Angin akan menunjukkan jalan kemana kamu harus pergi. Jangan biarkan masa lalu menghalangi jalanmu. Keajaiban yang kamu buat, menggantikan kisah kehidupan. Hati yang pernah berpisah pasti bertemu kembali. Kini sihir hati bekerja di seluruh dunia. Dikala bintang bersinar, kekuatan sihir saling bertemu. Dikala matahari menghangatkan bumi, berjalanlah mengikuti roda kehidupan.
.
.
.
.
.
.
.
Aturan Pertama: Cari Dan Temukan!
Penolakan:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Peringatan:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
The Rules
.
.
.
.
.
.
.
[Miku POV]
Tujuh tahun yang lalu sebuah surat misterius membawaku ke dalam permainan mengerikan. Kehidupan tenang yang kuimpikan selama ini harus kutunda sementara waktu karena aku harus menemukan sang putri dan menyelamatkannya. Itu rencana awalku sebelum sang putri di kabarkan meninggal dalam kebakaran besar. Kebakaran yang menewaskan puluhan orang. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menatap layar besar dihadapanku. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan seorang anak berumur 7 tahun yang ditinggal seorang diri di dalam rumah besar. Kupikir permainannya sudah berakhir bahkan sebelum aku memulai pencarian tersebut. Namun, perkiraan ku salah, tiba-tiba saja sensasi panas menyerang leherku, meninggalkan empat huruf. S-A-C-R.
Selang waktu tiga hari, dua orang bodoh datang menemuiku. Dua orang bodoh yang katanya memiliki tujuan sama denganku. Si shota jenius namun egois, Len Kamine dan kacamata es krim super idiot, Kaito Shion. Mereka berdua meyakinkanku kalau sang putri masih hidup di suatu tempat dan menunjukkan tanda yang sama denganku namun dengan huruf yang berbeda. Mereka bilang itu tanda bahwa sang Putri masih hidup. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka.
Dalam ruangan gelap tanpa cahaya, aku dipertemukan dengan tiga orang bodoh lainnya. Si eksentrik — SF-A2 Miki, si tukang pamer — Piko Utatane dan si idola narsis — Rei Kagene.
Kami semua dikumpulkan dalam keadaan kacau. Aku dalam balutan dress kotor dan robek di beberapa bagian, Miki dengan wajah sembabnya dan penuh debu, Len dengan pakaian mahalnya namun berselimut tanah gosong, Kaito dalam keadaan penuh lumpur, Piko dengan model rambut yang tak bisa di deskripsikan lagi (dia terus menundukkan kepalanya dan sebelah tangannya terus mengusap kepala Miki), lalu yang terakhir adalah Rei, dengan wajah kosongnya. Disana, dalam kesunyian yang panjang kami mendapatkan satu kesimpulan.
Hanya orang-orang terpilihlah yang mengalami kemalangan.
Kami semua mendapat surat yang sama dan isinya pun sama yaitu:
Tolong selamat sang Putri di Dataran Utara.
Dataran utara adalah tempat berkumpulnya penyihir penguasa api. Sekarang dataran itu sudah menjadi tanah kosong tak berpenghuni. Bagaimana sang Putri bisa selamat, itu masih menjadi misteri.
Kami semua sepakat untuk berkerja sama mencari keberadaan sang Putri dan menyimpannya sebagai rahasia kami berenam. Kami sengaja tidak memberitahukan keanehan ini pada pihak berwajib ataupun orang dewasa. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kami percaya. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin sedikit pula orang yang kami curigai. Dengan begitu, kami bisa bergerak bebas.
Kami memulai pencarian tak tentu arah ini bermodalkan harapan dan keberuntungan. Selain mencari keberataan sang Putri, kami pun mencari asal usul si pengirim surat. Surat itu berasal dari puluhan tahun yang lalu dan pengirimnya bernama Riliane Lucifen d'Autriche. Surat dari masa lalu yang meramalkan masa depan. Dia seorang Putri dalam cerita rakyat yang sudah lama dilupakan dan hanya orang berumur saja yang tahu.
Seperti yang kukatan di awal, surat yang kuterima tujuh tahun yang lalu membawaku ke dalam permainan mengerikan yaitu peperangan panjang melawan kegelapan. Keberadaan kami hanya akan menimbulkan bencana.
The Rules adalah segel kegelapan. Jika mereka bangkit maka kegelapan pun bangkit. Sang Putri Alam harus tetap tertidur. Selamanya.
Itu yang tertulis dalam ramalan zaman dulu.
Pihak kerajaan tahu banyak tentang ini. Mereka mengatur dengan baik semua proses pencegahan agar kejadian tujuh puluh tujuh tahun yang lalu tidak terulang lagi dan rakyat bisa hidup tenang dalam bayangan kegelapan. Upacara pembersihan yang diselenggarakan setiap tahun berkelipatan tujuh dikemas dalam bentuk festival pengusiran roh jahat. Cerita lama tersembunyi rapih dalam kegembiraan. Orang-orang zaman sekarang tidak tahu apa-apa maksud dari festival tersebut.
Memperkuat segel kegelapan dan menidurkan sang Putri Alam.
