Pairing : KyuMin / Kyuhyun-Sungmin
Rate : M untuk chapter kedepannya
Genre : Sci-fi, Romance
Warning : Miss Typo(s), GS (Gender Switch)
Disclaimer : Ini adalah Remake dari novel berjudul sama milik Sherrilyn Kenyon.
A/N: Seperti yang sudah saya katakan diatas ini adalah versi remake dari novel milik Sherrilyn Kenyon, saya hanya merubah castnya dan beberapa hal untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Tujuan saya membuat remake ini, tak lain hanya ingin merubahnya kedalam bentuk fanfic dengan cast favorit saya dan juga berbagi pada teman-teman yang belum berkesempatan untuk membaca novel aslinya. Jika kalian menyukai cerita remake ini, berterima kasihlah pada Mbak Sherrilyn telah menciptakan novel (yang menurut saya) bagus ini, dan juga kalian bisa memberi dukungan kepada penulis aslinya dengan cara membeli bukunya. Selamat menikmati~~
.
.
.
Bagian 2
"Aku sudah tidak sabar untuk bersenang-senang," kata seorang pria, suaranya mendekat ke ruangan Sungmin dengan perlahan. "Apa kau melihatnya? Tubuh kencang itu menakjubkan."
Sungmin menyipitkan mata saat amarah dan rasa takut melanda. Tidak ada yang boleh membuatnya merasa tak berdaya lagi.
Sampai kapan pun.
"Entahlah, Moonsuk," kata seorang pria lainnya. "Menurutku sebaiknya kita menunggu sampai mendapat kabar lagi. Aku masih memikirkan pesan Poll yang berkata bahwa Nemesis mengincar kita. Kita harus menanggapinya dengan serius. Jangan salah paham, aku juga menginginkan wanita itu, tapi aku lebih memilih menunggu sampai kita aman."
Pandangan Sungmin dikaburkan oleh amarah. Mungkin mereka akan membunuhnya, tapi ia akan membawa sepotong besar tubuh mereka selagi beranjak keluar dari pintu.
Tawa Moonsuk membahana dilorong. Suara arogannya membuat Sungmin bergidik. "Tidak perlu takut pada Nemesis. Kita sudah dibayar, menurutku kita harus menikmati setiap menitnya."
Terdengar roda gigi berdengung di pintu ketika bergeser naik dengan perlahan.
Dua mahkluk paling menjijikan yang pernah Sungmin lihat berjalan masuk. Ya, bau mereka jauh mengalahkan bau busuk sampah dan yang lainnya. Mengapa ia harus benar dalam hal itu? Bau mereka sudah cukup untuk membuatnya muntah. Apa mereka tidak pernah mandi selama hidup mereka yang memauakkan?
Sungmin mengakui kalau mereka manusia, walaupun keduanya contoh buruk dari rasnya.
Sungmin mencibir ketika melihat pria yang lebih pendek,bertanya-tanya bagaimana mungkin pria itu bisa tahan memanang wajahnya yang jelek dan berkutil cukup lama untuk bercukur. Tapi kalau dipikir lagi, melihat cambang dirahangnya yang tembam, Sungmin menebak kalau pria itu tidak terlalu sering melihat wajahnya.
Pria di sebelahnya hanya beberapa sentimeter lebih tinggi. Wajahnya yang panjang dan tajam mengingatkan Sungmin pada salah satu monster yang digunakan oleh pengasuhnya untuk menakut-nakutinya saat ia masih kecil.
Mata mereka memancarkan ketidakpedulian dari dalam jiwa mereka yang membuat Sungmin bergidik.
"Jadi, di mana dia?" Itu suara Moonsuk pria yang lebih pendek.
Sebelum mereka sempat bereaksi, Sungmin sudah menerjang mereka. Ia menendang Moonsuk kuat-kuat hingga pria itu menubruk rekannya, lalu ia berlari ke pintu.
Sebelum Sungmin sampai ke pintu, seseorang sudah menyandung kakinya. Sebagai seorang penari yang terlatih, Sungmin bisa berjungkir balik dan terus berlari. Setidak sampai sesuatu menghantam punggungnya dan membuatnya tersungkur menghantam pintu.
