SachiMalff proudly present
hunhan month
all i want for christmas is forever
oh sehun – lu han
warning : not-so-fluff (at least i've tried), manxman, unbetaed
...
...
...
Sesuatu yang sangat Lu Han sukai saat musim dingin tiba adalah Sehun—walaupun ia menyukai Sehun setiap hari di tiap detiknya, namun entah kenapa saat musim dingin tiba ia sungguh menyukai kehadiran sosoknya.
Mungkin karena Sehun meradiasikan kehangatan dari tubuhnya. Mungkin karena musim dingin adalah saat mereka pertama kali bertemu. Mungkin karena suasana White Christmas dan Sehun adalah apa yang ia sebut rumah.
"Lu Han."
"Hm."
Sehun menoleh kebelakang saat ia hanya mendengar gumaman kecil, kemudian menghela napas panjang tatkala ia melihat kekasihnya masih dalam posisi yang sama.
"Lu Han," panggilnya lagi.
Kali ini, bahkan tak ada jawaban dari sang kekasih.
"Lu."
Lu Han, tanpa memberinya satu jawaban kecil atau tengokan kepala, tetap berada di posisinya di atas lantai di sudut ruangan, bergelut dengan berbagai macam pernak-pernik natal dan sebuah pohon cemara di depannya.
"Baby."
Bam.
Lu Han menoleh, membagi senyum seribu watt-nya pada Sehun dengan mata yang berbinar. Ah, Sehun selalu tahu cara mendapatkan perhatian kekasihnya.
Sehun tersenyum dari konter dapur, mematikan kompor di depannya dan melepas celemek hitam yang ia kenakan sebelum meletakkannya di atas meja makan di dapur. Ia berjalan kearah Lu Han yang kini meninggalkan pekerjaannya, menaruh atensi penuh pada Sehun.
Sehun berhenti tepat di hadapan Lu Han yang masih duduk di lantai, kemudian mendudukkan dirinya di samping Lu Han, menatapnya lucu.
Ia membawa kedua tangan Lu Han pada genggamannya, mengelusnya lembut dan Lu Han tertawa.
"Kau sangat bersemangat, rupanya?"
Lu Han mengangguk antusias, kemudian menggoyang-goyangkan tangannya yang masih berada dalam genggaman Sehun. Rasanya hangat. Amat sangat hangat dan Lu Han suka perpaduan dinginnya udara di luar dan kehangatan dari sosok Sehun. Terasa begitu menentramkan dan hampir seperti tak nyata baginya.
"Karena ini natal pertama kita setelah kita pindah rumah!" sahutnya sambil tertawa.
Sehun tertawa, kemudian mengecup lembut bibir kekasihnya. Tak ada nafsu atau keinginan lebih, hanya ciuman biasa yang menyatakan dengan jelas bahwa Sehun sama bahagianya dengan kekasihnya.
"Aku bantu mendekor pohonnya?"
Dan Sehun harus menahan dirinya untuk tak tertawa melihat bagaimana mata Lu Han bersinar semakin cerah dengan senyumnya yang makin melebar.
o—oo—o—oo—o
Ini adalah ketiga kalinya mereka merayakan natal bersama, namun Lu Han sangat bahagia karena ini pertama kalinya mereka merayakannya bersama di sebuah tempat yang mereka sebut rumah. Walaupun kecil, dan barang-barang yang mereka miliki masih terlalu minim, namun Lu Han sudah lebih dari bahagia. Ia yakin, bahwa dimanapun ia tinggal, entah itu besar atau kecil tempatnya, jika ada atap untuk berlindung, lantai untuk tidur dan lengan Sehun untuk berteduh, maka ia sudah merasa lebih dari cukup.
Juga, natal mereka kali ini pun tak ada bedanya seperti natal-natal sebelumnya. Mereka akan menghias pohon bersama, pergi keluar untuk membeli beberapa kue jahe di pinggir kota, kembali ke rumah, memasak makanan—selalu masakan China, Lu Han bersikeras—bersama, tukar kado—entah bagaimana mereka bisa membeli kado tanpa diketahui satu sama lain mengingat bahwa mereka selalu bersama-sama, dan menghabiskan malam di bawah tanaman mistletoe yang Sehun letakkan di langit-langit rumah diatas sofa depan dan beberapa film lawas dengan Lu Han di pelukan Sehun.
Dan di sinilah mereka berdua, tepat di samping pohon yang kemarin mereka hias bersama, di bawah kerlap kerlip lampu kecil, dengan senyum dan sebuah kado di tangan masing-masing.
Lu Han adalah yang pertama membuka kado dari Sehun, menyobek kertas kadonya begitu pelan seakan apa yang ada di dalamnya akan ikut rusak jika ia menyobeknya terlalu keras.
Sesaat setelah kertas berwarna biru muda itu terlepas, alis Lu Han mengernyit tatlaka selembar kertas adalah hadiahnya. Dengan penasaran, ia membaca kertas tersebut, dan alangkah terkejutnya ia, tatkala kertas tersebut adalah sebuah surat serah terima sebuah anak anjing yang, beberapa minggu lalu, ia inginkan. Ia ingat bagaimana hari itu ia dan Sehun sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Dan saat ia berhenti di sebuah toko binatang, ia berhenti sedikit lebih lama dari biasanya untuk mengamati salah satu anak anjing, jenis apa iapun tak tahu. Anak anjing berwarna putih dan lucu, Lu Han berpikir bahwa suatu hari, ia ingin memiliki yang seperti itu.