Yang mereka tahu hanya sebatas pengusiran roh jahat dan menyalakan kembang api lalu menari dibawah sinarnya. Di tahun ini mungkin festival itu tidak akan diselenggarakan. Seperti yang Kaito katakan, alam mulai mengabarkan keberadaan kami. Labirin dan para peri dipercaya sebagai pengganti pembawa pesan. Tempat ini akan jatuh kedalam kegelapan jika kami tidak melakukan sesuatu.
"Aku ingin tahu apa yang mereka cari di dalam labirin itu?" Tanya Piko yang sedang melihat pergerakan pasukan putih dari cermin besar yang ditaruh di lantai kayu. Di setiap sudut cermin terdapat cangkir teh milikku. Sihir melihat jarak jauh.
"Miki ingin keluar dan mencari Rinny~! Keluar~! Keluar~! Keluar~!" Rengek Miki manja sambil berguling-guling di lantai. Aku menutup hidungku. Dia membuat debu-debu disini berterbangan.
"Tenanglah, Miki. Mereka sebentar lagi kemari." Ucapku menahan batuk.
"Stt... ada yang datang." Peringat Rei. Kami semua terdiam dan mendengar suara gaduh di bawah kaki kami. Seseorang membuka pintu dengan kasar dan terdengar suara langkah kaki terseret diiringi berbagai macam umpatan tak bermoral.
"Jadi, ini maksudmu meminta kami bersembunyi disini." Seringai Rei dengan mata berkilat semangat melihat Len sedang menyeret paksa Rin dari celah lantai kayu. Aku menyeringai mengiyakan.
Perhitunganku tidak buruk juga. Aku sudah menduga kalau dia akan menculik Rin dan membawanya ke ruang musik tingkat atas. Jadi, aku meminta mereka bersembunyi di balik langit-langit ruangan tersebut.
"Miku, apa tidak sebaiknya kita keluar saja." Khawatir Kaito. Aku mendengus menertawakan kesetiannya pada Len.
"Tidak. Aku punya rencana dan aku jamin rencanaku lebih cepat membawa kita pada jawaban daripada penyelidikanmu itu, Kaito." Sahutku tenang sambil menyentuh permukaan cermin dan mengucapkan kata demi kata. Lingkaran sihir biru muda terbentuk. Pinggiran cermin mengeluarkan uap dingin.
"Kyaaaa~! Itu Rinny! Horeeeee~!" Seru Miki girang, menatap cermin dengan kilatan senang. Aku membagi penglihatan di cermin menjadi dua bagian. Satu untuk melihat pergerakan pasukan putih dan satu lagi pergerakan Len dan Rin. Mereka sepertinya sedang bertengkar.
"Sttt, pelankan suaramu, Miki. Nanti mereka bisa tahu kita sembunyi disini." Peringatku. Miki menurut dan mengunci mulutnya dalam satu anggukan.
"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Kaito masih dengan nada khawatirnya. Tanganku sudah gatal ingin melepas kacamatanya itu.
"Diamlah." Desisku tajam sambil memfokuskan pikiranku agar bisa mendengar suara di bawah sana.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku shota! Biarkan aku memukul mereka sekali saja!" Ronta Rin berusaha melepaskan diri dari cekalan Len. Memutar bola matanya bosan, Len membanting Rin ke tembok dan mengunci tangannya.
"Tenanglah, jeruk! Kau bisa celaka jika tertangkap mereka." Peringatnya. Biru langitnya sedikit mengintip dari balik tirai jendela ruang musik, mencoba melihat pasukan putih yang berkeliaran di lingkungan akademi. Sejauh ini, rencanaku masih berjalan dengan mulus. Len belum menyadari keberadaan kami. Dia satu-satunya orang yang patut ku waspadai. Caranya berpikir dan melihat sungguh aneh.
"Ayo, kita sapa mereka." Putusku tiba-tiba menumpahkan isi cangkir teh yang kupegang ke lantai. Airnya merembes melewati lantai kayu dan menetes keluar. Membasahi dua orang di bawah sana. Kaito melebarkan matanya kaget sedangkan Miki tersenyum sendu dalam dekapan Piko. Rei? Dia menikmati apa yang aku lakukan. Mengerjai Len adalah kesenangan tersendiri untuknya.
"Miku! Hentikan! Apa yang kau lakukan?!" Kejut Kaito melihat Len dan Rin tidak sadarkan diri dalam posisi saling berpelukan. Tanganku di cengkram olehnya.
"Sudah kubilang sebelumnya. Aku akan mendapatkan jawabannya." Jawabku seraya menepis tangannya dan menggeser pintu persegi empat di bawah kakiku lalu meloncat ke bawah. Kaito mengikuti ku dari belakang. Dia langsung mengambil posisi di hadapan target ku, menjadi tameng mereka. Wajahnya mengeras, menatapku tajam.
"Jangan harap kau bisa menyentuh mereka, Miku!"
Aku sudah menduga ini akan terjadi. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di pihak Len seperti bayangan.
"Kau tidak bisa menghalangiku, Kaito! Rei, lakukan tugasmu!"