Mengumpat, Sungmin menyadari bahwa tubuh gendut Moonsuklah yang menghalanginya. Moonsuk membalikkannya dan meninju wajahnya kuat-kuat. Kepala Sungmin terasa pusing dan rasa sakit meledak-ledak di pipi dan matanya dan ia pun mengecap darah. Selama sesaat, ia benar-benar linglung.
Hanya suara dari gaun tidurnya yang dikoyaklah yang menyadarkan Sungmin kembali dan mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit. Dengan sebuah umpatan putus asa, ia meninju perut lembek Moonsuk. Melepaskan Sungmin, Moonsuk membungkuk kesakitan, memberi Sungmin kesempatan untuk berguling mejauh di bawahnya.
Pria yang satu lagi langsung menghampiri Sungmin begitu ia berdiri.
Sungmin menendang pria iru dengan kaki yang disilangkan, mengenai bagian tenga dada pria itu. Gaun tidurnya semakin terkoyak ketika ia berlari meninggalkan mereka. Mereka tidak boleh menangkapnya.
Lebih baik mereka membunuhnya terlebih dahulu.
Sungmin tidak mau lagi menyerah begitu saja kepada seorang penyerang.
Setidaknya itulah yang Sungmin pikirkan hingga sesuatu mencekik lehernya dan mengangkatnya. Ia mendarat dengan punggung, dilantai,begitu keras hingga ia tidak bisa bernapas.
"Kau akan membalas untuk itu, Jalang," kata Moonsuk dari balik gigi busuk yang dikertakan, menarik tali metalik itu lagi lebih ketat di leher Sungmin.
Sungmin terengah-engah berusaha menghirup udara sewaktu tali menghujam ke kulitnya, mencekiknya. Putus asa, ia berusaha menarik atau mencakari tali itu. Kakinya menendang-nendang da ia berusaha untuk berteriak.
Tetapi bahkan bisikan pun tidak kunjung keluar dari bibir Sungmin yang memar.
Matilah ia, Sungmin tahu itu.
"Bunuh dia, Moonsuk!" Pria yang lebih tinggi mengusap-ngusap dadanya yang Sungmin tendang, matanya memancarkan kesombongan.
Tali semakian diperketat.
Pandangan Sungmin mengabur saat ia berjuang untuk tetap hidup. 'Aku tidak mau mati seperti ini, tidak mau!' Kata-kata itu terbersit dikepalanya, menjadi mantra sementara ia berjuang dengan segenap kemampuannya.
Sungmin menarik talinya.
Tepat ketika Sungmin mengira Moonsuk akan menghabisinya, tali itu melonggar. Sungmin menghirup udara dalam-dalam ke dalam paru-parunya yang terbakar sambil terbatuk dan memercikan liur. Penglihatannya kabur, kepalanya berdengung kencang. Ia mengusap-usap lehernya, merasakan bilur-bilur yang ditinggalkan oleh tekstur yang kasar.
Moonsuk menjambak rambut panjang Sungmin yang berwarna hitam legam dan menarik Sungmin ke dekatnya. "Nyawamu tidak berarti bagi kami, Girly. Tapi caramu memperlakukan kami selama beberapa menit kedapan akan menentukan apakah kami akan membunuhmu dengan cepat atau membuatnya sangat menyakitkan."
Sungmin tesedak ketika napas Moonsuk yang busuk berembus ke pipinya. Sebelum ia bisa memikirkan tanggapannya, bibir Moonsuk yang basah dan kasar telah memagut bibirnya.
Sungmin muntah.
"Dasar kau..." Moonsuk mundur untuk memukul Sungmin lagi.
Guncangan tajam pada kapal membuat mereka terhuyung-huyung.
Sesaat kemudian, sirene peringatan berbunyi kencang.
"Kita diserang." Pria yang tinggi berlari ke luar ruangan secepat kilat.
Sebelum Sungmin bisa bergerak, Moonsuk sudah merenggut lengannya dan menariknya ke balok baja berkarat yang ada di dinding. Masih terbatuk-batuk, Sungmin berusaha melawan sementara Moonsuk memborgol tangannya disana, tapi ia terlalu lemah setelah dipukuli dan nyaris dicekik sehingga tidak mampu melakukan apa yang ia inginkan lakukan kepda Moonsuk.
"Dasar bajingan rendahan!" geram Sungmin, sesaat sebelum ia mencoba mengigit Moonsuk.
