Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Our real mission

Chapter 3 : memory in the past

Sasuke membalikkan tubuhnya. Dilihatnya Sai yang masih tertidur pulas di kasur yang berada di bawahnya. Sasuke merasa bersalah ketika harus berbohong mengangkat telapak tangan kanannya. Diperhatikannya sejenak telapak tangannya itu.

'Aku masih bisa bertahan,' gumamnya.

Flashback on

Sasuke melihat anggota setim-nya yang tergeletak bersimbah darah. Dia tidak bisa membayangkan kalau misi pertamanya akan menggiring dirinya dan rekan setimnya pada kematian. Sasuke segera menghampiri mereka. Berharap bahwa semuanya hanya mendapatkan luka ringan

"Hey, kalian. Bertahanlah."

Sasuke segera mengeluarkan peralatan medisnya. Namun, sebuah tangan menghentikan apa yang dia kerjakan. Dilihatnya pemilik tangan itu. Dan Sasuke tidak bisa memungkiri bahwa pemilik tangan itu terluka parah.

"Pergilah Sasuke, selamatkan dirimu! Sebentar lagi mereka akan datang."

"Tidak! Tidak Senpai! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kalian semua!" ujar Sasuke seraya menampik tangan yang menggengam lengannya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengeluarkan obat-obatan.

"Sudah kubilang pergilah! Gerombolan werewolf akan kesini. Mereka tahu bahwa ada yang masih hidup di tim ini!"

Tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala yang makin lama makin mendekat. Sasuke menoleh ke belakang dan melihat gerombolan werewolf berlari ke arahnya. Dia menoleh ke arah rekan-rekannya.

"Gomen!" ujar Sasuke seraya berlari meninggalkan mereka. Dia terus berlari namun langkahnya terhenti ketika melihat werewolf lain yang siap siaga di depannya. Sasuke menghunus pedang yang sedari tadi berada di punggungnya. Namun, tiba-tiba saja sebuah pisau melayang dan menusuk punggungnya.

Sasuke roboh. Dia melihat para werewolf bertransformasi menjadi manusia. Dia juga melihat mereka sedang tertawa. Lebih tepatnya, menertawakannya. Pandangan Sasuke mengabur. Dia tahu kalau dia telah kehilangan banyak darah dan mungkin sebentar lagi akan mati.

'Gomenasai. Otouto. Nii-san tidak bisa pulang' ucapnya lirih.

Tiba-tiba terdengar bunyi letupan senjata. Dengan pandangan mata yang agak buram, dia melihat seseorang dengan jubah hitam dan memakai cadar hitam memegang senjata di kedua tangannya. Lalu, dengan sigap orang itu menembak satu persatu werewolf yang bergerak menyerangnya. Hingga yang tersisa hanya dirinya dan Sasuke.

Orang itu berjalan mendekati Sasuke yang tergeletak tak berdaya. Lalu, ditatapnya wajah Sasuke.

"Apa kau mau hidup?" Tanya orang itu.

Sasuke bingung dengan apa yang dikatakan oleh orang yang menatap wajahnya dengan intens. Namun, dia juga ingin hidup. Akhirnya Sasuke mengangguk.

"Namun ada konsekuensinya."

"Ap-apa?"

"Kalau kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan menjadi vampire."

Flashback off

"Ohayou, Nii-san! Nii-san mau makan apa pagi ini? mumpung asrama sepi nih! Habis itu kita ke rumah Danzo-jii-san"

Sasuke melihat ke bawah. dilihatnya Sai yang sedang membawa sendok sayur di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang ganggang pintu. Sasuke mendengus geli melihat penampilan Sai yang bisa dibilang aneh.

"Terserah kamu saja. Yang penting enak," ujar Sasuke seraya bergerak menuruni tangga yang berdiri di dekat kasur tingkatnya.

"Eh? Ga ada menu atau makanan yang namanya terserah Nii-san!"

Sasuke mendengus kesal melihat Sai yang sudah dalam mode 'tukang masak profesional'. Sasuke hanya menghela napas. "Fiuh ! yasudah! Aku mau makan tempura!"

"Yosh! Silahkan ditunggu!" kata Sai seraya berlari dengan kecepatan tinggi. Bila di anime, mungkin sudah muncul banyak debu yang berterbangan di tempat yang telah dilewati Sai. sasuke hanya menggeleng frustasi melihat adiknya yang satu ini. jika kejadian ini terlihat oleh para fans-nya Sai, pasti status bujang lapuk bakalan hinggap pada Sai.