Rei meloncat dari lubang persegi empat di langit-langit. Kaito tidak sempat merespon gerakan cepat Rei. Tanyannya sudah terikat rapih di belakang pungungnya. Aku sudah memberinya tali uap air beserta kuncinya. Itu sihir pengikat ku yang paling kuat.
"Miki! Bantu aku!" Teriak Kaito di sela usahanya melepaskan ikatan. Miki yang baru bergabung (meloncat turun), hanya diam dan menatap Kaito sendu. Kepalanya menggeleng pelan.
"Maaf, Kai-chan . Miki sudah ceritakan masa lalu Miki pada Mi-chan. Mi-chan dan R-chan berhak tahu siapa Lenny dan juga Rinny." Katanya lirih. Disampingnya Piko mengelus punggung Miki seperti sedang menguatkan.
Dia sekutu ku. Aku tidak akan melakukan ini jika Kaito tidak bersikap mencurigakan di rumah kaca tadi.
"Bagaimana Kaito? Apa kau ingin tetap melawanku? Aku bukan orang bodoh yang bisa kau bodohi. Kau melakukan penyeledikan itu bukan untuk mencari tahu apakah Rin sang putri atau bukan, ya kan? Yang kau cari tahu adalah apakah Rin orang yang kalian kenal dulu atau bukan. Benar-benar suatu kebetulan yang mengerikan. Orang yang kalian kenal dan kami cari adalah orang yang sama. Satu-satunya orang yang selamat dalam kebakaran itu." Jelasku membuatnya tersudut.
"Kau bahkan tahu sampai sejauh itu." Dia mendesah, matanya enggan melihatku. "Baik, akan aku ceritakan. Tapi, lepaskan mereka." Sepakatnya.
"Akan aku lepaskan Len. Tapi, tidak dengan Rin. Kita masih membutuhkannya." Kaito mengangguk setuju. Aku memberi kode pada Rei untuk melepaskan ikatannya.
"Lho? Kapan aku turun?! Bukankah tadi aku masih di atas? Dan apa yang terjadi pada mereka?! Apa kita diserang?" Panik Rei melihat sekeliling sambil meremas surai hitamnya. Dia sudah lepas dari kendaliku.
"Tenanglah." Kaito menepuk pundak Rei. "Kau tadi dalam pengaruh sihir Miku." Lanjutnya dan Rei langsung sembunyi di balik punggung Kaito, meminta perlindungan. Aku mendengus geli.
Kami mengambil posisi duduk melingkar di lantai kecuali si pengecut Rei. Dia duduk dekat Rin dan Len. Mengambil posisi aman.
"Len dan Rin. Mereka berdua adalah tanggung jawabku." Kaito memulai bercerita. Rei mengernyit bingung menatap punggung Kaito. "Aku diberi tugas untuk menjaga mereka."
"Tugas?" Tanyaku bingung. Kaito membenarkan kacamatanya lalu mengangguk pelan.
"Ya, aku sebenarnya adalah pengawal kepercayaan Kerajaan Crypton. Aku berasal dari The Future. King-sama dan Queen-sama tertarik pada kemampuanku lalu membawaku masuk istana. Saat itu aku berumur 6 tahun. Mereka memintaku untuk mejaga Len yang sering menyelinap keluar istana tanpa pengawalan."
"Tu-tunggu sebentar... kau bilang apa tadi? Istana? Pengawal? Len?" Aku menarik napas cukup panjang. "Apa hubungannya King-sama dan Queen-sama dengan Len?"
Kulihat Rei bersingut menjauhi Len, mengambil jarak. Kepalanya bolak balik menatap Kaito dan Len dengan mata bulatnya.
"Len melarangku mengatakan ini. Tapi, berbuhung keselamatannya sedang terancam, aku buat pengecualian." Kaito menggaruk belakang kepalanya. "Dia sebenarnya bukan Kamine. Nama sebenarnya adalah Len Kagamine. Dia pangeran sekaligus calon raja Kerajaan Crypton." Ucapnya tegas menatapku langsung. Kakiku rasanya mulai kesemutan. Apa kepalaku akan di penggal setelah membuat anak raja pingsan dan hampir ku jadikan sebagai boneka ku? Lucu sekali. Sebanyak apa mereka berbohong? Cih, rasanya aku ingin muntah sekaligus menamparnya.
"Kalau dia putra raja. Mengapa dia bisa ada disini?" Pangeran mana yang dibiarkan berkeliaran di luar istana? King-sama dan Queen-sama tidak akan mengizinkan satu-satunya penerus kerajaan dalam bahaya. Dunia luar istana tidak cocok dengan pangeran yang hanya tahu mengatur dan memerintah.
"Aku tidak memintamu untuk percaya padaku. Tapi, alasannya berada disini karena tunangannya juga ada disini—Rin Kagami."
Sungguh, aku akan membunuh Kaito jika dia berbohong. Aku menatap Miki, dia mengangguk. Air teh kesukaanku rasanya hambar.
"Baik, aku percaya."