Moonsuk merenggut rahang Sungmin dan mendorongnya kuat-kuat ke dinding, membuat Sungmin pusing selama sejenak. "Aku akan menghabisimu kalau masalah ini sudah beres." Kata Moonsuk, jemarinya menekan wajah Sungmin kuat-kuat ketika ia memuntir bibir wanita itu. Menyeringai jahat, ia melepasakan Sungmin dan berlari menyusul rekannya.
Pintu dibanting, suaranya menggelegar di ruangan itu.
Sungmin berteriak kencang, frustasi sambil menarik borgol baja kuat-kuat hingga kulitnya terluka. Gila kerana rasa takut, amarah, dan tekad, ia menyentak, tidak peduli kalau ia kehilangan tangannya dalam prosesnya. Yang penting hanyalah membebaskan diri.
"Aku tidak mau mati di sini!" teriak Sungmin saat mimpi buruk masa kecilnya berusaha untuk melemahkannya.
"Lakukan apa yang mereka katakan, Sungmin. Jangan melawan mereka." Suara ibunya berbisik kepada Sungmin dari masa lalu yang sudah lama berselang. "Tidak apa-apa, Sayang, aku janji."
Tapi semuanya tidak seperti yang dijanjikan. Seluruh kepatuhan mereka membuat mereka dieksekusi secara brutal. Ibunya meninggal didepan mata kepalanya sendiri−satu tembakan dikepala dan Sungmin ditembak tigakali oleh musuh politik ayahnya sebelum mereka juga meninggalkannya untuk mati
Dia baru berusia delapan tahun...
Keluguan Sungmin hancur hari itu. Dan ketika akhirnya ia pulih dari cidera fisiknya, ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa tidak akan ada lagi yang bisa mengendalikannya.
Tidak ada seorangpun.
Sungmin tidak akan mematuhi siapa-siapa kecuali dirinya sendiri dan ia tidak akan menjadi korban lagi.
Namun borgol tetap menahannya. Betapa pun kuatnya ia berjuang, betapa pun kerasnya ia berusaha, borgolnya tetap bergeming
Tidak sanggup menghadapinya, Sungmin merosot kelantai dengan perlahan dan membenturkan kepalanya ke dinding supaya rasa sakit bisa mengalihkan kepanikannya. "Jangan coba-coba menangis," ia menggeram kepada dirinya sendiri. "Jangan coba-coba."
'Ha-ha-ha, ejek pemimpin mereka dengan keji sewaktu mereka menawan Sungmin dan ibunya. Menangislah sepuasmu gadis cilik. Daddy tidak akan datang untuk menyelamatkanmu. Aku paling menyukai suara orang yang sedang ketakutan. Suara orang yang memohon agar membiarkan mereka hidup. Hidup itu menyakitkan, Jalang. Sayang sekali kau tidak akan hidup cukup lama untuk mempelajarinya.'
Sejak hari pemakaman ibunya, belum pernah seklaipun Sungmin meneteskan air mata. Dan ia tidak akan mengijinkan bajingan tak berguna yang menculiknnya meruntuhkan pertahanannya sekarang.
Ia lebih kuat dari itu.
Lampu meredup dan kapal berguncang kuat kekiri sewaktu sebuah tembakan membobol sebuah perisai kekuatan apapun yang mereka miliki.
Selama sesaat yang sangat singkat, Sungmin berpikir yang datang adalah ayahnya bersama regu penyelamat. Tapi ia tahu yang sebenarnya. Ayahnya masih menghadiri rapat konsulat dan mengira Sungmin masih terjaga aman di kamar hotel perusahaan tari.
Sama seperti hari naas saat Sungmin dan ibunya diculik dari istana musin dingin, ayahnya tidak tahu ia telah diserang. Ayahnya tidak akan tahu sebelum mendapat kabar tentang kematiannya.
'Kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Betapapun kau berpikir amannya dirimu. Betapapun waspadanya kau,binatang-binatang pengerat itu selalu menemukan jalan untuk masuk...' Sungmin pernah menulis itu di dalam buku hariannya sendiri ketika usianya enambelas tahun dan seorang pembunuh menembaknya saat makan malam bersama teman-temannya di sebuah restoran. Bahkan saat dikelilingi oleh pengawal dan dengan ayahnya di sebelahnya sekalipun, ia juga nyaris mati malam itu.