Sasuke menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Air shower yang dingin mengguyur kepalanya. Pikiran mengenai kejadian tiga tahun lalu mulai luluh bersama dengan air shower yang membasahi kepalanya.

Dan disinilah dia. Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, sekarang dia sedang duduk berhadap-hadapan dengan Sai di ruang makan asrama. Hanya ada mereka berdua disana. Sasuke memandang salju yang mulai turun di balik jendela. Putih.

Putih?

Sasuke memperhatikan Sai yang sedang menikmati makanan di depannya. Kulit adiknya ini putih. Sangat putih, seputih salju. Atau bisa dibilang, pucat. Seperti mayat hidup. Mengenai mayat hidup, Sasuke kembali teringat dengan kejadian setelah insiden penyerangan itu.

Flashback on

"Hajimemashite, watashiwa Uchiha sasuke desu. Tsunagakure karakimashita. Sasuke to yondeimasu. Douzo yoroshiku onegaishimasu," ujar anak kecil yang sedang memperkenalkan diri di sekolah barunya itu.

Sasuke segera duduk di bangku yang telah disediakan. selama pelajaran berlangsung, banyak yang mencuri Tanya padanya. entah ketika pergantian pelajaran bahkan ketika guru menghadap ke papan tulis. Sasuke merasa cukup senang dengan suasana sekolah umum.

Kali ini Sasuke harus menghadapi tiga siswa pem-bully yang terkenal di sekolahnya. Namun dia tidak gentar. Akhirnya terjadi adu pukul tiga lawan satu. Sasuke kewalahan. Dia berharap agar pukulan yang dilancarkan oleh mereka segera dihentikan.

"Hey! Bukankah itu kembaranmu?" ujar salah satu anak yang memukulinya tadi. Dua orang temannya memasang seringai licik dan segera menghampiri Sai yang masih berdiri. Terdiam memandang kakaknya yang babak belur.

"Sai! larilah!" teriak Sasuke. Untuk kali ini dia ingin hanya dirinya yang dipukuli. Bukan Sai.

"Diam kau!" kata salah satu dari anak-anak yang memukulinya.

Krakkkk!

"Aduh! Tanganku! Lepaskan!"

Sasuke tertegun melihat pemandangan yang mengerikan. Sangat mengerikan. Didepannya, Sai memelintir tangan anak yang berniat untuk memukulnya. Namun bukan itu yang membuat Sasuke ngeri.

Pandangannya….

Wajahnya….

Benar-benar tak menunjukkan ekspresi sedikitpun. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Satu persatu dari tiga anak itu berlari ketakutan. Tiba-tiba sebuah tangan terulur di hadapannya. Tangan anak yang membuatnya bergidik ngeri setelah kejadian tadi.

"Waduh, muka Nii-san memar. Ayo cepet pulang biar segera diobati," ujar Sai seolah tidak terjadi apa-apa.

Esok harinya….

"Seharusnya kau didik anak itu. Biar tidak membuat keonaran!"

"Gomenasai, memang saya yang salah, saya akan mendidiknya lebih baik lagi."

"Bagus, seharusnya kau tidak menyekolahkan mayat hidup ini di sekolah umum."

Ketika sampai di rumah, Danzo yang sudah mereka anggap sebagai kakek mereka hanya menghela napas. Dia terus menerus menasehati Sai. terkadang umpatan dan kata-kata kasar keluar dari mulut orang tua itu. Sai hanya tertunduk diam tanpa mau memandang ke atas. Sedangkan Sasuke menunggu tak jauh disebelahnya.

"Hai, Jii-san."

Sasuke menghampiri Sai yang berjalan gontai menuju kamar. Namun ketika mereka berhadap-hadapan, Sai hanya berjalan terus. Sasuke terus mengikutinya hingga masuk ke kamar.

"Sai?" Sasuke mencoba mendekati Sai yang duduk dengan lutut yang ditekuk di pojok kamarnya. Tiba-tiba, terdengar suara isakan dari sana.

"Hiks hiks hiks. Nande?"

"Sai?"

"Padahal aku Cuma mau bantu Nii-san. Bukankah mereka bertiga juga jahat? Mereka bahkan pernah membuat kepala teman sekelasku berdarah. Hiks hiks hiks."