"Terima kasih. Seperti yang kau katakan tadi, yang kami cari memang bukan putri alam melainkan tunangan Len yang dikabarkan meninggal. Biarpun begitu kami tetap peduli dengan putri alam sekalipun dia bukan Rin." Cepat-cepat Kaito menambahkan setelah melihat tanda-tanda aku akan melemparnya dengan teko. "Lagi pula, tunangan Len sangat peduli dengan nasib tempat ini. Len tidak mungkin mengambil resiko dibenci tunangannya sendiri."
Aku memutar bola mataku bosan dan memintanya melanjutkan cerita. Miki terkekeh pelan dengan suara merdunya melihat perang dingin diantara kami.
"Mereka bertunangan delapan tahun yang lalu. Aku menyaksikan sendiri pertunangan mereka. Sebagai pengawal, tentunya aku tahu bagaimana hubungan mereka sebelum bertunangan. Tidak jauh beda dengan sekarang." Dia meringis.
"Aku tidak tahu bagaimana awal pertemuan mereka. Yang pasti alasan Len menyelinap keluar istana adalah untuk bertemu dengannya. Semenjak aku menjadi pengawalnya, sedikit demi sedikit aku mulai paham, semua tindakan yang Len buat berdasarkan Rin. Dia selalu mendengarkan apapun yang Rin minta. Termasuk bersikap ramah pada banyak orang. Queen-sama dan King-sama tentunya sangat senang melihat perubahan sikap Len. Tapi, sayangnya itu tidak berlangsung lama. Awalnya aku tidak mengerti dengan kemarahan Len saat mendengar berita bahwa adik Rin meninggal. Namanya Ria Mizune, dia kembaran Rin."
Keningku mengernyit bingung dan Kaito menangkap perubahan ekspresiku. Dia diam melihat pegangan di cangkir teh ku sedikit menguat ketika mendengarnya menyebut nama bangsawan Mizune.
"Adik Rin? Mizune? Apa maksudmu? Ceritamu terlalu berbelit-belit, Kaito!"
Tiba-tiba saja dia berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati papan tulis. Mau apa dia? Lalu kembali membawa spidol di tangan kanannya dan mulai mencorat coret lantai.
"Dulu nama Rin bukan Rin Kagami tapi Rui Mizune. Dia punya adik kembaran, namanya Ria Mizune. Satu bulan setelah pertungan Len dan Rui, adiknya dikabarkan menghilang. Jika dalam tiga bulan tidak ditemukan maka dia dinyatakan meninggal." Aku mengangguk simpati melihat gambar jeleknya. Nilai seninya pasti di bawah rata-rata sampai-sampai gambarnya pun cuman lidi.
"Semenjak menghilangnya Ria, sikap Len mulai berubah atau bisa dibilang kembali ke awal bahkan lebih parah. Dia sering mengamuk tidak jelas dan menghilang entah kemana. Kemudian, kembali dalam keadaan kotor. Sebagai pengawalnya, aku tidak bisa mengikutinya, dia mengancamku akan bunuh diri jika aku tetap mengikutinya. Bahkan dia bertingkah semakin aneh di hari pemakaman Ria. Len memutuskan pertunangannya dengan Rui secara sepihak, membuat bangsawan Mizune marah dan menuntut banyak hal. Kupikir King-sama dan Queen-sama akan kecewa padanya. Namun, ternyata tidak, mereka hanya mengatakan kalau anaknya punya mata yang tajam dan tidak bisa di bohongi. Mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Len."
Tanpa sadar aku menyeringai senang membuat Kaito bergidik ngeri. Aku sependapat dengan Len. Dia membuat keputusan yang tepat. Aku melihat Miki membalas seringaiku. Rei dan Piko? Tidak perlu di tanya. Mereka akan tetap diam di zona aman. Mengunci mulut cerewet mereka. Keputusan yang paling bijak dari dua orang bodoh.
"Pertunangan mereka resmi dibatalkan dan Len mengurung diri selama sebulan di kamarnya. Aku terkejut saat dia keluar dari kamarnya langsung menantang King-sama berduel. Dia mengatakan ingin menjadi raja. Namun, sekali pun menang, Len tidak bisa menjadi raja tanpa pendaping. Itu syarat mutlak yang harus di penuhinya. Dia datang menemuiku dan mengatakan kalau dia akan pergi keluar istana untuk mencari Rui. Awalnya aku pikir Len sudah gila, mencari seseorang yang jelas-jelas ada. Dia bercerita banyak hal tentang Rui dan dirinya. Yang ini aku tidak bisa mengatakan pada kalian karena ini rahasia keturunan raja. Yang pasti Len tahu kalau Rui yang sekarang bukan Rui tunangannya melainkan Ria, adik Rui."
Aku meminum teh dalam satu tegukan kasar. Rasanya seperti mendengar cerita percintaan konyol penuh drama dan aku membenci bangsawan kotor seperti mereka. Miki memainkan jari-jarinya dengan malas. Disampingnya Piko menghembuskan napas beberapa kali dan Rei terduduk dengan kedua tangan menutup telinganya sambil bergumam 'aku tidak mau dengar'.
"Lanjutkan." Perintahku. Rei hendak protes dan aku melotot tajam, menyuruhnya untuk diam.