Nyawa Sungmin tidak berarti apa-apa selain sebagai cek untuk para bajingan di semesta ini dan mereka ingin mencairkan sepenuhnya.
Air mata yang ditahan membuat tenggorokannya tercekat saat Sungmin menyadari tidak ada harapan dari situasinya. Ia bisa mati di antariksa ini, diperkosa, dianiaya. Sendirian. Satu-satunya harapan yang ia miliki adalah bahwa siapa pun yang menyerang mereka, menghancurkan mereka.
'Kumohon kurangi rasa sakitnya...'
Jangan sepeti kematian ibunya.
Ibunya tewas dengan perlahan dan menyakitkan sesuai keinginan para tentara bayaran itu. Mereka menyiksanya selama berhari-hari sebelum akhirnya mengakhiri nyawanya−dan jeritan-jeritan yang memohon belas kasihan baginya dan putrinya selamanya membekas dibenak Sungmin.
Hal-hal yang mereka lakukan kepada ibunya.
Hal-hal yang mereka lakukan kepadanya...
Tenggorokan Sungmin makin tercekat saat medengar suara pertempuran. Dinding-dinding pesawat yang sudah tua berderak mengerikan. Ledakan demi ledakan menyambar pesawat dan membuatnya terus berguncang di bawah kaki Sungmin. Kapal yang berkarat ini tidak akan mampu menhadapi kerusakan yang lebih besar lagi. Mampu bertahan sejauh ini saja sudah merupakan mukjizat.
Memejamkan mata, Sungmin berdo'a memohon kematian yang cepat.
Tapi kelegaan tersebut tidak kunjung datang juga.
Sungmin malah mendengar suara sirkuit listrik yang rusak meledak dilorong. Sekarang, seluruh kekuatan di semua pintu sudah ditarik dan ditransfer ke senjata dan perisai kapal.
Lampu padam.
Sungmin duduk di tengah kegelapan total sambil mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi apa yang tidak bisa ia hindari. Suara laser yang ditembakan dari kapal ini tidak terdengar lagi.
Penghabisan sudah dekat sekarang.
Ya tuhan, Sungmin akan sangat merindukan ayahnya dan kegiatan menarinya. Merindukan sensasi dari embusan angin musim semi yang hangat di kulitnya selagi ia duduk membaca di kebunnya.
Menarik napas dalam-dalam, Sungmin mengendalikan rasa takutnya. Ia putri seorang komandan. Ayahnya dilahirkan dalam kemiskinan dan memanjat naik melalui pangkat-pangkat kemiliteran sehingga menjadi presiden dari planet mereka dengan menggunakan tekad dan kemampuan. Meskipun banyak yang tidak menyukainya, mereka semua sepakat dalam satu hal. Ayah Sungmin tidak kenal takut dan ia sudah mewariskan itu kepada anak tunggalnya. Sungmin akan menjemput ajal dengan tenang, dengan terhormat. Apa pun yang akan terjadi, ia tidak akan memohon atau menegmis.
"Aku akan membuat orangtuaku bangga."
Tiba-tiba segalanya menjadi tenang dan senyap. Bau kabel yang terbakar dan asap menyelinap masuk ke ruangannya. Sungmin terbatuk-batuk karena asap sehingga tenggorokannya terbakar lagi.
Di luar terdengar suara langkah kaki yang mendekat lalu terdengar suara ledakan. Sungmin menegang, tapi siapa pun yang lewat berlari melalui ruangannya degan cepat.
Sungmin terus berusaha untuk melepaskan tangannya yang berlumuran darah dari borgol.
Setidaknya sampai ia mendengar orang lain di depan pintu ruangannya.
Jantung Sungmin berdebar pendek dan kencang saat ia mendengar suara laser yang memotong baja.
"Aku sedang memeriksanya sekarang." Kata seorang pria dari lorong dengan bahasa Universal yang memudahkan Imperium berkomunikasi dengan semua spesies makhluk hidup. Suaranya berat dan beraksen, tapi Sungmin tidak bisa mengenali nadanya yang teredam. "Ada makhluk hidup disini dengan ukuran menyerupai manusia kecil. Mungkin seorang anak lagi... aku hanya ingin..."