Sasuke memeluk Sai. Akhirnya Sai berhenti menangis. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk. Sasuke mengintip dan melihat seseorang dengan masker hitam tengah berbincang-bincang dengan Jii-san-nya. Lalu orang itu berjalan menuju ke kamar Sasuke. Dan didapatinya Sasuke yang berdiri di balik pintu.

"Yo! Pasti kamu Sasuke ya? Benar-benar replika dari Fugaku-senpai," ujar orang itu seraya memandang Sasuke. Lalu, tiba-tiba salah satu mata orang itu berubah menjadi merah. Dan tiba-tiba saja Sasuke merasa tenang.

"Perkenalkan, aku Kakashi. Aku bisa dibilang teman seperjuangan orang tuamu. Mana kembaranmu? Oh, disini rupanya," ujar Kakashi yang menghampiri Sai. Diusapnya air mata Sai. lalu Kakashi menggendong Sai. Sasuke merasa aneh. Padahal orang yang berada di depannya adalah orang asing, tapi dia merasa kenal dengan orang itu. Entah karena apa.

Flashback off

Sasuke tersenyum ketika ingatan mengenai Kakashi yang kewalahan untuk menjelaskan kenapa mereka harus masuk ke sekolah Exorcis saat itu. Namun, wajahnya berubah menjadi sendu ketika mengingat alasan terakhir kenapa mereka harus sekolah disana.

'Alasan terakhir adalah permintaan dari kedua orang tua kalian yang ingin menyekolahkan kalian disini. Mereka tahu kalian mewarisi kemampuan yang bersifat spiritual.'

'Terus Kaa-san dan Tou-san kemana?'

'Mereka telah meninggal.'

Kalimat-kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Sasuke. Sai yang sudah menghabiskan makanannya memiringkan kepalanya. Penasaran dengan apa yang saat ini mengganggu pikiran kakaknya.

"Nii-san?"

"Eh?"

Sasuke berjingkat kaget ketika Sai memanggilnya. Dia kemudian melanjutkan makannya. Sai memutuskan untuk mengambil minuman. Dia kembali dengan membawa dua gelas minuman.

"Sai."

"Hm?"

"Sebelum ke rumah Danzo-jii-san, bisakah kita mampir ke tempat Tou-san dan Kaa-san?"

"Tentu saja," ujar Sai tersenyum. Sasuke ikut tersenyum dengan mengangkat ujung bibir kanannya.

"Kau juga kesana kan?" Tanya Sasuke.

"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Nii-san di tempat asing begitu. Ujung-ujungnya Nii-san kesasar lagi," ujar Sai dengan ekspresi datar. Sebuah tangan mendarat tepat di kepalanya.

Bletakkkkk!

"Ittai!"

Mereka segera menghentikan ocehan mereka ketika terdengar langkah kaki dari arah pintu masuk. Muncullah seseorang dengan rambut yang memutih bergerak menghampiri mereka.

"Jiraiya-sensei?"

"Oh, aku benar-benar bersyukur. Kupikir asrama sudah kosong. Ternyata ada kalian berdua," ujar Jiraiya sambil tersenyum.

"Ada apa Jiraiya-sensei?" Tanya Sasuke.

"Ada permintaan mendadak dari pasangan suami istri. Mereka meminta dua anak laki-laki kembar yang sama-sama Exorcist untuk menjadi penjaga di mansion mereka," terang Jiraiya.

"Memang kenapa harus kembar segala? Dasar kurang kerjaan," kata Sasuke. Sedangkan Sai sedang sibuk membayangkan mansion mewah yang nyaman di musim salju." Berapa hari?"

"Ya paling tidak sampai tiga hari . Dan aku sebagai Sensei kalian memberi perintah," ujar Jiraiya dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi garang.

Dan disinilah mereka berada. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah mansion yang (katanya Jiraiya) mewah nan megah. Mereka mengenakan jubah dan mengendarai kendaraan mereka. Jangan berpikir kalau yang mereka kendarai adalah kendaraan bermotor. Mereka mengendarai mahkluk halus jinakan Sasuke. Makhluk itu berwujud beruang raksasa berbulu putih.

Malamnya mereka sampai di sebuah lembah. Mereka dapat melihat sebuah mansion yang sesuai dengan dekripsi Jiraiya. Namun mereka ragu untuk menuju kesana karena terakhir kali mereka menerima arahan dari Jiraiya, mereka harus menahan malu karena salah masuk rumah.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah mansion. Sai dan Sasuke menoleh satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk segera menuju ke mansion itu.

