Falling to You

Pairing : HoMin / YunJae / slight YooSu

Rate : M

Length : 3 of ?

Warn : baca deh..*senyum gaje*

Setelah SMTOWN berakhir, semua kembali ke rutinitas.

Shooting lagi, pemotretan lagi, dan lain-lain. Kalian tahulah..

Mereka baru tiba di Jepang. Ada sebuah apartemen juga disini. Sejak TVXQ debut, mereka menerima banyak cinta dari Jepang. Jepang seperti rumah kedua.

Yunho membongkar kopernya. Scarf bunga-bunga tersembul dari selipan risleting kopernya. Ahh.. itu kan titipan adiknya? Pantas saja kemarin waktu pulang ke rumah keluarganya dia merasa scarf yang dibawanya kurang satu. Disini rupanya.

Changmin memasak ramen instan. Dia melihat Yunho berjalan kearah kulkas dari sudut matanya. Changmin secara otomatis fokus memandang uap air dihadapannya. Hubungan mereka jadi aneh sejak malam itu.

"aku titip satu ya Min.." Yunho menyodorkan satu bungkus ramen kepada Changmin.

"ya" jawab Changmin singkat.

Hening saat makan. Apartemen ini hanya berisi mereka berdua. Dan kini mereka terjebak pada pikiran masing-masing. Nice.

Changmin bersiap tidur saat Yunho mengetuk pintu kamarnya.

"ada apa?" ucap Changmin saat membuka pintu.

"Min.. aku minta maaf. Waktu itu kau mabuk, tapi aku tidak. Aku yang bersalah dalam hal ini"

Changmin menatap pria itu. Dapat dilihatnya Yunho sempat menelan ludahnya. Lucu melihatnya. Leadernya harap-harap cemas menunggu jawabannya.

"jangan dibahas lagi ya" Changmin tersenyum simpul dan menutup pintu kamarnya.

Yunho menghela napas lega.

Masalah selesai.

Tapi, apa benar sudah selesai?

.

.

.

Seorang sahabat mengajak Yunho mampir ke ski resort-nya. Tempatnya bagus. Ada pemandian air panas juga disana. Yunho penggila ski. Jelas saja tidak menolak. Jadwal Jepang dimulai minggu depan. Libur seminggu harus dimanfaatkan, bukan?

Tuhan pasti sangat menyayangiku, pikir Yunho. Peruntungannya sangat bagus. Changmin tidak marah. Libur satu minggu. Dan jangan lupakan ski dan air panas..

Yunho menyeringai. You're the best Jung Yunho! Jeritnya dalam hati. Karena Changmin telah begitu baik, tentu saja dia akan mengajak maknae-nya itu. Changmin memang tidak suka ski, tapi setidaknya kan dia bisa jalan-jalan di resort. Daripada bengong di apartemen.

Udara dingin langsung membelai kulit wajah Changmin. Benar kata Yunho, tempatnya bagus. Restorannya terlihat menggiurkan. Ada berbagai macam hidangan favorit Changmin disajikan. Yahh.. tidak buruklah menghabiskan satu minggu disini.

Changmin merendamkan dirinya. Setelah puas makan sampai sekenyang-kenyangnya, dia memutuskan untuk berendam. Uap-uap air membuat wajahnya berkeringat. Seperti di-steam. Ada beberapa orang yang juga berendam disini. Laki-laki semua sih. Baguslah, sepertinya tidak ada yang mengenalinya. Agak malas kan kalau kau lagi asyik berendam namun tiba-tiba ada yang minta tanda tangan?

Changmin yang sentimental tentu sangat menyukai ini. Di tempat yang nyaman. Hanya ada dia dan pikirannya.

Yunho baru pulang dari main ski. Sudah malam sih memang. Habisnya tadi dia diajak makan dulu sama temannya. Mau ajak Changmin, tapi kata pegawai restoran bocah rakus itu sudah makan jam 8 tadi. Yunho menjejak-jejakkan sepatunya ke lantai. Sudah kebiasaan. Kalau masuk rumah, sebelum melepas sepatu selalu ada semacam ritual begitu.

"kotor hyung!"protes Changmin.

Yunho sedikit kaget.