Pria itu terdiam selama beberapa detik saat ia terus memotong baja. "Ah, berengsek kau, Woobin. Beberapa dari kita bukan binatang rendahan sepertimu..." ia berhenti berbicara seolah sedang mendengarkan sesuatu sebelum ia membentak. "Tentu saja tidak, aku sedang tidak sadar. Kau pikir aku mau melakukan ini kalau aku sadar? Dan rasanya aku tidak melihat bokong gemukmu di parit ini jadi tutup mulutmu sebelum aku lupa semestinya kau menyukaimu."
Apa-apaan ini pria itu tidak terdengar seperti seorang penyelamat. Ia bahkan tidak terdengar ramah.
Sungmin tidak tahu situasi akan membaik atau...
Jauh lebih buruk.
Terdengar suara letusan keras tepat sebelum potongan pintu yang besar ambruk. Potongan tersebut mendarat dengan suara kencang sementara asap mengepul dari lingkaran yang tidak beraturan bentuknya itu.
Perut Sungmin terasa mulas.
Cahaya dari sebuah senter kecil merambat ke seluruh penjuru ruangan, dan berhenti begitu menyoroti Sungmin.
Terlepas dari rasa perih yang melanda sewaktu ia menyesuaikan matanya, Sungmin berusaha untuk melihat ke balik cahaya, melihat siapa yang memegang obor, tapi yang ia lihat hanyalah sosok besar dan hitam.
Sosok itu melewati lubang dan memasuki ruangan Sungmin.
Sungmin melipat kaki ke bawah tubuhnya supaya ia bisa cepat cepat berdiri kalau harus. Setitik keringat menetes di pelipisnya. Ia menegang, siap untuk menyerang dengan sisa-sisa pertahanan yang masih dimiliki oleh tubuhnya yang letih dan babak belur.
Cahaya memancardi atas kepalanya kembali, menyakiti matanya. Sungmin mengerjap beberapa kali dan sosok itu berubah menjadi seorang prajurit dengan baju tempur hitam yang dibalut dengan jaket penerbang yang berlapis. Helm hitam yang rapat menutupi wajahnya, membuat Sungmin tidak dapat tidak dapat melihat dari ras apa pria itu berasal. Tidak ada lencana atau pun emblem yang menandai seragamnya.
Siapa pria itu?
'Makhluk apa ia?'
Manusia? Humanoid? Atau makhluk lain yang hanya bisa Sungmin tebak?
Sungmin memandangi pria itu, masih tidak tahu ia akan menolongnya, atau semakin melukainya. Sebelum mengetahui jawabannya, Sungmin akan berpura-pura jinak, memperdayai pria itu sehingga mengira kalau dirinya tidak berbahaya. Dan jika pria itu ingin melukainya, Sungmin akan menendang kuat-kuat bagian anatomi yang paling dibanggakan oleh pria dan berharap agar dari spesies apa pun pria itu berasal, tendangannya menghasilkan dampak yang diinginkan.
Tapi pria itu tidak mendekat.
Sungmin terkejut ketika pria itu memadamkan senter dan memasukkannya ke kantong yang ada di kaki kanannya. Ia bergerak dengan perlahan, seolah sedang berusah menegaskan niatnya kepada Sungmin. Ia membuka tali yang mengaitkan helmnya dengan baju tempurnya dan melepaskannya.
Sungmin terpesona oleh ketampanan wajah pria tersebut. Rambut hitam sebahunya dikucir ekor kuda dan dua buah anting perak kecil menggantung di daun telinga kirinya−telinga yang juga dilengkapi dengan earpiece dan mikrofon supaya ia bisa berkomunikasi dengan siapa pun yang ia ajak bicara barusan. Mata menawannya dikelilingi oleh eyeliner hitam tebal−sesuatu yang sudah umum di kalangan pencuri dan buronan.
Mata pria itu menjelajahi tubuh Sungmin dengan perlahan, mencermati setiap detail dari tubuhnya dengan akurasi yang akan membuat iri mereka.
Ketika pria itu memandangi wajah Sungmin lagi, Sungmin melihat belas kasihan dan kekhawatiran. "Aku Syn," katanya dengan lembut dalam bahasa Universal seolah sedang menenangkan seekor anak kucing yang sedang gelisah. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji."