"Kami pergi ke berbagai tempat sekaligus melakukan penyelidikan terhadap bangsawan Mizune. Tapi, sayangnya kami tidak bisa menemukan apa pun. Keberadaan Rui atau sebut saja Rin dan alasanya menghilang seperti sudah tertata rapih. Suatu hari, kami tak sengaja mendengar seseorang sedang bercerita tentang seorang gadis dengan ciri-ciri seperti Rin. Kami pun sampai di dataran utara. Tapi, sepertinya kami terlambat, saat kami tiba disana dataran itu sudah rata dengan tanah. Dalam merahnya langit, dua surat misterius muncul di hadapan kami. Selanjutnya, kita berenam bertemu dan kalian tahu kelanjutan perjalanan kami." Tutup Kaito. Dia berdiri dan memisahkan Len dari Rin.
"Ya, kita percaya kalau Rin adalah sang putri alam yang terbakar di dataran utara dan nyawanya dalam bahaya. Sekarang aku juga tahu kalau dia adalah calon ratu kerajaan Crypton. Jadi, bagaimana kalau kita cari tahu saja kebenarannya sekarang?"
Aku menempatkan tangan kananku di kepala Rin. Kaito mengangguk setuju. Aku memejam mata.
"Air meresaplah jauh ke dalam hatinya. Jadilah bonekaku. Jawab semua pertanyaanku dan patuhi semua perintahku. Atas kuasa air dibawah garis cahaya. Aku, Miku Hatsune, membuka pintu gerbang SACRIFICE."
Bisa kurasakan, ukiran di leherku bercahaya kebiruan. Sebuah headphone bertengger manis di telingaku. Aku bergerak menjauh, melihat Rin mulai menampakkan biru cerahnya yang sekarang terlihat kosong. Ini bukan sihir biasa melainkan sihir kuno yang kudapat karena surat misterius itu. Aku bagian dari The Rules, pemegang kuasa air. Gerbang pengorbanan.
"Siapa namamu?" Tanyaku.
"Rin Kagami." Bagus, dia sudah menjadi boneka ku.
Kaito mengeluarkan sesuatu dari kantungnya yang selalu dia bawa kemana-mana lalu memberiku kode untuk melanjutkan. Aku melihat ke arah Miki, dia memberiku jari yang di bentuk seperti huruf 'v'. Artinya, dia baik-baik saja dan siap mendengarkan. Piko hanya memberiku cengiran bodohnya dan Rei, dia masih sibuk menutup telinganya. Tidak mau tenggelam dalam cerita rumah tangga istana. Dasar payah.
"Sekarang beritahu aku namamu sebelumnya dan dimana kau tinggal."
"Namaku sebelumnya Rin. Aku tinggal bersama seorang nenek baik hati di dataran utaran."
Dia sang putri. Kami mencari orang yang tepat. Miki mulai terisak bahagia dalam dekapan Piko. Sementara Rei dan Kaito tersenyum lega. Pencarian kami mencapai titik akhir.
"Bagaimana dengan nama pertama mu?"
"Rin." Kami semua terkejut. Apa maksudnya?
"Hah? Apa maksudmu? Bukankah nama pertamamu itu Rui Mizune?" Matanya mengerjap bingung dengan pandangan kosong.
"Data tidak ditemukan. Tidak ada nama pertama bernama Rui Mizune."
Tidak mungkin.
"Miku apa maksudnya data tidak ditemukan?" Tanya Kaito bingung disambut anggukan Miki yang sedang menahan isak tangisnya.
"Hanya ada dua kemungkinan jika data tidak ditemukan. Pertama, dia kehilangan ingatannya sebagai Rui Mizune. Kehilangan yang ku maksud disini adalah dicuri. Jika secara alami, alam bawah sadarnya akan merespon suaraku sekalipun dia amnesia. Kedua, Rin sendiri yang membuang ingatannya tentang Rui. Tapi, apa alasannya?" Jawabku.
"Saat pertama kali bertemu dengannya sebagai Rin, dia memang tidak mengenali kami. Rin melihat kami seperti orang asing." Kaito seperti membenarkan ucapanku.
Aku semakin yakin kalau ingatannya sengaja di manipulasi. Tapi, siapa yang melakukannya? Kalau saja Kaito tidak yakin Rin dan Rui adalah orang yang sama. Mungkin kami tidak akan tahu keganjilan ini.
"Apa mungkin ini ulah bangsawan Kagami? Bukankah memanipulasi ingatan seseorang adalah keahlian mereka." Pikirku.
"Tidak. Kagami memang ahli dalam melakukan itu. Tapi, hanya sebatas meng- copy , tidak sampai menghapus bahkan mencuri. Sebagai bangsawan tua, mereka patuh pada aturan. Mencuri ingatan setara dengan kejatahan tingkat satu."
Kaito benar. Kagami terlalu bersih untuk mengkotori nama keluarganya sendiri.
"Apa yang terjadi di dataran utara sebelum kebakaran itu terjadi? Dan bagaimana kau bisa selamat?" Tanyaku penasaran.