Di dalam mansion….

Seorang suami istri berteriak histeris melihat makhluk jadi-jadian berwujud serigala berjumlah lebih dari lima ekor mengelilingi mereka. Sang suami memeluk sang istri yang ketakutan. Mereka hanya bisa berharap ada orang yang menolong mereka.

Ketika salah satu serigala melompat ke arah pasangan suami istri itu, tiba-tiba saja atap mansion runtuh dan muncul dua remaja yang mengenakan jubah. Serigala itu berhenti.

"Ow, mau menolong rupanya?" ujar salah satu dari serigala-serigala itu. Sai mengambil langkah mundur sedangkan Sasuke tetap di posisinya semula. Sai menghampiri pasangan suami istri itu.

"Ada yang terluka?" tanyanya. Pasangan itu menggeleng. "Syukurlah."

Beberapa serigala melompat dan berusaha untuk menyerang Sasuke. Sasuke memanggil 'beruang' peliharaannya.

"Grizzle!"

Seketika dinding mansion itu berlubang dan muncullah seekor beruang yang dikendarai Sasuke dan Sai tadi. Beruang itu berjalan menuju ke samping kiri Sasuke. Sasuke menunjuk ke arah para serigala.

"Makan mereka."

Saat itu juga terjadi pergumulan sengit antara para serigala dengan seekor beruang raksasa. Pertarungan dimenangkan oleh sang beruang.

…..

"Wah, tidak kusangka sekolah Exorcist Tsuna memenuhi permintaan kita…" ujar sang istri ketika menjamu kedua Excorcist muda setelah kejadian penyerangan siluman tadi.

Sasuke dan Sai hanya tersenyum tak ikhlas. 'Memenuhi apanya? Cuma apes saja saat itu kita bisa ditemukan oleh Jiraiya-sensei' batin Sasuke.

"Kalian sudah jadi Exorcist di umur yang sangat muda. Hebat sekali," ujar sang suami.

"Biasa saja kok," ujar Sai seraya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal. "Kira-kira, berapa hari kami harus menginap disini?"

"Hm….. kira-kira tiga hari lagi. Sampai sanak saudara kami sudah sampai disini."

Sasuke yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya langsung tersedak. Sai yang sedang minum teh terbatuk-batuk.

'Ya paling tidak sampai tiga hari'

Kalimat Jiraiya terngiang-ngiang di kepala duo Uchiha itu. Dua orang di depannya tiba-tiba merasakan aura negative yang menguar dari tubuh kedua anak kembar itu. Tiba-tiba sang istri menatap Sasuke dengan intens. Sasuke menatap ke arah lain. Lalu sang istri merengek pada Suaminya.

"Sayang…. aku mau itu," katanya seraya menunjuk ke arah Sasuke. Sasuke mendelik kaget. Sai sudah menunduk menahan tawa.

"Ano…. Maaf Sasuke. Istriku sedang mengandung. Dia ingin seluruh permintaannya diikuti. Tau kan apa maksudnya?"

Sasuke terbelalak. Sai sudah tidak dapat menahan tawanya. Dia terpingkal-pingkal sampai memukul-mukul lantai. Sasuke mendengus kesal. 'jangan-jangan permintaan untuk Exorcist kembar juga dari…'

"Hal itu termasuk permintaan untuk Exorcist kembar. Gomenasai."

Sasuke merasa seperti tersambar petir. Sang suami mencoba untuk bernegosiasi dengan Sasuke. Mau tidak mau Sasuke akhirnya memenuhi permintaannya. Dan selanjutnya sang istri mulai melakukan hal yang aneh padanya. mulai dari mencubit kedua pipinya, mengacak-acak rambutnya, memeluknya dan… begitulah. Sai hanya menatap Sasuke yang tersiksa dengan perlakuan sang istri. Tiba-tiba dia mengusap dada dan menggumamkan kata-kata kelegaan.

'Untung saja aku tidak sesempurna Sasuke….. yokatta….'

.

.

.

.

.

To be continued

Author's note:

Maaf ya reader-sama, di chapter 3 ni Kasumi belum bisa nunjukin Itachi. Tapi tenang aja. Chapter depan ada Itachi-nya kok.

Mata matadesu….

Review please…..