Karena suatu alasan yang tidak Sungmin pahami, ia percaya kepada Syn, walaupun aura pria berkata bahwa pria itu bisa bertindak berbahaya kalau keadaan memaksa.
Kelegaan melanda Sungmin.
Syn menghampiri Sungmin dengan berhati-hati dan kebaikan yang terlihat dari tindakkannya membuat Sungmin ingin menangis. "Apa kau bisa mengerti apa yang aku katakan?"
Sungmin mengenali aksen Syn sebagai aksen Ritadarion, planet yang bersekutu dengan planetnya. "Ya."
Syn mengangguk sambil melepaskan jaket dan menyampirkannya ke bahu Sungmin. "Semuanya baik-baik saja, kami akan mengantarmu pulang." Ia berlutut untuk memeriksa borgol dan meringis begitu melihat betapa berdarah dan memarnya pergelangan tangan Sungmin.
Sungmin mendesis saat salah satu luka goresannya bergesekan dengan baja. Karena sekarang ia sudah aman dan tidak lagi dikuasai oleh kengerian, rasa sakit yang berdenyut-denyut menyiksanya. "Ada sedikit masalah dengan borgol ini."
"Sepertinya begitu. Kau sangat bertekad untuk membebaskan diri, ya?"
Mengangguk, Sungmin bisa mencium bau alkohol pada napas Syn, namun Syn terlihat sangat sadar dimata Sungmin. Tidak ada keraguan atau kelinglungan sedikit pun pada pria itu.
"Firasatku berkata bahwa kau akan sama bertekadnya untuk membebaskan diri kalau mereka menyekapmu di sini."
Kilat geli melintas di mata gelap Syn sewaktu ia mengeluarkan tang dari kantongnya yang lain. Tersenyum kepada Sungmin, ia memutar sebelum memosisikannya di dekat rantai.
Kesantaiannya buyar sesaat kemudian.
Ia mengetuk earpiece-nya untuk membuka saluran. "Kau apa?" ia menggeram kepada siapa pun yang ada di ujung saluran. "Sialan kau, Jongsuk, dasar tolol, bajingan... disini ada tawanan yang sedang berusaha kubebaskan dari borgol. Memangnya kau tidak bisa memberi peringatan kecil terlebih dahulu kepadaku? Aku bersumpah kepada para dewa... Kalau aku selamat dari situasi ini, kau akan merasakan kenangan buruk... Dan kalian bertanya-tanya mengapa aku melakukan ini dengan malas-malasan. Berapa lama?"
Sungmin menelan ludah dengan susah payah saat kengerian melandanya. "Berapa lama untuk apa?"
"Tiga menit?" Syn menggeram. "Aku membenci kalian. Aku sangat, sangat membenci kalian." Ia mengumpat lagi sambil berusaha memotong borgol dengan panik.
"Borgolnya dibuat untuk kepentingan militer," kata Sungmin kepada Syn. Dibutuhkan sesuatu yang jauh lebih kuat dari peralatan Syn untuk memotongnya. "Kapal ini akan meledak bukan?"
Syn memandang Sungmin dengan ekspresi membenarkan sambil menarik rantai yang menyatukan borgol. Ya, benar, seolah ia bisa merusaknya dengan tangan kosong saja.
Ternyata Sungmin akan tetap mati juga.
Hati Sungmin terasa sangat sakit. Ia tidak percaya ia sudah hampir mendapat kebebasan hanya untuk kehilangan lagi. Ia meletakan tangannya diatas tangan Syn. "Pergilah selagi sempat. Dan terima kasih karena setidaknya kau sudah berusaha menyelamatkanku."
Ekspresi kemarahan dan penuh tekad Syn membuat hati Sungmin tersentuh. "Aku tidak akan meninggalkanmu untuk mati disini."
"Kau sudah berbuat baik hari ini. Kau tidak boleh mati karenanya."
Syn tertawa getir sambil mengutak-atik borgol. "Tidak ada perbuatan baik yang tidak dihukum. Percayalah, aku tahu."
"Kumohon, pergilah." Suara Sungmin pecah, tapi ia bersungguh-sungguh. Ia pasrah menerima nasib. "Tidak ada gunanya kita berdua mati malam ini."
Ekspresi garang Syn mengejutkan Sungmin. "Aku sudah bersumpah untuk menyelamatkan setiap nyawa yang bisa kuselamatkan. Aku tidak akan mengingkarinya sekarang. Aku memang punya banyak julukan, tapi pengecut bukan salah satunya."