"kau belum tidur Min?" matanya tertuju pada buku yang dipegang Changmin.

Setelah melepas sepatunya, Yunho bergegas ke kamar mandi. Sudah terlambat untuk ke pemandian air panas. Terlalu capek. Lebih baik kayak biasa. Pakai shower.

Sampai hari ketiga, kegiatannya kurang lebih sama. Yunho sibuk ski. Changmin sibuk berendam(?). Hingga akhirnya, Yunho dengan cerdasnya menyeret Changmin untuk bermain ski.

"main saja sendiri. Aku tidak hobi yang begitu" keluh Changmin.

"tenang.. nanti aku ajari" yakin Yunho.

Changmin menatapnya ragu. Tapi ya sudahlah. Sekali-kali..

.

.

.

Changmin benar-benar ingin mencekik Yunho malam ini. Pinggangnya, bahunya, kakinya.. semuanya sakit karena terjatuh berkali-kali tadi siang. Dia menyalahkan lelaki sialan di depannya. Katanya master ski.. kok ngajarin orang sampai kepleset-pleset terus?

"maaf Min. hehe.." cengiran Yunho dibalas tinjuan pada lengan kanannya.

"berhenti tertawa. Seperti orang bodoh saja" Changmin mengeluarkan deathglare andalannya.

Yunho menatapnya ngeri. Daripada ditonjok, lebih baik dia mengambil pain relief patch alias koyo untuk Changmin.

"tempelkan ditengah punggungku" perintah Changmin.

Yunho menurut.

Tubuh Yunho menegang saat melihat sebuah bekas cakaran di punggung Changmin. Tidak banyak. Hanya satu gores. Karena tidak sengaja. Yunho tahu pasti. Karena itu bekas kukunya.

Changmin membalikkan badannya. Kini dia berhadapan langsung dengan Yunho.

"kenapa?" ucap Changmin.

Yunho masih terdiam. Bingung mau menjawab apa. Sebenarnya makin terdiam saat melihat Changmin. Mereka berhadapan. Diatas ranjang. Dengan Changmin yang bertelanjang dada.

Ini sangat berbahaya.

Kenapa lagi pria bodoh ini? Changmin benar-benar salut pada Yunho. Semestinya saat main drama, dia jadi orang idiot saja. Soalnya dengan bengong begitu saja, sudah sangat menjiwai ekspresi bodohnya.

Changmin berupaya menarik koyo di tangan Yunho.

"Sini, biar aku tempel sendiri! Aku bisa masuk angin kalau lama-lama tidak pakai.. baju.." Changmin baru menyadari saat mengucapkan kata terakhir dari kalimatnya.

Astaga. Tidak ada yang salah kalau mereka adalah dua pria normal yang straight. Masalahnya, mereka tidak. Dan fakta bahwa mereka pernah mengalami malam penuh gairah, itu benar-benar tidak membantu.

Oke Yunho bersikaplah biasa. Dia hanya si evil Shim Changmin.

Tahan.. tahan.. tahan..

sementara Yunho sibuk dengan sugesti positifnya, Changmin sibuk dengan hal lainnya.

Shit! Bajuku tadi dimana ya?

Ah. Di bokong Yunho ternyata. Pasti terduduk karena tadi dia melepasnya asal.

"hyung minggir! Bajuku.." Changmin sedikit menunduk menarik bajunya yang diduduki Yunho.

"ah i.. iya!" jawab Yunho tergagap sambil sedikit menggeser tubuhnya.

Sial! Jarak bibirnya dan leher bocah itu terlalu dekat. Yunho sangat berupaya agar menahan napas. Crap. Satu hembusan lolos.

Changmin bergidik. Dia merasakan udara hangat itu. Reflek dia mengangkat wajahnya. Untuk disesalinya di detik kemudian.

Idiot kau Shim Changmin!

Mata bertemu mata.

Dan bibir.. memilih untuk untuk menemui lawannya.

Peluh itu membuat tubuh mereka mengkilat. Tidak masuk akal, padahal udara dingin dan kaos mereka telah terlempar entah dimana. Kali ini Yunho lebih berani. Menyesap dan membuat tanda. Mulai posesif sepertinya? Dia membalikkan tubuh Changmin. Yunho tidak ingin bekerja sendiri malam ini. Pria diatasnya harus membalas apa yang diberinya.