Dan tanpa sadar, Sehun mengerti apa yang sedang ia pikirkan.
Lu Han tersadar dari lamunannya saat Sehun memanggil namanya, dan saat itu juga, Lu Han merengkuh Sehun kedalam pelukannya sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat menahan tangis.
Sehun tertawa saat Lu Han tak henti-hentinya menggumamkan terimakasih di dadanya, dan Sehun berjanji bahwa mereka akan pergi menjemput anak baru mereka besok pagi.
Lu Han mengangguk, melepas pelukan Sehun dan kemudian menyerahkan padanya kado yang terbungkus kertas berwarna hitam lengkap dengan pitanya.
Sehun memberikan sebuah ciuman panjang di bibir Lu Han sebelum ia membuka kado tersebut.
Lu Han terkekeh dan sinar matanya seakan menyuruh Sehun agar membuka kado tersebut.
Sehun terkekeh, kemudian ia mulai membuka bungkus kado persegi tersebut. Mungkin mereka terdengar seperti anak kecil, namun bertukar kado adalah salah satu tradisi yang takkan pernah mereka lupakan.
Perlahan, kotak kecil tersebut terlihat oleh mata, dan sedetik kemudian Sehun membukanya, memperlihatkan dua buah cincin perak.
Sehun merasa napasnya tercekat di tenggorokan melihatnya, dan kemudian, saat ia mengarahkan atensinya pada Lu Han, ia bisa melihat rasa ragu di kedua mata kekasihnya saat ia berkata, "Apa kau menyukainya?" sambil menggigit bibir bawahnya takut-takut.
Dan yang bisa Sehun lakukan berikutnya adalah mencium Lu Han, dalam dan penuh perasaan, seperti ia sedang mengatakan bahwa ia sangat menyukainya, sangat amat menyukainya.
Dan "Aku mencintaimu" adalah apa yang ia bisa ucapkan sebagai rasa terimakasih yang begitu dalam.
Lu Han tersenyum malu-malu, menundukkan wajahnya dan Sehun mengernyit. Belum sempat ia bertanya ada apa, Lu Han terlebih dulu sudah bersuara.
"Aku—hanya bisa memberimu kado itu," katanya, dan Sehun merasa hatinya menghangat. "Kau memberikanku semua ini," kata Lu Han, mendongakkan kepalanya, matanya menyusuri seluruh sudut ruangan di rumah mereka, seakan mencoba menunjukkan semua yang Sehun berikan padanya. "Rumah ini, anjing kecil ini. Kau memberikanku seluruh perhatian dan cintamu, hidupmu, masa depanmu untuk bersamaku. Kau meninggalkan semua kenyamananmu, keluargamu, untuk seseorang sepertiku dan rasanya aku sungguh merasa hina." Lu Han terkekeh, dan Sehun ingin menghapus semua pikiran negatif yang sedang Lu Han pikirkan.
"Sehun, aku—"
"Kau tahu, Lu Han?"
Lu Han mendongak, menatap keping Sehun yang memancarkan rasa cinta yang begitu dalam sehingga lagi-lagi Lu Han tenggelam di dalamnya.
"Selama ini aku selalu berpikir; apakah Lu Han tetap ingin tinggal bersamaku, padahal rumah yang bisa kubeli hanya sekecil ini. Apa Lu Han akan suka sofanya, karena ini terlalu sempit dan tak seempuk yang lain. Apa Lu Han akan suka baju barunya, padahal kelihatan tak sehangat baju Lu Han yang lain. Apa Lu Han akan bisa tinggal bersamaku nantinya, karena aku tak sekaya orang lain. Apa Lu Han akan mampu meninggalkan semua kehidupannya yang nyaman dan kasih sayang keluarganya demiku? Lu Han, aku selalu mengkhawatirkan hal-hal semacam itu. Tiap kali aku pergi tidur, aku selalu berpikir—apa Lu Han akan berubah pikiran saat aku membuka mata nanti dan pergi dari sisiku? Aku selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil yang kuberikan padamu," kata Sehun terkekeh, "Dan kau malah menganggapnya hal besar."
Lu Han menatap Sehun di antara tatapannya yang makin memburam karena air mata. "Sehun—"
"Lu Han, aku takut rumahnya tak sebesar yang kauinginkan. Aku takut perabotannya tak selengkap yang kaubutuhkan. Aku takut kadoku tak seperti yang kaudambakan. Aku takut cintaku tak sehebat yang kaubayangkan. Aku takut, aku takut sekali, jika hidupmu takkan sebahagia yang kauimpikan. Aku berpikir bahwa aku hanya bisa memberimu air di tangkupan telapak tanganku dikala kau berhasil memberikan seluruh hidup dan cintamu yang seperti samudra."
Lu Han menangis, mengangis sekencang-kencangnya karena apa yang Sehun katakan sungguh membuatnya merasa begitu tinggi, begitu dihargai, dicintai.
Dan sedetik kemudian, ia memeluk kekasihnya, rumahnya, hatinya, cintanya, hidupnya.
Aku mencintaimu, bisik Lu Han di sela tangisannya.
Tak ada yang bisa Sehun ucapkan kecuali hal yang sama.
the end
