halaman rumah teman sekelasnya.

"Hai. Sudah lama?" Kikwang mencari perhatian kedua yoeja cantik tak jauh dari tempatnya berdiri. Bertanya seolah-olah tak tahu apa yang tengah dibicarakan Hyunseung dengan noona nya. Merasa pertanyaan itu ditujukan untuknya, Hyunseung pun tersenyum lalu menjawab

"Ani. Baru saja."

"Oh. Masuklah. Ada apa memangnya? Kau mencariku?" 'sedikit narsis tak apa kan?' batin Kikwang.

"Ani. Aku hanya ingin mengembalikan baju Jaejoong oenni."

Puft.. Jaejoong menutup mulutnya dengan punggung tangan. Menahan tawa. Kikwang sendiri sudah memalingkan muka. Menutupi wajah kecewanya dari sang gadis. Ya, dia kecewa meskipun dia sendiri tidak yakin karena apa.

"Permisi.." kali ini suara seorang namja yang terdengar dari balik pagar. Ketiganya serempak menoleh ke arah sumber suara. Jaejoong yang berdiri paling dekat berinisiatif untuk melihat siapa yang datang. Meninggalkan Hyunseung dan Kikwang yang saling tersenyum canggung.

"Ya! Kenapa tidak memberi tahu dulu kalau mau singgah?!" itu suara Jaejoong. Kikwang bergegas menuju pagar, khawatir sesuatu yang buruk menimpa noona nya. Tapi langkahnya terhenti ketika Jaejoong masuk dengan seorang namja tinggi di sebelahnya. Mereka membawa kantong karton yang diyakini Kikwang berisi makanan.

'Ah, kau selamat perutku sayang.' Pasti tahu kan suara hati itu milik siapa?

"Annyeong haseo.." sapa namja tersebut ramah.

"Annyeong haseo." Jawab Hyunseung dan Kikwang serempak.

"Yunho imnida. Namja.. Aw.." perkenalan Yunho harus terhenti karena kakinya yang diinjak sangat keras oleh Jaejoong.

"Teman sekelasku. Sama seperti kalian. Ya. Teman sekelas."

"Noona, namja ini kan sedang memperkenalkan dirinya. Kenapa malah kau potong begitu? Mencurigakan."

"Ah, tidak apa-apa. Um.. Kau Kikwang kan?" Yunho mengulurkan tangannya pada Kikwang. Kikwang menyambutnya dengan ragu.

"Bagaimana kau bisa tahu nama ku?"

"Mudah saja. Mungil, berotot tapi imut. Berantakan tapi menggemaskan." Kikwang hanya bisa melongo mendengar jawaban yang dilontarkan Yunho. Oh, jangan lupakan wajahnya yang memasang senyum malaikat itu. Innocent. Seolah-olah apa yang baru saja diucapkannya itu tak punya pengaruh apapun terhadap si penanya. Hyunseung dan Jaejoong menahan tawa mereka dengan menarik nafas dalam-dalam.

"Ehem. Hyunseung, maukan kau membantu oenni memasak? Dari tadi pagi ada seorang manusia kelaparan yang merengek-rengek minta makan. Kajja." Jaejoong menarik tangan Hyunseung menuju dapur. Menghindari amukan sang adik yang pastinya tengah kesal setengah mati.

"Ya! Noona! Apa yang kau ceritakan pada namja berwajah bodoh ini?! Ya! Jangan lari kau noona!" Kikwang berjalan menuju dapur. Meminta penjelasan atas kejadian tadi. Meninggalkan Yunho yang masih diam di tempatnya.

"Kenapa aku tidak dipersilahkan masuk? Aish.. Kau tega sekali sih, Boo." Yunho mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya. Menekan-nekan beberapa kali layar touch screen di tangannya. Kemudian men-dial sebuah nomor.

"Apa aku boleh masuk? Aku capek berdiri di luar begini…"

"DASAR TUAN MUDA MANJA. MASUK SAJA, PABO!" teriakan Jaejoong memaksa semua orang yang berada di dalam rumah menutup telinga mereka.

.

.

.

TBC

.

.

Ayy lagi sedih. Laptop ayy rusak dan harus masuk bengkel. Endingnya, HD mesti diganti padahal itu semua datanya gak pernah diback up. Huaaaaa... semua file TVXQ ama B2ST ilang. Kerjaan. Foto2. Semuanya. FF juga. jadinya rada males ngelanjutinnya.

Btw, Lee bales PM ayy dong.

Gomawo buat yang udah singgah ^^