Changmin juga tidak seperti terakhir kali mereka bermain. Dia cepat belajar sepertinya. Dia berhasil membuat Yunho melenguh nikmat. Mereka sama-sama mencari kepuasannya sendiri. Sangat egois pada awalnya. Namun tetap saja, Yunho yang membimbing alurnya.

Mata Changmin terpejam erat saat hujaman itu tepat pada ekspektasi terbesarnya. Dia menjambak rambut Yunho. Bukan untuk menyuruhnya berhenti seperti waktu itu, namun menuntutnya agar melakukannya lebih dalam dan lebih lama. Yunho cukup mengapresiasi apa yang dilakukan lawannya. Apalagi melihat ekspresi Changmin. Lenguhan keras Changmin seperti nyanyian terindah yang didengarnya.

Lelaki itu terengah-engah. Namun tidak menyerah saat menghadapi kesayangan Yunho. Benda itu menantang si maknae untuk membuatnya keluar. Dan secara mengejutkan, Changmin melakukannya. Dengan senang hati nampaknya.

Dalam satu tarikan napas.

"eunghhhh" Yunho tersenyum disela erangannya.

Good boy! Dielusnya kepala Changmin pelan. Memberi apresiasi.

Sepercik rasa bangga ada di benak Changmin. Dia berhasil membalas pria dihadapannya. Tidak ada yang kecewa malam ini. Mereka sama-sama terpuaskan.

"Yunhhoo..!"

"Minnhhh..!"

Mereka meneriakkan nama masing-masing. Ini klimaksnya.

Setengah jam berselang..

Mereka sangat lelah. Tentu saja. Tapi niat untuk tidur sepertinya tidak cukup kuat untuk memerintahkan mata agar terpejam. Kedua orang ini saling bertukar pandang. Saling memandang takjub. Padahal dari dalam diri keduanya telah menolak mentah-mentah kejadian malam di Paris berulang. Tapi mereka ternyata sama lemahnya. Mudah menyerah.

Yunho mengusap keringat di kening Changmin dengan tangannya.

Seulas senyum samar tergambar di wajah lelaki yang lebih muda.

Melihat itu Yunho ikut tersenyum. Dia beringsut mendekat, menyelipkan wajahnya dileher Changmin. Sibuk menggambar dengan bibirnya.

"eunghh. Hentikan Yunho.." Changmin buka suara. Tangannya memegang dagu pria itu. Mengarahkannya untuk menjauh dari lehernya.

Yunho memberi pandangan kecewa.

"ini gila" ucap changmin.

"aku tahu" yunho menjawab cepat.

Changmin terperanjat.

Suasana hening kembali mengisi ruang ini. Kebekuan yang yang janggal merayapi kulit telanjang mereka.

"Min…"

"…."

"waktu di Paris.. apa aku yang pertama bagimu?"

"…."

"yang tadi itu.. blowjob pertamamu kan?" Yunho menebak dengan penuh keyakinan. Seperti peramal cuaca yang menyuruh penonton menyiapkan payung karena hari akan hujan seharian.

Changmin menatap Yunho. Menelusuri lekuk wajah pria itu dengan cermat. Darahnya masih terasa berdesir. Efek permainan tadi sepertinya.

Pria di depannya ini. Hampir merebut semua kata pertama di usia dewasanya.

First oral..

First sex..

First blowjob..

Changmin menarik napasnya dalam-dalam sebelum dengan senang hati menjawab,

"fuck you! Jung Yunho.."

Yunho tersenyum lebar. Maknae evil-nya telah bertambah nakal dalam satu hal. Satu hal yang disukainya tentu saja.

Yunho sangat menyadari. Malam ini, mereka telah melompat ke jurang.

.

.

.

Tbc.

Hyaaaaaa… author mau sembunyi di balik pohoonnn.. *masih belum percaya bisa buat kelanjutan yg begini*

Review cyinnn.. review.. ^^

Lanjutannya mesti gimana ya? *pusing sendiri*

p.s. :thanks for reviews in Ch 2