"Orang-orang berjubah biru datang mencariku. Saat itu aku sedang tidur dan nenek membangunkanku. Dia memintaku untuk pergi. Dia melawan mereka sendirian. Mereka bilang aku tidak boleh hidup. Keberadaanku di dunia ini adalah salah. Nenek melakukan sesuatu padaku dan aku terbangun di taman kosong. Aku tidak tahu apa yang terjadi, saat itu Luka- nee datang dan membawaku bersamannya."
Mataku menggelap. Aku mencengkram pundaknya dengan mata berkilat marah. "Siapa?! Siapa orang-orang berjubah biru itu?" Tanyaku tidak sabar. Ada kemungkinan mereka yang melakukannya.
"Kerajaan..."
"Mi- chan ! Gawat! Sesuatu sedang mendekat kemari!"
Tiba-tiba saja Miki dengan heboh menarik-narik tanganku. Dia memaksa kepalaku melihat sekeliling. Aku terkejut. Kami di selimuti pusaran angin yang bercampur dengan kelopak merah. Sejak kapan Piko mengunakan sihir kuno miliknya? Kuasa angin. Dia bisa mengatur angin sesukanya.
Miki bergerak panik sambil bergumam 'kyaaa~ kita diserang~' berulang kali, di telinganya sudah terpasang headphone orange.
"Kurasa ini bukan saatnya melakukan tanya jawab! Kegelapan mendekat!" Ucap Rei, buru-buru dia menjentrikan jarinya dan sebuah headphone hitam terpasang di telinganya.
"Miku!" Kaito memanggilku dengan nada peringatan. Mereka semua sudah siap bertarung. Kulihat di balik jendela pasukan putih satu persatu berubah menjadi patung. Kelopak merah berjatuhan dari langit seperti hujan darah. Terdengar suara pecahan kaca di beberapa tempat. Di luar sana, angin berhembus tajam, menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Jika Piko tidak melindungi kami dengan anginnya, mungkin kami bernasib sama seperti mereka. Angin itu mengandung racun seperti medusa.
"Lepas." Ucapku terpaksa melepas sihirku. Rin kembali tertidur. "Aku mengerti. Kita berpencar."
Miki, Piko dan Rei langsung menghilang. Mereka pergi menuju gedung tingkat menengah. Aku menggantikan Piko menghalau angin yang berhembus di area ini. Kaito memperkuat sihirku dan lindungan air yang kubuat pun menutupi satu gedung tingkat atas seperti mangkuk.
Sekitar 100 orang dalam gedung ini berubah menjadi patung. Angin yang bercampur aroma manis sudah mereda. Meninggalkan jejak kelopak bunga merah. Kelopak bunga ini mirip dengan kelopak bunga Poppy yang di bawa Miki tadi pagi. Ramalannya terbukti benar. Kini, keadaan sudah terkendali. Kaito mengambil kelopak merah itu satu dan menyimpannya dalam plastik transparan.
"Maaf, melibatkanku dalam hal ini. Jadilah saksi mata atas kekacauan ini." Dia menyentuh kepala Rin. Menanamkan kejadian sekarang dalam ingatannya.
"Kita pergi, Miku. Pasukan putih lainnya sedang menuju kemari." Ucapnya. Dia merubah dirinya dan Len menjadi partikel tanah. Terbang keluar ventilasi jendela. Aku mengangguk dan menatap Rin yang mulai sadar.
"Kita akan bertemu lagi." Pamitku dan mencair.
-o0o-
The Rules
-o0o-
[Rin POV]
Kemarin aku tertangkap Kiyoteru-sensei. Dia bilang cuman aku satu-satunya yang sadar setelah kejadian aneh beruntun terjadi.
Labirin, peri, angin dan bunga.
Semuanya datang silih berganti. Mereka mengacaukan akademi dalam waktu yang kebilang singkat. Aku tidak percaya, keamanan akademi bisa di tembus dengan mudahnya oleh sesuatu tak dikenal. Kami sekarang dalam status waspada. Pasukan putih bebas berkeliaran, mereka tidak akan menangkap siapa pun, tugas mereka disini hanya menyelidiki fenomena yang terjadi. Selama perjalanan menuju ruangan Kiyoteru-sensei, yang kulihat cuman kumpulan orang-orang tergeletak dan patung berwajah manusia. Kiyoteru-sensei bilang itu bukan patung melainkan para murid dan beberapa pasukan putih yang berubah menjadi batu. Apa bedanya?
Dalam ruangan gelap disinari lilin putih, Kiyoteru-sensei memberiku kertas putih bertulisan Mirai. Dia bertanya padaku apakah aku melihat senior bernama Mirai Yukihime. Jangankan melihat, namanya saja baru kudengar. Sebelum menjawab, seseorang masuk dan memberi kabar kalau gadis bernama Mirai ditemukan di atap gedung sekolah dalam keadaan setengah sadar. Sekarang bukan aku satu-satunya saksi. Selanjutnya, Kiyoteru-sensei hanya bertanya seputar apa yang kulakukan saat kejadian aneh berlangsung sehingga aku bisa selamat. Aku menunjukkan lencana yang kupakai telah rusak dan itu cukup memberinya jawaban. Lencana itu menahan sebagian kekuatanku dan jika itu rusak, kekuatanku akan meluap. Dia memberiku lencana sementara dan meminta ketersediaanku menjadi saksi dalam pertemuan nanti karena saksi kedua sedang dalam masa pemulihan. Kalau begini ceritanya, aku lebih suka menjadi korban.