Sungmin hendak membantah Syn, tapi sebelum ia sempat melakukannya bayangan yang gelap sudah menaungi mereka.
Ketakutan, Sungmin mendongak, menyangka itu adalah Moonsuk.
Tapi ternyata yang ia lihat jauh lebih menyeramkan dan ribuan kali lebih berbahaya.
Itu juga hal terakhir yang ia sangka akan ia lihat.
Nemesis.
Selama sesaat, Sungmin mengira ia akan pingsan. Nemesis merupakan pembunuh yang paling ditakuti. Semua pemerintahan yang ada, termasuk di planet Sungmin, menginginkannya mati, dan harga yang ditetapkan untuk kepalanya mencengangkan. Tidak ada yang memiliki harga yang lebih tinggi lagi.
Tidak ada seorang pun.
'Mungkin itu bukan dia...'
Tapi Sungmin tahu tang sebenarnnya. Semua orang yang berusia lebih dari tiga tahun mengetahui kisah-kisah mengenai makhluk yang memakai baju tempur hitam dengan jaket yang dihiasi oleh lambang tengkorak logam dengan lingkaran halo baja dan pedang League yang menyilang di punggungnya. Itulah tanda yang ia tinggalkan pada semua mayat korbannya. Ia bangga akan kebrutalannya, apalagi kalau ia membunuh sesamanya.
Setahu Sungmin tidak pernah ada yang selamat setelah bertemu dengan Nemesis.
Mengira Nemesis akan membunuh mereka berdua, Sungmin terkejut saat Syn melangkah mundur dan Nemesis merengut borgolnya hanya dengan menggunakan tangan yang dibalut oleh sarung tangan. Nemesis menggendong Sungmin seolah beratnya sama sekali tidak berarti dan membelitkan jaket ketubuhnya.
"Apa yang kau tunggu Syn?" Nemesis menggeram dangan suara yang terdistorsi secara elektronik. "Seret bokongmu."
Syn mendengus sambil memungut helmnya dari lantai. "Aku menunggumu sekarang."
"Lima puluh lima detik lagi. Sebaiknya kalian mulai berlari. Atau kalian akan terpanggang."
.
.
.
TBC
Sudah diputuskan saya akan berhenti bergalau ria. Di dunia nyata Sungmin oppa memang milik GF-nya, tapi dalam fanfic Sungmin oppa milik saya, kkkke. Gak deng~~ maksudnya milik semua orang yang menikmati fanfic. Adilkan? Bilang adil ajalah, saya udah pusing pengen milikin Sungmin oppa tapi gak bisa-bisa T.T
abilhikmah : okeeee~~~~
kyuxmine : prolognya sudah saya edit, terima kasih sudah mengingatkan^^ kamu suka yang panjang-panjang ya? Kalau sekarang sudah panjang belum? Masih belum? Ntar saya kasih belalai gajah biar panjang, hehehe
dewi. : oke, bagus kamu bukan fans ababil, saya suka, saya suka! baiklah saya akan coba itu. Saya senang jika reader terhibur dengan fic ini, jika memungkinkan saya akan update secepatnya, bahasa gaulnya ASAP gitu, hehe. Siap, sampe selesei kok, makanya tetep read&review ya^^
Guest : oke~~ aku juga suka Kyumin, hehe. Tetep read&review ya^^
ChoLee : ahh, masa sih? Kok, kamu bisa nebak gini? Mau tahu tebakan kamu ini bener atau enggak? Mau tahu jawabannya? Tetep read&review ya^^
kyumin pu : oke~~ baguslah kalo ada yang suka tetep read&review ya^^
JiDonghae : baiklah, terimakasih semangatnya^^ sebenarnya saya ngejadiin remake ini sebagai latihan, biar tahu gitu cara penulisan yang baik, terus caranya lompat dari satu adegan ke adegan lainnya, ya pokonya gitu deh... tetep read&review ya^^
Oh ya, kayaknya mulai chapter depan saya pindahin ff ini ke rated M. Soalnya bahasanya udah mulai kasar dan kedepannya bakal ada lebih banyak lagi omongan ehemmesumehem.
Oke sekian, A/N dari saya, saya tunggu reviewnya ya^^