Divisi Blue Topaz dan Amethyst sejak kemarin sibuk. Aku belum bertemu dengan Luka-nee . Dia mengirimiku pesan kalau dia cuman mengalami luka ringan. Begitu juga dengan Teto dan Gumi. Kedua belas permata Crypton dipaksa bekerja keras untuk memperbaiki semua kerusakan. Kami mendapat tugas yang berbeda-beda. Aku di beri tugas merepotkan bersama iblis shota hanya karena divisi kami sama-sama merupakan divisi tempur, kami diwajibkan berkerja sama. Kejam.
"Oi, jeruk! Berhenti melamun!" Aku mendelik dan menepis tangan Len yang nakal mencubit pipiku. Hampir saja dia membuat stik yang ku kunyah jatuh.
"Aku tidak melamun." Sanggahku. Kalau di pikir-pikir lagi saat kejadian aneh itu terjadi seharusnya aku bersama dengannya. Dia kan yang menculikku di saat aku berlari menuju pasukan putih dan berencana memukul salah satu dari mereka. Aku tidak mau melawatkan kesempatan untuk balas dendam. Aku benci kerajaan beserta isinya. Mereka yang membuatku kehilangan keluargaku. Aku ingin membakar istana seperti yang telah mereka lakukan padaku tapi pelatih memberitahu ku kalau itu bukan ulah mereka. Jadi, setidaknya aku ingin memukul mereka satu kali saja dan itu sudah kulakukan. Kupikir, aku akan mati melihat patung pasukan putih yang kupukul sedikit retak. Aku puas. Tentu saja.
"Hei, Len." Panggilku. Dia melihatku dari ekor matanya. "Bukankah kemarin kau yang membawaku ke ruang musik? Lalu, bagaimana caranya kau bisa ditemukan di tempat lain?" Tanyaku bingung dengan alis terangkat sebelah.
"Kau terlalu bodoh untuk berpura-pura mati dan melarikan diri." Seringainya angkuh. Dia ini orang yang paling pintar menyulut emosi seseorang.
"Ya, ya, maaf saja, aku bukan penipu liar sepertimu." Balasku santai dengan hembusan napas tak berarti.
"Oh, iya, ada ingin kutunjukkan padamu!"
Aku melihat sekeliling. Tidak ada orang. Aman. Kemudian menariknya ke semak-semak.
"Apa yang kau lakukan jeruk?! Kau masih ingat tugas kita kan?!" Tanyanya marah. Aku mengangguk kalem.
"Tentu saja. Kita di tugaskan untuk membersihkan area, bukan? Sejauh ini tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Lagi pula masih ada anggota divisi kita." Jawabku santai melepas ransel milikku dan mengeluarkan isinya. Masalah divisi ku sudah selesai. Aku resmi menjadi navigator mereka dan mereka sekarang menjadi penurut. Apa yang keluar dari mulutku, mereka patuhi. Menakjubkan.
"Buku?" Tanyanya bingung melihat buku yang kukeluarkan.
"Aku mendapatkan buku ini dari pelatih sebelum dia menghilang." Aku membuka tiap lembaran kertas buku yang kupegang.
"Coba lihat ini." Len mendekat dan membaca satu baris yang kutunjukkan padanya.
Angin akan menunjukkan jalan kemana kamu harus pergi. Jangan biarkan masa lalu menghalangi jalanmu. Keajaiban yang kamu buat, menggantikan kisah kehidupan. Hati yang pernah berpisah pasti bertemu kembali. Kini sihir hati bekerja di seluruh dunia. Dikala bintang bersinar, kekuatan sihir saling bertemu. Dikala matahari menghangatkan bumi, berjalanlah mengikuti roda kehidupan.
"Bagaimana menurutmu? Apa buku ini berhubungan dengan kejadian aneh kemarin?" Tanyaku.
"Siapa saja yang tahu?" Dia mengambil buku itu dari tanganku dan membuka lembaran lainnya. Aku menggeleng.
"Cuman aku. Luka-nee cuman tahu kalau aku membaca buku ini. Itu pun kalau pelatih tidak masuk hitungan." Jawabku.
"Kata angin dalam buku ini... apa itu maksudnya angin yang kemarin? Datang dengan cepat dan dalam waktu singkat seperti sedang membersihkan sesuatu. Di buku itu juga tertulis mengenai peri dan labirin yang dikabarkan sebagai pengganti pesan kalau mereka telah kembali." Jariku memberi tanda kutif pada kata 'mereka'. Maksud kata mereka dalam buku itu adalah The Rules. Tokoh yang berperan sebagai pahlawan.
"Ya, mungkin saja. Kau sudah membacanya sampai akhir?" Aku menyeringai.
"Tentu saja. Begini-begini aku ini suka membaca lho." Jawabku sombong dengan dagu terangkat sedikit.
"Aku tahu kau berbohong. Terdengar jelas." Aku cemberut. Cuman dihadapan Len saja aku tidak bisa berbohong. Dia bisa membaca pikiranku. Hebat bukan?
"Dalam pikiranmu mengatakan kalau kau menerima enam buku dengan judul yang sama namun isinya berbeda di beberapa bagian." Aku mengangguk membenarkan. Kemampuannya membaca pikiranku memudahkanku dalam berkomunikasi dengannya.
"Jeruk, kau tahu cerita apa yang sedang kau baca?" Aku meringis dan terpaksa menggeleng. Sejauh ini aku membaca buku itu karena takut akan hukuman dari pelatih bukan karena penasaran terhadap buku itu sendiri.
"Tidak tahu." Akuku jujur.
"Bodoh." Ejeknya menimbulkan perempatan siku di keningku. "Cerita dalam buku ini adalah cerita rakyat zaman dulu. Berdasarkan pengalaman, para ibu menceritakan cerita kelam pada anak-anak mereka sebelum tidur agar anak-anak mereka mengingat bagaimana kota ini bisa hidup tenang dalam perlindungan cahaya. Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu, apa yang tertulis dalam buku ini benar-benar terjadi."
Benarkah?
"Err... Kau tidak sedang bercanda kan? Cerita dalam buku itu sama sekali bukan cerita untuk anak-anak. Tidak ada keindahan di dalamnya. Hanya ketegangan dan ketakutan." Sahutku lirih. Makanya aku tidak suka membaca buku itu kalau tidak terpaksa.
"Begitulah kenyataannya. Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu tempat ini jatuh dalam kekacauan tanpa batas. Hidup di bawah tekanan besok siapa yang akan menghilang. Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada orang tua mu. Mereka pasti tahu." Aku menutup telinga, tidak mau mendengar cerita yang mirip seperti cerita hantu. Dalam buku itu diceritakan setiap malam satu persatu orang-orang mulai menghilang dimakan kegelapan. Suara tawa iblis akan terdengar pada tengah malam. Mereka sedang berpesta merayakan keberhasilan mereka menangkap para penduduk. Lalu saat matahari beranjak naik, noda darah ditemukan dan para penduduk akan menjerit ketakutan sambil berteriak 'Iblis telah memakannya.' berulang kali.
"Kau percaya pada cerita tidak jelas ini?" Tanyanya. Dia menggoyang-goyangkan buku itu di depan mataku. Aku merinding.
"Mungkin. Kau sendiri yang bilang itu kisah nyata!" Sahutku langsung merebut buku itu dari tangannya dan menyimpannya ke dalam ransel ku.
"Ya, ini memang kisah nyata. Tapi, tidak ada yang menjamin kalau buku itu asli dan menceritakan kebenarannya."
"Kau ingin bilang kalau buku ini palsu?" Dia menggeleng dan tertawa mengejek. Boleh aku melempar ransel ku ke wajahnya?
"Kalau kau ingin tahu kebenaran dari buku itu, cari saja buku dua sisi."
Hah? Buku apa lagi itu?
"Buku dua sisi?" Tanyaku bingung. Kuharap aku salah dengar.
"Ya, tokoh utama dalam buku yang kau baca itulah pemiliknya. Riliane Lucifen d'Autriche."
"Malas. Aku tidak mau berhubungan dengan orang mati." Jawabku enggan dengan mata kosong menatap rumput. Lagi pula bagaimana caranya aku mendapatkan buku itu kalau pemiliknya saja sudah tiada sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Riliane Lucifen d'Autriche adalah sang putri alam yang menolong jutaan jiwa dan membaskan negeri ini dari kegelapan. Ada yang tahu dimana makamnya? Mungkin aku bisa bertanya dimana dia meletakkan buku miliknya. Aku menggeleng dan menghapus pemikiran gila ku itu.
"Lalu untuk apa kau menunjukkan buku itu padaku, heh?"
Ctak!
"Aduh..." Dia menyentil jidat berhargaku. Tidak sopan.
"Tentu saja untuk berbagi ketakutan dalam buku ini." Candaku sambil menjulurkan lidah. Len tidak membalas, biru langitnya menerawang jauh.
"Hei, Rin. Jika The Rules itu benar-benar ada dan kau adalah salah satu dari mereka... apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya. Aku mengangkat bahuku.
"Tidak tahu. Tidak ada satu orang pun yang bersedia menjadi korban kemalangan, bukan? Hatiku tidak sebesar putri alam yang rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk kepentingan banyak orang. Aku sendiri tidak mau berakhir menyedihkan sepertinya. Putri alam itu terlalu pasrah menghadapi hidupnya. Bahkan setelah kematiannya pun teror itu tetap ada sampai sekarang. Bukankah itu artinya kematian bukanlah jawaban dari bencana itu?" Aku menggigit stik rasa jerukku hingga habis dan mengambilnya lagi. Mencari ketengan dalam lumeran coklat bercampur perasa jeruk buatan mesin. Len tidak menunjukkan tanda-tanda akan membalas ucapanku. Dia diam saja menatap langit.
"Hn. Mungkin."
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
.
- Cherry Monochrome –
11/05/2016
